Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 26

Suasana kemblai menjadi riuh dengan canda tawa kami. Tiba-tiba anton mengeluarkan sebuah kartu identitas dan diberikannya kepadaku. Ku baca bagian atas kartu identitas itu IN = Intelejen Negara aku tercekat mana kala aku melihat nama yang tertera dibawahnya adalah nama lengkap Anton

Eh… apa maksudnya ini? Kamu anggota IN? Ha ha ha ucapku

Anton akan menjelaskan semua jawab wongso

Aku anggota dari IN, Aku sedang menyelidiki Ayahmu, makanya aku meminta mereka semua berkumpul ucap Anton

Eh… aku terkejut dengan perkataan anton

Halah, jangan sembarangan mana mungkin kamu anggota IN? ucapku

Ar, kamu tahu kan aku pernah membobol beberapa website pemerintah ketika aku SMP? Ketika itu IN mengetahui aku dibalik dalang semua itu. aku di tangkap oleh IN dan karena aku masih SMP aku dilatih oleh mereka untuk menjadi bagian dari mereka.

Kamu tahu sendiri kan sewaktu SMA aku paling jarang masuk ke sekolah karena aku dalam masa pelatihan ucap Anton dan aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong

Setelah lulus SMA, aku kemudian dipekerjakan di bagian jaringan. Hingga kepala divisiku menyuruhku untuk menyelidiki Mahesa Wicaksono. Mereka tahu jika itu adalah Ayah dari sahabatku sendiri jadi daripada nantinya tindakanku menyakiti hati sahabatku sendiri, aku menemui mereka semua terkecuali kamu untuk meyakinkan mereka mengenai misiku.

Sebenarnya aku hanya bawahan dari komandan misi ini, tapi aku diperbolehkan oleh komandanku untuk mengikutsertakan kalian tapi bukan sebagai prajurit tetapi pengumpul informasi karena dalam misi ini, Nyawa adalah taruhannya. Dan hari ini adalah hari dimana aku berterus terang kepadamu agar jika kelak nanti aku menangkap Ayahmu. Kamu tidak dendam kepadaku.

Aku ingin kamu berkerjasama denganku ucap Anto. Kupandangi wajahnya dengan tatapan mata seriusnya, aku semakin yakin bahwa dia tidak berbohong kepadaku dan kemudian aku tersenyum, membuat beberapa sahabatku termasuk anton terkejut kecuali wongso. Aku terdiam sejenak berpikir, jujur saja aku tidak bisa bergerak sendirian aku butuh teman untuk bergerak.

Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi… ucapku

Maafkan aku Ar, tapi ini sudah menjadi misiku untuk menyeleidikinya. Dan aku harap… ucap Anton. Kusulut sebatang dunhill dan kuhempaskan asapnya ke alngit-langit warung wongso

Haaaassssssssssssssh….

Aku sudah tahu kebusukan Ayahku, Dia telah membuat hidup banyak orang sengsara. Jika semuanya aku ceritakan disini walau 1 juta halaman tidak akan cukup

Aku tahu ini misi Anton tetapi secara pribadi, ini adalah keinginanku untuk mengakhiri kiprahnya. Aku tidak peduli dengan IN atau apalah yang ingin menangkapnya, yang jelas harus aku orang pertama yang menyingkirkannya

dan sebenarnya aku tidak ingin kalian tahu dan aku tidak ingin kalian ikut di dalamnya. Jika aku mati aku akan mati sendiri ucapku sembari memandang mereka satu persatu

Aku tidak mau… ucap Aris

Tidak mau kalau kamu bergerak sendiri, aku harus ikut he he he lanjut aris

aku harus ada disitu, cat kadang kalau mau berkelahi ndak ngajak-ngajak, kan enak tuh kalau tawuran bareng-bareng mengenang masa SMA ucap Karyo

Iyo… dia suka ninggal aku ucap Udin yang mengangguk ke arahku

Kalau ikut semua aku juga ikut, aku kan paling cantiiiiiiiik he he he ucap Dira

Aku juga, kasihan kalian nanti tidak ada makanan gratis ucap Wongso

yang penting ojo kondo-kondo ucap joko

Lumayan ada pekerjaan, aku ikut ucap Parjo

Pamer Gigi ah…. ikut ucap tugiyo

Dewo terdepan… ucap Dewo. Aku tersenyum melihat mereka semua. Entah aku bahagia atau tidak tapi mereka semua menatapku dengan tatapan keseriusan.

Bagaimana kalau nyawa kalian terancam? ucapku

Geng koplak itu jalan dulu, yang lain dipikir belakangan ucap mereka serentak. Mereka mengulurkan tangan mereka dan menumpuknya menjadi satu dihadapanku. Aku hanya tersenyum dan menaruh tanganku diatas mereka.

KOPLAK! teriak kami bersama sambil mengangkat dan menjatuhkan tangan kami semua secara bersamaan. Aku memang tidak yakin kumpulan anak-anak yang baru berumur 20-an ini apakah benar-benar bisa membantuku. Tapi dengan adanya anton, mungkin bisa menata pergerakan kami agar lebih tertata

Terus ton apa rencanamu? ucap wongso

Okay, begini, untuk sementara kalian lakukan kesibukan kalian seperti biasa tidak usah menjadikan misi ini sebagai menu utama harian kalian. Tugas kalian adalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Ayah Arya dan kawan-kawannya, mungkin saja ketika kamu melihat mereka kalian bisa mengikutinya, karena kalian tidak akan dicurigai sebagai anggota Penegak Hukum ataupun IN.

Perlu kalian ketahui, pergerakan kamipun sangat terbatas karena jika kami yang selalu mengawasi mereka, ketakutan kami adalah mereka akan segera menyadarinya. Jadi aku berharap banyak kepada kalian sebagai kepanjangan tangan IN. Jika nanti aku calling kalian harus siap, sekarang posisi mereka sedang merencanakan sesuatu aku mendapat informasi ini dari rekan kerjaku.

Target kita sekarang bukan hanya ayah arya tapi juga beberapa kepala instansi pemerintahan di daerah ini. sekarang mereka sedang merencanakan sesuatu tapi aku tidak tahu, peregerakan mereka sekarang masih dalam batas wajar.

Kita tidak bisa saja menggerebek mereka karena kita tidak mempunyai bukti akurat. Untuk semuanya, selama melakukan kesibukan sesekali mencari informasi mengenai mereka. Arya kamu anaknya, pastinya tahu banyak ucap Anton

Maaf nton, untuk sekarang ini aku tidak bisa memberitahukan bukti-bukti kepadamu bathinku

Belum ada, tapi ada beberapa kebengisan yang dilakukannya terhadapa orangtuanya. Selebihnya akan aku beritahukan jika ada informasi tambahan ucapku

Hmmm… itu tidak dapat dijadikan bukti

Okay, kita berkumpul lagi jika kalian semua mendapat informasi baru. Sekarang kita berpisah dulu, aku mengandalkan kalian karena kalian semua sudah aku ajukan sebagai tim bayanganku kepada kepala divisiku dan mereka menyrtujuinya. Arya apakah kamu bisa aku percaya? ucap Anton

Sebenarnya aku bermaksud menyelesaikannya sendiri ton. Dan sebenarnya aku malu ketika kalian semua tahu mengenai Ayahku Ucapku kepada Anton.

Maafkan aku, tapi kiprah Ayahmu sudah terlalu jauh merugikan negara dan daerah ini ucap Anton. Aku hanya memandangnya dan tersenyum kepadanya. Pertemuan itu berlanjut hingga malam dengan canda tawa kami, hingga akhirnya mereka semua pulang satupersatu. Tinggal aku, anton, dan wongso.

Ton, biarkan aku mendalami Ayahku terlebih dahulu, aku sebenarnya punya bukti tapi jika bukti itu aku berikan sekarang, aku tidak akan puas karena kamu pasti akan bergerak terlebih dahulu, biarkan aku berjalan sendiri terlebih dahulu ucapku

Eh…

Baiklah, tapi kamu tetap dalam pengawasanku Ar ucap Anton

Ingat Ar jika ada bahaya kamu hubungi kami

dan satu hal lagi, Benahi dulu hatimu Ar ucap Wongso sambil menepuk bahuku

Benar Ar kata wongso ucap Anton yang tersenyum kepadaku

Akhirnya aku berpisah dengan mereka semua, dan aku pulang dengan seidkit motivasi. Tapi motivasi itu sekejap hilang ketika ingatanku kembali kepada Bu Dian. Di dalam kamarku aku merasa sendiri, aku butuh seseorang untuk diajak berbicara mengenai semua yang terjadi. Ibu, Aku benar-benar kagen dengannya. Ku buka kembali Smartphoneku dan ku buka ada beberapa notifikasi pesan BBM dari Bu Dian.

From : Bu Dian
PING!

From : Bu Dian
Arya…

From : Bu Dian
Buka pesanku

To : Bu Dian
Iya Bu

Naik naik kepuncak gunugng tinggi-tinggi sekali. Ringtone telepon. Bu Dian. Aku matikan dan tidak mengankatnya. Berkali-kali aku menutup teleponku ketika lagu anak-anak itu berbunyi.

From : Bu Dian
Arya, tolong kamu angkat teleponku
Aku ingin bicara

To : Bu Dian
Maaf Bu, sudah malam

From : Bu Dian
Ada apa kamu ini? cepat angkat!
Kamu marah?

To : Bu Dian
Saya tidak pernah marah Bu,
Maaf Bu saya mau istirahat dulu

From : Bu Dian
Terserah! jika kamu tidak meneleponku
TA-mu tidak akan aku ACC

To : Bu Dian
Iya Bu tidak apa-apa,Terima kasih

Hanya itu pesan terakhirku kepada Bu Dian, tak ada balasan dari Bu Dian sama sekali. Lagipula kenapa Bu Dian begitu ingin aku meneleponnya? Aku mahasiswanya dan bukan siapa-siapa bagi dia?kutuliskan sebuah status di BBM-ku.

You make fly high then take me down

Kemudian aku membaca statu Bu Dian

Please, Call me, i want talking to you

Bodoh bodoh bodoh! Aku mau tidur! bathinku berteriak

Minggu aku lewati hanya dengan tidur nyenyak saja di dalam kamar. Kuamati status BBM Bu Dian tidak berubah semenjak tadi malam. Ingin aku menghapus pertemanan dengannya tapi dia Dosenku dan aku masih membutuhkannya. Hingga hari senin aku berangkat kuliah tanpa sarapan karena Ibu belum pulang kerumah sedangkan Ayah tak tahu rimbanya.

Selepas kuliah, aku kemudian melanjutkan penelitianku hingga larut malam. Dengan running process hari ini, Penelitianku segera berakhir dan aku akan mendapatkan semua hasil dari Tugas Akhirku. Tinggal menyelesaikan pembahasannya saja.

Dalam hatiku berkata, jika saja dia menginginkan aku meneleponnya kenapa dia tidak menjengukku ke laboratorium? Pastinya dia malu karena aku mahasiswa dan dia dosen. Huh…

Hari selasa, selepas aku kuliah aku mendapat pesan dari Ibu jika Ibu sudah berada di rumah bersama Ayah. Kubaca dan kubalas secukupnya karena aku akan menghadap ke Bu Dian untuk menunjukan hasil dari penelitianku.

Kau mengirimkan pesan kepada Bu Dian, dan dia menyanggupi untuk bimbingan jam 14:00. Aku terus berada di depan ruangan Bu Dian untuk menunggu kehadirannya. Tepat jam 14:05 Bu Dian datang diantar oleh pak felix.

Pak felix memperlakukan bu Dian dengan begitu mesra namun Bu Dian terlihat kaku dan dingin atas perlakuan itu. Pak felix kemudian menyalamiku dan pamit keluar dari gedung jurusan, lalu Bu Dian kemudian mengajakku masuk ke dalam ruanganya.

Maaf bu, ini hasil penelitian saya mengenai Tugas Akhir,mohon untuk di cek ucapku datar

Ar, bisa kita bicara sebentar… ucap Bu Dian

Saya mohon bimbinganya bu untuk tugas akhir saya, saya hanya berharap agar tugas akhir saya ini bisa saya ujikan setelah PKL dan KKN nanti. Dan saya bisa lulus 3,5 tahun. Setelahnya saya bisa segera mencari pekerjaan atau mungkin melanjutkan kuliah S2 ucapku tegas

Eh…

Ar, aku mohon kamu jangan terlalu formal seperti ini, aku ingin bicara mengenai peristiwa malam itu, aku harap ka… ucap Bu Dian

Bu, saya mohon, untuk bimbingannya ucapku

Arya, jika kamu… ucap Bu Dian

Saya siap di-DO,bu ucapku singkat dengan tatapan mata yang tajam ke arahnya

Eh… raut wajahnya kecewa, tatapan matanya begitu sendu kearahku. Yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan, kebingungan hatinya atas sikapku

Baiklah… ucapnya pelan

Dengan kekakuan diantara kami berdua semua berjalan tampak normal. Bu Dian menjelaskan mengenai hasil penelitianku, aku pun memperhatikannya dengan seksama. Setiap penjelasan darinya aku catat secara garis besarnya.

Hasil penelitianku masuk dalam kategori bagus bahkan bisa dibilang lebih bagus daripada yang di KTI-kan oleh Bu Dian. Aku semakin fokus dengan penjelasan Bu Dian, sudah tak kupikirkan lagi mengenai kejadian malam itu

Terima kasih Bu, saya akan melanjutkan pembuatan tugas akhir saya, dan nanti setelah PKL dan KKN saya akan bimbingan dengan Ibu lagi ucapku kemudian bangkit dari tempat duduk

Oia Bu Selamat ya Bu untuk tanda jadi yang kemarin ucapku sambil menyodorkan tangan kananku, namun Bu Dian hanya diam saja dan memandangku dengan tatapan yang aneh

Ya sudah bu, saya pamit dulu ucapku sembari melangkah keluar dari ruangan Bu Dian

Ar… ucap bu Dian

Iya Bu… ucapku

Bisa kita jalan-jalan lagi, ada yang ingin aku bicarakan ucap Bu Dian

Maaf Bu saya tidak bisa… ucapku

Kenapa? ucap Bu Dian

Takut bu he he, saya undur diri Bu, terima kasih ucapku dan lansung keluar dari ruangan itu

Yes! Akhirnya selesai juga, tinggal Kuliah, PKL, KKN, Ujian, lulus… Goodbye my university he he teriakku ketika aku baru melangkah beberapa langkah dari depan pintu ruangan Bu Dian

Apakah kamu memang benar-benar ingin segera keluar dari Univ? ucap Bu Dian tiba-tiba dari belakangku

Eh…

Ya namanya juga mahasiswa bu, pastinya pengen cepet lulus kan? He he he ucapku santai

Apakah tidak ada yang bisa membuatmu untuk tidak tergesa-gesa lulus Ar? ucap Bu Dian

Tidak ada Bu, tidak ada sama sekali ucapku

eh… ucapnya tiba-tiba wajahnya berubah sedih dan sedikit tertunduk

saya pulang dulu bu ucapku tanpa mepedulikan perubahan sikapnya setelah kejadian malam itu

Aku melangkah keluar dari gedung jurusan. Aku sudah memantapkan hatiku untuk tidak berharap lagi kepada Bu Dian. Walau ada segelintir cerita indah tentang aku dan dia. Segera aku pulang kerumah untuk melepas lelah. Sampailah aku dirumah disambut dengan Ibu, Ayahku sedang santai nonton televisi. Sesampainya dikamar aku mendapat telepon dari Anton.

Ar, apakah ayahmu selalu dirumah?

Ya, ada apa?

Mereka kelihatnya sedang menunggu sesuatu, karena selama ini mereka tidak memperlihatkan tindak-tanduk mencurigakan selama ini

Begini Ton, ada informasi yang aku dapatkan, mereka sedang menunggu kehadiran beberpa orang, Ayahku pernah bercakap-cakap ditelepon mengenai beberapa orang yang sedang ditunggunya, dam akan mengadakan suatu pertemuan tapi entah dimana

Hm… aku mengandalkanmu, coba kamu selidiki lebih jauh lagi, mengenai beberapa orang itu?

Okay Ton tuuuuut

Tak aku berikan bukti mengenai si tukang, si buku dan si aspal serta sebuah kode tempat pertemuan mereka kepada Anton. Dengan tujuan agar aku bisa mengetahuinya sendiri, memang benar tujuanku adalah aku bisa mendapatkan informasi akurat dan selanjutnya akan aku bungkam mereka semua, Ayah dan kroni-kroninya.

Malam pun tiba, makan malam bersama keluarga dan sedikit percakapan kaku diantara kami. selesai makan aku kembali ke kamar dan aku segera menyelesaikan tugas-tugas kuliahku dan melanjutkan tugas akhirku. Kesibukan dengan perkuliahan membuatku lupa waktu, kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul 22:30. Segera aku rebah di kamar tidurku, kuraih Smartphoneku dan ternyata terdapat notifikasi pesan BBM. Bu Dian.

From : Bu Dian
You are very arrogant,
I just want to talk for a while but you never want to understand

(kenapa dia menyebutku arogan? Apa salahku?)

To : Bu Dian
I’m so sorry,
I do not mean to be a man like that

From : Bu Dian
Temui aku sekali saja diluar jam kuliah

To : Bu Dian
Maaf Bu,
Kenapa Ibu sangat ingin bertemu dengan saya di luar jam kuliah?

From : Bu Dian
Hanya ingin keluar bersama kamu lagi, seperti pertama kali kita keluar
Dan jangan pernah panggil aku Ibu ketika diluar jam kuliah
Aku sudah mengatakannya kepadamu

To : Bu Dian
Sepantasnya saya memanggil anda Ibu karena anda Dosen saya
Jika saya selevel dengan Bu Dian mungkin saya akan memanggil Bu Dian dengan sebutan mbak
Ibu sendiri yang bilang kalau saya ini mahasiswa Ibu kan? Dan saya sangat menghormati pak felix, jadi mohon maaf saya tidak bisa

From : Bu Dian
Tolong angkat teleponku

To : Bu Dian
Maaf tidak bisa, saya sedang berkumpul dengan keluarga, bu

Dengan berbagai alasan coba aku berikan kepada Bu Dian, hingga BBM terakhirku tak mendapat balasan. Aku kemudian menarik selimut dan tidur dalam mimpi indahku. Aku sudah tidak mau mempedulikan wanita itu lagi, apa yang sebenarnya Bu Dian cari selama ini? kenapa dia sangat ingin bertemu denganku? Jika dirunut dari manapun aku bukan siapa-siapanya? Masa bodohlah, life must go on itu kata Queen. Kubuat sebuah status BBM.

Don threat me Bad by Fire house

Dibalas oleh Bu Dian

You are not gentlemen, childish

(statusnya wow, apa buatku ya? Tapi kalau buatku, bodoh ah?)

Aku buat status kembali

I Saw red by warrant

Ketika status BBM-ku aku ubah, beberapa saat kemudian bebrapa pesan BBM masuk. Bu Dian mengirimkan pesan BBM yang intinya dia ingin bertemu denganku, tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali. Dalam hatiku, harapan untuknya sudah mulai tergerus oleh waktu.

Tak ada lagi kebahagiaan ketika aku mendapatkan pesan darinya, ya tak ada sama sekali. Lagipula kenapa dia begitu ngebet ketemu denganku? Masa bodohlah! Kutarik selimut dengan iringan lagu I saw red milik group Band warrant. Sebuah lagu tentang cinta yang dibalas dengan rasa sakit. (perhatikan reff-nya suhu dan agan)

Ooh, it must be magic
How inside your eyes, I see my destiny
Every time we kiss, I feel you
Breathe your love so deep inside of me

If the moon and stars should fall
They’d be easy to replace
I would lift you up to Heaven
And you would take their place

Reff:
And I saw red when I opened up the door
I saw red, my heart just spilled onto the floor
And I didn’t need to see his face, I saw yours
I saw red and then I closed the door
Well I don’t think I’m gonna love you anymore

Every day I wake up
I thank God that you are still a part of me
We’ve opened up the door to it
So many people never find the key

And if the sun should ever
Fail to send it’s light
We would burn a thousand candles
And make everything alright

Back to Reff:

And I’ve been hurt and I’ve been blind
Well I’m not sure that I’ll be fine
I never thought it would end this way

‘Cause I saw red when I opened up the door
I saw red, my heart just spilled onto the floor
And I didn’t need to see his face, oh, I saw yours
I saw red and then I closed the door
I don’t think I’m gonna love you anymore
Ooh, it must be magic
‚Äč

Kulalui semester enam ini dengan penuh semangat, sebenarnya sok semangat. Berangkat pagi pulang sore, kumpul dengan keluarga dan belajar di dalam kamar. setiap saat aku selalu mengecek Smartphone milik KS dan emai Om Nico tapi tidak ada tanda-tanda yang bisa memperkuat bukti.

Jika aku hanya mengandalkan obrolan di Smartphone KS bisa-bisa mereka menyuruh orang untuk membunuhku seandainya aku menjadi saksi sebagai penemu Smartphone. Tante wardani saja mungkin juga tidak bisa berkutik, mereka terlalu kuat. Yang aku butuhkan adalah sebuah tindakan tapi belum tahu tindakan seperti apa.

Perkuliahan di semester enam berakhir, UAS semester genap juga telah selesai. Selama itu pula aku komunikasiku dengan Bu Dian tidak selancar dulu. Kadang sesekali aku bertemu dengannya dengan wajah penuh kelembutannya yang sedikit gelisah dan kebingungan. Kadang setiap kali aku menyapanya dia sering salah tingkah.

Entah apa yang ada didalam pikirannya aku tidak pernah tahu dan AKU TIDAK MAU TAHU!. Beberapa kali Bu Dian mengajakku bertemu namun aku selalu menolaknya. Karena aku tidak ingin kejadian dengan lucas terjadi lagi, hanya itu. Ibu? Kebersamaanku dengan Ibu tetap terjaga dengan baik, walau beberapa bulan ini aku tidak bisa mencuri-curi untuk berkumpul dengan Ibu.

Walau jarang berkumpul dengan Ibu, tapi melihatnya saja aku sudah senang, senyum manisnya, tatapan matanya. Dan itulah yang bisa membuatku melupakan Bu Dian, entah sejenak, entah selamanya. Untuk bisa curhat dengan Ibu saja sekarang menjadi semakin sulit, untuk BBM takutnya Ibu lupa hapus dan dibaca Ayah. Jalani dulu sajalah daripada aku harus memaksakan diriku, nanti juga pasti ada jalan sendiri.

Yudisium pun tiba, hingga akhirnya Rahman sahabatku akhirnya mau menceritakan keluh kesahnya selama semester enam ini. Rahman yang selalu bertemu denganku dengan wajah galaunya dan kosongnya sekarang menjadi Rahman yang lebih dari biasanya.

Tampaknya lebih bahagia dan lebih bersemangat namun kadang dia menjadi orang stress dengan sendirinya. Sampai pada suatu hari dia mengajakku bertemu rektorat universitas, pada malam hari sekitar pukul 19:30.

Woi kang! Dah lama? ucapku yang baru saja datang

Endak baru juga ane duduk dan menyulut rokok ucap Rahman

Ada apa kang? Kayaknya serius banget? tanyaku

nih rokok, nih minumannya… ucap Rahman, dan kusulut sebuah rokok dunill mild kesukaanku

Ar… ucap rahman

ya… ucapku

Ane mau cerita, tapi ente jangan bilang sama siapa-siapa ya? ucap Rahman

Iya.. iya, tenang saja, kayak sama orang lain saja kaaaaang… kang ucapku sambil meneguk panta merah. Nampak wajah rahman serius menatap ke tanaman-tanaman di seberang jalan. Helaan nafas panjangnya mengisyaratkan bahwa apa yang akan dikatakannya adalah sebuah hal yang sangat penting.

Beberapa kali dia akan memulai tapi selalu kata-katanya tercekat ditenggorokannya. Helaan nafas panjang selalu dilakukannya untuk menenagkan pikirannya. Dan…

Ane telah bersetubuh dengan mama ane sendiri… ucap Rahman

Uhuk uhuk uhuk uhuk… aku tersedak seketika itu

“Apa?!” ucapku sedikit berteriak

“Iya aku tahu salah tapi mamaku itu arggggghhhhhhh….” ucap rahman kemudian dia mulai bercerita

***

POV Rahman

Ketika itu aku pulang kerumah selepas aku camping bersama teman-teman kompleksku. Dengan tujuan melepaskan penat di kepalaku setelah Ajeng memutuskan diriku. Aku sangat shock mendengar itu semua tapi mau bagaimana lagi, cintaku selama ini tidak pernah terbalas karena ajeng mencintai Arya.

Sebelum kepulanganku, teman-temanku mengajakku minum minuman keras. Dalam kondisi mabuk aku pulang dengan tubuh yang bergoyang ke kanan dan kekiri. Sesampainya dirumah aku membuka pintu rumah dengan sangat pelan, walau mabuk kesadaranku masih ada sedikit.

Ketika itu aku hendak naik ke kamarku dilantai atas, aku melewati kamar mamaku. Pintu kamar tidak tertutup rapat. Sekilas aku meliat mamaku sedang membuka pahanya yang sudah tidak becelana dalam. Dimasuk keluarkannya benda berbentuk penis kedalam vagina yang rimbun itu.

“Arghhhh… aerghhhh… ehemm…..” suara desahan mamaku. nafsuku terbakar melihat permainan solo mamaku sendiri.

Kukeluarkan batang penisku dari sarangnya, sambil mengocok aku memperhatikan mamaku sendiri. Gerakan-gerakan penis mainan itu semakin sangat cepat membuat mamaku menrintih kenikmatan dan membuat aku semakin bernafsu. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku masuk kedalam kamar mamaku.

“Rahman! Apa yang kamu lakukan? Keluar” teriak mama kaget dengan kehadiranku.

Dengan pengaruh alkohol yang masih menjalar di dalam tubuhku, aku bergerak maju. Kutarik mamaku sendiri dan aku kemudian menubruknya. Kini aku berada di atas tubuh mamaku. mama terus meronta meminta aku untuk melepaskannya.

“Rahman! Lepaskan! Aku ini mamamu! LEPASKAN!” bentak mamaku

“Mama butuh ini kan he he he akan rahman beri ma!” ucapku keras kepada mamaku. aku kangkangkan kedua paha mulus mamaku sendiri dan kuarahkan ke dalam vagina mama

“Rahman jangan , hentikan!”

“Arghhhhhhhhh….” teriak mamaku di akhiri dengan rintihannya ketika batangku masuk ke dalam vaginanya

“Arghhh… enak sekali ma, memekmu benar benar lebih enak dari mahasiswi-mahasiswi di kampusku ma”

“ouwghh… enak sekali ma” ucapan liarku karena pengaruh alkohol

Plak… plak… plak… tiga tamparan mendarat di pipiku

“Mau kasar iya?!” bentakku membuat mamaku menangis, kedua tanganya aku pegang erat dengan kedua tanganku. Aku mulai menggoyang dan terus menggoyang pinggulku.

“Enak mahhhh ouwghhh memekmu nikmat… kontolku nikmat mamah… ouwgh nikmat sekali….”

“Aku suka mememkmu maaaah…ouwghh… arggghhh….” racauku

“Argh.. rahman hentikan… argh…. hiks hiks hiks…” pinta mama

Aku sudah tidak mempedulikannya lagi, aku terus menggoyang dan menggoyang pinggulku untuk mendapatkan kepuasan. Kulihat mama mulai mendesah menikmati sodokan-sodokan penisku ke dalam vaginanya.

“Sssshhhh… erghhhhh… aishhhhh.. oufthhhhhhh…. ah ah ah aha” desahan mamaku

“Arghhh… sempit sekali mama, aku mau keluar…..”

“memekmu sempit mama lebih sempit dari ayam kampus argghhh nikmat maaaah”teriakku kugoyang semakin cepat pinggulku, mama kelihatan menahan desahannya. Matanya terpejam tubuhnya bergoyang ke kanan dan kekiri.

“Aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr……………….” teriakku

Croot croot croot croot croot croot croot

Tubuhku ambruk diatas tubuh mama yang baru saja melengking ke atas, nafasku tersengal-sengal tak karuan merasakan nikmat yang seharusnya tidak aku rasakan. Kurasakan cairan hangat mengalir dibatang penisku. Aku kemudian terlelap tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Aku terbangun di pagi hari dengan tubuhku terlentang di samping mamaku. mamaku meringkuk di sampingku membelakangiku. Tampaknya dia sedang menangis, ku coba mengingat sedikit kejadian malam tadi aku merasa kotor lebih kotor dari sebelumnya. Aku geser tubuhku ke mendekat ketubuh mamaku, mencoba kupeluk mama. Tapi dengan halus mama melempar tanganku kembali kepadaku.

“KELUAR! KELUAR!” bentak mama. Aku kemudian keluar dari kamar mama dengan tubuhku yang masih telanjang pada bagian bawahku. Kuraih celana jeansku, kupandangi mamaku tapi dia membuang muka.

Didalam kamar aku kemudian merebahkan tubuhku, terlintas secuil ingatan dari persetubuhan malam tadi. Jujur aku merasa sangat bersalah. Ayahku juga tidak ada dirumah, dia memang selalu berpergian entah kemana.

Ku bersihkan tubuhku, dan berganti pakaian, inginku beranjak kebawah namun aku merasa malu atas kejadian malam tadi. Sekitar pukul 08:00 aku mendapatkan sms dari mama untuk makan pagi, akku segera turun dengan harapan mamaku menemaniku, tapi mama berada dalam kamarnya dan tak menegur atau menyambutku sama sekali. Hingga malam tiba aku tidak dapat menemui mama karena mama selalu mengurung diri dalam kamar. Tepat pukul 22:00.

Tok Tok ToK… ku buka pintu kamarku

“mama…” ucapku. Mama hanya terdiam di depanku dengan mengenakan gaun tidur terusan hingga pahanya yang tipis, gaun itu digantungkan dengan tali kecil di atas bahunya. Jika dilihat lebih dalam lagi mama tidak mengenakan BH.

“Ma… maafkan rahman ya” ucapku. Namun reaksi yang aku dapatkan berbeda sangat berbeda. Tiba-tiba mama memelukku dengan sangat erat.

“Mama tahu ini salah man, tapi mama membutuhkannya, mama tidak bisa membohongi diri mama sendiri” ucap mamaku. Deg.. disaat aku merasa bersalah disaat itulah aku merasa mendapat durian runtuh. Mama melepaskan pelukanku, dengan tubuhnya yang pendek dia kemudian berjinjit dan mengecup bibirku

“Maafkan mama, tapi setelah kemarin malam, mama tidak bisa lepas dari kamu sayang, mama mohon”

“peluk mama sayang” ucap mamaku. Kupeluk tubuh hangatnya kembali, tubuhnya masuk dalam dekapanku. Aku sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, apakah ini benar atau salah? Kedua tanganku kemudian turun kebawah dan meremas bongkahan pantatnya

“Lakukan nak, mama sekarang menjadi milikmu, mama ingin kamu dan mama harap kamu juga menginginkannya” ucap mamaku yang menatapku dengan wajah penuh nafsunya. Ku tundukan kepalaku dan kucium bibirnya. Ciumanku kemudian turun ke leher mamaku. pikiranku dikuasai oleh nafsuku, sudah tak ada lagi logika di dalam otakku.

“arghhh… ssssshhhh…. terus sayang… kamu pintar sekali… ouwghhhh” desah mamaku

Ciumanku semakin turun kebawah dan tali gaun tidur tipis mama aku singkirkan dengan lidahku. Dengan kedua tanganku secara perlahan aku turunkan hingga dibawah sikunya. Payudaranya kemudian tersembul keluar dengan indahnya, dengan lahapnya aku langsung menyeruput payudara mama.

“Arggghhhh… ehmmmm…. asssssssshhhhhhh….” desah mama

Sembari mengulum-ulum bagian susunya kanannya dan tangan kiriku mermas susu kirinya, tangan kananku menarik lembut tali kiri gaun tidurnya hingga lepas, begitupun sebaliknya ketika aku mengulum susu bagian kirinya tali kanan gaun tidurnya aku lepas.

Kini gaun tidur mama tersangkut dipinggangnya. Ciumanku tak hanya berhenti di bagian susunya, langsung aku sibak gaun tidurnya yang masih menutupi selangkangan mama. G-String berwarna hitam menutupi sedikit vagina mamamku. Aku geser sedikit dan mulai aku jilati bibir vagina mama.

“Asshhhhhhhhhhh…. hmmmm…. erghhhh… sayangkuwhhh owhhhh…..” desahan mama. Kuangkat paha kiri mama dan aku letakan di bahu kananku.

Terlihatlah vagina yang lengkap yang sedikit tertutu oleh G-stringnya. Jari tengah tangan kiriku mulai aku masukan ke dalam vaginanya perlahan dan terasa sudah sangat becek sekali. Jilatanku beralih menuju biji kecil dibagian atas bibir vaginanya. Aku mulai mengocok perlahan pada vagina mama.

“Owghhhh… sayang… erghhhh… memek mama kamu apakanhhh owghhhhh… enakkkhhhh”

“jadikan itu milikmuh sayaghhh…” desah dan racaunya. Aku kemudian mempercepat kocokan pada vagina mama dan jilatanku semakin liar, kadang aku berika jilatan dan sedotan pada vagina mamaku

“Arghhh sayang… aishhhh arghhhh… lebih cepathhh… arghhh mama hampir…”

“terushhh erghhh… mama hampir sampai… arghhhhhh…..”

“Mama keluarhhhhh aerghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” teriak mama yang kemudian kedua tanganya bertumpu pada kedua bahuku, kaki kirinya langsung ditariknya turun. Tubuh mama beringsut turun dan kemudian bersimpuh dihadapanku. Ciuman didaratkannya di bibirku, aku kemudian memeluknya.

“Kamu sudah sering ya sayang hash hash has” ucap mama

“eh… iya mah, maaf…” ucapku

“tidak perlu minta maaf sayang, sekarang mama akan menjadi pengganti wanita-wanitamu itu”

“jika mama tidak dapat memuaskanmu, mama tidak akan lagi meminta darimu” ucap mama sembari melepaskan celana boxer-ku dan munculah penis perkasaku.

Mama tampak kagum dengan penisku, walau ukurannya tidak begitu besar tapi cukuplah untuk seorang wanita. Mama memandangku dengan snyumannya sambil mengelus-elus penisku dengan kedua tangan mama. Kadang mama mencium ujung penisku dengan bibirnya.

“gagah ya?” ucap mama, aku hanya bisa mengrenyitkan dahiku dan menikmati sensasi dari elusannya itu. Dan tiba-tiba, mama langsung memasukan penisku kedalam mulutnya.

“arghhhhhhhhh… mama… owh…..” desahanku merasakan setiap gesekan rongga mulutnya dengan batang penisku.

Ini membuat sensasi tersendiri buatku, melihat mamaku sendiri sedang mengulum batang penisku. Jilatan dan sedotanyang sangat mantap aku rasakan, membuat aku sedikit tida bisa bertahan.

“mamah… sudahhhh ma, nantiihhh arghhh rahman keluarhhh owhhhh….” desahku dan segera aku pegang kepala mamaku agar tidak melanjutkannya lagi.

Mama kemudian mengangkat kepalanya dan memandangku dengan senyumannya

“pindah ka… aaaa” ucap mama terpotong karena aku segera bangkit dan membopong tubuhnya.

Kurebahkan tubuhnya terlentang di tempat tidurku, dia telrihat sedikit malu memperlihatkan vaginanya kepadaku. Perlahan aku mendekatinya dan kucium bibir indahnya

“Ehmmmm…..mm….m….mm….mmmmm” desahan mama. Tangan kanan mama memegang penisku dan diarahkan ke vaginanya.

“dorong pelan sayang…ergghhhh” ucap mama ketika melepas ciuman kami berdua

“Mamahh… enakhhh mahhhh… arghhhh….” racauku

“Enak manahhh erghhh sama temen erghh kamuwhhh….” ucap mama

“mama, mama sayanghhh arghhh… aku suka punya mamah arghhhh…” ucap mama. Aku semakin cepat menggoyang pinggulku, pemandangan indah didepan kedua mataku. Payudaranya bergoyang naik turun seirama dengan goyangan pinggulku. Aku langsung kuremas kedua payudaranya dengan kedua tanganku.

“mamah, kontollku enak di memek mamah owghh… enak sekali mahh… arghhh lebih sempithhh… arghhh… enak sekali ouwghhh…..” racauku kesetanan

“keras… remassshhh yang kuat susu mamah buathhh muwhhhh….”

“sayanghhhh… fuck me harder! Lebih kerass sayanghh.. mamah untuk muwh ouwghhh…. mama akan menjadi wanitamuwhhhh selamanyaaaaaaaaaaaaahhhh….” racau mama. Tubuh mama melengking, kemudian tubuh itu bergetar seperti tersengal-sengal. Kurasakan cairan hangat menjalar kebatang penisku.

“kamu arghhh buat mamah keluar sayangkuwh owh…. hosh hosh hosh” ucap mama

“mah…”ucapku

“Hm…” jawabnya, seakan-akan tahu keinginanku mama langsung membalikan tubuhnya dan menungging di hadapanku. Segera aku masukan penisku dengan bantuan tangan kanan mama

“ouwghhh lebih sempit memekmu becek dan sempit mahh…owgh….” perlahan aku memasukan penisku hingga tenggelam semuanya

“sayanghhh… akmu memang nakal, masa mama sendiri kamu kenthu owghhh….” ucap mamaku

“mama suka kan? Makanya Rahman ngenthu mama… arghh… enak sekali memekmu mah…” ucapku

“Goyang sayang, kenthu mamamu, jadikan mamamu istrimu arghhhhh…” ucap mamaku. aku kemduian mulai menggoyang pinggulku semakin cepat

“Mama adalah milikku arghhh mama punyaku mama istriku, memekmu hanya untuk mah arghhh.. sempit sekali memek mu mamah… owghhh… memekmu menjepit kontolku mah… memekmu menyedot kontolku mamah arghhh… nikmat owgh… mamahhhh” racauku

“ayo sayanghhh… masukan lebih dalam lagi kontolmuhhh… kenthu mamahmuwh ini arghhh…owhhh.. jadikan mamah milikhhmush owghh… kenthu mamah terushhh….arghhhh… mamahh… mamah… arghhhh… akan jadi ayam kampusmu sayanghhh arghhhhh….” racaunya semakin liar

Aku semakin mempercepat goyanganku, semakin kuat aku menghentakan penisku di dalam vaginanya. Membuat kedua tangan mama sudah tidak kuat lagi menumpu tubuh bagian depannya. Dia tersungkur dengan posisi pinggulnya mash menungging. Aku masih tetap dalam posisi menggoyang pinggulku maju dan mundur.

“Aghhhh…. syaangkuwhhh… owghhh…. lebih kerashhh lagih lebih dalamhhh lagih owghhh… mama suka kontol kamuwh owgh… mau kontol kamuwh owgh….”

“sirami… sirami rahimmhhhh argghhhh mamah denganhhh pejuhhhh pejuhhhmuwh….” racaunya

“Iya ma hashhh arghhhh akan kusiram rahimmu dengan pjuhhhh arggghhhh kuuuwhhhh owghhh…”racauku. semakin lama intensitas goyanganku semakin cepat dan membuat aku merasakan akan keluar.

“Mamah… aku sudahhh arghhh mau keluarhhhh owghhh….” racauku

“Keluarkan sayang owghhh mama juga hampirhhh keluar owghhh kontolmu buat owgh keluar arghhhh… ahhhh keluarkan owghhhh di memek mama sayang arghhhh hashhh….” racaunya

“ARGHHHHHHHHHHHHH!” teriakku

Croot croot croot croot croot croot croot croot croot

Aku ambruk di atas tubuh mama yang telengkup di atas kasur. Tubuhku jatuh kesamping mama, mama kemduian membalik tubuhnya dan masuk dalam dekapanku. Aku tidak pernah menyangka bakal terjadi seperti ini, aku juga tidak pernah menyangka akan melakukannya dengan wanita yang aku hormati, mamaku.

“Sayang… maafkan mama ya…hash hash hash” ucap mama

“Maafkan Rahman juga ma… hash hash…” ucapku

Kami berdua kembali berciuman dan saling memeluk erat. Kehangatan payudara mama yang menempel di dadaku membuat aku merasa nyaman ditambah lagi dengan kehangatan tubuhnya.

“Mulai sekarang, Rahman pulangnya lebih rajin ya, biar mama tidak sendirian” ucap mama pelang dengan mata terpejam

“Bahagiakan mama, jangan tinggalkan mama, mama sudah tidak bisa merasakan kebahagiaan jika dengan papamu” ucap mama

“Iya ma, pasti, aku akan membahagiakanmu” ucapku dengan memeluknya erat

“I’ll be everything you want dear” ucap mama

“me too…” ucapku

Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan adanya mama sejak saat itu membuatku lebih nyaman dan lebih tentram. Tak perlu lagi merasakan sakit hati ataupun bermain cinta diliuar. Aku tahu ini salah tapi aku sejak pertama kali aku melakukannya aku tidak bisa berhenti.

Mama menjadi lebih bersemangat dalam hidupnya dan satu kenyataan pahit yang aku dapatkan dari mama adalah Papa. Papa selama ini yang terlihat baik dan berwibawa ternyata dia memperlakukan mama dengan sangat keji. Ditambah lagi dari pengakuan mama, papa selalu berman cinta diluar sana.

Memang tak ada bedanya denganku, tapi sejak ada mama, aku sudah menjadi pribadi yang berbeda. Walau setiap saat aku seperti orang stress karena menyetubuhi mamaku sendiri. Aku harus bercerita ini kepada Arya, hanya dia satu-satunya sahabatku yang bisa aku percaya dan tidak mungkin dia memanfaatkan situasi ini. Ya, Arya…

Bersambung