Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 25

Dalam perjalanan pulang dan masih didalam kawasan Perumahan ELITE, aku berpapasan dengan sebuah mobil yang berad di seberang median jalan. Tampak mobil itu aku kenal tapi aku lupa dimana aku pernah melihatnya, masa bodohlah.

Ahhh… Satu bulan yang lalu aku pulang dengan hati yang sumringah tapi hari ini, kurang lebih satu bulan setelahnya aku pulang dengan perasaan tidak menentu. Aku sampai dirumah dengan disambut oleh Ibu, dan Ibu seakan-akan tahu apa yang aku rasakan. Ibu tersenyum dan memberikan kecupan pada bibirku. Dan menagantarkan aku ke dalam kamar lalu meninggalkan aku sendiri, ya karena Ayah ada dirumah.

Di hari minggu siang aku mencoba menghubungi Bu Dian, karena proposal Tugas Akhirku sudah selesai aku rapikan dan kuperbaiki serta aku berikan beberapa tambahan. Akhirnya aku menelepon Bu Dian. Tuuuuuuuuuut tuuuuuuuuuuuut cklek telepon diangkat.

Ya Halo

Selamat malam mbak, maaf mengganggu

Iya, Ar ada apa?

Emm… kapan ya mbak bisa bimbingan lagi?

Besok senin ya, emm… maaf Ar, aku sedang ada perlu bisa dilanjut lain waktu tidak teleponnya

Eh… bisa-bisa mbak, terima kasih mbak

Ya sama-sama tuuuuuuut

Benar-benar sesuatu yang bertolak belakang dengan kejadian hari minggu yang telah lalu. Aku mencoba menerawang ingatanku kembali ke hari minggu itu, senyum dan sapanya masih sama ketika aku memandangnya di hari senin kemarin.

Tapi setelah satu bulan lamanya Bu Dian tampak berbeda. Adakah yang salah denganku? Dari pertama kali bimbingan itu sikapnya masih wajar-wajar saja, tapi setelah itu untuk membalas pesan BBM-ku saja lama sekali padahal sebelum-sebelumnya aku tidak perlu menunggu lama untuk balasan BBM-ku.

Apalagi setelah malam minggu ini, sikap dia seperti acuh kepadaku. Haruskah aku membuang perasaan ini? Ibu pasti akan marah karena Ibu sudah terlanjur suka kepada Bu Dian, tapi aku harus tetap realistis. Walau kemungkinannya sangat kecil aku tetap mengirimkan pesan penuh perhatian kepada Bu Dian walau tidak berbalas.

Hari berganti dengan cepat tanpa ada yang dapat aku lakukan di dalam rumah. Email Om Nico, Smartphone KS-pun tidak ada yang menarik. Mungkin semua ini berjalan agar aku bisa lebih fokus pada satu permasalahan, yaitu Bu Dian. Setelah kuliah dengan Bu Erna, aku kemudian menuju ke gedung jurusan untuk menemui Bu Dian.

Glodak… Glodak.. Glodak.. Glodak.. Glodak.. Gubrak. Ringtone telepon. Bu Dian dan kuangkat.

Saya ada didepan gedung jurusan kamu turun saja untuk bimbingan tuuuuuuuuuuuut

Ada apa dengan Bu Dian? bathinku. Aku kemudian langsung turun kebawah menuju tempat Bu Dian berada. Dia sedang berdiri di depan gedung jurusan.

Mana? ucap Bu Dian

Ini Bu ucapku sembari menyerahkan proposalnya. Dan langsung ditanda tanganinya.

Kamu langsung urus semua kebutuhan kamu di laboratorium, buat surat ijin penelitian yang mengatas namakan saya dan segera memulai penelitian

Saya ada janji, kapan-kapan saya akan jenguk kamu di laboratorium ucap Bu dian. Singkat padat, jelas dan akurat tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara dia langsung pergi meninggalkan aku berdiri di sini sendiri.Ku tatap kepergiannya hingga masuk ke mobil fortune-nya dan menghilang.

Ada yang berbeda dengan kamu mbak? Sangat berbeda, mungkin kamu malu jika bersama denganku, entah apa yang ada di hatimu aku tak akan pernah tahu bathinku

Dihari berikutnya semua kelengkapan pengurusan ijin penelitan di laboratorium telah aku selesaikan. Penelitian aku lakukan atas nama Bu Dian karena pada semester enam biasanya mahasiswa belum diperbolehkan melakukan penelitian, diperbolehkan melakukan penelitian biasanya di semester 7. Mulai minggu depan aku akan langsung melakukan penelitian sesuai dengan proposal Tugas Akhirku.

Hampir dua bulan lamanya aku melakukan penelitian di dalam laboratorium untuk mendapatkan hasil. Penelitian aku mulai setelah jam kuliah selesai. DI awal peneletian aku masih bisa pulang lebih awal atau paling tidak pulang pada sore hari menjelang maghrib karena di langkah awal penelitianku hanya berisi preparasi sampel yang tidak memakan waktu yang lama.

Sampai pada pertengahan penelitianku memakan waktu lebih lama, karena untuk sekali running proess paling tidak memerlukan waktu hingga malam hari. Ibu mendukungku penuh untuk segera menyelesaikan penelitianku agar setelah lulus nanti harapan Ibu aku melanjutkan S2.

Dalam masa penelitianku tak lupa setiap harinya aku selalu mengirimkan BBM kadang juga SMS ke Bu Dian yang berisi kata-kata bijak, kata motivasi dan perhatian untuk tidak lupa makan atau apapun itu. Tapi seseringnya aku mengirim pesan sesering itu pula tak ada balasan darinya walau terkadang aku mendapatkan balasan hanya sepatah dua patah kata.

Rahman? semakin hari dia semakin linglung dengan keadaanya, tak pernah mencoba untuk bercerita kepadaku. Ibu, menjadi sangat jarang berkumpul denganku walau hanya sekedar bercekap-cakap. Semua nampak semakin jauh dariku, entah karena kesibukanku atau karena kesalahan-kesalahan yang aku buat.

Intensitas pertemuanku dengan Ibu dan Bu Dian berkurang, karena beberapa bulan ini Ayah selalu berada dirumah lebih awal sedangkan Bu Dian yang sudah berjanji untuk menjengukku pun tak kunjung datang. Di hari itu aku sedang menunggu proses yang kurang lebihnya harus aku tunggui hingga malam hari, tepatnya di hari kamis malam jumat.

Pada hari minggu kuturut ayah kekota naik delman istimewa kududuk dimuka. Ringotne telepon. Wongso.

Woi wong, ada apa?

Besok malam minggu kumpul, ada sesuatu yang penting untuk dibahas

Oke aku bisa, memange ada apa Wong?

ini mengenai sesuatu yang penting dan kamu harus datang tepat waktu

iya iya, serius amat, amat saja gak serius, dimana?

kamu ke warungku dulu oke?

Siiip…

Sedikit obrolan dengan wongso dan wongso mengakhirinya. Ketemu dengan teman-teman pastinya mereka pada mengajak para kekasihnya, mungkin aku bisa mengajak Bu Dian untuk kumpul bersamaku. Aku kemudian menelepon Bu Dian.

Tuuuuuuuuuuuuut…. tuuuuuuuuuuuuuuuuut…. ceklek

Halo ar ada apa?

Eh… mbak, kok ndak jenguk aku di lab?

Aku lagi sibuk, banyak janji, pokoknya aku percaya saja sama kamu, gitu ya?

Iya mbak, emmm….

Ada apa Ar? Jika sudah tidak ada lagi, dilanjut kapan-kapan saja

Bentar-bentar mbak, ini aku mau mengajak mbak besok malam minggu kumpul sama temen-temenku yang kemarin itu nolong kita di cafe, bisa ndak mbak?

maaf ndak bisa, dah dulu ya aku lagi ada janji dengan seseorang. Maaf

sebentar mbak jangan ditutup dulu

iya ada apa? Aku itu lagi ketemu seseorang, tahu ndak sich! (sedikit membentak)

Maaf mbak, aku hanya ingin minta maaf mbak, karena mbak tidak seperti biasanya lagi, tampak berbeda

Terus aku harus bagaimana? Memohon maaf gitu sama kamu, ingat kamu itu mahasiswaku

iya mbak saya tahu, bukan maksud saya seperti yang mbak katakan, hanya saja aku Cuma ingin minta maaf kepada mbak, itu saja, Aku mohon mbak jangan marah

iya iya… Sudah kan? tuuuuuuuuuuuuuuuut

Kecewa sangat kecewa, kenapa dia begitu kaku dan dingin kepadaku akhir-akhir ini? Dia yang memilihku menjadi mahasiswa bimbingannya jika ada akhirnya aku di cueki seperti ini? mending dengan dosen lain yang sekiranya bisa aku ajak bercengkrama. Mungkin memang benar jika ini semua hanya halusinasiku tentang dia menyukaiku.

Keesokan harinya pada hari jumat, aku tidak mengikuti kuliah tetapi sebelumnya aku meminta izin kepada dosen untuk meneruskan penelitianku karena akan memakan waktu yang sangat lama. Sebelum aku memulai penelitianku kembali di laboratorium aku menyempatkan diriku untuk kejurusan menemui Bu Dian, jujur saja aku merasa bersalah kepadanya.

Gedung Jurusan nampak sepi dari mahasiswa dan juga dosen, hanya ada beberapa mahasiswa semester ataskku yang sedang menunggu dosbingnya. Kulangkahkan kakiku hingga didepan pintu masuk ruangan Budian dan Bu Erna yang terbuat dari kaca yang buram. Kudengar percakapan diantara keduanya.

Eh, Yan, gimana Arya? Ditembak aja ganteng lho ucap Bu Erna samar-samar tapi terdengar

Kalau mbak mau ambil saja hi hi hi masa Dosen pacaran sama mahasiswanya, ya ndak level dong balas Bu Dian

Eh… eh… eh… jangan bilang gitu kualat lho nanti kamu balas Bu Erna

Eh jangan nyumpahin gitu dong ucap Bu Dian. Tiba-tiba nada dering telepon berbunyi dari dalam ruangan tersebut.

Bentar mbak ada telepon ucap Bu Dian. Kulihat bayangan Bu Dian bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke pintu. Aku pun segera melangkah menuju pintu samping (bukan pintu utama) gedung jurusan. Kleeeeeeeeeeeek…

Halo sayang, ada apa? ucap Bu Dian. Kudengar jelas perkataan itu dari mulut Bu Dian yang berada dibelakangku, aku tetap melangkah tanpa mempedulikannya

Arya?!

Arya tunggu teriak Bu Dian. Aku hanya berbalik dan tersenyum sambil membungkukan badanku kepada Bu Dian lalu melanjutkan langkahku kembali

Nanti dilanjutkan lagi ucap Bu Dian menutup teleponnya.

Aryaaaa, tunggu sebentar teriak Bu Dian lagi, aku berhenti dan melihat Bu Dian

Bukannya kamu ada jam kuliah sekarang? Kenapa di Jurusan? ucap Bu Dian

Mohon maaf Bu, saya mohon izin untuk melanjutkan penelitian di Lab ucapku tanpa menjawab pertanyaan dari Bu Dian, dan langsung kembali melangkah

Tunggu sebentar! Saya ini sedang berbicara dengan kamu ucap Bu Dian

Sebenarnya saya hanya ingin memberikan laporan penelitian saja selama dua bulan ini bu, tapi kelihatannya Ibu sibuk jadi saya berniat melanjutkan penelitian dulu baru minggu depan akan saya laporkan setelah kuliah ucapku dengan senyuman untuk menutupi kekecewaanku

Ja.. jadi kamu sudah disini dari tadi? ucap Bu Dian

Baru saja kok Bu he he he ucapku dengan senyum cengengesanku dan menggaruk-garuk kepala bagian belakangku

Saya mohon undur diri dulu Bu, mohon doanya agar penelitian saya cepat selesai dan lekas lulus dari universitas ucapku tersenyum dengan membungkukan badan, kemudian melangkah meninggalkan Bu Dian

kamu mendengarnya? ucap Bu Dian tiba-tiba

Saya tidak mendengar percakapan Ibu, beneran kok bu saya tidak mendengarnya sama sekali ucapku yang kembali menghadap kembali ke Bu Dian. Aku sudah tidak bisa melihat apa yang ada diwajahnya, sedikit sakit

Berarti kamu mendengarnya dan saya har… ucap Bu Dian

Maaf Bu Boleh saya melanjutkan penelitian saya? Saya hanya seorang mahasiswa yang berusaha untuk cepat lulus dan meninggalkan universitas ini untuk menempuh hidup baru sebagai seorang pekerja diluar sana ucapku, aku kemudian melangkah meninggalkan Bu Dian. Tak ada sepatah katapun dari Bu Dian.

Ya aku hanya mahasiswa dan dia adalah seorang Dosen bathinku.

Aku kembali ke peradabanku di laboratorium tempat aku melakukan penelitian. Baru saja aku menjalankan proses, semua tampak begitu suram, aku sudah tidak dapat berpikir jernih. Otakku hanya berputar-putar pada perkataan Bu Dian dan Bu Erna.

Tiga jam terlewati begitu saja menjalankan proses, Aku hanya bisa meletakan kepalaku di atas tumpukan tanganku yang berada dimeja. Kuberesi semua peralatanku dan kumasukan ke dalam almari, aku mengakhiri penellitianku kali ini.

Lho mas, kok sudah selesai? Bukannya penelitiannya masih lama mas? ucap Pak Laboran

Minggu depan saja pak, saya mau pamit pulang, badan saya lagi ndak enak ucapku

Oh ya sudah, hati-hati dijalan ya mas ucap Pak Laboran

Iya pak… ucapku

Aku keluar dari gedung laboratorium dengan wajah yang muram. Segera aku melangkah menuju ke tempat parkir, ditengah-tengah perjalananku menuju tempat parkir aku bertemu dengannya lagi.

Lho sudah selesai Ar? ucap Bu Dian

Senin saja saya lanjutkan Bu, untuk laporannya mungkin selasa atau rabu bu, mohon maaf ucapku

Kamu baik-baik saja? ucapnya yang mencoba memberikan perhatian kepadaku

Sangat baik bu, sangat baik ucapku yang tersenyum lebar didepannya. Entah kenapa pandangan Bu Dian seakan-akan merasa bersalah kepadaku. Aku melanjutkan langkahku, dan tiba-tiba tangan Bu Dian memgang lengan kananku.

Tunggu Ar, aku mau bicara ucap Bu Dian yang berada dibelakangku

Maaf saya sedang banyak urusan Bu ucapku tanpa menoleh kebelakang. Segera aku menarik kembali tanganku dengan keras, masa bodoh kalaupun aku tidak lulus karena mengacuhkan dosen pembimbingku, aku tidak peduli lagi. Aku masih bisa meminta ganti dosbing yang lainnya. Aku melangkah menjauhinya, aku sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan terjadi minggu depan.

Sesampainya dirumah, rumah tampak sepi. Kubuka Smartphoneku terdapat sms dari Ibu, Ibu sekarang berada dirumah tante ratna karena tante ratna ditinggal dinas oleh suaminya dan Ibu dimintai tolong untuk menemaninya hingga besok senin.

Ayah pun tidak berada dirumah, dari penuturan Ibu Ayah sedang dinas luar kota. Lengkap sudah penderitaan ini, aku sudah mulai muak melihat kampusku lagi. Kurebahkan tubuhku di kamar, serasa malas untuk memecahkan setiap masalah yang hadir dalam hidupku. KS, Mahesa, Nico, Si Buku, Si tukang, Si Aspal, Pak Koco, Tante Warda kulupakan sejenak semua itu. Ting! Bunyi notifikasi BBM-ku.

From : Ibu
Apapun yang terjadi, seorang laki-laki harus teguh pada pendiriannya
Karena dia adalah seorang pemimpin dan penyayang bagi yang dicintainya
Ibu tidak tahu masalahmu, tapi Ibu bisa merasakan bahwa kamu sekarang sedang gelisah
Bersemangatlah, masih ada Ibu, ingat itu :*

To : Ibu
Terima kasih, aku masih punya Ibu :*
Sebuah pesan yang kembali mengangkat motivasiku, ya aku masih punya Ibu.

***

Malam minggu telah tiba, aku kirimkan pesan ke Ibu kalau aku akan berkumpul dengan sahabat-sahabatku semasa SMA. Setelah mendapatkan izin dari Ibu aku langsung berangkat menuju warung Wongso. Dengan secepat kilat, penuh semangat aku memacu REVIA. Sampailah aku di warung wongso, di sedang menghembuskan asap didepan warungnya.

Wehhh… tumben datang lebih awal cat? ucap wongso. Aku kemudian turun dari motroku yang aku parkir didekat motornya lalu aku menuju tempat wongso duduk

Di rumah ndak ada orang, daripada telat di maki-maki kamu sama yang lain, mending datang awal

Minta rokoknya ucapku

Nih…

Oh ya kita langsung saja ke TKP bagaimana? Anak-anak langsung ke sana

Oh ya aku tapi nanti jemput pacarku dulu, lha cewek kamu itu kemana? lanjutnya

oh lagi ada urusan ndak bisa kumpul ucapku

Wah, dia itu jadi primadona pembicaraan temen-temen kelasku lho Ar ucap Wongso yang satu fakultas denganku tapi berbeda jurusan

Alah, ndak usah dibahas lagi, ntar kita ketinggalan wong ucapku yang langsung menuju ke arah motorku

Lagi da masalah kamu? ucap wongso yang berjalan disampingku

May be Yes, May Be No ucapku

Aku kemudian mengikuti wongso menuju rumah pacarnya, pacarnya sudah menunggunya didepan rumah. Kemudian aku dan wongso melanjutkan perjalanan menuju tempat berkumpulnya Geng Koplak. Tempat kumpul kami berada di sebuah tempat pusat orang-orang berpacaran dan tempat orang-orang nongkrong, tapi malam ini tampak sepi dikarenakan di alun-alun ada konser musik.

Ditempat kami berkumpul, ada sebuah taman berbentuk lingkaran ditengah-tengahnya. Taman berbentuk lingkaran itu berada diantara jajaran pohon-pohon besar yang tertata rapi dihiasi pedagang kaki lima yang masih bertahan berjualan walaupun jumlahnya sedikit (imajinasi bentuk taman O, lingkaran adalah taman, strip adalah jajaran pohon).

Tampak beberapa sahabatku sudah berkumpul disana. Aku menghampiri mereka yang sudah berada disana bersama pacar-pacarnya. Salam sapa penuh canda mengiringi pertemuan ini. kemudian beberapa dari kami mulai berdatangan. Satu-persatu mulai berkumpul dan yang terakhir adalah Sudira, lengkap sudah Geng Koplak.

Lho Ar, cewekmu mana? ucap Dira sambil berjalan kearah kami dari motornya

Sedang ada urusan Dir ucapku kepada Dira

Asyik Arya, sendirian jadi kita bisa pacaran dong Ar hi hi hi ucap Dira

Woi, itu teman sendiri jangan diembat! kata hermawan, diikuti gelak tawa kami semua

Eh dir, itu dada kenapa gede sekali, diisi berapa lliter balonnya ucap Karyo

E… e… e… enak saja balon, asli tahu! ucap Dira santai

masa asli? ucap parjo

Ngapusinan! (Suka berbohong) ucap Joko dan aris bersamaan

Aku kasih lihat tapi jangan nafsu lho hi hi hi ucap Dira

nih… ucap dira sembari membuka bajunya

EDAAAAAAAAAAN! Asli! ucap kami serentak. Langsung pacar-pacar mereka menutupi mata sahabat-sahabatku

Sudah diberitahu kok ndak percaya, hayo jangan nafsu, kalau nafsu ndak papa sich, nanti Dira kasih dech ucap dira sembari menutup kembali bajunya

HUEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK ucap kami serentak yang diikuti gelak tawa kami semua

Dari mana kamu dapat susu asli kaya gitu? ucapku

Dari pacarku dong, dia yang nyuruh aku operasi he he he ucap Dira santai

Canda tawa, sendau gurau dan gaya konyol tercurah semua pada pertemuan ini. ada yang berlagak menggoda Dira, ada yang menceritakan kejahilan masa SMA. Ada juga yang menceritakan tawuran dengan Geng Tato. Benar-benar masa terindahku adalah masa SMA, karena ketika kuliah semua teman-temanku adalah orang-orang serius dan genius.

Ar, tuku rokok kono (Ar beli rokok sana) ucap Aris

Ndi… (mana) jawabku. Dilemparnya uang itu ke arahku, dan aku membeli rokok di pedagang kaki lima.

Saat aku membeli rokok, melintas seorang wanita yang aku kenal, Bu Dian. Dia berada di seberang tempat kami berkumpul, dia berjalan dari kananku menuju ke arah taman bundar. Aku sedikit bahagia mungkin sja dia bisa aku ajak untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatku.

Tanpa berpikir panjang aku segera berlari mengendap-endap mendahului Bu Dian, dan bersembunyi di salah satu poho besar didepannya. Ketiak berlari wongso dan pajo memanggilku tapi aku menyilangkan jariku menyilang dibibirku. Segera aku berdiri dan diam dibalik pohon besar itu. Lama aku menunggu tapi Bu Dian tak kunjung datang. Aku keluarkan kepalaku untuk menengok ke arah wanita tersebut.

Jantungku tercekat, mulutku berhenti berdetak, mataku seakan bisu, mulutku seakan tuli, telingaku seakan buta dengan apa yang ada didepan sana. Kulihat Bu Dian dengan dress sedikit ketat dengan lengan baju hanya menutupi sebagian kecil lengannya dihiasi celana jeans pensil ketat berwarna hitam. Dia berdiri dihadapan Seorang laki-laki yang sedang berlutut dihadapanya dengan memegang kedua tanganya.

Laki-laki itu tak lain adalah pak Felix dan disamping tempat mereka berdiri ada sebuah mobil yang sewakt itu berpapasan denganku ketika aku mengantar Bu Dian. Ya sekarang aku ingat itu adalah mobil pak felix yang sering aku lihat di tempat parkir Dosen.

Keberadaan mereka memang tidak bisa aku lihat dari tempat aku berkumpul karena tertutup pepohon besar. Aku kemudian menarik kepalaku dan bersandar di pohon dengan pandanganku menerawang ke dedaunan.

Ar… sudahlah ucap wongso yang menepuk pundakku yang tiba-tiba berada di sampingku. Mungkin dia tahu kenapa apa yang aku lihat.

hhhaaaaaaaaaaaaaaassssssssssssssssssssh….. hela nafas panjangku

Ayo kita kembali ucap Wongso, sembari membalikan badannya dan menarik bahuku

Kamu masih ingatkan percakapan kita ketika SMA jika menemui hal seperti ini ucapku pelan

Ya mendatanginya, memberikan selamat dan ikut berbahagia di dalamnya

Tapi itu tidak perlu kamu lakukan ar… ucap wongso yang segera aku tinggalkan dia

Kamu tetap disini ucapku menyingkirkan tangannya dari bahuku lalu beranjak meninggalkannya

Hei ar… arggghhhhh cegah wongso tapi aku sudah melangkah ke arah mereka. Dengan tatapan senyuman ke arah mereka berdua yang belum menyadari aku sedang berjalan ke arah mereka.

Bu Dian, Pak Felix! Haiiii…. teriakku kepada mereka, membuat mereka terkejut sesaat. Aku berlari kecil kearah mereka.

Oh Hai… Ucap Pak Felix, yang kemudian bangkit dari berlututnya

Ar….ya… ucap Bu Dian dengan sangat pelan, terlihat wajah kebingungannya

Wah kok disini bu, pak? ucap ku, sambil menyalami merek berdua. Tatapan mata Bu Dian terhadapku menjadi tatapan sendu, kemudan dia sedikit membuang mukanya. Pak felix masih sedikit heran dengan kedatanganku

Kamu?

apa kamu mahasiswa kelas saya? ucap pak felix kepadaku

Iya pak masa lupa, saya yang hari selasa pukul 08:30 itu lho pak, kelas paling rame waktu pak felix kenalan ucapku

Oh iya… iya, yang ramai itu ya

Lho kok kamu disini? ucap Pak felix

Itu pak, sedang kumpul-kumpul sama sahabat-sahabatku semasa SMA pak, tadi lihat Bu Dian sedang berjalan makanya saya kesini pak ucapku sambil menunjuk tempat sahabat-sahabatku berkumpul

Mana? Ndak ada? ucap pak felix yang celingukan mencoba mencari teman-temanku

Kalau dari sini kelihatan pak, kalau dari situ ketutup pohon pak ucapku dengan senyum lebar

Oh ya pak, sedang apa nih pak, bu? Bu Dian kok Diam saja bu? ucapku

Ndak ngapa-ngapain kok Ar ucap Bu Dian pelan wajahnya masih sedikit shock dengan kehadiranku

Kamu kenal sama dia sayang? ucap Pak Felix

Sayang? Hmmm… benar semua yang aku baca selama ini hanya halusinasi bathinku dengan wajah tersenyum

Saya itu mahasiswa bimbingan Bu Dian, Bu Dian itu pinter lho pak, saya saja langsung ditunjuknya untuk menjalankan KTI yang juara satu tapi sedikit modifikasi pak he he he pujiku kepada Bu Dian dengan senyum selengekan

Oooooo…. ucap Pak felix

Kok malah pada bengong Bu, Pak? Wah saya mengganggu ni ya? ucapku sambil sesekali melirik kearah Bu Dian yang masih nampak kebingungan dengan kehadiranku

ndak ganggu Ar,santai saja ucap Pak felix

Kayaknya kok sedang serius nich, ada yang bisa saya bantu pak , bu? ucapku

emmmm…. Ada Ar, Kamu bisa? ucap Pak felix

Wooo siap! Untuk Dosen, seorang mahasiswa wajib menuruti pak he he he ucapku

Oke kalau begitu kamu tolong saya, rekam saya ya, ini ucapnya sambil menyerahkan Smartphone bergambar durian kroak

Oke pak siaaaaaaap! ucapku dengan wajah sumringah

Direkam? Memangnya mau apa?! Sudah Arya kamu pulang saja! ucap Bu Dian yang tidak kami berdua gubris

Aku berdiri mundur kira-kira 3 meter dari tempat Pak felix dan Bu Dian. Pak felix kemudian berlutut dihadapan Bu Dian dan memegang kedua tanganya.

Dian, aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku, maukah kamu menjadi istriku? ucap pak felix. Aku hanya tersenyum melihat kejadian itu, walau sakit yang kurasa harus menghadapi wanita yang dengan segala keindahannya sedang dilamar oleh lelaki lain.

Bu Dian tampak sedikit ling-lung dalam menjawab kata-kata dari pak felix. Dia kadang-kadang melihat kearahku yang sedang memgang Smartphone pak felix.

Sudah Ar, ndak usah direkam! ucap bu Dian sedikit membentak

Ndak papa bu, kan momen indah harus di abadikan, betul gak pak felix? ucapku

Benar kata Arya, sayang, kamu fokus saja ke aku ucap pak felix membenarkan perkataanku

Eh… Aku… aku… ucap Bu Dian terbata-bata

Terima! Terima! Terima! Terima! Terima! Terima! teriakku dari belakang kamera Smartphone. Tampak Bu Dian kaget dengan teriakanku itu, aku hanya mampu berteriak dengan wajah sumringahku. Dengan satu tangan menggenggam Smartphone dan satu tanganku memukul langit.

Ayo dong Bu diterima, Bu Dian dan Pak Felix sudah cocok lho, sama-sama dosen favorit di kampus

Ayo terima! Terima! Terima! teriakku kembali. Pak felix masih dalam posisi berlututnya dan memandang Bu Dian dengan penuh harap. Dengan tiba-tiba pak felix mengeluarkan sebuah kotak, dikeluarkannya sebuah cincin dan dipakaikannya di jari manis Bu Dian.

Bu Dian tampak sedikit kaget dengan perlakuan pak felix, nampak dia mencoba menolaknya tapi cincin itu sudah masuk ke jari manisnya.

Jika kamu menerimaku, pakailah cincin ini selamanya ucap Pak Felix

HOREEEEEEEEEEEEEEEEE! CIHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! teriakku kegirangan dengan penuh kekecewaan dalam hati

Arya sudah hentikan rekamannya!

Felix tidak seharusnya kamu melakukan ini dihadapan mahasiswa ucap Bu Dian sedikit membentak kemudian menarik tangannya

Apapun akan kulakukan demi kamu sayang ucap pak felix, aku masih tersenyum

Ibu senyum dong, kan ini momen bahagia Bu Dian masa Bu dian cemberut, Ayo Bu Dian senyum biar kelihatan cantiknya ucapku, Bu Dian nampak begitu marah dengan ulahku tapi tak bisa diungkapkannya karena ada pak felix dihadapannya

Sudah, matikan rekamannya! Aku tidak suka felix! ucap Bu Dian sedikit membentak

Jangan marah gitu sayang, ntar jadi jelek lho he he he ucap pak felix

Iya bu ndak usah marah gitu

Pak felix Sudah apa belum? ucap ku, dan dijawab dengan anggukan oleh pak felix dan acungan jempol. Aku kemudian mematikan kamera pak felix. Dan melangkah kearah mereka.

Wah selamat ya pak! ucapku kepada pak felix sambil memeluknya.

Selamat Bu, wah kalau Bu Dian dipeluk bisa-bisa mata kuliah pak felix dapet E nih aku he he he ucapku dengan nada bercanda. Aku hanya menyalami Bu Dian dengan wajah dan senyuman ramahku dengan badan sedikit membungkuk. Tampak raut wajah gelisah terlukis di wajahnya.

Makasih ya Ar.. ucap Pak felix

Yuhuuuuuuuuuuuuuu… akhirnya aku menjadi saksi cinta pak felix dan Bu Dian, nilainya ditambahi ya pak he he he ucapku bercanda dengan sedikit berjingkrak di hadapan mereka

Tak tambahi 0,1 ya ha ha ha ucap pak felix

Ya pelit amat pak

0,05 deh pak he he he ucapku bercanda, disambut tawa oleh pak felix. Kulihat Bu Dian,wajahnya masih penuh dengan kebingungan. Tak ada senyuman yang terlukis di wajahnya dan tak ada sedikitpun gurat wajah kebahagiaan. Pak felix masih memandangku dengan tawa, kulihat tatapan mata Bu Dian ada sedikit penyesalan di dalamnya.

Selamat ya Bu Dian ucapku, dia semakin nampak linglung dengan sikapku

Sekali lagi, selamat untuk Bu Dian selaku Dosbing saya dan Pak Felix Selaku Dosen terkeren saya, semoga perjalanan cinta kalian menjadi sebuah sejarah yang tak akan terlupakan oleh Bapak maupun ibu setelah menikah dan mempunyai banyak momongan ucapku sambil membungkukan badan ala orang jepang

Makasih banyak Ar… ucap Pak felix

Kalau begitu, Pak… Bu… Saya mohon undur diri dulu, mau kumpul-kumpul sama anak-anak ucapku

Okay, becareful ucap pak felix. Aku kemudian melangkah membelakangi mereka berdua.

Arya! panggil Bu Dian tapi aku tidak menghiraukannya

Pak Felix, Bu Dian… ucapku dan berhentii sejenak membelakangi mereka

Dua menjadi satu selamanya! teriakku, dengan mengangkat tanganku membuka dua jari tanganku dan menyatukannya kembali. Aku kemudian menoleh kebelakang dengan senyuman khasku dan kemudian berlari ke arah pohon tempatku bersembunyi. Dan wongso masih disana. Aku sudah tidak tahu apa yang terjadi di belakangku

Kamu memang lelaki kuat Ar, berbeda denganku ucap wongso yang ada dihadapanku

ayo, mereka sudah menunggu ucapku sambil melewati wongso sambil menepuk bahunya

Ar, mungkin jika kamu adalah aku, aku mungkin akan memaki mereka berdua ucap Wongso

It’s okay, to be a little broken, because Everybody’s broken in this life

its just life ucapku dengan senyuman ke arahnya. Aku dan wongso kemudian kembali ke tempat kami berkumpul. Dengan serentak semua orang yang berada di tempat itu berdiri.

Kita ke warung wongso saja, cari gratisan ucap anton

iya, disini banyak nyamuk ucap Aris

Uangku juga sudah habis, ke wongso saja ucap Udin, semuanya akhirnya beranjak dari tempat duduknya ke arah motor kami. Mereka berjalan melewatiku satu persatu dari mereka menepuk bahuku

Sudah lah, disini juga ndak apa-apa kan? ucapku. Tanpa mendengarkan ucapanku mereka semua naik ke motor mereka dan menyalakannya

Cepet Su!(Cepat njing) teriak wongso. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi dan kami akhirnya pergi dari tempat itu menuju warung wongso. Kami berputar melewati taman dan kemudian lurus melwati tempat Bu Dian dan Pak Felix aku berhenti tepat di depan Bu Dian dan Pak Felix dengan jarak kira-kira 5 meter. Semua motor sahabat-sahabatku berhenti didepanku

PAK! BU! SELAMAT YA! KALAU NIKAH AKU DIUNDANG LHO! teriakku sembari mengangkat tanganku dan menggoyangkannya di udara

Doakan ya! teriak pak felix. Bu Dian menatapku dengan tatapan kosong ke arahku. Kutarik gas REVIA kembali dan aku melaju melewati sahabat-sahabatku yang kemudian membuntutiku dari belakang.

Bu Dian… sekarang aku benar-benar sudah mantap dengan keyakinanku, bahwa aku tidak pantas mengharapkanmu apa lagi memilikimu. Kau terlalu indah untuk aku yang kotor ini bathinku. Motor melaju dengan cepat tanpa mempedulikan mereka yang dibelakangku.

Lampu merah aku tabrak tanpa mempedulikan tilang polisi. Dan sampailah aku di warung wongso. Warung tersebut sudah tutup dan dibuka kembali oleh wongso agar kita semua bisa berkumpul di dalam. Satu-persatu dari mereka masuk ke dalam warung dan aku masih di atas motorku. Para pacar sahabat-sahabatku masuk ke dalam rumah wongso.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA Teriakku keras. Beberapa dari sahabat-sahabatku terlihat menengok ke arahku. Lalu aku masuk dan duduk di bangku yang dekat dengan pintu keluar masuk warung. Aku duduk bersandar dengan pandangan ke jalan di luar warung. Mereka semua terdiam seakan-akan ikut merasakan apa yang aku rasakan.

Arya, Arya tidak apa-apa? ucap Dira mencoba memecah kesunyian. Aku menoleh ke arah Dira dengan tatapa tajamku

takuuuut hiiiiiiiiiiii ucap dira ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh karyo. Tampak sedikit wajah ketakutan di wajah mereka semua.

Maaf, maaf, ndak papa bro he he ucapku. Semua sahabatku seakan tahu apa yang ada dalam pikiranku. Mereka tidak berani memulai pembicaraan dengan keadaanku yang masih labil.

Oh ya, katanya ada yang penting ada apa bro? ucapku memecah kesunyian

Tidak ada ndes, tenang saja, tenangkan pikiranmu dulu ucap Joko

Sudahlah, aku tidak apa-apa, ayo segera kita mulai saja. Kadar masalah koyo ngono wae, enteng kanggo aku (hanya masalah seperti itu, ringan buat aku) ucapku. satu persatu dari mereka semua kemudian memukuli kepalaku.

Bersambung