Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 24

Ane sempat jatuh cinta kepada Ajeng, tapi sisi kerasnya yang selalu menginginkanmu yang membuat ane menyerah Ar, hingga aku akhirnya memutuskan untuk bermain-main dengannya, terkadang aku juga bermain cinta dihadapannya dengan teman kosnya, karena aku sangat cemburu kepadamu Ar dan kecewa dengan ajeng jelas Rahman membuat mataku terbelalak dan memandangnya, sedikit ada rasa sesal dalam hatiku

Sejak Ajeng memutuskan untuk menikah dan meninggalkan ane dengan alasan ane tidak serius, ane menyetujuinya karena pada saat itu adalah saat ane sudah merasa muak dengannya. Tentang semuanya, tentang dia dan juga cinta dia kepada ente.

Ane benar-benar muak. Jika ente ingin dia kembali disini, hanya ente yang bisa menghentikan pernikahan itu dan ane tidak akan mengganggu kalian berdua jelas Rahman, dalam berdiriku aku menatap Rahman

Aku sudah bertemu dengannya… ucapku, rahman hanya tertunduk dan tersenyum melihat layar Smartphonenya

Aku tidak bisa… ucapku pelan

Kenapa? ucap Rahman

Karena cinta tidak bisa dipaksakan, dan pernikahan adalah hal yang sakral ucapku pelan

Sudah ane duga ente akan menolaknya, karena ane ente Bro… ente bukan orang yang mudah jatuh cinta dan mudah menerima, you are too hard to understand ucap rahman

Sekalipun pernikahan itu tidak dilangsungkan apakah ente tetap pada pendirianmu? lanjut Rahman

Aku tidak ingin membohongi perasaanya, percuma aku dengan dia jika hanya tubuh ini yang mau menerimanya tapi hati menolaknya ucapku. Hening sesaat antara aku dan Rahman

Apakah ente mau memaafkan ane? Semua ini tak akan terjadi jika saja ane tidak memanfaatkannya ucap Rahman

Kamu tidak memanfaatkannya, nyatanya kamu jatuh cinta padanya walau pada akhirnya dia tidak mencintaimu, semua ini terjadi juga karena kesalahanku juga, aku juga tidak jujur pada diriku sendiri ketika kamu mengatakan kepadaku akan mengejarnya, di saat itu aku sebenarnya menyukainya tapi sekarang sudah ada yang mengisi hatiku jelasku

Haaaaaaaaaaah… hmmmm… dilemparnya pandangannya keluar warung, melihat motor-motor yang berlalu-lalang

terima kasih… ane bersyukur memiliki sahabat seperti ente Ar ucap Rahman

Sama-sama aku juga bersyukur balasku

Tossss…. suara tos dari kedua tangan kami. ya mungkin adalah sebuah kesalahan ketika aku mundur dan Rahman maju untuk mendapatkan Ajeng. Itu semua terjadi karena ketidak terbukaanya aku terhadap Rahman juga sebaliknya. Memang dalam persahabatan selalu ada masalah, tapi semua bisa diatasi jika saja selalu ada keterbukaan antar keduanya.

Mungkin ini adalah pembelajaran bagiku dan Rahman. Akhirnya kami berppisah dan aku menuju jalan pulang ke rumahku. Sebelum berpisah rahman mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki sebuah masalah yang besar, namun dia enggan untuk menceritakannya kepadaku untuk sementara ini.

Akhirnya aku sampai di rumah dengan perasaan yang sangat lelah. Ibu menyambutku ramah, dan senyuman inilah yang sampai sekarang memiliki bius di hatiku.

Capek sayang? ucap Ibu, aku hanya mengangguk

Istirahat dulu saja ya, dan kamu harus cerita kepada Ibu, tuh dikepala kamu banyak tulisan-tulisan yang belum diterjemahkan hi hi hi ucap Ibu

Ah Ibu bisa saja, Arya Istirahat dulu ya Bu ucapku kemudian melangkah naik ke kamarku

Ingin sekali aku bercerita kepada Ibu, karena hanya dia yang dapat menjadi tempat curhatku selama ini. Namun dengan keberadaan Ayah yang ada dirumah membuatku tak bisa berlama-lama dengan Ibu. Dengan segala kegelisahan dalam pikiranku, Aku merebahkan tubuhku di kasur empukku, kubuka Smartphoneku ada notifikasi BBM yang belum aku buka. Bu Dian. Dan kubalas secukupnya saja.

From : Bu Dian
Kamu jangan dengarkan Omongan Bu Erna ya 🙂

To : Bu Dian
Iya 🙂

Tak ada balasan dari sms bu Dian hanya saja ada status Bu Dian berubah.

I hope you sure of what you feel

Dan ku balas

I Believe in you

Bu Dian, sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku? Apa arti kecupan tempo hari itu? Kau buart aku terbang tinggi sekarang? Akankah kau terbang bersamaku atau malah menjatuhkan aku? Beberapa pertanyaan bergelayut di dalam pikiranku hingga mata ini terpejam dengan sendirinya.

Aku kemudian terbangun karena suara teriakan Ayah yang memaki-maki orang yang berada di dalam Smartphonenya. Aku langsung bangkit dan membuka sedikit pintu kamarku , mencoba mendengarkan percakapan Ayah.

Tidak, bisa! Kita harus segera menemukan orang itu! Dia sudah mengambil banyak! Bentak Ayah kepada seseorang yang berada di telepon cerdasnya sambil berjalan ke arah pekarangan rumah. Dalam hatiku aku berharap tidak ada keterangan mengenai si pengambil uang tabungannya.

Kualihkan pandanganku ke bawah, kulihat Ibu yang berada di depan TV kemudian menatap kearah pintu kamarku, dia tersenyum dan kemudian bangkit menuju ke kamarku, masuk dan menutup pintu.

Sssst… biarkan dia teriak-teriak paling sebentar lagi dia tidur ucap Ibuku dalam posisi kedua tangannya berada di bahuku

Beneran Bu.. ucapku yang kemudian dibalasnya dengan anggukan manja. Ku majukan bibirku tapi Ibu menghindarinya

Cerita dulu… ucap Ibuku, kemudian aku dan Ibu duduk di pinggiran ranjang, dan Ibu duduk didepanku smabil kupeluk. Ini adalah momen terindah yang aku inginkan, bisa memeluknya dan menceritakan keluh kesahku.

Kuceritakan semua yang terjadi di hari ini dari bimbingan dengan Bu Dian, perkataan Bu Erna dan percakapan dengan Rahman. Dengan manjanya Ibu menyandarkan tubuhnya di tubuhku sambil mendengarkan ceritaku

Sudah tenang saja sayangku, everythings gonna be okay ucap Ibuku dengan senyumannya. Senyumannya membuat aku menjadi lebih tenang.

Nimas! teriak Ayah dari lantai bawah

Iya, sebentar… teriak Ibu dari dalam kamarku, Ibu kemudian keluar menemui Ayah. Sebelum Ibu keluar dengan bahasa tubuhnya dia melarangku untuk keluar dari kamar. Aku tidak tahu menahu apa yang dilakukan Ibu dibawah sana, sedikit aku intip dari pintu kamarku. Ibu hanya melakukan kegiatan Ibu Rumah Tangga biasa saja.

Malam semakin larut, Ayah kemudian berada di teras depan rumah, merokok dan menelepon temannya. Mungkin itu adalah telepon penting dari temannya aku tidak tahu. Ibu menarikku untuk duduk bersamaya di depan TV.

Itulah Romomu…

Dia tidak ingin Ibu terlalu dekat denganmu, karena waktu itu sewaktu kamu pergi dan tak ada kabar. Dia itu keceplosan kalau dia tidak ingin masa lalunya terungkap, ya ketika memperkosa Ibu itu.

Karena sejujurnya Dia itu takut kepadamu, sejak kejadian malam itu, ketika kamu menolong Ibu dari teman Romomu. Padahal kamu sudah tahu semuanya hi hi hi jelas Ibu, walau dalam situasi apapun Ibu selalu mencoba untuk tenang

Dia tahu tidak bu mengenai gerakanku? tanyaku

Tidak, sama sekali tidak, dia hanya kebingungan mengenai telepon KS dan uang dalam bank-nya hilang begitu saja. Dia sudah menghubungi pihak bank untuk menemukan pelaku, tapi yang didapat dari kamera CCTV tidak jelas, katanya orang itu tinggi dan kulitnya hitam, rambutnya gondrong jelas Ibuku

fyuuuuuuuuuuuuhh… syukurlah klaau begitu ucapku, Ibuku hanya menatapku dengan senyuman. Dikecupnya bibir ku sebentar

Maafin Ibu ya, belum bisa hi hi hi sabar ya sayang paling sebentar lagi dia pergi ucap Ibu sambil meletakan kepalanya di bahu kananku. Kurangkul bahu kanan Ibu dengan kedua tanganku dan kudekap lembut. Dalam diam kami berpelukan, hingga suara pintu terbuka membuat kami berpisah. Aku kembali ke dalam kamarku.

Kunyalakan komputer kamarku dan ku kerjakan proposal Tugas Akhirku. Sambil mengerjakan proposal TA, aku juga membuka email Om Nico tapi tak ada pesan masuk ke dalam emailnya. Tak lupa aku mengirim BBM ke Bu Dian sekedar menanyakan kabar dan mencoba untuk memberikan perhatian kepadanya.

Aku masih berharap untuk bisa jalan dengannya. Jam berdetak menunjukan waktu semakin malam hingga akhirnya aku menyudahi membuat proposal, mencoba menyambut esok pagi.

Pagi kembali beraksi dihadapanku, kini kuliah dimulai jam setengah sembilan pagi. Aku berangkat dengan sedikit berat hati karena hari ini Ayahku juga berangkat bersamaan denganku, sehingga tak ada kecupan dibibirku.

Ku percepat laju motorku hingga kampus agar lepas penat ini. Ku temui beberapa temanku dan juga Rahman yang sudah berada didalam kelas. Pandangan matanya tampak sedikit kosong dan pikiranku selalu kembali ke Ajeng, mungkin Rahman ingin kembali ke Ajeng, hanya itu yang selalu dalam pikiranku.

Kang, ada apa to? ucapku

Ah… bikin kaget saja ente itu ucap Rahman

Lha kamu kaya orang hilang ingatan gitu kok ucapku

Arghhh… bingung ane mau cerita sama ente, kapan-kapanlah, kalau ane sudah siap ane akan cerita ma ente ucap Rahman

Tiba-tiba seorang Dosen Pria masuk ke dalam kelasku, ucapan salam dibalas serentak oleh kami semua. Pria bertubuh yang tingginya sama denganku, dan kulitnya lebih putih dari kulitku ya karena mungkin aku terlalu banyak kepanasan jadi kulitku tambah sedikit gelap. Semua mahasiswi dalam kelasku terpukau bahkan ada beberapa dari mereka yang memandangnya seperti memandang Artis Korea.

Perkenalkan nama saya Felix, saya Dosen lama di kampus kalian, hanya saja selama tiga tahun ini saya melanjutkan S3 di luar negeri, jadi tidak pernah bertemu kalian ucap Dosen tersebut, Felix namanya

Ada yang mau ditanyakan? ucap pak felix, sambil tersenyum dan menyapu ruang kelas

Pak Felix? Sudah punya pacar? tanya mahasiswi temanku

Hmmm… bagaimana ya? Bisa punya bisa belum jawab pak felix

Belum saja pak, kita mau lho jadi pacar bapak he he he jawab seorang mahasiswi lainnya, kemudian gelak tawa dari kami semua meramaikan suasana kelas

GAK LEPEL KALI AMA KAMU! Teriak teman mahasiswaku

KAMU KALI YANG GAK LEPEL SAMA KITA! teriak seorang mahasiswi lainya, diikuti gelak tawa para mahasiswi

Sudah… sudah… kita lanjutkan tanya jawabnya ya, jangan yang terlalu personal tenang pak felix

Perkenalan itu berlangsung cukup lama karena para mahasiswi selalu bertanya-tanya mengenai hal-hal yang tidak penting untuk dijawab. Dan para mahasiswa dikelasku selalu menimpalinya dengan hal-hal konyol. Aku sendiri tidak tertarik, lebih cenderung diam di dalam kelas mengamati setiap tingkah laku dari teman-temanku.

Perkuliahan selesai tanpa adanya mata kuliah yang diajarkan dari pak Felix itu. Seperti biasa aku ajak Rahman untuk nongkrong di warung, tapi kali ini dia menolaknya. Aku mulai curiga kalau dia mengetahui sesuatu tentang aku, Ibunya, ataupun Ayahnya.

Sebulan bulan awal Semester enam ini kehidupanku berjalan sangat monton, tak ada yang spesial di dalamnya. Aku hanya menanti Dua orang sahabatku dari Geng Koplak pulang dari kesibukannya, ya selain mereka bersembilan sewaktu berada di cafe, masih ada 3 orang lagi yang disebutkan oleh Karyo masih membantu mama-mamanya.

Udin alias Unik Dan Intelektual Ndase (Kepalanya), Si Andri Alias Anak mandiri dan yang terakhir adalah Hermawan alias Hebat Rupawan Manis dan menaWan. Dua yang terakhir sering sekali keluar kota untuk membantu Ibunya membeli dagangan yang akan dijual, karena diluar kota harganya lebih murah.

Dan biasanya mereka akan sedikit longgar dibulan ke 5 dan ke 6. Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya sejak kami semua lulus kuliah, kadang aku bertemu dengan mereka tapi hanya beberapa.

Rumah yang seharusnya menjadi sebuah tempat dimana seorang anak berkumpul dan berbagi kebahagiaan tidak aku rasakan sama sekali. Ayah masih sibuk dengan pekerjaanya, entah pekerjaan seperti apa yang dilakukannya, ingin sekali aku mengakhiri karirnya namun untuk saat ini sangat tidak mungkin. Ibu menjaga jarak denganku karena Ayah berada dirumah. Aku bersikap sangat patuh kepada Ayahnya dan juga Ibunya.

Perkuliahanku di hari-hari berikutnya dapat aku ikuti dengan baik. Selama satu bulan aku selalu ber-BBM ria dengan Bu Dian, ya mencoba untuk lebih dekat lagi dengan bu Dian. Selama itu pula aku belum bisa menemuinya untuk melangsungkan bimbingan dikarenakan Bu Dian memiliki kesibukan lain.

Kelas yang diajarnya pun digantikan oleh dosen lain yang satu tim dalam mengajar mata kuliahnya. Aku jatuh hati kepada Bu dian? Bisa jadi, walau dalam hatiku aku masih terlalu sayang terhadap Ibu, tetapi ketika melihat wajah dan senyuman Ibu serta dorongan agar mencari wanita lain, aku kembali bersemangat.

Ya sebenarnya hubungan ini memang salah tapi aku masih belum bisa benar-benar melepas Ibu. Lamanya aku tidak bertemu Bu Dian akhirnya aku sedikit memberanikan diriku untuk meneleponnya.

Halo..

Halo Mbak, selamat Malam, ganggu tidak ya mbak?

Tidak Ar, ada apa tumben kamu telepon aku?

E…. (Aduh sialan kenapa juga telepon, mau apa coba aku)

Ar… Halooo… kamu masih disitu?

Masih… masih mbak…

Kok malah bengong, kasihan yang ditelepon dong kalau kamu diem saja?

E… E… begini bu besok malam minggu mbak ada acara tidak?

Ada…

Owh…

Ada acara kalau kamu ngajak aku keluar

Eh… maksudnya Mbak?

Ya ada acara kalau kamu ngajak keluar, tapi ya ndak ada acara kalau kamu nggak ngajak kemana-mana

Eh… iya bu eh mbak… jadi bisa kan mbak?

Bisa apanya?

E… kalau aku ajak keluar malam minggu, gitu maksudku? He he

Iya bisa

Percakapan hangat antara kami masih berlangsung, aku dengarkan suara indahnya mengenai cerita-cerita pendek mengenai dirinya. Aku pun sedikit bercerita tentang diriku walau sebenarnya dia sudah pernah aku ceritakan. Akhirnya mencapai pada titik akhir percakapan dan kami mengakhirinya. Aku berharap malam ini dapat berlangsung dengan cukup cepat agar malam minggu segera hadir.

Malam minggu telah datang, malam yang aku tunggu-tunggu telah hadir. Kini aku telah di depan rumah Bu Dian, setelah sore tadi jam 14:00 aku berpamitan kepada Ayah dan Ibuku. Ibuku berpesan agar aku bersikap lebih jantan kepada Bu Dian. Aku datang lebih awal karena ingin membawa Bu Dian jalan-jalan dan menunjukan suatu tempat yang indah kepadanya.

Lama aku menunggu akhirnya keluar juga seorang wanita yang mulai mengisi hati ini, dihadapan pintu gerbang rumahnya dia berdiri dan tersenyum manis kepadaku. Mengenakan Kaos putih longgar dan celana jeans hitam pensilnya serta sepatu karet berwarna putihnya.

Memang wanita ini sungguh cantik sekali. Di hari sabtu sore ini aku ajak Bu Dian makan bersama di warung emperan, maklumlah aku ingin mentraktir Bu Dian dengan menggunakan uangku sendiri. Setelah makan bu Dian aku ajak ke tempat dimana aku dan Ibu pernah berduaan disana, di sebuah taman pinggiran bukit.

Suasana masih ramai dengan pasangan muda mudi di sini. Hingga akhirnya aku mendapatkan tempat yang sama seperti yang aku tempati ketika aku ke tempat ini bersama Ibu. Kubelikan minuman pukari suwet dan aku duduk disebelahnya. Kami mulai mengobrol sedikit banyak mengenai perkulihan atau hal lain yag sekiranya bisa mencairkan suasana.

Em… mbak, kok ndak pernah kelihatan mengajar? tanyaku

Ada urusan Ar

Kamu sudah sering kesini Ar? Lanjut Bu Dian, mengalihkan tema pembicaraan

Baru sekali mbak, dan kedua kali ini bersama mbak, mbak belum tahu tempat ini ya? ucapku

Belum, baru kali ini sama kamu. Yang pertama sama siapa Ar? ucapnya dengan senyum manis

Sama Ibu, waktu itu Ibu minta diajak jalan-jalan mbak ucapku

baik banget kamu sama ibu kamu ar ucap Bu Dian

kan anak satu-satunya mbak jadi ya apa permintaan Ibu aku turuti he he he ucapku, kulihat wajah manisnya memandang rembulan sabit yang menggantung di langit. Mata indahnya seakan-akan menjadi cermin rembulan sabit tersebut.

Tiba-tiba sebuah pesan di Smartphonenya masuk dengan bunyi notifikasi standarnya. Kupandangi wajahnya ketika membaca pesan tersebut. Setelah itu wajahnya menjadi seperti orang terkejut yang penuh kebimbangan.

Mbak, apakah ada yang mbak pikirkan? ucapku kepada Bu Dian

Tidak, tidak ada ucap Bu Dian

Ada apa mbak? Mungkin Arya bisa bantu? ucapku

Tidak ada Ar, sudahlah jangan kamu tanyakan lagi ucapnya.

Ya, aku mungkin tidak begitu tahu masalah perempuan mbak, tapi kadang aku bisa kasih solusi mbak he he he ucapku sedikit menghibur. Raut mukanya penuh kebimbangan kaki kananya yang ditumpuk di atas kaki kirinya terus bergoyang-goyang yang menandakan agar cepat bisa mengakhiri kebersamaan kami

Mungkin sebaiknya kamu antar aku pulang sekarang ucap Bu Dian. Dalam kebisuan aku mengantar Bu Dian pulang kerumahnya. Dia memelukku erat, dari dibelakangku. Wajahnya dibenamkannya di punggungku.

Perjalanan aku percepat sesuai dengan keinginan Bu Dian. Sampailah aku di depan rumahnya, Bu Dian kemudian turun dari motor dan tersenyum penuh paksaan kepadaku. Kulepas Helmku untuk melihatnya.

Terima kasih buat malam ini Ar… cup…. ucapnya sembari memberikan kecupan pada pipiku.

Sama-sama mbak, terima kasih juga ucapku. Kecupan kali ini terasa berbeda, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bu Dian. Dia kemudian masuk kedalam rumahnya tanpa melihatku sama sekali. Dengan rasa kegundahan aku kemudian pulang.

Bersambung