Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 22

Okay, Im ready but…mmmm

My gift? ucap bu Dian, aku kemudian mengeluarkan kotak yang sudah aku bungkus kado dan langsung dibukanya

Oh ya saya lupa, ini bu ucapku seraya memberikan hadiah pemberian Ibu. Bu Dian langsung membukanya dan takjub dengan gelang itu.

Hmm… bagus juga, mahal ya ini? padahal saya kan Cuma bercanda hi hi hi ucap bu dian

itu pemberian Ibu buat Bu Dian ucapku santai

Eh… bu dian tampak kaget dengan kata-kataku

Beneran dari Ibu kamu? Apa tidak sayang? ucap Bu Dian

Lha Bu Dian mau tidak? Kalau tidak akan saya ganti ucapku

Mau kok ucapnya dengan wajah memerah, entah kenapa dia merasa malu

Terima kasih ya ucapnya dengan senyuman

Akhirnya kami berboncengan menuju jalan sebuah cafe sederhana di daerah ini. Dalam perjalanan tiba-tiba saja kedua tangan Bu Dian memeluk perutku, aku hanya mendiamkannya. Namun semakin lama tubuh Bu Dian semakin melekat pada tubuhku dan pelukannya semakin erat.

Aku sebenarnya agak sedikit frogi dengan perlakuan Bu Dian kali ini. Kurang lebih setengah jam perjalanan kita sampai pada tujuan. Kami duduk berhadapan satu sama lain di tempat yang lumayan romantis, karena tempat makan kami terletak di dekat taman yang berada di dalam cafe tersebut. Akhirnya kami memesan makanan, dan yang kami pesan adalah sama.

Kamu tidak apa-apakan aku ajak makan kesini? ucap Bu Dian

Tidak Bu, memangnya kenapa? tanyaku

Mungkin saja cewek kamu marah begitu ucap Bu Dian

Saya belum punya Bu, ya mungkin saja Pacarnya Bu Dian yang marah ucapku

Saya juga sama belum ada… ucapnya penuh senyuman manis

Ya ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu telah membantuku selama ini

Oia kalau diluar panggil nama saja ndak papa, lagian palingan jarak umur kita tidak begitu jauh ucap Bu Dian

Wah ndak terbiasa bu he he he

Kalau mbak saja bagaimana Bu? ucapku

Okay, ndak masalah, tapi usahakan untuk memanggil namaku ketika diluar ya, kalau bisa ucap Bu Dian

Akhirnya makanan datang, kami pun segera melahap makanan yang sudah ada di meja. Aku yang berada didepannya selalu mencuri-curi pandang wajah manis Bu Dian. Walau terkadang aku juga merasa diamati oleh Bu Dian sendiri. Ditengan-tengah acara makan malam ini kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai keseharian masing-masing.

Braaaak…. tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja makan kami

Cepraaaaaaaaaat… minumanku di siramkannya di wajahku, aku tekejut dan kelabakan. Ada beberapa molekul-molekul dalam minuman itu masuk ke dalam mataku. Pedih rasanya mata ini, tanganku yang semula memgang alat makan langsung kulepas. Kedua tanganku mengucek-ucek kedua mata ini walau terasa semakin perih.

DASAR LAKI-LAKI TIDAK TAHU MALU, BERANINYA MENGAJAK JALAN CEWEK ORANG! bentak laki-laki tersebut yang tak bisa aku lihat ekspresi wajahnya karena perihnya mata ini

Lucas, Apa-apaan kamu ini? Jangan sembarangan! bentak bu Dian

Lucas, siapa lucas? Kenapa dia marah kepadaku? Pedih sekali mataku, Sial! Tisu, aku butuh tisu dan air bathinku

Kulepaskan kucekan pada mata kiriku, tangan kiriku mencoba meraih tisu makan yang ada di meja. Pandanganku sedikit buram, semua nge-blur, walau buram aku masih dapat melihat Bu Dian yang nampak berdiri, kedua tangannya memegang tangan kanan Lucas. Kudengar pertengkaran antara mereka berdua, dimana bu Dian mencoba untuk menarik Lucas dan Lucas mencoba untuk memberiku sebuah Hadiah.

Kualihkan pandanganku ke tisu makan walau sedikit buram aku masih bisa melihatnya. Kusentuh bagian ujung tisu makan yang ada di meja itu dan BUGHH! Sebuah hantaman keras mengenai pipi kiriku dengan posisiku yang tidak siap menerima pukulan keras.

Aku terjatuh kelantai disebelah kananku, tangan kananku mencoba untuk menahan laju tubuhku tetapi karena pukulan itu datang tiba-tiba aku terjatuh ditambah lagi kaki kananku sedikit terpeleset cairan mungkin itu adalah minumanku tadi. Kini aku jatuh dengan posisi tubuh miring, segera aku rubah posisiku menjad duduk dilantai. Kuraih kaosku sendiri dan kulap pada wajahku.

ARYAAAAAAA! LUCAS HENTIKAN! Teriak Bu Dian

Masih sedikit perih memang, kupaksa mata ini membuka dan sudah mampu untuk melihat lagi. Pandanganku sedikit kabur, kulihat Bu Dian mendorong lucas dan bergerak ke arahku tetapi dengan sigap lucas memgang tangan kiri Bu Dian dan menariknya kebelakang.

Bu Dian tertarik kebelakang, secara tiba-tiba lucas meraih kaosku dan di tariknya aku. Aku yang semula berada di posisi duduk sekarang bagaikan seekor anjing ditarik, kucoba untuk berdiri walau ditarik oleh lelaki yang bernama Lucas ini.

Lucas hentikan! Apa-apaan kamu ini! Teriak Bu Dian di hadapan lucas, yang mencoba menghalangi jalan Lucas

Apa-apaan? Kamu yang apa-apaan! Beraninya jalan dengan cowok lain! bentak Lucas

Kamu tidak berhak melarangku, karena kamu bukan siapa-siapaku! balas Bu Dian, dan aku masih mencoba membersihkan wajahku dan menyeka mataku dengan lengan kaos di bahuku. Mataku kini sudah tidak begitu pedih, kulirik ke kanan dan kiriku tampak semua orang mengamati kami semua.

Oh ya! Lalu selama ini aku kamu anggap apa! bentak lucas yang masih memegang kaosku

Kamu itu temanku,tidak lebih! bentak Bu Dian

Oooo jadi karena laki-laki ini sekarang kamu mau meninggalkan aku, begitu!

Kalau begitu laki-laki ini harus diberi pelajaran agar tahu bagaimana caranya menghormati hubungan seseorang bentak lucas yang menarikku. Kini aku berdiri di belakang lucas yang masih memegang kaosku, kutatap mereka berdua. Aku tidak memberikan perlawanan apapun dan hatikupun sedikit setelah mendengar apa yang lucas katakan pada Bu Dian.

Hubungan? Ahh… memang benar apa yang dikatakan Lucas, aku selalu hadir di tengah-tengah hubungan seseorang, arghhhh sial kenapa pedih lagi mataku Bathinku

Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua! Lepaskan dia! Bentak Bu Dian

HAAAAAAAAH! Masa Bodoh, minggir! bentak lucas sedikit mendorong tubuh bu dian, bu dian hampir saja jatuh tapi dia mampu menahan tubuhnya dengan berpegangan kepada sebuah meja.

Ditariknya tubuhku dengan kedua mataku yang sedikit pedih. Lelaki ini, Lucas, menarikku dan berteriak-teriak meminta semua orang yang berada di dalam cafe untuk menyingkir. Hingga di tempat parkir yang berada di depan cafe aku dilempar hingga jatuh tersungkur. Masih dalam posisi mengucek mataku, aku mencoba berdiri.

HAJAR DIA! BERI DIA PELAJARAN! Teriak lucas

Bugh… ku rasakan sebuah pukulan pada punggungku membuat aku jatuh tersungkur. Sempat kulihat dalam jatuhku orang-orang suruhan Lucas jumlahnya cukup banyak.

Aku terjatuh miring, segera aku meringkuk, kedua kakiku kutarik kedalam dan kupeluk dengan kedua tangaku, wajahku kumasukan ke dalam pelukan tanganku itu. Tendangan keras dan injakan pada sekujur tubuhku dapat aku rasakan sangat kejam.

HAJAR! JANGAN BERI AMPUN! JANGAN BERI AMPUN! DASAR PERUSAK HUBUNGAN ORANG! Teriak lucas yang suaranya mulai aku kenali

Lucas hentikan! Atau aku laporkan kamu ke polisi teriak Bu Dian, ya suara itu adalah suara Bu Dian

Mau lapor? Lapor saja, dan kamu akan mendapatkan mayat dia ha ha ha balas lucas dengan tawanya yang keras. Tiba-tiba tangan halus kurasakan pada tubuhku, Mataku ku buka seidikit dan dapat kulihat Bu Dian yang mencoba mendorong dan menjauhkan para lelaki-lelaki itu dariku.

Aku kini dapat melihat air matanya yang keluar mengalir di pipinya. Tapi itu tidak berlangsung lama, tubuh Bu Dian kemudian ditarik oleh Lucas menjauh dariku.

Kamu tidak usah ikut campur! Ini urusan laki-laki bentak lucas dengan kasarnya

Kamu jangan Lucas! Lepaskan! ucap bu Dian kepada Lucas, yang kemudian mengalihkan pandanganya ke arahku

Hentikan hiks hiks hentikaaaaaaaaaaaan, Aryaaaaa teriak Bu Dian yang mencoba melepaskan genggaman Lucas pada lengan tangan kanannya. Ah Sial, kenapa juga ini orang memukuliku. Aku kemudian menendang salah seorang dari mereka, mereka tampak terkejut.

Aku kemudian mencoba bangkit, segera aku mendorong salah seorang dari mereka lagi. Bughhh… hantaman keras di punggungku membuat aku jatuh tersungkur kembali. Aku mencoba bangkit kembali, dari sudut pandang sempitku kulihat orang yang aku tendang sedang menenteng kursi dari dalam cafe. Aku yang mencoba mebalikan badanku, dalam posisi setengah miring menghadap ke laki-laki itu aku terkejut.

MATI KAU! teriak laki-laki itu sambil mengangkat sebuah kursi di atas kepalanya dan siap di hantamkan padaku yang sedang dalam posisi benar-benar tidak siap sama sekali.

ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! teriak seorang wanita, Bu Dian yang sedang meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman lucas

Jika kursi itu mengenai kepalaku, mungkin ini malam terakhir down hill update, eh salah mungkin ini malam terakhirku melihat Bu Dian. Ibu, bagaimana dengan Ibu? Ibu Bisa saja dipermainkan oleh Ayah jika tidak ada aku. Kakek, Nenek, Pakdhe, Budhe, Om, Tante dan adik-adikku. Selamat tingg….

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT……

BUGH… BUGH…. BUGH….

PRAAAAAAAAAAAAAK… PRAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG!

BRAAAAAAAAAAAAAK…. GLODAAAAAAAAAAAAAAAAK

BUGH BUGH BUGH!

Dari posisiku aku dapat melihat sebuah kayu besar dan panjang jatuh di hadapanku, entah siapa yang melemparnya. Beberapa orang dari mereka nampak mundur karena adanya seseorang yang memukul mundur mereka.

SIAPA KALIAN BERANI SEKALI MENGANGGU URUSAN ORANG! Bentak seorang laki-laki suruhan Lucas

BUKAN URUSAN KITA??? HA HA HA HA ucap lelaki dihadapanku yang membelakangiku

Perkenalken, nama saya WONGSO ALIAS WONG DOYAN MENUNGSO (Orang yang doyan manusia) Ucap lelaki dihadapanku, wongso. Bersyukurnya aku mereka datang tepat waktu, ternyata ini bukan hari terakhirku

Aku ANTON ALIAS AWAN KINTON ucap seseorang yang kemudian berdiri di samping kiri wongso dengan lagaknya yang sama sejak SMA, selalu menggoyangkan kedua bahunya, Anton.

WOI AKU ARIS AHLI KERIS HO HO HO

Tangi cat, malah turu wae, makane nek meh geger ngejak-ngejak ojo dewean (Bangun cat, malah tidur saja, makanya kalau mau geger ajak-ajak jangan sendirian) Ucap seseorang yang memapah tubuhku dengan gayanya yang sok artis, Aris

DEWO Gede Lan Dowo (Besar dan panjang) ucap seseorang yang tingginya melebihi tinggiku dengan gagah dia berdiri di samping kanan wongso, dia satu-satunya sahabatku yang dari SMA memiliki tinggi lebih dariku

Aku… Sudira Suka Jadi Waria emmmuaaaaaaaaaach… ucap seseorang yang memapahku lembut dan menggrepe-grepe tubuhku, Sudira, sahabat SMA yang doyan sekali memake-up dirinya menjadi wanita

Woi Ingat Ndes! Ini itu sobat sendiri jangan di embat juga kali! bentak Aris yang mencegah tangan dira

Iiiiiih mumpung ada kesempatan hi hi h hi ucap dira khas dengan suara wanitanya

Aku kemudian berdiri di belakang ketiga orang yang sudah sedari tadi berdiri dihadapanku. Aku tersenyum bahagia karena mereka datang tepat waktu. Kelima orang ini adalah sahabatku sejak SMA,

sahabat yang membentuk Geng Koplak yang sampai sekarang tidak pernah pudar tali persahabatan kami. kulihat Bu Dian nampak menangis, air matanya mengalir di pipi indahnya, ingin sekali aku mengusapnya tapi aku harus menyelesaikan ini dulu.

WOI KO! AWAS KALAU TELEPON POLISI! TAK POTONG-POTONG KONTOLMU! Teriak Dira dengan nada laki-lakinya. Aku menoleh ke dalam cafe tampak seorang lelaki tua berkulit putih sedikit ketakutan dengan teriakan dira.

Ndak papa kamu cat? tanya Anton dan wongso bersamaan dengan masih menatap ke depan

Biasa saja, kaya tidak pernah tahu aku saja Bro jawabku santai

HAH! DASAR ORANG KOPLAK! HAJAR MEREKA! Teriak Lucas

Yaelah, memang kita ini Geng Koplak, ya jelas Koplak, Majuuuuuuuuuuuuu! teriak Dewo. Dengan senyum sumringah di bibirku aku kemudian ikut maju dan bertempur dengan mereka berlima. Memang kami kalah jumlah 5 : 10 dan itu selalu terjadi di setiap perkelahian kami.

Wongso ahli beladiri taekwondo, Anton Ahli Judo, Dewo ahli karate, Aris ahli Wushu dan Aku masuk dalam kategori Karate bersama Dewo. Sudira? Jangan tanya ke dia, dia adalah satu-satunya sahabatku dengan teknik beladiri tingkat atas,

bahkan bisa dikatakan dialah yang terkuat diantara kami semua tapi karena sifatnya yang kewanita-wanitaan membuat dia dianggap lemah oleh musuh. Eitss.. tapi kalau sudah marah, Rumah bisa dia robohkan. Masih ada beberapa sahabatku yang tidak hadir disini mungkin mereka akan marah-marah ke aku karena tidak mengajak mereka berpesta!

Wongso tampak dengan santai menghajar 2 orang dari mereka tendangannya, 2 orang itu jatuh tersungkur. Anton membanting orang dengan teknik Judonya membuat dua orang kelabakan menghadapi Anton, Dewo memegang kepala dua orang dari mereka dan dibenturkan ke satu sama lain. Aris dengan lihai menghajar 2 orang secara bersamaan.

Dira bermain-main dengan seorang dari mereka, di kuncinya tubuh orang itu dan diremas-remasnya kontol orang itu oleh Dira. Aku hanya kebagian satu orang, ku majukan tendanganku ke arah perut membuat orang itu membungkuk dengan cepat kuraih kepalanya dengan kedua tanganku. Kulayangkan dengkul manisku kewajah orang itu.

Perkelahian berlangsung cukup lama, walau sebenarnya kami menikmatinya sebagai permainan masa SMA kami. satu persatu wajah mereka babak belur dan terjatuh di lantai bagaikan kayu bakar yang baru saja diambil dari hutan.

Wongso berdiri diatas 2 tubuh lelaki, Dewo berjongkok dengan kedua kakinya beralaskan dua kepala lelaki suruhan Lucas. Aris dan Anton menumpuk 4 orang dan didudukinya mereka, sedangkan Dira mengunci seorang lelaki yang sudah tidak berdaya dan meremas-remas selangkangan lelaki tersebut. Aku berdiri di atas tubuh seorang lelaki.

Aku melihat Bu Dian meronta dan melepaskan genggaman Lucas, yang terbelalak terkejut dengan aksi kami. 10 orang suruhan dia hancur di hadapan kami. Bu Dian berlari ke arahku sambil menangis dia memegang kedua pipiku.

Kamu ndak papa kan Ar? ucap bu Dian

Ndak papa bu, sudah biasa ucapku, kulihat Bu Dian akan memelukku tapi terkejut dengan teriakan Lucas

wah kontole mase cilik owk bro, ora doyan aku (Wah kontol mas-nya kecil, aku tidak doyan bro) ucap Dira yang tiba-tiba menghajar mainan itu lagi hingga tersungkur dilantai parkir

Dian, kembali kesini atau mereka semua aku tembak! teriak lucas yang menodongkan pistol, membuat kami sedikit terkejut. Bu Dian nampak terkejut pula menyaksikan Lucas menodongkan pistol kearah kami

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…..

2 motor berhenti di depan cafe diluar tempat parkir. 4 orang turun dari motor itu berjalan ke arah kami, ya mereka adalah Karyo alias Kekar tidak Loyo, joko alias Ojo kondo-kondo nek aku joko (jangan bilang-bilang kalau aku perjaka), Parjo alias Paringino Kejo (Berikanlah kerja), Tugiyo alias Untu gingsul marake loyo (gigi gingsul membuat loyo, ada kaitanya sama ML). Pandangan kami semua tertuju pada mereka.

Pelurumu itu hanya berisi 6 peluru, jika kamu bisa membunuh 6 orang diantara kami, masih tersisa 4 orang. Dan 4 orang inilah yang akan menyiksamu dengan mencabuti semua kukumu, memotong kemaluanmu, mencukil matamu, dan tak akan kami biarkan kamu mati dengan mudah.

Kami akan menyekapmu hingga kamu kelaparan dan akan aku buat kamu gila dan seterusya dan seterusyaaaaaaaa capek kalau aku ngomong ucap seseorang dengan tubuh gemuknya merupakan atlit Gulat kelas 120 Kg, Ya dia Karyo yang berdiri jauh di samping Lucas.

Lucas tampak kebingungan menodongkan pistolnya, didepannya ada yang siap menghajarnya jika dia lengah, disampingnya ada 4 orang sahabat kami yang siap menghajarnya pula.

Maafnya Bro, yang tiga lagi sibuk bantu mama-mamanya jualan ucap seorang laki-laki paling pendek diantara kami dengan tinggi 155 cm, tugiyo, seorang atlit gulat kelas 60Kg. Kulihat Joko dan Parjo yang sama-sama ahli pencak sila dari satuperguruan ini mengacungkan jari tengahnya kearah kami, dibalasnya dengan acungan jempol dijepit oleh Dewo.

BUGH…DAGH….

ARGGGGGGGGGHHHH… teriak lucas tiba-tiba. Ternyata Dira mengendap-endap dari samping untuk melumpuhkan lucas yang sedang dalam kondisi kebingungan. Lucas jatuh meringkuk, pistolnya kemudian diambil oleh Dira.

Walah ini sich mainan ucap Dira yang menendang kepala Lucas, kami semua hanya melongo atas aksi Dira. Dira lalu berjalan berlenggak-lenggok menuju ke arah karyo, Tugiyo, Parjo dan Joko.

halo karyo sayang-sayangku, muachhh… ucap dira kepada 4 orang yang baru datang

Hueeeeeeeeeeek…. jawaban mereka serentak

Ampuni aku… tolong ampuni aku… ucap lucas yang tiba-tiba bersujud memohon ampun kepada kami. Kami hanya melongo atas tingkah laku laki-laki ini, yang semula sangar menjadi melempem kaya krupuk nyemplung di kali.

Dengan lagak sok jagonya, kami menendangi suruhan-suruhan Lucas untuk pergi dari tempat ini. Ya, Kami akhirnya melepaskan mereka semua, terlihat mereka berlari dengan memegang perut, wajah, tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya yang babak belur.

10 orang itu kemudian lari tunggang langgang dengan menggunakan mobil, beberapa dari mereka ada yang menggunakan motor. Tertinggal lucas dihadapan kami, aku papah dia untuk berdiri. Dengan tenang aku memberikan senyum pada Lucas, Sahabat-sahabatku berada dibelakangku dengan wajah garangnya. Bu Dian namapak dibelakangku dan memegang lengan kananku

Perkenalkan nama saya Arya, saya tidak ada maksud apa-apa dengan Bu Dian, saya hanya mendapatkan hadiah sebagai hasil kerja keras saya selama membantu Bu Dian. Mohon maaf jika makan malam saya dengan Bu Dian mengganggu perasaan Bapak Lu Lu… Lucas ya? ucapku dihadapanya yang tingginya hampir sama denganku tapi lebih pendek sedikit, dia hanya diam saja dan menunduk tanpa memandangku

Cuih… aku tidak percaya, kamu perusak hubungan orang, beraninya main keroyok ucap lucas, namun aku masih bisa mengontorl emosiku

Woi ASU YA KOWE! SING NGROYOK KAN KOWE SEK TO SU! (Wo Anjing ya kamu! Yang Mengeroyok kan kamu dulu to Njing!) Teriak Parjo dibelakangku, aku kemudian menoleh kebelakang dan membuat gerakan tanganku naik turun untuk menenangkannya

Sudah Ar, Kamu jangan dengarkan dia, dia hanya temanku saja, bukan pacarku ucap Bu Dian dibelakangku

Saya mohon maaf pak atas perkataan sahabat-sahabat saya, hanya saja semua ini pasti bisa dibicarakan ucapku tenang kepada Lucas

DIAN! Kamu seharusnya membela aku bukan mereka ucap lucas yang menatap Bu Dian di belakangku

Kamu yang memulai dan kamu juga yang membuat keramaian disini, lebih baik kamu pergi dari sini, kamu laki-laki kasar! bentak Bu Dian dari belakangku. Aku menoleh kebelakang dan kusilangkan jariku di bibirku agar bu Dian tidak lagi membentak-bentak

Maaf pak, jika memang saya sudah mengganggu hubungan bapak, saya bersedia menemani bapak untuk mengantar Bu Dian sampai kerumah, bukan apa-apa pak hanya saja saya tadi yang menjemputnya ucapku tenang

Aku ndak mau, suruh Lucas pulang! bentak bu Dian dari belakangku

Cuiiiih… kamu pasti akan menyesal Dian, karena telah mencampakan aku! ucap Lucas yang kemudian berjalan ke arah mobilnya dan dengan cepat dia pergi.

Kini aku dihadapan mereka semua,Sahabat sejatiku. Kulihat kembali mereka setelah kesibukan-kesibukan yang kami alami. Lama kami tidak pernah berjumpa kecuali Wongso yang satu Universitas denganku. Beberapa dari mereka ada yang kuliah diluar daerah yang tidak begitu karena mencari ingin pengalaman Baru.

Sebenarnya kami bisa saja selalu berkumpul setiap saat namun karena lelahnya perjalanan yang mereka jalani, hanya istirahat yang mereka butuhkan ketika di rumah. Sebuah Geng yang terbentuk karena keegoisan masing-masing dari kami, merasa masing-masing paling hebat dengan keahlian beladirinya.

Namun semua perbedaan itu sirna setelah pertempuran melawan Geng Tato, sebuah geng dari gabungan beberapa sekolah yang selalu mengintimidasi SMA kami. Kami akhirnya bersatu dan terbentuklah GENG KOPLAK, yang dengan cepat menghantam dan menguasai daerah tempat tinggalku. 13 orang pentolan Geng Koplak, masih ada 3 yang belum hadir.

Edan kamu itu Ar, Berkelahi ndak ngajak-ngajak! ucap keras Wongso

Lha kalau aku tahu mau berkelahi, kalian tak calling bro ucapkku

Wah, pasti gara-gara mbaknya ya, tumben arya nggandeng cewek ucap Dewo

Iya ya, dari SMA sampai sekarang ndak pernah lho aku lihat arya bawa cewek ucap Tugiyo

Berarti dah normal dia bro ha ha ha ha ucap karyo yang diikuti gelak tawa semua sahabatku ini

Oh ya, kenalkan ini Bu Dian Do… ucapku terpotong

Teman dekatnya Arya, lebih dekat dari teman ucap Bu Dian yang berada dibelakangku dan hanya memperlihatkan kepalanya seperti orang mengintip

Eh… Arya sudah laku, uuuuuhhh… Arya jahaaaaaaaaaaaaat ucap Dira sambil kakinya menghentak-hentakan ke bawah, kemudian bersedekap dan membuang muka

Diem kamu Dir ucap aris

Dasar jeruk suka jeruk ucap Aris, Joko, Parjo secara bersamaan diikuti gelak tawa kami semua

Eeehhh… enak saja, aku cewek ya, nih coba diraba dah gak ada batangnya ya ucap Dira membela, yang kemudian diraba oleh Parjo yang ada didekatnya

Wah iya, dah ndak punya batang teriak karyo yang membuat kami terkejut

HAAAAAAAAAH! keterkejutan kami serentak

Aku dah operasi kali, aku kan sudah punya pacar, tinggal besok operasi susu aja, biar montok kaya mbaknya ucap dira santai yang kemudian berlenggak-lenggok ke arah cafe menghampiri Orang Tua yang tadi dia bentak. Kami semua hanya melongo dengan tingkah laku Dira.

Koko maafin dira ya tadi membentak koko, koko jangan marah, nanti dira bobo ditempat koko deh… ucap dira sambil memeluk lelaki tua itu

Iya Dira sayang, nanti rumah koko ya muach… ucap koko yang mendaratkan ciuman di keningnya

Semua penghuni nampaknya tidak terkejut dengan hal itu, tapi kami sahabat-sahabatnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapan kami. Memang dira sejak SMA suka berdandan ala cewek, kami mengira itu hanya sebuah hal biasa tapi ternyata kenyataannya dia benar-benar jadi Waria.

EDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN! teriak kami secara bersamaan, dira dengan santai hanya melempar senyum kearah kami yang Cuma bisa geleng-geleng kepala. Ada sebuah pertemuan ada sebuah perpisahan, akhirnya kami berpisah dengan sedikit bercakap-cakap menunggu bu Dian membayar makanan di cafe beserta ganti rugi yang tidak mau di terima oleh si eko (lelaki setengah baya pacar Dian).

Bu Dian kembali dan berjalan dibelakangku dengan menggenggam erat tangan kiriku menuju motor kami semua parkir. Hanya dira yang ditinggal di cafe tersebut katanya mau bobo sama pacarnya itu.

Bersambung