Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63

Cinta Yang Liar Part 12

Sepeti biasa aku sampai dikampus, bertemu rahman mengobrol sebentar dengan berjuta pertanyaan kusimpan dalam hatiku. Aku kemudian melangkah bersama Rahman menuju ke ruang kuliah.

Yupz 08.30 kuliah dimulai, Ibu dian masuk dan memulai kuliah, seperti biasa suasana yang ramai kini berubah menjadi suasana layaknya sebuah kuburan kuno dalam cerita yoko dan bibi lung. Bu Dian kemudian meminta semua mahasiswa untuk mengumpulkan tugas, semua mahasiswa mengumpulkan tugasnya kecuali aku.

Aku mengobrak-abrik semua isi tasku dan tak ada tugasku, kuingat dan kuingat kembali. Sial ternyata ketika aku mengambil telepon cerdasku semalam aku mengeluarkan isi tasku dan aku lupa memasukan isinya ketika aku berangkat tadi.

Rahman yang tahu itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menggerakan bahunya ke atas. Ibu, Ibu haduuuuuuuh. Aku kemudian menuju ke meja dosen dan mengatakan bahwa tugasku tertinggal. Dengan tatapan yang sangat tajam dan judesnya yang keluar akhirnya aku disuruh keluar ruangan, tidak diperbolehkan untuk mengikuti kuliahnya.

E E E E E E E E E huruf itu seakan-akan berputar-putar di sekitar kepalaku yang berjongkok di samping pintu masuk ruang kuliahku. Sial sial….. Hingga perkuliahan usai, Bu Dian keluar ruang kuliahku dan mengacuhkan aku. Aku terus mengejarnya dan memohon kepadanya agar aku bisa menebus kesalahhanku.

Maaf saya sibuk jika harus menunggu tugas kamu sampai nanti sore ucapnya sambil berlalu, aku tidak menyerah tanpa berpikir panjang aku langsung mengejarnya.

Bu, akan saya kumpulkan ke rumah Ibu, saya mohon bu… ucapku sambil membungkukan tubuhku dihadapannya, Bu Dian hanya berlalu melewatiku, aku terus mengejarnya dan mengejarnya, hingga…

Oke saya tunggu nanti malam jam 7 malam, ingat jam 7 malam, lebih 1 detik saya tidak akan menerima tugasmu dan nilai kamu E ucap Bu Dian dengan nada judesnya, aku mengiyakannya

Maaf sebelumnya bu, Boleh saya meminta nomor HP Ibu, jika nanti saya kesasar Bu? ucapku,

Kamu lihat alamat saya di data jurusan, memangnya kamu tidak punya mata? kata-kata pedas sepedas cabai setan menhujam mukaku

Iya bu, maaf, jika Ibu tidak keberatan memberikan nomor HP Ibu langsung ucapku dengan wajah takutku dan menunduk kebawah

Dasar mahasiswa tidak tahu etika kata-kata pedas yang aku dapatkan sekarang menusuk jantungku.

andai saja dia bukan dosenku mungkin sudah aku gampar itu mulut, dosen judes buuanget bathinku

Kemudian Bu dian memberikan nomornya kepadaku dan aku pun membungkukan badanku serta mengucapkan kata-kata terima kasih berulang-ulang yang sama sekali tidak digubrisnya. Aku kemudian menemui Rahman, Rahman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyemangatiku.

Akhirnya dengan cepat aku pulang ke rumah, tampak mobil Ayah berada di rumah. Aku masuk kerumah, suasana rumah kembali mencekam Ayah yang biasanya jarang pulang sekarang pulang lebih awal. Ibu kemudian menyambutku dan memberitahukan kepadaku tentang pembicaraan-pembicaraan tentang seseorang berinisial KS.

Aku terkejut mendengar itu, berarti memang Ayah adalah dalang dari semua itu, tapi bagaimana caraku membuktikannya. Di hari ini pun Ibu tidak berani menemaniku di dalam kamar karena Ayah sedang berwajah garang dan menakutkan. Aku kemudian masuk ke kamar, mencari tugas dari Bu Dian yang tertinggal dan ketemu.

Ku kunci pintu kamarku, kemudian ku ambil telepon cerdas temuanku. Kunyalakan, tak lama setelah kunyalakan telepon cerdas itu.Tung… bunyi notifikasi dari BBM. Terlihat notifikasi pesan di bagiam atas Mahesa di ikuti sebuah pesan Siapapun kamu segeralah serahkan telepon cerdas ini kepadaku, akan aku ku beri hadiah uang sesuai keinginanku. Segera aku matikan telepon itu dan aku simpan kembali.

Balonku ada lima rupa-rupa warnanya merah kuning kelabu… bunyi notifikasi sms-ku. Maklumlah setiap hari aku selalu menyempatkan mengganti ringtone he he he. Sms dari Ibu, Ibu mengatakan kepdaku bahwa untuk saat ini sampai waktu yang tidak ditentukan.

Aku tidak boleh mendekati Ibu seperti pada hari-hari sebelumnya karena Ayah sedang dalam kondisi puncak kemarahannya, dan menyuruhku menunggu agar Ibu yang mencari situasi terbaik untuk berdua denganku.

Ibu takut jika nantinya Ayah mengetahui hubunganku dengan Ibu, Ayah akan membunuh kami berdua dikarenakan sejak Ayah pulang pembicaraan Ayah hanya tentang membunuh dan membunuh.

Aku kemudian membalas sms Ibu dengan senyuman dan kata tenang bu, Arya bisa tahan dan Arya tidak akan melakukan dengan orang lain tanpa seizin Ibu, hapus semua sms Arya yang cintaku.

Akupun akhirnya menghapus semua sms dari Ibu, aku kemudian keluar kamar menuju kamar mandi Ayah berada di pekarangan rumah. Aku memberi kode kepada Ibu apakan sms sudah di hapus semaua atau belum? dan Ibu menjawab sudah dengan gerakan bibirnya.

Akupun beristirahat sejenak, kupikirkan semua hal yang aku lalui. Dari kejadian awal hingga mulai terungkapnya serpihan-serpihan kejahatan Ayah, aku mulai menggabungkan itu semua.

NEXT TARGET : LOSMEN MELATI, kutuliskan kata-kata itu dan kuterlelap dalam istirahatku. Mimpi tentang kerbau itu pun muncul lagi hanya sebentar yang kemudian membuatku terbangun. Ku lihat jam dinding menunjukan pukul 16:00, segera ku raih telepon cerdasku dan ku sms Bu Dian untuk menanyakan alamat rumahnya.

Tak perlu menunggu lama, aku dapatkan sms dari bu dian, rumah bu dian berada di perumahan elit yang terletak di sebelah timur universitasku. Jaraknya kira-kira 8 km dari universitasku. Segera aku bangkit dari tempat tidurku dan mempersiapkan diri.

Tepat pukul 17:00 aku pamitan dengan Ibu sambil berpesan kepada Ibu jika Ayah macam-macam segera sms aku, aku pasti akan langsung membunuhnya. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah manisnya, kulihat Ayah sedang tertidur di pekarangan rumah.

Aku kemudian berangkat dan langsung menuju ke perumahan elit itu, selama perjalanan pikiranku adalah Ibu karena takur jika Ayah berlaku kasar dengan Ibu.

Sampailah aku di perumahan Elit tersebut,digerbang tertulis ENAK LUAS INDAH TERJAMIN (ELITE), kulihat pos satpam dan berhenti sejenak memberikan KTP ke satpam agar aku bisa masuk.

Agak bingung juga dengan perumahan ini, terdapat pos satpam tapi tak ada tembok yang menghalangi di kiri dan kanan gerbang jika saja ada pencuri pastilah mereka masuk lewat sebelah gerbang itu ditambah lagi kawasan perumahan dan jalan umum hanya dibatasi parit dengan lebar kurang dari 2 meter. Iya memang benar Perumahan elit tapi mbok yaho dibuat tembok tinggi agar kelihatan elit-nya, kalau seperti ini apa fungsi pos satpam.

Aku jalankan Revi dengan perlahan di jalan satu arah ini, lurus kedepan tampak taman kecil, ku belokan ke kiri revia dan berjalan lurus ke depan terdapat 3 gang di kiriku serta di kananku ada median jalan yagng diseberangnya lagi ada 3 gang pula.

Di setiap gang yang berhadapan (membentuk perempatan jalan) median jalan terpotong sekitar 1,5 meter. Setelah melewati 3 gang, aku menemukan danau yang berada di kiriku.

Pemandangan ini membuat aku terpukau karena danau dsini tampak sangat luas. Aku berhenti sejenak kulihat sekelilingku, tampak di kananku terdapat semak-semak dengan taman dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dihiasi bangku-bangku taman.

Aku berhenti sejenak kemudian sms Ibu dan dibalasnya bahwa Ibu baik-baik saja. Aku kemudian sms Bu Dian memastikan di mana rumahnya, dibalasnya dan ternyata aku kebablasan.

Kuputar balik motorku dan ke arah gang ke 3 atau terakhir dari arahku berangkat. Gang ke 3 adalah gang buntu diujungnya tampak kebun yang masih ditanami oleh tanaman singkong. Elit apanya ini? ha ha ha… Rumah Bu Dian berada di kanan jalan, Rumah nomor dua dari gang masuk.

Kupencet bel, dan di teleponnya aku, disuruh langsung masuk saja. Aku buka pintu gerbang rumah (yang juga merupakan pintu garasi) kemudian aku masukan Revia, ku langkahkan kakiku menuju pintu masuk rumah yang berada di kanan garasi, kuketuk pintu.

Kulihat seorang wanita muda dengan baju tank top warna putih terlihat sedikit belahan dadanya membukakan aku pintu. Wanita dewasa yang mungkin berjarak 5-6 tahun dariku ini mengenakan celana ketat hingga menutupi lututnya. Aku dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamunya.

Rumah yang lumayan elite menurutku karena perabotannya kelihatan sangat mahal-mahal. Ruang tamu yang disekat dengan tembok dan di belakang tembok tak tahulah. Aku duduk dan berhadapan dengan Bu Dian. Konsentrasi bisa saja terpecah karena tank top itu tidak menutupi belahan dadanya dan sangat ketat. Aku akhirnya terus menunduk selama berbicara dengannya.

Maaf, jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Ibu, saya kesini dengan maksud mengumpulkan tugas dari Bu Dian dan saya sangat memohon kemurahan hati bu dian untuk menerimanya, tolong saya bu jangan diberi nilai E, saya akan lebih rajin lagi ucapku dengan kepala menunduk ke bawah dan memohon kepadanya

Ya, saya terima…

Tapi saya hanya menerima tugas mahasiswa saya yang menghormati orang lain ketika berbicara… ucapnya kepadaku dengan nada judes tentunya

Maaf saya mohon maaf, bukannya saya tidak ingin mengangkat kepala saya, saya…. ucapku terpotong

Saya… saya apa? potongnya

Saya hanya tidak berani bu… lanjutku

Tidak berani kenapa? Karena saya memakai pakaian seperti ini? ternyata pikiran kamu itu ngeres ya, kamu memang pantas diberi nilai E ucapnya dengan nada judes

Tidak bu, saya hanya menghormati Ibu dengan pakaian Ibu, saya hanya tidak berani memandang Ibu terlalu lama, saya hanya takut jika pandangan saya nanti di salah artikan Ibu ucapku kemudian memandang wajah Ayunya yang JUDES!

Hmmmm… hebat juga kamu, jarang ada laki-laki yang bilang seperti itu ke saya, terus kamu mau menunduk terus dengan tidak menghargai keberadaan saya disini? ucapnya kepadaku,

Benar-benar gila ini dosen kalau saja dia pacarku mungkin aku sudah… sudah… ah masa bodolah bathinku

Bukan begitu bu, jika Ibu berkenan, maukah Ibu memakai kaos lengan panjang saya agar nanti pandangan saya tidak disalah artikan ucapku sembari menyerahkan kaos lengan panjangku yang sebelumnya aku lepas sebelum mengetuk pintu tadi.

Sok pahlawan dan sok jago, memang inilah aku tanpa pikir panjang dan lebar, jika aku telaah lebih kedalam lagi sebenarnya kata-kataku adalah kata-kata yang sedikitnya merendahkan

Kamu benar-benar melecehkan saya dengan kamu berbicara seperti ini kepada saya

Lebih baik kamu pulang dan ulangi mata kuliah saya tahun depan! ucapnya sedikit membentak, yang akhirnya membuatku berpikir daripada mataku jelalatan, kenapa? karena aku pernah melihat isi dari BH wanita secara langsung yang membuat aku kadang melihat bagian kepunyaan wanita.

Aku tidak ingin di anggap melecehkan siapapun karena pada dasarnya aku bukanlah seorang maniak seperti Rahman yang kadang terang-terangan menikmati tonjolan dada seorang wanita, ingat aku bukan seorang yang suka melecehkan wanita. Aku hanya berpegang pada prinsipku untuk menghargai seorang wanita karena kadang ketika aku pinjam tugas ke kos temanku yang cewek, aku selalu menyuruh mereka memakai baju tertutup ketika bertemu.

Baik bu, saya akan mengulangi tahun depan, saya mohon maaf atas kelancangan saya malam ini, semoga tahun depan saya bisa lebih rajin dan tekun dalam mengikuti kuliah bu dian

Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan dari kata-kata saya dan saya mohon pamit bu ucapku yang kemudian bangkit dan mengulurkan tangaku untuk bersalaman tanda perpisahan. Bu Dian kemudian menjabat tanganku dan menarikku untuk duduk kembali

Duduk…

Aku tidak menyangka kamu bisa mengorbankan kuliah kamu hanya permasalahan pakaian seperti ini, bukannya semua laki-laki itu sama kan? Suka dengan cewek yang berpakaian minim seperti ini, apalagi telanjang di hadapannya? ucapnya, yan kemudian aku duduk dengan kepala masih tertunduk

Saya bukan bagian dari mereka ucapku singkat

Aku hargai itu semua, berikan kaos lengan panjang kamu! ucap Ibu dian, kemudian aku menyerahkannya, Bu Dian kemudian memakainya di hadapanku walau aku tak melihatnya.

Sudah kamu boleh mengangkat kepalamu ucap bu dian, aku pun kemudian mengangkat kepalaku dan memandangnya. Seorang wanita dengan pakian kedodoran dan rambut hitam panjang yang letakan di bahu kanannya

Cantik sekali…. ucapku lirih dan ternyata Bu Dian mendengarnya

Apa kamu bilang apa? ucap Bu Dian

Tidak bu tidak… jawabku sambil tersenyum

Kamu mencoba merayuku? ucapnya masih dengan wajah judes

Tidak bu tidak tidak saya tidak beraniiii, maafkan saya jika saya salah bicara ucapku memohon maaf

Jadi saya jelek gitu? ucapnya kembali

Tidak bu tidaaaaaak, Ibu cantik…ucapku kembali

Ooooo merayuku lagi, mau nilai E… ucapnya

Bu saya harus menjawab apa bu? Tolonglah saya… ucapku dengan wajah memelas

Ha ha ha ha kamu itu lucu sekali…. tawanya dengan salah satu tangannya menutupi mulutnya hingga kepalanya menunduk

Akhirnya kami terlibat sebuah percakapan hangat hingga pukul 20:30, Bu Dian pun menerima tugasku dan berjanji akan mengembalikan kaos lengan panjangku jikalau ingat. Ya walaupun tidak ingat aku tetap tidak akan memintanya kembali dan akhirnya aku pamitan pulang dengan diantar Bu Dian hingga di depan gerbang rumahnya beserta senyuman manisnya.

Perjalanan jauh aku tempuh hingga dirumah kembali, kutemukan Ibu yang tampak santai menghadapi kemarahan Ayah. Dan Ayah yang seperti orang kebingungan terlihat Ayah mengetik pesan.

Arya, kalau BBM sudah D itu berarti terkirim kan? Hlha nek (Kalau) centang? tanya Ayah

Iya Romo, kalau centang kemungkinan BBM orang itu mati tapi bisa juga tidak ada paket datanya ucapku

Ya ya ya… ucap Ayahku

Sudah ketemu dosennya? Diterima tugasnya nak? ucap Ibu

Diterima Bu jawabku dengan senyuman

Ibu kemudian mengantarkan aku sampai di kamar, kemudian aku ditanyai mengenai tugas-tugas kuliahku. Ibu juga menanyakan dosen yang aku temui barusan, Ibu kagum dengan ceritaku walau aku sudah melakukannya dengan Ibu dan Tante Ima aku masih bisa menjaga pandanganku terhadap wanita lain. Ibu kemudian memintaku untuk memperlihatkan dosenku seperti apa. Aku kemudian mencoba mencarinya via Fish Boat (FB) dan untungnya ketemu. Aku perlihatkan foto Bu Dian.

Seandainya saja, Ibu punya mantu seperti ini, Ibu akan bahagia, jomblo kan dia? ucapnya

Ibu itu ada-ada saja, tidak mungkinlah dia mau sama aku, lagian aku kan mahasiswanya jawabku

Cinta tidak memandang status dan cinta tidak memandang usia, kamukan sudah membuktikannya jelas Ibu, aku hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ibu kudaratkan ciuman di bibir Ibu dibalasnya ciumanku.

Pelukan mesra dan remasan pun aku dapatkan. Kami pun menyudahinya karena Ayah memanggil Ibu. Aku kemudian mempersiapkan diri untuk tidur, dan mama bolo bolo papa bolo bolo nenek bolo bolo kakek bolo bolo…. bunyi notifikasi smsku, dari Bu Dian dan ku balas tanpa pikir panjang demi menyelamatkan nilai kuliahku

Dari : Bu Dian
Kaosnya buat saya saja ya sebagai
Konsekuesi kamu terlambat mengumpulkan tugas

To : Bu Dian
Iya Bu,
Saya juga berterima kasih tugas saya sudah diterima

Dari : Bu Dian
Oke, sama-sam

To : Bu Dian
Maaf Bu, Bolehkah saya minta Pin BB bu Dian
Karena saya jarang isi pulsa bu :((
jika nanti saya terlambat lagi, bolehkah saya BBM bu Dian
mohon maaf jika saya sangat lancang bu

Dari : Bu Dian
12345678

Tidak menyangka jika aku langsung mendapatkan pin BB dari Dosen Judesku ini. Padahal Cuma iseng doang ha ha ha. Lumayanlah daripada setiap hari sms terus bikin pulsa kering mending BBM saja lah. Segera aku invite bu dian dan langsun di confirm olehnya, kutuliskan pesan terima kasih kepadanya dan dibalasnya dengan Lekas tidur sudah malam.

Aku pun mengirimkan pesan meminta maaf kembali kepadanya dan tak ada balasan dari Bu Dian, langsung kutarik selimut. Tak lupak ku kirim sms ke Ibu walau aku masih mendengar Ayah yang kembali marah-marah di telepon. Selamat tidur cinta (dihapus ya) dan di jawab dengan Iya cinta.

Akhirnya ku terlelap dalam tidurku, walau di tengah malam aku bermimpi tentang kerbau itu lagi dan membuatku terjaga. Tanpa mempedulikan mimpi itu aku kembali tidur hingga pagi menendangku untuk bangun.

Aktifitasku di pagi hari seperti biasa, mandi, makan pagi, pamitan kuliah tak lupa aku pamit bahwa nanti aku akan pulang malam karena ada acara dadakan dan akhirnya berangkat kuliah. Dan biasanya ciuman di bibirku aku dapatkan dari Ibu walau sebentar di dalam garasi.

Aku berangkat dengan semangat karena kemarin tugasku sudah tuntas dan tidak ada hutang lagi. Kuliah aku lalui dan biasa selalu dengan canda tawa bersama Rahman. Kuliah 5 sks membuat aku sedikit suntuk.

Setelah semua selesai aku arahkan motorku Revia ke arah timur, 15 Km dari kampus menuju tempat dimana aku dibuat, di Losmen melati. Kupacu dengan sangat cepat agar tidak kalah dengan matahari yang terbenam.

Setelah sampai aku kemudian mencari losmen tersebut dengan maksud untuk mengetahui keberadaan si penjaga. Tak kutemukan losmen itu tapi yang aku temukan adalah sebuah hotel besar bertuliskan HOTEL MELATI.

Aku labuhkan REVIA di sebuh warung nasi kucing yang berjarak agak jauh dari HOTEL MELATI, dengan gaya orang pendatang aku mulai beradaptasi dengan mereka.

Setelah suasana mulai hangat , mulaulah aku bertanya-tanya kepada mereka yang berada di nasi kucing tersebut. Tak perlu susah-susah karena pada dasarnya aku orang yang mudah bergaul mungkin karena menuruni Ibu. Aku pun mengatakan kepada mereka kalau aku hanya mencari angin segar saja, sebuah alibi yang tidak mencurigakan bukan. Hingga ada beberapa orang yang menceritakan mengenai losmen itu.

Lho pak Hotel itu dulu Losmen to? tanyaku kepada penjual nasi kucing dengan pura-pura tidak pernah mendengar Losmen Melati

Iyo mas, dulu itu losmen terus dibeli pengusaha luar kota dan diperbesar, ya jadi hotel to jawabnya

Wah kasihan yang dulu kerja di situ yo pak yo, kena pecat to ucapku kepada penjual itu, mencoba mengorek kedalaman informasi dari mereka. Istilah keren saat ini adalah KEPO, entah apa sebenarnya kepanjangan KEPO

Walah lha iyo mas, beberapa ada yang dipertahankan ada juga yang dipecat, yang paling jelas to mas itu penjaganya, 5 tahun lalu penjaganya itu dipecat sekarang dia kerja jadi buruh pabrik, kasihan mas

Wong dia itu sudah kerja hampir 20 tahun lebih, dia juga sering makan disini mas, orangnya sich dulu baik ucap salah satu orang di nasik kucing itu

Wah ya ndak papa to mas, kan sudah dapat ganti di pabrik ucapku

Ya ndak gitu mas, habis dipecat dia habis-habisan mas, dulu dari losmen saja dia sering dapat upah dari orang-orang besar yang mampir kesitu, dia bisa beli ini itu, Kemudian mas setelah dipecat hutang dia menumpuk sempat hampir stress, sekarang dia saja tinggal rumah kontrakan di desa pantai-pantaian jelas orang itu lagi

Lha siapa to mas namanya? Kok penasaran aku, sampai bisa-bisanya bangkrut tanyaku kembali

Namane Sukoco, dia itu pas kerja di losmen, hutang sana-sini, sok perlente akhire yo kere (miskin) jawabnya

Setelah mendapat informasi cukup, aku tetap melanjutkan percakapan kami walau sebentar agar tidak memperlihatkan tujuanku sebenarnya. Akhirnya aku pamit diri kepada mereka untuk pulang. Dalam perjalanan pulang aku mencari desa pantai-pantaian, setelah aku mendarat di desa itu kutanyakan sana-sini nama seseorang bernama sukoco.

Beberapa orang tampak tidak familiar dengan nama ini yang membuat aku kesulitan mencarinya. Aku terus mencari dan mencari hingga aku menemukannya sebuah rumah sederhana berukuran kecil. Tepat pukul 18:00.

Selamat malam… ucapku

Ya, sebentar…. ucap seorang laki-laki dari dalam rumah

Klek pintu rumah dibuka…

Hah?! ucap laki-laki tersebut tampak terkejut melihatku

Maaf pak, apakah bapak bernama sukoco? tanyaku, dalam hati aku merasa heran kenapa laki-laki ini terkejut ketika melihatku

Bukan, bukan, saya tidak kenal dengan dia jawabnya yang kemudian akan menutup pintu tapi aku tahan dengan tangan kananku, terlihat ukiran ketakutan di raut wajahnya

Maaf bapak, saya hanya ingin bertemu dengan Bapak Sukoco dan saya tidak ada maksud apa-apa, mohon bapak bisa mengerti ucapku perlahan, kemudian laki-laki itu memandangku dengan tatapan tajam, memperhatikanku dengan seksama

Saya Sukoco, ada perlu apa saudara ke mari? ucapnya kepadaku

Saya hanya seorang mahasiswa dari universitas sabarin, saya kesini ingin berbincang dengan bapak, apakah saya bisa duduk bersaman dengan bapak? ucapku, Bapak Sukoco akhirnya mau menerimaku dengan sedikit terpaksa. Aku kemdian dipersilahkannya masuk ke dalam rumahnya. Tampak dia masuk ke dalam dan mengambil dua gelas teh hangat untuk kami berdua.

Di awal saya hanya berbincang mengenai kondisi di daerah ini selayaknya mahasiswa yang harus menyelesaikan tugas tanpa mengenalkan siapa nama saya sebenarnya. Agar lebih akrab aku memanggilnya Pak Koco seperti halnya orang-orang memanggilnya. Pak Koco memang tidak begitu terkenal di daerah pantai-pantaian dikarenakan baru tinggal, hanya seggelintir orang yang mengenalnya.

Pertanyaan demi pertanyaan akhirnya merembet ke pekerjaan dia dan memang betul dia adalah penjaga losmen tersebut di waktu Ibu diperkosa. Dan akhirnya kita mengobrol santai dan situasi memang aku buat seakan-akan tugas kuliahku selesai. Dalam obrolan santai tersebut…

Pak, jenengan (Anda) kenapa terkejut ketika pertama kali melihat saya? tanyaku kepada lelaki ini sambil menyulut sebatang Dunhill Mild

Aku itu cuma kaget mas bukan berarti apa-apa? jawabnya

Bersambung