Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64

Cerita Sex Cinta Yang Liar

Seandainya bisa tante ingin bertemu dengan paman dan Ibumu, tapi tante ingin bertemu dengan pamanmu terlebih dahulu, ini nome tante ucapnya dengan wajah sedikit memelas dan memasukan kertas yang dilipat kedalam saku jaketku

Aku hanya mengangguk tersenyum dan membisikan kata-kata supaya tante bersabar serta tante berusaha untuk bisa keluar rumah dulu baru semuanya bisa di atur. Bisikan itu meluncur begitu saja, seakan-akan aku bisa mengusahakan semuanya. Akhirnya aku pulang dengan tubuh sedikit lelah.

Ngueeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng…..

Dalam perjalanan kulihat tukang psang stiker dipinggir jalan, ku berhenti dan memasangkan SCOTLET merah di REVI. Sambil menunggung si e-masnya memasang scotlet aku menunggu di bawah pohon yang ditemani dunhill, teringat semua kejadian di dalam rumah rahman yang membuat aku geleng-geleng kepala hingga bisikanku kepada tante ketika hendak pulang.

Tiba-tiba aku teringat akan seseorang, BUDHE???? Aduh bagaimana ini pamankan punya budhe, kenapa aku menyanggupinya? Ah parah aku….

Scotlet telah terpasang sekarang, dan nama sibodi montokku menjadi REVIA (REVO IRENG ABANG). Kutunggangi Revia menuju jalan rumah dengan beban pikiran yang sangat banyak. Hingga aku berada di rumah tepat pukul 17.00, aku masuk ke dalam rumah tanpa ada yang membukakan pintu tampak suasana rumah yang kacau balau.

Kulihat Ibu hanya terdiam duduk dengan raut wajah takut di kursi ruang TV dengan Ayah yang seperti kebingungan memaki-maki orang yang berada di telepon. Ada apa ini?

Rumah ini adalah rumahku, rumah pemberian Kakekku kepada kedua orang tuaku. seorang wanita paruh baya sedang duduk termangu di ruang TV dengan seorang laki-laki yang mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Diarahkan cacian itu kepada orang yang berada di telepon.

Wanita itu adalah Ibuku dan lelaki itu adalah Ayahku, Ayah yang memiliku fisik berbeda denganku. Tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek jika dibandingkan dengan Ibu tinggi Ibu sedikit. Kulitnya gelap dengan rambut lurus di kepalanya.

Aku memang sedkit beruntung karena aku menuruni Ibuku. Ibu yang melihatku muncul dari lorong kemudian bangkit dan menyambutku dengan senyuman manisnya, aku pun tersenyum kepadanya. Tak lupa aku salim kepada Ibuku kemudian aku berjalan ke arah Ayahku, dengan sangat dingin dia hanya menjulurkan tangannya kepadaku dengan hanya sebentar memandangku.

Aku kemudian melangkah naik ke kamarku, kamar yang aku tinggalkan hampir 3 hari ini dari hari jumat. Beribu kejadian dalam minggu ini membuatku merasakan beban pikiran berlebih ditambah lagi hari ini tampak Ayah sedang marah-marah tidak jelas.

Kang Mas, Dimas mau menemani Arya sebentar, katanya mau curhat… terdengar ucapan Ibu

Iya, tinggal naik saja susah, minta ijin segala… terdengar bentak Ayah kepada Ibu.

Aku yang berada dalam kamar ini duduk termangu dipinggir tempat tidurku, kemudian pintu terbuka masuklah sesosok wanita yang selama ini aku rindukan, Ibu. Ibu masuk kemudian menutup dan mengunci pintu, melihat ke arahku dengan sedikit raut sedih tergurat di wajahnya.

Aku kemudian berdiri melangkah ke arah Ibu kemdian ku peluk Ibu, kucium ubun-ubun Ibu dan Untung saja Ibu tidak menangis. Kupeluk erat tubuhnya terasa hangat dan tentunya terasa dorongan susu Ibu di dadaku.

Sudah tidak perlu sedih bu ucapku menenagkan Ibu

Iya… nggak kangen sama Ibu nak? ucapnya kepadaku, tanpa diberi komando apapun aku langsung melumat bibirnya terdengar desahan Ibu yang masih kalah dengan teriakan-teriakan amarah Ayahku kepada benda mati yang ada di tangannya.

Kulumat dan lidah kami saling beradu, daling menghisap, saling melumat seperti seorang kekasih yang lama tak bertemu. Sambil berciuman ku arahkan langkah Ibu ke tempat tidurku, kami rebahan dan saling pandang melepas rindu yang tersumbat selama 1 hari kemarin.

Dimaaaa… DIMAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSSS! teriak Ayahku, kami berdua kaget dan Ibu langsung berdiri dan membuka pintu yang terkunci itu menuju kebawah.

Dipanggil lama sekali, apa sudah mulai budek?! marah Ayah, kuliha Ibu dari pintu kamarku hanya menunduk di hadapan Ayahku tanpa rasa takut mungkin karena aku ada di rumah ini

Aku mau keluar, jaga rumah bersama Arya, tak tahu pulang kapan?

Arya! Jaga rumah! bentak ayah kepada kami berdua

Inggih Romo… ucapku dari kamar

Sektika itu terdengar langkah cepat ayah menuju garasi, kemudian terdengar suara mobil yang lambat laun menghilang. Aku melangkah menuju ke bawah, Ibu memandangku dengan senyuman indah di bibirnya, senyuman yang membuatku hanyut.

Mandi dulu sana, Ibu mau menyiapkan makan malam dan tidak ada nanti-natian, Ingat LIBUR Ucapnya kepadaku dengan senyuman manisnya, aku pun menuruti semua permintaannya karena aku tidak menolaknya.

Aktifitas sore, mandi ganti pakaian dan tiduran di dalam kamar menunggu panggilan Ibu. Tepat pukul 18.30 Ibu memanggilku dan menyuruhku makan malam. Makan malam sepasang kekasih yang dimabuk cinta, kami saling mnyuapi bahkan kadang Ibu mengunyahkan makananku dan menyuapiku dengan mulutnya yang manis.

Ah wanita ini tetapi anggun dengan balutan drees longgar putih sepaha yang menutupi lengan dan disambung dengan celana hitam selutut. Lama kami mamdu kasih di meja makan.

Ibu tidur dikamar kamu ya nak? ucap ibu dengan senyuman

Romo bagaiman bu? ucapnya kepadaku

Dia tadi telepon Ibu, kalau pulang besok atau lusa, sudah biasa seperti itu… ucapnya

Ibu menceritakan kepadaku, Ayah ketika menjemput tadi tampak seperti orang yang ketakutan sangat ketakutan. Menyetir mobil saja sangat ugal-ugalan hingga dirumah Ayah marah-marah terus dengan orang yang berada di telepon, setiap kali telepon dimatikan oleh Ayah, Ayah menelepon orang lain lagi dan marah-marah kembali. Dalam benakku aku hanya berpikir, Apakah ada sangkut pautnya dengan Telepon Cerdas KS?

Malam berganti, aku dan Ibu berada di dalam kamarku bercanda dan bergurau layaknya sepasanga adik kakak. Ibu selalu menggodaku dengan kata-kata Kapan punya pacar? dan selalu aku balas dengan kecupan di pipinya Ini pacarku.

Permainan kamu berlangsung hingga pukul 21.50 ketika aku melihat jam dinding. Hingga akhrinya aku lelah dan rebah di lantai kamarku, Ibu duduk di pinggir tempat tidurku tepat di atas kepalaku, memandang kebawah ke wajah anaknya.

Ibu…. ucapku

Hmm….. jawabnya sambil tersenyum manis dengan menyipitkan matanya ke arahku, antara dilema dan galau alias andilau aku beranikan menanyakan tentang tante ima.

Sahabat Ibu yang bernama Karima itu…. ucapku terhenti

Iya, ada apa? Ibu tidak pernah bertemu dengannya selama ini, jadi kangen kalau kamu bilang seperti itu…. ucapnya kepadaku

Apakah dia bernama Karima Kapoor, seorang wanita keturunan India ucapku

Hhh… Bagaimana kamu bisa tahu? Ibu tdak pernah menceritakan detail tentang sahabat Ibu itu tanya Ibu mulai terkejut dengan pernyataanku

Dia sering memanggil Ibu dengan sebutan Pita? lanjutku, Ibu kemudian turun dan memegang ke dua bahuku wajahnya tepat di atasku.

Darimana kamu tahu, ceritakan! ucap Ibu sedikit membentak

Ibu kok jadi galak sama Arya, Arya kan pasti cerita, tapi Ibu jangan mar….rah ucapku sedikit ketakutan

oh.. maaf maaf sayang Ibu terbawa emosi, karena jujur Ibu kangen sekali dengan tante Ima ucapnya yang kemudian duduk bersimpuh disampingku, aku bangkit dan duduk bersila di sampingnya.

Tapi janji Ibu tidak marah ya….ucapku

Kenapa harus marah sama kamu sayang? jawab Ibu manja

Aku kemudian berdiri dan duduk di pinggiran kasur, diikuti oleh Ibu yang kemudian duduk disampingku. Kemudian aku ceritakan dari awal aku menginap di rumah Rahman sahabatku yang sering aku ceritakan kepada Ibu. Hingga ku bercerita tentang bagaimana aku bersetubuh dengan sahabatnya? Dan tentunya membuat Ibu sangat terkejut sekali mendengar itu semua…

Ibu mengalihkan pandangannya dariku dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sepasang pahanya. Terlihat linangan air mata yang mengalir dari mata Ibu melewati sela-sela antara pipi dan telapak tangannya.

Aku mendekat kemudian memeluk Ibu, secara spontan Ibu menampiknya dan berdiri meninggalkan aku. Aku langsung berlari mengejarnya hingga di depan pintu kamarnya yang akan ditutup tapi cepat aku tahan.

IBU AKU MOHON JANGAN SEPERTI INI, ARYA TAHU ARYA SALAH TAPI ARYA JUGA DALAM PENGARUH OBAT Teriakku membela dan memohon kepada Ibu, yang kemudian Ibu melangkah ke arah tempat tidurnya dan duduk termangu dan melamun. Aku kemudian melangkah dan duduk di samping Ibu dan hanya diam.

Kamu sukakan sama Tante Ima? tanyanya tiba-tiba dengan nada ketus dan judes

Terpaksa… jawabku

Seandainya dia meminta lagi, apa kamu akan memberikannya? tanya Ibu

Atas seijin Ibu… jawabku

Jika Ibu bilang tidak, kamu pasti akan sembunyi-sembunyi di belakang Ibu kan? tanyanya lagi

Tidak… jawabku

Bohong… ucapnya, tanpa pikir panjang kemudian aku berdiri mengambil gunting di meja rias Ibu dan aku goreskan tepat di kulitku, dan untungnya tidak memotong nadiku.

Apa perlu bu Arya menyayat nadi arya dihadapan Ibu seperti sekarang agar Ibu percaya? dengan menunjukan darah yang mengalir dari tanganku.

JANGAAAN! teriak histeris Ibu kemudian mengambil kain dan menutupi pergelangan tanganku. Tampak raut wajah kebingungan Ibu dan aku hanya diam mematung. Untungnya saja Ibu selalu sedia plester di rumah, sehingga Ibu bisa langsung menutupi darah yang mengucur. Aku hanya terdiam dan kemudian duduk di pinggir kasur kembali. Ibu menangis sejadi-jadinya sambil memeluku.

Iya, Ibu hiks hiks hiks ijinkan kamu nak…. tapi tolong jangan seperti ini hiks hiks hiks

Terserah kamu mau sama siapa asalkan jangan tinggalkan Ibu hiks hiks hiks hiks ucapnya terisak-isak

Aku kemudian memeluk Ibu, Ibu membalas pelukanku. Lama kami berpelukan hingga suara tangis Ibu reda dan Ibu kembali bangkit memandangku dengan penuh harap agar aku tidak meninggalkannya.

Pokoknya kalau siapapun ingin denganmu, Ibu relakan asal kamu cerita ucapnya kepadaku

Tidak Bu, Arya tidak mau lagi selain dengan Ibu… Jikalau nanti Tante Ima atau ada wanita lain yang mengajak dan memaksa akan Arya tolak… Kar… ucapku terpotong karena jari telunjuknya menyilang dibibirku. Tampak Ibu menghela nafas panjang.

Begini, Memang pada awalnya Ibu merasa kamu khianati padahal Ibu yang mengijinkan kamu waktu pertama kali kita melakukannya. Maksud Ibu sebenarnya adalah kamu boleh menjalin hubungan dengan wanita yang kelak akan menjadi istri kamu

Tapi kamu malah sama sahabat Ibu… ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya

Maaf bu, besok-besok tidak lagi…

Ketika melakukannya sama tante ima itu pikiran Arya cuma ke Ibu terus, itu murni nafsu beda ketika dengan Ibuucapku

Hening sesaat suasana kamar ini, tampak suara hewan malam mulai terdengar dari luar rumah ini. Ibu mulai menghela nafas panjang, dan memandangku dengan penuh kasih sayang. Tangannya yang satu memegag pergelangan tanganku dan yang satunya lagi memegang pipiku disertai elusan-elusan halus.

Nak, Maafkan Ibu…

Ibu cemburu ketika kamu bilang kamu melakukannya dengan sahabat Ibu, dan Ibu tidak marah mengenai tali itu ataupun masalah tante ima punya hubungan dengan pamanmu

Yang Ibu takutkan adalah Ima mengambil kamu dari Ibu ucapnya

Tidak bu, tidak akan, kan Arya lebih sering bareng Ibu bukan sama tante ima… ucapku dengan senyuman nakal

Iya deh, besok lagi kalau mau gituan sama tante ima harus seijin Ibu, gak boleh terusan…

Ibu perbolehkan tapi dengan syarat… kamu harus cerita penuh dari awal hingga akhir ucapnya kemudian memelukku dan menyandarkan kepalanya didadaku dengan sedikit senyuman terukir di bibirnya

Walau sebenarnya Ibu sangat cemburu… kecuali jika kamu jalan dengan calon istri kamu, Ibu mungkin akan ikhlas… lanjutnya lirih

Apa saja yang diceritakan Ima kepadamu? Dan juga tentang hidupnya ketika berada di luar daerah tanya Ibu kemudian

Dengan memeluk Ibuku, dan mengelus-elus kepalanya disertai kecupan-kecupa mesra di ubun-ubunnya. Aku mulai menceritakan semua tentang tante ima, dari kehidupannya yang terkekang dan perjalanan kelam mengenai kehidupannya.

Dari suaminya yang membawa wanita lain hingga persahabatan menakutkan antara Ayah dan Om Nico. Ibu mendengarnya dengan seksama dan tampak pelukan erat Ibu pada tubuhku mengisyaratkan kekhawatirannya terhadap sahabatnya.

Mungkin Ibu harus bicara dengan Ima? Dan Mungkin Ibu juga harus berbagi Kekasih dengan Ima

Tapi bagian Ibu 99,99%! ucap Ibu dengan senyumannya sembari bangkit dari pelukan dan berpinggang kearahku. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan. Aku bangkit dan ku ambil telepon cerdasku di dalam tas yang berada dikamarku serta mengambil nomor tante ima, kemudian aku sms tante ima.

Kutanyakan kepadanya apakah rahman sudah tidur dan keberadaan om Nico. Tante Ima menjelaskan kalau om nico pergi keluar dan Rahman juga sedang nongkrong di nasi kucing tidak jauh dari rumahnya. Kemudian aku telepon tante ima ketika aku sudah berada di samping Ibu, di dalam kamarnya.

Halo… terdengar suara wanita dari telepon cerdasku

Halo tante, langsung saja tante, ada yang mau bicara dengan tante… ucapku, kuberikan telepon cerdasku kepada Ibu. Dan terlihatlah guratan kebahagiaan di wajah Ibu, dan setiap tutur kata yang terlontar dari mulut Ibu kembali menjad kata-kata gaul pada masanya.

Mereka kelihatan bersendau gurau dan aku hanya melihat Ibu dengan senyuman karena mungkin Ibu sangat merindukan sahabatnya. Ibu kemudian menceritakan setiap detail kehidupannya dari awal hingga akhir, tampak pula tante ima bercerita mengenai dirinya dari awal hingga akhir.

Ketika Ibu bercerita dengan tante ima dengan sangat manja Ibu bersandar di tubuhku, sambil berbicara aku hanya mampu menciumi kepalanya dan memeluknya dengan hangat. Ibu masih terus mengobrol dengan tante ima dan tidak lupa Ibu memberikan kecupan-kecupan mesra kepadaku setiap kali ada jeda pembicaraan.

Dan itu memang berlangsung sangat lama kurang lebih satu jam, untung saja nomor tante ima sama operatornya dan nomorku sudah aku paketkan untuk telepon hemat. (Yang bertuliskan miring/ italic adalah ucapan dari tante ima)

Apakah kita bisa bertemu ma? ucap Ibuku

Jangan, jangan sekarang, kelihatanya mereka berdua sedang dalam kondisi buruk, aku tadi mendengar percakapan mereka, nico berbicara di telepon mengenai pembunuhan, tapi tidak jelas, kalau suasana sudah reda, kita pasti akan bertemu pit ucap tante Ima

Berarti apa yang kamu dengar sama dengan yang aku dengar ma, tadi mahesa juga berbicara seperti itu, kelihatanya kita tidak akan bebas jika mereka masih hidup

bilangkan ke arya untuk tidak mendekati ayahnya walau sejengkal masalah antara mereka, itu berbahaya karena takutnya Arya terbawa emosi dari cerita yang dia dengar dariku

Iya ma, ntar aku akan bilangkan ke arya, aku sebenere kangen ma kamu, kangen buanget

Aku juga pit, kangen banget sama kamu

Kangen sama aku apa sama mas andi

Ya kamu to pit masa sama mas kamu

Udahlah Arya dah cerita semua tentang kamu ma mas andi kok

Semua?

Ya semua, tentang kehidupan kamu, pacaran ma mas andi, emangnya ada lagi?

Enggak… ya itu saja sich…mmmm maaf ya pit kalau aku dulu pacaran ma kakakmu, nggak ngomong ma kamu lagi, backstreet lagi, karena takutnya kamu ndak setuju

Sebenarnya nggak papa seandainya aku dulu tahu, kamunya aja yang terlalu takut

Percakapan mereka nampaknya mulai serius membahas paman, ini dapat aku ketahui karena Ibu kemudian beranjak pergi meninggalkan aku di kamar. Hingga percakapan itu akhirnya menuju ujung waktu, percakapan yang jika tidak dihentikan oleh baterai hampir habis mungkin tak akan ada habisnya.

Setelah mengucapkan salam perpisahan mereka menutup telepon masing. Ibu meberikan telepon cerdasnya kepadaku.

Kalau kamu mau mempertemukan Pak dhe dengan tante ima, bagaimana dengan budhe?

Kamu harusnya memikirkan perasaan bu dhe kamu, secara pribadi Ibu tidak setuju dengan langkah kamu mempertemukan mereka, Bu dhe kamu itu orang yang baik dan sangat pengertian kepada Ibu dan tante ratna

Jika kamu mempertemukan mereka, itu hanya akan mengulang kesalahan dan memperpanjangnya, Sekali lagi Ibu tidak setuju karena kamu akan menghancurkan bu dhe ucap Ibu

Tapi semua berada di tanganmu, jikapun mereka bertemu secara sendirinya usahakan agar bu dhe tidak pernah mengetahuinya ucap Ibu kepadaku

Benar kata Ibu, Bu dhe adalah wanita terbaik untuk paman dan keluarga kami, mempertemukan masa lalu hanya akan menghancurkan masa depan bathinku dalam hati sembari mengangguk menjawab pernyataan-pernyataan Ibu.

Bopong Ibu ke kamar kekasih Ibu, Ibu mau memanjakan kekasih Ibu ucap Ibu manja dan tidak memandangku sama sekali, aku hanya tersenyum denga lembut. Kubopong Ibu menuju kamarku dan kududukan Ibu kemudian aku rebah dan tidur di kasur itu. Ibu kemudian beringsut mendekatiku dan memelukku.

Ceritakan… ceritakan apa saja yang Ima berikan kepadamu ketika malam itu

Tenang saja, tantemu itu tidak tahu jika Ibu mengetahui semua yang kalian lakukan ucap Ibu

Kemudian aku menceritakan secara detail satu-persatu dari awal persetubuhan hingga anal seks yang aku lakukan di ruang tamu. Ibu nampak terkejut hingga mengangkat kepalanya dan memandangku tapi aku tetap melanjutkan itu semua.

Kamu pengen begitu sama Ibu? ucapnya

Enggak bu, lha wong itu tante ima yang maksa jawabku

Hmmm… nakal kamu hi hi hi… mungkin Ibu harus selalu telepon kamu setiap saat

Karena setiap saat adalah saat buat Ibu untuk cemburu dengan kekasih Ibu ini hi hi hi ucap Ibuku, kami pun tertawa di tengah malam itu.

Bu…

Maafkan Arya…. ucapku lirih dan kupeluk erat Ibu

Iya nak… jawab Ibu

Jika suatu saat Arya cerita mengenai persetubuhan Arya dengan wanita lain, apakah Ibu akan marah? tanyaku

Cemburu nak… Ibu tidak akan cemburu jika kamu menjalin hubungan dengan wanita yang akan dijadikan istrimu dengan catatan kamu menyayanginya selalu, tapi jika dengan wanita-wanita lain yang bukan akan menjadi istri kamu, Ibu akan hukum kamu… ucap Ibu

Apa bu hukumannya? jawabku

Nanti Ibu pikirkan, tapi mulai sekarang…. ucap Ibu terhenti sesaat

Jadikan Ibu sebagai istrimu, hingga kamu menemukan istri yang sebenarnya ucap Ibu

Kan sudah Bu he he he ucapku

Tapi suka main sama yang lain, sama kayak ayah kamu ledek Ibu

BUUUUUUU…. Jangan samakan aku dengan Ayah, Ayah melakukannya dengan membuat keadaan seperti yang di inginkan sedangkan aku terjebak dalam keadaan itu belaku sedikit mengangkat tubuhku dan memandang tajam ke arah Ibu

Sayang jangan marah, kan sayang Cuma bercanda sama sayang hi hi hi candanya

Iya, kamu sangat berbeda, sangat berbeda…..

Kamu banyak disukai perempuan-perempuan disekitar kamu sejak kamu SD dulu, banyak sebenarnya teman cewek kamu yang mengirim surat cinta ke kamu dan Ibu selalu membacanya, lucu-lucu…

Hingga kamu SMP makin banyak yang mengirimkan surat cinta kaleng kerumah ini, yang bilang cinta, sayang semua Ibu baca, yang paling parah ketika kamu SMA setiap pagi di kotak surat palilng tidak ada 3 surat cinta buat kamu, apalagi kuliah Ibu sering menerima telepon dari teman-teman kuliahmu yang bilang suka ma kamu, sayang, cinta tapi Ibu yakin mereka tidak akan berani menunjukan rasa suka mereka ke kamu dikampus jelas Ibu

Kenapa bu? tanyaku

Karena Ibu selalu berpura-pura jadi tunangan kamu yang sudah direstui oleh orang tuamu hi hi hi jawab Ibu

Yah Ibu, membunuh pasar Arya saja he he he tapi ndak papalah Arya dah punya Ibu jawabku

Suatu saat nanti pasti ada perempuan yang akan datang menemui Ibu dan mengatakan bahwa dia mencintai kamu dengan sangat tulus, dan di saat itulah Ibu akan benar melepasmu, dan Ibu tidak akan pernah melepaskanmu kepada perempuan yang tidak jelas hanya melalui surat dan telepon Untuk sekarang Ibulah yang akan menjagamu jelas Ibu

Terima kasih sayangku… aku harap Ibu masih mau menerimaku hingga akhir waktu ucapku

Ya pasti Ibu akan menerimamu tapi bukan lagi sebagai kekasih melainkan seorang anak, jika kamu sudah bersama kekasihmu yang benar-benar sudah Ibu pastikan ketulusannya kepadamu ucap Ibu kemudian memlukku dengan erat, aku hanya tersenyum dan memeluknya dengan erat pula.

Ya mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Ibu, semua memang harus berakhir tapi bukan pada saaat ini. sebuah kenyataan yang sangat menjengkelkan sebenarnya ketika aku juga harus mengetahui bagaimana tenarnya diriku ketika masih kecil.

Budhe, maafkan aku, sebisa mungkun aku tidak akan mempertemukan mereka bathinku dan berat mata ini hingga akhirnya kami terlelap dalam pelukan sampai pagi menjelang.

Pukul 04.30 aku seakan di guncang oleh tangan halus membangunkan aku. Dengat mata yang sangat berat terbuka, aku mencoba untuk membukanya. Aku bangkit dan duduk di tempat tidurku ketika aku menoleh ke arah tangan yang menggoncangku. Kulihat seorang wanita paruh baya dengan kebaya warna putih yang menutupi bahunya dan belahan dada yang sangat memperlihatkan lipatan susunya.

Ditambah dengan kutang berwarna putih dan balutan jarit berwarna coklat dengan motif batiki tulis. Ya itu Ibu, memandangku dengan senyumannya tanpa menunggu sadar sepenuhnya, Ibu kemudian mencium dan melumat bibirku hingga aku gelagapan dalam menghadapinya.

Dipeluknya tubuhku dan aku kemudia spontan memeluknya. Kami saling melumat, menyedot dan menjilat masing-masing bibir lawan kami. Membuat dedek arya yang sebenarnya sudah tegak karena MOREC akhirnya harus lebih tegak lagi karena serangan Ibu.

Hmmm… sayang, Ibu pengen kasih sesuatu buat kamu? ucap Ibu kepadaku

Apa to bu? Hoaaaaam ucapku kepada Ibu

Anus Ibu… bisiknya di telingaku, aku terbelalak kaget.

Tidak bu, Arya tidak mau… itu akan buat sayang sakit ucapku, kemudian Ibu memajukan jarinya menyilang di bibirku

Ini pertama dan terakhir, biar kamu tahu mana yang lebih enak, Ibu atau tante ima… ucap Ibu, aku hanya menggeleng dan menggeleng

Atau Ibu harus melakukan apa yang kamu lakukan semalam? lanjutnya mengancamku, kuingat kejadian semalam, sial aku kemakan caraku sendiri. Dan akhirnya aku menurut dan mengangguk dibalasnya dengan senyuman Ibu.

Nah Sekara…. ucap Ibu terpotong karena aku langsung memeluknya dan menciumnya. Aku mempercepat ini semua karena hari ini adalah hari senin dimana dosen killer menantiku. Segera aku singkap jarit Ibu, Ibu mempermudahkan aku dengan dia naik ke ranjang tempat tidurku, Ibu tidak memakai celana dalam.

Keluarnya sedikit, jadi ya kamu jangan jijik ya… ucap Ibu manja, memperingatkan aku tentang darah menstruasinya

Aku segera memposisikan tubuh Ibu nungging, dan kubuka lebar pantat Ibu. Memang terlihat sedikit bercak merah di vagina Ibu, sebenarnya jijik juga ketika mengetahui itu tapi mau bagaimana lagi aku harus menuruti permintaan Ibu untuk menyetubuhinya lewat anusnya.

Ku buka lebar pantat Ibu, kemudian aku jilati anus Ibu, jilatan demi jilatan aku lakukan tak lupa aku memasukan lidahku ke dalam anus Ibu walau sebenarnya tidak masuk.

Ah… enak sayangku… Ibu kangen lidah kamu sayangkuhhh… ah ah aaaaa rintih Ibu, sejurus kemudian aku ludahi anus Ibu. Ku buka celanaku dan ku arahkan dedek arya ke anus Ibu, ku ludahi lagi dedek arya.

Nampak Ibu memperlihatkan wajah yang penuh nafsu ketika menoleh ke belakang, ke arahku. Dan ku masukan secara perlahan, perlahan perlahan dan perlahan. Sangat sulit masuk dan sangat sempit sekali hingga akhirnya usahaku membuahkan hasil dedek arya bisa masuk seutuhnya.

Ouwhhh…. penuh… Ibu kangen….

Kontolhmuh sayangku…. ucap Ibu kepaku ketika aku benamkan dan diamkan dedek arya

Bu, maaf jika menyakitkan, Arya akan buat Ibu senang asal tidak meminta ini lagi… jawabku, Ibu hanya mengangguk dengan wajah memerahnya menahan nikmat

Kugoyang perlahan, perlahan dan perlahan. Di awal goyangan memang terasa sangat sempit dan seret hingga aku kewalahan dalam menggoyang. Lama kelamaan, anus Ibu semakin licin dan dedek arya bisa masuk-keluar dengan nyaman dan lancar.

Ahhh sayangku… nikmaaaaaaaaaaat… Ibu benar-benar kangen sayang…

Ah ah ah asih afth…. terus goyang, setubuhi Ibumu nak, Ibu sudah kang…. ngen sekhlih…

Kenthu Ibuh… terus kenthu anus Ib… buh ouwhhhh aaaahhhh racaunya

Arya juga, sangat kangen Ibu… Arya kangen, sayang, cinta Ibu aaaaah ucapku sembari menggoyang pinggulku. Goyanganku semakin lama semakin cepat dan semakin brutal. Kulihat di cermin sebelah pintu masuk kamarku, yang berukuran 1 x 2 meter tampak seorang wanita paruh baya sedang menungging dengan kebaya putih dan jarit yang tersingkap hingga pinggangnya sedang ditusuk pada bagian anusnya dengan dedek arya. Sebuah pemandangan yang Seksotis.

Oh Sayangku… setubuhi Ibu lebih dalam lagi naaaaak….

Nikmaaaaat…. assghhh…. aiiiissshhh…. ter…. rus… say…yangh…. kuwh…. aaaahh

Ah ah ah ah setubuhi Ibu, masukan kontol kamu lebih dalam naaaak racau Ibu

Ibu sempiiiit…. kontol arya tidak taha…n pengennn keluaaaaaaar racauku sembari membungkukan tubuhku dan memeluknya, ku dekap tubuh Ibu dan ku tangkap kedua buah susunya yang terbungkus kebaya itu

Ibu juga nak… keluar bareng-bareng….ucap Ibu

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Keluarlah spermaku di anus Ibu, dibarengi dengan keluarnya cairan puncak kenikmatan Ibu yang bercampur dengan warna merah dari vaginanya. Kemudian aku jatuhkan Ibu ke samping dan kupeluk erat. Tak lama kami berpelukan Ibu kemudian berdiri dan tersenyum kepadaku mengecup bibirku.

Ibu mau kemana? ucapku

Nyiapin sarapan, kan kamu kuliah? ucap Ibu, sembari membetet sebentar hidungku

Bu… besok lagi jangan begini, Arya tidak tega jika sama Ibu, Arya merasa bersalah dan Arya tidak suka ucapku, Ibu kemudian melihatku dengan tatapan sayangnya,

Iya maafkan Ibu ya, buat kamu merasa seperti itu, Ibu Cuma pengen buat kamu seneng saja tidak ada yang lain, kan Ibu suda janji akan memberikan lebih ucap Ibu, ku anggukan kepalaku dengan sedikit mengangkat tubuhku ku kecup bibirnya

Bu, Arya pengen nyusu… Kebayanya dilepas semua pintaku, yang kemudian dituruti Ibu. Ibu kemudian melepaskan semua pakaiannya dan melap spermaku yang masih menetes serta cairan dari vaginanya dengan jaritnya.

Terpampanglah tubuh telanjang wanita yang selalu aku sayangi, putih bersih, susu kencang dan sekal, rambut dikucir gelung, tubuh yang langsing dan wajah ayu nan menentramkan. Segera aku majukan kepalaku dan duduk di pinggir tempat tidurku, langsung kupeluk Ibu yang berdiri itu dan ku kulum bergantian puting susunya.

Mulai besokhhh ehhhhhhh kalau tidak ada Mahesa panggil Ibu, cinta ucapnya manja sambil memelukku dan mengelus kepalaku

Iya bu jawabku yang kemudian melanjutkan kembali menyusu kedapa Ibuku

Lama kami melakukannya hingga akhirnya kami sudahi, aku mandi dan Ibu mulai menyiapkan makan pagi. Aku kemudian segera menyiapkan semua keperluan kuliahku dengan secepatnya karena waktu menunjukan pukul 06.15. Aku turun dan sudah kutemukan Ibu dalam keadaan rapi dengan t-shirt ketat sesiku dan rok selututnya. Kami sedikit bercengkrama, hingga aku pamit untuk berangkat kuliah dengan uang saku ciuman mesra darinya.

Bersambung