Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 103

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 103 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 102

Dengan mobil kesayanganku dan sebuah koper aku berangkat menuju hotel. Kutemui resepsionis dan langsung aku diantar menuju ke kamar. sewaktu melewati hotel ada beberapa mata memandangku, aku tidak peduli. Bahkan ketika aku sedang berjalan menuju meja resepsionis ada yang menawarku.

halo cantik, bagaimana kalau malam ini kita sekamar? ucap seorang laki-laki

maaf, saya hanya ingin menemui suami saya ucapku

masa cantik-cantik gini kesini Cuma mau ketemu suami, suami simpenan ya? ucapnya

silahkan berpikir macam-macam bapak, tapi mohon maaf suami saya sudah menunggu. Apa perlu saya tunjukan kartu nikah saya? Ini ada didalam koper saya ucapku tegas

halah wanita bayaran saja sok-sokan! ucap pria tersebut

Hei, lebih baik kamu jauhi mbaknya atau kamu berurusan sama saya ucap seseorang aku menoleh ke samping, ah itu kan dokter yang di RS bersama seorang laki-laki yang setengah baya

eh… pak media, ini lho pak saya kan Cuma nawar ucap laki-laki tersebut

gundulmu! Tak pecat kamu, ini adik iparnya bos kamu! Pak Andi! ucap pak media

eh.. anu eh.. orang tersebut tampak gugup

sudah tahu saya? Saya suaminya arya, jadi mohon minggir ucapku

Bu Dokter, dan Bapak terimakasih, saya duluan suami saya sudah menunggu ucapku

bulan madu ya yan? ucap bu dokter

iya bu.. ucapku tersenyum, jelas saja aku memanggilnya bu karena aku tidak begitu mengenalnya

Aku diantar menuju kamar, pakaianku sedari tempat parkir hanya mengenakan jaket dan rok berumbai seperti yang aku pakai ketika berada di danau. Pintu langsung dibukakan oleh lelaki yang mengantarku katanya memang dimintai tolong oleh si empunya kamar. Kamar remang hanya sedikit cahaya, kulihat sesosok lelaki yang sudah tidak asing lagi bagiku.

Koper sudah masuk, pintu tertutup, ku buka jaketku dan kulepas rokku. Aku berjalan mendekatinya, kulihat sebuah meja makan dengan lilin yang menghiasi meja tersebut. Makanan pun sudah tersedia berada diatas pemanas, makanan kesukaannya dan kesukaanku khas daerah.

“ehem…” aku berdehem, dia menoleh dan membalikan badan.

Tubuhnya terpaku melihatku, matanya seakan menelanjangiku. Aku memakai gaun pajang, berwarna putih mempelrihatkan lekukan tubuhku, gaun tersebut menutupi sebagian dadaku (seperti kemben) dan seluruh kakiku. Sebagian dadaku menyembul keluar, dan terlihat sangat montok. Tinggiku tetap saja tidak bisa menandingi tingginya walaupun aku memakai sepatu hak tinggi. Bagian bahuku tidak tertutup sama sekali dengan rambut aku gelung kebelakang serta riasan secukupnya di wajahku.

“kamarnya bagus… aku suka… hmmm… kenapa diam?” ucapku

“eh… tidak… ade… tambah cantik malam ini” ucap suamiku, yang sedikit terkejut dan menjawab dengan gugup

“ade? ade siapa?” godaku

“kamu, maksudku kamu cantik malam ini” ucapnya

“sudah dari dulu… harus berdiri terus?” ucapku

“eh maaf…” ucapnya dengan gugup langsung melangkah ke kursiku dan menariknya untukku

Kupangku daguku dengan jari-jari yang aku rapatkan. Kupandangi dia, yang duduk terlihat sangat grogi suamiku ini. pandangan kami bertemu dan saling menatap dengan ditemani lilin-lilin kecil.

“mau makan dulu?” ucapnya, aku mengangguk

Suamiku kemudian berdiri dan menawariku, diambilkannya dan hanya aku lihat didepanku. Suamiku kembali ke tempat duduknya, aku tahu dia kelaparan karena aku istrinya jadi aku tahu hanya dengan melihatnya. Tapi, aku juga lapar… aku memandangnya, aduh kenapa harus pakai sandiwara kan ndak bisa minta disuapin. Bodohnya aku ini… kulihat dia sudah mengunyah makanannya. Matanya melirik kearahku yang masih mendiamkan makananku.

“aku pengen disuapin, tapi aduuuh bodoh banget tadi ndak usah minat pm, pasti kan romantis huh!” bathinku

“mau aku suapi?” ucapnya, seakan tahu aku tak ingin makan sendiri. aku rasakan wajahku memerah dan mangangguk pelan kemudian menunduk. Kulihat dia mengangkat kursinya dan duduk disebelahku.

“baunya… sangat menyengat… bagaimana ini? aku tidak tahan, aku bisa, aku bisa bertahan!” bathinku

“aku tidak menyangka kalau kamu bertambah cantik dari foto yang kamu kirim” ucapnya

“tidak usah merayu, aku kesini karena kamu bayar” ucapku

“sudah punya suami?” ucapnya

“sudah…” balasku, kapan nyuapinya?! Bathinku bergejolak

“aku juga sudah punya istri, cantik kaya kamu” ucapnya, yeee emang aku istri kamu! kapan sih ini nyuapinya! Bathinku semakin bergejolak

“a’…” ucapnya, aku langsung membuka mulutku

“enak?” ucapnya, aku menagngguk dan melihatnya memakan makanannya

“a’…” ucapnya lagi,

“BAHAGIAAAAAAAAA!” bathinku berteriak tapi tetap tercover dengan wajah judesku

“eh… ada makanan dibibir kamu” ucapnya,mengambil tisu dan langsung mengusapkannya. Mata kami bertemu dan seakan waktu berhenti berputar

“ndak salah aku bayar kamu” ucapnya

“katanya punya istri kok bayar cewek lain?” ucapku

“kalau ndak mau ya sudah, kita pulang saja gampang kan? Lagian kalau ada cewek lain minta dibayar selain kamu, aku ndak bakal mau kok” ucapnya

“oh iya? kamu kan punya banyak uang. Bisa dong bayar cewek-cewek cantik lainnya” pancingku

“kamu nyuruh aku nyewa cewek lain gitu?” ucapnya, aku menggeleng malu

“aku cuma maunya kalau ndak kamu ya istriku saja, kalau bisa dua-duanya ya kamu ya istriku” ucapnya

“aku kan punya suami, masa mau dua-duanya? Suamiku mau dikemanakan?” balasku

“hmmm… bagaimana kalau sekarang kita menyimpan pasangan kita didalam hati kita, dan disini hanya ada aku dan kamu” ucapnya, aduh baunya semakin terasa…

“eh, iya iya…” ucapku, sekarang aku gantian yang gugup

Bau itu semakin menyengat dihidungku, vaginaku mulai terasa basah aku bisa meraskannya. Dengan telaten dia menyuapiku, dan selalu tersenyum kepadaku. Aku berikan kecupan dipipinya tatkala semua makanan telah habis aku makan.

“mau dansa?” ucapnya sembari memutar sebuah musik klasik

“okay…” ucapku

“mmm… bagaimana kalau sepatu kamu lepas saja..” ucapnya,

“okay…” jawabku

Aku dan dia sebenarnya tak ada pengalaman berdansa tapi malam ini kamu mencoba. Kedua tanganku berada di bahunya, sedangkan kedua tangannya berada di pinggulku. Aku berdansa dengannya hanya memutar pelan di tempat yang sama. Dia memandangku terus, begitupula denganku, senyum kami saling menyapa. Kedua tangnnya semakin lama semakin menarikku mendekat, tubuhku semakin menempel. Aroma itu semakin terasa dihidungku.

“boleh aku menciumu?” ucapnya

“kamu sudah membayarku, terserah kamu” ucapku yang selalu kaku dan judes

“bisakah kamu tidak menjawab dengan mmmm… ya jawablah dengan lembut” ucapnya

“iya, boleeeeh…” ucapku, sedikit keluar manjaku

Bibirnya langsung mencium bibirku, hanya menempel sejenak. Kelihatannya dalam situasi ini sandiwara ini harus berakhir. Bibirku maju dan kami melumat secara perlahan. Mataku terpejam menikmati alunan musik dan bibirnya ditambah dengan aroma tubuhnya.

“massshh….” desahku disela-selan kami berciuman

“Aku mencintaimu…” ucapnya

“ade juga mencintai mas” ucapku

“ade tambah cantik malam ini” ucapnya, aku tersenyum ketika ciuman kami lepas tapi bibir kami bersatu lagi setelahnya. Melumat pelan beriringan dengan alunan musik klasik yang lambat ini.

“sekarang massshh… ade pengenhhh…” ucapku, disela ciuman

“mash juga…” balasnya

Ciumannya berlanjut, tubuhnya menunduk dan ciumannya turun keleherku, aku mendongak ke atas memberikan ruang baginya. Ruang sebagai awal dia menikmati tubuh miliknya ini. ciumannya semakin turun kebawah, tubuhku kini diam berdiri. Lidahnya mulai keluar menjilati bagian bawah leherku.

Tubuhku diputar hingga aku kini bersandar pada meja makan. Lidahnya pelan sekali malam ini tak memperlihatkan nafsunya yang tertahan selama 5 hari ini. Pelan… lidahnya mulai menyelip antara gaun dan susuku mencoba mencari puting susu. Tangannya secara perlahan menurunkan gaun yang menutupi sebagian susuku, hingga akhirnya kedua susuku keluar dan menjadi pemandangan kedua matanya.

“indah…” desisnya

Lidahnya mulai menjilati puting susuku secara perlahan, tanganku mengelus kepalanya. Lidahnya tidak begitu liar malam ini, memberiku sensasi romantis. Satu tangannya menari gaunku hingga tangan itu mulai mengelus vaginaku. Pelan… sangat pelan dan membuatku mendesah tak perlu bersusah payah baginya untuk memainkan vagina yang tak bercelana dalam.

Jari-jarinya dengan lembut menyapu vaginaku dan membuatku semakin mengerang pelan. Tak seperti biasanya jari-jari itu tidak mengocok vaginaku hanya lembut mempermainkannya. Suamiku kemudian berlutut dan mendekatkan kepalanya ke vaginaku. Lidahnya menyapu pelan, bibirnya menyedot pelan vaginaku seperti dia menyedot susuku.

“massshhhh erghhh…. mmmmhhhhhh yah masshhhh mmmmhh…” desah nikmatku

Tak lama dia berdiri dihadapanku, memandangku sejenak dan kemudian mencium bibirku. Lumatan lembut seiring alunan dan remasan pada susuku membuatku semakin terhanyut oleh perlakuannya. Aku buka kancing bajunya satu demi satu, ciumanku turun kelehernya bau keringat yang sedari tadi aku rasakan kini telah menjadi milikku.

Lidahku pelan turun ke puting kecil didadanya sembari menjilati sisa sisa keringat yang sudah mengering. Bermain sejenak di puting dadanya, sembari membuka celananya hingga terlepas jatuh. Aku kemudian berlutut, kubuka celana dalamnya dan penisnya sudah tegang mengacung kearahku. Ku cium perlahan ujung penisnya dan langsung aku masukan ke dalam mulutku. Kepalaku maju dan mundur, lidahku bermain di batang berotot itu.

“adeeeh… mmmhhh… yah….mmmhhhhh enakk sayang…” desah nikmatnya

lama aku mengulumnya…

“sudah sayanghh…” ucapnya sembari menghentikan kulumanku, aku diangkatnya hingga berdiri

Jarinya mengusap bibirku yang berlumuran air liurku. Kulepas bajunya hingga dia telanjang didepanku, begitu pula aku ditelanjanginya. Tepat ketika aku dibopong, lilin mulai padam. Aku direbahkan diatas tempat tidur empuk. Pinggulku diganjal oleh bantal, dan dia berlutut tepat ditengahku. Perlahan penis itu masuk, ughh… terasa sakit walau sudah basah pada vaginaku. Pelan dan tenggelam semua didalam vaginaku, tubuhku sedikit terangkat.

“akhirnya kita bersatu kembali…” ucapnya

“he’em kangen bangeeeet hiks…” ucapku meneteskan air mata

“ade itu, jangan nangis..” ucapnya

“habis kangen ndak nyangka mas nyiapin ini beneran” ucapku

“sssssstttt…” ucapnya yang langsung melumat lembut bibirku

Aku rasakan peninya mulai memompa tubuhku, terasa lebih nikmat ketika ada bantal di pingguku…

“aaahhhh massshhh dalam sekali… penuhhh masshhhh mmmhhhh…” desahku dengan kedua tangan merangkul lehernya

“tubuhmu tambah indah sayang… mas suka sekali dengan tubuhmu owhhh… nikmatnya didalam sana sayang…ehhhh uuuftthhhh” desahnya

Bibirnya kemudia mengulum puting susuku, satu tangan meremas susu satunya lagi. Goyangan pinggulnya semakin lama aku rasakan semakin cepat, sedotannya semakin kuat pada susuku.

“ahhh masssshhh…. mhhh…. ahhhhh…. massshhhhhh…” desahku

“ade sayanggghhhh….” desahnya, bibirnya berpindah dibibirku

Semakin cepat, semakin terasa, aku hampir keluar…

“massshhhh ade mau…” desahku disela-sela ciuman kami

“massshhh juga…” ucapnya

Selang beberapa saat, penisnya masuk sangat dalam di vaginaku. Tubuhku melengking ke atas lama sekali, ketika turun tubuhku mengejang seiring dengan cairan hangat dari penisnya membasahi rahimku. Aku terkulai lemas sangat lemas, entah kenapa tubuh ini rasanya lelah sekali. Tubuhnya kurasakan mengejang beberapa kali. hingga nafas kami teratur bibirnya menciumi wajahku. Tangannya mengelus lembut kepalaku, rambutku diuraikannya dan dimainkannya sejenak.

“ade capek…” ucapku, mungkin karena pekerjaan hari ini membuatku lelah

“mash jugahh…” ucapnya

“peluk ade…” ucapku

Dengan posisi masih sama, dia memeluk dan menindih tubuhku. Tak terasa berat, hingga akhirnya aku tertidur karena lelah begitu pula dengannya. Malam yang indah, bulan madu yang indah bukan yang terindah karena yang terindah adalah ketika aku bersamanya.

Malam hari aku terjaga tak kudapati dirinya disampingku, aku bangkit ku seret selimut tebal untuk menutupi tubuhku. Kulihat dia berdiri di pintu jendela, kudekati dan ku rebahkan keningku di punggungnya.

“kenapa?” ucapnya

“takut bobo sendiri” ucapku

“lagi?” ucapnya, aku lepas selimut itu dan memeluknya

“mas yang bisa jawab, ade nurut…” ucapku

“bobo lagi yuk tadi mas bangun Cuma buat minum terus lihat langit bagus banget tapi ternyata ndak bisa ngalahi indahnya kamu” ucapnya

“he’em…” hanya itu jawabanku

Ditempat tidur tubuhku masuk ke dalam pelukannya, hangat walau AC dikamar ini kurasakan sangat dingin. Selimut menutupi ketelanjangan kami, kecupan manis di keningku, elusan lembut di kepalaku. Membuatku nyaman dan terlindungi. Hingga pagi menjelang…

Dengan pakaian yang aku bawa dikoper aku dan suamiku pulang dengan pakiannya yang aku bawa. berkendara sendiri-sendiri seakan seperti bukan suami istri tapi kami selalu beriringan ketika perjalanan pulang. Tak tahan aku ingin segera memeluknya dirumah, bercumbu dirumah karena pagi hari ini dia memandikanku dengan telaten. Sesampainya dirumah….

“peluuuuuukkkk….” ucapku manja

“peluuuuuukkkk….” balasnya

“ih, mas ikut-ikutan deh…” jawabku

“masa ade terus dimanja, mas kapan?” ucapnya

“eh, sini ade manjain mas…” ucapku menarik tubuhnya

“sini kepalanya bobo di pangkuan ade” ucapku

Senyum mengembang di bibirku, ketika tubuhnya langsung rebah. Dia kemudian bercerita tentang bagaimana dia masuk ke dalam hotel penuh kebingungan walau akhirnya bisa dikarenakan pertolongan pak dhe andi. Lucu juga rasanya dengan kejadian semalam, tapi romantis bagiku.

“ih, telinganya kotor sebentar ade ambil katenbat” ucapku, berlari cepat dan kembali lagi

“telinga suamiku bagus ya” ucapku

“bagusan punya ade” balasnya

“sama bagusnya kok sayang” jawabku

“balik sayang, yang satunya lagi…” lanjutku

“mas suka susu ade…” ucapnya sambil telunjuk jarinya menusuk-nusuk susuku

“kan sudah punya mas” jawabku

“he’em punya mas….” ucapnya salah satu tangnya melingkar dipinggulku dan merapatkan wajahnya diperutku

“kangen susu ade mas?” ucapku

“he’em bikin kangen tapi yang paling bikin kangen ade…” balasnya

“capek ya? ade pijitin mas…” ucapku

Kami kemudian berpindah ke kamar, aku memakai tang-top kesukaannya dan celana dalam kseukaanya aku mulai memiijitnya. Tubuhnya hanya berbalut celana dalam dengan punggung yang kasar. Hanya sekedar memijitnya karena aku bukan seorang tukang pijat profesional dan tidak pernah mengerti pijat memijat, tapi katanya kalau memijit suami tambah disayang.

“ade mau ke dapur sebentar” ucapkku

“eegh, he’em…” jawabnya sembari membalikan tubuhnya terlentang

“mau masak?” tanyanya

“buat mimi, biar mas tambah segar” ucapku dia teresnyum, aku meninggalkannya

Ting… Ting… Ting…

“ngobrol diluar yuk” ucapnya menghampiriku dan memelukku dari belakang

“he’em…” ucapku, suamiku meninggalkan aku an menuju halaman belakang rumah, aku mengikutinya dari belakang, kulihat dia memakai kaos dan celana boxer. Ku berikan minuman hangat dan kami duduk bersebelahan, kusandarkan tubuhku didadanya

“besok kelihatannya mas bakal sibuk lagi” ucapnya

“katanya ndak sibuk” ucapku

“tadi pas masih di hotel dapat BBM dari anak kantor” ucapnya

“puasa lagi?” ucapku

“ya, kan ade ndak capek, ade ya yang diatas” ucapnya

“ndak mau ah, cewek kok disuruh prasmanan” tolakku

“kan mas juga pernah prasmanan, masa ade ndak mau?” ucapnya

“kalau cewek capek, terus cowoknya gituin ya oke kan, cewek kan ladang… terima jad gitu sayang, masa tukang cangkul diladangin? Kalau ladang dicangkuli kan wajar” ucapku

“kan ada tuh terong dicabein he he he” ucapnya

“enak saja, high level kok doterongin… ” ucapku, sambil bersandar pada dadanya dan membelakanginya dengan kedua kakiku berada di atas bangku

Hening sesaat kudengar dia meyeruput minuman hangatnya…

“hi hi hi ha ha ha…” ku dengar tawanya

“mas kenapa sih kok tiba-tiba tertawa? Ade jadi takut nih” ucapku

“yang…” panggilnya

“hmm… slurupt…” jawabku

“mas cuma ndak nyangka saja… masih terasa gimana gitu kalau ngat kejadian dulu” ucapnya

“hi hi hi hi yang tambah bikin ade kaget, kok bisa sih mas waktu itu bilang suka langsung. Padahal ade-kan item jelek ndak terawat” ucapku

“mau tahu apa mau tahu banget? Rahasia…” ucapnya

“aaaa… ” manjaku

“mas kan sudah bilang…” dia meletakan minuman hangatnya

“coba senyum…” aku pun tersenyum

“ini yang bikin mas suka…” jawabnya,

“hanya senyuman?” tanyaku heran, dia mengangguk

“karena senyumu… berbeda… ndak tahu kenapa mas bisa mikir gitu tapi beda saja, enak kalau dilihat…” jawabnya

“aaaaa… peluuuuuuk…” ucapku setelah meletakan minuman hangatku

“dan ini nih yang bikin kepikiran terus…” ucapnya

“apa?” tanyaku

“manjamu…” ucapnya dengan kecupan di ubun-ubun kepalaku

***

Hari berikutnya aku dan mas melakukan aktifitas seperti biasanya tapi tidak dengan seks. Ingin berduaan saja dengannya. Bahkan karena mungkin saking lelahnya mas aku tidak tega ketika harus meminta, setiap kali pulang wajahnya selalu penuh kelelahan. Dia meminta tapi aku tak tega jika harus memforsir tubuhnya.

Dia bilang dia takut kalau aku tida dicangkul, aku hanya tersenyum dan menjawab agar tetap fokus dengan pekerjaannya terlebih dahulu. Walau ingin aku menahan, karena aku terlalu cinta kepadanya aku tidak ingin tenaganya yang dia gunakan untuk menafkahiku harus habis karena keegoisanku. Setelah di hotel, aku merasa aneh dengan diriku. Pulang dari hotel adalah hari keenam karena aku check in hari kelima.

Dihari kelima dua minggu berikutnya aku merasakan sesuatu yang aneh, hanya aneh saja tidak ada yang lain. Apa karena aku tidak berhubungan selama hampir dua minggu iini dengan mas ya? ya karena memang dia sudah bilang akan sibuk lagi. Ketika itu ada jadwal mengajar jam 1 siang, tapi aku memberi mereka tugas untuk dikumpulkan, karena perasaanku ada yang aneh jadi aku malas mengajar. Kulihat kalender di mejaku, dan..

“eh… harusnya kan?” bathinku

Aku segere melangkah dengan cepat dan menuju ke apotik terdekat. Setelahnya aku ke kamar mandi, aku letakan sebuah wadah kecil dibawah vaginaku. Dan kumasukan stik panjangnya… selang beberapa saat…

“dua strip…” bathinku, air mataku langsung mengalir, betapa bahagianya aku

Kubersihkan diriku dan kembali ke ruanganku. Ku ambil sematponku dan langsung aku membuka kontak pesan suamiku. Tapi, aku takut karena dulu aku pernah berjanji padanya untuk menikmati bulan madu kami sebelum menikah ada jarak yang sudah kami sepakati tapi… kuingat lagi terakhri kali dihotel aku memang tidak membawa pil untuk mecegah kehamilan. Tapi masa bodohlah langsung aku meminta mas untuk datang ke kampus dan dia menyanggupinya. Tapi…

“mas…” aku tersenyum ketika dia berada di depanku diruanganku, aku memeluknya

“eh, yang ada apa?” ucapnya

“aku… ini…” jawabku menunjukan 2 strip

“maksudnya..?” tanyanya

“aku hamil mas hi hi hi…” ucapku

“oh ya sudah, baguslah kan wajar. Ade kan cewek, ya sudah mas mau ke kantr lagi urusannya sedang banyak yang” ucapnya memelukku dan mengecup keningku

Sebuah reaksi yang tidak aku harapkan, datar tak ada senyum sedikitpun. Apa dia tidak suka aku hamil? Apa dia merasa aku ingkar akan janjiku?

“kenapa mas? Mas ndak senang?” tanyaku

“senang, mas ke kantor dulu yang… ya… dah dulu” ucapnya pergi meninggalkan aku

Aku antar kepergiaanya sampai keluar tempat parkir dan kulihat dia hanya melambaikan tangan ke arahku tanpa senyum sedikit pun. Kutahan air mataku, kenapa ketika aku hamil ekspresi dia seperti itu. apa ini bukan kebahagiaannya? Sedihku menjadi jengkel, marah, ku kirim sebuah pesan.

To : My Husband Arya
Ade pulang malam, banyak kerjaan!

From : My Husband Arya
Iya, tapi jangan malam-malam
Maksimal jam 8 malam
Dan kabari ade dimana

To : My Husband Arya
Ya..!

Setelah dari kampus aku hanya ke cafe milik dira, tak ada dira disana jadi aku hanya sendirian memandang taman kecil di cafe dira. Hingga matahari tenggelam, aku habiskan hampir sepuluh gelas jus buah-buahan. Kesal, marah…

“iya memang aku ingkar tapi bukan berarti tidak senang kan?! Aku itu istrinya! Kalau aku hamil sama orang lain baru kamu marah! Dasar suami ARGH!” bathinku

Aku melangkah pulang, gratis kalau di cafe dira, secara uangku tidak laku di cafe milik dira. Aku arahkan mobilku untuk pulang kerumah, dan kudapati motor suami paling menyebalkan sudah ada dirumah. Aku keluar dan aku tendang motor REVO REVIA halah bodoh! Aku segera melangkah ke dalam rumah tak kudapati suami menyebalkan itu, hanya sebuah tas plastik penuh dengan buah-buahan apa itu?! hah bodoh… masuk kamar, ingin rasanya aku gampar suami menyebalakan ini tapi kudengar sebuah teriakan dari dalam kamar mandi kamar. aku duduk dan menghadap ke arah kamar mandi yang tertutup rapat itu, melongo.

“HA HA HA HA HA HOLEYO LEYO… ELO ENTE KAMU KEREN BRO, AKHIRNYA KAMU TUNJUKAN PADA DUNIA BAHWA KAMU ADALAH DEDEK ARYA TERHEBAT! KAMU BUAT DOSENKU HAMILLL HA HA HA HA… AKU LELAKI HEBAAAAAAAAT! DUNG PAK TING TING JOS JOS JOS DUK PAK TING TING JOOOOOOOOSSSS HA HA HA”

“HARI INI AKU MENGANKAT DIRIKU SEBAGAI LELAKI HEBAT! ISTRIKU HAMIL HO HO HO HO HUAWAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA SYALALALALALA AKU MAU JADI BAPAK AKU MAU JADI BAPAK HUWAKAKAKAKAKAKAK AKU MAU PUNYA ANAK YES YES YES HA HA HA… BU DOSEN ITULAH AKIBATNYA KALAU KAMU MENCINTAI MAHASISWAMU YANG GANTENG INI HA HA HA HA HA”

Aku benar-benar kaget setengah mati mendengar nyanyian suamiku. Hatiku yang panas, tanganku yang ingin menggamparnya seakan melelh menjadi haru. Sebegitu senangkah dia tapi kenapa tidak kau ungkapkan di depanku? Apa karena kamu malu? Atau kamu mau main kucing-kucingan ya? hmmm… kulihat sematponnya dan ku buka, masih ada browser yang terbuka. Aku tersenyum melihat artikel yang terpampang di layar sematponnya.

“HARI INI KUDENDANGKAN LAGU BARU YANG KU NYANYIKAN, SEORANG PEREMPUAN HAMIL KARENA KONTOLKU JRET JRET JRET JRET AKU AKAN JADI BAPAK JADI JADI BAPAK KARENANYA, KARENA ISTRIKU HAMIL, HAMIL ANAKKU AKU SENANG SEKALI… HA HA HA BAHAGIAAAAAAAAAA!” teriaknya

Ku dengar suaranya berhenti dan hendak keluar, aku langsung berdiri kuletakan sematponnya apda posisi semula dan memposisikan diriku seakan-akan baru masuk ke dalam kamar. dia sempat terkejut ketika melihatku, dan aku memandangnya dengan tatapan malas.

“lho ade sudah dari tadi” ucapku

“ndak, barusan” ucapku judes

“ade mau dimandiin?” rayunya

“ndak, punya tangan sama kaki ngapain diamndiin” balasku judes

“mas mandiin ya?” bujuknya

“ngapain dimandiin?” ucapku, sambil melepas pakaianku

“ya, kan biasanya dimandiin mas kalau mas pulang ade minta mandi lagi” ucapnya

“ya sudah cepetan, ndak usah lama-lama, lagi males” ucapku

Dengan hati-hati dia menuntunku, seakan dia tidak ingin tergesa-gesa. Aku melihatnya memperhatikan langkahku, tanganku digenggamnnya erat. ketika hendak duduk biasanya dia hanya menyediakan kursi saja, tapi sekarang setelah kursi kecil disediakan dia langsung berdiri lagi dan meraih tanganku diarahkannya aku duduk dengan hati-hati. Aku dimandikannya dengan hati-hat pula. Selepas mandi, aku berganti pakaian dan suamiku keluar, kudengar suara blender dari arah dapur. Aku duduk dan tersenyum sendiri karena tingkahnya.

“eh, yang ini ada jus alpukat enak lho, alpukatnya matang sudah mas tambahi susu coklat” ucapnya

“ade dah punya susu, lagian ngapain alpukat, nanas muda saja atau durian!” jawabku judes

“eh, jangaaaaan ndak baik” ucapnya

“ndak baik apa? Biar ambrol sekali saja yang didalam” judesku

“eh, ndak boleh gitu sayang, ini mas buatkan kan cuma untuk kesehatan ade. ade kan jarang makan buah” ucapnya, padahal setiap hari juga makan buah

“ini diminum sayang, ayo dong, masa gitu sama mas” ucapnya

“mana!” jawabku, langsung aku minum hingga habis

“buat apa alpukat? Buat kehamilan?” ucapku

“ya ndak tahu pengen saja buatin ade jus alpukat” jawabnya tetap mengelak

“kalau ndak suka hamil digugurin saja napa, mumpung belum ada nyawanya” jawabku judes

“mmm… terserah ade sih, kalau mas jangan” jawabnya datar sembari meninggalkan aku dikamar

“Huh! Apa dia memang lebih suka mencintai seseorang dengan perlakuan ya? daripada ucapan? Hmmmm…”bathinku

Selepasnya aku tidur, tubuhku dipeluknya dari belakang. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dan aku tidak bisa tidur dengan tenang. Sekalipun puting susuku dimainkannya dan kepalaku dielusnya tapi tetap tidak membuatku tertidur. aku putuskan untuk pura-pura tidur, dan mengatur nafasku. Selang beberapa saat tangan yang memainkan putingku hilang entah kemana dan beberapa menit kemudian kembali lagi.

“ade..” panggilnya, aku tetap diam beberapa kali aku dipanggilnya dan aku diam saja.

Kurasakan tubuhnya hilang dari belakang tubuhku dan kemudian kurasakan elusan lembut diperutku.

“hey… kamu cowok apa cewek?” ucapnya, ku buka sedikit mataku dan klihat dia tengkuran dengan kepala menghadap ke arah perut

“ooohhh ya ya ya… ndak papa, ayah ndak minta kamu harus sesuai keinginan ayah, tapi kamu sehat ya didalam sana? Jadi anak pinter didalam ya?” ucapnya ngomong sama perut, antara geli dan bahagia melihat tingkah suamiku, aku tetap tidur

“iiih kamu pinter banget jawab pertanyaan ayah, eh jangan buat ibumu muntah-muntah ya sayang? Nanti ayah belikan mainan ya” ucapnya lagi

“nanti ayah ajari bela diri juga ya biar kamu bisa jaga diri kamu, mau kamu cewek apa cowok ayah ndak masalah kok ya ya… ntar anak ayah juga diajari sama ibu kamu yang cantik itu, cara dandan, dan terutama masalah cinta hi hi hi eh ayah kejauhan ya? hi hi hi…” ucapnya lagi

“hmm… kamu didalam sana kaya apa ya? ayah kok penasaran?” ucapnya

“pokoknya kamu hati-hati ya sayang, baik-baik didalam, nanti kalau kamu keluar ayah yang akan jagain kamu dan ibu kamu. karena ayah itu orang kuat dan hebat” ucapnya, pengen nangis rasanya dengar peracakapan bodohnya. Aku kemudian membalikan tubuhku.

“eh, ugh hoaam… mas… mas…” ucapku pura-pura mencarinya

“ya de…” balasnya yang sedang berdiri

“mas kok disitu ngapain?” tanyaku

“eh, ndak tadi ada hewan kecil mas kejar saja” jawaban konyol, dia melangkah keluar

“mau kemana?” ucapku

“ke belakang dulu, mas mau… mm…” ucapnya

“ya sudah, mas ngrokok nanti kalau tidur cuci muka dan gosok gigi lagi sekalian ganti baju” ucapku

“iyaaa…” jawabnya, kulihat dia keluar dari kamar

Kulihat sematponnya dan kubuka browsernya kembali, kulihat history pada browser. Aku tersenyum melihat apa yang dia baca. Sebegitukan dia? Ah, mau main-main ternyata, okay ade ladenin. Ku lepas semua pakaianku dan aku keluar dari kamar menuju ke halaman belakang. Aku bersandar pada pintu dan kulihat dia sedang merokok.

“mas, jangan banyak-banyak” ucapku, dia menoleh

“iya… eh, ade kok telanjang glek…” ucapnya menelan ludah

“penat didalam” ucapku, bisa kamu menahan godaan ini

“ade pakai ashhh baju ya sayang ya” ucapnya

“ade pengen, sudah beberapa minggu ndak dijatah” judes jawabku. Dia berdiri dan melepas kaosnya dan dipakaikan ke tubuhku

“besok saja ya sayang, nanti ade sakit kalau ndak pakai baju ya” ucapnya

“mas sudah ndak cinta ya? ade kan minta jatah, masa ndak dikasih hiks… kalau tubuh ade dah ndak bagus bilang saja, sudah jelek,sudah ndak mulus lagi apalagi hamil tambah mbrot, iya kan? Bilang saja?! terus mas mau nyari lagi gitu kan?!” ucapku pura-puura ngambek

“eh, bukan begitu ini kan sudah malam. Tubuh ade masih bagus kok, masih ranum, masih sempit, masih montok, buktinya mas tadi sudah ndak sabar mau nubruk ade” ucapnya

“ya sudah sekarang!” ucapku dengan nada tinggi dan manja

“eh, bukan begitu… ini kan malam sayang… besok saja ya, tuh wajah ade kecapekan” ucapnya

“ya sudah, janji lho… gendong cepetan!” ucapku

Aku digendongnya ke dalam kamar masih menggunakan kaosnya. Suamiku kemudian bersih-bersih, dilepaskannya kaos yang aku kenakan dan diganti dengan yag baru.

“ade suka itu” ucapku manja

“ya, ini kan bau rokok” ucapnya

“biasanya juga bau ndak papa!” ucapku

“eh, itu anu… ganti saja, dah kotor” ucapnya mengelak

Setelahnya aku memakai kaos darinya, aku dipeluknya. Dalam hati aku tersenyum, kenapa suamiku? Takut ya? hi hi hi, gara-gara artikel yang kamu baca untuk mengurangi seks dengan istri di kehamilan trimester pertama gitu? Dasar! Aku pura-pura tertidur, kurasakan elusan pada putingku turun kebawah dan mengelus perutku. Suamikuuuu… suamiku… hmmm…..

Keesokan paginya aku mendapat telepon dari mama diah dan juga mamaku. pertama, mama diah menyarankan agar aku tidak eminum ramuannya karena akan berdampak buruk pada kehamilan dan aku langsung menyetopnya.

Mamaku juga sama, setelah adikku lagir mama menyarankan aku untuk banyak makan sayur dan buah-buahan. Sesekali mereka berdua menengokku, dari penuturan mama diah, suamiku sangat bahagia tapi kalau dilihat dari wajahnya ndak sama sekali. Hanya perlakuannya saja tambah membuatku cinta dengannya.

Begituah hari-hariku kulalui, cekcok ya kadanglah kalau dia pulang malam atau bahkan ndak ada kabar sama sekali. Kalau aku marah suamiku hanya diam saja, mendengarkan sambil tersenyum memandangku. Baru setelah aku reda, dan pergi tidur sambil ngambek baru dia memelukku dari belakang.

Aku cuek, tapi dia terus bercerita kenapa tidak ada kabar, kenapa pulang malam. Terus bercerita dan aku mendengarkan walau tidak memandangnya sama sekali. Lama kelamaan hatiku kemudian tenang tatkala dia bercerita saat aku marah, saat aku ngambek. Dan dia selalu tahu apa yang aku inginkan ketika hendak tidur, sentuhannya.

Oia, ada lagi. Sekaran setiap berangkat Sekarang kalau aku mengajar semuanya di lantai gedung kampus. Entah mengapa ruanganku berpindah. Karena penasaran aku mendatangi ketua jurusanku (kajur).

“suamimu si arya yang minta katanya kamu hamil” ucap kajurku

“bapak kan bisa menolak, saya jadi ndak enak dengan dosen lain kan” ucapku

“yang lain sudah bapak beritahu dan memakluminya. Lagian suami kamu itu ngancem kalau ndak dipindah ya kamu disuruh berhenti jadi dosen. Jurusan ndak mungkin lepas kamu yan, secara kamu paling berprestasi, dosen-dosen lain juga ndak mau kehilangan kamu” ucapnya. Aku terkejut, sampai segitunya suamiku,.

“sudah, ndak papa tenang saja. namanya suami pasti khawatir yan. Mas ini ditanda tangani ya?” ucap dosen senior perempuan

“iya mbak” ucap kajurku

“eh, ibu… iya bu, saya kan jadi malu” balasku

“malu kenapa? itu tandanya mantan mahasiswa kamu itu sayang sama kamu, cinta mati itu. dulu suamiku, haduuuh kehamilan pertama wajahnya biasa saja tapi kesehariannya enak banget lho” ucap ibunya

“enak bagaimana bu?” ucapku

“ada deh masa mau diceritakan, sudah mas?” ucap nya kepada kajur

“iya mbak sudah” jawab kajurku

Aku kembali ke ruanganku, menunggu jam mengajarku. Kalau aku ingat sejak aku hamil, aku tidak pernah yang namanya mencuci pakaian, piring, memasak. Semua suamiku yang menyediakannya. Aku hanya tinggal terima jadi saja, ndak pernah pusing dengan urusan rumah. Rumah semuanya dia, aku jadi ratunya.

Setiap hari pula mas selalu mengirimkan pesan agar aku hati-hati kalau berjalan. Kalau ada jam mengajar berdekatan tidak perlu kembali ke jurusan langsung menunggu di perpus yang berada di gedung kuliah. Siang sebelum jam 12, mas selalu sudah stand by di dalam ruanganku untuk mengajakku makan. Makanku pun diperhatikannya, harus inilah itulah, apalah.

Aku sudah tidak lagi mempedulikan SANDIWARANYA itu. karena aku sudah merasa sangat bahagia dengan sikapnya, dia meninggalkan kantornya hanya untuk mengantarku makan siang. Beberapa adik tingkatnya yang masih kuliah kadang menggodanya tapi dia hanya tersenyum saja. dia sangat perhatian, tidak dengan kata-katanya tapi dengan sikap dan tingkah lakunya.

Kehamilanku semakin bertambah, dan perutku semakin membesar. Jalanpun kesulitan, suamiku semakin memperhatikanku. Semua gerak-gerikku diperhatikan, bahkan ketika aku tidur pun aku selalu di miringkan ke kiri karena menurut bidan untuk menyesuaikan letak kepala si bayi.

Dia selalu terjaga dan memiringkan tubuhku kekiri ketika aku tidur terlentang kemudian dia merapatkan tubuhnya agar aku tidak terlentang kembali. Di usia enam bulan, baru dia memasukan penis kesayanganku ke dalam vaginaku setelah enam bulan lebih diberpuasa. Aku tahu tujuannya untuk melancarkan jalan lahir.

“erghhhh…. mas kenceng dikit…” godaku, ketika penisnya amblas kedalam lebih terasa sangat mentok dengan penis baru saja masuk sebagian

“eh, jangan yang…” ucapnya

“kenapa? kan mas ndak suka ade hamil” godaku lagi

“bukan gitu, eh itu anu…” ucapnya

“ya sudah pelan saja, tapi lama ya mas ngocoknya… dimasukin yang dalem dong sayang, itu masuknya baru sebagian” godaku

“jangan yaaaaang… segini saja, mas puas kok, benera” ucapnya

“ntar ade ndak keluar, dah dak seksi ya?” ucapku memasang wajah sedih

“seksi sayang seksiiiii sekali…” ucapnya menciumku

Begitulah ketika aku disetubuhinya, tak ada kata-kata kotor dan tak ada permainan yang hot tapi sudah memebuatku cukukp puas. Dan yang membuatku semakin aneh adalah aku suka melihat suamiku telanjang dengan batangnya tegang.

Hanya melihatnya untuk menyentuhnya tidak, apa ankku cewek ya? Suamiku kelihatan sangat takut jika ketika berhubungan aku mencapai orgasmenya, makanya setiap kali dia sudah keluar dia selalu memberikan orgasme bathin kepadaku. Memanjakanku, bahkan menjadikan aku bak seorang ratu baginya.

Setiap saat setelah usia kandungan 6 bulan ke atas, suamiku rajin sekali memijat bibir vaginaku, kata bidan sih pijat perenium namanya untuk mengendurkan otot-otot vagina tapi setelah pijat perenium selalu pijat dengan menggunakan peninya.

Seksi? Selama kehamilanku semakin membesar, aku merasakan keseksian tersendiri. Aku merasa lebih seksi dan montok dari sebelumnya, ditambah lagi ketika usia kehamilan semakin tua susuku terasa semakin membesar. Aduh, sudah perut besar ini susu juga semakin besar berat jadinya. Hi hi hi… keisi asi mungkin ya. kucoba berkaca didepan cermin dengan tubuh telnjangku, memang benar-benar montok hi hi hi.

Menjelang kelahiran anak pertama kami, sumaiku lebih rajin berada dirumah dan mengantarku pulang pergi kampus sampai akhirnya aku cuti hamil. Suamiku jarang sekali berangkat ke kantor katanya sudah ada yang mengurusi, tinggal auto pilot dari rumah.

“yang penting itu kamu”

Ah kata-katanya sok gombal padahal dulu saja waktu hamil dia biasa saja, tapi setelah waktu berjalan. Dia sering sekali mengelus perutku, bahkan bicara sendiri dengan yang ada didalam tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Kalau ditanya suka aku hamil, “iya” begitu katanya, tambah montoklah susu tambah gede dan kadang ada cairan sedikit saja dia langsung sedot sekuat tenaga.

Malam hari perutku mulal rasanya didalam berontak, dengan sangat cepat suamiku memapahku dan membawaku kerumah sakit. Disana sudah ada tante asih yang menangani, bahkan suamiku selalu berdiri disampingku. Sebuah tempat duduk untuk melahirkan sekaligus bisa untuk berbaring dengan yang hanya menyangga pahaku dan punggungku, di gunakan agar tulang ekorku bisa membuka dengan sempurna dan bayi bisa keluar dengan selamat.

“mainkan putingnya ar..” ucap tante asih,

“cepetan! Untuk merangsang hormon oksitosin, biar lahirnya lancar!” bentak tante asih

Aku merasa ketika tangannya mulai memainkan putingku memang terasa seperti ketika aku mau orgasme saja tapi ini situasi sedang melahirkan. Hingga akhirnya anak kami lahir, menangis meraung-raung. Aku menangis ketika melihatnya, kulihat suamiku juga meneteskan air matanya. Sengaja tidak kami USG untuk dijadikan kejutan bagi kami berdua. Lahir secara normal, dengan berat 3,4 Kg an panjang 50,5 cm. Putih bersih, dan cantik… langsung di tengkurapkan di tubuhku agar dia belajar menyusu pada ibunya. Dengan masih paha masih terbuka, vaginaku dijahit terasa sakit tapi hilang karena kebahagiaanku.

“katanya ndak suka?” godaku

“suka yang suka seneng banget hiks…” ucapnya, aku semakin terharu

“sisain sedikit buat ayah nak” ucap suamiku

Plak…

“aduh…” suamiku mengaduh

“masih saja sempet mikir kaya gitu?!” ucap tante asih yang menampar kepala arya

“yeee… dulu juga, ada yang bilang gitu sama tante weeeek…” ucapnya

“dasar! Ya sudah, ini sudah dijahit. Dian jangan tidur dulu ya sayang, masih dalam pengawasan” ucap dokter teman tante asih, dokternya cewek lho bukan cowok, mereka berdua meninggalkan kami berdua

“siapa mas namanya?” ucapku, kulihat bayiku sudah mulai menyusu

“Ardiana, Ardiana Warda Pitaloka” ucapnya, sembari mengecup keningku. Aku mengangguk..

“Ardiana apa artinya mas?” ucapku, kalau warda dan pitaloka aku sudah tahu

“ARya Dian SelamaNyA…” ucapnya

“he’em…” jawabku tersenyum

Hingga pagi hari, dan kemudian kami bisa kembali kerumah. Rumah menjadi sangat ramai, koplak teman-teman suamiku datang berkumpul. wongso, aris sudah membopong bayi perempuannya sedangkan yang lain masih mengandung dan kurang beberapa bulan lagi melahirkan. Dan semua anggota koplak anak pertamanya adalah perempuan tak ada yang laki-laki. Karena dari teman-teman suamiku sudah melihat di USG dan perempuan semua.

“Wah, koplak jadi cewek semua ni. Baguslah ndak bikin ribut!” ucap tante asih

“yeee pertama cewek tapi nanti yang kedua tan, cowok, lebih sangar!” teriak karyo

“kalau tante sih dan pensiun, paling ada dari yang datang menggantikan tante” ucap tante asih

“biar martha saja yang menggantikanmu sih kalau ada kumpulan anak cowok bikin rusuh” ucap mama diah

Begitulah mereka kalau sudah berkumpul…

“iiih adikku masih bayi sudah punya keponakan, ndak papa ya dik” ucapku kepada anak mamaku

“iya ini, Daniati Rahmawati Sukoco dah punya adik sama tuh dengan Martha Undi Pitaloka” ucap mamaku

“sssttt… yan, ramuannya diminum lagi ya, bagus buat produksi susu tapi kalau hamil lagi stop, okay dear?” ucap mama diah aku mengangguk

Kami berkumpul semua, teman-temanku juga menjengukku. Semua datang memberiku selamat atas kelahiran anak pertamaku. Dan tampak sekali suamiku sekarang akan menjadi sibuk lagi, karena ratu dikeluarga ini bertambah menjadi satu lagi. Selama 40hari, dia berpuasa lagi ya karena memang belum boleh dimasuki kan? Hi hi hi… tepat ketika malam ke 41 setelah kelahiran anakku.

“yang, dari kemarin kok mas ndak disisain susunya sih. Susu aja yang, puasa ndak papa deh” ucapnya

“iiih… kan buat anak kamu tuh, ngenyotnya kenceng banget” ucapku

“yaaaaah… dapet punggung lagi dong” ucapnya

“tuh, sudah bisa dipakai sayang, tapi pelan-pelan, sudah41 hari lho, masa mas ndak ngitung?” ucapku

“ya mana sempet ngitung, ngrusin duo ratu” ucapnya

“nyesel nih? Ngambek?” godaku

“endaaak sayang endaaak seneng banget malahan” ucapnya

“Diana, bobo ya, ibu mau di cangkul sama ayah kamu tuh wajahnya sudah merah…” ucapku, Aku berbalik…

“mau ndak?” godaku

“High Temperature or low temperature?” ucapnya

“whatever, i’m safe right now… high or low, just rock me with my lovely dick” jawabku, memeluknya

“yang…” ucapku

“hmm…” jawabku melepaskan pelukan dan memandangnya

“iyaaa…” aku mengerti maksudnya

Aku berganti pakaianku, tak lagi aku memakai daster untuk menyusui

“ini sayang?” ucapku sembari meggigit bibir bawahku. Tang-top putih kesukaannya, susuku tampak menyembul besar dengan bra penyangga dan sebuah celana dalam minimalis berwarna hitam.

“seksi…”

“Diana bobo yang nyenyak, ingat ndak boleh bangun ya sayang” ucapnya

Suamiku mendekatiku dan langsung mengulum bibirku. Lembut sekali, tangannya meremas-remas susuku.

“jadikan aku rajamu…” ucapnya disela-sela ciuman

Aku tersenyum dan langsung berlutut dihadapannya. Kulepas celana sekaligus celana dalamnya. Kakinya membuka sedikit, dan kepalaku mendongak tepat dibawah penisnya. Lidahku mulai menjilati bagian bawah zakarnya, mataku terus terbuka melihat ke wajahnya. Dia tampak tersenyum menikmati permainan lidahku. Ku lahap buah zakarnya dan kusedot-sedot.

“ah, sayang… aku ingin puas pokoknya harus puas…” racaunya sembari memejamkan mata

“he’emm… slurrp slurrrpp…” jawabku dengan sedikit senyum dan kembali menikmati apa yang harus aku nikmati.

Lidahku mulai menari lagi di batang penisnya yang berotot itu, aku mainkan lidahku disekitar batangnya hingga semua tersapu oleh lidahku. Hingga diujung penis, lidahku menari-nari dengan kepala bergoyang-goyang.

“sudah kangen sayang? Maaf ya puasanya kelamaan satu hari… tuh, dedekku juga sudah kangen” ucapku kepada penis suamiku

“RAPE HER BROTHER! RAPE HER!” mungkin itu yang akan dikatakan oleh penis suamiku hi hi hi

“kulum dong sayang, jangan diajak bicara terus… sudah kangen tuh sama mulut ade…” pintanya

“mmm… hi hi hi…” aku tertawa sembari menaruh penisnya dileherku

Aku ciumi sekitar pangkal penisnya dan bergerak ke arah ujung penisnya. Kulahap pelan, pelan sampai semua batang masuk hingga tenggorokanku. Kutarik pelan sembari memainkan lidahku di penisnya, kumaju mundurkan kepalaku.

“ah sayang enak sayang… yang lama sayang… mmmhhhh… mulutmu benar-benar nikmat sayanghhh…” ucapnya

Aku semakin bersemangat mengulum penisnya, ku lumat habis penis itu hingga tak bersisa. Semua ku lahap habis, hingga air liurku menetes dari bibirku.

“ah ah ah… sayang… lagi sayang?” ucapku yang sedikit kelelahan

“lagi… sampai mas bilang berhenti” ucapnya, aku tidak bisa menolaknya

Aku kembali mengulum penisnya, kusedot kuat penisnya. Hingga tangannya menahan kepalaku untuk tetap mengulum penisku. Kurasakan semburan dari penisnya, dia mengejang sesaat. Ku tahan sejenak dan ku telan semua cairan cintanya.

“enak sayang?” ucapnya

“hash hash … slurrp slurrrppp he’em enak banget…” ucapku

Aku diangkat dan di bungkukan dengan bersandar tempat tidurku, dengan posisi menungging tapi tetap berdiri sembari elihat Diana yang masih terlelap. Tangannya kemudian mengocok vaginakku.

“ah sayang… jangan keras-kerash erghhhh… langsung dimasuki saja sayanghhh…” racauku

“eh, iya sayang kayaknya sempit banget ini” ucapnya

“erghhh sayaaaaaanghhhh eghhhhhhh mmmmm ssssssshhhhh pelannnhhh…. besar bangettthhhh…” desahku

“ah sempit yang, harus dicangkul setiap hari ini yang ohhhh…” racaunya

Tubuhnya mulai bergoyang, tangannya memelukku dan meremas susuku. Semua pakaianku ditarik keatas hingga susuku menggantung indah, diremas dan dimainkan susuku. Punggungku diciuminya seperti anak kecil yang mendapatkan mainananya kembali. Terasa sakit, tapi kenikmatan mulai menjalar ditubuhku.

“ah, sayang yah terussshhh robek memek ade mass…. ahhh… kontol mas… ahhh memek ade kerasa sekali nikmat owhhh…” racauku

“kontol mas juga enak didalam memek ade… arghhh…” racaunya

Pompaannya semakin kencang kakiku sudah tidak bisa menahan tapi tangannya menahan pinggulku. Aku bergetar, sususku terombang ambing. Bibir bawahku aku gigit, sedikit lagi aku merasakan orgasme yang tak pernah aku rasakan setelah melahirkan. Tanganku mulai melemas…

“aaa… aa … de hammmpppp phirrr kel lu aaar arghhhhh” ucapku bergetar

“keluarkan sayang ohhh.. kontolku ingin menikamati cairanmu” ucapnya

“argh a a a a a a aa de keluaaarrrrrrrrrr erghhhhh….” seketika itu juga, penisnya di hujam kan sedalam mungkin hingga tubuhku ambruk ke tempat tidur dan suamiku masih mengikuti pergerakan vaginaku.

“aash ash ash ash… enak bangeth mashhh…” ucapku

“memek ade juga cup…” ucapnya menciumi wajahku dari samping

Oeeeek oeeeek oeeeek… aku dan suamiku langsunng bangkit, tanpa berbicara. Dan langsung aku susui anakku, tiba-tiba suamiku menganngkat tubuhku dan memposisikanku merangkak diatas diana. Susuku masih dikenyot oleh anakku.

“mas… nanti mas…” protesku

“yaaaaaaang….” rengeknya

“iya maaf, pelan ya sayang” ucapku, kembali penisnya tertancap dan masuk kedalam diam sejenak

“kaya sapi ni ade..” ucapku

“diana anak sapi, kamu sapi betina, aku sapi jantannya” jawab mas santai

“dasar, cepet masssh digoyang dong.. udah masuk tuh…” rengekku

“arghhh yah mas pelan massshhh susunya nanti lepas dari dianahhh arghhhh… mmhhh…” racauku

Satu tanganku menjaga susuku agar tetap terpasang dimulut diana, sedang vaginaku terus ditusuk-tusuk oleh penis suamiku. Aku mendesah tertahan takut jika suaraku mengganggu diana, tapi tempat tidur ini bergoyang membuat diana malah tambah nyenyak. Tak puas dengan posisi ini, suamiku menidurkanku miring, aku posisikan diana tetap menyusu padaku. Kakiku di angkat ke atas dan penisnya kembali masuk.

“arghhh…. masssshhh… cium ade massssh…” rengekku

Sembari menggoyang pinggulnya, tangannya menahan pahaku, serta bibirnya mencium bibirku. Habis sudah aku, semua tubuhku harus melayaninya ditambah menysui anakku. Goyangannya semakin keras, aku merasakan ciumannya semakinliar dan terlepas.

“mas mau keluar… yanghhhh…” ucapnya

“adehhh juga lebih kenceng…” ucapku

“diana bagaimana…” ucapnya

“sudah… cepetannnnhh adeh dah ndak tahannnhhhh…erghhhh” pintaku

Goyangan semakin keras, tepat ketika penisnya masuk sangat dalam ke vaginaku aku mengalami orgasmeku. Kurasakan air mani yang berlimpah di vaginaku, tubuhku mengejang tertahan karena ada diana disampingku. Aku lemas, lebih cepat dari biasanya, mungkin karena efek ketika susuku dikenyot oleh anakku. Wajahku kembali diciuminya, kepalaku kembali di elusnya. Hingga aku terlelap dengan vagina dan perut penuh dengan spermanya.

Hari berlalu, seks kini sudah menjadi kembali normal, apalagi perkerjaannya juga sudah terkendali. Tak pernah aku memakai pakaian tertutup jika dirumah, setiap hari aku mengenakan linger ketat yang hanya ada tali yang menggantung di kedua bahuku, tidak transparan karena suamiku tidak suka kalau terlalu terekspose.

Berangkat pagi pulang siang selain menjenguk istri dan anak, jug amenjenguk dedekku. Pernah suatu ketika, aku sedang duduk di sofa menyusui diana. Tiba-tiba suamiku melepas celananya dan mengarahkannya kemulutku. Ku tutupi diana dengan tanganku dan kemudian mengulum penisnya.

“ahhh yanggg enakkhh… kamu kalau menyusui bikin horni yanghhhh…” ucapnya

“mmmmppphhh… sluurrrppp…” kepalaku maju mundur mengulum

Selang beberapa saat aku keluarkan penisnya…

“mas masukiiin sudah basah punya ade” ucapku

Kutidurkan diana di sofa, dan aku miring ke arah sandaran. Kakiku menekuk dilantai, tapi susuku masih dikenyot oleh anakku. Penisnya masuk dan mulai menggoyang, setelah aku yakin diana tertidur. aku merangakan beralih di karpet depan sofa.

“arghh sayang terussshh sayang enakkkhhh owhhh yah kontolmu enakkkh bangetthhhh erghhh…: racauku pelan

“pasti sayang ini kontolmu kontol milikmu pasti akan membuatmu mersakan nikmat…” racaunya

Lingerku dinaikan, dan susuku diremas. Gaya anjing ngentot ini membuatku lebih liar, karena dalam benakku aku adalah anjingnya. Setiap tusukan membuatku mendesah nikmat. Tak puas, aku dibaliknya dan ditelanjanginya aku, kakiku dibuka lebar dan vaginaku kembali dirajam oleh penisnya.

“arghhh… kerasssshhhhs ayang lebih kerasssshhh…”racauku dengan susu naik turun didepannya

“yah, mmmmpphhh sluurpppp…” bibirnya mengulum susuku,

“aarghhhh yah sedot yang kuat mimi ASI nya owhhh yahhh teruuuussssshhhh… mmmmhhh…” teriakku yang sudah tidak pedului dengan anakku yang tertidur

Semakin cepat dia menggoyang tubuhku semakin bergetar. Aku peluk erat lehenya, kakiku menguncinya. Hentakan keras aku dapatkan hingga pintu rahimku terkena ujung penisnya. Aku mendongak dan mengejang beberapa saat, ketika kunci kakiku melonggar. Pingggulnya kembali bergoyang….

“aaarghhh masssshhhhhh…” desahku

“Sedikit lagi yang…” ucapnya

“mashhh keluarrrhhhhh masshhh keluaaarhhh arrrrghhhh…” teriaknya, kembali menghujam penisnya dan membuatku melengking

Semburan spermanya terasa sekali. Suamiku beringsut kesamping dimana aku miring dan bisa melihat diana. Bibirnya terus menyedot asiku, silih berganti susuku menjadi sasaran bibirnya. Hingga suamiku tertdur dan aku ambil anakku untuk aku tidurkan didalam kamar, ku batasi dengan guling kiri dan kanannya. Aku dekati suamiku, pahaku masih terasa hangat oleh spermanya. Aku peluk kepalanya agar berada di susu kesukaannya.

Dengan bergantinya bulan, aku menitipkan anakku ke mama diah atau mamaku dan mengambilnya ketika aku pulang kerja. Kadang suamiku sudah mengambilnya karena dia sekarang menjadi pimpinan dan hanya mengontrol usahanya.

Tak bisa kami seliar dulu, karena diana sudah tumbuh menjadi bayi yang sudah memeperhatikan gerak-gerik orang tuanya. Kami tidak berani mengambil resiko, karena bayi usia 0 hingga 3 tahun adalah masa dimana dia mulai merekam semuanya dan pasti akan meniru, daripada dia tahu mending tidak mengambil resiko kan? Suamiku pun setuju. Well, that’s all my story.

Bahagia? Jelas itulah yang aku rasakan. Aku sebenarnya tidak begitu mempedulikan bentuk tubuh istriku, karena kadang aku pengen juga melihat susunya kendur dikit tapi tak apalah mungkin karena ramuan dari ibuku. ibuku juga begitu, susunya tidak mengendur waktu jadi kekasihku.

Tapi itulah istriku, selalu lebih hot dan hot setiap harinya. Diana tumbuh menjadi bayi yang sehat dan cerdas, untung saja dia tidak melihat kami lagi kuda-kudaan. Kami tidak pernah berani mengambil resiko seperti penuturan istriku agar lebih menjaga sikap didepan anak. Karena sedikit saja kita salah, anak pasti akan meniru. Merokokpun aku selalu keluar jauh, walau kadang tiba-tiba istriku keluar dan memanggilku semabrai menggendong diana.

“ayah, ini anaknya manggil –manggil a yah terus” teriak istriku dari gerbang rumah ketika aku keluar rumah untuk merokok, disebrang jalan

“aduh, di gendong dulu dong sayang… baru saja nyala” ucapku

“penting mana sih rokok apa anak?” teriaknya, aku menyerah dan langsung berlari kearanya untuk menggendong diana

Beberapa bulan kemudian aku mendengar istri-istri koplak mulai hamil lagi tanpa sadar juga…

“yah, dua…” ucap istriku kala itu aku sedang menendong diana bermain di halaman belakang rumah

“dua apanya?” ucapku tanpa menoleh

“ini…” ucapnya memperlihatkan dari tepat diwajahku,

“owh…” ucapku

“YES! AKHIRNYA HAMIL LAGI HA HA HA HA” Bathinku berteriak

“gitu saja?” ucapnya

“iya…” ucapku

“ingat, ada tiga yagn harus dilayani…” ucap istriku meninggalkan aku

“siap!” ucapku

“ayah… ayah… tatat dididi dada yuyu tatata…” ucap diana, usia 14 bulan dan belum bisa bicara hanya bisa mama dan ayah

“iyaa… kamu bakal punya adik, jadi kakak perempuan yang baik ya, adiknya disayang, diajak main ya sayang…” ucapku

“he’em… tatat didii dudu tatata tutu ta…” ucap diana

Aku tersenyum dan menggendong diana masuk kedalam rumah. Adikku martha, berumur 2 tahun sudah memiliki adik lagi bernama Adini Pitaloka, cewek lagi. Andini ya pastilah Ariya Diah hiNgga matI, jelas itu. semua berjalan normal, kadang cekcok pastilah tapi aku tidak bisa marah berlarut-larut pada istriku. Emang mau bobo sama guling? Cokli? Gila apa aku? Ha ha ha…

Tepat ketika anak pertamaku diana berumur 2 tahun, seorang bayi laki-laki dengan bobot 3,4 kg panjang 51 cm lahir, hampir sama dengan mbaknya.

“siapa?” ucap istriku ketika itu

“Ardian Warna Wicaksono” ucapku

“Cuma beda ‘a’?” ucapnya

“he’em… nanti yang ketiga dan seterusnya dibuat beda deh. Masih kuat?” ucapku

“itu dedek suamiku kuat ndak? Kalau istri kuat terus kan dicangkul?” godanya

“i’d do everything for you… I Love You” ucapku, mengcup bibirnya

“i love you too…” ucapnya

Tiga bulan setelah bayi laki-laki lahir, di sebuah terminal yan sudah tak asing bagiku dan istriku.

“ayah, mu temana?” ucap diana

“jalan-jalan sayang…” ucapku

“ya ya ya…” tawanya senang dalam gendonganku

“ibu itu?” ucapku kepada istriku, jelas tak mungkin aku memanggil yang, bisa-bisa anakku pada ikutan semua. Hanya ketika kita berbicara dan anak tidak mengetahuinya, aku memanggilnya sayang begitu pula istriku

“bukan yah…” ucapnya, sebuah bis melewati kami

Aku tetap berdiri dan melihat ke arah jauh. Tangan kananku menggendong diana, dan tangan kiriku menggenggam tangan kanan dian istriku yang duduk di sebuah tempat tunggu bis, tangan kirinya menggendong ardian. Tas punggung perlengkapan anakku ada dipunggungku.

“kalau itu…” ucapku

“bukan juga… mas ndak nget?” ucapnya

“ingat…” ucapku

Sebuah bis melwati kami lagi…

Kembali sebuah bis melewati kami lagi tanpa aku bertanya…

“kok ndak tanya yah?” ucapnya

“karena aku tahu bukan…” ucapku

“cup…” dia mencium punggung tangan kiriku, aku tersenyum

Hingga bis ke empat melewati kami lagi, dan…

“itu bun…” ucapku

“he’em…” jawabnya, dia berdiri

“apa yang membuatmu ingat?” ucapnya

“tuh di kaca depan” ucapku

“sama…” ucapnya

Bis berhenti didepan kami, kami kemudian naik ari pintu depan, tampak sedikit lenggang…

“dimana?” ucapku

“disitu…'” ucapnya menunjuk ke arah tempat duduk nomor tidga dari pintu depan bis di sampin kanan kami (samping kiri bis)

Aku gandeng tangannya, istriku duduk di dekat jendela dan aku tepat disampingnya. Bis berjalan lambat, dengan tujuan menuju ke terminal perbatasan dan akan kembali lagi masuk ke dalam kota. Bis ini bukan bisa natar daerah hanya mengangkut penumpang ke arah terminal perbatasan, dan akan kembali lagi.

“mas bilang sama supir, kalau penumpang sudah keluar semua, putari kota tanpa mengambil penumpang” ucapku

“eh, waduh ya ndak bisa git…” ucap kernet bis

“akan aku bayar tiga bulan gaji kalian….” ucapku, istriku menimang-nimang ardian cuek dengan percakapanku

“beneran mas? Tapi tak bilang dulu sama supirnya mas” ucap kernet bis, aku mengangguk. Selang beberapa saat dia kembali lagi

“bisa mas, tapi ada DP-nya mas takut kalau….” ucapnya

“ini…” ucapku menyerahkan amplop berisi uang, dibukannya

“eh… iya mas… iya…” ucapnya

“jangan ngrokok…” ucapku, dia mengangguk

Bis akhirnya melaju, hingga penumpang satu persatu habis dan menutup pintu. Ardiana tertidur, dan begitu pula ardian. Kepala istriku bersandar di pundakku.

“dulu aku selalu ketempat itu, dan menunggumu tapi kamu tak pernah datang” ucapku, ketika bis melewati terminal dimana kami naik untuk kedua kalinya

“begitu pula denganku, sesekali aku membolos dan menunggumu hingga sore” ucapnya

“tapi sekarang kamu tidak perlu menunggukku kan?” ucapku

“jaga aku…” ucapnya

“pasti…” ucapku

“sudah banyak berubah, dulu aku selalu melihat keluar jendela berharap melihatmu dan kini aku memilikimu” ucapnya

“bukan, tapi aku yang memilikimu, dan aku sangat bersyukur” ucapku,

Istrik mengangkat kepalanya…

“saling memiliki” ucap kami bersamaan

“aku perlu bayar hutang?” ucapnya kembali

“masih ingat saja kamu, istriku yang cantik” balasku

“perlu tidak?” ucapnya kembali

“kamu sudah membayarnya dengan pengabdian sebagai istriku” ucapku

Kembali kami hanyut dalam perjalanan bis hingga sore dan mengantarkan kami berdua hingga depan rumah kami saat malam datang. Aku tidurkan diana dan dian menidurkan ardian… kami kemudian berjalan bergandengan keluar kamar dan duduk di sofa.

“peluuuuuuuukkk….” manjanya

“iya sayang iya…” ucapku

Kunaikan dagunya dan ku cium bibirnya…

“aku benar-benar sangat mencintaimu…” ucap kami bersama

Yups, that’s all… setelah ardian aku memiliki anak yang berjarak 3 tahu dengan ardian, jari ketika diana berumur 5 tahun, ardian berumur 3 tahun keluar adiknya, 2 tahun setelah kelahiran anak ke tiga kami aku memiliki anak lagi, dan 2 tahun setelah anak keempat kami ada anak lagi. Ketiganya cewek. Jadi ketika ardiana berumur 9 tahun, ardian 7 tahun, anak ketiga 4 tahun, anak keempat 2 tahun dan anak kelima lahir.

Anak ketiga aku beri nama Dinar Warda Pitaloka
Anak keempat aku beri nama Daniar Warda Pitaloka
Anak terakhir kuberi nama sama dengan Ibunya, Dian Arya Wardapitaloka

Beda lho, kalau kalau yang terakhir wardapitaloka nyambung.

“I LOVE YOU ARYA”

“I LOVE YOU TOO DIAN”

“I LOVE YOU DIAN”

“I LOVE YOU TOO ARYA”

Bahagia? Jelas itulah yang aku rasakan. Aku sebenarnya tidak begitu mempedulikan bentuk tubuh istriku, karena kadang aku pengen juga melihat susunya kendur dikit tapi tak apalah mungkin karena ramuan dari ibuku. ibuku juga begitu, susunya tidak mengendur waktu jadi kekasihku. Tapi itulah istriku, selalu lebih hot dan hot setiap harinya.

Diana tumbuh menjadi bayi yang sehat dan cerdas, untung saja dia tidak melihat kami lagi kuda-kudaan. Kami tidak pernah berani mengambil resiko seperti penuturan istriku agar lebih menjaga sikap didepan anak. Karena sedikit saja kita salah, anak pasti akan meniru. Merokokpun aku selalu keluar jauh, walau kadang tiba-tiba istriku keluar dan memanggilku semabrai menggendong diana.

“ayah, ini anaknya manggil manggil a yah terus” teriak istriku dari gerbang rumah ketika aku keluar rumah untuk merokok, disebrang jalan

“aduh, di gendong dulu dong sayang… baru saja nyala” ucapku

“penting mana sih rokok apa anak?” teriaknya, aku menyerah dan langsung berlari kearanya untuk menggendong diana

Beberapa bulan kemudian aku mendengar istri-istri koplak mulai hamil lagi tanpa sadar juga…

“yah, dua…” ucap istriku kala itu aku sedang menendong diana bermain di halaman belakang rumah

“dua apanya?” ucapku tanpa menoleh

“ini…” ucapnya memperlihatkan dari tepat diwajahku,

“owh…” ucapku

“YES! AKHIRNYA HAMIL LAGI HA HA HA HA” Bathinku berteriak

“gitu saja?” ucapnya

“iya…” ucapku

“ingat, ada tiga yagn harus dilayani…” ucap istriku meninggalkan aku

“siap!” ucapku

“ayah… ayah… tatat dididi dada yuyu tatata…” ucap diana, usia 14 bulan dan belum bisa bicara hanya bisa mama dan ayah

“iyaa… kamu bakal punya adik, jadi kakak perempuan yang baik ya, adiknya disayang, diajak main ya sayang…” ucapku

“he’em… tatat didii dudu tatata tutu ta…” ucap diana

Aku tersenyum dan menggendong diana masuk kedalam rumah. Adikku martha, berumur 2 tahun sudah memiliki adik lagi bernama Adini Pitaloka, cewek lagi. Andini ya pastilah Ariya Diah hiNgga matI, jelas itu. semua berjalan normal, kadang cekcok pastilah tapi aku tidak bisa marah berlarut-larut pada istriku. Emang mau bobo sama guling? Cokli? Gila apa aku? Ha ha ha…

Tepat ketika anak pertamaku diana berumur 2 tahun, seorang bayi laki-laki dengan bobot 3,4 kg panjang 51 cm lahir, hampir sama dengan mbaknya.

“siapa?” ucap istriku ketika itu

“Ardian Warna Wicaksono” ucapku

“Cuma beda ‘a’?” ucapnya

“he’em… nanti yang ketiga dan seterusnya dibuat beda deh. Masih kuat?” ucapku

“itu dedek suamiku kuat ndak? Kalau istri kuat terus kan dicangkul?” godanya

“i’d do everything for you… I Love You” ucapku, mengcup bibirnya

“i love you too…” ucapnya

Tiga bulan setelah bayi laki-laki lahir, di sebuah terminal yan sudah tak asing bagiku dan istriku.

“ayah, mu temana?” ucap diana

“jalan-jalan sayang…” ucapku

“ya ya ya…” tawanya senang dalam gendonganku

“ibu itu?” ucapku kepada istriku, jelas tak mungkin aku memanggil yang, bisa-bisa anakku pada ikutan semua. Hanya ketika kita berbicara dan anak tidak mengetahuinya, aku memanggilnya sayang begitu pula istriku

“bukan yah…” ucapnya, sebuah bis melewati kami

Aku tetap berdiri dan melihat ke arah jauh. Tangan kananku menggendong diana, dan tangan kiriku menggenggam tangan kanan dian istriku yang duduk di sebuah tempat tunggu bis, tangan kirinya menggendong ardian. Tas punggung perlengkapan anakku ada dipunggungku.

“kalau itu…” ucapku

“bukan juga… mas ndak nget?” ucapnya

“ingat…” ucapku

Sebuah bis melwati kami lagi…

Kembali sebuah bis melewati kami lagi tanpa aku bertanya…

“kok ndak tanya yah?” ucapnya

“karena aku tahu bukan…” ucapku

“cup…” dia mencium punggung tangan kiriku, aku tersenyum

Hingga bis ke empat melewati kami lagi, dan…

“itu bun…” ucapku

“he’em…” jawabnya, dia berdiri

“apa yang membuatmu ingat?” ucapnya

“tuh di kaca depan” ucapku

“sama…” ucapnya

Bis berhenti didepan kami, kami kemudian naik ari pintu depan, tampak sedikit lenggang…

“dimana?” ucapku

“disitu…'” ucapnya menunjuk ke arah tempat duduk nomor tidga dari pintu depan bis di sampin kanan kami (samping kiri bis)

Aku gandeng tangannya, istriku duduk di dekat jendela dan aku tepat disampingnya. Bis berjalan lambat, dengan tujuan menuju ke terminal perbatasan dan akan kembali lagi masuk ke dalam kota. Bis ini bukan bisa natar daerah hanya mengangkut penumpang ke arah terminal perbatasan, dan akan kembali lagi.

“mas bilang sama supir, kalau penumpang sudah keluar semua, putari kota tanpa mengambil penumpang” ucapku

“eh, waduh ya ndak bisa git…” ucap kernet bis

“akan aku bayar tiga bulan gaji kalian….” ucapku, istriku menimang-nimang ardian cuek dengan percakapanku

“beneran mas? Tapi tak bilang dulu sama supirnya mas” ucap kernet bis, aku mengangguk. Selang beberapa saat dia kembali lagi

“bisa mas, tapi ada DP-nya mas takut kalau….” ucapnya

“ini…” ucapku menyerahkan amplop berisi uang, dibukannya

“eh… iya mas… iya…” ucapnya

“jangan ngrokok…” ucapku, dia mengangguk

Bis akhirnya melaju, hingga penumpang satu persatu habis dan menutup pintu. Ardiana tertidur, dan begitu pula ardian. Kepala istriku bersandar di pundakku.

“dulu aku selalu ketempat itu, dan menunggumu tapi kamu tak pernah datang” ucapku, ketika bis melewati terminal dimana kami naik untuk kedua kalinya

“begitu pula denganku, sesekali aku membolos dan menunggumu hingga sore” ucapnya

“tapi sekarang kamu tidak perlu menunggukku kan?” ucapku

“jaga aku…” ucapnya

“pasti…” ucapku

“sudah banyak berubah, dulu aku selalu melihat keluar jendela berharap melihatmu dan kini aku memilikimu” ucapnya

“bukan, tapi aku yang memilikimu, dan aku sangat bersyukur” ucapku,

Istrik mengangkat kepalanya…

“saling memiliki” ucap kami bersamaan

“aku perlu bayar hutang?” ucapnya kembali

“masih ingat saja kamu, istriku yang cantik” balasku

“perlu tidak?” ucapnya kembali

“kamu sudah membayarnya dengan pengabdian sebagai istriku” ucapku

Kembali kami hanyut dalam perjalanan bis hingga sore dan mengantarkan kami berdua hingga depan rumah kami saat malam datang. Aku tidurkan diana dan dian menidurkan ardian… kami kemudian berjalan bergandengan keluar kamar dan duduk di sofa.

“peluuuuuuuukkk….” manjanya

“iya sayang iya…” ucapku

Kunaikan dagunya dan ku cium bibirnya…

“aku benar-benar sangat mencintaimu…” ucap kami bersama

Yups, that’s all… setelah ardian aku memiliki anak yang berjarak 3 tahu dengan ardian, jari ketika diana berumur 5 tahun, ardian berumur 3 tahun keluar adiknya, 2 tahun setelah kelahiran anak ke tiga kami aku memiliki anak lagi, dan 2 tahun setelah anak keempat kami ada anak lagi. Ketiganya cewek. Jadi ketika ardiana berumur 9 tahun, ardian 7 tahun, anak ketiga 4 tahun, anak keempat 2 tahun dan anak kelima lahir.

Anak ketiga aku beri nama Dinar Warda Pitaloka
Anak keempat aku beri nama Daniar Warda Pitaloka
Anak terakhir kuberi nama sama dengan Ibunya, Dian Arya Wardapitaloka

Beda lho, kalau kalau yang terakhir wardapitaloka nyambung.

“I LOVE YOU ARYA”

“I LOVE YOU TOO DIAN”

“I LOVE YOU DIAN”

“I LOVE YOU TOO ARYA”

Tamat