Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 101

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 101 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 100

3 bulan kemudian aku menikah untuk kedua kalinya dengan lelaki yang memang aku cintai. Sebelumnya aku pernah berjanji pada anakku untuk tidak merawat tubuhku tapi sekarang aku harus merawat tubuhku lagi untuk suamiku tercinta. Pernikahan sederhana, semua teman SD-SMA aku panggil semua. Tampak sekali mereka semua senang dan selalu berbisik kepadaku ini yang aku setujui yah.

Walau lelah meladeni tamu yang datang silih berganti padaal acara pernikahan hanya sederhana saja tidak ada resepsi besar-besaran tapi karena ayahku adalah mantan kepala daerah wajar jika semua temannya datang. Masih dengan pakaian kebayaku, Malam pertama aku tampak canggung, karena ini malam yang belum pernah aku rasakan. Aku masih memakai kebaya, dan dia masih memakai jas lengkap. Aku juga bingung harus bagaimana.

boleh aku cium kamu? ucapnya

ndak boleh ucapku, dia langsung bingung garuk-garuk kepala, lucu melihat suamiku satu ini

ya bolehlah, sini sayangku cintaku ucapku manja, apa aku harus menunjukan kebinalanku seperti ketika bersama anakku? Ah, aku rasa tidak… aku akan menurut sesuai dengan bagaimana dia memperlakukanku. Jika dia memperlakukanku dengan liar aku akan menjadi liar, kalau lembut ya jadi lembut. Perempuan kan sesuai dengan laki-lakinya kan?

Bibirnya menciumku tampak sekali dia canggung dan tak pernah berciuman. Kulihat keriput sudah ada dibagian wajahnya, rambutnya sedikit ada yang memutih. Tapi secara keseluruhan dia gagah seperti anakku, tapi sekarang dialah yang paling gagah, anakku nomor 2.

aku milikmu jadi jangan pernah meminta ijin, karena kita tidak sedang sekolah ucapku, dia mengangguk

Bibirnya kembali menciumku, tangannya mulai meremas susuku. Ah, sudah lama aku tidak merasakannya ingin rasanya aku menungganginya. Tanganku kemudian mengelus dadanya, turun dan turun. Hingga akhirnya aku mengelus selangkangannya, kuelus dan kuremas kurasakan sebuah batang besar sedang tegang. Lama aku melakukannya dan tiba-tiba saja dia memelukku hingga aku rebah di tempat tidur.

ke kenapa mas? ucapku

aku keluar, maaf… ucapnya, membuatku seakan tak percaya. Sebenarnya aku ragu dia masih perjaka. Langsung aku memutar tubuhnya dan membuka celananya, kulihat penisnya sebesar milik anakku walau sedikit pendek, ya 1 cm mungkin. Kulihat lagi, masih tegang sempurna.

mas beneran belum pernah? ucapku, yang tampak lebih agresif

belum de, yakin mas belum pernah sama sekali ucapnya, aku tersenyum

haruskah ade yang mulai? ucapku, dia menaikan bahunya. Langsung aku menjilati penisnya itu, aku kangen sekali dengan barang lelaki

ah, de itu jijik sekali, arghhh… sayang nikmat banget sayang ucapnya,

hmmm… memang benar dia masih perjaka dilubang kencing tidak seperti kulit yang terbakar. Kalau dulu punya arya, sama masih merah jambu dan halus tapi setelah dia sering kesana-kesini bagian lubang kencingnya seperti bekas terakar. Apa mungkin karena sering mengeluarkan mani ya?

Aku masih terus menjilatinya dan kemudian mengulumnya, kepalaku naik turun dan hingga akhirnya kurasakan penisnya tegang maksimal. Segera aku masukan penis besar ini ke dalam mulutku seluruhnya hingga terasa ditenggorokanku. Kulanjutkan lagi dengan kuluman dengan sedotan pada penisnya.

arghhh yang, mas mau keluar lagi yang ughhh… ucapnya tapi aku tidak mempedulikannya

Croot crooot crooot crooot crooot crooot

Beberapa tembakan aku rasakan masuk kedalam mulutku, dan tanpa jijik aku langsung menelannya. Aku kemudian merangkak naik ke atas tubuhnya kutatap wajanhya yang teerlihat memerah merasakan kenikmatan yang ditutupi oleh salah satu lengannya. Wajar saja dia belum pernah meraskan bagaimana bersetubuh.

mas harus jujur sama ade, benar mas belum pernah sama sekali dan ade yang pertama? ucapku,

benar yang, mas berani sumpah ucapnya sambil membuka tangannya

mas yakin mau gituan sama ade? ucapku

hash.. hash… hash…yakin, mas pengen ade yang pertama, setelahnya,seterusnya dan yang terakhir ucapnya, membuatku tersenyum

terus kenapa diam saja? ternyata mas itu cuma sekali ngalahin ade waktu SMA dulu, selebihnya kalah ya ejekku, tiba-tiba saja dia langsung memutar tubuhku dan langsung berada diatasku

tidak, mas ndak mau kalah, ade yang harus kalah ucapnya dan aku hanya tersenyum mendengarnya

ade, cintanya mas memang benar-benar cantik dan seksi kalau pakai kebaya ucapnya memujiku

ndak pengen llihat dalamnya? Udah kendor lho mas, ntas mas jijik ucapku

masa bodoh, yang penting kamu itu diah yang aku cintai ucapnya

maskuuuu cintakuuu… ade mau bobo saja ya, dari pada diajak ngobrol terus godaku sambil memegang kedua pipinya

Tiba-tiba saja dia langsung mencium bibirku, tampak tidak profesional tapi mencoba profesional. Bibirku disedot dengan kasar, lidahnya mulait menjiilati bibirku. Bibirku kubuka dan lidahku juga ikut bergerak,tangannya meremas-remas susu yang masih berbalut kebaya ini. tak lama kemudian dia turun dan menarik jarik yang aku kenakan, aku mengangkat sedikit pinggangku sehingga jarik itu bisa naik hingga pinggangku.

Ditariknya dengan kasar celana dalam yang aku pakai, pahaku di bukanya lebar. Diarahkannya penis itu ke arah vaginaku, tapi beberapa kali meleset. Aku malah geli sendiri ketika melihatnya, jadi ingat ketika arya mencoba masuk ke dalam. Aku raih penisnya dan arahkan ke vaginaku.

pelan mas, punya mas besarhhhh erghhhh… rintihku

iya sayang, mas pelan… ucapnya dengan nafas yang tidak teratur, tapi pelan apanya dia langsung menekan dengan sangat kasar padahal vaginaku belum licin betul

arghhh aryaaaaaa pelannhhhhhh…. tarik dulu suamikuuuuuhhhh… sakiiit rintihku saki

eh maaf yang hash hash… ucapnya dengan nafas penuh nafsu

tarik dulu, masukan tarik masukan gitu…. ade ndak kemana-mana, mas rileks saja ya ucapku

Perlaha dia memaju mundurkan penis besarnya itu, ah sensasinya benar-benar berbeda. inikah rasanya malam pertama, aku dulu tidka pernah benar-benar meraskannya. Penis besarnya keluar masuk secara teratut walau tidak sepenuhnya masuk baru ujungya saja. keluar masuk sesuai ritme, setelahnya masuk lagi lebih dalam, keluar lagi, masuk lagi lebih dalam keluar lagi hingga vaginaku terasa sangat licin sekali. Kini aku merasakan penisnya telah masuk dengan sempurna, keluar masuk memompa tubuhku.

ahhh mas… mas besar sekali, penuh mas mas ahhhh… mashhh mas mentok sampai didalam mashhh… ah ah ah ah terus mas pompa istrimu mashhh ahhhhh racauku memejamkan mata

ah, diah inikah nikmatnya… akhirnya aku bisa merasakannya bersamamu, cintaku nikmat sekali punyamu ini, burungku enak sekali didalam racaunya

ah, itu tempik mas, bukan punyaku tapi punyamu… kontol mas, kontol bukan burunghhh ah terus mas goyang terushhh racauku yang mulai memancingnya untuk mengatakan kata-kata nakal

iya sayang, aku akan puaskan kamu sayangku…ah inikah yang sering dikatakan teaman-temanku istilah sempit ohhh sayang aku suka seklali…. yah enak sekali sayang kenthu sayang ohh… yah… ah tempikkmu benar-benar ahhhhh aku senang sekali sayang racaunya, terpancing oleh kata-kataku

Mas ariya terus memompa terus, dengan gaya konvensional ini aku merasakan nikmat luar biasa. Sudah beberapa bulan setelah persetubuhan terakhirku dengan anakku sendiri aku tidak pernah meraskaannya lagi. Pompaannya begitu cepat, membuatku mendekati puncak.

mas mau keluar lagi sayang… ucapnya

ade juga… jawabku

Crooot. Croot crooot Croot crooot

Tubuhnya langsung memelukku dan menghentakan keras ke dalam liang vaginaku. Aku memeluknya dan terus memeluknya, oh nikmat sekali. Aku megejang beberapa kali, hingga aku merasakan nafas mas ariya tampak masih tersengal-sengal.

ah… ah… ah… yang enak banget yang, besok lagi yang… ucapnya

kapanpun mas mau ucapku, kami kemudian berciuman

mas kalau ciuman jangan tergesa-gesa mas, ade pengen mas menikmatinya ucapku, dia hanya mengangguk

Selama berciumana, batangnya masih berada didalam vaginaku. Kurasakan elusan lembut dikepalaku, dikecupnya beberapa kali keningku, pipiku hingga wajahku. Teringat akan anakku sendiri, aku harus bisa menghilangkan ingatan ini.

mas ndak pengen lihat dalemnya ini ucapku

aku masih ingin melihatmu memakai kebaya sayang, kalau bisa setiap hari kamu pakai kebaya seksi yang membuatku ingin menyetubuhimu terus. Bahkan kalau ade mau, ade pakai pakaian-pakaian seksi di dalam rumah ya ucapnya

kalau diluar juga pakai seksi? ucapku

ndak boleh, kesesksianmu hanya untukku! ucapnya tegas, kembali aku teringat akan ucapannya di villa, ucapan anakku. Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

Aku ditariknya bangkit dan kemudian, aku disuruh berdiri dihadapannya yang duduk di tepian tempat tidur. Disuruhnya aku menelanjanginya, kulihat dadanya yang bidang dan juga tubuhnya seperti tubuh seorang remaja. Bergantian aku ditelanjanginya, pelan satu persatu kebaya yang aku kenakan lepas dari tubuhku. Langsung dipeluknya aku dan diusap-usapkannya wajahnya ditengah-tengah susuku.

jelek ya mas? ucapku

bagus yang, sangat bagus. Masih kenceng dan bulat yang, besar sekali terus ndakbegitu kendor yang ucapnya

hayooo… pernah lihat pasti kok bisa bilang bagus ucapku

di video porno yang, tapi mas ndak pernah onani, beneran yakin? Cuma lihat, itu saja… ucapnya, aku tersenyum mendengar kata-katanya

mau nambah atau mau bobo? ucapku

bobo yuk yang, aku pegen ngeloni teman SMA-ku yang galak ini ucapnya, aku mengangguk sudah tak mau aku mengatakan jelek, walau ada sedikit rambut putih di kepalanya tetap saja kelihatan ganteng. Kurasakan tubuhnyamasiih menyisakan ke keuatan masa mudanya, kekar dan hangat. Aku nyaman berada dalam pelukannya, sangat nyaman sekali.

Aku rebah dan menghadap kearahnya, kepalanya disangga oleh tangan kirinya dan tangan kanannya mengelus kepalaku, lengan, susu hingga pinggangku. Kadang dengan gemas dia meremas pantatku. aku semakin memasukan tubuhku ke dalam tubuhnya, hangat sangat hangat ditambah lagi tangannya berpindah dipunggungku dan mendorongnya semakin dekat dengannya.

***

Hari-hari berikutnya aku menempati rumah yang sudah disediakan untukku. Eri, langsung meminta untuk tinggal bersama dengan kakek dan nenek, seakan tahu kalau dia ada dirumah pasti akan membuat kekakuan. Sebenarnya aku menolak tapi eri, berbisik sudah ma, eri juga sadar kok kalau mama juga pengen malam pertama terus. Secara, dia yang mama cintai.

Aku tersenyum ketika mendengarnya, kini aku tinggal bersama mas ariya suamiku. Tapi beberapa hari mas tidak menyentuhku, yang jelas aku tahu dia sedang menonton video saat aku ingin menonton bersamanya dia melarangku. Persis.. persis dengan arya, walau aku sudah pernah menontonnya diam-diam. Dan sangat berbeda dengan pernikahanku dulu, kalau dulu aku sering ditinggal sana-sini karena pekerjaan yang ndak jelas.

Sekarang malah pekerjaannya sering ditinggal, setelah aku tanyai, dia hanya menjawab Mas kesana cuma ngecek, paling 1-2 jam, setelah itu mereka bisa jalan sendiri, sekarang aku tidak ingin jauh darimu sampai akhir hayatku, aku tidak akan kemana-mana, aku akan menetap disini sekarang.

Aku tersenyum mendengarnya, betapa bahagiannya aku selalu ditemani orang yang aku cintai. Laki-laki yang dulu aku benci karena mengalahkan rankingku tapi didalam beci ada benih cinta kepadanya, buktinya dia hilang aku juga sempat kecewa walau tak ada satupun orang yang tahu bahkan ibuku sendiri.

yang, boleh minta sesuatu ndak?? ucapnya

coba yang pakai BH yang modelnya kaya gini terus celana dalamnya seperti ini, sayang mau? ucapnya, aku mengangguk melihat gambar di sematponnya. Dia langsung mengambil sesuatu dan menyerahkannya kepadaku

Lho mas sudah beli to? ucapku, dia menceritakan kalau waktu pulang mampir ke toko pakaian dalam

ndak malu ucapku

ndak, ngapain malu wong beli buat istrinya ucapnya

sebentar ya sayang, ade boboin dulu marta terus itu pintu gerbang sama pintu depan dikunci ucapku

Bra hitam, yang membuat susu besarku semakin membusung dan juga celana dalam yang hanya menutupi bagian vaginaku serta bagian belakang benar-benar mengekspose pantatku, sama sekali tidak tertutupi. Mas yang masuk ke dalam rumah melihatku, tanpa berlama-lama langsung dia melepas semua pakaiannnya. Penisnya tegang mengarah kearahku.

marta bobo yang lama ya sayang, ibu sibuk, ayah kamu nih pengen terus ucapku berlutut didepan penisnya, walau marta didalam kamar

gimana ndak pengen? Punya istri secantik dan seseksi kamu… dijaga lho sayang buat aku saja ucapnya aku mengangguk

ayo sayang, kamu benar-benar seksi, kapan-kapan mas mau perkosa kamu ya sayang ucapnya

perkosa boleh, tapi ndak boleh kasar-kasar lho ucapku dia mengangguk

Tanpa berlama-lama aku langsung menjilati bagian bawah zakarnya dan ke atas hingga ke ujung penisnya. Aku ulangi berulang-ulang hingga kukulum penisnya yang besar ini. kepalaku maju mundur, tangannya mengelus kepalaku.

ah, sudah sayang nanti keluar… ucapnya menarikku keatas dan langsung melumat bibirku

Tangannya tak tinggal diam, meremas dan memainkan susuku, bra ku dilepasnya dan putingku dipencet dan ditarik. Susuku keluar sedikit demi sedikit. Membuatku mendesah geli, tanganku masih aktif mengocok penisnya. Puas dengan berdiri, suamiku menyuruh menungging di atas sofa. dia kemudian berlutut di belakangku, celana dalamku digeser dan lidahnya mulai menjilati vaginaku. Memang masih belum sempurna tapi sudah membuatku mabuk kepayang.

ah, sayang itilnya juga dijilat sayanng… ughhh nah gitu sayang, kocok dengan jari juga sayang ucapku

ah, kamu ternyata liar juga ya sayangku ucapnya

liarku untukmu… arghhh yah syaang… mmmmhhhh ucapku

harus kamu hanya untuku slurrrppp dan aku untukmuhh sluuuurp ucapnya

Kocokannya semakin deras menghujam vaginaku dan aku semakin mendesah keras. Semakin keras dan semakin keras hingga aku keluar dan orgasme untuk pertama kalinya dengan jari-jarinya. Aku pipis, air mengucur dari vaginaku. Dia berdiri dan memelukku, mencium tengkuk leherku.

sudah gede kok pipis sembarangan ucapnya, aku menoleh kebelakang dan melihatany tersenyum puas, tangannya meremas pantatku

mashhhh masukin masshhh ade sudah ndak tahan… masukin kontol masshhh… ucapku memohon

ini sayang… ucapnya, dengan bantuan tanganku dari belakang penisnya masuk sempurna kedalam vaginaku

Aku tersentak dan membuatku menengadahkan kepalaku ke atas. sensasi yang benar-benar membuatku semakin liar dan tak terkendali. Aku kembali dimana masa arya memperlakukanku, bayangan akan anakku terus muncul namun semakin lama semakin tergerus berganti dengan suami baruku ini. hantaman penisnya membuatku semakin menggila, aku mekenguh, merintih, mendesah. Didalam rumah dimana hanya aku dan suamiku yang sedang sibuk mengejar kenikmatan.

mmmhhhh erghhh arhhhh yahhh engghhhhhh mmmhhhh… desahku tak mampu berkata-kata lagi akan kenikmatan yang aku rasakan

ah sayang, enak sekali… aku ingin setiap hari… ucapnya

mmmhhh akuhhh jugahhh sayanghhhh… ehhhh balasku

Tubuhku mengejang, mas ariya berhenti sejenak mengetahui aku telah sampai pada puncak kenikmatanku. Aku rubuh di atas sofa seperti anjing yang sedang tertidur, tubuhku kemudian dibaliknya dan tanpa berlama-lama vaginaku ditnacap kembali dengan panisnya. Mulutnya menyusu kepadaku, pinggulnya terus bergoyang.

terushhh mashhh ade, nikmat sekali masshhhh mimi susu yang banyakhhhh ekkhhhh racauku

Tubuhku semakin tak terkendali, hantaman penisnya membuatku mabuk. Kakiku mengapit tubuhnya, memohon kepadanya untuk beristirahat sejenak tapi suamiku terus menghantam kemaluanku ini terus menerus.

ah mas, aku mau keluar… arghhh… racauku

aku juga sayangh kuh…. racaunya

Tubuhku melengking, penisnya menghantam sangat dalam di rahimku. Aku mengejang dan mas ariya memelukku dengan sangat erat. selang beberapa saat aku mendapat perlakuan bak ratu, wajahku diciuminya, kepalaku dielusnya dengan rambutku di mainkan. Bibirnya menciumku, ah benar-benar sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari suami pertamaku.

kalau didlaam rumah, pakai pakaian yang mas belikan ya? ucapnya, dan aku mengangguk

Marta bangun dan aku langsung berlari kerahnya, ku susui marta dimana ada bekas bibir ayahnya. tiba-tiba saja dari belakang, mas ariya memelukku dan mengangkat satu kakiku. Dimasukannya penis itu kembali, oh benar-benar nakal suamiku ini. sususku sedang dikenyot oleh anakku dan vaginaku sedang dihantam oleh penisnya. Aku kembali terkapar, benar-benar berat bagiku tapi aku menikmatinya.

yang, kamu masih bisa hamil tidak? ucapnya

bisa, tapi resikonya besar ucapku

aku ingin punya anak dari kamu, buat adik marta juga biar ndak sepi ucapnya, aku mengangguk

kasih jarak ya sayang ucapku

1 tahun saja ya, ndak papa kan? ucapnya, aku mengagguk

Hari-hari aku lalaui dengan kebahagiaan sendiri, suamiku tidak pernah yang namannya pulang malam atau bahkan keluar. Hanya keluar dari kamar dan menyuruhku melayaninya, dari memakai pakaian renang, kebaya yang sangat seksi hingga belahan dadaku terlihat sebagian dan ada lagi kadang aku disuruh telanjang setiap hari. Untung saja marta masih kecil dan dia tidak tahu apa-apa. Di dapur, di halaman belakang, di garasi, di dalam mobil, di kamar mandi semua sudut rumah menjadi tempat persetubuhanku.

Pernah suatu ketika aku keluar bersamanya, tanganku digandengnya dengan mesra. Dengan marta dalam gendonganku dan kepalku menyandar pada lengannya.

yang kamu ndak malu jalan sama mas? ucapnya, aku tarik tangnnya dan berhenti sejenak

kenapa harus malu? ucapku

aku kan sudah tua, ndak ganteng, lihat aku sudah keriput dibandingkan kamu masih saja terlihat seperti anak SMA ucapnya

baguslah kalau begitu kan mas? Mas kelihatan tua dan jelek ucapku tersenyum

lho kok gitu jawabnya? ucapnya

itu tandanya yang mau sama mas cuma aku, dan syukur deh kalau jelek ndak ada yang lirik mas ucapku

terus kalau kamu masih cantik, banyak dong yang nglirik kamu, huh ucapnya

makannya, sembunyiin dong istrik cantiknya biar ndak dilihat orang… aku tarik tangannya kebawa dan dia sedikit membungku wajahnya dekat denganku ketika kita berada ditengah-tengah keramaian

aku bahagia berada disisimu, buat aku senyaman mungkin bersamamu yang, hingga anak cucu kita… hingga kita berhenti bernafas, aku sudah menunggu ini, dan aku tidak peduli berapa mata yang melirikku… karena aku disini untuk menjaga matamu, dan kamu disini untuk melindungiku dari mata-mata itu… aku cinta kamu ucapku pelan didekat wajahnya

aku juga sayang… ucapnya mengecup bibirku, hampir saja kelewatan tapi unntung marta bergerak-gerak dan menyadarkan aku kalau kami berada di keramaian

Aku kadang melamun sendiri dirumah ketika suamiku masih berada dikantor saat pagi hari. Sambil menyusui marta, anakku aku teringat akan semua cerita arya. arya pernah bercerita tentang wanita-wanita yang tidur bersamanya.

Dan dari wanita-wanita itu… erlina, kehilangan perawannya di arya, Ajeng juga sama kehilangan perawannya di arya, yang terkahir adalah dian yang sudah jelas dan tidak bisa ditolak sudah kehilangan keperawanannya.

Tiga, tiga orang wanita kehilangan keperawanan di anakku, sedangkan aku sendiri. benar sih dapat perjaka mahesa, terus arya, yang ini ketiga ariya suami keduaku. Anaknya dapat tiga, ternyata ibunya juga dapat tiga, ah… aku akan menjalani hidup ini dengan benar tak lagi seperti dulu lagi. Sudah cukup semua kesalahan yang aku perbuat, aku sayang anakku, arya dan marta dan aku mencintaimu suamiku, Ariya.

***

Perusahaanku mulai berkemban dengan pesat, pemesanan beberapa perusahaan dan juga instansi pendidikan sudah mulai menjali kerja sama dengan perusahaanku. Perusahaanku kecil, tidak seperti perusahaan-perusahaan lainnya. Dan kini aku bisa leluasa pulang pergi dari kantor untuk pulang kerumah.

Aku bahagia ibu telah menemukan tambatan hatinya, tepat 3 hari sebelum ibu menikah aku di wisuda. Aku kira dian tidak akan datang menemaniku, karena di awal aku hanya melihat ibuku dan ayah baruku walau sebelumnya belum resmi tapi aku menginginkannya.

Tapi tak disangka dia menunggu diluar gedung dikarenakan memang hanya orang tua yang boleh masuk ke dalam. Ketika aku keluar, aku langsung disambutnya dengan pelukan dan kecupan pada pipiku, beberapa teman kuliahku tampak sedikit bingung dengan yang terjadi. Walau pada akhirnya mereka tahu, dian adalah pacarku.

Waktu berjalan aku sudah bisa mengurus perusahaan dengan baik, pernikahan ibu yang telah dilaksanakan membuatku dan dian berjanji untuk tidak melakukan hubungan terlebih dahulu sampai kami menikah. Hanya bermnja-manja saja tapi terkadang aku memintanya walau pada akhirnya berakhir penolakan. Mau tidak mau tanpa sepenetahuannya aku cokli di kamar mandi, ngenes juga rasanya. Setelah melihat perkembangan dari perusahaan ku, aku kemudian mengajak dian menjenguk orang tua dian.

Arya, ada apa ini? ucap pak koco

main pak, tuh anak bapak juga kangen sama ibunya ucapku

iya pa, kangen mama. Mama mana pa? ucap dian

tuh… ucap pak koco

halo sayaaaaang…. ucap tante wardani

MAMA?! teriak dian melihat, aku dan dian terkejut tatkala melihat perut buncit ibunya dian

ini? ucap dian

ndak usah bingung dong sayang, mama lagi pengen dedek bayi, tuh papa kamu katanya pengen nimang bayi lagi ucap tante war

tapi kan resiko di usia mama ucap dian

sudah, doakan saja semuanya lancar ucap tante war

Kami berempat kemudian duduuk di ruang tamu, begitu aku langsung menyampaikan niatku.

gini om, pertama yang silatrahmi, terus yang kedua itu om… boleh ndak saya nikahi dian? ucapku

dasar anak muda, ndak boleh! ucap pak koco

papa… ucap dian dan tante wardani bersamaan

ndak boleh lama-lama maksudnya ha ha ha ha teriak pak koco, dian kemudian duduk disampingku dan memeluk tanganku

dasar ndak romantis, ndak kaya ayah kamu huuuu ucapnya, aku hanya nyengir-nyengir saja tapi dian kemudian memandangku dan tersenyum kepadaku

Kami mengobrol, dan kami bercakap-cakap sejenak. Pak koco menceritakan secara detail pertemuanku dengannya, aku hanyasenyum-senyum sendiri. bahkan tante wardani juga menceritakan pertemuannya denganku tanpa adegan seks tentunya karena tidak mungkin dia menceritakannya ke suaminya.

Beliau juga menceritakan tentang kehamilan istrinya memang cukup beresiko tapi mau bagaimana lagi, pak koco memang ingi merasakan mempunyai anak kecil. Setelah cukup lelah, aku memutuskan untuk pulang kerumah walau sebenarnya aku disuruh menginap tapi dian yang malah menolak. Dalam perjalanan pulang dian memelukku dengan sangat erat.

secepatnya yang, ade dah ndak tahan ucapnya dibelakangku

sama… ucapku

terima kasih balasnya

yang, kalau sudah menikah… mau kan anu itu… eee ucapku gugup

apa, nurutin imajinasi mas itu kan? Kaya perkosa dosennya sendiri, main di halaman rumah, di atas meja makan gitu? iiih mesum deh ucapnya, walau sebenarnya aku telah melakukan semuanya

kan ndak papa, sama istri sendiri kok weeeeek ledekku

makanya cepetan! paksanya dan memelukku dengan erat

yang, kenapa to kok kamu pengen cepet banget? ucapku

aku pengen beri kamu keturunan yang, pengen nimang dedek bayi kaya mama gendong marta. Sekarang mamaku juga sudah mengandung adikku walau sebenarya resikonya besar, tapi aku yakin mamaku selamat.

Aku pengen beri kamu banyak keturunan, sebanya-banyaknya sampai kamu terus berada dirumah mengurus buah hati kita bersama ucapnya, aku melamun sebentar, banyak anak? Bayanganku melambung tinggi jauh di awan, membuatku mellihat masa depan dimana arghhhh… satu mainan didapur, satu mainan di belakang, satu mainan di garasi, satu mainan di ruang tamu berantakan rumah aaaaaaaaaaaaaaa….

mas… ucapnya menyadarkan aku

eh… iya tapi jangan banyak-banyak yang, ntar kamu ndak ngurusin aku ucapku

lha berapa? ucapnya

2 atau 3 gitu ucapku

ndak mau, lebih dari itu. keluarga kita itu kecil, mamaku mau punya dua, mamamu dua ndak tahu itu nambah lagi atau tidak. Masa kita cuma 2-3, kalah sama papa dan ayah ejeknya

hadeeeh… ya deh, terserah kamu. tapi dukung aku kembangkan perusahaan. Buat makan, ya? ucapku, dia langsung memeluk erat tanpa menjawab pertanyaanku. Cenggur… cenggur… sampai nanti nikah, hadeeeeh… udah bangun ndak bisa keluar ini. maaf ya dedek arya.

okay kakak… tenang saja bisa tahan kok, tapi jangan cokli kakak. Ndak enak, ha ha ha ucap dedek arya (tumben dia keluar ngomong)

Kemudian ada pertemuan keluarga antara keluarga diah denganku, semua telah disetujui tanggal pernikahannya. Dalam masa menunggu hari itu, aku disibukkan dengan perusahaanku walau tidak sesibuk di awal dan juga disibukan dengan persiapan pernikahanku.

Aku sendiri masih bingung dengan biaya yang wow besarnya. Bagaimanapun aku tetap harus meminta bantuan dari ibu dan ayahku, kalau hanya aku sendiri mana mampu menggelar acara sebesar yang mereka bicarakan. Aku kemudian datang kerumah ibu tanpa sepengetahuan dian.

Tok… tok… tok…

bu ini arya… ucapku dengan suara lantang

iya sebentar… teriak ibu dari dalam rumah

lama banget sih, sebentar apanya kalau begini ini? bathinku

Kleeek…

eh, sayang.. masuk, ada apa? ucap ibuku

lama benar buka pintunya bu? Lagian kenapa juga dikunci, wong sederet juga rumah saudara semua? ucapku dengan wajah kesal, masuk kedalam rumah

siapa yang? ucap ayahku

Arya sayang ucap ibuku

ciyeee ayang-ayang nih? Apa ndak salah, harusnya eyang-eyangan dong bu ledekku

hush… kamu itu, memang kamu saja yang bisa sayang-sayangan sama dian? ucap ibuku

wajar dong, masih muda belaku

halah… jomblo lama saja dipelihara… jawab ibuku judes

Bu tahu ndak? ucapku

ibu itu ndak pantes ngomong kaya gitu, image berubah 180 derajat dimataku bu ucapku

iya… iya… jomblo! Hi hi hi jawab ibuku

tadi kenapa lama? balasku

mmmm… sini… ayahmu itu kan ndak pernah dulunya, jadi sekarang habis nikah full time dirumah, paling kelua jam 7 puang jam 12. Habis itu ibu disuruh inilah, itulah, kamu tahu sendirikan, pengantin baru… bisik ibu, aku langsung tepuk jidat

alah kaya kamu ndak pernah saja ngrasain ucap ibu

ibu, ndak usah diingetin kenapa? ucapku

sama dian maksudnya sayang. Oia ibu buatkan minum dulu sayang ucap ibu, langsung ke akang dan aku duduk diruang tengah

SHIT! ini bau sperma sama muncratannya ibu, aku masih bisa mengenalinya. Wah… ternyata liar juga ibu dan ayahku bathinku

ada apa nak? ucap ayahku yang duduk disebelahku

eh, anu yah itu…. ucapku gugup dan terkejut

apa? Ngomong dong ngomong… canda ayahku

yah, ngomongnya dibelakang yuk yah, sekalian ngrokok ucapku, ayahku meyetujuinya kami kemudian pindah di halaman belakang

tapi ayah ndak ngrokok lho, dari dulu ndak ngrokok ucapnya

iya, gini yah anu… ucapku

ooo…. kebelakang Cuma mau ngrokok! Mas ndak usah ngrokok! Arya, mending kamu matikan atau ibu lapor ke dian! bentak bu membawakan minuman

ayolah bu, bingung ini jawabku

kalau bingung pegangan! ucap ibu judes, benar-benar tidak suka aku kalau ibu kaya gitu sebenarnya

sudah-sudah, ndak papa. Biarkan saja dek, kelihatanya arya memang benar-benar pusing ucap ayahku

ya sudah, ada apa? ucap ibu duduk disamping ayah

mau minta uang yah, bu ucapku

bos kok minta uang ucap ibu

ayolah, pernikahan seperti itu butuh banyak bu. Perusahaan saja surplus tapi belum cukup untuk biaya itu. kalau dipakai semua bubar perusahaanku bu ucapku

tapi ganti ya? ucap ibu

pelit amat jadi orang, dikasih napa ucapku

ya, nanti ayah kasih ucap ayahku

mas itu ndak boleh, arya itu sudah dikasih banyak kemarin sama ade. masa dikasih lagi, ndak pokoknya dia harus ganti ucap ibu

ya… ya… aku ganti… ntar kalau dah untung banyak tuh usahaku jawabku dengan wajah males, ku minum segelas teh hangat

Ayah setuju, dan harus dikembalikan karena desakan dari ibu. kami kemudian mengobrol tapi jujur saja jadi males ngobrol. Selang beberapa saat, Ayah mendapat telepon dari karyawannya dan sekarang tinggal aku dan ibu.

ibu, itu malesin sekarang. Punya suami jadi pelit! Kuliah dulu juga arya nyari beasiswa, ndak minta ibu uang saku saja juga kadang-kadang ibu kasih. Dasar ibu pelit, galak! Huh, arya mau pulang ucapku ngambek

sayang ndak boleh ngambek gitu dong, kan biar kamu itu mandiri. Kamu itu sukanya marah-marah, huh sama saja de… ucap ibuku, aku memandang ibu sesaat dan mata kami berpandangan sesaat

eh sayang, maaf… iya ndak usah diganti… ucap ibu, aku langsung pergi saja ketika ibu mengingatkan aku kepada ayah biologisku

ndak, santai saja bu, ntar aku ganti… ucapku

sayaaaang, ibu ndak maksud gitu maaf ya sayang ya. ndak usah diganti ndak papa… ucap ibu

fyuuuh… tenang saja bu, ntar arya ganti. Cuma buat nembel kekurangan saja kok ucapku tersenyum

ya sudah, arya pulang dulu bu ucapku, ibu mencoba menahanku karena mungkin dia merasa tidak enak denganku atas ucapannya. Aku kemudian pamit ke ayah tanpa memperlihatkan wajah kesalku dan langsung pulang. Selang beberapa hari ketika dikantor ibu meneleponku…

sayang, ini ayah kamu kamu transfer. Rekening kamu berapa?

ndak jadi bu, sudah dapat pinjaman kok tenang saja okay? (nada tersenyum, dan berbohong)

kamu masih marah sama ibu?

marah kenapa bu? Sudah lupakan saja bu, mau ndak mau sifat pemarahnya memang menurun padaku he he he…. namanya juga sedarah

sayaaang jangan marah ya, jangan buat ibu sedih

endak bu endak, tenang saja

hiks jangan marah to nak…

lho bu… arya ndak marah ibuuuu… hadeeeh ibu jangan nangis to, iya nanti aku kirim nomor rekeningku

janji, pokoknya jangan marasama ibu… adik kamu masih kecil nanti juga kamu yan bakal didik dia, jadi jangan marah sama ibu ya hiks

janji, arya ndak marah kok sama ibu. ibu juga jangan nangis ya

ya sudah ibu tunggu no.rekeningnya

heem… bu…

iya…

kalau habis gituan mbok yaho dibersihkan, bau tahu he he he

dasar kamu itu, ndak sempet kamunya aja datang tiba-tiba. Besok lagi kalau mau datang kabar-kabar dulu ya

iya ibu…

Hadeeeh… hampir saja ibu nangis-nangis. Setelahnya aku mendapatkan dana bantuan dari Ibu dan ayahku. Sepulang dari kantor aku langsung menuju kerumah, dian sudah ada dirumah. kami mengobrol sejenak dan aku menceritakan kejadian yang beberapa hari terjadi.

mas… ucapnya

hmmm… jawabku

mas itu kalau marah bikin bingung, jangan sering marah-marah lagi ya. sabar… ucapnya

iya, maaf ya… ucapku dan memeluknya

Bersambung