Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 100

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 100 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 99

hei yan, makan siang yuk ucap erna

iya, ayuk… ucapku

Kami berdua langsung berangkat bersama dengan erna ditengah jalan ada felix yang ikut makan siang bersama di warung depan kampus. Sejenak kami menunggu makan siang kami saling mengobrol ngalor ngidul bersama. makanan datang dan kami pun akhirnya makan. Mungkinkarena lapar ya, aku jadi sangat lahap makan.

eh, yan, ada tamu di bibir kamu ucap felix

eh… aku terkejut

Belum sempat aku membersihkan, tangan felix sudah mengelap bibirku yang ada nasinya. Tapi pandanganku terhenti ke sebuah motor REVO merah, pengemudinya melihatku. Melihat ketika tangan felix menyapu bibirku. Aku terdiam tak sadar aku tidak menghalangi tangan felix.

sudah yan.. ucap felix tapi mataku masih melihat pengemudi REVO merah itu, karena tak salah lagi itu adalah masku, arya

Aku bingung hendak keluar dan berlari ke arahnya tapi tangannya membuka pertanda melarangku mendekatinya. Dia kemudian menjalankan motornya bersama seseorang yang berada dibelakangnya. Aku bingung, aku tahu dia pasti marah karena yang baru saja terjadi.

Segera setelah makan siang tanpa banyak bicara aku kembali ke kampus dan mengajar. Setelahnya aku pulang dan mmenunggunya dirumah. malam pukul 20:00 akhirnya dia pulang dengan waah penuh kelelahan.

hufth…. tadi capek banget, ada barang yang ketinggalan pas diantar jadi aku sama marketing ikutan ngantar ucapnya menghempaskan tubuhnya di sofa tepat disampingku, tapi aku tidak mempedulikannya aku ingin bertanya mengenai yang tadi siang

mas… ucapku

ya… balasnya

mas marah? ucapku, dia tersenyum dan tangannya mengucek-ucek kepalaku

lha tadi sebenarnya bagaimana?ucapku

tadi, itu… ada nasi di bibir terus pas mau ade bersihkan felix tiba-tiba yang membersihkannya. Ade ndak sadar karena pas itu ade lihat mas, jadinya ya ade bengong lihat mas dan ndak menghalangi tangan felix, mas jangan marah… besok lagi ade ndak akan ngulangi janji… ucapku

he he he… siapa yang marah? ucapnya, membuatku terkejut

mas ndak marah? ucapku menggeleng

mas ndak cemburu? ucapku

cemburu ucapnya

tapi kok mas santai saja? ucapku heran, tubuhku ditarik kedalam pelukannya. Bau keringatnya tercium, bau keringat yang selalu menemani kenikmatanku

ade pernah bilang kan, dengarkan dulu baru bertindak, mas memang sebenarnya marah tadi tapi ingat kata-kata ade untuk tidak selalu terbawa emosi. Mas yakin tadi waktu ade hendak berdiri mas melarangnya, itu tandanya ada kesalahan dalam penglihatan mas. Jadi mas posthink saja, karena mas tahu… hatimu sudah terisi olehku… cup…. ucapnya mengecup keningku

makasih mas… ucapku memeluknya, erat sangat erat…

***

Hari berganti, waktu berlalu. Apa yang aku bangun mulai menuai hasil walaupun tidak sebesar yang dibayanngkan namun masih bisa dikatakan bisa menggaji pegawai. Aku tidak lagi pulang malam, sore sekarang aku sudah bisa berada dirumah menemani kekasihku. Tujuanku hanya satu, memiliki waktu yang lama bersamanya. Kini aku memutuskan untuk segera menuntaskan tugas akhirku, selama aku mengurusi tugas akhirku aku menyerahkan kontrol perusahaa kepada pak dhe andi. Pak dhe menyanggupinya.

yang ini sudah benar semua kan TA-nya? ucapku dimalam hari sebelum ujian

iya sudah benar dan jangan tanya apa pertanyaan besok lho, ndak boleh… ucapnya

tenang saja, nanti mas jawab semua kok weeeeek… ucapku

Hari ujian akhirnya tiba, aku berdiri di depan tiga orang yang sudah sanga aku kenal. Pak felix, bu erna dan bu dian. selama 2 jam aku presentasikan hasil penelitianku selama ini, dengan sangat santai aku mempresentasikannya tanpa beban ditambah lagi didepanku ada orang yang aku sayang itu membuatku sangat bahagia. tanya jawab pun berlangsung dengan sangat alot, tapi aku masih bisa menjawabnya walau ada satu pertanyaan dari bu dian yang tak bisa aku jawab. Hingga akhirnya ujianku selesai…

okay ar, bagus. Bagiku kamu perfect! ucap pak felix

aku setuju dengan kamu lix. Kamu yan? ucap bu erna

cukup bagus… ucap bu dian

oke ar, silahkan tutup ujian kamu dan segera wisuda ucap pak felix

Tunggu sebentar, masih ada satu pertanyaan… ucap bu dian, semua pandangan tertuju pada bu dian

tanya apa lagi yan, sudah saja kasihan tuh dah mandi keringat ucap bu erna

bentar…

kamu siap ar? ucap bu dian, aku menngangguk

baiklah…

kapan kamu akan menikahiku? ucap bu dian dihadapan bu erna dan pak felix

eh, bentar ini ada apa sebenarnya? ucap bu erna kebingungan

wow… wow… there is something behind us, erna ucap pak felix

secepatnya bu, pasti saya akan menikahi anda tidak lama lagi ucapku

okay, aku tunggu… silahkan ditutup ucap bu dian tanpa mempedulikan pak felix dan bu erna. Aku kemudian menutup ujianku. Dan sebuah tepuk tangan dari pak felix.

pantas saja aku kalah, sama pendekar kaya kamu. tapi selamat ar, kamu memang pilihan tepat untuk dian ucap pak felix yang berdiri dan menyalamiku

bingung dewe (sendiri) aku yan, ternyata kalian jalan dibelakang. Pantes jarang berangkat, ngurusin brondongnya ternyata ucap bu erna

tapi selamat ya ar, awas kalau kamu macem-macemin dian lanjut bu erna

dia sudah lulus, jadi ndak perlu ada yang disembunyikan ucap bu dian

Lama kami kemudian mengobrol sebentar di ruang sidang. Pak felix kemudian mengemukakan hiptesisnya tentang aku dan dian, begitu juga bu erna. Mereka juga sangat senang karena dian sebentar lagi melepas lajang tapi kapan itu aku juga belum tahu he he he.

Segera aku menyerahkan nilai yang aku dapat ke bagian TU, dibukan disana dan aku menanyakan berapa nilaiku. Pak Felix 90, bu erna 89, dan bu dian 79, aku bertanya-tanya kenapa sesadis itu nilainya ya. sempat aku mampir diwarung dimana dulu aku dan rahman sering nongkrong. Karena penasaran aku bertanya santai dengan maksud sedikit bercanda, toh kalau dirata-rata aku dapat A.

To : Dian My Lovely Angel
Ade… mas mau tanya kok nilainya 79 (B)?

From : Dian My Lovely Angel
Ya, itu sudah bagus kan mas?
Sudah deh ndak usah ditanya-tanya lagi,
Lagian mas tadi juga belum bisa jawab 1 pertanyaan ade

To : Dian My Lovely Angel
Iya, mas kan hanya mau tanya saja

From : Dian My Lovely Angel
Ya sudah, mas itu bawel banget
Itu juga kalau dirata-rata kan A,
Ade tadi sudah lihat nilai dari felix sama erna
Mas ndak usah tanya2 kenapa, yang penting nilai rata-rata A

To : Dian My Lovely Angel
Iya de iya, mas Cuma pengen ngerti saja
Ade jangan marah

From : Dian My Lovely Angel
Yang marah siapa?!
Mas saja, kenapa harus buka-buka amplop nilai!

To : Dian My Lovely Angel
Mas tadi tanya ke ibu TU adeee…
Mas ndak marah 🙂

(aku benar-benar bingung, kenapa balasannya malah marah-marah seperti ini? padahal beberapa hari ini aku selalu memanjakannya…)

From : Dian My Lovely Angel
Ade Cuma ndak cuka mas nanya-nanya nilai saja
Kalau kaya gitu mending tadi ade masukan sendiri ke TU!

To : Dian My Lovely Angel
Ade kok malah marah-marah,
Mas kan Cuma tanya, dan mas tanya juga baik-baik
Ade ndak perlu marah-marah

From : Dian My Lovely Angel
Terus? Mas marah gitu, marah saja!

To : Dian My Lovely Angel
Ya sudah, TER-SE-RAH!
Marah saja sana!

From : Dian My Lovely Angel
Ya Sudah!

Aku bingung dengan ini cewek kenapa tiba-tiba marah, ada hal yang aneh apa dari pertanyaaku. Dan kali ini aku benar-benar marah dengannya. Sama sekali bukan jawaban yang aku inginkan, padahal aku Cuma ingin BBM-an dan bercanda dengannya tapi balasannya, HAH! Mending ke wongso main!

***

Kalau mau marah, marah saja paling juga nanti pulang kerumah! Aku tidak peduli, aku Cuma tidak suka saja dia buka-buka amplop nilai. Walau sebenarnya nilainya sama dengan nilai felix, tapi aku tidak mau memberikannya karena jika seperti itu dosen-dosen pasti curiga.

Khusus felix dan erna pasti masih bisa menjaga rahasia sampai aku sah, karena tadi setelah ujian aku sudah bilang ke mereka. tapi benar juga ya kenapa harus marah sama mas? Pertanyaannya juga tadi santai, apa aku lagi ndak enak hati? Ndak juga, beberapa hari ini dia selalu membuatku tertawa riang.

Ah, ndak papalah paling nanti mas pulang kerumah. Kalau aku ingat ada momen bahagia ketika ujian tadi, dia menjawabnya dengan tatapan yang membuatku yakin akan bersanding dengannya.

Setibanya aku dirumah, rumah tampak sepi kalau seharusnya dia sudah pulang terlebih dahulu karena hari ini ujiand ari jam 9 pagi sampai jam 12 kalau tidak salah tadi. Seharusnya dia sudah pulang, sekarang sudah jam 4 sore. Aku hempaskan tubuhku di sofa, kenapa ya tadi aku marah-marah. Bukannya seharusnya aku tidak marah sama mas? Pertanyaannya juga tadi tidak keras, apa karena aku ketakutan ketahuan oleh dosen yang lain. Tapi beberapa dosen juga sudah ada yang mengetahuinya tapi mereka tetap diam saja. aku tekuk kakiku dan kupeluk, kubenamkan wajahku. Kenapa tadi harus marah? Mungkin nanti dia akan pulang, sudah sore sekali sekarang.

Aku masih duduk disofa menunggu kepulangannya tapi tak ada tanda-tanda dia pulang. Rasa khawatir dan gelisah bercampur aduk membuatku malah semakin jengkel kepadanya. Hanya karena masalah tadi saja dia tidak pulang. Walau sebenarnya yang aneh adalah aku, aku ambil sematpon di tasku dan kulihat tak ada pesan darinya.

terserah kalau mau marah, marah saja! bathinku

Aku bersihkan diriku, berganti pakaian dan bersantai. Ku buka kulkas dan makan roti isi coklat kesukaanku. Ku tonton televisi, waktu terus berdetak dan tak ada kabar dari dia. Waktu menunjukan pukul 8 malam tapi tak ada tanda-tanda dia akan pulang. Aku mulai gelisah, dan takut. Biasanya jam segini dia memberi kabar akan pulang seperti ketika dia menjalankan usahanya. Tapi kali ini tak ada kabar sedikitpun darinya. Rasa khawatirku, gelisahku, jengkelku bercampur dengan rasa takut menjadi gunung yang meledak dan langsung aku raih sematponku.

halo

mas kok ndak pulang? Sudah malam! Kalau memang ndak mau pulang, ndak pulang saja sekalian! Pindah rumah kalau perlu!

ya, sudah aku pindah rumah. Besok aku kemasi barang-barangku!

ya sudah, pindah saja sana!

ya sudah, terus ngapain telepon-telepon! ndak perlu telepon kalau mau ngusir!

oh begitu ya! kamu itu ditungguin ndak pulang, ditelepon marah, hanya nilai saja mas marah! Kenapa sih ndak bisa mikir dewasa!

yang ndak bisa mikir dewasa itu siapa! Tadi juga tanya baik-baik, pengen ngajak bercanda, kamu itu yang tiba-tiba jawabannya ndak enak sama sekali!

ooo jadi kamu nyalahin aku, gitu, sudah bagus dikasih nilai, malah nyolot!

ya sudah terus ngapain telepon, tinggal kirim pesan, suruh pindah! Gampang kan!

oke, pindah saja sana, bye!

Aku tutup telepon dan langsung menuju kamarku. Aku marah dengannya benar-benar marah, kenapa dia malah marah ketika aku marah. Apakah aku yang terlalu ketakutan? Rasa sayangnya kepadaku tidak perlu di tanya lagi. Benci sekali aku dimarahi seperti ini, benci sekali sangat benci.

Aku tarik selimutku, dan kulihat jam di dindingn menunjukan pukul 9 malam. Tiba-tiba rasa takut menyelimutiku, entah kenapa aku merasa takut. Dulu aku tinggal sendiran, tak ada rasa takur sama sekali tapi setelah dengannya dan kini aku sendiri lagi merasakan takut. Aku duduk dengan kaki aku tekuk dan kupeluk, tiba-tiba air mataku keluar.

mas pulang mas… ade takuutt hiks hiks hiks ucapku lirih

I Love the way you love me. Strong and wild. (Eric martin). Ringtone hp. Mama diah.

halo ma

ini arya dirumah kakeknya, ada apa? Kalian lagi marahan?

hiks hiks ma, mas arya suruh pulang ma, dian takut sendrian hiks hiks

iya, tapi ini aryanya ndak mau diajak bicara mama. Kalian marahan? Kenapa?

tadi dian kasih nilai B ke tugas akhirnya, terus mas arya nanya, dian marah-marah sendiri tadi ndak tahu kenapa… terus mas arya ikutan marah hiks hiks maaaa… mas arya suruh pulang, dian beneran takut..

iya, iya sebentar ya…

(kudengar percakapan mama dengan mas arya)

ar, pulang dian takut itu, kamu jangan marah gitu to kasihan dian

endak ya endak! Arya tidur dirumah kakek saja, titik!

yan, masmu ndak mau pulang, kamu sendiri dulu ya. kelihatannya dia marah banget, mamam baru kali ini lihat arya marah seperti itu

hiks hiks maaaa… tapi dian takut ma

iya, mama akan bujuk masmu itu, tapi kalau misal tidak mau, kamu sementara sendiri dulu ya?

usahain ma..

iya iya sayang… klek

Aku menunggunya dan menunggunya, aku semakin menangis menyesali marahku hari ini. aku mencoba meneleponnya tapi beberapa kali selalu ditolak oleh mas arya. aku taruh dua guling disamping kanan dan kiriku, dan mulai mencoba tidur. Aku tahu dia sangat marah, dan aku tahu dia pasti tidak mau pulang malam ini.

ar, tidak seharusnya kamu marah sama dian. kamu itu laki-laki dan harusnya bersikap lebih dewasa ucap ibuku

dia harusnya lebih dewasa, aku tanya baik-baik dia malah marah-marah. Sudah bu, aku mau tidur saja dikamar pak dhe andi ucapku langsung naik ke atas

aryaaaa… pulang ucap nenekku

kalau aku dipaksa pulang terus, aku mau nginap di wongso saja ucapku

aryaaa…. aryaaa… ucap kakekku

kakak, kasihan mbak dian ucap eri yang tinggal bersama mereka

arya mau tidur, capek… ucapku langsung menuju kamar pak dhe andi ketika mudanya

Bodoh, bodoh, bodoh… aku langsung tidur dan ku kunci kamarku. Marah benar-benar marah….

***

Aku terbangun dan tak kudapati dirinya disampingku, terasa asing bagiku. Setiap pagi, jika aku terjaga terleih dahulu dia selalu berada disampingku dan mendengkur keras. Kini aku tidak mendengar dengkurannya, seperti ada yang hilang. Aku berharap dia tidur di sofa, ya pasti dia di sofa. aku langsung bangkit, senyumku mengembang tapi yang aku dapati adalah dia tidak ada disana. Perih rasanya tidak melihatnya malam ini, dengan sedikit air mata aku membersihkan diriku.

biasanya, aku dimandikan olehnya kalau pagi buta seperti ini bathinku membuatku semakin menangis

Setelahnya aku duduk di tempat tidur, menghentak-hentakan kakiku dilantai. Aku menangis sejadi-jadinya, tubuh telanjang biasanya selalu ada yang menggodanya di pagi hari tapi kali ini tidak. Kuraih sematponku.

halo sayang

maaa… hiks hiks mas disuruh pulang maaaa….

iya ini lagi dibujuk sama kakek dan nenek juga, kelihatanya dia mau pulang kok

beneran mas hiks

iya, ini mau pulang tapi mama ndak jamin dia langsung kerumah lho. Kayaknya wajahnya masih muram

ndak papa ma, yang penting mas sudah mau pulang

iya, sudah kamu siap-siap saja, terus berangkat kerja dan nanti pas pulang pasti masmu sudah di rumah oke?

iya ma… kelk

Aku pakai pakaianku, tampak asing sendiri memakai pakaian kerja dipagi hari. Bahkan ketika aku makan pagi di meja makan aku juga merasa aneh sendiri, tak biasa aku makan pagi hari dengan memegang sendok. Air mataku keluar lagi, dan kali ini benar-benar deras sekali. Hingga tepat pukul 7, aku berangkat dan ketika keluar melewati pos satpam aku lihat mas arya masuk ke perumahan.

Langsung aku hentikan mobilku dan memutar balik tapi disaat bersamaan aku mendapat telepon dari erna, agar menggantikannya mengurusi admnistrasi jurusan untuk audit karena anaknya tiba-tiba jatuh sakit. Erna hendak memeriksakannya terlebih dahulu, baru kemudian berangkat. Kaku disuruhnya menyiapkan berkas saja. Mau tidak mau aku langsung memutar kembali mobilku, dan berharap dia tetap dirumah sampai aku pulang.

Sesampainya di kampus, aku langsung menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk audit. Dan tepat pukul 9, erna datang anaknya sakit panas tapi masih bisa ditinggal karena orang tuanya yang menjaga. Jam setengah sepuluh aku mengajar, pikiranku tidak fokus, selalu aku mengambil sematponku untuk melihat ada pesan masuk atau tidak, kulihat kontaknya pun tidak berubah pada displai pikcur-nya.

Statusnya tidak berubah, aku coba ping tapi centang. Setelah seharian mengajar, aku tinggalkan kampus dan langsung pulang kerumah tepat pukul 3 sore. Ku dapati motornya masih berada di garasi, aku tersenyum dan langsung aku berlari masuk. Kulepas semua bajuku dan menyisakan tang-top dan celana dalam. Kucari dia, ternyata masih berada didalam kamar mandi.

Tok tok tok…

mas… ucapku dengan penuh kebahagiaan dia pulang

Kleeek…

ya jawabanya singkat, aku tersenyum dan membuka tanganku tapi dia berlalu ke dapur mengambil makan. Aku jadi sedih melihat sikapnya, kulihat dia tidak memandangku sedikitpun ketika berjalan ke sofa depan TV. aku dekati dan aku duduk disebelahnya, kucoba bermanja kepadanya.

mas, ade suapin, ade kan juga laper mas ucapku manja, tapi kulihat dia cuek saja makannya semakin cepat dan langsung pergi meninggalkan aku setelah makan selesai. Dia kemudian datang membawa sepiring nasi dan lauk, diletakannya di sampingku.

ini, ade makan sendiri, mas mau ke wongso ucapnya berlalu meninggalkan aku

maaaas, mas jangan pergi lagi ade tak.. ucapku berdiri dan tercekat

klek… pintu tertutup dan dia pergi, aku berlari tapi dia sudah keluar dan mengdarai motornya menghilang dari pandanganku. Aku meringkuk di balik pintu, dan menangis, sejahat itukah aku? Hingga dia tidak mau memaafkan aku?

tidak dia pasti pulang, pasti pulang ucapku kepada diriku sendiri

Detik berganti, jam pun berganti tepat pukul 9 malam. Dia belum juga pulang, akhirnya aku menyusulnya ke rumah wongso. Tapi setibanya aku disana tak ada motor merahnya itu, ku tanyakan ke wongso dan asmi. Memang dia sebelumnya disini dan tampak wajahnya bete sekali, seperti kemarin namun tadi pukul 7 malam dia sudah pergi.

makasih ya wong, as ucapku

iya, lagi marahan apa? ucap asmi

iya… kira-kira kalian tahu kemana mas arya pergi? ucapku

kamu to mbak seharusnya yang lebih tahu ucap wongso

eh, iya coba aku telepon nanti ucapku

mbak, biasalah kalau marahan. Dulu mas wongso juga gitu malah ndak pulang 3 hari, kalau ndak dicari ya ndak pulan tuh ucap asmi

sudah ndak usah dibahas lagi ucap wongso

Aku hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua. Kemana aku harus mencarinya, aku sudah mendapatkannya tapi aku malah mengacuhkannya. Aku tidak pernah memanjakannya sekalipun, aku merasa bersalah.

Da sudah berusaha mewujudkan impianku menjadi istrinya tapi. Dalam mobil yang berjalan, aku terus berputar-putar kulihat rembulan dan sesaat aku teringat akan sebuah tempat. Langsung aku putar arah mobilku dan menuju tempat itu. sesampainya ditempat itu, aku lihat motornya, aku langsung berlari ketempat itu. dalam nafas terengah-engah aku sampai juga, kulihat dia sedang duduk dan merokok.

mas… ucapku pelan, dia menoleh sebentar dan kemudian menghisap rokoknya

mas… ucapku sekali lagi, dia mematikan rokoknya dan berdiri

kalau bangkunya mau dipakai, pakai saja ucapnya sembari melangkah pergi

Aku langsung berlari kearahnya, tak akan kulepas lagi dia. Aku peluk erat tubuhnya dan menahannya untuk tidak pergi lagi. Aku peluk sangat erat…

jangan pergi lagi, ade minta maaf hiks hiks hiks ade tahu ade yang salah sudah marah-marah, tapi mas jangan pergi lama hiks hiks.. ucapku, tapi kakinya tetap melangkah

mas…ade mohon hiks hiks ucapku

ade kan pengen mas pindah kan? Ya sudah, kenapa dicegah? Daripada bikin sumpek rumah ade, mending mas pergi saja ucapnya

ndak hiks hiks ndak sumpek mas… ade mohooon hiks hiks hiks.. ucapku

mas itu bingung sama ade, mas tanya baik-baik ade jawabnya ketus seperti itu. salahnya dimana? Katanya tanya dulu sebelum bertindak, terus kenapa marah-marah hanya ditanya nilai. Mas ndak mempermasalahkan nilai, hanya saja tanggapan ade yang berlebihan, membuat mas ndak suka. apalagi ade nyuruh mas pergi, ya sudah berarti memang ade tidak mengharapkan mas lagi kan? ucapnya

maaaaaff hiks hiks hiks hiks maaaaaf mas maaaaf… ade ndak akan ngulangi lagi, ade janji hiks hiks hiks… ucapku terisak

mas memang mahasiswa ade, tapi mas sudah punya niat untuk tidak menjadi mahasiswa ade. mewujudkan mimpi kamu dan juga aku… ucapnya

maaf, maaafin ade maaas… ucapku memeluknya semakin erat

haaaaaash… sudah ndak usah nangis lagi, ya mas maafin dasar cewek manja, dah mas sudah ndak marah ucapnya, tubuhnya berbalik, pelukanku longgar. Aku dipeluknya erat, kurasakan nafasnya di ubun-ubun kepalaku. Cup…

dah, yuk pulang… sudaaaah mas dah ndak marah ni mas senyum ni ucapnya menunjukan senyumnya kepadaku

jangan pergi lagiiiiii… ade mohoooon… hiks hiks… ucapku

iya, iya… makanya jangan asal marah-marah lagi ucapnya,

Entah kenapa kulihat didalam dirinya sebuah kedewasaan yang selama ini tak pernah aku lihat. Seorang yang selalu menyelsaikan masalah dengan otot kini berubah. selama beberapa saat aku didiamkan dari tangisku dan kemudain diajak pulang kerumah. Ketika aku lihat mas menaiki motor, aku langsung membonceng di belakangnya.

lho? Lha itu mobil siapa nanti yang bawa? ucapnya

nanti mas pergi lagi hiks… ucapku masih sedikit terisak

endak, endak, yakin deh… ntar mas ada didepan ade terus. Suwer ucapnya

janjiiii… ucapku

janji ucapnya,

Aku kembali ke mobil dan mengikutinya dari belakang hingga sampai dirumah. begitu mas turun dari mobil langsung tangannya aku peluk erat. ku kira akan berjalan bergandengan tangan, aku malah dibopongnya ke ralam rumah.

bobooooo… ucapku manja

iya iya… ucapnya

lepasiiiiin… ucapku lagi memintanya melepaskan pakaianku. Dia langsung saja melepas pakaianku, dan meninggalkan tang-top dan celana dalam.

mas jugaaaa… kalau dilihat darimanapun, malu juga aku manja dihadapannya

peluk… pelukkk cepetaaaan… ucapkum tubuhnya langsung menarikku rebah dan memasukanku dalam pelukannya. Hangat.

mas, ade ndak di boboi? ucapku

endak… jawabny tersenyum

ade, dah ndak menarik ya?? ucapku

kalau ndak menarik itu batang ndak bakal berdiri ade ucapnya, ku elus bagian selangkangannya dan kurasakan keras di sana

sudah bobo saja, besok masih ada waktu, okay? ucapnya aku mengangguk

ade boleh nangis? ucapku

lho kenapa nangis? balasnya

pengen saja, nangis dipeluk sama mas ucapku

iya iya, boleh, sini ucapnya

Aku langsung saja menangis menyesali semua yang aku lakukan padanya. Tubuhku masuk dan memeluk tubuhnya, kepalaku dielus-elus olehnya. Bibirnya terus mengecup kepalaku dan aku terus menangis hingga lelah dan terlelap.

***

Berbulan-bulan aku mengandung anak mahesa, sudah tak aku pedulikan lagi keberadaan yah dari anak ini. aku kembali ke kehidupanku seperti sedia kala dalam beberapa bulan ini. menjadi anak ayah dan ibu, tapi tidak sepenuhnya karena ada eri disini yang menemaniku, kadang anak perempuanku yang satunya, rani, juga datang kesini menemaniku.

Pernah sesekali, arya pulang walau aku melarangnya karena aku tahu dian adalah wanita yang manja seperti halnya aku. Tapi aku tidak pernah terlihat manja, lha wong suami saja tidak pernah ada dirumah, dulu. Tapi namanya anak laki-laki, sering sekali dia meneleponku menanyakan keadaanku. Aku bangga dengannya karena memiliki pemikiran untuk mendirikan usaha, uang yang dulu pernah aku kumpulkan aku berikan sepenuhnya kepadanya untuk modal usaha.

Perna Arya saat itu pulang dengan wajah marah, ternyata dia sedang bermasalah dengan dian. baru kali ini wajahnya yang selalu tersenyum dihadapanku terlihat snagat marah. Wajar saja mungkin karena memang pada dasarnya sudah bertemu dengan wanitanya, pasti ada marah-marahannya.

Hari ini ratna datang kerumah mengajakku ketempat belanja, aku telepon dian dan arya untuk ikut dan merea menyetujuinya. Dengan usia kandungan hampir 8 bulan, rasanya berat sekali untuk melangkah. Aku menyayangi anak didalam kandungan ini, walau ini benih dari mahesa. Aku tidak mempermasalahkannya, karena memang hanya dari dia aku bisa mengandung. Pernah saat itu aku berpikir untuk arya tapi tidak, aku tidak ingin memperpanjang kesalahanku.

mamaaaaa… teriak dian masuk kedalam rumah selang beberap jam aku telepon

masmu mana? ucapku

itu… ucapnya

ibu… ucap arya

pengusaha sukses ni??? Tapi sayang masih lajang hi hi hi buat apa coba uang banyak kalau masih lajang? candaku

keluar lagi deh, yakin bu. Aneh rasanya arya denger ibu ngomong kaya gitu ucapnya

terus? Harus bilang apa? Wow? ucapku

ayolah bu… jangan kaya gitu, tapi terserah deh. Eh bu, lha mana anak perempuan ibu yang cengeng itu? ucapnya

auw auwh.. sakit tahu, aku balas ucap arya yang kena cubit dua adiknya

mbak diaaaaaaaaan… teriak mereka berdua bersembunyi dibalik dian

dari mana sih kalian? ucap arya

tuh… ucap mereka berdua serempak,

hai kakak iparku ucap anta dan rino, pacar dari rani dan eri, aku tahu dari cerita mereka berdua

hah?! Aku jadi kakak ipar kalian, ndak mau, cari yang lain ran, er! ucap arya

mama… kak arya jahat ucap mereka

sudah, sudah kalian itu sudah gedhe bertengkar terus ucapku

Ratna kemudian datang bersama suami dan anak-anaknya. Kami kemudia berangkat, arya mengemudikan mobil dan dian menemaniku dibelakang. Sedang rani dan eri dan juga pacarnya dengan ratna.

mah cowok apa cewek? ucap dian

cewek kemarin di USG ucapku

asyiknyaaaaa punya dedek, penge ucap dian sambil melirik arya

iya, iya, bentar perusahaan kan belum stabil sayang ntar makan apa coba? bela arya

makan nasi, tul g yan? ucapku

heem… mas arya kadang bloon deh ucap dian

daripada judes! Weeeek…. balas arya

biarin penting cantik, bener ndak ma? ucap dian

bener, daripada jomblo dipelihara lama hi hi hi ucapku

lama kelamaan arya lihat ibu, masa mudanya kaya dian deh ucapnya

oooo… kamu ngatain ibu gitu?! ucapku

endak endak… gitu saja marah huuuuuu ucap arya

Sesampainya di tempat perbelanjaan, mereka langsung bergerak sendiri, sendiri aku hanya duduk manis didepan salah satu tokok yang berada didalam toko perbelanjaan. Memainkan sematpon untuk membaca artikel-artikel terkait dengan kehamilan. Dian datang membawakan aku jus buah dan diletakand di meja kemudian meninggalkan aku untuk berberlanja bersama dengan arya. aku hanya bisa pesan barang A, B, C dan menunggu mereka. Lama aku menunggu…

boleh aku duduk disini? ucap seorang lelaki, yang suaranya tidak begitu asing,

silahkan ucapku cuek dan tetap memainkan sematpon

hamil berapa bulan? ucapnya

hampir 8 bulan ucapku masih sibuk dengan sematpon

Hening sesaat tapi aku merasa laki-laki ini memandangku terus, tapi aku acuh bahkan tidak meliriknya sama sekali.

kamu masih tetap sama ya yah, sama seperti ketika sekolah dulu ucapku terhenyak dan langsung aku angkat pandanganku. Betapa terkejunya aku melihat lelaki yang sekarang berada dihadapanku.

eh… kamu… ucapku

hai, apa kabar? ucapnya menyodorkan tangannya

baik, kamu? ucapku, sambil menjabat tangannya

baik… ucapnya tersenyum manis ke arahku

mana istri dan anakmu? ucapku

aku belum menikah, jadi tidak punya anak dan istri ucapnya

jangan bohong kamu, sudah hampir 20 tahun lebih berlalu kok belum menikah ucapku santai, dan bersandar di kursi

menikah sama siapa yah? Aku lajang setelah aku memutuskan pindah, dan sibuk dengan sekolah, juga pekerjaanku ucapnya

ya sama cewek, kalau kamu homo ya sama cowok, gampang kan? Namanya cowok juga pasti dekat dengan cewek kan? Kamu pasti bohong.. ucapku

diah, diah… pernah aku berbohong sama kamu? ucapnya, aku tatap matanya dan aku menggeleng

terus kenapa kamu ada disini? ucapku

karena mendengar kabar tentang kamu dari mas andi, kemarin aku ketemu dengannya ketika dia berada di ibukota negara. Dia bersama seorang remaja tapi aku lihat wajahnya mirip kamu. itu anak kamu? ucapnya

iya, tuh… ucapku sambil menunjuk ke arah arya

aku belum sempat bertemu dengannya, karena waktu itu aku ketemu mas andi pas papasan di rumah makan. Ganteng dan putih ya, mirip ibunya? ucapnya

kalau mirip ibunya, ya cantik to ya ucapku

***

siapa laki-laki itu? bathinku

ade, kesana yuk. Ibu kok ngobrol sama orang asing ucapku kepada dian, dan dian mangangguk

***

ibu… ucap arya kepdaku

hai om… ucapnya kepada lelaki itu

hai… ucap lelaki yang duduk tepat didepanku, arya duduk disampingnya sedangkan dian duduk di sampingku

Lelaki ini kemudian mengobrol sejenak dan menceritakan pertemuannya dengan mas andi. Arya terlihat antusias, walau pertama pandangan arya adalah pandangan curiga.

oh ya om, kenalin namaku arya dan ini dian calon mantu ibuku ucapnya

eh,… lelaki itu tampak terkejut dan sedikit melirik kearahku

ada apa om? ucap arya

kenalkan nama om, Arya, Ariya Sukarno, panggilannya arya, tapi nama lengkap om pakai huruf i setelah huruf r. Om teman SD, SMP dan SMA ibu kamu ucap ariya

wah nama kita sama om, tapi beda dibelakangnya dan huruf i-nya tadi he he hesaja ucap arya anakku

Kami bercanda, dan kemudian arya, dian melanjutkan belanjannya. Setelah selesai semua, mereka berkumpul kembali ke tempatku dan arya teman sekolahku mengobrol.

lho mas arya ucap ratna terkejut

hai rat, masih ingat kamu sama aku ucapnya

masih lah… ha ha ha ucap ratna kemudian kami mengobrol, selang beberapa saat aku dan yang lainnya melangkah menuju ke tempat parkir. Aku berjalan berdampingan dengan arya anakku, tapi ariya kemudian meminta anakku untuk jalan terlebih dahulu.

yah, apa sekarang kamu benar-benar sudah tidak…. itu anu apa itu…. ucapnya sedikit gugup

apa? ucapku

tidak memiliki suami ucapnya, terlihat sangat lega ketika seudah berucap

iya, memang kenapa? lha kamu sendiri bagaimana? Aku tidak percaya deh kalau kamu itu lajang? Ndak mungkin cowok seperti kamu masih ting-ting ledekku, memang perawakannya putih tinggi tapi jika dibanding anak lelakiku lebih tinggi anak lelakiku

yah… aku sudah bilangkan tadi kalau aku tidak pernah berbohong kepadamu ucapnya memandangku, dan kali ini aku yakin kalau dia serius

iya deh percaya. Aneh juga cowok seperti kamu ndak nikah ucapku

karena kamu… ucapnya membuat langkahku terhenti dan memandangnya

semua karena kamu yah, seandainya saja dulu tak ada kejadian itu pasti aku akan tetap tinggal di kota ini. haaassshhh… aku masih terlalu sulit melupakanmu ucapnya membuatku tercekat

aku sudah janda dan akan mempunyai anak lagi, umurku sudah tua dan tidak menarik lagi. Jangan ungkit lagi janji dimasa lalumu itu, kita sudah terlalu tua ucapku melanjutkan langkahku. Dadaku berdegup kencang jika mengingat wajahnya yang masih SMA waktu itu.

yah… bisa kita bicara sebentar yah? ucapnya

Ibuuuuu…. ucap arya yang memanggilku

anakku sudah memanggil, maaf kapan-kapan kita lanjut lagi ucapku sambil tersenyum ke arahnya

baiklah, hati-hati ya… ucapnya

Aku tak menyangka akan bertemu dengannya disini. dulu setelah kejadian yang menimpaku, kulihat wajahnya meneteskan air mata. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Kata teman-temanku dia pindah entah kemana dan aku tidak pernah mendengarnya.

bu tadi siapa? ucap arya

kan tadi sudah bilang si om, kalau dia teman sekolah ibu ucapku

tapi aneh, kok namanya sama ya dengan namaku, kalau pas dipanggil walaupun tulisannya beda ucapnya

heem ma, tapi ndak tahu ding ucap dian

kebetulan sayang ucapku

Setelah pertemuan itu, aku kembali ke kehidupanku. Kehamilanku semakin membesar, anak lelakiku dan kekasihnya sering sekali menjengukku. Kadang malah tidur besamaku walau ada eri yang selalu menemaniku. Hingga pada suatu hari, Ariya datang kerumah.

lho ada angin apa? ucapku

bapak sama ibu kamu ada? ucapnya

ada, duduk dulu sebentar. Ku panggilkan ucapku tanpa menaruh curiga

Selang beberapa saat, ibu dan ayahku menemuinya. Aku buatkan minum, kulihat wajahnya sedikit grogi. Aku letakan minuman dan hendak pergi ke belakang.

yah, bisa disini sebentar saja? ucapnya

sebenarnya kamu mau menemui siapa ar? Diah atau bapak sama ibu? ucap ayahku, aku mengangguk dan duduk disamping ibu

ke…ketiga-tiganya ucapnya, tampak grogi

eh om A-RI-YA, he he he ada apa ini om? ucap anakku yang tiba-tiba datang dari belakang bersama dian. tak ada eri karena eri sedang pergi dengan rino.

ndak papa ar ucapnya

arya, kamu itu datang tiba-tiba langsung buat gempar saja… Oh iya kok kamu tiba-tiba muncul? Dulu kamu pindah ya? ucap ayahku dan anakku hanya cengengesan

iya pak… eee anu pak, boleh saya memulai? ucapnya

wah kok serius sekali ada apa? ucap ibuku

begini, maksdu kedatangan saya yang pertama adalah menjalin tali silaturahmi. Dan yang kedua adalah untuk… anu… eh…melamar diah pak, untuk menjadi istri saya ucapnya

Kamisemua tercengang mendengar ucapannya. Bahkan anakku saja sampai membuka mulutnya, juga dian tampak kebingungan.

baiklah, kalau ini kamu langsung bicara saja sama diah. Bapak dan ibu mau kebelakang dulu. Ayo bu, tadi ibu mau mijitin bapak kan? ucap ayahku

oh iya lupa, nak arya ibu kebelakang dulu, silahkan bicara sama diah langsung. Ar kamu ndak ikut ucap ibuku, anakku menggelengkan kepala dan masih duduk dengan dian bersandar dibelakang punggungnya menatap teman sekolahku ini.

yah, bagaimana? ucapnya menyadarkan aku

ar, maaf bukannya aku menolak. Tapi aku seorang janda dan aku mengandung anak dari suamiku. Aku tidak mau kamu menanggung bebanku ucapku

aku siap menjadi ayahnya, dan jika anak itu lahir katakan kepadanya aku ayah kandungnya. Aku tidak tahu semua masalahmu yah, yang aku tahu aku terluka ketika kejadian saat itu dan aku pergi agar aku bisa menenangkan diriku. Aku tidak bisa melupakanmu… ucapnya

jangan bodoh! Banyak wanita yang lebih baik dari aku dan ban…. ucapku terpotong

ini, kamu masih ingat ini kan? ucapnya dihadapan anakku, menyerahkan kalung. Ingatanku kembali ke masa yang lampau.

hei yah, aku akan mengalahkanmu dan aku akan menjadi juara satu pararel sesekolahan ucap ariya

coba saja, emang aku diem saja gitu! ucapku

kalau aku menang aku mau kalung kamu itu ucapnya

eh eh jangan seenaknya buat peraturan ya! taruhan sendiri, ya menang urus sendiri dong! ucapku

bilang saja kamu takut! ucapnya

HUH! Apa kamu bilang, oke kalau begitu. Tapi kalau aku menang, kamu harus merangkak pulang dari sekolahan kerumahmu! ucapku

siap! ucap ariya

Setelah semesteran…

mana ucapnya

nih, beruntung kamu menang, kalau besok aku menang kembalikan kalungku! ucapku

tidak, aku akan kembalikan kalau aku melamarmu nanti ucapnya

siapa juga yang mau sama kamu ucapku

aku akan menunggumu sampai kamu mau, dan baru kalung ini aku kembalikan ucapnya

yah… ucapnya menyadarkan aku, anakku bahkan hanya diam memandang kami berdua

sudahlah lupakan janjimu itu ucapku, ketika kalung itu jaruh dan menggantung kulihat sebuah cincin yang bersanding dengan liontin kalungku

jika kamu memang tidak mau, aku akan menyimpannya sampai kamu mau ucapnya

hiks hiks… dasar kamu cowok jelek! Kenapa kamu mau sama janda seperti aku, janda yang sedang hamil! ucapku

karena aku selalu mengagumimu dan mencintaimu walau tak pernah aku ungkapkan, tapi sekarang aku benar-benar mengungkapkannya dihadapanmu dan juga anakmu ucapnya

Aku lihat dian hendak mendekatiku tapi arya anakku mencegahnya. Wajah arya tersenyum dan mengangguk ke arahku. Aku memang jengkel dengan lelaki ini sejak dulu, tapi ada perasaan sayang kepada sainganku ini. semejak dia menghilang dan aku melahirkan, aku merasa kehilangan. Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun itu. bahkan anakku sendiri. tentang cinta yang terpendam kepada lelaki jelek.

cewek galak, kamu mau kan? ucapnya

dasar cowok jelek! ucapku sambil menyodorkan tangan kiriku, aku tidak bisa menolaknya. Perlahan dia memasangkan cincin itu, dan kalung itu dipakaian lagi setelah 20 tahun lebih dia menyimpannya

tapi aku hamil, kamu harus menunggu hiks hiks… ucapku

apa perlu aku ulangi lagi, sampai kamu mau ucapnya

Tiba-tiba arya berdiri dan melompat kearah ariya. Melompat dan memeluk lelaki itu.

Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh… teriak arya keras, wajahnya sangat gembira

sekarang aku tahu kenapa namaku arya, itu adalah nama panggilan dari cintanya ibu ha ha ha canda anakku

sudah? ucap ayah tiba-tiba datang, ariya mengangguk

kamu bisa menerima diah? ucap ayahku kembali

asal bapak mengijinkan, saya akan selalu menerimanya ucapnya

tunggu 3 bulan setelah anak itu lahir, baru kamu boleh menikahinya ucap ayahku

tapi, saya harap nama ayah di akte itu adalah nama saya ucapnya

bagaimana yah? ucap ayah dan aku mengangguk

Arya tampak gembira sekali ketika tahu aku dilamar oleh ariya. Sebuah kebencian karena dulu aku dikalahkan kepadanya sebenarnya adalah rasa sayang kepadanya. Sempat dulu aku memikirkannya karena dia satu-satunya lelaki yang bisa mengalahkan aku. Ariya kemudian pergi dan akan datang lagi bersama kedua orang tuanya. Ayah dan ibuku tersenyum bahagia, memelukku.

ciyeee ciyeee ditembak nih yeeee… ledek anakku didalam kamar

wajah mama merah tuh ucap dian

sudah kalian itu malah ngeledekin ibu terus ucapku

benerkan apa yang arya bilang, masa muda ibu kaya dian, judes dan galak he he he ucapku

apa hmmmm hmmm hmmmm ucap dian sambil mencubit arya

aduh sayang ampuuuuun ampuuuuun ucap anakku

bisa ibu sendiri dulu? ucapku, dan arya-dian melangkah keluar

oia bu, kalau nanti ibu sudah menikah. Boleh arya minta sesuatu? ucap anakku

iya, apa? ucapku

tolong ibu ngomong ke ayah baruku…. lamarkan aku, karena aku ndak bisa ngomong seperti calon ayahku tadi ucap arya tersenyum, aku mengangguk. kulihat dia langsung ambruk di punggung anakku dan memeluknya. Mereka kemudian keluar dari kamar.

Tak kusangka waktu begitu cepat berlalu tapi kamu masih saja menepati janjimu. Aaaah, aku masih laku juga ternyata hi hi hi. Ariya… ariya, gara-gara kamu anaku juga memiliki nama yang sama denganmu. Tapi maafkan aku, semua keperawananku telah hilang oleh mantan suamiku dan anakku sendiri. tapi tenang saja, sisa hidupku untukmu.

Selang beberap bulan aku melahirkan normal, bayi perempuan dengan panjang 50 cm dan bobot 3,2 kg. Wajahnya putih, khas keturunan jepang, hidungnya lumayan mancung menurutku. Semua keluargaku hadir menyaksikan kelahiran anak keduaku. Aku langsung memebri nama sesuai keinginanku, Marta Undi Pitaloka. Memang aneh, tapi kelihatannya dari semua keluargaku hanya anak lelakiku saja yang tahu arti nama itu.

Mas Ariya Untuk Diah Pitaloka, iya kan bu? ucap arya berbisik kepadaku

kamu tahu saja, yang lain jangan diberitahu ucapku

yeee dian sudah tahu tadi ucapnya

Bersambung