Cerita Sex Boss Part 57

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 57 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 56

Harsa

Ini yang gue kurang sama hara, dia serahin ke gue buat urusin sisanya, yang gak langsung beurusan lagi sama keluarga taslim.Walau sudah menang sidang berkat mas roy, gue tetap harus mengambil sertifikatnya ke orangnya langsung. Dengan membawa surat hasil persidangan.

Sidang berlangsung empat kali, dua kali mereka datang untuk mencoba mempertahankannya, tiga dan empat mereka tak datang. Karena beberapa mantan gue dulu bersaksi untuk pelecehan seksual yang di lakukan rudy.

Awalnya soal ajeng harusnya tak ada yang tau,, itu justru beberapa karyawannya membuat pemikiran gue datang karena kasus ajeng.

“beb liat” chat dari bella soal bekas perusahaan gue, kasus ajeng mencuat menjadi kasus bunuh diri,

“dari soal bunuh diri, salah satu karyawannya, menjalara ke pelecehan seksual, korupsi, pencucian uang”

“pasti pak taslim yang melakukannya,” ucap om roni yang di samping gue dan buka pintu.

“eh? Om? Kenapa om yang antar?”

“om temanin kamu, papa kamu kwahtir terjadi apa-apa” jelasnya.

“tadi om bilang pak taslim yang melakukannya?”

“iah, dia melakukan untuk kasus penyuapan, korupsi, dan pencucian uang tak mengarah ke perusahaannya”

“bekas perusahaan kamu kamu, itu menjadi perusahaan untuk menanggung resiko itu, dan menantunya bernama rudy yang harus bertanggung jawab atas kelakuan pak taslim”

“cihh” gumam gue,

Aku pun langsung berangkat ke perusahaannya, tepatnya perusahaan bekas om roni, tangannya sempat bergetar saat sudah sampai di halaman parkir.

“yuk masuk” ajaknya, dan benar tanganya gemetar saat masuk ke loby, semua orang bukan melihat kearahku, melain kea rah om roni.Semua tertunduk diam,

Aku bisa rasain pasti dia memaksan kesini, walau orang -orang kenal dia, tapi kondisinya dia berbeda, dengan pakaian driver, om roni ikut gue masuk terus kedalam,

“om jangan memaksakan, pasti rasanya masih nyesek kan” kataku saat dalam lift.

“gak apa-apa sekalian mencoba melawan rasa takut, itu,” ucapnya pegang tangannya yang tadi bergetar.

“silahkan, pak taslim sudah menunggu” angguk aku sama om roni yang langsung masuk ke dalam.. tak biasanya dia hanya sendiri sambil berdiri memandang arah luar jendela.

“siang, pak taslim” kataku. Dia langsung berbalik arah melihatku dengan seperti tatapan kosong. Tapi tak lama dia melihat ke arah om roni.

“kamu…..”

“ap aini rencana kamu semuanya?”

“apa iini sumpah kamu saat itu?” suaranya sedikit geram.

“saya tak melakukan apa-apa, sesuai ucapan kamu saat itu, hiduplah dengan damai, tanpa mencampuri urusan saya, demi keluarga” jelas om roni.

“itu yang saya lakukan, terus membayar utang tak ternilai, dan akan lunas sampai saya mati” dan lagi tangan om roni gemetar, tapi suaranya benar-benar tegar.

“saya tak percaya,”

“tapi saya percaya, keadilan datang suatu saat nanti, dan orang orang itu seperti di samping saya” ucap om roni,

Aku gak ngerasa seperti itu, melainkan orang yang lebih tepatnya si hara, bukan aku.

“lupakanlah, ini yang kalian mau” ucapnya melempar amplop.

“dan saya akui, efek gara-gara tanah, membuat masalah semakin sulit, di tambah kenapa orang sekelas mantan gurbenur pun ikut campur dalam masalah ini”

“sepertinya memang saya, salah memilih lawan, “ aku langsung ambil dan buka isi amplopnya. Dan benar isinya surat tanah,

“saya pamit, terima kasih”ucapku.

“kita bisa negoisasi soal hutang kamu” ucapnya pas mau keluar.

“tidak perlu, saya tak tertarik, apa lagi ini menyangkut nama perusahaan, saya sama sekali tak berniat” ucap om roni langsung berjalan keluar dari ruangan.

“braaak” terdengar suara meja di pukul, aku rasa pak taslim benar-benar lagi di masa-masa itu.

***​

Setelah urusan pasar selesai, aku langsung diskusiin soal pembangunannya, dengan gampangnya hara ingin pasar dengan luas semula, luas lapak sama rata, tapi dengan bantuan om roni yang paham dengan tata ruang soal pembangunan, akhirnya aku menyetujuinya,

Ini proyek pertamaku di perusahaan papa, walau dengan berat hati ini aku dapatkan karena berkat hara juga. proyek pembangunan pasar bersih, dan juga pasar bersih satu-satunya di daerah sana Ini kesempatan aku buat buktiin kalau mantan direktur bisa di andalkan,

Pembangunan memakan waktu satu bulan dari sekarang, walau begitu ada kendala karena orang-orang pasar belum tau sepenuhnya kalau pasar tak jadi di ambil alih. Dan tetap mereka akan di relokasi.

Di lain sisi aku kepikiran liburan ke Lombok bersama bela setelah proyek ini selesai, belum ada jawaban dari hara sama santi mau ikut atau ngak.

Aku membayangkan kalau sama bella bermain di alam bebas, pasti bella lebih liar di banding di ranjang. Bayangin aja bikin libido naik, tapi gak masalah aku udah bisa mengontrolnya.

Untuk awalan pembangunan, seperti biasa, tanah di kasih pembatas, hal itu tak mudah karena orang-orang yang kerja mendapat sedikit gangguan dari orang sekitar pasar.Hal itu tak hanya sekali saja tetapi sampai satu minggu

“gimana? Orang pasar gak tau kan lo yang kerjain?” ucap hara yang tiba-tiba di lokasi, dan mengajak jalan entah kemana.

“Gak tau, tenang aja, tapi lo tau sendiri, banyak yang gak seneng disini,”

‘lo bantuin gue lah, bilangin orang-orang pasar jangan ganggu jalannya pembangunan’ aku langsung ke intinya.

‘ia nanti gue bilangin, bentar lagi orangnya dateng’

‘kenapa sih lo gak bilang ke orang pasar, biar tau kalau ini bangun pasar bersih?’ di tambah kita bahas ini di dalam warteg.

‘kan kejutan, masa harus bilang-bilang?’

‘nah dia dateng’ hara tunjul ke orang pakai pakian rapih, celana panjang, kaos, tapi bisa di lihat juga banyak tattoo di tubuhnya.

‘kenalin harsa, ini boris’

‘harsa’

‘boris’ balasnya bersalaman,

“nah begini bang, langsung ke intinya yah” ucap hara.

“boleh sokk mongggoo” Hara langsung jelasinn apa yang aku permasalahin tadi, boris sepertinya paham apa yang di lakukan, karena dia sendiri yang punya tanah ini secara gak langsung, dan di hibahkan ke orang pasar dari orang tuanya..

Aku sendiri baru tau perjalanannya begitu panjang sampai hara dan bang boris bisa bangun pasar lebih bagus untuk pasar.

‘dah tenang, aja, ok bro’ di tepuknya Pundakku,

“mulai besok proyek lo gak bakalan di ganggu”

Dan kita bertiga pun mengobrol ringan sambil makan siang di warteg, yang rasanya cukup enak. Apa lagi yang jaganya katanya janda kembang, bodynya juga semok kayak nia, eh maksudnya santi

Hara, bukan hara. Tapi gue panggil dia disini harus mada, dia sendiri yang memintanya jangan bilang siapa dia sebenarnya. Orang hanya tau dengan nama mada.

“Iri, “ aku bisa di bilang iri hara, karena dia bisa begitu semangatnya untuk menyelesaikan pasar bersih ini. Gak sampai situ, dia orang yang paling terdepan kalau soal pasar, walau gak banyak gue pahamin isi kepalanya. Seolah focus dengan satu tujuan.

Tapi gue percaya harusnya dia yang bisa penerus papa, bukan gue yang udah gagal jaga satu perusahaan. Aku terlalu percaya diri karena dapat kepercayaan itu, walau di dalam hati sendiri belum siap.

‘dua minggu babeh bakal kesini, lo kasih tau perkembangan proyeknya ok’ kata hara pas udah perjalan pulang.

‘kenapa lo serahin ke gue?’

‘karena gue percaya sama lo, yang udah pengalaman di kantoran” jawabnya senyum.

‘tapi perusahann juga di ambil alih sama orang’

‘bukan bearti gagal kan?’

‘gagal itu cumam pijakan karena ,kurangnya pengalaman’ lanjutnya

‘ini kesempatan sama papa kalau lo cocok buat penerusnya’ jantungku seperti berhenti sebentar mendengar ucapan hara.

‘kenapa gue?, bukan lo yang lebih cocok?’

‘gue lanjutin apa yang udah gue ucapin, jadi dokter’

‘dan lo harapan papa buat jadi penerusnya, dan gue percaya lo bisa kok. Kita kan satu darah’ tepuk pundakku.

‘lo gak lepas tangan kan?’

‘ngapain lepas tangan buat?’

‘ya,lo gak mau pegang tanggung jawab besar?’

‘gue dari hidup di sini, udah bertanggung jawab, atas diri gue sendiri, babeh dan orang -orang pasar’

‘yang ada ini kesempatankan?’ jelasnya.

‘kalau gitu, kita ketemu dua minggu lagi’ hara langsung menuju kearah jalan, kea rah klinik, sedangkan gue harus balik ke kantor.

Ucapan hara benar-benar tertancap di kepalaku, ucapannya benar. ini sebuah kesempatan.

***​

Mada

Ucapan si harsa ada benarnya, gue seperti lepas tangan. Kalau dia tau sebenarnya papa menaruh harapan ke gue. Tapi gue gak cocok untuk itu, karena gue masih ego cukup tinggi dan tak mau menerima tanggung jawab yang sangat besar sepert penerus papa.

Gue sendiri gak masalah kalau harsa yang gantiin gue, toh kita sadara kembar. Jadi gak masalah siapa yang penerus papa. Lagi pula gue udah janji ke babeh, gue bakalan jadi dokter seperti apa yang ucapin pas dia sekarat. Jadi sementara gue harus tepatin janji itu.

Dua minggu kemudian.

Gue sama hara udah janjian ketemuan di café, babeh sendiri yang akan temuin langsung. Di lain sisi gue kangen liat babeh. Kabar terakhir, penyakit asmanya, sudah membaik, walau jangan terlalu Lelah. Karena udah factor usia juga,

Gue sama hara berdua doang kesana, santi sama bella semakin dekat, malah jadi teman shoppingnya, walau santi gak belanja,hanya temanin. kemarin bilangnya seperti itu, termasuk peratawan kulit juga gratis dari bella, atas dan bawah.

‘itu kan pak roy’ bisik hara sambil tunjuk kearah babeh yang sepertinya bau sampai juga

‘yuk’ ajak gue.

‘behhhh’ gue lihat sekarang dia pakai pakaian santai, celana pendek dan kaos polo.

‘makin muda aja beh’ celetuk gue walau raut wajahnya gak berubah, tapi wajahnya lebih segar dari sebelumnya.

“lo semakin tua har”

“hahahaha” tawanya,

‘oh ia beh, harsa yang pegang proyek pasasr bersih, itu” kata gue,

‘oh ia, gue udah dengar dari roy” jawabnya bersalaman.

“oh iah sekalian juga saya mau presentasikan perkembangan, prosesnya,” gue sengaja minta hara buat lakukan itu, karena ini bukan proyek gue yang minta, melainkan proyek kemanusian. Pastinya gue juga minta saran ke babeh.

“okeh” harsa langsung buka laptopnya, Gak berselang lama harsa dengan hebatnya mempersentasikan ke babeh dan mas roy soal progress pasar.

Gue gak salah tunjuk harsa, dari gaya bicaranya begitu lihai, pasti ini anak sering presentasi pas pegang perusahaan, gue sendiri aja gak bisa presentasi sedetail itu. Kalau ngomongin orang sih bisa.

Babeh kasih jempol kearah gue pas harsa udah selesai presentasi, sepertinya babeh dan mas roy puas dengan hasil kerja harsa. Gue juga.

“permisi, saya mau ke wc” ucap harsa tiba-tiba berlari.

‘oh ia har, babeh minta kasih info perusahan induk yang bersangukat soal kemarin, dan soal anak persuhaan yang sekarang dalam kasus,” jelas mas roy, gue tau perusahaan yang sekarang di pegang si rudy.

“kenapa mas?”

‘dalam satu bulan bakal ada rapat direksi, dan sembilang puluh persen bakalan ganti pemimpin”

‘jangan bilang babeh taruh saham di sana?’

‘yah telat, gue gak sengaja, habisnya saham persuahaan murah, tujuh puluh persen dari seharusnya?’

“apa lagi itu termasuk perusahan bagus”

“babeh gak niat suruh hara yang urus?”

“hmmm,,, anggap itu hadiah gimana?” ucap babeh kayak maksa

‘tapi kan, hara harus tepatin janji buat jadi dokter kan?’ gue gak percaya babeh benar-benar, melakukan hal seperti itu, membantu pasar saja udah cukup bagi gue sekarang.

‘janji itu udah di tepatin kok”

“saat tuhan kasih kesempatan kedua, gue lihat ada dokter yang penuh tanggung jawab atas pasiennya’ ucap babeh tertawa geli, tapi buat gue itu buat mata gue memerah secara gak langsung.

“tapi beh”

‘ini lo liat, sejarah berdirinya, perusahaan, dan ini” ucapnya tunjuk, in ikan perusahaan om roni, yang terjadi kepadanya,

“soal hutangnya?” tanya gue.

“tetap ada, tapia da nilainya Sekarang sektiar sepuluh miliar,”

“mereka licik, membuat orang bernama roni membayarnya seumur hidup karena haus akan kekuasaan” jelas mas roy.

‘karma is real kan?’ ucap babeh.

“tapi… hara gak bisa terima,, sepertinya hara punya ide, gimana kalau, kitaaa…..‘

“ahh legaaa” ucap harsa tiba-tiab sudah di samping, kami bertiga pun langsung ganti pembahasan, harsa gak boleh tau masalah ini. dan permbicangan hari ini selesai.

***

Harsa benar -benar melakukannya tepat waktu, dan sesuai apa yang di rencanakan, tepat di tiga puluh hari.

Dan Tepat hari ini, hari persempian pasar bersih, terbesar di kota ini,, orang-orang belum tau pasar ini sudah siap di resmikan.

Soalnya harsa membuat batas agar para orang-orang pasar tak sedakat, di tambah harsa membentangkan kain putih tinggi, sampai orang-orang sekitar sini tak tau apa isinya, walau sudah tersebar, itu sebuah mall,

‘kamu yang bakal kasih tau mereka?’ tanya santi. Ikut mau melihat pasar barunya.

‘iah, nanti aku yang kasih pengumuman,’

‘mada, orang pasar udah pada kumpul, gue bilangnya buat kasih pembagian kios di tempat baru’ kata bang boris yang udah pakai berpakaian rapih.

“okeh, sesuai rencana ya bang boris” karena gue bagiin sesuai pemilik di pasar yang lama, jadi gak ada perubahan lokasi kios.

‘udah dapet semua kan?’ kata gue pas berdiri di samping bang boris.

‘ia mada, tapi jauh banget dari sini, ‘ kata bang acong.

‘iah betul mat, kayak kita gak jadi’ sambil sedikit mereka melihat arah kain yang menjulang tinggi.

‘iah mat,’ keluhan yang sama dari yang lainnya, nci, dan lainnya.

‘tapi kenapa si boris kumpulin kita kesini? Di depan bekas pasar?’ tanya nci. Yang lainya sepertinya tak semangant, seolah mereka datang dengan sia-sia, dan bersiap bubarkan diri.

‘tunggu semuanya’

‘itu nomor yang bakalan di tukerin sama kunci kios’ kata gue,

‘tapi jauh matt, mendingan gak usah’ sahut yang lainnya bersamaan, daripada bubar gue langsung.

‘itu kunci kios dan tempat yang sama seperti dulu’ semuanya langsung berhenti melangkah dan menoleh ke arah gue.

Santi dan harsa termasuk bang boris langsung bersiap langsung menurutnkan kain putih yang menutuipi keseluruh pasar.

“babehh” ucap gue, gue yakin dia babeh, karena dia datang kesini bareng becaknya, tapia da penumpangnya yaitu mba rita sama mas roy,

‘itu kan bang resin? Tukang becak kan?’ tanya acong.

‘ia sama siapa tuh’ bisik lainnya.

“wah janga-jangan yang punya asli ini Gedung” ucap lainnya.

“nah betul tuh”

‘halo semua’ ucap babeh tepat di hadapan mereka semua,

‘terima kasih buat kesabaran kalian selama ini,’

‘terima kasih untuk kebaikan kalian semua,’

‘menerima kehadirkan saya, dan juga mada sekitar empat tahun lalu’

‘banyak kenangan di pasar ini, termasuk saya dan mada’

‘untuk itu, izinkan saya kasih ucapan terima kasih itu….’

Tak lama kain penutupnya pun maulai turun jatuh, dan semuanya tepat berdiri di depan pintu masuk pasar.

Pintu masuk yang sama seperti dulu, bedanya ada pita panjang yang mebatasinya.

“PASAR BERSIH” tulisan di depan pintu pasar.

‘maksudnya?’

‘itu kunci buat buka pintu kios di pasar ini, dan lokasinya sama seperti dulu’ ucap gue langsung, lanjutin ucapan yang terpotong karena babeh datang tanpa pemberitahuan dulu, dan babeh langsung berdiri di samping gue/

‘ini sungguhan?’

“iah, pasar baru buat kalian yang ada disini’ ucap gue,

Tak lama mereka semua langsung bersujud syukur dengan air mata jatuh ke tanah, tapi kali ini air mata kebahagiaan.

‘kita hitunng bersama ya’ kata babeh. Membuat orang berdiri sambil menyeka air matanya,

‘satttttuuuu” ucap kami semua bersama

‘Duaaaaaaa”

“Tigaaaaaaa”

Gue sama babeh gunting pitanya, di ikutin pelukan semua orang pasar, gue harap dengan begini semua berjalan normal seperti dulu. Sesuai dengan pekerjaan masing-masing.

Mereka semua berlari ke dalam sambil teriak histeris, teriakan penuh kebagaian.

“ternyata bangun pasar dari nol lagi ya’ ucap bang nasir,

‘gue ikut senang’ lanjutnya.

‘bang nasir tetap jadi mandor disini, bang nasir yang bakalan atur semua pembagian jatah bongkar angkut disini’

‘ahh berelebihan mada,’

‘karena pasar ini bakalan jadi pasar bersih di kota ini, otomatis akan banyak orang disini’

‘jadi gue harap bang nasir siap menerima itu’ bang nasir langsung peluk gue erat.

‘bang… aaaa gak bisa nafas’ gumam gue.

“makasih banget mad”

Rencana kejutan bisa di bilang berhasil, karena semuanya terbagi rata berkat bang boris juga membantu Menyusun nama pemilik kios yang lama dan posisinya. Dan juga membantu menjaga keamanan selama pembangunan.

Tanpa mereka semua gak aka nada nya PASAR BERSIH seperti ini.

Tiba-tiba Santi gengam erat tangan gue, saat lihat kegembiraan yang terdengar dari dalam pasar.

‘dapat jatah special nih’ celetuk gue.

‘iah, pastinya, ada penampilan special juga’ bisiknya tertawa kecil.

“heeeeee?” ucap gue kaget, apa yang di maksud dengan penampilan special dari santi.

“ih dah ah, nanti aja, yang jelas kamu berhasil” ucap santi langsung cium bibirku.

“uhhuhhmm, “

“gak sopan lo, ciuman di depan orang tua,”

“ngirii gueeee harr” ucap babeh langsung tertawaa..

“ihh ayah,,, genit ah, biilangin ahhh nanti” potong mbak rita yang ikutan tertawa.

Babeh pun langsung peluk gue sama santi, erat,

“jadi kapan gue kondangan?” tanyanya terus meledek,

“bulan depan,” celetuk gue’

“baguuss itu, gue dukung hahahaha~” santi gak bisa bicara apa-apa dia hanay tersipu malu, lagi pula ucapan babeh hanya candaan,

Bersambung