Cerita Sex Boss Part 51

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 51 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 50

Hara-

Kemarin hara gak pulang ke rumah, membuat papa mama sedikit panik, di tambah orang tua dari nia, maksudnya santi juga. di tambah malam harinya susah di hubungi,

Andai gak hujan badai berjam-jam mereka berempat pasti bakalan susul ke tempat kemarin.

“biii, papa mama kemana?” tanyaku saat bibi lewat ruang tengah, sepertinya lagi terburu-buru.

“udah duluan den susul hara” jawabnya masuk kedapur, dan kembali lagi bawa kardus banyak.

“emang ada apa sama hara?”

“pasar dekat tempat tinggal den hara kebakaran, mereka susul buat lihat langsung kondisinya”

“sekarang bibi mau restoran non yua buat ambil makanan, sekaligus di bagi-bagi” jelasnya, kenapa gue baru tau sekarang.

“sejaka kapan bi pergi?”

“barusan, mereka juga telat sehari informasinya, itu juga dari temenanya den hara, budi kalau gak salah namanya” lanjut bibi, bearti malam kemarin hara gak pulang karena masalah kebakaran.

“bibi duluan ya den,semua pintu belakang udah kunci,”

“iah bi, bearti semuanya kesana?” angguk bibi, dari empat asisten rumah tangga di rumah ini, semua pergi.

Aku langsung nelpon budi, pasti dia udah ada disana. Tapi tidak di angkat beberap kali.

“oii bud, serius pasar kebakaran?”

“iah, kemarin, sekarang mah udah padam,”

“lo kenapa gak kasih tau gue kemarin?’

“jadi lo gak tau??”

“iah”

“gue kira hara kasih tau, soalnya di klinik ribet banget pasien harsa…”

“oh udah ye, gue bantu rena, masih ada pasien” ucapnya. Langsung matiin telepon.

Jangan-jangan bella pun udah tau sejak kemarin. Aku langsung telepon bella, yang beberapa kali juga baru di angkat. Saat bella angkat aku menyakanya soal kebakaran pasar.

“issh parah, aku kira kamu udah tau!” gumamnya kesal dari ponsel.

“makanya udah tidur jangan kayak kebo,” lanjutnya

“hehe, maaf beb, kan capek habis olahraga pagi-pagi kemarin”

“kita susul gak?” tanyaku

“aku masih ada client, jam dua belas udah selesai seharusnya” sekarang masih jam delapan bearti empat jam lagi.

“ya udah, aku nanti jemput kamu”

“ia bye’, aku langsung coba telepon mama sama papa tapi gak di angkat. aku memilih mondar mandir mencoba mencari tau apa yang terjadi, untungnya budi kasih tau beberapa foto,

Isinya foto puing-puing pasar yang sudah runtuh, dan juga foto tenda sementara yang isinya pasien yang terkena gas beracun saat mencoba membantu memadamkan pasar.

Ada satu yang membuat aku merinding, yaitu dokter yang membantu bukan hanya rena dan budi, melainkan teman-teman seangkatan mereka, aku tau karena pernah nginap di rumah sebelum pergi ke tempat terpencil sebagai tanda mengabdi.

Tepatnya jam sebelas siang, ada pintu terbuka, ternyata itu bella yang masih lengkap pakaian kerjanya.

“loh bell kok gak bilang?” tanyaku yang baru selesai berenang, sambil menunggu bela menelpon.

“hehe, sekalian pulang di antar client, rumahnya satu perumahan sama kamu ternyata”

“kamu ceroboh banget sih, pintu pagar gak di kunci sama pintu depan juga” jelas bella.

“hehe, maaf, aku kira sebelum pergi bibi kunci” kataku.

“oh iah beb, ada satu kabar baik”ucapnya duduk di pinggir kolam renang.

“apa?”

“aku dapet client baru yang royal, dia puas sama paket kecantikan yang di klinik aku”

“dan dia bakal rekomendasiin klinik aku ke teman-teman arisannya” bella langsung menggerakan kakinya di dalam air sambil bertemuk tangan.

“baguslah, jadi soal klinik pesaing kamu gak usah kwahtirin” aku langsung duduk di sampingnya.

Tapi memang setelah dpt client orang itu, klinik bella omsetnya merosot cukup jauh, tapi kali ini klinik bakal pulih sedia kala.

“dan sekarang mandi dan rapih-rapih” kataku mengelus kepalanya.

“iah, eh.. tapi beb kok sepi banget? Cuman ada satpam aja?”

“pada pergi semua, bibi juga ikut ke tempat hara”

“uhmm, “ gumamnya lirikin mata ke aku.

“kenapa?” bella menggeliatkan badannya.

“enak kali yah di ruang terbuka” bisikya remas penisku. Aku tersenyum geli mendengarnya.

“di kolam renang, apa di kebun bekalang, atau di halaman garasi?”

“disini ajah, aku taruh barang dulu” bella langsung masuk ke dalam, aku sendiri bingung bella semakin agresif setiap kali bercocok tanam.

Lima belas menit bella pun kembali ke kolam renang, tetapi dia memakai sesuatu yang bikin aku nelan ludah.

Bella memakai satu set linggrie, modelnya seperti Maid, stocking hitam panjang sampai paha, di padu tali yang menyatu dengan linggire berbentuk seperti rok mini dan kain tipis di bagian dalamnya,

“gleeggg” aku menelan ludah sendiri melihatnya.

Dan atasnya seperti tangtop tapi kain tipis membuat belahan buah dadanya terlihat jelas, bella juga memakai bando kuping kelinci, benar-benar seperti cosplay di film JAV.Tapi sejak kapan bella suka memakai seperti itu,

“gimana ?” tanya sambil menoel penisku yang mulai bangun dari celana renang.

“bikin deg deg serr, sejak kapan kamu beli ginian” bisikku.

“ih, aku memang suka pakai ginian, kalau lagi uhmm mm…” aku langsung cium bibiirnya, pasti bella mau bilang kalau di mnastrubasi dengan pakaian seperti ini.

“kamu doang yang tau rahasia ini yah” lanjutnya dorong aku di gazebo kolam renang, kebetulan ada matras.

Bella tanpa aba-aba langsung buka celan renangku, mulutnya langsung melahap penisku dari bawah ke atas, dan sebaliknya.

“sini, aku juga mau” pintaku memposisikan bongkahan pantat bella di hadapanku.

“ini lubang apa?” kataku pura-pura gak tahu, padahal itu belahan vaginanya yang tercetak jelas.

“sshh,, lubang kenikmatann” jawabnya sambil tertawa geli, bella langsung melanjutkan melumat penisku, dan aku juga melubat vaginanya sambil menyinkapnya sampai terlihat vaginanya.

“ssshhhh sshhh harsaaa nghh” lenguhnya menghentikan lumatann saat lidahku menyedot kuat vagina,termasuk klitroisnya yang menginttp dari belahan vaginanya.

“masukin ahhh,” bella langsung menarik dirinya memposisi duduk di atasku sambil dia membuka ikatan di rambutnya sampai terurai

“no condom?” tanyaku saat bella sudah memposisikan penisku di vaginanya sambil menhadapku

“aku percayain ke kamu, “ ucapnya,

“kalau gak sempet?” bella menuurunkan pinggulnya sampi penisku masuk perlahan.

“yah tanggung jawab, hehehe”

“blesssh” aku hentakin ke atas pinggul sampai penisku benar-benar masuk semuanya ke vaginanya bella yang ternyata sudah agak basah.

“ohhhhh” lenguhnya pas aku hentakin agak keras beberapa kali, bela menarik tanganku agar memeras buah dadanya, sambil dia menggerakan pinggulnya memutar.

“ssshh ehehhh” desisnya langsung bertumpu di atas dadaku, sekarang bella menggerakan pinggulnya naik turun secara pelahan, dari sengaja mengangkat sampai kepala penisku, dan di hentakin ke bawah sampai mentok.

“ohh bellaa” lenguh terus meremas buah dadanya, tak lama Aku langsung menarik tubuhku sambil posisi duduk, sekarang bella ada di pangkuanku, dengan begini aku bisa melumat bibirnya sambil memainkan buah dadanya.

“ohhh~ yeah” gumam bella saat melumat buah dadanya, saat itu juga bela menutar pinggulnya dan sesekali menaik turunkan pinggulnya.

“harsaaa mau apaaa?” jeritnya saat kau mengangkat tubuhnya untuk di letakan di pinggiran gazebo yang berbanding lurus dengan penisku.

“ohhh serem aahh, jatuh gimana?” rengeknya lingkarin tanganya di kepalaku, aku langsung menggenjotnya perlahan, menarik peniskua sampai kepanya, dan menekannya sampai mentok beberapa kali.

“ouhhhhh,, harrr” Tak lama bella mengeluh panjang, sambil aku merasakan vaginaku seolah di hisap semakin dalam..

“ploppp” aku mencabut penisku, mengangkat bella kembali posisi rebahan lagi.. Di saat juga ada suara telepon, ternyata dari mama,

“halo ma,”

“kamu dimana?”

“masih di rumah mau jemput bella, habis itu nyusul” kataku di loudspeaker biar bella juga dengar.

“ohh, gak usah kesinilah, udah banyak yang bantu kok “ ucap mama, gak lama bella naik ke atasku dan langsung masukin penisku, tapi memposisikan membelakangiku.

“terus pulang kapan?”

“nanti malam juga pulang, bibi juga habis selesai bagi-bagi makanan juga pulang”, aku lirik bella berbicara tanpa suara, yang artinya ronde dua.

“ya udah, deh nanti aku bilangin bella juga,”

“ya udah, pulang jangan malam-malam, gak ada orang di rumah nanti” bella tersenyum senang, dia langsung menggerakan pinggul naik turun, dan sedikit memutar-mutar kembali pinggulnya.

“jadinya apa?” tanya bella sambil naik turun.

“jadinya??”

“iahh?”

“enjot kamu sehariannn” jawabku langsung menarik tubuhnya, sambil kakiku meregangkan kedua kakinya.

“isshh,, “ aku langsung menggerakan pinggulku dari bawah, ternyata posisi ini membuat pinggangku pegal, aku langsung memposisikan menyamping, mengangkat satu kakinya. Sesekali bela ikut memainkan vaginanya,

“harsaaaa ihh nggghhhh “ lenguh bella saat aku menciumi tenggkuknys sambil menyentuh putingnya dengan ujung jari.

Bella pun kembali klimaks diam-diam, dengan posisi itu,aku pun pura-pura gak tahu, mencabutny, di saat itu juga ada telepon, aku melihat sekilas dari mama.

“iah tante”

“ini bella lagi di jalan buat kerumah, “

“ngak di kasih tau, tante, kebiasaaan” aku gak bisa dengar pembicaraan mereka, aku diam-diam memasukan penisku saat bella menerima telepon dengan posisi tengkurap,

“eegghhh” jertinya kaget saaat penisku masuk secara perlahan, bella langsung menutup mulutnya.

“satu sama” bisiku langsung menggenjotnya perlahan,

“eggh iah tante, nan aahh di ngghh” ucap bella terbata-bata.

“ngak aku di taksi ada jalan rusak,” jawabnya menganggkat pinggulnya, seolah berusaha lepasin penisku, tapi yang ada menjadi posisi doggy style.

“plaakk” tamparan di pantatnya, beberapa kali sampai bella kembali menutup muilutnya dengan tangan,

“iah tante, bentar lagi sampppeeeeeeeeee gnh”

“aahhh” desahnya saat selesai selesai telepon dengan mama.

“ihhh balas dendam yah?” tatapan tajam bella,

“ya dong, satu sama,” aku langsug menggejot cukup cepat. Memakai semua posisi yang bella mau.

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang lebih melelahkan di banding kemarin, aku harus kerja keras hari ini.

***​

Hara-

Gue sama santi sekarang bingung, tepatnya bingung mau bilang apa kalau lihat tempat tidur mama papanya ambruk.

“aku berisihin sepreinya dulu” kata santi bawa seprei yang ternyata ada noda darah yang bercampur sperma yang udah mengering.

“haraa papa kau telepon” ucap bella memberikan ponselku yang di taruh di meja makan.

“haloo paaa”

“kamu dimana?”

“di kontrakan, baru bangun hehe,” aku kasih kode agar santi diam.

“papa sama mama, termasuk om tante juga udah mau ssampai di klinik, kamu nanti ke klinik yah” ucap papa/

“ehh?? Papa tau darimana?”

“budi,” jawab papa,

“ya udah, hara beres-beres.” Papa langsung menutup teleponnya. Santi pun kea rah gue sambil meregangkan kedua kakinya

“perih?” tanyaku

“iah, sedikit kok, tadi pas bersihin ada darahnya dikit” ucapnya pelan sambil senyum-senyum.

“harus di sodok lagi nantiii,” ledek gue mau cium bibirnya lagi.

“aadadahhdaah” jeritku saat santi tiba-tiba mencubitku cukup kerass, santi cuman mengerutkan dahinya, di saat juga aku mengangkat ke meja makan, dan langsung melumat bibirnya.

“uh muaachhh much”

“bagusan pakai bra apa ngak?” bisiknya saat tangan gue meremas buah dadanya dari luar kaos.

“ngak dong, kalau malam” bisik gue masih remas pelan, memang rasanya telapak tangan gue gak cukup meraup buah dadanya sekaligus.

“ih maunya,, hmmm”

“papa kamu tau soal kebakaran di pasar?” angguk gue melumat bibirnya lagi.

“sana temuin, “

“iah, Aku beresin kayu-kayunya dulu, masih belum bersih,” aku langsung keluarin patahan kayu penyangganya, yang ternyata patah semua, untung kerangka tempat tidurnya gak ambruk.

“nanti kalau papa kamu tanya gimana?”

“tenang, aku udah siapin alasannya, kamu ke klinik, selesai rapih-rapih aku nyusuL”angguk gue.

Tapi memang lebih baik begitu, biar papa mama gak curiga kalau aku sama santi tidur bersama tadi malam. Dan juga rusakin ranjang.

Saat berjalan di pasar, dari sini gue bisa lihat ada orang yang berdiri di bekas pinggir pasar, gue langsung coba temuin, Dan itu ternyata bang boris,

Rumah-rumah di belakang pasar ternyata ikut jadi korban, bang boris berdiri sambil menghisap rokoknya, memandang tempat bocah-bocah tertlantar tinggal.

“bang” sapa gue, dan beridiri di sampingnya.

“eh lo har, “ senyumnya tak bergairah.

“anak-anak gimana?”

“aman kok, cuman tempat tinggalnya dah luudess” katanya melepas nafas di ikuti asap rokok.

“bearti puluhan orang orang yang terdampak” gumam gue, karena lupa rumah disini bagian dari pasar.

“jangan-jangan” ucap gue sama bang boris bersamaan.

“ada yang sabotase pasar?” lanjutnya. Angguk gue, bang boris dan gue saling tatapan sebentar, dan tertuju ke orang yang ama yaitu orang yang berniat jugal ini tanah,

“orang ituu ya” gumamnya.

“gue yakin, pasti dia,, gue tau orangnnyaa” bang boris langsung berjalan cepat,

“bang tunggu, kita gak ada bukti”

“gak usah buktii… gue tau “ bang boris yang lari entah kemana, pasti saudarnya sendiri yang sabotase, tapi butuh duit juga buat sabotase pasar segede ini.

Gue jalan sambil melihat langit yang begitu cerah, seolah ini pertanda kehidupan baru akan segera di mulai di pasar.

***​

Sesampainya di klinik, orang-orang yang buat tenda di halaman klinik sudah membubarkan diri. Tapi di belakang klinik masih banyak pasien yang belum boleh pulang karena masih muntah-muntah, dan juga gejala lainya.

Gue sedikit lirik ke ruangan babeh, “ babeh lagi tidur, kondisinya belum pulih, belum bisa banyak bicara” kata rena pegang perutnya.

“anak-anaknya?”

“adai tu” rena buka pintunya sedikit sampai gue bisa lihat, anak perempuan babeh yang di kursi roda, yang temanin babeh.

“kalau gak kita buat surat rujukan ke rumah sakit ren?”

“sekalian buat obatin, sesak nafas babeh.”

“mau gak mau babeh pasti mau periksa soal itu, lagian pasti anak-anaknya punya duit” jelas gue apa adanya.

“husss”

“benerkan, dari penampilan anaknya, babeh pasti dari keluarga berada” senyum gue ke rena.

“kalau gitu gue buat surat rujukan ke rumah sakit” rena langsung pergi keruangnya. gue masih mengintip babeh dari luar ruangan.

Tepat jam dua belas siang, di halaman parkir klinik, mobil terpakir, ternyata itu keluarga santi, papa dan mama juga. mereka datang bersama, tapi tak harsa sama bella.

“santi kemana har?” tanya papa menghampiri gue.

“eh? Di rumahnya, belum bangun kali” kata gue bohong,

“ouh bearti kamu tidur di kontrakan?” tanya om roni,

“iah om, tadi santi tungguin di klinik sampai malam” kata gue sedikit berdosa bohongin om rini.

“kamu tuh yah, kenapa gak kabarin sih, cepet-cepet” potong mama.

“hehe” gue cuman senyum aja,

“nah makanan udah datang” ucap mama, saat beberapa mobil catering kak yua datang, totalnya enam mobil.

“ada berapa jumlah orang pasar?”

“ada puluhan kali”

“udah mama duga, kak yua sudah buat sekitar seratus porsi, “ tunjuk mama ke mobil-mobil catering. gue senyum sendiri kak yua begitu perduli sama gue sampai sigap membuat makanan buat para korban.

Tak lama halaman parkir klinik sebagiannya langsung di buat tenda dadakan, untuk menyajikan masakanya untuk para pasien, dan keluarga pasien yang terdampak kebakaran ini. Mama, papa, om roni, dan istrinya langsung bantu, tak hanya itu empat orang asisten rumah tangga termasuk bibi ikut datang juga bantu.

Hal ini menujukan kalau gue gak sendirian disini,

***​

Sudah empat hari berlalu, gue pulang kerumah kemarin, dan langsung balik lagi ke pasar, karena belum tenang, sampai urusan pasar benar-benar kelar. dan para korban udah boleh pulang dari klinik. Karena klinik di khususkan merawat lansia, dan anak-anak. yang masih belum membaik.

Makanya lahan kosong di belakang klinik di ubah jadi tenda rawat, kalau di jadikan rumah sakit bisa. Tanah di belakang klinik layak di bangun rumah sakit di kota ini. Di saat itu juga babeh di bawa ke rumah sakit setelah mendapat surat rujukan dari rena, besoknya sudah di bawa ke rumah sakit.

“ternyata kamu disini” ucap seseorang yang seperti gue kenal, yaitu orang yang hampir gue pukul. Gue cuman senyum.

“oh ia, kita belum kenala, saya roy.”

“mada” jawab gue singkat.

“saya kesini cuman kasih tau, kalau ayah nyariin kamu pas udah pindah ke rumah sakit” jelasnya.

“terus?”roy hanya terdiam dan menghela nafas,

“saya selaku anak tertua bakal akan balas budi apa yang kamu lakuin ke ayah, apapun termasuk uang berapapun” lanjutnya

“cihh” gumam gue kesal karena bahas soal uang.

“walau saya tahu uang gak ada artinya buat kamu kan..” lanjutnya buat gue terdiam.

“gue kunjungin babeh kalau udah sehat,” senyum gue kecil

“thanks, udah rawat ayah dan untuk semuanya,” tepukan kecil di Pundak gue sambil kasih kartu nama. Gue ambil dan masukin ke kantong, dan renacannya mau gue buang nanti.

Gue milih langsung ke pasar, karena beberapa orang mulai bersih-berisihin puing kebakaran. Tapi ada yang berbeda. Ada spanduk panjang menghadap jalan raya, yang gue gak lihat kemarin-kemarin,

“KAMI MENOLAK DI RELOKASI!!”

“KAMI HANYA INGIN MENCARI NAFKAH DI SINI”

“ORANG KAYA KOK URUSIN PASAR ??”

“KAMI AKAN MEMPERTAHANKAN HAK KAMI DI PASAR INI”

Ini semua pasti ada hubungannya dengan sengketa tanah pasar, dan ternyata tempat tionggal anak-anak jalanan termasuk tanah sengketa.

“haarrrraa” teriak santi berlari membawa selembar kertas,

“itu apa?”

“surat himbauan!!” gue langsung baca, dan isinya benar ini surat untuk relokasi ke tempat yang cukup jauh dari sini.

“siapa yang sebarin?”

“preman sini, siapa Namanya boris ya” bisiknya seolah santi takut ada yang mendengar. Gue langsung susul ke tempat bang boris, ternyata mereka semua ada di depan pasar, mereka meblok jalan arah pasar. Dengan tulisan yang sama.

“jangan-jangan tanahnya “

“iah udah laku di jual! Sama anjing-anjing kayak mereka!!”

“ini,!!”

“ kakaknya bokap gue kasih surat gugatan pengadilan, dan mereka menang , padahal gue udah ambil bukti kalau tanah ini sudah di hibahkan!!” ucap bang boris,

“andaiii gue gak pilih tinggalin rumah!!,”

“SEMUA GAK Akan kayak gini!” teriaknya sambil pukul-pukul kepalnya sendiri, gue reflek pegang tangannya saat mau pukul kepalanya lagi.

“udah bang, percuma lo pukul kepala sendiri, gak ada gunanya” bang boris langsung duduk sambil lihat kiri kanan,

“tanah yang harus menjadi tanah hibah,buat masyarakat sini, kini udah hilang, semua” lirihnya.

“BANGGGG ORANG YANG BELI TANAHNYA ADA DISINI!!!” teriak beberapa orang. Bang boris pun langsung lari, Dari sini gue juga bisa lihat ada mobil Alphard masuk kearah pasar, di ikuti beberapa mobil polisi dan satpol PP.

“Haraa tunggu mau kemana” cegah santi pas gue bawa bambu. panjang dengan spanduk tulisan “TOLAK DI GUSUR”

“madaaaa” suara kaget bang boris gue datang bawa bambu. Dan melangkah lebih maju ke depan sampai tepat di depan mobil. Gak lama orang itu keluar, seseorang yang berpakain rapih, berjalan di ikutin satpol pp dan beberapa polisi seolah dia takut dengan orang pasar.

“selamat siang” ucapnya, gue langsung maju berhadapan dengannya.

“saya mau berbicara dengan perwakilan para pemulung-pemulung, eh maksudnya pedang-pedangan disini”

“cihhh” desis gue kesal, dia secara gak langsung menghina orang-orang disini.

“tenang, saya perwakilan dari kantor, untuk bernegoisasi soal relokasinya, ini kebaikan dari perusahaan kami, yang harusnya kalian semua di usir.”

“saya pewakilannya” ucap gue,

“kalu begitu, ini kartu nama saya, dan ini suratnya“ gue ambil kartu Namanya, ares dwiyanto, gue gak perduli langsung gue buang, dan langsung baca isi suratnya.

Yang initinya orang-orang pasar di relokasi ke tempat yang jauh dari sini, tempatnya juga belum jelas dimana. Tapi aku lihat ada logo perusahaan papa, jangan-jangan orang ini satu grub sama perusahaan papa.

“saya sudah baca dan saya gak perduli” gue langsung sobek di depannya.

“cih,, sobonganya tikus-tikus sepeti kalian, saya sudah memberi batas waktu dua minggu dari sekarang, kalian harus rela meninggalakan tanah ini terpaksa kami usirrrrr,” ucapnya sambil tunjuk ke arah gue.

“karena tanah ini bukan milik kalian lagi, tapi milik kami” senyumnya benar-benar bikin gue muak.

“Dan saya juga kasih waktu lima menit untuk keluar dari PASAR INI”

“sebelum Orang-orang sini hancurin mobil bagus kalian, hei tikus tikus berdasi!!”

“braakkk” gue tendang bumper mobilnya cukup kerasa sampai beberapa petugas menghampir keaarah gue untuk berjaga-jaga. Secara gak langsung orang yang bernama ares pun sedikit emosi dengan kelakuan gue. dan gue gak perduli soal itu.

“EMPAT MENITTTT LAGIIIIIII” gue acungin bambu, gak perduli ada polisi sama satpol PP.

“PERGIIII”

“perggiiiii “

“Pergggii” ucapan berkali-kali dari orang pasar saling bersahutan. Orang-orang pasar yang bergemuruh, seolah gue yang bisa usir mereka dari sini, di lain sisi gue juga gak tau caranya buat balikin tanah ini. dan Ini pasti ada hubungan nya dengan perusahaan papa, gue langsung siaps-siap langsung ke kantor papa.

“harr, mau kemana” tanya santi pegang tangannku, tetapi anehnya tangannya begitu dingin dan bergetar cukup hebat. Seolah ketakutan.

“maaf yah, pasti tadi aku takutin kamu” bisiku menenangkan santi. sandi hanya tersenyum pelan.

“aku ikutt” jawabnya pegang tagannku.

***​

“pelaaannn pealaann haraaa” teriak santi, pegangan di pinggiran jok mobil, padahal ini mobil melaju cumin seratus kilo menter per jam. tak terlalu kencang juga.

“awas ya, gak di pelanin, aku gak aakaannn”

“aahahhhh haraa ihhhhh” teriaknya lagi sebelum menyelesainkan ucapannya. Aku gak ada waktu sebenarnya, aku harus cepat temuin papa. dan sekitar satu jam sudah sampai di kantor papa.

“udah sampai” ucapku saat santi masih pegangan ke jok dengan mata terutup,

“ayo masuk, apa mau tunggu disini?” ajak gue buka pintu, santi hanya diam pegang tangan gue. Sepertinya santi memang benar-benar ketakutan. Gue datang ke kantor dengan kolor dan kaos,

“mas mau ketemu siapa?”cegat satpam kantor pas masuk ke pintu lobi,

“ketemu…”

“ohh silahkan masuk mas” potongnya satpam lain, saat gue belum sebelum selesai ngomong, dan saat itu juga salah satu satpam lain setelah tau gue siapa, keren sih rasanya. Tapi itu bukan urusan gue sekarang.

“kamu yakin, papa kamu yang beli pasar?” bisiknya pas masuk lift, menuju lantai duapuluh delapan.

“tepatnya ada perusaaan yang satu grub sama papa” gumam gue. Santi benar-benar tak lepasin tanganya dari tangan gue, sama seperti masih kecil, bedanya dulu dia pegang ujung kaos gue aja. Gue langsung masuk begitu, aja, dan kebetulan papa, mama, harsa dan bella ada disana, tapi kenapa bela ada juga.

“paaa, hara mau ngomong soall”

“pasar?” ucap papa sepertinya sudah tau.

“jadi perusahaan papa yang beli? Tapi buat apaa?”

“bukan papa, tapi perusaahan pak…,” papa menoleh kearah santi yang di sampingku,

“san,.. kita ke café yuk di bawah, temanin aku, tante mau kan?” ucap bella tiba -tiba menarik santi dan mama keluar dari ruangan.

“maksudnya papa?”

“kau pasti belum tau kan, siapa yang mengambil perusahaan harsa dan om roni.” gue ingat pas papa juga pernah bilang juga perusahaan harsa di juga di ambil paksa, termasuk perusahaan om roni,

“tapi kenapa papa gak stop itu semua? papa tau kan hara di sana selama ini, dan dengan mudahnya di pindah tempat yang gak jelas dimana!” protes gue.

“papa memang menolak, tapi yang lain setuju, suara papa dengan pak taslim sekarat sama, papa cuman bisa membantu sampai relokasi aja,” potong harsa.

“jadinya perusahaan yang membeli pasar bukan anak perusahaan papa?”

“bekas anak perusahaan tepatnya, “ ucap harsa.

“dan sekarang siapa yang pegang.”

“rudy, menantunya pak taslim” ucap harsa, bearti orang yang tadi gue temuin bukan orang yang sama.

“kalau ares?”

“ares anak bungsunya pak taslim” bearti yang tadi anaknya pak taslim, pantas aja sikapnya begitu sombong.

“asal kamu tau, pak taslim udah mengincar tanah itu enam tahun lalu, setelah ada proyek jalan disana.” jelas papa.

“tanah tersebut memang merupakah golden ways, cocok di jadiin apartemen, termasuk mall, dan harga tanahnya bakalan bisa sepuluh kali lipat andai di jadikan mall atau apartemen.”

“tak hanya pasar aja, kampung sana juga akan di beli semua, Langkah pertama adalah pasar dulu” lanjut papa.

“mereka beli berapa?”

“luas tanah pasar sekitar lima ribu meter, jadinya total lima puluh miliar”

“jadi gak cara lain, karena tanah sengketa itu udah di selesaikan dengan uang, “ gumam gue, itu bearti keluarganya dari kakak bapaknya bang boris aja yang dapat, sedangkan keluargnya bang boris gak dapat bagian. karena suratnya di hibahkan, benar-benar licik.

“Pantes aja, mereka melakukan berbagai cara untuk membuat pasar gak tenang” gumam gue, gak habis pikir sampai segini mereka melakukannya.

“hara bakal beli tanahnya segitu, papa mau pinjamin ?” tanya gue serius,

“ada juga mereka gak akan jual hara,, kecuali harganya sepuluh kali lipat, itu target utama mereka” jelas papa.

“siaallll, kenapa jadi runyam gini” gue pukul meja pelan,

Sekilas gue ingat ucapan salah satu anaknya babeh, gue coba telepon karena dia kasih nomor teleponnya, dan untungnya gak gue jadi robek.

“haloo”

“ini gue hara,”

“oh ya kenapa?”

“tadi lo bilang kan lakuin apa aja demi babeh resin?, asal masih berurusan dengan uang?”

“ia betul, ada apa?”

“kita bisa ngobrol nanti, ada sesuatu yang mau gue bahas”

“oh boleh, kasih tau waktu dan tempatnyya” ucapnya seperti tak kebaratan,

“okeh, terima kasih mas roy” ucap gue, lebih sopan dikit, gue minta ke salinan semua berkas ke papa soal pasar dan berhubungan dengan itu semua, dan bertemu sekitar dua hari lagi. di cafe,

***​

Sepulang dari sana, orang-orang pasar memasang tenda di sekitar pasar sebagai tanda protes. Termasuk bang boris di garis terdepan menggelar tikar dan tiduran disana. entah kenapa santi terus pegang tanganku, aku membiarkannya sampai santi mau cerita apa yang terjadi sebenarnya.

“lo darimana mada?”

“negoisasi” kata gue duduk di sampingnya.

“hasilnya?”

“gak ada, pihak keluarga dari bang boris, udah menjualnya senilai lima puluh miliar”

“serius?”

“iah, setidaknya gue udah jamin, orang-orang pasar sini bakal pindah di tempat yang layak walau jauh dari sini,” ucap gue.

“anak-anak jalanan juga, mereka udah gue pastiin bakal di rawat sama Yayasan,” lanjut gue. lagi negoisasi ke papa kalau anaknya babeh gak bisa bantu. setidaknya anak-anak jalanan bisa masuk yayasan daripada terlantar di jalananan

“sampai segitunya kah lo buat orang-orang pasar?”

“demi semuanya, gue lakuin bang.”

“andai itu benar, gue berterima kasih sama lo, dan gue masih penasaran lo sebenarnya siapa?”

“gue??,”

“cuman oarng biasa sama kayak lo bang,” gue bangun, dan ajak santi pulang, gue gak mau bang boris tau dulu. karena semua masih dalam tahap negoisasi, rasanya gue ingin lawan orang-orang itu, membuat orang-orang rakus seperti kelaurga pak taslim menjadi jera. tapi itu tak akan mudah kalau tak ada bantuan, papa pun seperti kesulitan untuk melakukannya. setidaknya gue punya sedikit mimpi menjadikan perusahaan papa lebih maju mengalahkan perusahaan yang rakus seperti mereka.

bisa atau tidaknya, setidaknya gue punya orang yang akan di sisi gue, yaitu santi.

Bersambung