Cerita Sex Boss Part 50

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57

Cerita Sex Dewasa Boss Part 50 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 49

Santi-

Aku ikutin terus hara kemana dia pergi membuat aku ingat saat kecil selalu membututinya kemana ia berjalan, entah rasanya ingin mengikutiya terus saat itu, walau dia sepertinya tak menggapku,

Tapi kali ini berbeda, sekarang merasa hara satu-satunya orang yang buat aku nyaman, tapi hara belum pernah menyatakan perasaanya, cuman dari cara dia memperlakukanku aku tau jawabannya,

“pasti dia homo, atau biseksual” gumamku. Dia seperti tak tertarik dengan tubuhku, selalu menghindar.

“udah mau malam, di tambah mendung, aku antar kamu pulang” gumamnya, emang gak kerasa seharian di klinik,

“aku maunya jalan kaki” ucapku berdiri di sampingnya.

“okeh, “hara langsung pegang tanganku agar jalan di sampingnya, dari raut wajahnya dia lebih tenang sekarang, setelah kejadian babeh yang alami.

Tetapi saat melewatinpasar matanya terus tertuju ke puing-puing bangunan pasar, tatapan begitu serius. Pasar yang biasanya udah banyak lampu menyala kini gelap gulit.

“kamu kehilangan banget ya?” tanyaku pelan,

“bukan aku aja, semua yang di pasar merasakan hal yang sama” ucapnya sambil tersenyum pelan.

“karena semua golongan, ras, agama, melebur menjadi satu di pasar ini”

“dan juga latar belakang mereka”

“latar belakang?”

“iah, kayak bang kumis, penjual sayur, dulunya dia punya supermarket,”

“bang nasir, mandor aku di pasar, dulu mantan buruh yang Di PHK,”

“bang acong, tukang daging, dulu tukang jagal hewan, karena gak tega, dia milih jadi jual daging aja”

“bang kisman, dulunya juragan ayam, sekarang terpaksa jadi tukang sampah,”

“terus nci, dulunya karyawan toko roti, karena dia hampir buat tokonya kebakaran, dia di pecat,” pantes aja dia sampai segitunya saat itu.

“bang boris, preman dulunya punya wilayah sini, tapi milih hidup di jalanan”

“babeh resin, yang ternyata punya keluarga yang sangat mengkwahtirkannya sampai sekarang”

“dan satu lagi”

“siapa?”

“Nia,” hara menoleh kearahku, aku cuman ketawa kecil mendengarnya,

“ihh masih ada satu lagi, tau” balasku.

“siapa?”

“Mada,? Yang ternyata gitu dehhhh” hara cuman ternseyum lebar, dan di ikuti hujan deras secara tiba-tiba,

Aku sama mada langsung sentegah berlari, tak ada tempat berteduh, sampai akhirnya aku sama dia basah kuyup.

Tiba-tiba mada menghilang, aku pun berhenti mencarinya sambil menyeka wajahku, tak lama mada muncul membawa satu lembar daun pisanh buat menutupi aku dan dia juga.

“telat, udah basah kuyup” ucapku merasakan pakianku terasa lepek, dan itu membuat lekukan di buah dadaku, tapi gak masalah hanya mada yang melihatnya.

“isshh lupa bawa kuncinya” gumamku saat sudah di depan rumah.

“kenapa?”

“hehe.. lupa kalau pintu di kunci” kataku,

“ke kontrakan aku aja,?”

“gak usah, aku ingat ada kunci cadangan di atas sana” tunjuk ke lubang angin atas pintu tapi, lubangnya sangat tinggi. Biasanya albert manjat lewat jendela samping pintu.

“aku coba ambil” mada pun mencoba mengambilnya tapi tak sampai,

“kamu yang naik yah, aku pegangin” kata mada

“heee? Kamu angkat aku?”

“iah, yuk”

“tapi aku berattt”

“iah gak apa-apa, aku juga mau tau kamu seberat apa sih” ucap mada.

“uhmm iah oke”

“yang cepat yah, aku gak bisa nahan lama-lama, soalnya pasti ilicin” ucap mada pegang pingganku, itu sedikit membuat aku agak gugup.

“ satu, dua, tiga” hara benar-benar mengangkatku, dan seketika aku langsung mencarinya, tetapi tak ada.

“gimana?”

“belum, di lubang satunya kayaknya” aku kembali turun.

“ okeh yuk lagi , satu, dua , tiga empat” ancang-ancang mada, dan mengangkatku lagi, kali ini berhasil,

“dapattttt” walau hasilnya kaosku tersingkap sampai buah dadaku, hara seperti berpura-pura tak melihat. Pasti dia juga melihatnya.

“silahkan masuk” ajakku, mada pun masuk,

“jelek yah” tanyaku pas dia masuk.

“apanya jelek? Kamu?” hara langsung lipat daun pisang yang dia ambil tadi di kebun orang buat tutupin kepala aku.

“issh, bukan, rumahnya?”

“gak kok, lebih bagus ini daripada kontrakan aku”

“aku mandi dulu, nanti aku bawain pakaian punya adikku,” mada mengangguk, sambil berlari kecil aku langsung kekamar mandi, karena takut masuk angin.

Aku diam menatap wajahku di cermin, sambil sesekali melihat tubuhku yang basah kuyup, imajinasi liarku langsung muncul seolah aku sama hara melakukannya dengan pakaian yang basah kuyup.

Selesai mandi aku melilitkan handukku, dan bejalan keluar kamar mandi, “ehhhhhh” jeritku kaget melihat mada hanya memakai kolor,

“kenapa?” tanyanya mengarah kearahku, aku bisa lihat jelas otot perutnya dan lenganhnya di tambah agak basah.

Aku gak jawab, langsung berlari kecil ke kamarku, aku diam sebentar karena imajinasiku muncul lagi membayangkan mada, apa mungkin karena efek tak lama manstrubasi jadinya aku mudah berimajinasi.

“arghhhh MADAAAAA!” teriakku reflek,saat tiba-tiba lampu padam, aku benar-benar agak panik kalau gelap seperti ini.

“haraaa madaaaaaa” teriakku lagi saat tak ada jawaban dari hara, harusnya teriakan aku terdengar dari kamar.

Tak ada jawaban, aku langsung buru-buru pakaian yang ada di lemari, aku langsung pakai tangtop dan hotpants, hanya itu yang aku raba karena benar-benar merinding suasana seperti ini.

“harraaaaaa,,, kamu dimanaaa?” teriaku lagi sambil berjalan meraba dinding kearah pintu,

“aahhhh!!!setannnnn” jeritku keras lagi saat mada langsung nyalahin senter dari ponselnya dan berdiri tepat di depan pintu. Membuat aku mau jatuh tersungkur ke belakang.

Untungnya hara tahan tubuhku, walau terasa tangannya memegang buah dadaku. Di saat itu juga baru sadar aku belum memakai dalaman.

“issh nyebelin, bikin kaget” gumamku saat berdiri di depannya. Jantungku benar-benar berdetak sangat keras saat ini.

“lagian teriak-teriak gak jelas”

“gelap tau,, lagian aku panggil gak di jawab!!“

“gak gelap tau,, tuh masih keliatakan??” tunjuknya kearah luar, ternyata benar memang gak segalap di kamar, tepatnya remang-remang.

“aku udah buatin coklat hangat, mau dimana minumnya?”

“di meja depan aja, biar gak terlalu gelap” jawabku cepat dan sedikit merinding. Saat menoleh kea rah kamar yang gelap gulita.

“kamu gak ganti pakaian??”

“nanti aja, habis minum, lagian tinggal celana aja” jawabnya langsung duduk di sampingku sambil kasih coklat panasnya, aku duduk naikin kaki ku menutupi buah dadaku,

Suasana menjadi hening, aku belum minum coklatnya karena masih panas, hujan juga belum ada tanda-tanda berhenti. Yang ada semakin besar. Sekilas imajinasi liarku berubah menjadi tentang aku sama harsa waktu itu.

“aku boleh ngomong sesuatu harr?” aku langsung teringat ada satu hal yang belum aku kasih tau ke hara, dan aku pikir hara harus lebih awal tau daripada aku menyembunyikannya.

“tapi, aku ragu ucapinnya, aku takut hehe” kataku lirih menoleh kearah hara yang menyeruput coklat panasnya.

“bilang aja,” belaian pelan tangannya di rambutku.

“tadi tenaga medis banyak banget, itu adek kelas kamu kah?” aku masih ragu, memberi tahunya sekarang.

“bukan, satu Angkatan, dan juga satu kelompok pas pra praktek”

“sebeles orang?”

“dua belas, termasuk aku” aku menyandarkan kepalaku di pundaknya sambil memegang tangannya.

“udah gitu aja?”

“belum.”

“kamu tau gak aku bekerja di perusahaan harsa waktu kemarin” aku menarik nafas panjang-panjang sebelum berbicara.

“hmm ngak,”

“aku sebagai seketarisnya saat itu” ucapku semakin ragu di ikutin pegang erat tangannya.

“wooow, pantes dandan kamu rapih banget”

“tapi bukan seketaris sebenarnya, hmm” hara langsung terdiam. Aku takut hara marah dan tinggalin aku, sekilas pikirannku.

“sebenarnya harsa punya masalah genetic, sampai di harus therapy gituuu” aku semakin ragu karena hara tak bersuara sedikit pun.

“dia punya kelainan genetic, sampai dia gampang naik libidonya, jadinya akkuuuuuu, jadiii patnernya..hmmmm” aku memilih gak lanjutin, sepertinya aku salah ambil waktu untuk cerita. Hara tak bersuara sama sekali.

“aku melakukanya karena sekedar uang, aku sama harsa melakukan perjanjian, karena aku masih virgin dan dia juga,”

“jadinya barang siapa yang sengaja, memasukannya, di denda satu miliar, dan sebaliknya”

“maafin aku har, aku gak bilang dari awal” aku langsung benamin wajahku di pundaknya.

“aku bilang seperti ini, karena aku gak mau ada rahasia, aku benar-benar sayang kamu har, aku..” ucapku terhenti karena udah membayangkan hara akan menjauh,

Tiba-tiba hara menarik tanganku sampai aku duduk di pangkuannya, dia langsung memelukku erat. Sambil tangannya mengelus rambutku pelan.

“aku juga sayang kamu nia,, santi” bisiknya

“kamu gak marah?”

“ngak, nanti aku buat urusan sama dia kalau urusan disini selesai” bisiknya sambil melepaskan pelukannya.

“harr..” kataku pelan, tiba-tiba hara mencium bibirku sambil posisi seperti ini, tanganya langsung memeluk pinggangku erat.

Setelah beberapa menit, Aku turun dari pangkuannya dan duduk di sampingnya lagi,

“kenapa?” tanyanya

“kamu gak berani sentuh tubuhku pas berkali-kali ada kesempatan?”

“ohh itu aahahah~~” ucapnya terbata-bata.

“kenapa? Kamu homo?”

“haaaaa? Ngaklah” jawabnya agak terkejut.

“terus kenapa?”

“aku merasa kelainan genetic si harsa juga mugkin aku juga mengalaminya, tapi terlalu sibuk sama kerjaan aku bisa mengontrolnya”

“hmm kamu emang gampang on juga?”

“iah, semenjak lihat buah dada kamu” ucapnya.

“hmmm..serius?” hara mengangguk. Aku gak percaya masa ia hara juga sama kayak harsa punya kelainan, aku masih curiga kelianannya benar-benar tak doyan cewek.

“kalu gitu aku harus cek ke psikiater dong, dan kalau memang beneran ada kelainan harus therapy juga hmm” ucapnya menggaruk dagunya sambil melihatku.

“aku yang therapi, kalau beneran kamu punya kesamaan kayak harsa, tapi kalau kamu homo itu beda cerita” ucapku menoleh kearahnya.

“dengan perjanjian?” tanyanya ikut tatap wajahku

“free,” ucapku langsung naik ke panggkuannya lagi sambil mencium bibirnya. Aku sengaja melakukannya untuk membuktikan secara langsung hara itu homo atau ngak.

“enggghh” pekikku cukup keras saat tangannya langsung meremas pelan buah dadaku, jari-jarinya juga mengelus pelan putingku,

“uhmmmm” lenguhku seuntuhnnya lembutnya membuat aku merinding,

“gimana aku gak homo kan?” tanyanya memainkan putingku,

“enggh ih geli, gnhh”

“siapa suruh mancing-mancing” bisiknya pilin putingku dari luar tanktop.

“ahh ih siapa juga yang mancing,, uhmm “

“ini gak pakai bra,”

“ohhhhh~~” aku langsung menyumpal mulutnya dengan bibirku agar hara tak terus bertanya.

“aahhh” aku merasakan putingku semakin mengeras dan juga vaginaku terasa mulai agak basah

“terapinya pakai apa nanti?” tanyanya sambil melumat buah dadaku,

“pakai semua yang ada di tubuhku” bisikku, hara lagsung membalikan tubuhku sampai aku di pangku membelakangi tuubhnya.

“ohhhh haarrrr” desisku saa jari-jari mada bermain vaginaku dari luat hotpants.

Tangganku langsung masuk ke dalam celananya, hara langsung memposisikan tubuhku agar tangan aku bisa masuk ke celana kolornya. Dan penisnya benar-benar sudah tegak seperti tiang listrik.

Aku terdiam sebentar karena terasa lebih besar dengan harsa, atau aku jarang pegang jadinya terasa besar.

“aku juga boleh bilang sesuatu?” ucap hara terus memainkan jari-jarinya.

“apah? gnhhggh” aku menyandarkan kepaku di bahu kirinya, membiarkan hara memainkan vagina dan buahdadaku sesukanya,

“aku dulu sama bella pas kuliah pacarana” ucapnya pelan.

“aku udah tau, uhmm”

“dan juga pernah lakuin seperti ini,” tangan hara langsung menyelinap masuk ke dalam tangtopku dan hotpantsku.

“ngghhh seriusss? Ohh~”

“iah serius, paling jauh sampai seperti ini” ucapya sambil menarik hotpantsku sampai setengah paha, dan menggeser tubuhku sampai merasakan batang penisnya sudah berada di depan belahan vaginaku.

“ehh? Mau apa?” hara langsung menggerakan pinggulnya menggesekan penisnya ke vaginaku, dan kembali teringat lagi harsa melakukannya saat itu.

“kalau aku sama harsa pernah juga gimana?” celetukku pegang penisnya agar lebih tertekan ke vaginaku.

“urusannya nanti kalau soal harsa, aku masih dalam pembuktian aku homo apa ngak sesuai kecurigaaan kamu” hara menjilati tengkku sambil kedua tangannya bermain di kedua buah dadaku.

“harr nghhh” sesekali kepalanya menyelinap ke lubang vaginaku dan kembali keluar,

Ia langsung menyingkap tangtopku ke atas, harsa yang melihatnya langsung melumat buah dadaku dari samping,

“slrruupppssss” hisapan di buahdadaku cukup kerass

“gantian ih” bisikku, mada pun langsung menggeser aku di sampingnya, di saat itu juga aku langsung berlutut di depan hara yang masih duduk, aku langsung membuka celana kolornya yang agak basah, sekaligus celana dalamnya juga. sampai terlepeas.

Aku langsung mengendusnya pelan, sekaligus mengukur ukuran penisnya yang teraasa sampai ujung kepalaku.

“slrruuuppsssss” aku melumatnya kepala penisnya terlebih dahulu, dan aku yakin ini lebih besar dari punya harsa. Mulutku terasa penuh di banding harsa. Aku kembali menekannya sampai mentok di dalam mulutku

“ohhh” aku hampir kehabisan nafas,

Hara membelai rambutku sambil aku mengeluar masukan penisnya di mulutku, melakukan yang terbaik seperti aku lakukan ke harsa.

“ohhhhh sann,, ohhh” gumamnya langsung membalikan posisi, sekarang aku yang duduk, hara membuka celananya, dan berlutut membuka hotpantsku dan membuka lebar Kedua kakiku

“slrruuppssss”

“ngghh” vaginaku terasa sudah basah saat belum harsa melakukan hal seperti ini. apa lagi lidahnya berusaha masuk ke belahan vaginaku,

“ohhhh harrr” satu jarinya masuk ke vaginaku, sambil lidahnya bermain di klitorisku. Aku langsung merapatkan kedua pahaku, tapi hara menahannya sambil melumat terus vaginaku.

“ohhhhhhhhhh,”

“dikitt laggiiii nghhh” tiba-tiba hara menyudahinya, dan duduk di sampingku.

“ihh” gumamku merapatkan kedua pahaku.

“kenapa? Tanyanya seolah tak tau apa yang akan terjadi sekarang.

“dikit lagi, uhmmm pipis” bisiku memegang tangannya kea rah vaginaku. Jari-jarinya langsung memainkanny lagi, aku pun membuka pahaku lebar-lebar.

“ohh iahhh ehhhnghh gituu” desisku sambil remas buah dadaku sendiri.

“ohhhhh harrrrr” hara terus memainkan klitorisnya semakin cepat.

“srrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr” aku pun klimaks, entah rasanya aku pipis..

“ohhhhh~~” tubuhku gemetar sampai pinggulku naik, aku pernah merasakannya hal ini, waktu sama harsa, atau bisa di bilang aku sekali lagi merasakan Namanya squirt,

“hhaaa haaaa~” aku merebahkan kepalku di dada hara,

“tadi aku keluar seperti pipis” ucapku sambil menarik nafas dalam-dalam, hara tak menjawab hanya membelai rambutku.

***​

“hara” ucapku setelah aku sudah menikmati klimaks,

“kenapa?”

“aku masih belum percaya kalau kamu normal” godaku karena aku yakin dia benar-benar gak homo, buktinya penisnya bisa berdiri tegak.

“terus mau apa?”

“siniiii” aku langsung menarik tangannya ke arah kamar papa mama, soalnya di kamarku gak bisa buat berduaaan.

“siniii” ajakku lagi rebahan di tempat tidur. Hara langsung tiduran di sampingkku.

“giliran kamu keluarin,” bisiku saat aku sama hara saling berhadapan dan berciuman beberapa menit. Hara tak menjawab di langsung berdiri membuka kakiku lebar-lebar, sebelum itu dia menganjal pinggangku dengan bantal.

Hara langsung memainkan vaginaku sebentar sebelum menggesek-gesekan kepala penisku di bibir vaginaku,

“enggh” pekikku saat kepalan penisnya menganjal di bibir vaginaku. Tapi hara kembali melepasnya dan menggesekannya lagi. tak lama ia menyelipkan lagi kepala penisnya,, tetapi kali ini agak dalam.

“nghhh” hara membiarkanya, sambil memainkan buah dadaku perlahan, dan juga mengelus klitorisku.

“enggh har” pekikku kaget saat hara sedikit menhentakan pinggulnya sampai kepala penisnya benar-benar sudah masuk kedalam, seolah tinggal di dorong.

“enjoy aja yah, nikmatin” ucap hara sesekali belai rambutku, “ juju raku kepikiran rasanya gimana, banyak yang bilang sakit karena di paksa masuk.

Hara secara perlahan menggerakan pinggulnya saat terasa susah masuk, dia mencabut penisnya dan memasukannya lagi lebih dalam.

“ohhh” kini terasa sampai setengah penisnya masuk, tak sesakit apa yang orang bilang, mungkin ini karena aku tak cemas, merilekskan tubuhku.

“uhhmmm” hara terus melakukan hal itu sampai terasa penisnya ada yang menghalangis, saat hara berusaha tekan, aku merasakan ada sesuatu yang seperti terbuka.

“tunggu waiitt har” ucapku,

“Jgerrrrrrrrr” suara petir tiba-tiba membuat aku kaget sampai tak sengaha menghentekan tubuhku menekan penis harsa. Seketika seperti ada yang sobek, rasanya mirip mengelupas kulit bibir yang kering. Seketika hara langsung menekanya penisnya erus menerus taka da halangan sampai penisnya mentok.

“ohhhhh” desisnya langsung membungkuk mencium bibirku, kedua kakiku langsung melingkar di pinggangnya.

“sakitt?” bisiknya, aku menggelengkan kepala, walau ada rasa yang seperti tadi, rasanya mengelupas kulit bibir, tapi di dalam vaginaku. Hara menggerakan pinggulnya perlahanm,

“mucchhh” aku melumat bibirnya sambil merangkul tangan di lehernya.

“engghh ahnghh” hentakan beberapa kali sampai terasa di bawah perutku. Semakin lama semakin cukup cepat,

Hara merengangkan kedua kakiku, dan menggeerakan pinggulnya semakin cepat,

“ohhhh harr” rasanya semakin nikmat saat hara terus menggerakan pingulnya..

“ohh yeahh,, sannnn” racaunya mengangkat kakiku ke bahunya, sambil menekannya sedikit. di saat itu juga aku merasakan penisnya seolah semakin dalam masuk ke vaginaku.

“hnggghhhh” aku meremas buah dadaku, sambil menggigit bibirku seendiri.

Tubuhku langsung mengikuti Gerakan hara, ada rasa perih tapi tak lama berubah menjadi rasa yang tak bisa di ungkapankan dengan kata-kata. Yang jelas aku benar-benar horny sekarang.

“plokk plokk plokk” suara yang keluar saat hentakan harsa semakin cepat,

“ohhh sann” lenguhnya menarik pinggulku dan di gerakanknya semakin cepat.

Aku menggelengkan kepalaku kiri kanan sambil pegang tangannya yang berada di buah dadaku.

“aku mauu aahhhh aahhh haraaaa” desahku saat hara tak menghentikan gerakannya.. aku pegang tangannya terus sambil sedikit mencakarnya.

“OGGHHHHHHHhH” tubuhku kembali bergetar dan menggliatkan tubuhku, saat itu juga hara menghentikan gerakanya dan terus menekan penisnya semakin dalam.

“aahh, ahh” lenguh nafasku seolah habis. Tak lama hara kembali menggerakan pinggulnya, tapi kali ini pinggulku di tambah satu bantal lagi,

Hara kembali menggerakan pinggulnya cepat,”plokk plook plokk” bunyi itu lagi terdengar,

“nyitt ntiiyy nyiittt” suara berdenyit saat hara menggerakan pinggulnyda sekuat tenaga.

“saannnnnn ahhhhh” lenguhnya mencengkram buah dadaku,

“plokkk” hentakan cukup keras dan hara mencabut penisnya,

“ohhhhhh santiiiii” desisnya panjang, di ikut semburan di perutku,hara langsung membungkuk di atasku.

“ha haaa haa” suara nafasnya terengah di hadapanku.

“hampirrr “ gumamnya, aku senyum pelan karena hara masih sempat tak keluar di dalam,

“love you” kataku rangkut lehernya,

“too” jawabnya kami saling berciuman,

“bruukkkkkkk” tempat tidur mama papa tiba-tiba ambruk,

“hahahahaha” tawa aku sama hara seketika, ternyata sudah dari tadi tempat tidurnya berbunyi, aku tak memperdulikannya karena hanya bagian tengahnya yang abruk, jadi posisi aku sama hara masih di kasur hanya bedanya ada di bawah tempat tidurnya.

Bersambung