Cerita Sex Boss Part 49

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 49 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 48

Harsa-

Benar-benar nekat si bella, lagi ada yang nginap di rumah ngajak bercocok tanam segala, di tambah gue dua kali klimaks juga dalam satu malam.

“muachh” kecupan hangat di bibirnya, aku langsung bangun ke kamar satunya, semoga hara gak tau gue sama bella tidur mala mini disini.

“gak orang?” gumamku tempat tidurnya masih utuh seperti gak ada yang tidurin,

“jangan-jangan si hara sama nia, maksudnya santi lagi buka segel” gumamku. Coba cek ke kamarnya kak yua.

“ini kan tantopnya sama hotpants, wahh bearti sudah buka segel si hara,” ketawa gue ternyata diam-diam mematikan itu anak. Tapi saat aku keluar lihat empat foto album yang tergelak di atas kasur.

“romantis sih, sambil lihat album foto, sambil haucihhhhh” aku tiba-tiba bersin.

“haraa niaa,, santii” gue kembali keluar kamar kak yua, pura-pura gue gak masuk ke dalam tadi. Tetepi tak ada jawaban.

“kosong” Benar-benar tak ada mereka berdua, aku cek ke kamar tamu, ternyata ada papa mamanya yang masih tidur. Papa dan mama juga, juga gak biasanya masih tidur.

“haarrrraaa, santtii” teriak gue cukup keras. Tak ada jawaban juga.

“wah jangan-jangan main di garasi nih dia” kataku langsung cek keluar,

“eh den harsa, udah bangun den?”

“hehe ia nih pak, “

“mau kemana den?”

“hmm cari hara sama nia, santi maksudnya” kenapa gue susah nyebut nama aslinya nia.

“ohh, itu.. den hara sama non santi tiba-tiba pergi gitu aja,”

“pergi?”

“iah, den hara pergi malam-malam, non santi barusan pergi naik mobil, tapi gak tau kemana” jelasnya.

Bearti dugaanku salah, mereka tidak lagi sedang buka segel, kalau begitu mereka berdua kemana.

“bellla bangun” ucapku pelan, mengelus pipinya, aku berniat kasih tau soal ini.

“engghmm iah, kenapa masih pagi juga” gumamku.

“mau morning sex?” tanyanya merangkul manja, sambil mengecup bibirku pelan.

“masih kuat?” aku gendong tubuhnya pindah ke kamar sebelahnya, tentunjua bella sudah terlanjang bulat.

“aahh,” jeritnya manja, aku langusng melumat bibirnysa sekaligus memainkan buah dadanya seklaigus vaginanya.

“engghh harss nghh” lenguhnya. Aku langsung ke selangkangannya melumat vaginanya yang terasa asin, mungkin karena carian sperma yang aku sengaja olesin ke suluruh tubuhnya.

“uhhmm,, ssshhh” kedua kakinya langsung aku buka lebar-lebar agar lebih gampang melumatnya.

“sambil mandi beb, lengket ohhh~” lenguh bella,

“yuk” aku sama bella kembali bercumbu di shower, dan berpindah ke bathup,

“sini, berishin” kataku remas buah dadanya dengan penuh sabun, aku pangku bella di dalam bathup, bella juga gak mau diam, ia sambil mengocok penisku, ada sedikit rasa nyilu.

Bella langsung menungging di pinggran bathup, lidahku langsung melumatnya sambil kakinya di naikan satu,

“ohhhh ayo har,, janga jari sama lidah ngghhh” racaunya.. Aku pun langsung menggesekan penisku,

“blesssshh jlebb”’

“ohhhh~~~”

“yang dalamm ahhh” tubuhnya sekaligus buah dada bergoncang cukup keras, aku pegang pinggulnya erat,

“ahh kamu duduk di pinggir bathup” pintanya melepas penisku di vaginanya.

“teruss?” bella membungkukan tubuhnya sambil menyodorkan pinggulnya, aku pun langsung menempelaknnya lagi.

“ohhhhh~~~” lenguhnyaa, kali ini bella yang menggerakan pinggulnya naik turun, sambil aku meremas buah dadanya dari belakang.

“ngghh,” aku mendorongnya sedikit sambil bella pegangan ke tembok sambil kaki aku angkat sedikit.

“ngghh nooo noooo” racaunya.

“plop” aku mencabutnya dan menarik tangan bella ke balkon kamarku. Aku langsung buka jendelanya,

“ihh gila ah nanti ada yang liat” ucap bella aku posisi menunging.

“kan morning sex” bisiknya sambil memasukan lagi penisku.

“ohhh” aku tau awalnya bella risih, tapi beberapa menit di genjot, yang muncul desahannya.

Udara pagi menerpa tubuh aku sama bella, membuat aku semakain cepat menggerakan pinggulku.

“harsaaa ahhh” tubuhnya tiba-tiba bergetar, sampai bella mau terjatuh, aku menahannya sampai bella duduk lemas di lantai.

“bentar lagi yah” bisikku, mengdongnya masuk kedalam, kedua kakinya aku buka lebar-lebar sambil kembali memaskan penisku,

“hhhaassshh” desisnya pelan, aku langsung menggenjotnya agak cepat, sekaligus memainkan buah dadanya.

“ohh yaahh dikit lagi sayangg” gumamku.
“ohh shitttt” aku langsung mencabut penisku saat hampur keluarr,,

“crottttttttttttttt” spermaku langsung membasahi perutnya, telat dikti aja masuk keluar di dalam. Sesekali aku tepak penisku di belahan vaginanya.

***​

Hara

Gue setengah berlari ke arah klinik, di sisi lain gue gue mau tinggalin santi sendirian.,

“aku tunggu sini, kamu cepetan kesana” santi langsung lepasin genggaman tangannya pas kita udah depan klinik.

Sebelum lari gue langsung elus pipinya, dalam waktu singkat gue benar-benar lari di mana babeh di rawat sama rena.

“kenapa babeh rennnn?” rena lagi memberikan oksigen ke babeh.
“nafasnya pendek banget, “ jawabnya dengan tangan gemetar. Babeh belum sadarkan diri semenjak pingsan di pasar. Kemungkinan asmanya kambuh karena cium zat beracun dari pasar.

“ttiiiiiittttttttttttt” suara mesin detak jantung yang di pasang ke babeh,

“gak gak gak,, gak bolehhh!!” gue langsung posisi siap lakukan CPR atau tepatnya, Cardiopulmonary resuscitation,

“gue gak boleh panik” gumam gue terus melakukan apa yang gue pelajari, sambil sesekali lihat nafasnya. Dan sesekali kasih nafas bantuan.

“behh.. babeh harus kuat, babeh belum lihat mada jadi dokter!!” ucap gue pelan.

“mada, belum balas budi ke babeh selama ini, kalau gak ada babeh mungkin waktu dulu bisa mati di jalanan!!” gumam gue berusaha gak panik, tetapi teringat pertama gue ketemu babeh.

Yang rela makan nasi setengah basi, dan nasi masih layak buat gue, padahal saat itu penumpang becaknya sedikit.

Babeh orang yang pertama ajarin hidup di pasar, hidup yang berat, karena dia yang selalu cari kerjaan di pasar.

Dari jualan kantong plastik, angkat barang, sampai ada pertama kalinya gue pernah ancurin barang saat bongkar, dan babeh yang ganti rugi untuk semuanya.

Mulai dari situ, gue harus bisa beradaptasi, memulai dari gue yang bisa cuman bisa bawa karung satu-satu ke dalam, sampai bisa bawa lima karung terigu di Pundak gue. Itu semua gue lakuin demi babeh,
Berkat babeh, gue bisa seperti ini, gak ngeluh apa yang gue jalanin sekarang,

“babeh pernah bilang kan, kalau mada lebih cocok jadi dokter, banding kuli panggul kan??”

“mada memang udah jadi DOKTERRR!, “
“walau dokter gagal!” belum ada kemajuan, detak jantungnya belum kembali, di tambah gak ada alat pacu jantung. Seperti di rumah sakit. Ada sepuluh menit gue lakukan CPR tapi belum ada tanda-tanda.

“harrrrr, udahh” suara lirih rena, saat gue masih berharap babeh gak boleh pergi dulu..
.
“masih belummmm!!”

“mada gak bakalan jadi dokter kalau ada yang meninggal lagi di tangan madaaaa!!”

“maka dari itu, pleaseee bangunnnn !!!!!” lirih gue mulai panik.

“kita relain aja ya haarr” suara rena semakin serak karena tak ada perkembangan. Setelah entah berapa menit gue lakuin seperti ini.

“GUE GAK MAU ADA YANG MENINGGAL DI TANGAN GUE LAGGIIIIIII!”

“PLEASEEE BANGUNNNN BEHHH!” teriak gue macam orang stress, di campur air mata gue yang keluar bersamaan,
gue gak perduli orang lihat gue aneh, cengeng, atau semacamnya, karena babeh juga bagian terpenting di hidup gue.

“Pleaseee kasih kesempatan sekali lagi buat babeehhhhhh!” lirih gue bersiap melakukan CPR sekaligus nafas buatan sekali lagi,

Andai tak ada perubahan, gue pasrah untuk semuanya, merelakan babeh untuk pergi, dan gue akan berhenti jadi dokter selamanya.
“satuu” gumam gue jadi cengeng,

“Dua” ucap gue semakin lirih.

“Tiga” Gue ngerasa air mat ague jatuh cukup banyak saat lakukan CPR beberapa kali.

“pleaseee balikk” ucap gue semakin lirih.

“tit…. Titt….. tittttttt… tittt..” suara mesin detak jantungya berbunyi. Tepat di saat gue hampir berhenti melakukan CPR.

“Detak jantungnya kembali harrrraaa!!” jerit histeris rena, dan teriakan orang-orang yang ternyata masuk kedalam untuk melihat apa yang gue lakuin,

Gue noleh ke belakang, banyak orang yang lihat gue, pada rekan medis dan termasuk santi yang langsung kasih senyum lebar saat gue menatapnya.

Tanpa aba-aba gue langsung peluk erat santi, rasanya campur aduk, dan pertama kalinya kepala gue di elus-elus santi, orang yang pertama elus lembut rambut gue.

Padahal gue sendiri kurang suka di elus kepala.

Rena langsung kasih oksigen di bantu tenaga medis lainnya, rasanya mau pingsan antara Lelah dan melihat keajaiban di mata gue langsung, Tuhan kasih satu kesempatan lagi buat babeh,

“lo istirahat aja har, eh mad, sisanya gue” ucap rena yang udah pasrah menjadi seperti menyesal berucap seperti itu. Gue mengangguk pelan keluar dari ruangannya, membiarkan rena melakukan sisanya.

Sebelum keluar juga gue masih sempatin lihat wajah babeh, dan melihat ke alat detak jantungnya yang kembali normal, walau nafasnya masih pendek. Gue beharap babeh terus bernafas sampai dia sadar.

***​

Gue isitrahat duduk bersandar tak jauh dari ruangan rawat babeh, jujur tangan langsung gemetar sekarang,

Santi tak berkata apa-apa, tetapi tangan gue di pegang erat. Sambil membiarkan kepala gue di bahunya.

“malu banget rasanya teriak-teriak kayak tadi” gumam gue ketawa kecil sambil menghela nafas panjang.
“iah di tambah, pertama kali aku lihat kamu nangis, kayak tadi”
“aku gak nangis loh, cuman sedikit meneteskan aja”

“sama aja, mata kamu merah gitu,” potongnya

“tapi nangis bukannya lemah tau, kamu bilang kan, kita boleh nangis hanya dengan satu masalah yang sama,?”

“hmmm. Emang pernah ngomong gitu?”
“issshh,” desisnya kasih bibir bebek,

“oh ia har.. tadi ada yang cariin seseorang, kasih unjuk sesuatu”

“apa?”
“foto, tapi mirip babeh” bisiknya sambil noleh kiri kanan.

“dimana?”
“ehh ituuu orangnyaaa!” tunjuk santi ke arah empat orang, terdiri dari dua lelaki, dua perempuan, yang satunya udah ibu-ibu tiga lainnya masih sekitar umur tiga puluhan.

Gue langsung bangun hadang mereka pas mau arah ke ruangan babeh, gue sendiri gak tau apa yang terjadi.

“pasien gak bisa di temuin” ucap gue hadang di pintu, dan langsung gue tutup rapat, terlihat rena masih di dalam memastikan semuanya. Sesekali gue juga lihat ke babeh.

“maaf, saya mau memastikan pasien di sana , mirip orang ini atau bukan” tunjuknya seseorang di foto dengan memakai jas rapih, tapi tak berjengot dan berkumis.

“untuk apa?”
“memastikan, itu ayah kami bukan” ucap seseorang perempuan,

“andai memang babeh orang yang di foto itu, kalian gak bisa masuk ?” gue tatap sinis kea rah mereka,

“udahlah har, kasih liat, siapa tau bukan” bujuk santi,

“gak bisa, jawab dulu” kata gue, tapi tak lama pintunya terbuka, rena keluar dan salah satu dari mereka langsug menyelinap masuk kedalam.

“woiiii!” teriak gue ke salah dari mereka,

“Ini ayaahhhhh!!” jeritnya histeris,saat salah satu dari mereka menorobos masuk santi pegang tangan gue saat gue mau usir dari babeh.

“kenapa kalian baru hari ini cari babeh??” rasa gemetar gue langsung hilang seketika dan gue pegang kerahnya orang yang paling depan, gue gak tau siapa.

“jawabbbbb!!” emosi gue jadi meninggi, gak bisa bayangin, mereka membiarkan seseorang semacam babeh di biarkan hidup di jalanan.

Gue lihat rena masuk kedalam untuk mengeluarkan mereka agar tak menganggu.

“LO tau gak? Babeh hampirr udah gak ada tadi!!!,” bentak gue agak keras.

“kalian semua enak-enakan, dan giliran baru kehilangan baru cari!!” teriak gue lagi kayak orang gila. Santi kembali pegang tangan gue agar tahan emosi,

Tapi itu gak berhasil, kalau menyangkut soal babeh emosi gue gak bisa di ajak turun, rasanya mau gue pukul satu persatu.

“bisa diam gak sih har berantem jangan disini, sikap lo gak pernah berubah, selalu nge gas terus” omel rena yang gak kalah kencang pas dia keluar ruangan.

“biarin babeh istirahat, kalian juga, tiba-tiba masuk!, “ lanjutnya pasang wajah kesal.
“tapi”
“tapi, gak usah tapi, kalian gak tau kondisi babeh, kalau mau bicarain tunggu emosi kalian reda”

“ajak ke ruangan gue aja har” lanjutnya tanpa putus, rena benar-benar seperti emak-emak lagi PMS, atau mungkin emang bawan dari bayi. Moodnya tiba-tiba berubah.

“rasainn!!, ibu lagi hamil kan galak-galak.” bisik santi, ikutan mau ngomelin gue. Gue langsung terdiam menarik nafas panjang.dan mereka pun pergi menjauh dari babeh resin.

***​

Setelah emosi gue agak reda, rena ajak gue ke ruangannya, gue duduk bersebrangan dengan mereka yang mengaku keluarnya babeh resin,

Tetap aja gue kasih tampang sinis ke mereka, dan santi terus pegang tangan gue seolah kalau lepas gue bakalan melakukan hal yang tak terduga.

Rena mendengar penjelasan mereka secara perlahan, gue akuin rena dalam posisi netral saat ini.

“awal ini bermula dari, ayah terpukul karena membuat saya mengalami kecelakaan sampai membuat kaki saya lumpuh” suara tiba-tiba saat pintu ruangannya terbuka.

“beliau merasa sangat bersalah, dan sangat tertekan mengetahui hal itu, di tambah karena saya juga akan menikah satu bulan lagi” perempuan yang kursi roda di dorong dengan cowok yang gue mau pukul tadi.

“ayah pergi dari rumah dengan keadaaan depresi karena masalah itu, kami mencarinya dari hari itu juga, dan sampai sekarang!”

“saat kami mengetahui posisinya, beliau seolah kabur dari kami, apa lagi melihat saya!”

“itu sangat membuat kami semua kesulitan, sampai saya harus menunda pernikahan kami sampai sekarang”

” Dan saya sekeluarga mendapat info setelah lima tahun terus mencarinya. Kalau babeh terlihat di daerah ini beberapa bulan belakangan. ” Lanjutnya.

Gue langsung terdiam, di saat itu juga rasanya kepala seperti ada yang pukul sangat keras, mengingat ucapan babeh resin saat itu.

Babeh bilang kalau gue mirip dia dulu, yang ternyata adalah, keadaan dimana kabur dari masalah,

“maka dari itu,” cewek itu berusaha bangun di pegangin calon atau suaminya, dan berusaha membungkuk.

“terima kasih selamatin ayah sayaaa!” isak tangisnya langsung pecah saat menundukan kepalanya kearah gue, santi dan rena. Yang kebetulan berdekatan.
Santi yang saat itu paling dekat dengan wanita itu langsung menahan tubuhnya, agar tak melakukan hal seperti itu.

Santi lihatin gue seolah ikutan kesal tak mau mendengar penjelasan terlebih dahulu, gue sendiri diam saat rena kembali menengahkan masalah,

“gue cuman mau bilang satu hal,”

“Gue tau kenapa, babeh di kasih satu kesempatan lagi saat ini, yaitu bukan karena gue. Karena untuk kalian, masih ada orang yang di dalam hatinya yang belum ia temui” gue posisi berdiri langsung keluar ruangan.

“dan satu hal lagi, kunjungan pasien, hanya boleh di tunggu keluarga dekat gak boleh lebih dari dua.” Ucap gue keluar dari ruangan rena.

“itu bukan satu hal, tapi dua hal” gerutu santi saat ikut keluar dari ruangan rena. Santi terus pegang erat algi tangan gue,

Jujur gue gak tau siapa babeh sebenarnya, dan mungkin aja dia akan kembali kekeluarganya. Setelah sadar.

Di lain sisi gue ikut senang karena babeh ternyata mempunyai keluarga.

Dan juga gue belum jujur sama babeh juga soal siapa gue.

Tapi Bisa jadi babeh orang berada, kayak cerita pada umumnya, dan bisa jadi itu juga terjadi di kisah gue kali ini.

Bersambung