Cerita Sex Boss Part 48

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 48 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 47

Santi – nia

Malam ini aku menginap rumah hara, aku mencoba memanggil nama aslinya sekarang, disini aku tidur bareng bella, dia sendiri yang meminta Namanya. Itu karena kita berempat ternyata seumuran. Hanya takdir yang berbeda.

“oh nia,, eh maksudya santi..”

“kamu pakai pakian dulu aku aja, ini” ucap bella yang baru selesai mandi, dia memakai tangtop pink dan juga hotpants.

“tapi cuman tangtop sama hotpants, hehe, itu pakaian yang ketinggalan pas acara nikahan kak yua, masih bersih kok” jelasnya.

“uhmm iah” aku lirik buah dada bella yang ternyata tergolong besar juga,

Aku tersenyum sendiri, karena ini sepertinya bekas kamarku posisi kamar mandinya tak berubah.

Selesainya, aku langsung pakai, tentuntunya pakai bra dan celana dalam, gak lucu aku jadi seolah godain orang di rumah hara.

Tetepi ukurannya agak sempit, sampai cup bra ku sedikit mencuat keluar, untuk malam sih gak apa-apa, lagi pula sudah waktunya tidur.

“wooo gak muat yah/” ucap bella saat aku duduk di sampingnya yang lagi rebahan sambil main ponsel

“hehe sedikit kok, tapi buat tidur gak apa-apa lah”

“tapi beneran besara punya kamu, tau” bella langsung duduk menaikan buah dadanya,

“aaahhhh bell” jeritkua kaget saat bella menekan buah dadaku, seolah lagi membandingannya.

“hahaha, “

“aku tidur duluan yah, capek” aku mengangguk, aku pun coba untuk tidur. Memikiran hal tadi pagi, siang, sama malam ini.

Aku gak bisa tidur dengan pikiran yang campur aduk, senang, terharu, karena harapan ngawur ku benar-benar terjadi. Walau bukan dengan mada , melainkan hara. Satu orang yang sama.

Bella sudah tertidur, sedang aku masih belum bisa tidur, Daripada aku gak bisa tidur, aku pilih jalan-jalan keluar.

Kesan pertama benar-benar luas rumah ini, walau satu juga sudah luas, di tambah di gabung seperti ini, benar-benar luas.

“hei sannti, “ ucap mama hara, dari terlihat memakai model kimono berbahan satin yang khusus untuk baju tidur. Terlihat elegen juga kalau malam.

“iah tante”

“kita ngobrol bentar?” ajaknya, aku menangguk mengiakan, sambil berjalan ke ruang tengah, mama hara mengambil beberapa album foto yang tertata rapih. Baru disini aku bisa lihat foto keluarganya hara, dari ia bayi sampai lulus kuliah.

“mirip banget yah?” tanya tante.

“iah, tapi aku tau harsa sama hara” aku tunuj foto orang yang pakai baju dokter. Pasti dia hara.

“hahaha betul, “

“bearti selama kamu tinggal disana kamu udah kenal hara?” tanyanya memberikan album foto, ada empat album foto.

“iah, maaf tante, aku panggil hara waktu itu tukang ojek, atau tepatnya aku paksa dia jadi tukang ojek” tante cuman ketawa geli.

“tante senang, saat anaknya om roni kerja di perusahaan harsa,”

“hee? Bearti tante udah tau kalau aku anak om roni?” angguknya, pantas aja aku merasa kenal saat bertemu di apatemennya.

“awalnya harsa yang mau tante jodohin ke kamu, saat tau kamu berrdua sering bertemu di apartement”

“tapi sayang tenyata harsa udah memilih bella, “

“jadi tante berharap aku sama harsa?” angguknya senyum. Bearti perjodohan ini sudah berlangsung lama,

“tapi hal yang sangat mengejutkan, saat itu hara datang tak sendiri, melainkan megandeng kamu”

“tante benar-benar terkejut, kok bisa gitu loh”

“dan disitulah pilihan harsa berubah menjadi hara,” jelasnya.

“walau tante gak tau apa yang kalian berdua alami sampai bisa saling kenal seperti itu, tapi tante percaya setelah melihat kalian berdua. Kamu bisa membuat hara lebih baik, dan sebaliknya”

“tante berharap kamu gak keberatan yah, ini semua karena papa nya juga menginginkan salah satu anaknya menjadi pewaris perusahaan”

“tapi semuanya mempunyai pilihan masing-masing, termasuk harsa, salah satunya adalah tinggal hara, “

“om sengaja gitu?” ucapku pelan. Angguk tante lagi.

“iah, si om paksa masuk kedokteran, biar harsa sudah mempunyai tanggung jawab, karena suatu saat dia memang harus pegang tanggung jawab besar.”

“tapi sayang, kejadian yang tak mengenakan terjadi ke hara,”

“apa tante?” aku semakin penasaran.

“saat dia kerja mengabdi ke desa terpencil, kejadian itu terjadi, membuat salah satu kepala desa yang sakit menjadi meninggal saat di tangani sama hara” aku terkejut,

“akhirnya para dokter di usir dari dari desa, meminta pertanggung jawaban dari hara, karena dia yang menangani”

“tapi saat kami tau masalah itu, hara menyalahkan papanya,karena memaksanya masuk kedokteran, “

“dannnn” tante menarik nafas panjang.

“hara kabur dari rumah, tanpa membawa apa-apa, “

“om dan tante pikir nanti pulang lagi, tapi kenyataan hara gak pulang-pulang, tepatnya gak mau pulang”

“ego mereka sama-sama keras, om mencabut semua fasilitas yang di hara, kalau gak mau pulang, tapi hara menanggapinya benar-benar gak mau pulang. Memilih jalannya selama empat tahun ini” jelas tante. Aku gak bisa berkata apa-apa,

“terima kasih yah”

“buat apa tante??”

“untuk kamu bisa mengubah hara,” tante tiba-tiba pelukku, harusnya aku yang terima kasih karena tanpa ketemu hara aku gak akan seperti ini.

“jadi tante harap kamu gak keberetan dengan perjodohin ini,”

“iah tante, tapis anti kan udah gak sekaya dulu” tante gak bicara apa-apa dia langsung berdiri meninggalkan aku bersama album foto.

“kalau mau mengingat masa kecil kamu sama harsa dan hara itu ada fotonya” jelas tante langsung pergi entah arah mana.

Aku masih terkejut kejadian yang sebenarnya terjadi terharap hara dan keluarganya, dan juga kenapa dia menyebutnya dokter gagal.

Itu membuat terasa beban hidupku tak seberat hara, selama empat tahun. Aku saja yang belum satu tahun saja sudah mengeluh sana sini. Di tambah hara tak menunjukan bebannya di depanku sama sekali.

***​

Aku langsung huka satu per satu, album fotonya, tepatnya saat aku masih taman kanak-kanak, disana aku masih terlihat gendut, hitam, rambut ala dora.

Foto saat ulang tahun hara dan harsa, aku berdiri jauh dari seseorang, aku gak bisa bedain mana harsa dan hara kecil.

Yang jelas antara mereka yang suka jailin aku terus menerus, dari foto juga sudah terlihat anatara harsa hara juga yang seolah menjahuiku.

“harsa atau hara sebenarnya yang sering baut aku nangis” aku masih belum bisa menebaknya, dan di antar dia juga yang baik sama aku.

Aku memilih melanjutkan fotonya nanti saat di kamar, pasti bella juga belum lihat.

Tapi saat aku masuk ke kamar, bella tak di kamar, aku kembali keluar mencari bella, termasuk penasaran ke kamar atas.

“pasti itu kamarnya hara,”

“haraaa tok tok tok” kataku mencoba membuka pintunya, tak di kunci, tetapi tidak ada siapapun, harsa mau pun hara.

“ngghh nghh” suara lenguhan bukan berasal dari kamarnya, tetapi di kamar lain, aku mencoba kembali mendengarkannya lagi, tapi taka da desahannya, saat aku berdiri di salah satu kamar yang pintnya terbuka seidkit.

Saat aku lihat itu bella sedanng menggerkan pinggulnya naik turun dengan tangtop masih di tubuhnya.

“ohhhh ya” aku yakin itu suara desahan harsa, aku bisa lihat dari sini bella terus menggerakan pinggulnya sambil berciuman.

“fast move beb, “bisiknya,

Dan sekilas aku teringat kejadian bersama harsa waktu itu, membuat aku sedikit merinding mengingatnya. Bukan merinding karena horny, melainkan merinding bagaimana hara tau soal itu.

Aku langunsg berlari kecil ke bawah lagi buat kembali ke kamar, di saat itu juga aku melihat hara sama papanya sedang berbincang, gak lama papanya kembali masuk dalam.

Entah kenapa aku pilih pergi arahnya saat dia duduk sendirian di dekat kolam renang malam- malam.

“belum tidur?” tannyaku duduk di sampingnya, hara cuman kasih senyum aja sebelum menjawab.

“belum, habis ngobrol sama papa tadi” lanjutnya menghela nafas panjang.

“ouh, soal perjodohan ini?”

“bukan kok, soal alasan kenapa hanya aku yang di tekan untuk menuruti kemauannya, dari jurusan sekolah, sampai kuliah masuk kedokteran”

“alasannya?” tanyaku pura-pura ngak tau.

“biar aku punya rasa tanggung jawab, itu aja intinya, karena papa sama aku keras kepala, jadinya , aku lari dari itu semua” hara sepertinya masih canggung untuk, tapi gak apa-apa aku udah tau dari tante.

“tapi syukurlah kamu udah saling bicara satu sama lainnya,” di saat itu juga hara langsung menicum bibirku agak lama.

“egghhmmm”

“kamu setuju sama perjodohan ini?” tanyanya saat selesai berciuman.

“selama orangnya kamu aku mau, berkat kamu juga aku kayak gini, nerima diri sendiri” senyumku, dan hara kembali menciumku, tapi kali ini aku di pangku sama dia dan sambil merangkul.

‘ahh”

“oh ia sebentar” aku menyudahi ciumannya, langsung berlalri ke kamar buat ambil album foto yang di kasih tadi.

“itu apa?”

“album foto, mama kamu tadi kasih ke aku,”

“oh ia, kamu kenal ini?” aku tunjuk foto bertiga, tapi satunya kayak menjauh gak mau foto bersama. Aku tunjuk anak permpuan gendut dan hitam,

“lupa eh, kan ini foto pas TK, aku lupa”

“kalau gitu, orang yang selalu di bikin nangis sama kamu pas main ke rumah”

“oh ya ya, ingat, si rese suka ikutin orang,” gumamnya mengangguk-angguk.

“emang siapa dia?” tanyanya bikin aku gemes, karena secara gak langsung orang yang suka jailin aku adalah dia sendiri.

“aku,” hara langsung noleh dengan tatapan tak percaya.

“haa masa?? Seriuuss? Orangnya kamu??”

“aku kira orangnya bakalan” ucapnya terhenti sambil memberi contoh menggunakan Gerakan tangannya dengan arti orangnya gendur dan lebar.

“aku gendut sekarang gitu?”

“bukan bukan, maksudnya bisa montok gitu”

“masa?? Apanya?” aku sengaja menyilangkan kedua tanganku agar buah dadaku lebih menonjol, pasti hara mau bilang soal itu seratus persen…

Dugaan aku salah, tatapan begitu tajam ke arah mataku, hal itu buat aku sedikit salah tinggkah.

“apaa?” tanyaku saat wajah hara semakin dekat.

“aku suka tampilan wajah kamu tanpa make up, natural,” bisiknya pelan. Mengalihkan pembicaraan.

“kalau make up gak cantik?” aku langsung posisi rebahan,

“cantik, tapi ada yang lebih memikat”

“apa?” darahku berdesir kencang, membayangkan hara langsung meremas buah dadaku, tapi aku akan menerimanya dengan senang hati.

“bibir kamu” hara kembali menciumku dengna lembut, seolah mencium dengan sepenuh hati, aku gak pernah merasakan sensasi ciuman seperti ini sebelumnya,

Hangat. Seolah sangat tulus, itu yang aku rasain sekarang, aku membalasa ciuman hara pelan, sambil tanganku merangkul pinggangnya. Tak ada sentuhan di buah dadaku dan selangkangan pahaku.

Andai dia melakukannya aku menerimanya dengan senang hati, aku akan berikan semuanya termasuk virginku malam ini.

Setelah meleapas ciumannya hara menyandarkan kepalaku di bahunya, sambil tanggannya mengelus rambutku perlahan.

“haaraa, ada yang mau ucapin” kataku, sepertinya waktu yang tepat soal aku kerja di perusahaan kerja, dan dia juga punya kelainan genetic.

Tapi Elusan di rambutku membuat mataku semakin berat, rasanya benar-benar nyaman apa lagi ada kecuman kecuman kecil, membuatku seperti anak kecil yang seddang mau tidur.

Yang jelas rasanya sangat nyaman, hara pun memelukku semakin erat. Mataku pun mulai terpejam.

***​

“haaaaaa” aku langsung bangun di kamarku begitu mengingat tadi malam. Apa itu memang mimpi atau memang aku tidur di pelukannya hara.

Aku langsung keluar kamar,ke lantai atas tempat hara tidur. Pintu kamarnya tak tekunci, aku langsung masuk kedalam. Udara dingin AC langsung terasa menusuk tulang, tapi tak ada orangnya, aku langsung ke kamar satunya,

“har” aku angkat selimutnya, teryata itu harsa, dan di sampingnya bella, mereka sama-sama telanjang bulat. Bearti tadi malam itu bukan mimpi, beberapa bekas condom pun berceceran di lantai. Suasana rumah benar-benar sepi, setiap kamar tak da hara dimanapun, papa mama juga masih tidur,

“non cari siapa?” tanya seseorang pas aku keluar rumah, siapa tau di ada di taman depan, atau sejenisnya.

“cari hara pak, bapak liat?”

“ohh den hara, tadi malam dia pergi buru-buru non, “

“haaaa??”

“sama siapa pak?”

“sendiri, bawa mobil juga tuh non/”

“kemana pak?”

“gak tau juga, den hara bilangnya urusan darurat” pikiranku langsung ke babeh resin, pasti ada terjadi apa-apa dengan babeh resin.

Aku langsung telepon ke ponselnya, tetapi gak di angkat, sampai akhirnya ada suara ponsel di halaman belakang dekat kolam renang.

“ini kan ponselnya hara” entah kenapa firasat ku menjadi jelek, pasti ada situasi buruk soal ini.

Tak lama ada panggil dari orang bernama budi, tak mungkin aku hiraukan, aku langsung angakat.

“oii har,,, gue lagi perjalan pulang, sekalian bawa perlengkapan lainnya, anak-anak siapa aja yang datang>” dari suaranya ini dokter budi.

“haloo.. haraaa woiiii harr”

“haraaaaaa woiiii” teriak dokter budi di telepon.

“maaf, mada,,, eh maksudnya hara, gak di bawa ponselnya”

“niaaa, ? itu kamu??”

“hehe iah,”

“loh kok?? Kok kok bisaa???”

“kamu dimana emang sekarang, dan emang ada apa?” tanyaku benar-benar ikutan kwahtir.

“lagi perjalan ke klinik rena, nia, kamu dimana sekarang?”

“aku di rumahnyya hara, ihh ada apa sih, aku jadi ikutan panik” budi tak mau menjawab pertanyaanku karena menyangkut klinik pasti ada kecelakaan atau lainnya.

“haaaa, nanti aja aku ceritain,,”

“aku ikut kesana!!”

“please dokterrr,,, please” kataku memohon.

“okehlah, sepuluh menit lagi aku sampai rumahnya hara, tapi seriusan kamu di rumah hara ?”

“iah, seriusan, aku tunggu”,

“okelah,, tunggu depan rumah” pinta dokter budi. Aku gak mandi, aku langsung ganti pakaian seadanya, gak lucu masa pakai hotpants sama tangtop.

Sepuluh menit menunggu ada mobil yang menghampiri, mobil fortuner yang pasti milik dokter budi.

“masuk, di depan aja” ucapnya buka jendela,

Aku langsung masuk, tetapi di jok belakang penuh dengan peralatan medis, wajah dokter budi juga begitu tegang.

Dokter budi langsung mencapkan gas cukup cepat, benar-benar terburu-buru,

“kenapa buru-buru? Ada yang genting kah?”

“ada apa?” tanyanku penasaran.

“nanti kalau udah sampai.”jawabnya,

“tapi kok kenapa kamu ada di rumah hara? Kok bisa ya?” tanya budi.

“gak mau jawab, jawab dulu pertanyaan aku tadi” kataku.

“haaaaaaa, ia deh, tapi jawab yah” angguk aku.

“Pasar kebakaran,” aku langsung menoleh ke budi,

“rena kasih tau aku pagi-pagi,”

“kejadiannya?”

“tadi malam, dan aku suruh dibawa orang kesana, karena banyak yang terluka karena bersusaha ikut padamin api,”

“seserius itukah?”

“iah, banyak yang keracunan monoksida pas lagi padamin, dan klinik rena kekurangnya tenaga medis.”

“haaa, pantes tadi malam dia buru-buru,”

“kamu tau?”

“ngak sih, aku tidur tadi malam, itu yang jaga rumah tadi bapak-bapak”

“terus tenaga medis lainnya?”

“udah di infoin tadi malam sama rena, entah berapa orang yang mau kesana” wajah dokter budi berbeda, sepertinya dia gak percaya diri ada bantuan medis datang kesana.

“terus kamu kenapa ada disana?”

“uhmm, kamu udah tau kan kenapa?, harsa sama hara saudara kembar, dan aku di jodohin sama hara hehe”

“WHATTT?”

“serius?”

“iah, hara pulang kerumah?”

“iah,” dokter budi benar-benar terkejut, pasti dia gak datang ke acara pernikahan kak yua.

***​

Hampir satu jam setengah akhirnya mau sampai di klinik, dari jauh masih terlihat kepulan asap dari sini.

“bearti kamu suaminya rena?” tanyaku.

“iah, kamu baru sadar?”

“ehehe ia,” aku kenapa jadi oon, gak sadar kalau di ceritain itu dokter rena yang punya klinik. ternyata mereka semua saling kenal.

Aku sama dokter budi turun dari mobil, dan ikut tercengang karena banyak orang pasar di klinik dokter rena, sampai ad ayang buat tenda juga. Dokter budi langsung masuk, tak lama dia berlari keluar dengan beberapa orang. Hampir ada sepuluh orang memakai pakaian dokter.

“oksigen di belakang mobil” teriak dokter budi, aku gak sadar box di belakang mobilnya itu pertalan bantuan medis, oksigen termasuk salah satunya.

Lihat mereka menjadi merinding, mereka begitu kompak. Tak seperti ucapan pesimis dokter budi di mobil tadi.

“haraa,, pasti dia ada disana” gumamku langsung kepasar, feelingku mengatakan kalau hara ada disana, dan benar hara sedang beridir memandang suasana pasar yang sudah runtuh terbakar.

“ini ponsel kamu” ucapku saat hara tak bergeming dari tempatnya, tatapnya masih terus kea rah pasar.

“niaaa/?”

“kok bisa kamu kesini? Bareng papa mama?” tanyanya berusaha senyum.

“bukan, kok, aku sama dokter budi kesini, kebetulan dia telepon ponsl kamu, dan searah kesini”

“ouh.. ternyata dia ikut datang juga” kini senyumnya bukan terpaksa, seperti senyum karena senang dokter budi datang kesini.

“babeh resin keadaanya?” bisikku.

“dia lagi dirawat, banyak yang keracunan termasuk babeh resin,” aku reflek pegang tangannya. Dan hara gengam tanganku dengan erat.

“haaaaa~~~” lenguh nafasnya,

“istirahat dulu, biarin petugas yang selesain sisanya” kataku, tetapi hara tak menanggapinya.

“katanya banyak yang keracunan, kenapa kamu berdiri disini?”

“dari jarak sini, gak bakalan kecium”

“mereka semua keracunan karena berusaha ikut padamin api,” jelasnya pelan.

“tangan kamu juga pada luka gitu,” garis =garis merah cukup banyak tak hanya tangan kirinya, tangan kanannya juga.

“gak sebearapa lukaku kayak gini, gak sebanding orang yang cari sesuap nasi di pasar ini” hara benar-benar menganggap pasar seperti rumahnya sendiri, sampai secara gak langsung hara begitu terpukul karena kejadian ini.

Gak terasa hampir satu jam aku berdiri sama hara disini, hara memastikan kalau tak ada lagi api yang menyala. Wajahnya benar-benar serius memperhatikan dari sisi kesisi.

“sudah padam semua, mas nya silahkan istirahat, biar kami sisanya” kata salah satu petugasnya.

“kamu udah berapa lama berdiri disini?”

“ada dari jam empat pagi, masnya tetap berdiri disini, “

“iah, dari jam empat pagi” timpal petugas lainya, aku langsung noleh ke hara, tapi hara tak memperdulikannya,

Selama itu hara berdiri, tetapi keadaan hara seolah tak terjadi apa-apa, dari sini juga aku bisa lihat pasar yang sudah hampir rata dengan tanah, hanya puing-puing yang mengeluarkan asap.

“Haraaaaaaaaaaaaaaa!” teriak dokter budi, hara menoleh tanpa bergerak dari tempatnya.

“ketemu juga ini anak!!,” suaranya terengah-engah, sepertinya dokter budi lari dari klinik kesini, walau gak jauh dari pasar tetapi seperti ada hal penting

“babehh,!, “

“cepetan!” teriaknya lagi, seketika hara langsung menglangkah cepat sambil pegang erat tangannku. Wajahnya benar-benar tegang, seolah takut terjadi apa-apa dengna babeh resin.

Bersambung