Cerita Sex Boss Part 47

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56

Cerita Sex Dewasa Boss Part 47 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 46

Harsa

Kalau bukan papa sama mama yang suruh aku kesini, aku gak bakalan mau kesini, karena aku kesini cuman buat jemput si hara.

“kamu tau gak beb kontrakannya dimana?”

“ini lagi cari, kata om roni, sama iwan daerah sini kontrakannya”

“ini bukan?” tunjuk bella, dari fotonya memang benar itu kontrakannya, aku masih gak percaya selama ini hara tinggal di kontrakan seperti ini.

“kamu mau masuk?”

“ya dong, aku kan harus jemput ini anak ke rumah”

“parah yah, ada acara pertemuan sama cewek malah masih belum dateng” lanjut bela menghela nafas liat sifat hara yang terlalu santai.

Pintu kontraknya gak terututup rapat, tepatnya gak terkunci, aku buka perlahan sampai terlihat hara masih tidur di atas kasur sambil peluk bantal guling.

“gila, masih molor diaa, “ gumamku agak kesal,

“oii harr, bangun,,,!!” bella ikut bantu tepak kepalanya pake bantal.

Setelah beberapa menit akhirnya si hara bangun, menggeliat dan kembali mengambil bantal guling.

“saaaa, bellaaa, ngapain kesini?” tanynya kembali menggeliat di kasur.

“buset malah balik tanya ngapain?”

“hari ini kan, kamu mau di kenalin sama teman papa kamu, masa lupa?” potong bela yang ikutan gemas melihat hara.

“hari ini?” tanyanya dengan santai.

“iah, makanya aku sama harsa suruh jemput kamu, dan sekarang BANGUNNNNN!” teriaknya membuat hara membuka mata lebar-lebar.

“kebiasaan, gak berubah” gumamnya langsung ambil handuk ke kamar mandi,

“beb, kamu sering teriakin hara?”

“hehehe, ya dulu pas kuliah,”

“tapi ke kamu ngak kok, tenang” senyumnya lebar sambil tepuk pundakku.

Gak ada lima menit hara sudah selesai mandi,sekaigus sudah berpakaian rapih. Celana panjang sama kaos. Dan langsung berangkat.

“lo dah dengar lom har, cewek yang bakal di kenalin sama lo?”

“belum lah, lagi pula gue juga gak terlalu berminat kayak beginian”

“kenapa emang? Lo udah ada?”

“ahhh gue tau, yang kemarin lo gandeng kan pas pernikahan kak yua?” potong bella lagi. bella gak boleh cerita banyak tentang nia,

“yang gue denger teman masa kecil kalian berdua, rumahnya kalian saling bersebelahan”

“yang di beli sama papa langsung pas mereka pindah itu” lanjutku

“lupa ahh” jawabnya benar-benar seperti tak perduli.e

Walau hara udah kenal sama nia, tapi sebelum itu hara belum tau apa yang terjadi antara aku sama nia, Andai bella keceplosan bicara, pasti ada urusan lain,

“tadi malam juga aku dengar kok katanya teman kecil kamu itu,…”

“wah, bearti selama gue gak ada di rumah, bella nginap terus?” potong hara pas bella mau melanjutkanya perkataannya, aku sama bella saling tatap, seolah lagi di pergokin sama hara.

“tapi baguslah, kalian emang cocok kok” ucap hara tertawa meledek secara gak langsung.

“lo gak marah gue sama bella pacarana?” tanyaku.

“marah?? Buat apa? lagian kita dah putus lamaaaaaaaa”

“huaaaaammmm~~~” hara langsung memilih tidur lagi di banding lanjutin membicaraan, padahal aku tau pasti hara suka sama nia. Dia juga gak tidur selama perjalanan.

Nanti aja kalau waktu yang pas aku cerita semuanya tentang nia ke hara.

Seampainya di rumah, si hara masih tidur, di tambah ngorok pula, bella langsung masuk kedalam rumah. Langsugn ada telepon dari mama.

“halo ma”

“kamu dimana sekarang?” a

“ia ma, ini udah di halaman depan., tuh salahin si hara sampai sana masih tidur” sepertinya orang yang di maksud udah datang lebih pagi daripada gue.

Sekilas di rumah sebelah seperti sudah ada tamu, tepat ditaman samping rumah satunya, ada cewek duduk sendirian sambil main ponsel. Sayangnya gak keliatan wajahnya hanya punggungnya aja.

“woii bangunn” kataku, buka pintu mobil,

“udah sampe??

“udah..” hara kembali menggeliatakan tubuhnya. Aku langsung tinggal masuk kedalam. Dan benar mereka sudah datang. Tapi hanya papa yang ngobrol sama mereka, kalau dari sini gue gak tau siapa,

“harsa kamu ngapain” tegur mama, saat gue mau intip siapa orangnya.

“hehe penasaran ma, siapa orangnya,” aku langsung intip. Ternyata itu om roni, dan istrinya.

“jangan-jangan anaknya om roni ya?” mama cuman senyum,

“hara mana?”

“ada tuh tadi udah bangun mungkin sekarang udah naik ke atas buat ganti pakaian”

“tapi ma ceweknya mana? Aku gak liat”

“ada di taman samping rumah, sambil tunggu hara dataang,” bearti cewek tadi.

“mama udah liat dong wajahnya?”

“belum.. pas mama temuin, udah di samping, jadi belum ngobrol” angguk aku jadi penasaran wajah anakanya om roni.

aku langsung ke dapur, ternyata sudah ada makanan yang di baut sama mama. Makanan special buatan mama.

“Bi.. bawain minuman jus yah,” ucap mama yang masih sibuk mondar mandi menata makanan ke meja makan.

“raut wajah mama cerita banget hari ini,” kataku duduk tak jauh dari mama.

“ya dong, mungkin hari special, “

“tapi mama yakin hara mau di jodohin gitu? Tadi pergi aja males-malesan” kataku.

“nanti kau tau sendiri. Seenggaknya dia mau datang, “

“soal sukaa atau gak di tangan dia kok, mama sama papa cuman mencoba mencocokan hara sama anaknya om roni.”

“aku penasaran ma serius, orangnya yang mana,”

“nanti aja harsa, mama lagi sibuk, kalau mau lihat mama udah keluarin album foto pas kalaia bertiga masih satu sekolah.” Ucap mama .

“itu disana” tunjuk mama kee sudut ruangan,

“bella taruh sana, hati-hati panas” kata mama saat bela membawa makanan seperti soup.

“iah tante,” bella selama disini jari rajin bantuin mama.

Di tamabh mama sama papa gak curiga kalau bella sama aku sudah melakukan cocok tanam beberapa kali,

Aku langusng liat isi album foto yang sudah lama banget, disana ada tiga orang, termasuk aku sama harsa.

“ini orangnya?” tanyaku dalam hati, melihat anak kecil cewek, berambut seperti dora, dan gemuk. Terlihat dari tangan, kaki sama wajahnya.

“wah,, wahh” gue jadi inget sedikit soal dia, kalau gak salah dia juga agak hitam karena sering main di halaman belakang,kadang sendirian, sekalinya hara temanin hasilnya dia nangis.

“jadi penasaran sumpah” gue buka satu persatu lagi, samapi di foto hara kecil seoalh tak mau dekat-dekat sama dia. Dan kalau gak salah dia nangis lagi, semua karena harsa, tapi anehnya hara seolah tak menyesalinya, tepatnya sangat cuek sama dia.

Dari kecil egonya udah keliatan, dulu mama pernah bilang kalau harusnya hara yang keluar duluan, tapi hara gak mau keluar, walau akhirnya dia lahir sungsang. Di tambah ekpresi wajahnya seolah kesal di keluarkan seperti itu.

Dari lahir sudah buat masalah, sampai sekarang juga.

***​

Hara-

Kenapa hawanya ngantuk kayak gini, padahal gue udah tidur dari jam dua belas. Apa karena gak niat bertemu. tapi memang sih gue gak terlalu berminat soal seperti ini. lagi pula kenapa tiba-tiba juga mereka puya pikiran seperti ini.

Papa sama mama gak pernah bilang siapa dia, seolah menyembunyikan. Gue pilih rebahan lagi di kasur dulu, sambiil menatapp langit-langit kamar gue.

“haraaa, kok tidur lagi sih” suara mama pas gue mau ambil bantal guling.

“iah maaa, cuman pejamin mata bentar.” jawab gue pelan.

“ganti pakaian dulu har, mereka udah di ruang tamu, “ gue langsung bangun lagi,

Di kamar ternyata pakiaannya sudah di siapin, pakaian formal tapi tak terlalu formal banget, Kemeja lengan panjang berwarna biru dengan corak batik, dengan celan panjang hitam.

Sebelum turun kebawah, gue rapihin rambut. Masih kagum dengan potongan nia yang ternyata begitu mahir. Sampai gue percaya diri dengan potongan seperti ini.

“ada chat dari nia” aku langsung telepon sebentar.

“hii..”

“hii juga, baru bangun?” tanya nia.

“iah hehe, kok kamu gak bilang kalau acaranya hari ini?”

“hmm.. aku lupa, makanya chat kamu” entah tiba-tiba jantung gue berdebar, seolah berharap orang itu adalah nia. Apa benar nia atau hanya kebetulan semata karena hari ini acaranya sama.

“iah aku udah d rumahnya, lagi duduk santai, kamu gak kepasar?” gue semakin berdebar.

“libur dulu sehari” jawabku. Aku gak mungkin bilang soal aku juga ketemu sama seseorang, gue juga gak bilang ke kalau gue juga di jodohin juga ke nia.

“ohh udah yah, aku di panggil papa mama”

“byee” nia langsung matiin ponselnya,

“woiii cepetan, udah pada tunggu!!”

“dan lo pasti kaget, dan gak percaya!!” chat harsa saat gue jalan turunin tangga, entah rasanya jantung gue berdebar lebih kencang harsa bilang seperti itu. Pikiran gue jadi ke satu orang, yaitu nis.

“haar ayo cepetan har” suara mama pelan pas berpapasan dekat tangga.

“iah ma, gak sabaran banget” mama cuma tersenyum pegang tanganku agar berjalan lebih cepat.

“ini dia, anak saya paling bungsu, Hara singgih phoeyjaya” ucap mama sambil jalan kearah tempat duduk. Gue langsung terpaku ke om roni, karena di ruangan ini hanya papa mama, om roni dan istirnya, satu lagi seorang perempuan.

Seketika suasana menjadi hening, dan saat itu juga mata gue tertuju ke seseorang yang sedang menunduk. Tak lama saat nama gue di sebut mama dia langsung menatap gue.

“niaa” gumam gue, karena benar-benar mirip karena pakai make up, sekilas benar mirip nia, dari rambutnya juga.

“ini anak saya, Namanya shanti Kartika sari” ucap om roni, menyebutkan Namanya buat niat, melainkan shanti. Gue hanya lempar senyum, dia juga demikian sambil menunduk kembali kepalanya, seolah tak berani menatap.

“kalau begitu, kita pindah ke ruang tengah, kalian berdua silahkan saling kenal dulu” ucap papa, langsung pindah ke ruangan depan.

“kalian berdua ngobrol dulu aja, “ bisik mama ketawa kecil. Sampai benar-benar gue berduaan sama santi.

“lucu ya~~” ucapnyat tiba-tiba saat hanya aku sama dia di ruangannya, dari suaranya benar-benar dia itu nia, gue yakin santi sama nia orang yang sama.

“kamu nia?” tanya gue gugup karena jantung gue berdebar lebih kencang sekarang.

“dan kamu mada?” balasnya melihat ke arahku, membuat gue tersenyum lebar, rasanya gak percaya. Pantes aja mama sama papa gak bilang ke gue soal siapa orangnya.

“kenapa kaku gitu? Kayak pertama kali ketemu aja” tanyanya berdiri tepat di hadapan gue.

“grogi ketemu sama orang yang Namanya santi, kalau nia udah biasa” jawabku masih senyum-senyum,

“kalau gitu kenalan ulang,” gue langsung jabat tangannya dengan saling mengenalkan nama asli gue.

“hara”

“santi” gue langsung jabat tangan,

“jadi panggilnya?”

“santi lah, masa nia?, kamu juga kan?”

“iah. mada sama nia gimana nasibnya?”

“beda wilayah gak ada urusan” bisiknya ketawa, tapi benar juga kalau wilayah pasar harus pakai nama mada sama nia, orang-orang pasar hanya tau nama gue seperti itu.

“ucapan kamu terbukti yah, kita ketemu lagi tapi dengan nama yang berbeda” senyum santi saat gue duduk di sampingnya. Gue cuman bisa tersenyum lebar karena masih terkejut apa yang gue pikirin benar-benar nia.

“tapi kenapa kamu gak bilang kalau kamu ternyata juga sama di jodohin?” tanyaya lagi.

“sengaja, takut kamu berpikiran macam-macam, aku aja gak tau sebenarnya orang yang mau di kenalin itu kamu”

“pantes papa sama mama gak kasih tau” jawabku.

“kamu gak kenalin aku?” angguk gue.

“kamu keliatan berbeda, lebih natural saat tak memakai make up, jadinya agak kikuk melihat wajah kamu pake make up”

“aku kaget, pas masuk ada om sama tante, aku kira bakalan harsa yang mau di kenalin,”

“dan aku lupa kalau harsa punya saudara yaitu kamu” senyumnya.

“aku kira juga kamu pura-pura gak tau, eh ternyata kamu beneran gak tau” ucapnya tak berhenti sedikit pun.

“harr..eh niaa,” gue langsung noleh ke harsa, yang seolah kenal sama nia. Padahal baru ketemu kemarin.

“san, har,, di panggil buat makan siang” ucapnya langsung pergi.

“yuk..” angguk nia kea rah ruang makan, sambil jalan dia lihat kiri kanan, seolah mencari sesuatu..

***​

Santi alias nia langsung menghampiri papa mama nya, aku sendiri langsung focus ke makanan yang udah di sedain. Dari wanginya pasti mama yang masak. Ada satu makanan yang mau gue incer, yaitu pesmol, udah empat tahun gue cobain ini pesmol..

Gue pilih duduk dekat kolam renang, karena nia juga lagi makan bareng orang tuanya,

“aku boleh duduk sini?” tanya nia yang ikutan membawa piring.

“boleh kok”

“tapi aku baru tau kalau kalian berdua benar-benar kembar,bukan sekilas aja,” ucapnya tiba-tiba.

“masa?? Tapi wajar sih, aku seputih harsaa, hehe”

“tapi lebih berotot dari pada dia, hehehe” santi langsung buang muka setelah bicara seperti itu, entah itu pujian atau apa,

“kamu suka yang berotot?”

“hmm,, iah lebih gentle, tapi ngak juga gak apa-apa kok” jawabnya langsung masuk kedalam karena makanannya sudah habis. Kalau gue belum masih mau gado ikan.

“haraa.. kamu di cariin mama kamu tuh” ucap nia kembali lagi membawa piring, tapi isinya buah.

“kenapa?”

“ikan pesmolnya gak ada sisa, tinggal bumbu doang, kamu yang habisin semua?” tanya dengan wajah tak berdosa.

“ini?” gue langsung tunjukin satu ekor lagi yang masih tersisa,

“heeee? Jadi beneran kamu yang habisin?”

“hehhee, ia, sayang gak ada yang makan, lagian aku paling suka masakan pesmol ikan buatan mama” ucap gue sambil habisin satu ekor lagi. tapi memang benar-beanr gak mau stop buat lahap pesmol ikan.

“pantes, kamu sering ajak aku makan ikan ehhe” nia duduk lagi dekat gue.

“yah genetic kali, aku ikutan suka makan semua jenis ikan kayak si papa,”

“kamu gak suka?”

“suka kok,tapi aku belum pernah makan pesmol “ reflek gue kasih satu suapan daging ikan dengan lumuran bumbum pesmol,

Buat gue terkejut, nia tanpa ragu langsung lahap daging ikan di tangan gue, dan sedikit di hisap, entah kenapa otak guee langsung kotor membayangkannya.

“uhm,, enak, “ ucapnya sambil tatap wajahku.

“lagi dong” pintanya, gue langsung kasih lagi, dengan posisi yang sama, sampai satu ikan santi yang habisin. Untungnya yang di makan ikan mujaer, bukan ikan mas. Jadinya tulangnya gak terlalu banyak.

“yah habis,” gumam gue bersihin tulang ikan, yang entah berapa, yang jelas lebih dari sepuluh ikan.

“sorry kena pipi kamu tuh” nia langsung bersihin pakai tangannya, gue langsung Tarik tangannya sampai wajah kami saling berdekatan.

“eheeeeemm” suara harsa di lantai dua, buat nia langsung ambil piring dan masuk ke dalam. Gue langsung lirik tajam ke arah atas, harsa cuman ketawa lebar dari lantai dua.

Kalau di tanya gue paling deket ke siapa? jawaban yang pertama mama. Ke dua kak yua, walau secara gak langsung dia sering perhatiin gue, dari kejahuan

Teramasuk saat kemarin bongkar barang di restorannya. Semua rencana kak yua dan mama, agar gue kangen rumah, dan hasilnya berhasil buat gue kangen rumah. Kangen kumpul lengkap seperti dulu.

“harraaa siniiiii” panggil bela secerewet biasanya.

“apa?”

“dorongin kasur dong kesini” pintanya, masuk bekas kamar kak yua, yang sekarang sudah ikut suaminya.

“buat apaan?” tanya gue penasaran.

“gue mau nginap sini”

“ohh”

“sama nia alias santi” ucapnya tertawa cekikikan.

“seriuusss?”

“iah lah, buktinya gue minta lo dorong kasur ini biar bisa muat berdua” jelasnya.

“kenapa?”

“ngak, hehe,”

Memang sih kasurnya cukup dua orang, di tambah kamar kak yua emang agak luas, tapi ternyata yang di kamar ini cuman bella sama nia, kedua orang tuanya tidur di kamar tamu.

Dari jauh nia yang sedikit canggung sedikit berubah saat berbicara dengan mama, seolah mereka pernah bertemu beberapa kali.

Hari ini hari special bagi gue, karena orang yang bakalan di kenalin ternyata orang yang gue suka. Walau gue belum tau kenapa santi memakai nama samara sebagai nia.

Sepertinya ini awalan untuk lebih dalam tau tentangnya. Banyak yang hal yang terlewat saat gue di pasar.

Di tambah, bisa makan ikan pesmol buatan mama sepuasnya, benar-benar hari yang special. Kalau ada lagi pasti gue makan lagi,

“haaa niaaaa,, santiii” gumam gue rebahannn sebentar sambil senyum-senyum sendiri, tanpa perjodohan juga gue pasti milih nia,

Bersambung