Cerita Sex Boss Part 46

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 46 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 45

Nia.

Hari ini benar-benar buat aku sangat kaget. Sampai selama acara berlangsung aku cuman bisa terdiam saat kembali ke tempat seharusnya aku beridir, meninggalkan kerumunan mada dan keluarganya. walau aku tau harsa dan bella mencoba menyapaku sejenak, aku hanya melempar senyum ke mereka.

Ada dua hal yang bikin aku kaget karena orang yang menyiramku adalah sahabatku dulu, di tambah dia juga pacaran dengan Ares, dia datang bersama,

Aku hanya bisa terdiam karena celetukannya, yang sudah benar-benar tak menganggap aku teman. Sampai semua mata tertuju mataku, seolah aku yang salahh. Padahal dia yang menabrak saat aku menyiapkan kue yang tertukar.

Di tambah dia…

Orang yang selalu di bicarakan saat aku bekerja di perusahaan harsa, yang ternyata selama ini ada di depan mataku selama ini. Orang yang sering menjadi tukang ojekku selama bekerja.

Dan satu lagi, mereka benar-benar kembar, dari tingginya, tapi wajahnya agak berbeda. Tapi Malam itu saat aku memakai tuxedo buatnya, aku teringat memang dengan harsa, tapi saat aku tatap wajahnya sebentar, ia berbeda, hanya sekilas. i

Acara pun sudah selesai, suasana langsung sepi, hanya petugas kebersihan, sanak saudaranya yang masih sesi berfoto, termasuk aku dan kedua karyawan nci, sedang memasukan tempat kue yang sudah kosong.

Pasti nci senang, karena kue yang di sediakan hampir habis semua, selain itu ada yang buat aku tersenyum, saat aku lihat pie susunya sudah habis tanpa sisa. Dan satu lagi buat aku ternseyum,, dia… mada datang membuka jasnya menghampiriku

“udah mau pulang?” suara mada membuat aku langsung sedikit salah tingkah.

“iah, udah selesai, lagi masukin semua ke mobil” jawabku, tapi tangan mada mengambil kue yang tersisa dan langsung di masukin ke mulutnya.

“aku bisa pulang sendiri kok” lanjutku, mada pasti mau bilang itu.

“siapa bilang geer,”

“aku penasaran kenapa kamu menghilang pas mama lagi bantu keringin rambut?” tanya mada buat aku terdiam sejenak.

“gak ada yang jaga pondokannya, emang kamu mau yang jaga?” jawabku, entah kenapa aku sekarang gak berani menatapnya kalau sedekat ini.

“HAraaa ayoo… papa panggil buat sesi foto” ucap orang itu, bernama maxwell, aku ingat karena mata birunya.

“sana” ucapku pelan.

“aku juga mau bilang, kalau kamu pulang di antar” katanya

“kan aku udah bilang bisa pulang sendiri” jawabku.

“gak, kamu di antar kok, nanti kamu tunggu di loby, mobilnya bakal antar kamu pulang, jadi jangan nolak” ucapnya, aku cuman senyum dan berjalan keluar.

“please” ucapnya lagi pegang tanganku dan kembali menyomot kue lagi mulutnya.

“tapi bukan kamu kan?” angguknya.

“kamu tunggu aja oke,” mada langsung lepas tanganku dan bersiap berjalan masuk kembali kedalam.

“tapi kamu bakalan pulang ke kontrakan?” pertanyaan konyol yang keluar dari mulutku tiba-tiba.

“pasti dong, senin udah kerja lagi panggul” jawabannya benar-benar membuat aku terkejut, tetapi membuat aku sedikit lega karena mada tak langsung menghilang setelah acara ini.

“aku kesana dulu, hati-hati di jalan” mada langsung pergi menyusul ke keluarganya, tempat yang seharus ia berada.

Dan sekarang aku menuju loby menunggu mobil yang mada bilang, lagi pula aku pulang pun mobil box nya gak muat, dua orang karyawan nci sama sastu supir sudah penuh.

Beberapa menit menunggu ada sebuat mobil jenis sedan, sepertinya mobil itu tak asing. Kaca mobilnya pun di turunkan.

“papa?” ucapku terkejut lagi karena papa yang ada di dalam mobil.

“yuk pulang” ajaknya langsung turun dan membuka pintu depan, aku langsung masuk, dan terdiam sejenak.

“kamu udah kenal sama hara lama?” tanya papa buat membuyarkan lamunan karena acara tadi.

“sejak, pindah kesini aja “

“bearti papa selama ini kerja di keluarganya mada ya?, maksudnya hara” aku bingung harus panggil mada hara atau mada Karena aku tau sekarang papa selama ini bekerja di temannya yaitu keluarganya harsa dan mada.

“iah, hanya dia yang mau memperkerjakan papa setelah seperti ini”

“aku juga pernah bekerja di perusahaan harsa pa, tapi di khianati lagi sama anak buahnya”

“dan ternyata mereka satu keluarga pak taslim” papa cuman elus rambutku.

“ares juga,” ucapku pelan kembali teringat hal kemarin.

“itu udah berlalu, papa udah tau kok, tentang harsa, karena mamanya pernah bertemu kamu beberapa kali”

“tapi kenapa dia cuman diam gak bilang?”

“ itu biar jadi rahasia, tapi akhirnya kamu tahu semuanya,”

“nah sekarang kita pulang” angguk aku, merasakan sangat Lelah hari ini.

“tapi papa sama mama gak datang ke pernikahaannya?”

“gak perlu, mereka pinta gak usah datang, karena demi kebaikan keluarga, karena disana keluarga pak taslim juga hadir,” pantes aja ares datang, bearti satu keluarga datang dan melihatku ssaat bersama mada.

“kamu suka sama hara?” tanya papa tiba-tiba membuat aku noleh,

“heheee?? gak kok, kenapa pa? cuman temanan” pasti papa lihat aku saat berjalan bersama ke arah keluarga mada, tapi sebenarnya aku mulai menyukainya, tapi rasanya itu gak akan terjadi walau aku tahu latar belakang mada lebih awal.

Kalau aku tahu lebih awal, saat aku sama papa masih perang dingin pasti aku dekatin dia apapun yang terjadi. Tentunya demi uang yang lebih besar di banding harsa.

“oh ia soal papa gak sengaja ketemu kamu pas pulang, itu papa bohong ke kamu” ucapnya membuat aku terkejut, entah kenapa hari ini aku menjadi gampang kaget. Hal yang mengejutkan semua hari ini.

“hara yang kasih kasih tau, ada temannya yang butuh bantuan , dan ternyata temannya itu adalah kamu” dan lagi mada orang buat aku menjadi berbeda dari sebelumnya,

“untungnya papa posisi pulang jadinya bukan sebuah kebetulan” lanjutnya menghela nafas,

“sama aja, papa datang waktu yang pas kok,” aku benar benar bersyukur mengalami kejadian kemarin, berkat mada juga, hal itu membuat dampak yang besar bagi hidupku sampai sekarang

Aku menyandarkan kepalaku di jendela mobil, rasanya sangat Lelah sekali. Aku sangat Lelah, Lelah fisik dan mental juga. terpaan masih datang saat kondisi seperti ini.ujur mada orang yang kuatin aku secara gak langsung, dan aku seperti balas budi ke mada membantunya datang ke pernikahan kakaknya.

Walau dia berbohong soal hari pernikahan kakaknya,

***​

Nci izinin libur sampai kondisi aku fit, dan hari ini hari kedua setelah malam pernikahaan itu. Rasanya masih sangat Lelah. lesu, dan lungai, menjadi satu.

“sann, udah mendingan?”

“iah ma, gak terlalu pusing sama lemas”

“ini roti masih hangat”

“dari siapa?”

“nci yang kasih, barusan yang antarnya pulang” reflek aku langsung setengah berlari melihat keluar rumah, tapi yang antar bukan mada melainkan orang pasar.

“kamu cari mada?” tanya mama.

“heee?” mama ketawa kecil sambil usap rambut aku. Tapi aku cuman ketawa kecil karena ucapan mama benar, aku mencari mada. Atau hara tepatnya.

Karena dia tak ada kabarnya setelah malam itu, apa mungkin dia sedang sibuk dengan keluarganya. yang bearti dia akan lama kesini atau tak akan kesini lagi. Tapi aku percaya dia akan kesini lagi. aku percaya ucapannya.

Roti yang benar-benar hangat, dan masih empuk, satu gigitan roti buatannya mengingatkan aku awal pertemuan dengan nci. Itu buat aku ketawa sendiri sambil makan.

“albert gimana ma kabarnya?” tanyaku

“masih UAS kan? Dua minggu lagi selesai”

Dan sekarang…

Totalnya udah satu minggu tak ada kabar dari mada, dari tadi siang sampai sekarang sudah malam pun.Tapi ada yang berbeda, nomor teleponya ada tambahan yaitu ada nya aplikasi chatting dari nomor teleponnya. Pasti mada sudah ganti ponsel.

Aku terbangun karena ketiduran memegang ponsel seolah berharap mada chatting, kalau aku duluan yang chat rasanya ragu melakukannya. walau hanya say hello.

“suara papa mama terdengar jelas dari kamar,” karena terdengar papa serius.

“mereka gak akan lunasin hutang kita, ada satu-satu jalan untuk itu” aku membuka pintu sedikit dan mengupingnya.

“santi kita jodohin,” aku langsung tutup mulut mendengar, karena benar-benar tak percaya papa berpikiran seperti itu.

“tapi mana mau?” bisik mama.

“ini salah satu jalan, agar santi bebas dari beban hutang papanya”

“albert?”

“albert papa kirim ke luar negeri, biar setelah lulus kuliah dia ke amerika, masih ada orang yang papa bisa percaya”

“dan ini surat perceraian kita” aku benar-benar terkejut mendegarnya,

“selesai resmi kita cerai, kamu sama albert terbang ke amerika ”

“Gak gak bisa gitu, itu bukan caranya” ucap mama dengan isak tangisnya, membuat aku juga mau meneteskan air mata.

“biar papa yang tanggung sampai ajal menjemput, karena mereka gak akan pernah lunasin” aku tak bisa menahannya juga, dikit demi sedikit air mata aku keluar perlahan.

“gak akan, gak akan pernah. Mama gak akan pernah tinggalin apapun kondisi keluarga kita, karena dulu kamu lupa, kita sudah janji satu sama satu lain, “

“kalau itu yang terjadi, kita lakuin berdua, itu bukan pilihan terbaik baut santi sama albert” ucap mama di selingi isak tangisnya,

“braakk” aku tak sengaja menutup dengan keras pintu kamarku, dan naik ke atas untuk menangkan pikiranku.

Rasanya cobaan terus bertubi-tubi aku alami, tapi ini rasanya lebih berat dari sebelumnya. Aku peluk bantal sekuat-kuatnya sambil menahan untuk tidak menangis. Dan sesekali panggil nama mada agar aku gak boleh nangis. gak boleh cengeng.

***​

Hari ini aku benar-benar lesu dan tak bersemangat karena terus kepikiran soal pembicaraan mama papa tadi malam, sebelum pulang aku duduk di taman dulu sambil makan cemilan yang tadi aku beli, namanya kuaci, asin sudah di makan pula.

“wah disini ternyata orangnyya” seperti suara mada, aku langsung menoleh ke arah suaranya. Ternyata dia ada di belakangku.

“kamu udah pulang dari kapan?” aku berdiri tepat di hadapannya. Mada seperti pulang dari pasar, pakaiannya kotor seperti biasa,

“dari tadi pagi, aku sms sama telp kamu tapi gak ada jawaban”

“masa?” aku langsung cek ponsel aku yang ternyata aku gak bawa tadi ke toko nci.

“hehe ketinggalan”

“aku antar pulang udah malam juga” ajaknya yang langsung ke motor yang sering ia pakai. Aku mengangguk. mada sepertiya gak berubah setelah malam itu.

“tapi aku ke kontrakan, buat kasih Kembali tuxedo yang kamu kasih, sesuatu perjanjian kan?” ucapnya sambil jalan.

“iahh” jawabku pelan, langsung pegang erat pinggangnya. Padahal gak ada jalan rusak. Saat sampai aku duduk di dalam kontrakannya, karena di depan ada banyak nyamuk.

“ada masalah kah?” mada duduk di sampingku sambil kasih bungkusan pakaiannya yang kemarin aku pinjam.

“iah, aku bakalan di jodohin,” ucapku pelan, mada sendiri seperti terkejut, apa mungkin mada punya perasaan yang sama, rasanya mau nangis saat bercerita.

“terus kamu terima?”

“mungkin, karena demi menyelamatkan keluarganya, papa yang bakal tanggung bebannya sendirian” sepertinya mada belum tau sepenuhnya soal papa bekerja di keluarganya. Kalau harsa pasti sudah tahu.

“haaaaaaaa” lenguh nafas mada panjang,

“kapan itu?”

“entah, aku dapat kabarnya itu aja, “ senyumku dengan raut wajah pasrah,

“tapi sebelum itu aku mau bilang sesuatu ke kamu mada”

“terima kasih buat semuanya ya, andai pertama aku gak ketemu kamu, mungkin aku gak seperti sekarang,” rasanya air mataku mau menetes keluar lagi. Tapi aku kasih senyuman ke mada.

“orang yang benar-benar tulus menerima keadaanku seperti ini, “ ucapku lagi.

“tungu tungu, kenapa bilang gitu? Kayak mau pergi jauh aja” potong mada

“bukan itu, aku bilang seperti ini karena aku menyukai kamu mada,”

“aku gak mau menyesalinya karena menyimpan perasaan ini ke kamu,” aku langsung rangkul lehernya sambil mencium bibirnya, di saat itu juga air mataku keluar. Mada memelukku erat, rasanya aneh, ciuman tapi aku malah meneteskan air mata.

“kamu yakin keputusan kamu soal perjodohan?” tanyanya sambil menyeka pipiku.

“iah, demi semuanya, aku lakuin demi orang yang aku sayangi, termasuk kamu mada” senyumku sambil menahan tangis lagi, Mada tersenyum, sambil kedua tanganya pegang kepalaku,

“kamu gak ada persaan sama aku?” tanyaku karena tatapanya begitu tajam. Mada gak menjawab tapi dia langsung mencium bibirku pelan, sampai bibir aku sama mada saling berpangut bergantian.

“kalau kamu memilih itu, aku gak bisa berkata apa-apa, “ tatap mada dengan senyuman, Aku langsung menutup pintu kontraknya, membuka kaosku sampai tersisa celana dalamku.

“jangan lakuin hal bodoh nia” ucapnya dengan nada serius.

“lebih baik kamu pulang, sekarang” mada langsung memakaikan Kembali baju yang aku lepas.

“kenapa?”

“aku gak mau orang lain yang dapetin itu, aku mau kasih ke kamu sekarang.” aku berpikir ini satu-satunya hal yang bisa kasih ke mada,

“makanya aku bilang jangan lakukan hal bodoh”

“aku gak bakalan nerima kalau dengan cara begini”

“tapi kenapa? Kalau kamu punya perasaan yang sama, tetapi kamu gak mau sama aku?”

“apa kamu gak mau karena aku seperti ini,?” mada gak menjawab apa-apa, dia langsung memelukku, dan Kembali menciumku bibirku, dia tak menyentuh buah dadaku atau bagaian lainnya. ciumanya yang dengan persaaan. bukan dengan nafsu.

“aku gak bisa jawab apa-apa, aku cuman mau bilang”

“jangan lakukan hal bodoh lagi” bisiknya di ikuti senyumnya,

“dan sekarang sudah malam, “ mada membantu merapihkan pakianku, aku jadi semakin menyukainya. Dia tak nafsu dengan tubuhku, atau mungkin dia menahannya.

“maaf ya mad, “

“andai kamu menolak perjodohan itu, papa mama kamu pasti ngertiin kok, setidaknya dengan menyutujuinya itu cara kita menghargai papa mama kamu/” jelas mada.

“pasti aku tolak” ucapku senyum.

“tapi setelah itu???”

“udah jangan berpikiran jauh-jauh dulu, sekarang kamu pulang bilang ke papa mama kamu” mada elus pipiku.

“iahhh, aku pulang”

“muacchh” aku pulang, sebelum itu aku mencium bibirnya lagi, dan melangkah cepet kerumah, aku mengikuti saran mada menyutujui soal perjodohan itu. setidaknya mau karena menghargainya.

“kok tumben udah malam san?” tanya mama yang lagi siapin makan malam.

“iah, ada pesanan tadi sama ambil ini” ucapku tunjukin kantong plastic berisi tuxedo dan juga sepatu

“pa ma” ucapku saat mereka berdua ada di meja makan.

“santi gak sengaja dengar ucapan kalian tadi malam, dan soal perjodohan demi menyelamatkan aku sama albert, aku mau meerimanya”

“tapi andai itu terjadi atau tidak, santi mohon ke kalian berdua jangan bercerai” ucapku mencoba tersenyum lebar.

“kami gak akan bercerai kok,apapun yang terjadi” ucap mama berdiri peluk aku, dan papa juga.

“kamu juga boleh tolak perjodohan ini kalau kamu tidak suka, papa lakukan demi masa depan kamu yang masih jauh, ” ucapan mereka membuat aku tenang, dan lagi ucapan mada benar mereka tak memaksakan kehendaknya.

“jadi kamu gak usah berpikir belebihan ya” ucap mama elus rambutku.

“jadi kapan acaranya di mulai?”

“kamu yakin mau datang?”

“seengaknya menerimanya untuk menghargai mama papa, dan orang tua dia” kataku senyum.

“haaa, tapi tetap keputusan di tangan kamu, papa yakin mereka paham kok” kata papa, aku mengangguk,

Setelah pikiranku sudah lebih tenang, aku langsung masuk kamar. Dan ucapan mada Kembali benar aku gak perlu memlakukan hal bodoh seperti tadi, rasanya malu sendiri, membayangakan mada melakukannya tadi, tapi menolaknya terlihat sangat gentle,

***​

Mama papa bilang mereka acaranya minggu depan dari sekarang, tepat di hari minggu. Aku gak bilang ke mada soal harinya,

“sudah siap berangkat san?” tanya mama masuk ke kamar aku.

“iah ma, udah kok” mama bilang aku harus tampil secantik mungkin, dengan begitu bisa menghargai pertemuan ini, dan hari ini juga aku memakai make up lagi, setelah beberapa lama tak pakai.

Aku, papa sama mama pergi pakai mobil yang biasa papa bawa, papa sengaja pinjam karena rumahnya cukup jauh dari sini. dan Entah kenapa rasanya lebih nyaman panggil mada daripada hara. Makanya aku terus panggil hara itu mada.

“kamu gak penasaran siapa orangnya?” tanya papa saat aku melihat jalan tol,

“ehmm siapa emang?”

“kamu ingat pas masih Sd kelas satu , papa sama mama sering ke rumahnya karena rumah kita saling sebelahan”

“lupa hhehee”

“yang suka jailin kamu?” aku langsung diam sejenak, karena aku ingat sedikit, itu termasuk pengalaman tak menggenakan saat aku kecil.

“yang kamu minta pindah sekolah karena di jailin sama dia “ aku semakin ingat, memang karena dia aku minta pindah sekolah ke papa, karena setiap main kesana aku pasti nangis karena dia.

“iah sedikit pa, itu udah lama banget,”

“nanti juga kamu liat kok orangnya, “

“tapi tetap keputusan nanti di tangan kamu” lanjutnya kasih senyum pelan.

Dua jam perjalan akhirnya sampai ke salah satu rumah yang di bilang besar karena seperti dua rumah besar di jadiin satu, lebih besar di banding rumah aku sebelumnya.

“ itu bekas rumah kita dulu, dan satunya rumah dia,” tunjuk papa saat turun.

“iaa pa??” terus aku mengingat semakin tak bisa ingat, hanya teringat kejadian yang tidak mengenakan saja.

“ia mereka beli rumah lama kita, di jadiin satu, makanya sepeti dua rumah, dan juga satu komplek dari ujung sana, sampai ujung sini, di beli, buat halaman. Sama parkiran” lanjut papa. Ternyata orang yang akan di kenalin termasuk kelas atas, dia lebih dari mada sepertinya, harusnya mereka cari yang setara bukan aku.

Aku langsung mengkhayal, aku berharap ini rumah mada, dengan begitu aku mau tanpa perlu harus kenal lebih dekat. pasti aku langsung mau.

Tapi gak mungkin, mada pun gak bilang apa-apa, di tambah papa cuman kasih tau soal itu, orangnya pun entah yang mana, Aku hanya ingat di buat nangis aja setiap hari.

“pak, bu masuk dulu, nyonya sama tuan masih di atas, suruh tunggu sekalian sarapan” lanjut seseorang seperti Asisten rumah tangga, Jujur aku berdebar karena seperti apa orangnya, di ruangannpun tak ada foto petunjuk apapun. Sepertinya kejutan aku dengan hara sudah pupus. atau aku berharap terlalu jauh soal itu.

Dan setelah pulang dari sini, aku mau cerita ke mada soal hari ini. Kebetulan juga dia lagi libur hari ini. Tadi pagi juga aku sudah chat mada berangkat hari ini, tapi dia tak balas, gak mungkin dia kebahsian bateri atau gak ada quota internet,

Pasti mada bangun siang kalau gak ke pasar, aku mulai tau dikit sedikit kebiasaan baik atau jeleknya, tapi masih banyak hal yang mau aku tau tentangnya. Dan sekarang menunggu orang itu keluar. apa kurus, gendut, atau bagaiman. firasatku orangnya berisi..

Bersambung