Cerita Sex Boss Part 45

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 44

Harsa-

Acara di mulai sekitar enam hari lagi, belum ada tanda-tanda mada akan datang atau tidak, aku gak bisa tebak ekpresi hara kalau aku sama bella menjalin hubungan,

Di tambah kebablasan saatt malam itu, bella juga seperti tak mau membahas hal itu. Karena sudah terjadi dan sama-sama menikmatinya.

“kok jalannya gitu?” bisikku saat aku sama dia mau masuk ke mobil,

“agak perih, dikit jadinya agak ngangkang biar gak terlalu perih” bisiknya malu-malu.

“perih banget?”

“ngak sih, uhm, tapi kata temen aku ya awal memang gitu, beberapa hari” lanjtunya saat di dalam mobil.

“wah kalau gitu harus di masukiin lagi biar terbiasa”

“awssh asawsh asash sakitt bell iah iah, ngak, kalau tunggu gak perih” kataku saat perutku di cubit cukup keras bella,

“aku di suruh kak yua nginap di rumah sampai hari H” tunjuk chat dari kak yua,

“terus?”

“ya mau aja, asal gak di sodok dulu, kalau gak ada pengaman” tawanya sambil menjulurkan lidahnya.

“katanya gak mau dulu” aku lirik ke arahnya, tetapi tatapan bela lebih seram. Memang wanita sudah di tebak mood nya seperti apa.

“oh ia soal client kamu gimana?” gak lama bella menghela nafas,

“bikin rumor di klinik aku sekarang, dan hampir setengah client aku ke klinik lain. Dan katanya ada klinik baru punya si wanita jalang itu!” gerutunya penuh emosi.

“udah ketauam, dia ke klinik kamu sengaja buat mau liat situasi klinik, “

“Bahasa kasarnya, dia mau perang harus liat musuh seperti dulu” aku gak salah baca strategi bisnis seperti ini, gak si rudy gak si sherly sama-sama licik.

“kamu pinter, mereka bilang alat-alatnya cangih dari korea langsung!!”

“bearti klinik mereka unggul di alat modernnya, tapi kalau SDM nya kurang professional sama aja, hasil gak memuaskan,” potongku,

“tapi aku yakin klinik kamu isinya orang-orang professional yang jam terbangnya udah banyak” aku coba membuat mood bella membaik, seperti itu menggangu di pikirannya.

“iah, aku gak boleh down karena banyak client aku pindah klinik” senyumnya di campur rasa cemas, aku langsung elus pipinya pelan sampai bella menunjukan ekpresi tersenyum lebar

Sebelum pulang aku ajak bella dinner dan nonton bioskop, walau sudah mau jam sepuluh, bella mau aja,

“mau nonton apa?” tanya bella,

“ada nih jadwal jam sepuluh malam , filmnya yang ke dua” tunjuk ke film Disney, nama samaran filmnya anggap saja frozen II.

“bawain” pintanya saat pintunya sudah di buka, sebelum itu bella kembali beli kentang goreng untuk dua orang, aku gak yakin semuanya akan habis dan gue lagi bawa dua minuman dan satu popcorn large,

Aku kira bakalan banyak yang nonton, tetapi hanya segelintir orang, aku sama bella duduk di bagian agak tengah karena bagian pinggir sudah penuh semua.

Pikiran kotorku langsung menanggap mereka sedang mesum di bioskop.bella sepertinya sedang sibuk ngemil kentang goreng. Sekilas pikiranku iseng muncul.

Aku langsung pindahin isinya ke kantong plastic, aku sobek sampi berbentuk lubang di tengah-tengah tempat popcorn, diam-diam aku masukin penisku ke dalam sana, dan kembali memasukan isi popcornnyam tetapi tak banyak hanya setengah.

“gak di makan popcornnya? Aku udah makan setengah loh” kataku,

“iah nanti aku makan” sepertinya bela malah menikmati filmnya. Tak lama tangannya pun mengambil popcorn.

“ihh apaan tuh” jerit bella lumayan kenceng, tapi tak sampai menganggu penonton yang di pojokan. Aku cuman tertawa melihat ekpresinya dalam gelap.

“coba aja liat lagi” bella langsung kembali mamasukannya,

“ahahah ihh, pea banget ya, punya cowok kayak gini ahahah” tawanya gengam erat penisku dan di kocok antara popcorn.

“ohh” desisku saat kocokannya semakin kencang, tanganku langsung remas buah dadanya, pelan, bella langsung noleh ke arahku sebentar tak berkomentar.

“mau cobain popcorn rasa baru?” bisikku duduk lebih dekat dengannnya,

“ihh, masu sosis ajah” bella sedikit berdirimenarik roknya, dan di tutup dengan tasnya.

“batasnya sampai film kelar” bisiknua kembali masuk tempat popcorn, mengocok pelan. Tanganku juga langsung masuk ke selangkangannya, elusan pelan di dari luar celana dalamnya.

“enfhhggh” lenguh pelan begerak memepetkan tubuhku ke arahku, sambil kepalanya bersandar di bahu, tentunya kocokan masih berlangsung,

Terasa sudah basah saat jariku masuk ke dalam celana dalamya, jariku terus bermain di klitorisnya.

“awgghh bell” gumamku saat dia menggigit pundaku dan juga meremas penisku..

“aahh, aku keluarr” bisiknya langsung merapatkan pahanya

“masa?” anggguknya pelan, jariku langsung buka bibir vaginanya, dan benar terasa cairan mengalir keluar.

“hehe pulang yuk” ajaknya,

“kenapa? Kan masih setengah jalan filmnya.”

“berisik lagi pada mesum tuh di pojokan” tunjuk bella ke bangku paling pojok satu baris dengan aku sama bella. Samar-samar ceweknya lagi posisi nyamping sambil di enjot perlaham

“gile, yah berani banget” gunmamku merapihkan penisku yang terasa gatal karena popcorn, tapi belum bisa tertidur, itu membuat terasa sempit di celanaku.

“aku ke wc dulu mau cuci” ucapnya menitipkan tasnya, dan menunggu di depan wc.

“buat kamu, buat colai” ledeknya kasih aku celana dalam yang ia pakai.

“enak aja, pakai ini lah” kataku tepak pantatnya sambil menyingkap sedikit rok yang bella pakai, benar bella tak memakai celana dalam.

“langsung pulang ke rumah?”

“iah”

Saat perjalanan bella terlihat manja, tanganku terus ia rangkul selama perjalanan, dan aku berhenti ke mini market.

“mau beli apa?’ tanyanya saat aku pakai masker,

“hauss” jawabku, langsung membeli satu box condom,

Saat mau masuk mobil bella terlihat sedang mengancingi kemejanya, dan melempar bra ke arahku.

“pasti beli condom yah” tuduhnya benar, aku cuman menyeringai.

“tuh tau, ini” langsung aku selipin ke kemejanya, dan masuk ke dalam.

“ambil ah, males ambil” bella memposisikan jok mobilnya menjadi terlentang. Aku langsung merabah ke dalam kemejanya dan tak terasa kaos sama bra yang bella pakai.

“eh ketemunya disini” ledekku mengelus vaginanya beberapa menit, padah sudah ketemu box condomnya.

“ahh, udah pulang, gue mau tiduran, takut bergadang nanti” bella benar-benar tertidur saat mobil baru keluar dari halaman parkir minimarket.

***​

Jam udah menunjukan jam dua belas malam lewat satu menit, yang penghuni rumah udah pada tidur.

“ughmm” gumam bella menggeliat saat aku bangunkan,

“hei udah sampai” elus pipinya sambil sedikit kecup, dan akhrinya matanya terbuka dikit demi sedikit.

“bisa jalan?”

“ngantuk lemess” ucapnya sempoyongan hampir jatuh,

“ ya udah sini” mau gak mau aku gendong lagi seperti kemarin. Terasa berat, sampai akhinya aku rebahin di kasurku tercinta.

“gue mau mandi dulu, pada lengket gatel” kataku cium bibirnya pelan.

“heengh” jawabnya sambil racau.

Malam ini gak jadi ngeronda, wajahnya bella sangat Lelah, Lelah fisik dan pikirannya karena masalah klini kecantikannya juga.

Selesai mandi bella tak berubah posisi, aku langsun kembali ke mobil buat ambil koper isi pakiannya.

Isinya benar-benar berat, padahal cuman pakaian aja, sesampainya bella gak ada di kasur,

“bella?”

“iah lagi mandi”

“ohh, ini pakaian kamu”

“iah, aku juga dah selesai mandi, makasih” jawabnya buka pintu kamar mandi, telanjang bukat dengan rambut yang di bungkus dengan handuk kecil.

“kenapa? Ronda?” tanyanya

“ngak ah, kasian kamu Lelah pasti” kataku elus pipisnya,

“uhm, ya udah, emang capek banget rasanya,” bella langsung masuk ke dalam selimut tanpa memakai pakiannya, aku juga buka kolorku dan ikut tidur telanjang bareng bella,

“jangan di masukin yah, gak seru, besok ajah” ucapnya memeluk sampai tubuh aku sama bella benar-benar menempel,

Hangat rasanya, diam-diam aku mengelus rambutnya,dan juga melihat wajahya yang mulai tertidur.

Kata orang, kalau mau lihat wajah asli seseorang, lihatlah saat mereka tertidur pulas, dan di depanku adalah wajah orang yang aku pilih.

“love you” bisiku cium bibirnya dan langsung tidur. Entah rasanya sekarang nyaman gak agak risih seperti kemarin.

***​

Mada

Sudah dua terakhir ini aku gak ke pasar, bukan karena capek atau semacamnya, tapi dua hari lagi acaranya di mulai. Gue sengaja gak kepasar buat siapin mental kesana.

Gue lagi di tempat babeh resin, lagi asik bakar sampah.

Bukan sembarangan sampah, tapi sampah yang nia minta minta, yaitu bingkai yang berisi foto mantannya.

Nia gak jadi minta di buang aja, karena itu terlalu manis buat di buang, lebih di bakar biar tak terkenang sama sekali.

Awalnya gue kira dia masih belum tega putus sama cowoknya, tapi malah lebih sadis daripada gue duga.

“haaa.. aku cariin ke pasar ternyata kamu disini” gumam suara nia pas gue lagi asik bakar bingkai,

“hei, kok gak kabarin?”

“kabarin?”

“ponsel kamu aja gak aktif” aku langsung cek ponselku, dan benar ponselku mati lagi, perasaan tadi malam udah di cas.

“sudah ku duga, kebiasaan” gerutunya semakin dekat. Babeh gak komentar di lagi asik makan ubi cilembu.

“kamu potong rambut juga?” tanya gue baru sadar nia potong rambut pendek, tepatnya di atas bahu,

“iah, anggap aja buang sial, hehe, “

“maksudnya, biar rapih aja. Gitu..”lanjutnya.

“jelek ya?” ucapnya pelan berdiri di sampingku.

“ngak kok, cocok, lebih dewasa kelihatannya” tapi gue gak bohong nia potong rambut pendek seperti itu, lebih mempesona atau tepatnya lebih membuat orang berpikir macam-macam.

“foto kemarin aku titip udah kamu bakar?” tanyanya soal bingkai foto cowoknya,

“ini, lagi di bakar tuh” kata gue sambil lempar beberapa bingkai kecil lagi ke tumpukan kayu.

“oh baru di bakar, aku kira udah dari kemarin”

“oh ia aku kesini buat kasih ini, buat acara kamu nanti” nia langsung kasih bungkusan yang ia sembunyian di belakangnya . Gue langsung buka yang isinya satu set tuxedo,

“aku pinjamin kamu sampai hari H, jangan kwahtir, adikku masih lama pakai itu” lanjutnya duduk di samping gue.

“apa?” nia kasih kode menghentakan kepalanya beberapa kali agar aku memamkai

“kamu coba dong, siapa tau beneran pas, “

“sekarang?”

“iah,”

“disini?”

“iah,,, ya ka beh?” ucap nia dengan nada memaksa, walau gue nolak juga bakalan paksa gue pakai. Di tambah babeh cuman kasih jempol doang,

Mau gak mau Gue langsung pakai setelan tuxedonya, gue pakai ngumpet ke dalam kios kosong,dan anehnya ukuran benar-benar pas dengan tubuh gue, serasa ini pakaian memang buat gue.

“gimana?” tanyanya pas gue mau keluar.

“pas kayak sesuai ukuran,” gue berjalan dengan pelan,

“woo, keren cool bangett” pujinya buat gue agak risih,

“bener kan beh?” dan lagi babeh cuman kasih jempol, tapi kini dua jempol, sambil ketawa, dari sini keliatan giginya nyelip kulit ubi,

“coba tegak dikit” pintanya,

“bahu kamu miring ke kanan, lurusin dikit.” pintanya.

“gak bisa, memang miring kok,” nia langsung terdiam, menoleh ke wajah gue.

“ini efek karena kebiasaan bawa barang berat di bahu kanan, jadinya begini, keciri ya?” angguknya pelan tanpa berkomentaar.

“oh ia ini pakai dasinya” nia langsung memasang kan dasinya dengan sedikit mengangkat kakinya, gue bungkuk sedikit biar dia gampang pakaian.

Di tambah jaraknya hanya beberap cm, rasanya mau gue cium itu bibir,karena benar-benar dekat.

“selesai” tepuknya. Nia langsung kasih dua jempol,

“tinggal kondangan dah, cocok dahh” komentar babeh yang sudah selesai makan ubinya.

“masa beh?” jawab nia, tertawa.

“ah babeh mah, makan ubi lagi gih biar diem dikit” kata gue,

“ogah, ubinya nyelap di gigi”

“hahaha lucu” celetuk nia tertawa melihat gue sama babeh saling sindir, saat nia tertawa gue ngerasa kayak pelawak, gue sama babeh saling tatap dan ketawa bentar.

“kamu udah siap?” saat selesai memakaikan dasi,

“siap dong” walau hati gue berkata belum siap. Benar-benar belum siap.

“boong, hehe, pasti belum siap”

“tapi gak apa-apa masih lama ini, aku yakin siap dan datang sesuai janji kamu ke aku” lanjutnya senyum.

“janji” ucapnya kasih jari kelingking seperti anak kecil.”

“ayoo janji, kalau gak janji aku gak pinjamin ini tuxedo” ucapnya.

“iah janji” aku mengikuti kemauan nia.

“yaya yay a” suara babeh mau ledekin gue lagi,

“nanti kamu pulangin kalau acara udah selesai, itu punya adikku, jadi jangan buat robek atau kotor” ancamnya terdengar lucu, gak ada galak-galaknya. Nia pun diam sejenak memandang wajah gue,

“kenapa?’

“dari sekilas mirip orang aku kenal,”

“oh ya?” angguknya.

“orang ganteng kebanyakan mah gitu, sekilas mirip “ jawab gue.

“orang ganteng, gak ada yang pakai tuxedo pakai sendal jepit”

“besok aku pinjamin sepatunya juga, semoga pas”

“aku pulang ya mad, beh” bella langsung bersiap pulang dan pergi sambil lempar senyum ke aku.

“anter sooonooooo,” gumam babeh, pas gue mau makan ubi dengan setelan tuxedo.

“ahh payah nih, lo suka kan sama dia?” tanya babeh pelan, pas nia berjalan cukup jauh.

“hmmm”

“iahhh dehhhh suka,” gue tanpa ganti setelan tuxedonya, langsung susul dia yang sudah keluar pasar, jalannya cepat dari pada gue duga.

“tin tin tin tin”

“ih ngapain?’ tanyanya agak terkejut”

“yuk pulang, aku juga mau pulang” angguknya menahan tawa, melihat gue .malam-malam pakai tuxedo, padahal dia yang paksa gue pakai.

“jangan tawa, okeh,”

“oh nia, tadi aku mirip siapa?”

“uhmm,, sekilas doang, kalau dari deket beda ah,” ucapnya.

“mantan kamu?”

“iahh,, haha, “

“jleb,” dada gue sedikit sesak di bandingin cowoknya, apa lagi cuman sekilas doang. Tapi gue emang sadar diri sih, udah hitam, wajah gak ke urus, dan lain-lain.

***​

Beberapa hari pun berlalu, tak terasa sudah sampai hari yang di tunggu, gue juga sengaja gak ke pasar buat siapin mental, hasilnya gue ragu datang, walau pemberian nia sudah gue teriama dan di simpan jok motor sama gue gantung di depan jok.

Ponsel gue gak biasanya berdering dari nomor yang gak simpan, karena memang ponsel yang mati ternyata rusak, jadi mau gak mau gue pakai ponsel yang di kasih om roni.

“bukan nomor iwan” gumamku, karena gue belum bisa kasih jawaban kalau di tanya.

“halo”

“madaaaa, lagi sibuk?” ternyata suara nia, dan terdengar panik.

“kenapa?”

“bisa antar ke lokasi gak dua jam lagi ?”

“kenapa emang?”

“nci sakit, jadinya aku sama karyawan lain harus bawa kuenya ke lokasinya, dan aku gak ikut karena mobilnya penuh sama kue”

“antar sampai depan, lokasinya juga gak jauh” lanjutnya tanpa titik sedikit pun. Tapi memang selama empat hari sebelumnya nci sedang sibuk, termasuk nia juga, seperti ada pesananan

“boleh deh, ” kataku menyetujuinya.

“yess, ok nanti tunggu di pasar, aku sama karyawan nci lagi masukin kuenya.” Suaranya terlihat senang pas gue mau antar .

Gak masalah gue juga antar dia, lokasi kak yua juga gak jauh dari sini, apa jangan-jangan dia satu lokasi. Jantung gue langsung berdetak kencang memikirkan itu.

Gue langsung menuju ke pasar, dengan pakaian sehari-hari. Celana pendek sama kaos oblong., dari jauhan nia sedang bantu masukin kue yang sudah di kardus masuk ke dalam mobil.

“udah selesai?” tanyaku pas sampai di depannya.

“iah, yuk”

“yuk berangkat” nia sedikit belari karena dia memakai rok kemeja yang senada dengan yang lainnya, bawahan hitam, sepatu rapih, kemeja panjang bercorak batik.

“ikutin aja mobilnya ya” pintanya nia pegang erat kaos atau tempatnya setengah menggengam pinggang gue.

“bentar, helm” kataku langsung kasih helm gue ke dia, soalnya gue gak ada helm lagi, di tambah hari minggu gak ada polisi juga.

Jantung gue tiba-tiba berdebar kencang saat lokasi yang nia tuju itu restoran kak yua, karena dari jauh udah banyakan karangan bunga yang bejejer rapih dari ujung ke ujung. Ucapan selama untuk pernikahaannya, tapi bedanya masih sepi. Acara di mulai sore jam enam.

“ikutin aja masuk gak apa-apa,” pinta nia, terpaksa gue masuk, ternyata langsung parkir belakang, bukan lokasi dapur yang gue sering turunin barang.

“sampai, thanks” nia langsung turun dan menjatuhkan sesuatu saat membuka helmnya.

“sebentar” aku langsung pasangin topi seperti koki dengan tulisan NCI BAKERY,

“byee, “ nia langsung pergi masuk ke belakang, gue senyum sendiri karena sejak kapan nci punya nama toko. Tapi boleh juga itu nama. NCI BAKERY,

Gue langsung parkir motor paling ujung tempatnya dekat tong sampah besar, sengaja gue taruh situ biar gak menganggu para tamu yang datang nanti. Udah terlanjur basah gue masuk sini.

Dan tak lama kembali ponsel gue berdering dari nomor yang gue kenal yaitu kenal iwan, gue langsung bersiam bersilat lidah untuk menjawab pertanyaannya.

“akhirnya datang juga looo” suara iwan, langsung gue tengok kiri kanan,

“haa? Ngak, gue lagi di kontrakan”

“gue disini liat atas dekat jendela, gak bisa bohong lo harrr” lanjutnya jari tengah dari atas,

“gue turun kesana, jangan kabur” telepon langsung di matiin, dan iwan muncul dengan penampilan yang belum terlalu rapih.

“pakaian lo mana??”

“ada,”

“dari om roni kan?”

“bukan dari temen gue, lagian pas kok pakaiannya, jangan kwahtir”

“he?? Om roni udah titipin buat lo kan? Kenapa gak lo ambil?”

“lupa hehe, lagian udah ada kok tenang, pakaian pas kok” jawab gue.

“haaa,, kaget sumpah,”

“nanti gue bakal susun acara jadi jangan lo kacauin oke, nurut sama gue, lo gak perlu kwahtirin apapun soal orang-orang.” Ucap iwan.

“apa acaranya?”

“pas acara di mulai gue pasti panggil nama papa mama dari mempelai wanita dan pria, terus saudara kandung.”

“nama lo dah gue hapus karena permintaan papa sama mama lo sendiri, kecuali lo dateng gue boleh kasih panggil nama lo nanti”

“terus?”

“ya pokoknya nama lo di panggil, masuk lewat samping, ya, dekat pondokan kue, “ iwan langsung kasih lokasinya, iwan kasih tau ternyata gue keluar dari samping, tepatnya pondokan,

“iah, paham “

“okeh, standby ponsel lo, nanti gue panggil” angguk gue setuju,

Dari lantai dua, gue perhatiin dua karyawan nci sama nia lagi keluarin semua kue dan langsung susun di pondokan dekat pintu gue keluar nanti.

“nia niah, gue gugup asal lo tau” gumamku melihat nia dengan begitu semangat menata setiap jenis kue.

“lo tunggu disini aja oke, mereka gak bakalan tau kalau lo udah disini”

“motor lo juga dah gue buang, jadi tenang”

“heee? Motor antic itu,”

“canda harr, gue sembunyiin tenang, “ iwan keluuar dengan pakaian rapih karena acara tak terasa tinggal hitungan jam,

“inget nama lo di panggil turun ke bawah dan keluar dari pintu tadi, kita buat surprise, gue yakin berhasil” ucap iwan dengan tampang serius.

 

***​

Beberapa pun jam berlalu, akhirnya acara di mulai, gue benar-benar gugup karena sekalinya datang di banyak orang. gue hanya bisa mondar mandir selama itu.

Suara iwan memanggil nama papa mama, hara, dan nama yang gak asing, yaitu bella, apa mungkin nama yang sama aja. Atau bella mantan gue, tau gitu gue masih di lantai dua lihatin mereka. termasuk kak yua dan calon suaminya, gue belum pernah lihat sama sekali.

Hampir 30 menit setelah mempelai masuk,belum ada panggilan nama gue, membuat gue penasaran dan meningitp kedalam. Gue tau kalau tamu undangan yang jamuan meja, itu tamu penting, sedangkan yang lainnya berdiri orang-orang yang papa kenal,

Gak lama suara iwan terdengar, dan semua orang terdiam. “mohon maaf ada satu lagi yang saya tak sebut tadi,“ suaranya tertahan karena ada keributan kecil gak jauh dari tempat gue yang akan keluar.

Terlihat seseorang di siram dengan air, tak begitu jelas sampai iwan panggil nama gue “satu orang lagi yang terlewat, kita panggil, Hara singgih phoeyjaya”. Ucap iwan buat jantung gue gemetar.

Jujur kaki gue gemetar saat melangkah, walau akhirnya gue berjalan perlahan. Gak berani tatap orang di kiri kanan gue.

Karena suasanya menjadi hening sesaat dan hanya satu lagu pengantar iringin Langkah gue, tapi gue bisa rasain mereka semua saling berbisik satu sama lain,

Tiba-tiba mat ague tertuju ke seseorang yang dekat pintu keluar sambil menyeka wajahnya, yaitu nia,

Gue langsung menghentikan Langkah maju, dan menarik tangannya baut temanin gue ke tempat papa mama.

“madaa?” aku cuman tersenyum

“temenin aku, gugup banget sumpah” bisikku saat nia terkejut gue ada disini,

“ta ta tapi..” aku langsung gengam tangannya erat melangkah lebih percaya diri saat nia disamping gue, walau gue tau puluhan mata tertuju ke gue sama nia, tetapi gak masalah.

Jalan perlahan memegang tangan nia, serasa menyebarang sungai di jembatan besi, tak terlalu gugup di awal, yang ada aku pegang semakin erat tangannya,

“haraa” suara beberapa oarng yang gue kenal,

Semua keluarga yang duduk tiba-tiba semua berdiri saat benar-benar gue datang ke acara pernikahan kak yua.

Dan orang yang pertama berjalan menghampiri gue adalah papa, dia jalan dengan penuh energi. Entah dia mau marah atau apa, sebagai sambutan gue datang,

Papa bukan marah atau sebagainya, ternyata dia langsung dekap tubuh gue sangat erat, sesekali dia juga tepuk Pundak gue pelan beberapa kali.

Terdengar lenguh nafasnya penuh emosi, dekapannya begitu erat, sangat erattt..

Pelukanya yang berlangsung cukup lama membuat mata gue sedikit mata memerah, karena di tambah lagu-lagu yang membuat haru. Kampret emang si iwan.

Selesai papa, lanjut mama, tapi gak selama papa, mama peluk sambil cium pipi gue kiri dan kanan. Walau matanya sedikit memerah.

“akhirnya kamu pulang hara ” ucap mama berbeda dengan papa, tak keluar sepatah kata pun.

“heii akhirnya lo datang” ucap Kak yua dan calon suaminya turun langsung peluk gue, dan salaman ke gue,

“lo masih sodar ague sekarang” ucap kakak tertua gue kak Maxwell, sekaligus istrinya. Gue gak bisa berkata apa-apa sekarang, orang benar-benar menyambut gue.

Yang terakhir harsa orang serupa dengan gue, tepatnya saudara kembar. Tapi secara fisik udah berbeda jauh, dia putih gue menghitam. Tak hanya itu ternyata ada bella di samping harsa.

“thanks brother udah datang” ucap harsa peluk gue,

“hi” gue balas sapa bella, jujur dia lebih cantik di banding saat masih kuliah, apa mungkin bella pacaran sama harsa. Tapi itu bukan urusan gue juga sekarang.

Acara langsung di lanjutkan, kak yua dan suaminya naik lagi ke pelaminan, papa langsung berdiri di sampinggue dan kembali pegang Pundak gue.

“malam ini ada dua kado istimewa buat saya” ucapnya di depan para sanak sodara dan para teman papa.

“pertama, putri satu-satu saya menikah”

“kedua, pulangnya anak paling bungsu saya, yang mencari jati dirinya selama ini, dan kepulangnya pada saat ini merupakan kado yang istimewa” ucap papa menepuk pundaku menandakan ia benar-benar papa ingin gue pulang. Gak lama tepuk tangan meriah seolah menyambut gue pulang.

Mata gue langsung focus mencari nia, ternyata mama ajak nia ke bangku kosong yang gak jauh dari mejanya,

Nia lagi lagi membersihkan bajunyam dan menyeka rambutnya yang basah, bearti tadi yang di siram itu nia. Gue sendiri gak tau masalah apa sama dia.

Acara berjalan dengan semestinya, dan sekarang nia menghilang setelah itu. Gue juga gak bisa cari dia karena harus disini sampai acara selesai. duduk bersama dengan papa mama, kak maxwell, harsa, bella,

Dan sekarang nia tau gue sebenarnya siapa, gue bakalan terima kasih untuk itu, tanpa dirinya juga gue gak mungkin datang kesini.

Ternyata anggapan yang kita pikirkan belum tentu semuanya sesuai apa yang kita pikirkan, jalan satu-satunya hanya mencobanya..

Bersambung