Cerita Sex Boss Part 44

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 43

Nia

Gak biasanya aku gak bisa tidur seperti ini, udah jam dua pagi. Hatiku benar-benar gelisah, pikiranku masih tentang mada. Aku masih merasa aneh ke diri aku sendiri, kenapa aku bisa kesal dengan mada, dan berbicara seperti itu di depannya secara langsung setelah mendengar permasalahnya dengan orang itu.

Apa mungkin karena aku pernah punya masalah dengan papa, di tambah mada punya masalah yang sama ke kedua orang tuanya. itu aku merasa sangat kesal.

padahal dia bisa membuat aku berpikir positif dengan keadaanku sampai saat ini. Sedangkan dia sendiri cuman bisa nasihatin aku aja, untuk diri sendiri hasilnya nihil,

“isshhh” rasanya benar-benar gemas, dari tampangnya yang garang, ternyata nyalinya hello kitty.

Tapi gak sepenuhnya mada yang salah, andai aku gak ketemu sama mada, mungkin soal ketakutan mama soal aku jual diri bisa aja terjadi. Melakukan apapun demi mengembalikan kondisi aku seperti dulu, pasti aku akan terjerumus kehasutan ajeng, dan sherly waktu itu. termasuk membiarkan harsa melanggar kontraknya.

“mada mada…” gumamku, aku mulai menyukainya. aku merasa demikian, entah sejak kapan yang jelas aku menyukainya malam ini.

Aku memikirkan ulang saat bertemu mada sampai sekarang membuat aku tersenyum sendiri, hal itu membuat aku seperti mendengar dongeng sampai aku benar-benar tertidur.

Paginya…

“haaa? jam sembilan” aku langsung buru-buru mandi, sampai aku lupa memperban luka bekas jatuhku, yang mulai mengering.

“maaa aku berangkat” kataku sesekali melihat lukaku, kalau ini kena tergesek baju pasti kembali basah, aku langsung memilih jalan kaki daripada naik becak, karena jam segini sudah tak ada tukang becak di pertigaaan jalan.

“pagii nci, maaf telat, hehee” kataku saat nci lagi mearpihka perlatan,

“iah gak apa-apa”

“nia sebentar”

“tangan kau kenapa?” ucap nci pegang tanganku,

“hehe bekas kemarin jatuh, lupa di perban” ucapku. aku langsung bantuin nci merapihkan perlatan karena katanya mau terigu datang.

Setelah rapih, Tak lama mada datang membawa tumpukan karung berisi terigu masuk ke samping tokoknya. Dan saat itu juga aku bertatap dengan mada, membuat aku sama dia saling senyum.

“nia tolong suruh taro di samping ya, jangan di ujung” pintanya,

“iah nci”

“mada… jangan taruh situ, disamping ini aja katanya” kataku pelan.

“siappp bu.. hehe”

“isshh” aku terus memperhatikan mada yang ternyata angkut terigu sendiri dan mada sekali bawa empat karung sekaligus.

“selesai, cek bu” ucapnya membersihkan wajahnya yang penuh dengan tepung, bukan hanya wajah tapi hampir seluruh badannya.

“ini minum dulu, pasti capek” mada langsung ambil, dalam sekejap satu botol air mineral langsung habis.

“terima kasih bu,” lanjtunya cengengesan, tapi dia melihat ke arahku, dan pegang tanganku.

“kenapa kamu gak perban?” tanyanya tentang lukaku di sikut.

“hmm aku kesiangan. makanya lupa” kataku. mada langsung kearah depan toko nci, dan tak lama membawa perban yang entah darimana.

“kamu dapat darimana?”

“nci, dia juga ada, kenapa gak minta?” raut wajahnya sepertinya serius, dia menarik tanganku, mengoleskan cream luka dan langsug di perban.

“makasih”

“celana kamu gulung” pintanya,

“hee?”

“pasti gak di perban” aku terpaksa menggukung celana panjangku dan benar, lukanya terbuka karena menempel, mada kembali mengoleskan cream luka dan langsung perban.

“mada.. bentar, aku lupa” saat dia mau kembali masuk

“kenapa?”

“besok minggu bisa bantuin aku beresin Gudang gak, dirumah?”

“boleh, tapi siang ya, gimana?”

“iah gak apa-apa, langsung ke rumah aja ya” mada kasijh jempol ke arahku dan langsung melangkah pergi ke toko nci, setelah itu dia menghilang lagi entah kemana.

Semua sudah selesai aku melihat enci berbicara dengan seseorang, tampilannya kayak orang kaya, dia mencicipi semua jenis kue kering, termasuk pie susu yang aku buat. aku terus perhatiin sampai dia pergi. aku tak jelas memperhatikan wajahnya, karena tertutup topi. dari sekilas masih terlihat muda.

“itu siapa nci?” tanyaku saat mereka sudah selesai.

“wah gak tanya namanya hehe”

“tapi kita dapet orderan besar niaa!” ucapnya dengan raut wajah senang sambil pegang pundakku.

“oh ya orderan apa?”

“buat kue kering, basah, buat acara pernikahan, dan kita di minta datang kesana buat jajakan kue buat tamu undangan yang datang.”

“acaranya kapan?”

“satu minggu lagi, lokasinya dekat kok, di Gedung pertemuan paling besar di disini kamu tau?”

“ohh ia tau, Gedung sama restoran juga ya, “ angguknya, bearti aku pernah lewatin kalu pulang dari kantor waktu dulu.

“acara apa emang ci?”

“pernikahan, dia udah DP jadinya gak bakal bohong,”

“berapa buah?”

“lima ratus biji per kue? aku terkejut itu sangat banyak.. kalau semuanya di bikin lima ratus biji pasti gak akan cukup waktu segitu.

“kamu ikut?”

“ikut pasti, hehehe” aku baru di terima kerja, apapun itu aku harus bisa.

apa mungkin orang itu punya hubungan dengan mada, tapi mada acaranya satu bulan lagi, bukan satu minggu lagi. sedikit curiga aku ke mada, tetapi sepertinya hanya kebetulan aja. aku percaya mada.

***​

Minggu siangnya, aku izin ke nci untuk bersih-bersih gudang dulu, karena besok mulai perkerjaan sebenarnya yaitu membuat kue kering. suara motor tepat berhenti di depan rumahku, dan itu benar mada, dia datang tepat jam dua belas siang.

aku langsung ganti pakaianku pakai kaos dan celana pendek, soalnya aku cuman pakai tangtop dan hotpants, habis itu baru buka pintu.

“yuk, gudangnya mana?” tannya liat ke arahku, aku kira dia melihat ke arah dadaku, tetapi melihat ke dengkul dan sikutku yang sudah aku perban.

“tenang aman” kataku. mada cuman senyum.

“itu samping rumah, eheh bentar aku cari kuncinya,” Rencananya aku mau buang barang yang terpakai, karena pas kemarin sebelum aku sama papa belum baikan, papa bawa semua barang aku tanpa sisa.

“ketemu,” mada langsung buka rolling dor, aku langsung di belakangnya, takut ada tikus atau kecoa yang tiba-tiba keluar dari sana. Ternyata tidak ada, hanya tumpukan dus yang teratata rapih, walau sudah berdebu dan ada jarring laba-laba.

“semua dus di keluarin?”

“iah, sekaligus mau cari barang-barang aku aja, nanti aku pilah yang mau aku buang.”

“ohh ok, okeh, “ mada langsung mebungkus wajahnya dengan bandana, mengeluarkan karusnya dikit demi sedikit. aku melihat buka kardusya yang di lakban memilah barang yang aku butuh atau tidka.

“alat cukur mau di buang?” ucapnya pas aku merapihkan bekas kuliah aku dulu, memang dulu ada mata pelajaran soal itu, tapi sudah tak terpakai dan rencananya aku mau buang.

“iah,”

“sayang loh, masih belum karatan, ada batrei juga belum di pakai” ucapnya.

“hmm kalau gitu, gimana aku cukurin rambut kamu, sekalian buat prepare nikahan satu bulan lagi”

“hee? masih lama kok, tapi kamu emang bisa?” tanya mada, sambil membawa kardus terakhir.

“tenang, aku masih bisa pakainya kok, masa kamu datang ke tempat nikahan kakak kamu rambut gondrong gitu?”

“ini rambut kramat loh, kalau di cukur aku gak punya tenaga buat angkat” ucapnya sambil menyibakan rambut seperti iklan shampoo.

“serius, mau aku bantu gak??”

“iah deh, sekarang?”

“iah,” aku meminta mada langsung bantu aku membuat baber shop dadakan, dengan barang seadanya termasuk cermin, dan bangku. Sisanya masih lengkap alat untuk baber shop. gunting cukur, sama alat cukur otomatis,

Aku langsung basahin rambutnya, pertama kali aku peang rambut cowok yang panjang seperti ini. dan sedikit bau matahari.

“sering shampoan ya?”

“ia dong, pake sunlight,” aku gak paham itu shampoo apa yang jelas aku cuman tau shampoo sunsilk,

‘tapi bau rambut kamu kayak kena matahari” ucapku sambil basahin rambutnya. mada duduk agak rendah karena tubuhnya benar tinggi. sambil cari potongan yang cocok buatnya.

“siapp?”

“haaaa, iah deh” ucapnya pasrah, mada hanya terpejam saat rambut gondrongnya tepotong-potong,

Aku langsung potongan jenis, short and neat. Soalnya albert juga memakai model rambut seperti ini.Dan hasilnya cocok dengan bentuk wajah mada seperti ini. sesekali mata mengintip ke arah cermin, dan kembali menutupnya.

“udah selesai, buka dong matanya” kataku, bersihin sisa rambut di kepalanya.

“wooooo, itu aku?” ucapnya terkejut.

“ya dong, gimana?”

“ganteng ya, “ gumamnya melihat kepalanya dari kiri ke kanan, mada terlihat cool dengan seperti ini, kalau gak hitam dan berkulit putih seperti boss harsa.

“kamu memang berbakat ya, bisa buat kue sama potong rambut” pujinya membuat aku tersenyum lebar. dan sedikit bangga soal itu, karena skill aku masih ada.

“ia soalnya, cukur rambut sama buat kue sama-sama mengggunakan hati, dan itulah di sebut seni” jawabku percaya diri. Makanya aku mengambil jurusan berhubungan dengan seni.

***​

Akhirnya semua sudah selesai, sudah rapih termasuk rambutnya mada, dan saat itu juga mada membuka kaosnya.

“gateelllll~” gumamnya membuka seluruh bajunya, benar banyak sisa rambut punggungnya, aku bantu bersihin dengan sikat yang khusus buat rambut,

Satu hal yang bikin aku kagum, dengan mada yang sekarang dia lebih gentle dengan otot perut dan tangannya. seperti orang nge gym, Pikiran jeleku langsung berimajinasi lagi mengajaknya untuk ke dalam rumah untuk bersih-bersih.

“niaa?”

“yukkk masuk” racau aku saat mada menepukan tanganya di depan wajahku.

“masuk?”

“ngak, maksudnya aku masuk ambil cukur kumis punya papa aku,”

“kumis sama jenggot kamu di cukur juga”

“jangan, aku gak biasa cukur kumis, kalau panjang aku paling pinggirannya biar gak terlalu panjang”

“eeeh??” bearti selama ini mada gak pernah ke tukang cukur atau semacamnya.

“aku cukurin, tenang aku bisa” aku langsung ambil cukur kumis papa, dan menyuruh mada duduk.

“kamu seriusan bisa?” angguk aku yakin,

“serahin ke aku,” dengan percaya diri aku dikit demi sedikit mencukur kumisnya yang ternyata tebal, mada hanya pejamkan mata,

“awsshh” desis mada saat satu goresan lagi, luka gores di bawah hidungnya, memang bagian itu sedikit susah, tapi sudah selesai kumisnya tercukur habis. termasuk jenggot yang sedikit.

“maaf, berdarah” aku reflek usap dengan tanganku dan tiup lukanya, tak sadar wajahku benar-benar dengan mada.

“kecil kok, gak sebesar luka kamu” ucapnya tertawa, untungnya memang sedikit, hanya satu centi saja.

“selesaii” ucapku saat lukanya tak mengeluarkan darah dari, mada langsung lihat hasilnya di cermin. Dan kasih jempol, aneh aku tersenyum melihat sikapnya, sederhana tapi membuat aku tersenyum. walau sedikit gak enak karena ada luka.

“makasih ya, udah repotin” senyumnya lagi pegang pundaku, senyumnya begitu lebar. Di lain sisi aku lega bisa membantunya dengan kemampuanku dalam merapihkan penampilannya.

Mada merapihkan dan memisahkan barang-barang yang terlalu terpakai, hanya satu kardus yang aku buang yaitu, soal foto ares di beberapa bingkai saat jalan-jalan keluar negeri,

“kamu yakin tas masih bagus mau di buang?” tanyanya saat aku memasukan pemberian ares, termasuk ada sepatu..

“hmm iah,”

“kenapa gak kamu jual lagi aja, setidaknya lebih berguna” ucapan mada benar, setidaknya aku bisa jual setengah harga, uangnya juga lumayan buat sehari-hari, dan lagi, aku di bantu mada memilahnya lagi, walau dia melihat foto bingkai aku dengan ares dia hanya diam.

“kepasar lagi kan?” tanya mada saat aku melakban semua bingkai aku dan ares, termasuk yang ada di kamarku”

“iah, baru jam dua, bisa bantu nci lagi” kataku membawa kardus yang akan aku buang, mungkin nanti aku bakar.

mada kembali ke aktifitasnya, menghilang saat berjalan masuk ke pasar, sepertinya dia jago menghilang saat di pasar.

“itu apa nci?” tanyaku, saat nci mencatat.

“kamu lihat” disana nci langsung kasih menu kue yang akan di buat antaranya cup cake, fortune cookies, cheese cake, pudding, chocho lava. pie susu.

“semuanya?”

“yup, kamu saya ajarin cara buatnya oke,” aku sedikit terkejut karena nci diam-diam benar tau cara membuatnya, dia bukan sembarang pembuat roti saja, tetapi semua jenis roti dan kue. itu termasuk kue-kue agak susah di buat, tapi setidaknya gak semua menu yang buat. bearti sekitar tiga ribu biji kue yang akan di buat.

“coba lihat takarannya” ucapnya kasih unjuk aku bahan-bahannya, aku gak asing dengan jenis kue seperti ini, tapi aku gak pernah membuatnya.

Aku dan nci langsung mencobanya membuat sample, Tangannya benar-benar mahir membuat contoh kue yang akan di coba, gak hanya aku yang coba membuatnya melainkan dua karyawannya juga.

“wow, “ gumam nci saat mencicipi punyaku.

“enak, lebih enak daripada saya sendiri,” tawa kecilnya, hal itu buat aku sedikit gak percaya, atau memang aku kemampuan seperti itu. tapi jam terbang nci lebih banyak daripada aku.

Nci kembali menghitung ulang sesuai dengan takaran lima ratus buah per kue. hanya hitungan menit dia menyelesaikannya.

“nah besok kita buat dikit-dikit, dari kue yang tahan lama sama yang gampang basi,”

“enam hari cukup?”

“cukup, kalau di buat di cicil dari sekarang, saya mengandalkan kamu, dan kamu” tunjuknya ke dua karyawannya, termasuk aku menjadi tiga. aku mengangguk siap melakukannya buat besok.

Bersambung