Cerita Sex Boss Part 43

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 43 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 42

Harsa

Dua hari bella menginap di rumah, dan dua hari juga dia menginap di kamarku. Untungnya gak terjadi apa-apa, hanya bella lebih agresif kalau gue nolak buat tidur bareng dia.

Gak cuman tidur bareng aja, bella benar-benar membantu ikut susunan acara yang kebetulan wedding organizer kak yua sendiri adalah iwan.

Saudara dari mama yang tinggal satu dearah sama hara, dia juga memberitahu semua kondisi hara disana. Berkat iwan.

Iwan menjelaskan susuan acara yang telah di siapkan, tapi semua terdiam saat mendiskusikan memanggil nama keluarga sastu persatu,

“jadi nama hara di masukin apa ngak?” tanya bella ke aku, aku sendiri gak tau.

“iwan usahain dia datang, pasti” ucap iwan percaya diri.aku sendiri gak bisa bantu banyak.

“tapi kalau gak datang?”

“nanti iwan yang jadi MC, bisa di atur soal itu” lanjutnya meyakinkan papa sama mama. Semua setuju dengan susunan acara yang sudah di buat

Aku pamit buat antar bella pulang, karena besok dia kembali kerja bertemu clientnya yang super menyebalkan baginya.

“harsaa, orang rumah begitu berharap hara pulang ya?” ucapnya pas perjalanan ke arpatemennya.

“ya mungkin, mau sampai kapan dia disana, lagi pula papa kayaknya udah melunak gak kayak dulu”

“eh bentar ada telepon,” tapi bella gak angkat teleponnya.

“siapa?”

“client yang aku certain kemarin, ini orangnya” tunjuknya lagi, aku kembali lihat sekilas. Tetapi kali ini lebih jelas dan aku langsung rem mobil.

“dia kan, oh shitt” aku langsung ambil ponsel bella,

“kenapa?”

“ini dia kan istrinya rudy, kalau gak salah Namanya sherly” ucapku noleh ke bella,

“heee?”

“dia yang bikin kamu keluar dari perusahaan kamu sendiri?”

“iah dia, nyamar jadi office girl, melalui nia“ gak lama sherly kembali menelpon bella, tapi bella angkat,

“kenapa gak di angkat?”

“biarin, gak akan aku angkat lagi,” senyumnya langsung matiin ponsel dan masukin ponselnya ke tas.

“aku gak mau punya client sama dia lagi selamanya!” gumamnya.

“why??”

“kan dia bikin lo jadi pengangguran sekarang, jadinya gue balas dendamin ke dia hehehe”

Bella terlihat lucu kalau ngomel sama ketawa, ekpresinya sama aja. Yang bedain cuman matanya. Dan sisanya ekpresinya sama aja.

“lo gak tau kehilangan pelanggan?, dia licik loh,?”

“takut sih, tapi aku lebih takut kehilangan lo sekarang” senyumnya sambil hela nafas, di saat itu juga aku langsung cium bibirnya

“eitzzz lagi di jalan raya ini, “ ucapnya sambil tahan bibir gue yang gak sempat cium.

“belum juga jalan, dikit ya”

“hmm ya udah” bella membiarkan aku melumat bibirnya sebentar.

“sekarang jalan lanjutnya” sambil noleh kiri kakan, karena jalannya benar-benar ramai.

Selama perjalanan tak biasanya bela terus pegang pergelangan tanganku sampai ke apartemennya.

“anterin lagi?”

“ia lah.. lo mau gue di godain lagi?” tanyanya pegang erat tangan gue pas masuk lobi.

“hehe oke, yuk jalan” benar saja, masih ada orang berkumpul tapi gak sebanyak kemarin.

“haaaaaa, lega” lenguh nafas bella pas masuk lift

“mampir gak? Tawar bella pas di depan pintunya,

“boleh, sekalian pengen tau isinya kayak gimana”

“yukk” tanganku di Tarik cukup keras saat masuk ke dalam.

Kamarnya bella tepat di dua lantai sebelum lantai paling atas, pasti dia cuman mau liat view dari lantai atasnya. Dan tepat kamarnya paling sudut.

“maaf berantakan ahha, “ aku kira bella orang yang perfect soal penampilan, tetapi saat lihat kamarnya berbeda jauh, pakiannya berserakan tak beraturan. Termasuk celana dalam.

“aku ganti pakaian geraahhhhh~” bella langsung ke kamar mandi, aku duduk di dekat tempat tidurnya, dari sini bisa lihat sisi kanan di kiri, karena semua terbuat dari kaca.

“bagus yah dari sini?” ucapnya selesai memakai tangtop dan hotpants yang begitu ketat. Dengan rambut yang di gulung handuk.

“yoi, apa lagi lagi tidur sambil lihat keluar jendela,,”

“ya dong, special lantai ini, paling sudut bisa lihat pemandang Sembilan puluh drajat tanpa ada nya tembok” jelasnya meregangkakn kedua tangannya.

“gleggg” aku telan ludah sendiri melihat dua gunung yang bergetar.

“view pemandangnnya bagusan mana, di luar apa disini?” bella sengaja menggeliatkan badannya sampai seolah buah dadanya mau lompat keluar.dan sedikit ada putting yang mengintip

“itu lah, bukit kembar di tengah rembulan” bella jalan mendekatiku sambil merangkul leher dan mencium bibirku,

Tangaku langsung meremas buah dadanya, yang tak terasa adanya bra dia pakai. Dan terasa putingnya yang mulai mengeras dari luar tangktopnya.

“bau asem ihh, mandi sana” ucapnya

“aku tungguin” bisiknya manja saat dia mendihku.

“mau apa?”

“uhmm, mandi aja, bau asem gitu dari tadi siang gak mandi” ucapnya tunjuk tepat ke hidungku.

“iah deh,” memang benar sih aku antar bella gak mandi dulu,

“sekalian aku beresin tempat tidur dulu” lanjutnya mengarahkan tanganku ke selangkangannya, terasa belahan vaginnya, bearti bella benar-benar tak memakai dalaman.

“ihh apa liatin gitu”

“plaaakkk”

“awwhh” aku sengaja memukul pantatnya saat menunging buar rapihin tempat tidurnya.

“harsaaa ihh” gerutunya dengan pose bibir bebek.

Kalau mau di bandingin nia sama bella, hasilnya sebelas dua belas. Tapi lebih agresif dua kali lipat dari nia.

“hayoo har lo harus gak usah pikirin nia lagi” gerutuku langsung bersih-bersih.

Selesainya aku hanya keluar hanya memakai kolor, melihat sedikit lagi selesai merapihkan ruangnya tak berantakan seperti tadi.

“udah selesai?” tanya bella telah selesai merapihkan.

“celana panjang sama kaos gue kemana?”

“ada tuh di bangku sana” tunjuknya.

“emang lo tidur kayak gini yah, suasana perkoataan?

“iah, nyaman tidur liatin suasana kota kayak gini” ucapnya

“bukan,,itu pakai pakaian gitu”

“gk kok, telanjangg hahaha” jawabnya berdiri berjalan kea rah daputnya buat ambil sesuatu

“terus gimana ada yang ngintip?”

“mana ada gitu? Pake teropong??”

“ya kali,” tapi kemungkinannya kecil apartemennya paling tinggi di antar yang lain, aku duduk di tempat tidurnya,

“kretekkkkkk,” kakiku tak sengaja menginjak sesuatu, ternyata aku menginjak sebuah vibrator kecil di bawah samping tempat tidur bella.

“wahhh ada mainan juga” ledeku saat menunjukan vibrator kecil dengan remot yang terhubung.

“nooooo” bella langsung lari, tapi aku tangkaDan jatuhin ke kasur.

“ihh, siniin ih” rengeknya mau mengambil vibrator yang aku pegang, aku pinggirin vibratornya dan aku tahan kedua tangannya.

“jangan-jangan dildo juga ada yah” tanyaku dekatin wajah ke bella,

“ngak ada tau, aku masih rapettt pet pet pet kan udah di buktikan kan?” jawabnya menyilangkan kakinya di pinggangku.

“oh iah, masih tersegel” tanganku meremas pelan, terasa putingnya lebih besar dari niia terlihat jelas dari luar tangktop

“engghhh, nakal ah” desah bella membiarkan aku memainkan buah dadanya.

“mancing sih” gumamku melumat bibirnya sambil terus meremas buah dadanya.

“slrrruuuppsps” Aku langsung melahap putingnya dari luar tantopnya sampai terlihat karena basah.

“ngghh harr” desisnya.

“malam ini aku milikmu” bisiknya rangkul leherku yang lagi melumat buah dadanya.

“bearti boleh cobloss” bisiknya singkap keatas tangtopnya dan kembali melumat buah dadanya.

“neggghhh NOOOOO, jangan dongg ohhh~”

“tapi kalau di lepas orang yang aku percaya gimana?” tanyanya, aku langsung mengelus selangkangannya, yang terasa lipatan vaginanya.

“uhmm liat nanti” aku mencium bibirnya sambil tanganku masuk ke dalam hotpantsnya, mengelus belahan vagina bella yang sudah basah.

“harr asshh ssshhhh” lenguhnya samgil pegang tanganku yang terus mengelus vaginanya, daripada berisik aku langsung lumat bibirnya.

Bella tiba menarik tubuhku sampai aku terlentang, bella langsung duduk di atas pahaku, dia langsung membuka menurunkan celana kolorku.

“slrruuupps” tanpa ragu-ragu bella melakukan blowjob. Dan terkadang menekan penisku sampai terasa ke kerongkongannya.

“ohh belllaaa” terassa penisku seolah tertelan di mulutnya.

“slrupsssss” gumamnya melakukan blow dengan kemampuannya, sampai dengan perlahan bella melumat kepala penisku seperti ice cream.

“cumming?” tanyanya kembali posisi duduk terus mengocok penisku.

“belum dong masa gitu aja klimaks” aku langsung menarik tubuh bella sampai duduk di atas penisku.

“ih gila, sampai pusar “ gumamnya mengukur penisku di perutnya,

“masa?”

“iah, cek aja” bella berdiri sembentar membuka hotpantsnya dan kembali mengukur ketinggian penisnya.

“enak dong dalem” ledeku, pegang pinggulnya

“issh pasti sakit” ucapanya gerakin pinggilnya mengesek penisku beberapa kali. Dan langsung menindihnya di belahan vaginanya,

“ngghh” desis bella menggerakan pinggulnya mengesek vaginaya dari bagian depan sampai ujung penisku, ia lakukan beberapa kali sampai terasa peniskua seolah tepat di belahan vaginannya.

Sekilas aku teringat nia melakukan hal ini, beberapa kalai. Tapi Gerakan pinggul bella benar-benar betenaga,

Bella langsung membuka tangtopnya, dan langsung membuka handuknya di kepala sampai teruirai.

“ohhh bell” lenguhku, meremas buah dadanya. Sesekali senyumnya saat sengaja meletakan kepala penisku di vaginanya bebera kali.

Aku langsung ubah posisinya bella rebahan dengan posisi aku menggesekan penisku di belahan vaginanya.

“ihh dendam “ ucapanya, dengan wajahnya yang mendesah pelan,

“sshh aaasshh enggghh harsaaa” gumamnya saat aku memainkan kepala penisku di klitorisnya.

“gesekin doang kok, “ senyumku ke bella, sesekali aku memasukan kepala penisku, dan benar agak susah memasuki vaginanya, berbeda dengan memasukan jari.

“harrr ih sakit, tauuu” gerutunya.

“iah perlahan kok, kalau sakit bilang aja “ aku sedikit memasukan kepala penis agak lebih dalam, keluarin dan masukan lagi sampai agak lancar di vaginanya bella,

Bella kembali melingkaran kakinya di pinggangku, eratan di kakinya di pinggulku membuat aku menekan cukup banyak penisku sampai bella meringis.

“sakit?? “ tanyaku memainkan buah dadanya dan terus tekatn sampai setengahnya.

“iahh” aku langsung cabut dan mengesek kepala penisku lagi,

“ohhhh harr” lenguhnya saat penisku kembali masuk setengah.

“sakiktttt hmmngghh” “ lirihnyamenarik tubuhku sapai wajahku dan wajahnya berdekatan. Aku melumat bibirnya lembut, kakinya kembali melingkar di pinggulku.

Niatnya aku hanya ingin melakukan petting, tapi sudah terlanjur basah, libidoku juga sudah tinggi.

“uhhmmmm ghhmm” aku hentakin perlahan, karena benar-benar sempit, aku gak menyangka lebih sempit di banding lubang anusnya nia. Dan seperti ada mentok padahal penisku belum masuk sepenuhnya.

“ahhhmmm” desis bella tertahan bibirku, ada sesuatu yang seperti terbuka, dan saat itu juga penisku masuk sepenuhnya,

“ohhhhh ohh” rangkulan bella benar-benar erat, aku membiarkan dia menarik nafasnya perlahan, aku menekan penisku lagi dan terasa sudah mentok dan benar benar sempit.

“lanjut?” angguknya sambil aku menggerakan pinggulku, awalnya seret lama-lama berubah agak basah, di situ pula bella yang tadinya meringis berubah menjadi erangan desah.

Sambil berpegangan tangan aku terus menggerakan pinggulku, mata bella terpejam sambil mendesah nikmat,

“ahh harr ngghh” bella menggit bibirnya di ikutin buah dadanya yang ikut bergoncang seiring Gerakan pinggulku.

“akuuuu kleuarrraarrrara” racaunya melingkarkan kembali kakinya di pinggangku, tubuhnya kembali menggeliat tapi kali ini nafasnya langsung terengah-engah.

Aku tak memperdulikannya dan langsung menggerakan pinggulku agak cepat. Bella menutup matanya dengan tangan di ikuti masih mendesah panjang.

“ohh belllaaa, waittt“ aku langsung mencabut peniskua yang ternyata ada noda darah di batang penisku,

“ohhhh,, crroottttttt crooottttttt” aku menumpakah semua sperma di atas perutnya belaa,

Spermaku mengalir ke vagina bella yang ada noda darahnya juga, aku kira sedikit, tetapi cukup banyak, bella masih menarik nafas dalam-dalam,

Inikah perasan membuka segel bella, lebih agak sulit daripada saat anus nia, walau sama-sama sempit. Aku langsung rebahan di sampingnya memeluk erat yang masih menutup matanya,

“muaachh”ciuman pelan di bibirnya dan aku peluk erat tubuhnya.

***​

Mada-

pas pulang agak malam,dari jauh seperti nia yang udah tunggu di depan pintu kontrakan gue, gue yakin dia gak salah liat. Nia juga seperti melihatku dan langsung lari kearahku, dia langsung pelukku erat, tapi sebentar.

“heii kenapa” ucap gue sedikit salah tingkah, bukan karena gak ganteng atau semacamnya, tetapi badan gue masih bau pasar, tetapi nia seperti tak memperdulikannya

“aku seneng bangettttttt!!!” ucapnya melepaskan pelukannya. Dan sedikit ada sesuatu yang kenyal di tanganku. sial tangan gue gak sengaja senggol lagi.

“di terima kerja?”

“iah, di toko nci hehehe” jawabnya sambil menyeringai,

“kok bisa??”

“issshh, kamu yang suruh aku kesana kan??”

“ia sih, tapi bukan aku suruh kamu kerja disana kan? Aku cuman kasih tau soal kue pie susu kamu” ucap gue langsung melihat buah dadanya, tapi terutup sama jaket.

“iah, tapi nci bilangnya suruh kerja disana, lagi pula aku suka bikin” sepertinya nia sudah berbeda seperti saat berkerja di kantoran, atau tepatnya sudah terbiasa dengan kehidupannya sekarang.

“wah wah,,, pantes telepon gue gak di angkat, lagi asik pacaran ya” suara iwan dari belakang, nia juga langsung noleh,

“ehhh bukan kok” celetuk nia menggerakan kedua tangannya, Iwan semakin dekat dengan raut wajah yang benar-benar serius, gue sendiri gak tau dia mau apa.

“gue kesini cuman kasih tau, kakak lo sebentar lagi nikah, lo gak mau pulang juga?” tatapannya benar-benar serius.

“jangan kenceng-kenceng, “ gumam gue ke iwan,

“gak perduli gue, biarin aja pada denger!”

“kesel gue jadinya sama lo ah” ucap iwan yang benar-benar kesal melihat gue, kalau mau di tampol juga gue gak bakalan marah.

“mereka semua harap lo dateng, itu aja, gak lebih mad.. “liriknya ke arah nia yang sepertinya menjauh, seolah tak mau mendengar apa yang di bicarakan iwan, tapi sepertinya gak berpengaruh, iwan ngomongnya begitu keras.

“cuman itu, yang gue mau kasih tau, papa, mama, kakak-kakak lo semua udah tunggu lo, sedikit turunin ego lo buat mereka sekali ini ajaa” ucapnya pelanin nadanya, gak selantang tadi.

“kayaknya percuma gue ngomong sama batu, gak guna” lanjutnya tambah kesal karena gue cuman diam, iwan langsung pergi entah kemana, sedangkan gue berdiri termenung membuat gue ragu untung datang atau tidak.

“teman kamu benar mad, apapun alasannya, keluarga tempat terbaik dimana berada” ucap nia tiba-tiba berdiri di samping gue.

“aku merasa kamu bukan orang kebanyakan, kamu berbeda dari orang kebanyakan” lanjutnya.

“ngaco dia ngomong, hehe” potong gue.

“kamu gak usah tutupin kok, gak usah pura-pura lagi~” ucapnya dengan wajah yang cerita kini berubah sedikit serius.

“satu, kamu pernah bilang ke aku, “kamu akan terbiasa” potongnya pas gue mau ngomong.

“dua, aku lihat kamu bisa obatin orang,”

“kan udah di bilang, kalu itu…”

“DIemmm! aku lagi ngomong” potong nia pas gue mau potong,

“ketiga, aku dengar tengtang kamu soal dokter,”

“keempat, kamu menghindar saat aku tanya kamu dokter atau bukan”

“kann” potong gue, tapi gak bisa juga, nia tetap nyerocos.

“dan kelima, semua udah jelas kan?” Gue gak nyangka nia sedetail itu gue kira hanya beberapa yang dia ingat. Dan anggap gue hanya seorang tukang ojek.

“aku gak tau kamu darimana, asal darimana kamu sebenarnya, tapi ini kesempatan kamu untuk perbaikin yang entah apa masalah kamu”

“kamu gak sadar? Dari tampang kamu yang garang, ternyata kamu itu banci?!!” gue langsung terkejut saat niat berbicara itu terhadapku. itu buat gue terdiam sejenak.

“kamu bisa nasihatin orang, tapi buat diri sendiri gak bisa!!!” ucapnya langsung berdiri dan melangkah pergi dengan wajah yang ikutan kesal sama kayak iwan. Dan kenapa nia bisa semarah itu ke gue. Apa karena dia merasa di bohongin sama gue?.tapi masa ia sampai segitunya.

“Iahh kamu BENARR” ucapku sedikit kencang saat nia sudah lumayan jauh, sekitar empat meter.

“satu, aku kabur dari rumah,selisih paham.” nia langsung menhentikan langkanya.

“dua, aku memang dokter,” lanjut gue.

“tiga yang kamu boleh tau, aku dokter gagal, bukan seperti dokter yang kamu bayangkan!”

“empat, kamu benar, aku banci, yang kabur dari semua permasalahan!”

“kelima, aku gak mau kabur dari permasalahan lagi, dan please bantu aku soal hal itu” entah rasanya aku mau mengucapakan hal itu dengan sendirinya., aku merasa aku gak mau nia kesal terhadapku, itu aja. tapi nia langsung berbalik badan melangkah mendekati arah gue

“kamu serius soal itu?”

“apa?”

“bantuan??” raut wajahnya tidak sekesal tadi.

“iah,” jawabku pelan.

“jadinya?”

“aku gak akan kabur lagi, “ jawab gue pelan.

“bukan itu,”

“iah aku akan datang ke pernikahan kakakku nanti” jawab gue menghela nafas.

“oke, aku bantuin kamu,” senyumnya lebar, hal itu buat gue ikut tersenyum juga.

“kalau boleh tau, pernikahan kakak kamu berapa bulan lagi?”

“satu bulan dari sekarang” kataku berbohong, karena gak mungkin gue bilang minggu depan, karena gue belum benar-benar siap.

Suasana menjadi hening sesaat mungkin karena perdebatan yang tadi. Nia orang yang pertama omelin gue seperti itu, dan gue gak marah atau pun berontak seperti mama, papa, kakak gue juga. apa lagi iwan. gue sebenarnya tahan emosi/

“maaf ya, tadi aku terlalu kasar ke kamu, ehhee” ucapnya pelan, saat suasana hatinya juga udah tenang.

“ngak kok, kamu emang benar, justru aku berterima kasih ke kamu, ini tamparan keras buat aku,” gue merasa seperti batu yang di pukul sama palu, di pukul sampai hancur,

“nanti kasih tau apa yang perlu aku bantu, gak usah sungkan oke” lanjutnya pegang Pundak gue,

“iah, udah malam, pulang sana” pinta gue,

“iah, byee” lambaian tangan nia, gak lama dia langsung melangkah pergi sambil sesekali menoleh kearah gue. yang masih berdiri termenung.

Rasanya gue gak bakalan tidur tenang malam ini, pikiran gue campur aduk, tapi kebanyakan soal nia.

Gue masih terus kepikiran soal akan datang ke pernikahan kak yua yang satu minggu lagi, gue juga harus minta pendapat nia soal apa yang harus aku lakukan pertama kali, yang jelas penampilan yang pertama.

Dan juga Kepikiran, kenapa nia sampai segitu ke gue, apa mungkin dia suka sama gue. tapi masa sia. tapi berharap sih boleh.

“plaakk” gue tampar pipi gue bukan karena untuk berhenti menghayal, tetapi ada nyamuk. Karena jarang gue suka sama seseorang, lebih sering di kejar cewek, salah satunya bella. tapi itu masa lalu. gue mulai menyukainya hari ini, karena omelannya buat gue tertampar keras.

Dan entah pikiran dari mana, pikiran gimana gue kalau nanti sakidadap sama nia. Hal itu buat gue semakin gak bisa tidurr. Mana bisa gue tidur dengan pikiran seperti ini dengan si jalu menegang bayangin nia.

“ayolaahh tidurrrrr!!” gumam gue kesal sendiri. Lihat jam udah jam dua pagi.

Bersambung