Cerita Sex Boss Part 42

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 41

Nia

Aku ikut senang saat dapat kabar dari albert kalau dia bisa ikut UAS, dia gak pulang selama UAS berlangsung. Dia juga nginap di kost temannya untuk beberapa minggu sampai ujian selesai,

“lagi buat apan san?”

“aku lagi buat pie susu,sama pudding oreo, dulu aku sering buat pas di aussie” tapi semenjak itu gak gak pernah bikin.

“eh mama udah mendingan?” dari kemarin mama demam, tetapi masih aja tetep buat kue karena ada pesanan dari nci buat acara. Bukan mada, tapi buat acara keluarga, walau gak banyak hanya seratus buah.

“udah, udah mendingan kok” ucap mama langsung masukin dadar gulungnya ke plastic. Sebenarnya aku buat pie susu sama pudding oreo buat kasih mada aja, aku berharap mada suka dengan buatanku.

Selesai aku masukin rantang plastic bekas makanan yang di cuci ulang sama mama, rantangnya muat lima buah pie susu, sama satu pudding oreo ukuran normal.

Sekaligus aku juga mau antar dadar gulung ke nci dan ambil satu tempat kue yang ketingalan kemarin,

“Ncii, dadar gulung pesanan” ucapku saat di depan tokonya,

“iah nia,, ini tempat kue yang kemarin ketinggalan”

“iah nci, kalau gitu pamit yah”

“duitnyaa?”

“nanti aja balik lagi,” ucapku langsung bergegas pergi mencari mada, soalnya dari tadi gak ada batang hidungnya.

Sudah Lima belas menit aku puterin pasar, aneh mada gak ketemu apa jangan-jangan dia gak masuk. tapi motornya ada. aku coba cari arah depan pasar. harusnya aku janjian dulu sebelumnya.

Tepat depan pasar aku melihat mada baru saja keluar naik motor, aku pun langsung panggil mada, tapi tak kedengaran.

“madaaaaaaa tungguu” teriakku lebih kencang langsung kejar lari, tetapi saat aku lari sendal jepit yang aku pakai putus membuat aku langsung tersungkur di aspal.

“awwuuhhh” jeritku, tempat kue dan juga kotak kue terlempar cukup jauh, terasa ada yang bantu aku bangun. dan ternyata itu mada.

“ayo pelan – pelan bangun” ucapya sambil bersihin pakaian aku yang kotor, mada lari ke motornya mengambil air botol.

“tangan kamu” mada bersihin tangan aku yang ternayata terluka karena bergesekan dengan aspal, bukan satu tapi kiri kanan, sikut aku juga. tapi untungnya wajahku gak kena,

“ke klinik ya,”

“luka kecil kok” kataku

“liat dengu kamu besut,” benar dengkul aku yang tadinya putih berubah langsung merah, tak hanya satu, tetapi dua duanya,

“paling deket disini klinik, takut infeksi” ucap mada ke motornya dan berbalik arah.

“yuk naik” aku mengangguk, sambil mada mengambil tempat ku yang ternyata pecah, dan kuenya hancur seperti ke banting, bearti tadi aku jatuh cukup keras.

Mada langsung antar aku ke klinik, seperti hari sebelumnya,. kliniknya terasa sepi, tak ada orang. aku duduk sambil melihat luka-luka ku yang ternyata tak bisa di anggap kecil. rasa perihnya mulai menjalar.

“ah perrihhhh madaaa” ucapku saat mada memberishakn di bagian dengkulku yang masih ada pasir, awalnya dingin tapi sehabis itu perih.

“tahan, masa kalah sama bocah kecil” ledeknya memberishkan luka di dengkulku,

“kamu kok bisa jatuh gitu?” tanyanya sambil bersihin luka di tanganku dan sikutku.

“sendal aku putus, akau ngak putus gak bakalan terjadi” ucapku protes. Aku mendapat luka sekitar enam luka, dia di telapak tangan, sikut dan dengkul.

“ini obatnya mada, dia kenapa?” suara dr rena membawa obat buat luka, dan juga perban langsung kasih mada.

“jatuh, biasa, ngejar layangan putus“ jawabnya tertawa.

“haa? Enak aja, aku gak ngejar layangan kok” protesku.

“aku ngejar kamu” ucapku dalam hati.

“diam dulu, tinggal di perban biar gak kena debu” mada langsung perban luka di dengkul dan sikutku, telapak tanganku gak di perban gak terlalu parah.

“selesai, lain kali hati-hati” ucap mada,

“ia terima kasih mad” ucapku.

“ ya udah, yuk pulang”

“tapi bayar buat pengobatannya?”

“pakai doa, biar klinik ini majuuu dan ramai” potong dokter rena sambil tertawa kecil.

“iah terima kasih banyak, maaf repotin lagi” senyum lebar dari dokter rena.

Aku sama mada langsung naik motor, tapi baru keluar beberapa meter dari klinik motornya tiba-tiba berhenti. di tambah langit tiba-tiba langsung menghitam. sepertinya ini hari apes ku.

“kenapa?” mada langsuung membuka jok motor dan membuka tanky bensinya.

“bensinya habis, aku lupa isi dari kemarin, hehehe”

“di tambah disini gak ada bensin eceran, adanya di pasar”

“kamu naik angkutan aja ya, ada kan arah kepasar?” tanyanya

“gak usah ah, aku udah repotin kamu, masa tinggalin kamu dorong motor?” aku jalan di atas tortoar bersampingan mada yang lagi dorong motor.

Tak lama tiba-tiba gerimis, dari kecil langsung menjadi besar, mada langsung membuka jok motornya mengambil jas hujan,

“pakai ini” pintanya,

“ayo cepetan hujan deras ini” dengan terpaksa aku memakai, dan lagi aku benar-benar merepotkan mada. Tiba-tiba mada tersenyum hampir ketawa setelah selesai aku memakai jas hujan.

“kenapa?”

“lucu, aja jas hujan nya kegedean ahaha… “ aku langsung pasang muka bebek,

“HAHHAHAH” tawa mada cukup keras, tapi memang benar aku seperti tenggelam, walau hanya memakai bagian atasnya/

“maaf ya, jadi kamu ikut sial karena aku” ucapku sambil jalan, mada sudah basah kuyup masih dorong motor.

“sial? Gak kok, emang lagi apes aja kali,” sudah setengah perjalanan, aku sedikit gak tega melihat mada yang basah kuyup dan sesekali menyeka wajahnya pakai tangan karena hujannya benar-benar deras.

“pakai ini aja aku pegangin” ucapku langsung mengambil tempat kue yang pecah, tapi masih bisa untuk pengganti payung. Mada tak protes hanya senyum kecil. Untungnya posisinya pas aku naik tortoar bisa payungin kepala mada.

“gak pegal emang?” tanyanya

“gak kok enteng, masih beratan beban hidup” mada cuman senyum sesekali liatin aku. Di lihat mada gak cocok kalau rambut gondrong, lebih cocok rambut pendek. Daripada seperti itu rambut panjang kena air hujan mirip kain pel lantai.

“lucu ya payung model baru” ucapnya tertawa geli di sela-sela hujan semakin deras

“ia payung antik, gak ada yang punya” balasku, mada cuman senyum lagi sambil lirik lagi, itu buat aku sedikit malu,

Selama perjalan hanya obrolan kecil, yang entah kenapa aku nyambung dengan mada, saat bahas apapun, tak garing seperti dulu. Aku gak boleh ngeluh, tanganku sedikit mulai pegal. Karena sudah hampir sampai pasar.

“itu kue yang tadi jatuh?” tanya mada saat isi bensin sambil duduk melepas Lelah. terutama tanganku yang ternyata pegal.

“iah,”

“tadinya buat kamu, tapi udah ancur gitu, “ jawabku lupa, harusnya aku sembunyikan.

“oh ia? Coba liat” aku langsung tunjukin pie susu yang udah remuk, dan juga purdingnya gak ada bearturan bentuknya. pasti tadi aku jatuhnya cukup keras.

“tapi masih ada bungkusnya di dalamnya, gak kotor juga kok” memang benar gak kotor, tapi masa ia kue udah ancur di kasih orang.

“aku ambil, terima kasih kuenya” ucapnya langsung membukanya dan satu suapaan pudingnya.

“enakk, ” ucapnya dengan mulut penuh pudding.

“tapi ituu ih, masa ia masih enak?” aku semakin ragu di tambah saat mulutnya kosong, pie susu dengan satu suapan masuk kembali ke mulutnya.

“wowww” desisnya noleh ke aku.

“apa?” reflek aku karena sedikit salah tingkah tatapan mada seperti itu.

“enak, sumpah, bilangin mama kamu deh” ucapnya mengunyah pelan-pelan kue nya.

“hehe itu bukan mama aku, tapi buatan aku” ucapku pelan.

“uhukk uhukkk hukkk” mada langsung terbatuk-batuk mendengarnya.

“oh ya?”

“iah gak percaya emang?”

“belum yakin tepatnya,”

“aku juga bisa buat kan?”

“kalau gitu kenapa gak kasih sample ke nci, gimana?” ucapnya sambil makan satu suap lagi ke mulutnya.

“buat apa?”

“yah kasih tau aja kue kayak gitu bisa masuk gak ketoko nya, kayak dadar gulung mama kamu” aku terdiam sebentarnya, karena gak yakin dan agak rencana buat sample buat di jual.

“iah besok aku coba” ucapku tertarik dengan ucapan mada, siapa tau nci suka sama pie susu. jadinya aku sama mama ada kerjaan di rumah.

“yuk pulang, hujannya udah reda, nanti kamu masuk angin”

“kok aku?”

“bukannya kamu, yang masuk angin?”

“hehe dah kebal” jawabnya tertawa langsung naik ke motornya, gak terasa sekitar sepuluh menit berterduk disini.

“okeh, udah habis, tanpa sisa” mada benar-benar menghabiskannya langsung,.

“bentar madaaa” dia noleh, aku langsung bersihin sisa pie susu berlepotan di bibirnya. Tatapan mada membuat aku langsung tundukin kepala dan naik ke jok belakang,

Apa yang aku lakukan tadi, aku harusnya kasih tau aja soal sisa kue nya di bibirnya, tapi entah kenapa aku menjadi reflek membersihkannya dengan tangan.

“oh my god” gumamku bertingkah konyol seperti tadi.

“pegangan” ucapnya Tarik tanganku untung pegang pinggangnya tapi tak erat, karena aku masih sedikit salah tingkah dengan hal yang tadi.

“bletaakk” suara sesuatu di belakangku menyentuh sesuatu, hal itu buat aku peluk erat pinggang mada.

“itu apa?” tanyaku karena suaranya seperti benturan.

“spakbor belakang mentok tadi masuk lobang” kalau aku gak pegang pingang mada pasti aku jatuh.

“dah sampai”

Sesampainya aku turun, membuka jas hujannya. Tetapi penutup kepala dari tadi aku gak pakai ternyata berisi air membuat memasahi bajuku lumayan banyak, aku merasa lekukan buah dadaku terlihat jelas di depan mada.

Pikiranku tiba-tiba aku terbayang membiarkan mada melihatnya, dan aku mengajaknya ke dalam untuk masuk sebentar dan aku langsung….

“heii niaa heii” tepukan tangannya di depanku membuat aku berhenti melamun.

“iah kenapa?”

“jas hujannya kau mau bawa pulang?”

“hehe ia maaf, ini” tapi benar bajuku basah, mada langsung melipat jas hujannya dan pamit pulang. Mada sepertinya tak memperdulikan apa yang barusan di lihatnya. atau mungkin di berusaha tak melihatnya.

Kenapa akhir-akhir aku sering berpikiran soal mada, termasuk berfantasi soal dia, apa karena aku melihat otot-totonya yang kekar, atau mungkin.. aku mulai… menyu…..

***​

Paginya aku buat satu sample kue pie susu lagi, buat kasih ke nci. waau saat membuat aku masih ragu, tapi aku harus coba sesuai ucapan mada.

“Aku harus berani, gak boleh lemah di mata mada. Aku pasti bisa.” gumamku untuk meyakinan aku bisa.

“kamu kenapa san ngomong sendirian?”

“hehehe, ngak ma, ini mau kasih sample ke toko roti nci, siapa tau bisa masuk kayak dadar gulung mama”

“luka kamu gimana?”

“sedikit peri sihh, makanya aku pakai celana panjang sama baju lengan pannjang” senyumku. denagn begini gak ada yang tau kalau dengkul sama sikut ku di perman karena hal yang memalukan.

“ohh, itu, coba aja, “ angguk aku semakin percaya diri mama dukung aku,

Jam sembilan pagi aku langsung ke pasar, Langkah aku terhenti saat lihat nci lagi sibuk membuat adonan. kakiku serasa berat untuk kasih ini ke nci.

“pagi nci” sapaku bersikap biasa mungkin.

“pagi nia, yah kenapa baru datang jam segini? Kuenya udah habis buat kamu yang biasa” aku semakin yakin nci orangnya memang ramah, berbeda seratus delapan puluh derajat pada waktu itu.

“gak apa-apa nci, aku kesini buat kasih ini buat cobain” aku langsung kasih kotak isi pie susu nya.

“boleh cobain sekarang?”

“boleh, boleh banget nci,” dia langsung buka kotaknya, di ciumnya sedikit dan langsung satu gigitan kecil di pinggirnya.

“enak, kayak pie susu mahal, bisa di jual ini disini, kalau bahan bakunya terjangkau,”

“hee?”

“coba catat disini komposisinya,” nci langsung kasih pulpen sama kertas, dan aku langsung catat dengan cepat.Ternyata nci lagi hitung jumlah gram bahan, dan harganya.

“coba kamu dengan kompisi seperti ini,” aku lihat hanya beberapa gram yang di ubah,

“bisa, nanti siang aku balik lagi, tapi itu lebih tipis hasilnya” kataku.

“nah, ia maksudnya itu, harganya bisa masuk kalau segitu, bisa d jual disini” jelasnya.

“siap,kalau gitu saya pulang ya ci”

“ngapain? Kamu buat disini, bahanya semua ada disini, oke, tapi kamu akin bisa?”

“BISAA, pasti bisa” ucapku percaya diri, aku yakin bisa. nci cuman tersenyum menyuruhku masuk ke dalam toko.

Aku masuk kedalam, langsung mencari bahan-bahannya, dan benar-benar lengkap. termasuk ada cetakannya juga, rasanya aku menjadi serius membuatnya, untuk buktiin ke nci, kalau aku benar-benar bisa. Dan entah kenapa ucapan mada selalu aku turutin menjadi hal yang tak terduga.

Satu jam aku sudah selesai dengan pie susu sesuai permintaan nci, dari wanginya tak da bedanya, hanya bentuknya lebih kecil.

“sudah jadi?”

“udah, ini” nci langsung cicipin dan sekejap langsung habis.

“oke, kamu mau kerja disini? Kamu ada bakat sepertinya buat kue sejenisnya” ucapnya senyum.

“haaa? Tapi?

“nanti saya ajarin buat kue, roti, sejenisnya, lagi pula memang lagi butuh karyawan. Bagaiamana?”

“saya mau,”

“tapi gajinya gimana?”

“sesuain aja nci, yang penting saya bisa banyak belajar disini hehe”

“kalau gitu, kamu buat seratus buah hari ini, buat sample,”

“tapi gak rugi ci seratus kan banyak”

“seratus buah buat produk baru memangnya cukup buat macam-macam orang di pasar ini?

“satu sample kalau pembeli suka, pasti mereka akan beli, apa lagi hargnya terjangkau.” angguk aku paham,

“nah sekarang pakai ini dulu biar gak kotor, baru besok saya kasih celemek baru” ucapnya Nci langsung kasih aku celemek miliknya, aku menerimanya dengan senang hati. lagi pula kerja disini gak masalah juga, daripada jadi pengacara.

Bersambung