Cerita Sex Boss Part 41

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 41 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 40

Harsa

Aku lagi perjalan menuju ke klinik bella, sesekali aku melewati bekas perusahaanku dulu. Tak banyak berubah.

Tepat saat mau sampai ke kliniknya, ada mobilnya yang mirip dengan mobil yang sering di pakai sama si brengsek rudy. Mungkin itu hanya kebetulan mirip.

Tepat masuk klinik. Bella sudah berdiri di depan klinik.

“udah lama tunggu ya? Tanyaku keluar dari mobil.

“ngak kok, baru aja keluar, sekalian anter client pulang,”

“jadi langsung ke rumah?” senyum bela seperti ada yang mengganjal.

“yuk” bella masuk ke dalam sambil membawa tas cukup berat.

“sini gue bawa” dan benar memang berat, aku sendiri gak gak berani tanya isinya apa. Yang jelas keperluan bella memang banyak,

“kamu gak bawa pakaian ganti buat nanti?” tanyaku dalam perjalanan.

“bawa kok, itu tadi tas yang kamu bawa, sekalian nanti nginap aja di rumah kamu, biar bebebku gak capek” ucapnya tertawa sambil elus pipiku dan tak lama cium pipiku.

“hee? Emang kita serius jadian?”

“isshh” desisnya.

“serius,”

“terus lo bilang kemarin buat apa? Sampe cium cium?” tanya bella

“hmm, hehe,” .

“terus bener jandian?” tanyaku pelan.

“iihh, bearti kemarin bukan nembak dong?”

“entah,hehehe”

“yaudah gue anggap lo nembak gue okeh” ucapnya sepihak, sebenarnya aku gak berniat untuk melakukannya kemarin, aku hanya ingin mau mencoba mencoba menyukai bella, karena nia aku sudah tau perasaannya terhadapku.

Sesampainya persiapan buat makan malam udah di mulai, tema makan malamnya dinner garden, makan malam di belakang halaman rumah.

Dan tentunya mama, kak Maxwell, kak yua, turun langsung membuat makan malam, papa sibuk nata perlengkapan buat makan nanti. Di bantu sama om roni juga.

Bella langsung menghilang saat masuk rumah, dan ternyata dia ikut di dapur bantu mama, walaupun bukan bantu masak. Hanya membantu mengambil bahan dan perlengkapan masak. Mama sepertinya tak kerepotan bella bantu-bantu seperti itu.

Malam pun tiba

Tamu dari keluarga calon suami kak yua datang, tak banyak hanya keluarga dekat saja yang datang. Di sana langsung pembahasan masing -masing, termasuk ternyata keluarga dari calon kak yua punya restoran juga.

Dan calon suami kak yua anak satu-satunya, jadinya pembicaraan seputar urusan mereka, merasa kurang menarik aku pilih ke tempat lainnya sambil membawa cemilan sampai mereka selesai.

“haaa” duduk di kolam renang seperti ini sedikit tenang. Karena cukup Lelah mengikuti alur pembicaraan mereka.

Tak lama bella datang membawa dua gelas dan satu botol vodka yang langsung taruh di sampingku.

“vodka darimana?”

“dari ituuu tu” tunjuk ke kak amaxwell yang ternyata sedang minum dengan minuman yang sama.

“udah pernah coba emang?”

“belum lah, makanya mau cobain hehee” sekilas rasanya dejavu dengan minuman seperti ini.

Samar-samar aku masih ingat apa yang aku lakuin dulu sama nia waktu di hotel dengan keadaan mabuk.

“aaahhhh gak enaakkk” gumam bella udah langsung minum satu teguk, aku cuman perhatiin bella meminum satu teguk dan dua teguk.

“katanya gak enak tapi, masih di teguk”

“biarin ah biar stress aku hilang” gumamnya minum satu teguk lagi.

“kenapa?”

“iah kena omel client, gara-gara alisnya gak simetris 0,25 cm, padahal aku sendiri gak ngukur” jelasnya. Bearti tadi di depan klinik bella lagi kena komplen sama clientnya.

“terus gimana?”

“dia minta di perbaikin tapi gak mau biaya tambahan, kayak orang kaya baru sikapnya tuhh”

“mana orangnya?”

“ini, orangnya” ucap bela kasih unjuk, tapi aku sekilas melihatnya karena keluarga dari calon suami kak yua mau pulang, lebih cepat dari pada yang gue kira.

“tunggu sini ya, pada mau pamit” ucapku langsung setengah berlari susul yang lainnya.

“liat dulu, orangnya!” gerutu bella,

“bentar keluarga calon kak yua mau pulang” kataku ikutan, karena gak enak kalau mereka pulang aku gak ada.

“bella kemana harsa?” tanya mama pas

“masih di belakang, lagi urusin clientnya” ucapku,

“oh ya udah, nanti dia nginap tidur kamar kamu ya?”

“heee? Kenapa gak di kamar kak yua?”

“enak aja, kamar pengantin gak boleh ada orang lain kali” potong kak yua yang mendengar percakapan aku sama mama.

“emang gitu ma?” angguknya ikut kedalam juga,

“bellaaa” teriaku agak keras karena bella terkapar di pinggir kolam renang, pas aku sampai setengah botol sudah habis dia minum.

“untung nafasnya masih ada, pasti udah mabuk ini anak” wajahnya benar-benar merah padam, sambil sedikit bergumam sendiri tak jelas.

“uii bangun uii” kataku tepak-tepak pipinya, kadang aku pencet, tapi tak kunjung bangun.

Mau gak mau aku langsung gendong dia ke kamar, di tambah kamar aku lantai dua, gak ada orang yang bisa tolong bantu.

Kak Maxwell dan keluarganya juga udah pulang, kak yua apa lagi gak bakalan bantuin soal beginian.

Dengan susah payah aku bisa gendong bella ke kamar, dan langsung baringin di tempat tidur. Bella semakin meracau tak jelas, kadang meracau soal mengomel kebersihan di kliniknya.

Sebenarnya gue kalau tidur berdua sama cewek masih susah untuk tidur, bawaannya bangun terus. Kecuali sama nia kemarin efek mabuk.

Ada yang aneh juga mama dengan mudah izinin bella tidur di kamar aku, seolah percaya bella tidak akan kenapa-kenapa, Seoalah benar-benar mama sudah tau luar dalam bella,

Aku tatap sebentar wajahnya, yang benar-benar kebanyakn minum. aku langsung mencium bibirnya pelan.

“muuaahhcch” ciuman lembut, aku langsung buka pakaiannya satu persatu setelah mengambil baju tidur yang harus dia pakai sekarang.

“gak kebangun juga” gumamku saat bella sisa bra dan celana dalam berenda. Dengan gampang aku membuka tali bra nya,

Aku melumatnya sebentar sambil memainkan jari di vagina bella yang masih tertutup celana dalamnya.

“engggghh” bella menggeliatakan badannya,

“bugggg” tiba-tiba bella menendangku sampai tersungkur.

“gue hajar lo nanti, huaaa” racaunya, tendangannya benar-benar kuat sampai perutku terasa nyeri di bagian atas perut.

“fiuh, bisa di tendang lagi kalau beneran bangun” ucapku melihat bella masih tertidur.dan untungnya hanya mengigau.

“daripada nanti masalah, mendingan jangan dah” aku langsung memakaikan baju tidurnya, sampai rapih. Dan menyelimutinya.

Aku tidur di sampingnya, membatasi dengan bantal guling, berjaga-jaga kalau di mengigau lagi dan mendangku,

“muahh,,,, gue sukaaa looo peaaaaa” racaunya lagi dan kembali mendangku ke samping tempat tidur.

“astagaaa belaaa” aku coba tidur di sampingnya lagi, untungnya tak terjadi apa-apa sampai aku tidur.

***​

Ada sesuatu yang membuat aku terbangun, rasanya penisku seperti ada yang menggocoknya.

“be bellaa” gumamku melihat bella memakai handuk sambil mengocok penisku perlahan.

“ngapain? Ohh belll~~” penisku benar-benar sudah ekrresi maksimal.

“ucapan selamat pagii~~” ucapnya Tak lama dia menghentikan kocokannya setelah aku benar-benar terbangun,

“lo yang ganti gue baju yah?” lanjutnya

“hmmm, iah,”

“makasih” senyumnya, membuka handuknya,

Aku bisa lihat buah dadanya dari pantulan cermin, dan kembali teringat tubuh nia yang telanjang bulat.

“aku ke bawah dulu, kak yua ada panggil tadi ya” ucap bella langsung sedikit tergesa keluar kamar,

Selesai mandi aku pun langsung ke bawah, yang ternyata sudah ramai. Dan ada gaun pengantin kak yua, Kesannya simple dan berkelas, Dan juga ada gaun buat bridesmaid.

Dari kejauhan papa membawa setelan kemeja dan juga jas kea rah luar rumah, waktu bersamaan juga mama langsung lapisi dengan plastic setelan jas nya.

“buat kemana itu pa ma?”

“buat hara, di titipin sama om roni sekalian pulang”

“yakin hara bakalan datang?” mama hanya senyum dan langsung kasih ke om roni yang udah tunggu di depan rumah.

Dari hati aku yang paling dalam sih, berharap hara hadir.

Mataku teralihkan saat bella keluar dengan gaun bridesmaid, bella benar-benar cocok berpakaian seperti itu.

“cantik yah bella” ucap mama ketawa geli pas gue terfokus sama bella.

“iah ma” jawabku spontan,

“oii harsaaa, sini” panggil kak yua,

“apa?”

“sini, foto berdua” ucapnya siap-siap foto, bella dengan agresif langusng rangkul tanganku buat foto.

“lagi lagi” ucapnya sambil tertawa,

“bagus gak kak?” bella langsung lepasin tanganya baut hasil fotonya, dan kembali mengobrol dengan kak yua, padahal aku juga mau lihat hasilnya.

***​

Mada-

Sumpah gue salah tinggkah tolongin nia dari kecoa yang masuk ke dalam bajunya, pasti nia merasa gue sengaja memegang buah dadanya beberapa kali, kalau bisa di bilang, tangan gue gemetar suruh masuk ke dalam bajunya, makanya gue salah beberapa kali. Makanya gue langsung pergi gitu aja.

“benar benar mengkel’ gumamku membuka menggenggam tanngaku, karena rasanya masih terasa sampai hari ini juga.

“mau kemana lo mad?!” suara bang boris. Pas baru masuk ke pasar.

“pulang bang, udah sembuh?”

“lumayan, gue kesini buat bilang terima kasih berat ya soal kemarin” di pukulnya pelan bahu gue.

“kalau gak ada lo dateng mungkin gue dah ada di batu nisan kali..” lanjutnya genggam erat Pundak gue,

“ia sama-sama, “ ini pertama kalinya gue ngomong face to face sama bang boris selama empat tahun ini

“ngomong-ngomong memang sebenarnya apa yang terjadi? Sampai pasar jadi agak resah kayak gini?” tanya gue penasaran.

“biasa, urusan tanah, pihak alih waris gak setuju kalau ini tanah di biarin buat jadi pasar, sedangkan almahrum memang sengaja buat orang kampung sini buat cari duit” jelasnya,

“oh ya? Alhmarum siapa ?”

“haji jamal, dia sesepuh kampung sini, dulu dulu banget,”

“gue curiga mereka semua suruhan buat pasar jadi gak aman buat dagang sama belanja.” Bearti benar yang babeh resin bilang,

“seriusan bang?”

“ya lah, kalau pasar gak aman, kan pasti salah satu caranya pindah ke tempat lain. ya kan? “ tapi sepengamatan gue memang pasar ini tempat strategis, kalau di bikin mall pasti llebih maju, tapi efeknya kampung sekitarnyga juga bakalan di gusur. termasuk kampung yang di belakang pasar.

“pikirin apa lo?”

“engak, bingung aja nama bang boris itu, nama asli atau bukan”

“oh, itu julukan, boris itu singkatan”

“singkatan?”

“ia, boris itu botak segaris, nih liat” tunjuknya kepala yang di tutupin bandana, terlihat luka panjang yang gak tumbuh rambut.

“ohh itu artinya, luka codet gitu ya” angguknya.

“oke kalau gitu, kalau lo di gangguin sama orang luar pasar, bilangin lo saudaranya boris, “ ucapnya membuat gue sedikit bengong,

“saudara?”

“yoi, lo udah selamatin nyawa gue, jadinya udah anggap saudara,”lanjutnya sambil tepak bahu gue beberapa kali dan langsung pergi ke belakang pasar. gue senyum senyum sendiri mendengarnya.

gue pulang agak malam soalnya cek kondisi babeh resin yang udah mendingan, dia boleh narik becak lagi asal jangan di paksain. dan gue harus cari tempat yang aman dari pasar. rasanya takut kalau becaknya babeh resin ikut di rusak.

“itu mobil kayak pernah kenal” gue yakin itu mobil mirip punya papa yang sering dia bawa pas antar gue sekolah. bukan mobil yang om roni bawa.

“gak mungkin papa datang secara langsung” tapi gimana kalau beneran dia datang secara langsung.

Gue gak boleh hindar kali ini, Langkah gue semakin dekat dan pintunya terbuka, itu buat gue langsung diam di tempat. gue benar-benar belum siap kalau papa yang muncul.

“haa!~~ om roni” lenguh nafas gue benar-benar tegang, gue pikir papa.

“akhirnya pulang juga, kenapa muka kamu tegang gitu?” tanya om roni.

“aku pikir papa hehehe, habisnya itu mobil kayak punya papa om” gue masih deg -degan sampai sekarang.

“ohh, ia emang mobil papa kamu, om suruh bawa mobilnya” jelasnya.

“om udah lama tunggunya??”

“lumayan ada kali satu jam,”

“kenapa gak telepon?”

“telepon kamu aja gak aktif ” gue lupa ponsel yang om roni kasih gak pernah gue nyalahin, dan simpan nomor om roni di telepon gue yang sering lupa di charger.

“heheh, sorry, emang ada apa om?”

“ini,” om roni langsung buka pintu belakang, dan kasih satu set jas sekaligus kemeja celana panjang dan sepatu.

“buat ap aitu om?”

“acara pernikahan kakak kamu, dua minggu lagi loh” gak terasa udah dua minggu lagi, tapi gue belum bisa ambil keputusan untuk datang atau tidak.

“kami semua tetap menunggu kamu pulang.” itu ucapan yang di gantung paling depan.

“ini ambil”

“om simpan aja dulu”

“kenapa?”

“disini tempatnya kotor, takutnya ikutan kotor” sebenarnya gue masih bingung datang atau ngak,

“tapi kamu akan datang kan?”

“entah om” om roni kembali memasukannya ke dalam mobil.

“tapi om yakin kamu bakalan dateng, om bakal simpan di rumah om ok,” di tepuknya pundaku beberapa kali.

“hubungin om satu hari sebelum hari H nya, pasti om anterin jas buat kamu” senyum roni.

“iah om, ”

“ingat ucapan yang di gantung di jas kamu” tepukan pelan di pundak gue.

“kalau gitu om balik”

“iah om” aku duduk depan kontrakan, bayangan apa yang terjadi kalau aku datang pernikahan kak yua. Itu akan membuat seautu pembicaraan di rekan-rekan bisnis papa, gue gak mau jadi beban lagi.

gue gak mau jadi omongan lagi sama orang-orang sekitar papa, atau mungkin gue gak mau nyusahin acara besar buat kak yua. yang ada acaranya bisa kacau karena gue.

“haaaa~~ udud dulu lahh”gue jadi pusing pikirannya. ucapan yang menyentil gue. dan terbayang mereka semua ucapain kalimat yang di jas gue. dari papa mama, kak maxwell dan keluarga serta anaknya, kak yua, harsa, dan tiba-tiba ada bayangan nia ikutan.

gue kembali meregangkan kembali tangan gue, kembali rasanya sangat kenyal, “ohh shittt,” gue gak bakalan bisa tidur lagi kalau begini..

“AHHHHH!” teriak gue cukup keras untuk melupakan masalah itu sementara,

Bersambung