Cerita Sex Boss Part 40

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 39

Nia.

Masih teringat jelas pertemuan siang , aku langsung betemu dengan pemilik perusahaan yang pak handoyo bilang.

orang yang bernama mr. peter, ternyata sudah berumur. Mungkin sudah umur enam puluhan.

Saat aku sampai di hottel, beliau sudah memakai kimono handuk dan menunggu di balkon.

“niaa” angguk aku masuk kedalam.

“silahkan baca kontraknya, itu hanya gaji, belum inentif” ucapnya langsung to the point saat aku belum baca semuanya, dari daftarnya aku mendapat gaji seperti yang di janjikan. Tapi hanya setahun kontraknya.

“dan saya sudah tanda tangan, sisanya tinggal kamu,”

“tapi mr. tak ada tanda tangannya buat saya”

“tanda tangannya disini,” ucapnya mengajak di tempat tidur sambil menepak-nepak kasur, seketika aku tau ternyata tanda tangan di atas perut, artinya seperti ini.

Seketika aku ragu melakukannya, teringat semua kejadian yang aku alami sekarang, terutama tentang ingatan soal sherly, pasti dia ingin membantu dengan menjual diirku sendiri.

“maaf mr. sepertinya saya membatalkan kontrak ini” senyumku membungkukan tubuhku,

“why?”

“saya tidak bisa melakukannya, ada seseorang yang lebih beharga untuk mendapatkan tubuh saya” ucapku yang terlinta pikiranku saja, sepertinya aapa yang aku ucapkan benar. Aku bisa membahagiankan orang-orang terpenting hidupku tanpa harus seperti ini.

Aku kira mr peter akan marah karena aku tidak tanda tangan, melainkan dia senyum dan memelukku,

“saya memang sangat terkagum dengan bentuk tubuhmu, tapi saya lebih kagum alasan yang kamu kasih ke saya” ucapnya.

“Dan lelaki yang kamu maksud itu, a very lucky man” senyumnya mempersilahkan aku keluar dari kamarnya.

“iah maaf, sebelumnya, saya pamit” ucapku langsung kelur.

“haaa” aku menari nafas dalam-dalam karena hampir terjerumus dengan hasutan sherly secara gak langsung. Uang memang menggiurkan.

Di lain sisi rasanya lega setelah meluapkan masalahku secara tak langsung dengan mada tadi, di pundaknya begitu nyaman sampai aku menangis sejadinya. Padahal saat itu aku hanya ingin menaruh kepalaku di pundaknya.

Tanpa sadar aku tertidur setelah mandi, aku terbangun karena suara petir tiba-tiba menyambar. Aku langsung bangun buat rapihin handuk.

Albert tidak pulang malam ini karena dia nginap di rumah temannya,

“enggh neggghhh” suara ddesahan cukup keras dari kamar mama. aku penasaran aku pikir mama lagi mantrubasi, ternayta papa pulang.

Aku mendorongnya sedikit karena memang tak tertutup rapat, memang kadang pintu di kamar aku juga gak ke tutup kalau gak di kunci.

Mama terlihat pakai model lingrie, walau dari umurnya tapi tubuh mama masih terlihat sekal, apa lagi posisi yang sekrang lagi women on top.

“ngikk ngiik ngikk” bunyi tempat tidur mama papa saat mama terus menggerakan pinggulnya, tak lama mama menekan pinggulnysa sambil mengikat rambutnya, pinggulnya terlihat berputar-putar.

Tak lama mama memutar tubuhnya, mama membelakangi papa yang masih di bawah, kembali menggerakan pinggulnya,

Aku baru tau mama seliar ini di ranjang, aku kira papa yang lebih dominan.

“ohh basah” gumamku memegang celanaku,

“auhhhh” desisnya pas aku memilih menyudahinya, aku merasakan mau melakukan manstrubasi.

Aku langsung mencari benda pemberian harsa, nama kardusnya Vibrating Panties Wearable Remote Control Egg Mini Small Vibrator, bentuknya seperti hanya menutupi vaginaku, tapi ada tonjolan kecil di dalamnya.

Aku langsung membuka celanaku menempelekannya dan memakain hotpants,

“eehhhhh ngh” pekikkya saat tiba-tiba rasa getaran menjalar ke sluruh vaginaku, aku langusng merapatkan kakiku.

Ternyata getaranya bisa di atur, aku pilih medium dengan getaran yang seolah ada kepala penis yang di gesekan ke vaginaku.

Aku merebahkan tubuku dengan rileks sambil memainkan buah dadaku, sendiir. Memainkan putingku sendiri. Dan terbayang dua sosok sekaligus, yaitu harsa, dan tiba-tiba berganti dengan mada.

“oh ia kayak ada” aku teringat benda yang belum pernah di pakai selama terapi dengan harsa, aku mencari benda seperti borgol tapi terbuat dari bahan yang lembut.

Kalau gak salah harsa pernah bilang untuk menghukumku, dan ketemu, ada empat buah. Sepertinya buat kaki sama tangan.

Aku ambil dan naik Kembali ke atas Kasur, aku langsung pakai buat kaki dulu dan mengkaitkan di ujung tempat tidur.

Rasanya aneh kaki benar-benar terbuka lebar, vibratorpun Kembali menyala,

“ohhhh~” lengkuh mencoba merapatkan kakiku, tapi tak bisa, getaran lebih terasa daripada yang tadi. Dan sensasinya juga lebih terasa.

Sekarang coba lagi dengan kaki yang lebih mengangkang, aku langsung set automatic, dari perlahan sampai

“aaaahhhhhh ugghh” aku gak bisa nahan mau klimaks saat getaran vibratornya tak karuan,

“Ohhhhhhh shhhh” tubuhku langsung bergetar hebat,

“ahaa haaa, haaa” nafasku seolah habis karena klimaks tadi, saat aku copot vibranya di ikuti cairan putih cukup kental langsung basahin seprei.

Tak jauh beda klimaks dengan tangan ataupun dengan vibrator, sama-sama membua kehabisan nafas sesaat.

***

“huaaa kesiangannnn” pekikku melihat jam di ponsel sudah jam tujuh pagi, aku langsung lihat alat-alat mainanku, yang ternyata masih berantakan. Aku langsung rapihin ke tempat yang tersembunyi.

“sini aku bantu ma” aku langsung ambil baskom kosong,

“pesanan lagi?”

“iah, lima puluh bungkus,” ucap mama

“hooo buat siapa ma?”

“nci yang toko kue, buat bagi-bagi katanya” jelas mama, aku awalnya mau bantu tapi hanya bantu merapihkan aja. aku telat bangun sampai ketinggalan ikut mama bantu buat kue dadar gulung. padahal aku mulai bisa membuatnya.

“masukin ke kardus san” pinta mama saat aku masukin ke baskom.

“kenapa emang?”

“masa ia kamu bawa baskom ke pasar?”

“uhm hehe” aku langsung masukin ke kardus,

“aku yang antar yah” pintaku langsung tenteng keluar rumah.

“naik becak aja sann” teriak mama dari dalam rumah.

“ngak usah, deket kok” kataku mengangkat karus dengan satu tangan, dan benar harusnya aku naik becak tadi, tanganku bergantian menenteng kadusnya. yang awalnya enteng tapi sekarng cukup membuat tanganku pegal.

“pagi ncciii” kataku taruh dus nya di meja depan.

“loh kok kamu yang antar?’ tanya nci pas aku kasih dus nya.

“hehe ia sekalian aja, “

“oalaah, ya taru sana aja, nanti juga di ambil sama orangnya” katanya.

“iah, kalau boleh tau siapa yang beli semua?”

“mada, dia setiap bulan selalu beli roti kue dan semacamnya buat anak-anak belakang pasar,” jelasnya buat aku terdiam sejenak.

“ini aja?”

“ngak, ini roti juga, “ tunjuknya kardus yang penuh roti, nci pun langsung ambil uangnya dan langsung kasih ke aku.

“ini buat kamu, baru matang, cobain dulu enak atau ngak kasih tau ya“ ucapnya kasih satu buah roti

“roti manis ya?” aku bisa mencium aromanya yang benar-benar enak. aku sering cium wangi roti baru matang seperti ini, dan memang roti yang nci kasih baunya manis itu hidungku,

“iah, kamu suka?” angguk aku menerima rotinya. Dan nci kembali ke dalam sepertinya dia sedang sibuk karena hanya dua karyawan yang bekerja, biasanya ada empat atau tiga,

“gimana rasanya? Gak kalah sama roti bredtok kan?”

“breadtalk maksudnya ?”

“nah itu, ribet Namanya” tawanya, itu buat aku ikut tersenyum aja sambil cicipin lagi rotinya yang memang enak gak kalah sama roti mahal.

“nci aku pulang, makasih yah” kataku saat liat mada jalan ke arah sini, aku langsung sembunyi di samping tokonya.

Mada langsung membayar semua yang ada di dalam dus, totalnya ada empat dus, mada membawanya sekaligus di pundaknya.

Aku diam=diam ikutin ke arah belakang pasar, dan ternyata ada seperti kampung kecil di belakng pasar dan sedikit masuk ke gang lagi, disana lebih banyak anak kecilnya dan juga beberapa seperti perman pasar yang sudah mangkal di depan pasar aku yakin itu.

Apa mungkin mada membayar jatah ke preman itu, tapi saat mada datang anak-anak itu datang langsung membawa dus yang mada bawa, dan langsung di bagi-bagi satu sama lainnya. aku mengintip di pinggiran tembok yang cukup lembab.

“KECOAAAAA” teriaku saat kecoa berjalan di kakiku, aku langsung lari kencang sampai tak sadar aku lari ke arah dalam bukan kearah luar, membuat mereka semua terdiam melihatku termasuk mada.

“nia?”

“kamu kok ada disini?” ucap mada langsung datang ke arahku.

“heehe, tadi ada kecoa “ kataku pelan. Mada langsung pegang tanganku keluar dari sana dan masuk kembali kepasar.

“kamu ngapain?”

“sorry aku gak sengaja liat kamu, jadinya ikutin kesana, “ kataku pelan. Dan terasa ada sesuatu yang berjalan di dalam bajuku. pas mau keluar gang dari tempat tadi

“kecooaanya masih adaaa!” ucapku loncat-loncat membuat mada berusaha bantu, tapi tak bisa aku terus melompat-lompat.

“dimana??”

“di dalem bajuu,!” ucapku benar-benar panik, di tambah aku gak berani memegang atau semacamnya. Aku sedikit jijik dengan kecoa. Karena aku pernah di jailin dengan kecoa pas masih kecil, kejadian sama kecoanya masuk kedalam bajuku dan berjalan-jalan santai di dalamnya.

“tenang nia, jangan lompat-lompat” ucapnya, aku mulai tenang tetapi ada sesuatu yang berjalan di dalam tangtopku, aku juga lupa aku memakai tangtop dan di lapisi kaos aja, soalnya aku belum mandi.

“sekarang dimana kecoanya?” aku menunjuk kearah dadaku, membuat mada terlihat kaget dan menolah ke kiri ke kanan seolah takut ada yang lihat.

“gak apa-apa?” tanyanya lagi, aku merasakan kecoanya tak bergerak, aku sendiri mulai merinding.

“iah cepetaan madaaa, di tengah-tengah!!” kataku merasakan kecoanya mulai berjalan lagi masuk kebelahanan buah dadaku. Dan rasanya ingin lompat-lompat lagi.

Dengan cepat mada langsung memasukan tangannya ke kaosku, tapi tangannya salah masuk dia meraba buah dadaku kiri ku.

“enggghh” pekik kaget, karena telapak tangannya benar- benar mencengkram buah dada kiriku.

“bukan itu, Tengah-tengah!!” ucapku semakin panik,

“ahhh salah” ucapku lagi, ternyata mada menutup matanya, tapi tanganku kini meremas buah dada kananku, dan untuk ketiga kalinya tepat tanganya di belahan dadaku

“dapet ini” ucapnya membuka matanya dan menunjukan kecoa yang ternyata kecil.

“ih buang ahh geliii!!!” aku langsung merinding melihat kecoa secara dekat. Mada tiba-tiba tertawa.

Dan sekilat aku teringat kejadian yang paling menyeramkan seperti itu, aku udah lupa orang yang menjaili aku dengan kecoa,

“ada yang lucu?” aku mengerutkan dahiku.

“ngak, kecoanya masih bocah kecil,” katanya langsung jalan kkeluar gang, dan yang jelas pasar semakin ramai aku tak bisa menemukan mada yang langsung menghilang.

“madaaa” teriakku saat mada sudah menghilang dalam kerumunan orang pasar, pasti mada pergi karena dia merasa tak enak karena salah memegangnya beberapa kali, Aku tak akan mempersalahkan itu karena aku yang memang menyuruhnya untuk melakukan itu, pasti mada berpikir macam-macam. dan aku akan lupakan kejadian ini.

Bersambung