Cerita Sex Boss Part 39

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56

Cerita Sex Dewasa Boss Part 39 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 38

Harsa

Kejadian kemarin membuat aku sama bella semakin dekat, dan jujur rasanya bisa melupakan nia yang sudah terlanjur aku jatuh cinta ke dia.

Bella rajin datang ke rumah untuk mempersiapkan pernikahan kak yua yang tinggal beberapa minggu kurang.

Yang gak langsung aku sama bella akan jadi Groomsmen dan Bridesmaids, itu permintaan kak yua.

“hara pasti gak bakalan datang ya?” suara bella kasih gue jus jambu pas lagi duduk di kolam renang.

“entah bel, dari gue sendiri sih berharap datang, tapi tau kan keras kepalanya gimana?”

“ya sih, tapi lo untung gak sekeras kepala dia ya, “

“masa?”

“iah, setiap orang pasti punya, tapi lo gak sekeras itu, “ senyumnya sambil lirik

“ terus?”

“yang gue suka aja lebih lembut ?”

“bukannya lebih suka yang keras?”

“ohh ya ituu?” liriknya tajam dan hitungan detik bella remas penis gue sekeras mungkin membuat biji ku merasakan linu. Dan detik itu juga aku teriak kencang.

“aahh bella… linuuuu” ucapku pelan sambil meringis.

“bomatt… bantuin lagi ah, “ bella melangkah pergi tanpa memperdulikan biji penisku yang terasa linu karena remasannya benar-benar keras.

Dengan sedikit pincang sambil pegang penisku yang masih terasa linu segera ikut kembali ke dalam buat bungkusin souvenir.

Aku tersenyum sendiri melihat bella begitu akrab dengan anak kak maxwell, seolah bella sudah bagian dari keluarga ini.

Apa itu pertanda kalau mereka setuju kalau hubungan aku sama bella semakin dalam, tapi tak ada salahnya aku mencoba menyukai bella,

“udah cocok ya gendong anak?” ucap kak maxwell pas aku lagi liatin bella yang gendong anaknya kak maxwell.

“apaan sih ah” gumamku

“gue setuju tuh kalau lo sama bella, lagian si hara juga udah mantan kan?”

“ya tetep aja mantan orang deket masih ngeganjel aja” kataku,

“harus tanya itu orang, masih ada persaan sama bella apa ngak”

“hara?”

“ya lah, siapa lagi?”

“mama juga kayaknya setuju tuh, walau pun gak bisa masak, tapi dikit-dikit bisalah” bisiknya sambil ketawa cekikikan.

tapi memang sih bella gak pernah masak, berbeda sama istri kak maxwell yang jago masak, dan juga calon suami kak yua juga jago masak, mereka semua sama-sama jago masak saling melengkapi soal masak memasak.

Nia di rumah sampai malam, tepatnya jam tujuh.

Aku langsung antar bella ke apartemetnya, dia bilang besok pagi-pagi ada janjian sama clientnya. Kalau aku gak antar kasihan juga udah malam.

Perjalanan aku curi -curi pandang saat bella lagi sibuk menerima telepon, kenapa gue merasa dia semakin cantik. Sampai tak terasa sudah ada di apartmentnya.

“mau mampir apa langsung pulang har?” tanya bella siap-siap keluar dari mobil.

“iah, dah jam sembilan juga”

“uhmm.. boleh temenin gak sampai pintu aja?” ucapnya pelan.

“hmm,,” aku menatap matanya sebentar.

“aaahh aah sakit, ih kenapa sih suka cubit, tapi remas biji”

“makanya jangan mikirin macem-macem harsaaa”

“gue minta anterin, lobi apartement banyak cowok brengsek suka godain cewek lewat” jelasnya.

“uhmmm” aku sendiri belum percaya.

“ya udah, gue sendiri aja” bella langusng keluar dari mobil.

“bell waitt” aku langsung susul bella yang udah masuk ke lobi, dan benar ada sekitar sepuluh orang yang nongkrong.

“doktell aku sakitt,, aaaaa sakit diisni”

“iah doktelll

“hahaha” bella sedikit terdiam, saat ada orang yang menghadangnya, aku langsung setengah berlari.

“sorry telatt” kataku pegang tangannya buat lanjutin jalan ke dalam lift. Seketika orang yang godain bella langsung menjauh, dan terdiam. Sebenarnya aku juga takut kalau mereka semua nekat melakukan sesuatu ke gue atau bella.

“sorry ya bel” kataku saat pintu lift tertutup.

“tapi emang dia sering godain cewek lewat? Gak ada satpam?” tanyaku coba turunin badmood bella.

“ada tapi mereka sekedar godain aja, gak sampai macem-macem, gara-gara mereka kadang ke kamar jadi lebih lama” tanganya terus gengam tanganku. Aku juga lupa pasih pegang tangannya.

“bell,” kataku gengamnya lebih erat.

“apa?” bella tak menoleh kearahku.

“sini liat”

“muachh” kecup pelan di bibirnya saat bella noleh ke arahku.

“whattt?”

“gue kepikiran soal gue coba suka sama lo, “

“terus kenapa cium-cium?”

“uhmm, ya karena gue mulai suka sama lo” kataku garuk-garuk kepala sendiri.

“telatt ahh!!!” aku langsung pasang wajah terkejut, apa jangan-jangan bella udah punya yang lain.

“lo udah ada?”

“hhehe ia, har” senyumnya lepasin genggaman tanganku.

“haaa?? Kok cepet banget?? Kapan? ” jantungku langsung terasa berdetak kencang, persaan baru kemarin,

“kamuu ” ucapnya rangk pundakku. Dan ciuman kecil di bibirku

“kenapa kaget?”” lanjutnya tetawa melepas rangkulan di pundaku.

‘iahlah, kaget, gue kira siapa” bella beneran bikin senam jantung sebentar,

“tapi lo serius soal ucapan lo tadi?” tanya dengan tatapan tajam.

“hmm iah, “ jawabku pelan, sambi peluknya pelan mendorongnya pelan ke dinding lift.

“tinggggg” suara lift terbuka, dan tepat aku juga mau mencium bibirnya. Tangan bella langsung menutup pintu liftnya lagi. Dan langsung merangkul leherku

“mmuaachhhh” ciuman penuh perasaan dengan bella untuk beberapa menit. sampai pintu lift kembali terbuka, ternyata ada orang yang untungnya tak melihatku sama bella.

Aku sama bella langsung bersikap normal, dan keluar dari lift, menuju ke kamarnya.

“ke dalem lanjut?” ajaknya saat buka pintu.

“udah kemalaman juga beb, eh bell”

“yakin??” bella melemparkan tasnya sambil membuka kancingnya satu persatu dengan tatapan menggoda.

“iah, yakin,”

“ kedalem juga bukan istirahat bisa-bisa olahraga malah” tawaku sambil pegang pipinya.

“uhmm ya udah,”

“aku pulang yah” angguk bella, memukul pelan bibirnya dengan jarinya. Aku tau maksudnya langsung mencium bibirnya lagi, tapi bedanya aku meremas bongkahan pantatnya saat lidahku sama lidahnya saling tarik menarik.

“ah, dah sana” senyum bella lambaikan tangan.

Sambil kembali ke parkiran, aku masih kepikiran apa barusan aku menembak bella secara gak langsung. Jujur rasanya jantung gue berdetak kencang sampai sekarang.

***​

Mada-

Malam ini gue temanin nia beli makanan, ia pilih martabak telor dan es selesasi, tapi dia gak mau makan disini.

“makan dimana?”

“taman yang kemarin itu aja arah pulang”

“bawa ini aja?” angguknya.

“oh gimana tadi interviewnya?” tanya gue sambil jalan kearah taman,

“nanti aku bilangnya,” ucapnya menghela nafas panjang, sepertinya ada yang terjadi sesuatu dengan intervienya.

Sesampainya gue duduk di bangku panjang, dan bersiap buka bungkusan martabak telornya. Tapi nia duduk di samping gue,

“boleh pinjam pundak kamu sebentar?” ucapnya pelan

“boleh” nia langsung menundukan kepalanya sampai bersandar di bahuku, dan gak lama terdengar isak tangisnysa.

“cengeng” celetukku.

“aku gak cengeng, aku cuman sedih aja!!” jawabnya

“sama aja kali”

“ih ngaakk, bedaa, aku nangis cuman satu masalah yang belum aku alami, kok” ucapnya membela diri sambil terisak.

“terus kenapa gitu?” nia tak menjawab dia memilih melanjutkan isak tangnisnya yang mulai mereda.

“soal pilihan yang aku tanya ke kamu kemarin” ucapnya langsung menggesekam mukanya ke bakuku pengganti tissue buat menyeka air matanya.

“udah dapat kerja??” nia kembali terdiam dan langsung menggangkat kepala dari pundakku, matanya memerah tetapi dia udah gak menangis lagi.

“iah, aku ambil” senyumnya lirik,

“terus kenapa nangis?”

“aku gak jadi tanda tangannya,karena ikutin saran kamu,!” tunjuk jarinya tepat di wajah gue.

“haa?”

“iah serius, aku gak jadi, soalnya pas aku mau tanda tangan, aku gak bisa egois, dan kepikiran soal papa mama,dan adikku”

“kamu yakin?”

“yakin, aku udah putusin soal itu, jadinya aku cari kerja yang sesuai aja, udah gak muluk muluk seperti dulu” ucapnya sambil menarik nafas panjanga.

“dan sekarang menjadi pengacara dong?”

“haa pengacara?”

“pengangguran banyak acara hahaha” nia tertawa geli mendengarnya, tapi benar dia lebih cantik seperti ini, walau habis nangis tapi wajahnya lebih natural tak pakai make up.

“aku gak pengangguran tau, aku bantu mama jualan kue sekarang tiap minggu!”

“oh ya? Dimana?”

“di pasar, titipin kuenya ke nci”

“kue dadar gulung itu bukan?”

“iah hehe, kamu udah coba? kemarin juga ada yang borong, seperti mereka suka” bearti kue yang gue kasih buat anak-anak kue bautan mama nya nia, sepertinya nia gak boleh tau dulu.

“udah kok, udah pernah beli di nci, enakk,” ucapku senyum.

“haaaaaa legaaaa” gumamnya mengangkat tanganya tinggi, sampai terlihat bentuk bulat dari bajunya.

“uhuukkk uhuukk’ gue tersedak martabak saat tak fokus, dan menatap ke buah dadanya..

“minum, dulu” nia kasih es selasi yang tadi di beli, dia juga langsung caplok martabak yang aku udah buka duluan.

“terima kasih banyak ya mada.. “ ucapnya sambil makan, sesekali dia mendongakan kepalanya sambil menarik nafas panjang

“buat martabakanya?” angguk nia, padahal dia sendiri yang beli, gue cuman numpang bawain dan makan.

“kalau gitu aku pulang ya, byeee” nia langsung berdiri, dan aku reflek nahan tubuhnya saat dia hampir tersungkur karena celannya nyangkut di paku yang membuat kaki satunya tertahan,

“hampir” gumamku baru sadar tanganku menahan buah dadanya, sedangkan nia masih sibuk menarik celananya, telapak tangan gue tepat mencengkram buah dadanya yang terasa tak muat di satu kepalan tanganku.

“hehe, nyangkut” ucapnya ketawa kecil setelah celananya terlepas dari paku, dan nia gak sadar kalau aku menahan tubuhnya dengan memegang buah dadanya yang kenyal.

***​

Daripada gak habis, gue mendingan balik ke tempat babeh, jam sembilan belum, pati babeh juga belum tidur jam segini.

“Woiii janga lari lo anjenggg, “ suara beberapa orang, tak lama ada orang yang di kejar -kejar oleh sekelompok orang,

“itu mirip preman si boris” gue terus perhatiin dia lari ke gang pinggir pasar,

“wah beneran itu bang boris, tapi di kejar sama siapa?” gue langsung putar balik coba kejar lewat depan.

Sekilas kembali lewat mereka membawa senjata tajam sekaligus obrak abrik lapak pasar saat kejar ke dalam pasar.

“ayoo har,, berpikir” gue pukul kepala gue, dan langsung masuk pasar buat bantuin bang boris, karena pasti ini mereka yang di omongin orang-orang pasar.

Bang boris masuk lagi ke dalam gang samping, yang gue tau disitu gak ada jalan cuman ada tembok tinggi. Tapi ada satu gang lagi sebelum gang buntu.

“braaakk” gue dorong semua palet yang tersusun tinggi sampai tutupin jalan pas bang boris lewat.

“siapa lo!!” teriak bang boris saat dia jatuh karena kaget sekaligus ambil ancang-ancang mau mukul.

“ayoo, lewat sini cepet!!!” suara mereka semua udah terdengar di palet yang runtuh.

“cepetann!!!” teriak gue , bang boris pun mau ikutin gue keluar gang, dan motor gue udah tunggu disana. Tapi bang boris seperti gak kuat lari dia lari sambil pegang punggunya.

“uudah aman” gue cari tempat agak rame, bang boris bersandar di tembok, dan gak lama dia langsung duduk, tapi temboknya berubah merah seperti bercak darah.

“punggu lo bang kenapa?”

“kena bacok, “ ucapnya meringis.

“naik, kita ke klinik!” gue minta di naik lagi,

“gak usah lah, kecil kok” ucapnya dengan nafas terengah-engah.

“cepetaaann!” bang boris akhirnya mau dan gue langsung ke klinik yang udah tutup.

“rennnnaaa, reennaaa!” gue ketok pintunya lagi cukup lama, sampai akhirnya rena membuka pintu,

“sorry ganggu, daruratt ren” ucap gue langsung ajak bang boris masuk ke dalam klinik, tepatnya tempat periksa seperti nia kemarin.

Gue langsung ambil peralatan yang wajib ada, seperti air bersih, baskom, akohol, dan lain-lain.

“gue aja sini” ucap rena langsung pakai kemeja dokternya.

“gak usah, luka bacok, mendingan lo tidur aja” ucap gue langsung gunting bajunya bang boris yang terlihat lemas duduk.

“aahh” jerit rena pas melihat luka bang boris yang ternyata panajng dan cukup dalam. Gue langsung berisihin sekitar lukanya. Sekilas rena terlihat mual.

“sebentar ya bang, mau ambil jarum jaitnya” ucap gue setelah kasih dia suntikan agar tak merasakan perih.

“ini” suara rena yang ternyata ambil benang jahitnya dan jarumnya. Gue kira dia karena gak kuat lihat lukanya.

“thanks” rena langsung memakai sarung tangan plastiknya, menekan lukanya pelan agar gue gampang untuk jahit.

“cut” pinta gue saat satu persatu kulitnya bang boris gue jahit, dan setelah tiga puluh jahitan di punggunya dalam waktu lima menit.

“masih cepet kayak dulu ya, jahit lukanya ” ucap rena puji gue.

Bang boris ternyata pingsan sambil duduk, terpaksa malam ini dia di rawat disini. Dan juga dia kehilangan cukup banyak darah karena lukanya yang tenryata parah dari gue duga.

Gue kira badannya penuh tato seperti perman lain, tetapi bersih tak ada tato, hanya di tanganya aja yang ada.

Dan entah juga kenapa bang boris di kejar orang-orang itu, gue langsung pinta rena tutup rapat klinik, dan gue siaga di dalam klinik, takut orang-orang yang tadi datang ke klinik.

“ren,, gue titip dia yah, gue mau cek babeh” kata gue langsung ke babeh yang ternyata udah tidur pulas sekaligus ngorok.

“untungnya mereka gak kesini,” tapi mereka tergolong nekat buat rusuh, saat masih banyak orang. Apa lagi yang di incar bang boris.

Bersambung