Cerita Sex Boss Part 37

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 37 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 36

Harsa.

Akhirnya aku bisa tidur benar-benar nyenyak karena bukan kecapaian, melainkan seperti bebanku hilang selama ini. Papanya budi benar jabatan yang aku emban membuat beban pikiranku cukup berat dan mempengaruhi semuanya.

Di tambah sudah satu minggu lebih libido ku bisa aku control, aku semakin yakin aku sembuh secara beiring waktu tanpa harus threatment lagi.

“kak yua pergi lagi?” tanyaku ke kak yua

“ya dong tinggal itungan mingu, harus benar-benar perfect nanti” ucapnya pergi Bersama jaden, aku baru tau Namanya calon kakak iparku. Maklum aja aku jarang pulang dan jarang ketemu.

“bella kok jarang main ke rumah lagi harsa?” tanya mama yang lagi membuat sesuatu,

“haa?”

“ngak tau juga ma, hehe dia juga tiba-tiba gak balas chat aku”

“oh, padahal mama suka dia ada disini bisa bantu mama masak, heheh” jawabny penuh isyarat.

“emang mau bikin apa?”

“menu baru, ayam merah, tapi nanti aja yang tau resepnya kan bella, “

“ohh, nanti aku ke kliniknya deh, minta resepnya” kataku keceplosan begitu aja.

“ohh yaudah mama tunggu”,mau gak mau aku harus ke kliniknya

Aku langsung chat bella, tapi hanya read aja, seperti dia marah. Apa mungkin dia juga tau soal itu. Aku punya firasat tak enak soal itu.

Selesai mandi aku langsung ke kliniknya, tapi sesampainya mereka bilang bella tak bisa di temui karena lagi ada client..

“pleasee mbak urgent” ucapku kasih satu lembar seratus ribuan.

“ok, tapi mas bilang jangan bilang dari saya ya” aku angguk.

“dr bella di ruangannya di atas, udah seminggu dia gak praktek entah kenapa, kaya galau gitu mas”

“serius?” angguknya

Firsatku benar dia tau soal itu, aku langsung ke kantor di atas. Pintu tak terkunci bella tak ada di ruangan juga.

“brakkkkk!” suara pintu tetutup kencang, buat aku langsung kaget, ternyata itu bella dengan raut wajah yang datar.

“lohaaaa” lambaian tanganku ke bella, tapi dia benar-benar cuek.

“ngapain lo kesini?” tanyanya jutek.

“suruh mama, minta resep katanya mau kerumah?” tatapan menjadi melirik tajam.

“nanti gue telepon nyokap lo aja, gak perlu datang ke klinik segala“” jawabnya benar-benar jutek

“hmm.. lo marah ya, dan tau soal masalah gue?” bella langsung buang muka dan duduk kursnya.

“gue bisa jelasin semuanya loh, gak seburuk apa yang lo kira” kataku duduk di sampingnya.

“gak usah”

“haaa, gue jelasin biar lo gak marah lagi”

“gue gak marah sama lo, tapI gue kecewa aja “ ucapnya sambil membelakangiKU

“belaaaa, belaa, bentar gue jelasin yah” kataku gue membujuk, baru pertama kalinya aku membujuk cewek yang lagi ngambek, itu pun bukan pacarku.

Gue coba jelasin dari awal ke bella ke inti yang sebenarnya, mulut aku ektra pegal jelasin ke bella yang cuman satu dua patah kata pas aku jelasin, ooo dan uhhh.

“jadi gue minta maaf ke lo, jangan marah lagi ya bella” ucapku pelan.

“gue kecewa aja, kecewa ternyata lo umpetin rahasia kayak gitu ke orang yang gak terlalu kenal” akhirnya bella bicara cukup panjang.

“ya gue terpaksa aja, masa gue tiba-tiba ke lo bilang, gak enak lah, gak enak sama si hara juga”

“ohh jadi karena itu? Gue kan udah lama putus sama hara, seenggak nya gue ada basic soal itu,” wajahnya kembali di tekuk.

“lagian kenapa lo harus marah sama gue, kayak gue selingkuhin aja lo” aku sendiri bingung apa yang harus aku katakan ke bella.

“emanggg~~” jawabnya panjang.

“haaa~, kalau lo suka sama gue, beri gue kasih waktu, lo terlalu agresif bel, ” kataku pelan,

“gue juga minta maaf ya harsa, gue terlalu agresif ke lo,” ucapnya meghela nafas panjang. kini dia menoleh kearahku, wajahnya tak sekaku triplek

“ke hara juga?’

“ia mungkin, gue dulu kan kejar-kejar hara pas kita satu Angkatan, tapi kayak dia terpaksa terima cinta gue pas itu sampai dia bilang putus dan hilang tanpa kabar.”

“udah sejauh mana sama dia? Udah kwik kwik?” celetukku penasaran, pasti si hara lebih bejat dari padaku.

“haa? gak lah.. gak sampai” ucapnya buang muka,

“kenapa lo? Gak percaya?” pas gue berdiri di depannya.

“iah, gimana gue mau jadi cowok lo, kalau gak jujur”

“Hmmm.. gue sama hara cuman sejauh kissing sama mainin masing-masing” jawabnya pelan.

“heeee?? Masa?”

“isshh ya udah gak percaya, lo dah rasain kan masih rapet pas kemarin?” bella langsung duduk di meja sambil melepaskan celana dalamnya, dan seketika dia membuka kaki lebar-lebar.

“sini liat biar yakinn!!!” pikiran mesum aku seketika melonjak seperti bensin yang terlusut api, aku langsung mendekati bella, melihat langsung vaginaya terlihat lebih bersih dari sebelumnya,

“gimana?” tanyanya turunin kakinya. padahal aku reflek mau pegang vaginanya.

“iah percaya”

“terus harsa.. terapi lo gimana? udah fix sembuh?” tanya bella.

“belum baru lima puluh persen, tapi boleh di terapi, gak terapi, tergantung kebutuhan”

“kenapa? mau gantiin jadi patner terapi?” godaku,

“uhmm, emang sama nia udahan?”

“udahanan semenjak gue udah jadi pengangguran”

“jadwalnya?”

“minimal satu minggu sekali onani,” bella angguk-angguk.

“sekarang udah delapan hari sih, boleh terapi atau ngak” lanjutku.

“apaa, liatin gue? suruh gue jadi patner gitu?” tatapan tajam, aku cuman ketawa geli melihatnya.

“yaa kalau mau, gue terima dengan lapang dada” sambil dekatin bella dan pegang tangannya.

“sebentarr harsa,, gue gak tau bantu kayak apaaa?” lanjutnya dengan wajah yang memerah,

“buat klimakas doang kok” tanganku langsung masuk kebawah roknya dan mengelus vaginanya.

“eengghh” desis pelan.

“oh ceritanya balas dendam kemarin?” tanya membiarkan jari-jariku main di belahan vaginanya.

“iah dong” senyumku terus memainkan vaginanya sampai terasa cukup basah, bella juga meregangkan kedua kakinya, dengan begini lebih gampang memainkannya.

“ya udah duduk sana,” pinta bella duduk di sofa dekat meja kerjanya, dan langsung menguncir rambutnya sambil membuka jas dokternya. Dan langsung berulut sambil membuka celanaku sekaligus celana dalamnya.

“gedean siapa?” ledekku.

“lo” jawabnya langsung mengocoknya pelan tak lama langsung memasukan penisku ke mulutnya sampai terasa ke kerongkongannya.

“ahhhh, “ bella melakukannya beberapa kali sambil meremas buah zakar ku perlahan. Jilatan sekaligus lumatannya benar-benar nikmat, Kalau boleh jujur bella lebih lihai soal blowjob, lidahnya melumat setiap inci penis apa lagi hisapan tepat di kepala penisku

Tiba-tiba menghentikan lumatannya untuk mengambil ponselnya di meja kerjanya, Aku langsung menarik roknya ke atas sambil menyelipkan penisku di selangkannya, bella terlihat kaget dan mengerutkan dahinya.

“egh” pekiknya saat remasan di kedua buah dadanya, walau dari luar kemejanya tapi ini cukup buat bella menahan desisnya.

“nooo” ucap tiba-tiba pas kepala penisku sengaja aku masukan dan keluarkan lagi. bella kembali melanjutkan pembicaraanya,

“maaf bu, tadi ada kucing di meja kerja saya” ucapnya di telepon sambil menepak tanganku keras.

“gila lo ya ihh ada client” gerutunya selesai telepon dengan posisi yang sama.

“yahh, gue masukin kalau gue jadi pacar lo” ketawaku terus menggerakan pinggulku di sela-sela paha dan vaginanya, bella menangkat tubuhnya sedikit.

“ohh ayo cepet klimaks, gue mau ada cllientt engghh” ucapnya mendesah pelan, tiba – tiba bella dorong gue dan dia duduk di meja kerjanya sambil melebarkan kedua kakinya.

“sini, gesekin ajaahh” ucapnya menempelkan penisku, kedua tangan kiri menahan penisku agar tetap di posisinya, dan tangan kanannya merangku di leherku.

“ohh yeahhh” desisku. menatapnya.

“nggghhs sshh apa” tanyanya, aku langsung melumat bibirnya, gak lupa membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa izin darinya, tapi bella membiarkan sampai sisa branya.

“sshhh” desahan kecil bella mendongakann kepalanya, saat aku buah dadanya, kiri kanan bergantian, terkadang pinggulnya ikut naik turun.

“udaahh ngghh?” desahnya

“dikit lagi, ” aku terus menggerakan pinggulku semakin cepat, karena terasa juga

Aku langsung merapahkan kedua pahanya dan menekuk kakinya ke dadanya. “ihhh sakit harsaa ahhh” omelnya, tapi dengan begini belahan vaginanya terihat jelas, aku langsung menggerakan pinggulku cepat..

“ohh belaaaa” desisku menghentakan pinggulku.

“craattttttt crootttttttt” semburan kencang membasahai perutnya,..

“haaa~~”

“issh sakit, di tekuk gitu” ucapnya berdiri membersihkan spermaku dengan tissue cukup banyak.

“hehe, kebawa suasana,”

“huu…”

“gue bakalan inget hari ini, awas nanti” ucapnya lagi sambil memanyunkan bibirnya, setelah rapih dia langsung mengambil jas dan keluar ruangan. sedangkan aku masih mersihkan penisku sendiri.

ucapan budi benar, kalau gue lebih sabar, bella patner yang tepat. dan mungkin aja gue jatuh cinta sama dia. menikah muda, membuat anak dimana manapun asal mau.

***​

Mada-

Sebenarnya apa yang terjadi sama nia hari ini, pulang sendiri dengan wajah lusuh duduk di emperan toko. Di tambah nomor tak aktif membuat gue terpaksa meminta bantuan om roni yang kebetulan sedang perjalanan pulang.

Gue bukannya gak mau bantu, tapi gue ada urusan lain setelah bongkar di restoran kak yua, yaitu lihat kondisi babeh resin yang pingsan di becak karena seharian kerja. Dan gue sendiri lagi di klinik rani temenin babeh resin yang sudah sadarkan diri, tetapi masih pakai oksigen, sesak nafasnya kambuh kembali.

“beh bentar ada telepon” ucap gue anggkat telepon dari om roni.

“iah om kenapa?”

“teman kamu udah om antar pulang dengan selamat” ucapnya secara gak langsung membuat gue senyum,

“tapi nia gak curiga?”

“awalnya, tapi akhirnya dia mau setelah om kasih tau kalau om gak berniat macam-macam”

“oh ya? Bagus deh om, pokoknya jangan bilang nama aku ya om, “

“iah tenang har, eh mada.. om pasti jaga rahasia, sampai kamu mau pulang” ucapnya tertawa, gue cuman senyum dengarnya.

“terus kondisi nia gimana om?”

“sepertinya lagi ada problem besar, putus sama cowoknya, dia jalan kaki dari kantor cowoknya kesini,”

“itu yang om dengar karena di benar-benar kelelahan” lanjutnya,

“sekarang udah baikan?”

“entah, kan om hanya antar sampai rumah, habis itu pulang”

“oh ia, nanti aku tanya deh ke nia, aku terima kasih banyak ke om mau bantuin aku” ucapku menghela nafas panjang.

“om yang terima kasih” suaranya kecil tapi kedengarannya seperti itu

“oh maksudnya sama-sama mada” suaranya lebih jelas, dan sepertinya gue salah dengar.

Rena memastikan kalau babeh resin boleh pulang besok pagi, dan gak boleh kerja dulu selama satu minggu, itu buat pulihin tenaganya karena usianya juga yang harusnya udah tidak bekerja.

Gue sendiri aja gak tau umur babeh resin, antara lima enam puluh itu kalau gue tebak dari wajahnya. dia juga gak mau kasih tau umurnya pas awal ketemu.

***

beberapa hari gue berniat untuk menelponnya, tapi gak jadi, takut dia curiga terhadap, aku pilih buat cari makan babeh makan malam. sesak nafasnya juga udah lebih baik,

“heii madaaa” suara nia pas gue lagi beli bubur kacang ijo, ada di dekat pasar yang jual, dagangnya dari pagi sampai malam.

“heii apa kabar?” balasku

“kamu yang apa kabar? Tiba-tiba hilang pas aku di rawat” ucapnya memanyun bibirnya membuat tersenyum sendiri

“heeh sorry sibuk di pasar, gimana kondisi kamu?”

“udah lebih baik, kok”

“oh ia mau bubur kacang ijo?”

“boleh,” gue langsung pesan dua, dan ambil bangku buat nia duduk soalnya tinggal satu doang bangkunya dan gue milih duduk di pinggiran tortoar,.

“lebih enak duduk kayak gini ya?” tannya ikutan duduk di samping gue.

“hehe iah lebih kerasa angin malamnya” kata gue sekenanya, gue bisa lihat wajah nia lebih sedikit tirus dan terlihat lesung pipi nya dari sebelumnya,

“aku yang bayar” ucapnya ambil duit dari kantong celananya, yang jelas nia lebih kurus dari sebelumnya, mungkin karena sakit kemarin berat badannya menjadi turun, tetapi tidak untuk gunungnya masih terlihat stabil.

“bang satu, lagi di bungkus,” kataku pesan buat babeh resin.

“terima kasih ya” ucapnya saat udah selesai.

“buat?” tanya gue balik, gue takutnya soal dia di jemput kemarin. tau dari gue

“semuanya pas di rumah sakit, “ senyumnya lebar.

“sebenarnya udah lama aku mau bilang itu, tapi belum ada waktu yang pas, hehe”

“iah sesama manusia harus membantu kok, hehe”

“oh ia, apa kamu emang seorang dokter?” tanyanya pelan.

“wahh..di situ masih ada ini ubi, kamu mau?” tanya gue buat alihin perhatian karena belum siap buat jawab itu,

“ubi cilembu, manis beneran “ nia tampak bingung dan aku langsung beliin empat biji,

“kamu satu dan aku satu” kata gue sambil jalan lagi,

“tadi tanya apa?”

“ehmm gk jadi hehe, lupain aja” dia senyum lagi, seolah tau gue alihin pembicaraan.

Di sela-sela perjalan, tangan gue sama tangan nia gak sengaja saling berpegangan, hal itu membuat gue salah tingkah dan milih garuk kepala, Jujur tampak lain seperti ini, lebih natural.

“kenapa? Laitin aku?” ucapnya.

“hee? Ngak, tampak beda aja, hehe”

“lebih jelek ya gak make up?”

“hee?? Ngak lah, mata kamu agak sembab, aja” kata gue melihat sekilat matanya yang masih sembab karena kebanyakan nangis.

“oh hehe ini, gak kok, kelilipan makanya agak bengkak dikit” ucapnya pelan.

“oh iia, aku mau bilang, mulai besok kamu gak usah antar jeput lagi ya,”lanjutnya sambil tersenyum.

“aku udah gak kerja lagi, besok aku kasih duit gajian kamu aku bayar full ya” helaan nafas panjang di pertigaan jalan. padahal gue mau arah ke babeh resin, kenapa jadi arah pulang.

“iah gak apa-apa kok, kamu kerja apa setelah itu?”

“entah, hehe jadi pengangguran yang jelas”

“makasih ya, mada.. aku pulang dulu, byeeee” lambaian tangannya langsung melangkah cepat.

Apa nia nangis gara-gara dia baru putus sama cowoknya, dan makanya dia gak kerja lagi. di lain sisi gue senyum-senyum kalau nia udah putus sama cowoknya, seolah ada kesempatan.

“plaaak, ayolah mad… masa ia gue mulai suka sama nia” yang ada gue malah senyum-senyum lagi, sambil jalan ke arah pasar lagi.

Bersambung