Cerita Sex Boss Part 36

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 35

Nia-

Ini hari kedua aku di rawat, ternyata aku tertidur seharian karena kondisiku seperti ini. Aku tertolong lagi oleh mada secara gak langsung, andai taka da dia mung kondisiku lebih parah dari ini.

Ucapan samar-samar mada terdengar cukup jelas walau aku mungkin sedang setengah sadar karena tak kuat menahan rasa campur aduk di tubuhku.

Nanti saja kalu aku mulai membaik, yang jelas aku dalam pengawasan dokter rena. Dokter yang kenal sama mada. dan kedua orang tuanya yang juga dokter, mereka berdua yang kasih aku pernolongan pertama kepadaku,

“kita cek kondisi kamu ya” ucapnya saat masih jam enam pagi, dia cek satu persatu termasuk infus.

“oke, mulai sedikit membaik, kamu udah lewatin fase kritis kemarin “

“fase kritis??”

“iah, ”

” Kamu mulai merasa sembuh. Demam mulai turun. Padahal, belum. Fase kritis bakal nyebabin pendarahan dan kebocoran plasma darah. Makanya beberapa pengidap bakal ngerasain syok, dehidrasi, dan pendarahan di area kulit, hidung, dan gusi.

“terus Fase kritis demam berdarah bisa dimulai antara 3–7 hari sejak fase demam dan berlangsung selama 24–48 jam. Pada fase ini, cairan tubuh perlu dipantau secara ketat agar tidak kekurangan maupun kelebihan.

“dan juga harus mendapatkan penanganan medis secepat mungkin. Pasalnya, pengidap berisiko mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang drastis, serta perdarahan yang dapat berujung pada kematian bila tidak ditangani segera.

“saya minta maaf yah, saya teledor” ucap dokter rena pegang tangannku. aku gak bisa berkata apa-apa aku cuman senyum.

“oh ia. satu sampai tujuh hari kamu akan pulih” senyumnya pegang keningku.

“kalau adik kamu tidur disini minta matras aja ke saya ya, kasian tadi malam tidur di kolong tempat tidur kamu” tawanya pelan.

“iah dok” jawabku masih lemas. Aku juga gak sadar kalau albert nginap tadi malam disini. Pasti mada yang kasih tau dia. Mama dan papa sepertinya belum dapat kabar, atau mungkin juga sudah. Aku lupa juga bawa ponsel.

“kakak udah bangun?” suara albet seperti baru saja bangun tidur. Aku mengangguk pelan.

“kamu darimana?”

“beli sarapan tadi di depan klinik”

“oh ia kak, mama sama papa nanti siang langsung kesini, aku gak kasih tau mereka tadi malam. Soalnya perjalannya cukup jauh dari sini, aku takut kenapa-kenapa” jelasnya,

“dan ini kak, dari bang mada, Namanya angkak, tapi aku gak tau buat apa”

“iah bilangin terima kasih” kataku pelan, pelan banget. Aku benar-benar tak berdaya

***​

Sudah memasuki hari ketiga, kondisi trombosit aku sudah semakin naik dikit demi sedikit. Dokter rena juga boleh mengizinkan meminumnya yang mada kasih, yaitu angkak.

Dia bilang itu bagus untuk menaikan trombosit, walau rasanya aneh. Karena aku hanya menium air rebusannya aja.

“mama bawa apa?”

“susu beruang sama pocari sweat buat kamu, dari teman kamu katanya”

“siapa ma?”

“mada kalau gak salah Namanya, dia tukang ojek yang sering antar kamu kan?”

“iah, mama ketemu sama dia?”

“ngak, dokter rena yang kasih ke mama” dan ada catatan kecil di dalam, dengan isi wajib meminum susu beruangnya satu hari sekali, dan angkak juga sehari dua kali setelah makan.

Aku tersenyum sendiri membacanya seoalah-olah dia dokter sungguhan, tapi sekilas aku pernah mendengar hal itu. Suatu saat aku akan menanyakan hal itu.

Dan Anehnya selama aku di rawat aku gak pernah liat dia besuk aku, hanya melalui kirimana dari dokter rena. aku gak mengerti kenapa mada menjauh saat aku sakit.

Selama di klinik Mama yang jaga aku seharian, albert harus kuliah dan part timenya yang diam-diam, dan papa pulang setiap hari untuk cek kondisi aku, Padahal mama kasih tau aja cukup.

Sampai hari ke tujuh, aku benar-benar merasakan sudah mulai pulih. Tapi menunggu dari dokter rena, karena aku tak betah beralama-lama disini. Lagi pula trombositku sudah kembali normal. dan mada pun belum terlihat

Tapi di lihat dari semua sisi, klinik itu punya fasilitas lengkap, tapi terhitung sepi, Tak ada pasien lagi selain aku untuk rawat inap,

“gimana kondisi kamu?” tanyanya sambil cek kondisi aku. Di ikuti mama dari belakang.

“udah lebih baik dok, saya bole pulang?”

“boleh kok, ini saya mau cabut infusnya” senyumnya langsung copot infusku,Aku harus istirahat full di rumah sampai benar-benar fit, sekitar tiga sampai lima hari,

Selesai semua urusan di klinik mama liat isi dompet seperti mencari-cari sesuatu,

“kita naik becak aja ya” ucap mama,

“iah ma” aku turutin mama aja, karena naik beca juga sekalian bawa barang juga yang isinya pakaian aku, dan juga matras buat mama tidur kalau malam.

“maa pakai dua becak ya, barangnya banyak” kataku saat melihat orang yang sering di bantu harsa, orang yang biasa mada panggil babeh resin baru saja turunin penumpang di depan klinik. Mama cuman angguk pertanda setuju dan panggil babeh resin.

“aku naik becak itu yah, mama becak satunya” kataku pelan.

“kamu gak apa-apa sendirian di becak?”

“iah ma, ada sesuatu, aku mau tanya seseorang” kataku di tuntun mama ke becaknya babeh resin, seperti dia gak terlalu kenalin aku.

“babeh resin ya?” sapaku saat perjalanan.

“iah neng, kenapa?”

“boleh tanya?”

“boleh kok”

“udah kenal mada berapa lama beh?”

“udah empat tahunan neng,oh ia neng yang pacarnya mada itu ya?”

“haaaa?? Pacar?”

“ngak ngak, hehe temen antar jemput aja kok beh” aku senyum-senyum sendiri di bilang itu,

“ohh ia juga gak apa-apa neng, darah muda suka malu-malu” tawanya.

“maaf ya neng, bercanda” katanya saat gue lagi bingung jawab apa,

“iah beh gak apa-apa” aku merasa gak enak ke babeh resin, seoalh aku marah dengan candaannya, padahal aku bingung untuk jawab apa.

“oh kalau mada kemana beh gak keliatan?”

“oh tuh anak sibuk di pasar, kenapa neng? emang lagi marahan sama mada?” tanya babeh senyum-senyum sendiri.

“haa, ngak ngak, mau tanya aja, gak pernah keliatan ajah” kataku agak malu walau hanya candaa, tetap saja malu kalau aku di sebut pacarnya mada.

***​

Saat sudah entah kenapa aku mengharapkan mada jengguk aku sekali pun, padahal aku mau bilang terima kasih. Apa mungkin karena aku punya pacar, makanya dia agak menjauh.

Selama lima hari juga aku beristirahat full, tanpa beban bikiran. Karena memang sudah tak bekerja. Dan apa kabar boss harsa disana. kondisi aku juga sudah bisa di bilang sembuh.

“albert bilangin mama kalau udah pulang, kakak pergi dulu”

“loh mau kemana?”

“ke ATM, di dekat klinik baru ada ATM” kataku, entah kapan, ternyata di klinik ada ATM, jadinya aku bisa cek saldoku, dan juga mau ambil beberapa.

“haaaaa?? Sembilan puluh??” gumamku kaget lihat nominalnya,

“gak salah hitungkan” aku coba hitung berkali-kali angkanya, dan benar Sembilan puluh lima ratus dua puluh satu juta. Aku langsung hubungin harsa, untungnya nomornya masih aktif.

“hii halo,” ucapku

“hei apa kabar?”

“baik pak, ehm hm” aku jadi bingung panggil dia apa

“harsa aja santai, aku bukan Boss kamu lagi, lagian kita seumuran kan?” ucapnya begitu santai seolah tak terjadi apa-apa.

“itu hmm soal uang yang kamu transfer, itu terlalu banyak”

“gak kok, kamu pantas buat dapat itu, itu sebagai pengganti pemutusan hubungan kerja sama kita, dan ucapan terima kasih untuk semuanya,”

“tapi, hampir tiga kali lipat. Kamu lagi dapat kerugian cukup besar” kataku pelan.

“semua asset atau uang aku kasih gak sebanding dengan pengalaman yang aku dapat, kamu gak usah khwatirin aku,”

“sebenarnya aku khwatir keadaan kamu, aku harap uang segitu kamu gunakan sebagik mungkin,”

“hehe, saya baik-baik aja pak, ia terima kasih”

“iah maaf ya aku bisa membantu sampai sini, “

“ia gak apa-apa saya terima dengan senang hati, kamu juga semoga menjadi orang yang lebih baik”

“ia terima kasih, see u nia”

“bye” Mau gak mau aku menerima uang itu, harsa begitu percaya kepadaku sampai dia memberikan uang bernilai besar untuk keadaanku saat ini.

Aku pulang dengan pikiran tentang harsa, walau sekarang sudah mempunyai jalan masing-masing tapi aku harap mereka berdua menerima ganjaran serupa suatu saat nanti. dan berharap dokter bela sama harsa jadian, mereka benar-benar cocok.

“kak, sini bentar” Tarik albert membawa selembar kertas

“itu apa?”

“kakak baca aja, aku nemu di gudang belakang” aku langsung baca isinya, yang ternyata surat perjanjian pembayaran papa sama seseorang bernama taslim.

“ini kan iiniii haa” gumamku terkejut, aku kenal sama orang ini, ini papanya ares. Tanganku langsung gemetar hebat setelah membacanya.

Ini bearti papa berhutang sama papanya ares, bukanya mereka itu saling kerja sama, bahkan sudah menyetujui hubungan kami, dan menikhat tahun depan.

“gak… kenapa mama sama papa gak bilang semuantya?” kenyataan pahit yang aku terima terus menerus selama ini.

“kakak mau kemana?”

“ke ares!, kakak harus menerima kejelasannya!!” aku gak pikir panjang langsung mengambil jaket, tas kecil, dan langsung menuju ke apartemennya.

“gak boleh nangiss” gumamku benar-benar shok membacanya. Di lain sisi ares susah di hubungin juga.

“areeesssss!!!” aku mengetuk pintu apartmentnya berkali-kali sampai tetangga lainnya melihat apa yang aku lakukan. Aku benar-benar sia-sia ke sini aku rasa ares gak ada disini, di tambah ini hari kerja.

“apa aku harus ke rumahnya?” dan tak lama ares mengangkat teleponku.

“kamu kenapa sib beb? Aku lagi meeting dari tadii, nyesel gak aku tidurin?” ucapnya seolah tak bersalah dengan kejadian kemarin.

“kamu dimana?”

“kantor papa,”

“aku minta lokasinya, ada yang mau aku bicarain peting!!”

“okeh, aku gak bisa jemput kamu tapi”

“iahh gak perluuuuu, aku bisa kesana sendiri” tak lama ares share lokasi kantornya, dan ini tepat kantor papa. Perjalan dari apartemenntya sekitar satu jam.

Sesampainya kakiku terasa gemetar menginjak kantor ini, karena sebelum kuliah aku sering kesini Bersama papa mama. Langkahku terasa berat memasuki loby kantor, tak begitu banyak berubah dari kantor ini.

“maaf mbak, gak boleh masuk,” cegat salah satu satpam

“saya udah janji sama ares”

“ares?”

“anaknya pak taslim, ini saya pacarnya aku tunjukin foto aku sama ares”

“oh sebentar mbak tunggu disini, saya konfrimasi ke beliau” hampir lima belas menit tak ada batang hidung

“silahkan mbak pak ares menunggu di ruangannya, di lantai delapan, ini id card untuk masuk, “ ucap satpam yang cegat aku tadi.

Aku langsung masuk, walau beberapa orang lain melihahtku aneh. Dan berbisik seolah membicarakan aku. Rasanya mereka membicarakanku, karena secara gak langsung karyawan masih karyawan papa.

Aku langsung gesek id cardnya untuk masuk, dan pintu terbuka. Aku semakin yakin ini ruangan papa dulu. Dugaan aku benar seseorang duduk di kursi papa dulu, dan ares berdiri di depan mejanya

“helo beb” sapa ares. Tak lama orang itu membalikan kursinya dan dengan jelas itu pak taslim. Papa ares. Kakiku kembali gemetar.

“wah apa kabar santii? Sehatt?” sapanya, aku haya mengangguk pelan karena masih gak percaya papa berhutang sama dia. yang harus jadi calon mertuaku.

“buakannya Namanya nia pa?” tiba-tiba suara yang gak asing, aku menoleh ke belakang ternyata itu sherly, dengan pakaian glamornya, berbeda sekali saat memakai pakaian office girl.

“oh ya??” ucapnya terkejut papa ares.

“ia dia mantan lonte si harsa di kantor loh” ucapnya sambil senyumnya kearaku. aku cuman bisa terdiam.

“seriuss kak sherly? Ares langsung terkejut langsung menghampiriku sambil menatapku, tak lama juga rudy masuk dengan mamanya ares juga. harusnya aku gak maksa kesini. dan mereka semuenya ternyata satu keluarga.

“yang gue bilang kemarin, dia orangnya” tunjuk sherly.

“wah,, gak nyngkaaa” ares sepertinya benar-benar kaget, kalau aku sama sherly dan rudy saling kenal.

“Cukupp,!, aku kesini mau tanya ke kamu ares, kenapa gak bilang dari awal!”

“bilang apa? gak ada gunanya juga kan?”

“bearti selama ini kamu cuman pura-pura doang jadi pacar aku?”

“ngak kok, emang nafsu aja sama kamu, “ ucapnya senyum seolah mau menerkam.

“kalau gitu mau tanya ke OM Taslim, berapa hutang papa?” pikiranku campur aduk, mau nangis sekaligus marah dan kesal.

“mau tau?” angguk aku pasti

“seumur hidup mereka!”

“hahahahahaa!” aku langsung terdiam, benar-benar masih tak percaya. Masa ada hutang seumur hidup.

“bohongkan kalian semua~!!!!” teriaku menunjuk satu persatu, aku benar-benar menyesal datang kesini. senyum senyum sinis kearahku

“ikutt” ares menarik tanganku agar kasar keluar dari ruangan itu,

“gakkk, lepasss!!” tetap ares menarik tanganku, aku akan ingat terus senyum mereka, ares langsung keluar dari Gedung menuju parkiran.

“masuk” ucapnya kasar dan mendorongku agak kasar masuk kemobilnya.

“jawab jujur ke aku, kamu beneran jadi lonte harsa?” rautnya benar-benar seriusaaan.

“jawab dulu, aku cuman di jadiin alat buat kuasain perusahaan papa aku ha?”

“oke, aku jawab, emang iaaah, dari awal memang gitu.”

“emang dari awal aku cuman di suruh papa buat deketin kamu, dan kita pacarankan?”

” dan sekarang jawab pertanyaanku” ares langsung jalan keluar Gedung,

“apaaah?”

“soal tadi, kamu beneran lonte di perusahaan harsa?”

“iahhh”jawabku memmbiarkan ares kesal,

“cihh, munafik, di entot orang banyak duit baru mau,”

“dari pada di entot gratisan orang kayak looooo!” ucapku dengan emosi memuncak.

“sekarang beda loh, udah kaya raya, mau gak kita ngentot di apartement?”

“ogaaahhhh. KITA PUTUSSSSS!!!” ares menghentikan mobilnya,

“apah? emang gue jiji kalau di entot sama lo” kataku benar-benar marah

“plaaakkkkkkk” tamparan cukup keras mendarat di pipiku, membuat aku terdiam,

“Sekarang turun, gue bilang turun, kita gak ada apa-apa lagi, kita udah beda kasta,” ucapnya pelan.

“CEPET TURUN LONTEEEEE!!, lo budek apa congee?” teriaknya langsung membuka pintu, aku hanya terdiam.

“kenapa? Mau aku antar pulang?, tapi di entot yah, terus crot di dalem” bisiknya remas buah dadaku dari luar kaos.

“oke, aku mau “ senyumku, menatapnya tajam.

“PLaaaakkkkk!” aku tampar balik dan langsung keluar mobilnya,

“LONTEEEEEE Sialannn!!, ” teriaknya kencang sebelum pergi meninggalkan aku di pinggir jalan,

“LO penjilatttttttt!!” balasku kencang. aku terus berusaha gak meneteskan air mata,walau terkadang sedikit menetes. harusnya gak tau semua ini. rasanya sangat sesak.

***​

Aku terpaksa jalan setelah di turunkan oleh mobil angkutan arah ke rumah, aku tak punya uang lagi. padahal ini masuk cukup jauh,

Kalau bisa di sebut aku sedang jatuh tertiban tangga, ponsel mati karena malam lupa di charger dan lupa dompetku tertinggal di meja saat melihat surat itu, hanya uang tadi yang tersisa di dalam tas kecil.

“jam Sembilan malam” gumamku jalan kaki, yang entah ini arah ke rumah atau bukan karena belum memasuki wilayah yang biasa aku turun dari angkot,

“haa capek”

“tapi benar arahnya kesana” aku duduk sebentar karena dengkulku terasa lemas hampir satu jam berjalan sampai aku melihat angkot yang biasa turun di peremepatan lampu merah.

Aku kehabisan tenaga, haus dan juga lapar. Sambil sedikit mengingat kejadian tadi membuat aku kembali mau menangis, tapi aku bisa menahan kembali.

Sudah tiga puluh menit aku masih belum bisa melanjutkan perjalanan, tapi aku paksa untuk berjalan. tapi kakiku benar-benar bergetar, aku paksa berjalan lagi dan akhirnya bisa walau melangkah kecil.

Tak lama ada mobil sedang berjalan mengiringi jalanku beberapa saat, aku buang muka seolah berharap itu ares, tapi gak mungkin dia. Aku sudah tak ada hubungann lagi, orang yang mengambil semuanya dari papa. orang yang aku percaya semua mengkhianatiku. entah dosa apa yang aku lakukan dulu.

“saannnnn” suara papa, awalnya aku gak noleh, karena mungkin itu halusinasi aku suara papa panggil aku.

“santiii” ucap pelannya, membuat aku menoleh karena dan aku langsung menghentikan langkahku saat tau ternyata di dalam mobil itu papa,

Papa langsung hentiin mobilnya dan menghampiriku, aku langsung lari dengan sekuat tenaga kearah papa langsung memeluknya erat.

Pada saat itu juga aku langsung menangis sejadi-jadinya, papa memelukku erat seperti anak kecil, dan aku menangis sekeras-kerasnya, aku tak kuat menahanya lagi melihat papa.

Papa hanya diam sambil terus memelukku erat, seperti waktu kecil papa memelukku sampai aku selesai menangis. aku mengingat kembali awal aku mulai membenci papa sampai akhirnya apa yang papa sembunyiin dari aku, itu membuat aku semakin menjadi.

“udahs selesai?” tanya melepaskan kemejanya mengelap air mataku dengan baju lengan panjangnya yang berubah basah dan kotor seketika. Aku mengganguk pelan walau masih sesenggukan karena aku menangis cukup lama di pelukan papa. entah berapa menit.

“yuk masuk, udah malam” senyum papa buat aku mau menangis lagi, tapi mama menyeka air mataku dengan kemejanya. Papa langsung mengajak aku masuk ke mobil, selama perjalannya juga papa mengelus kepalaku lembut saat sesenggukan mulai mereda, tetapi tetap saja.

Aku merasa sangat bersalah ke papa, semarah apa pun aku ke papa, papa gak tak perdulikannya termasuk sekarang. merekalah yang sebenarnya menerima aku apa adanya, bukan orang lain.

Aku tertidur langsung saat mobil berjalan arah rumah, aku benar-benar Lelah. Sampai terasa mobil berhenti, aku tak terbangun hanya merasakan aku digendong papa masuk rumah.

Lelah, berharap semua ini mimpi~~~~

Bersambung