Cerita Sex Boss Part 31

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 30

Harsa.

Aku bangun di tepat jam dua siang, bandanku terasa lemas, seperti kurang tidur. dan tentunya masih terlanjang bulat.

“haaaaa” aku ingat tadi pagi aku melihat nia telanjang, aku langsung buka ponselku dan benar aku memfotonya tadi pagi.

Ada empat foto salah satu yang aku suka, saat di kearahku sambil mengikat rambutnya. Buah dadanya benar-benar kencang, lekukan tubuhnya terlihat dan tanpa bulu di vaginanya,

Tapi kenapa malam itu libidoku terasa naik secara drastis, apa mungkin karena kebanyakan minum. atau itu karena juga dorongan stress saat kemarin meeting. aku rasa itu penyebabnya.

“pak harsa sudah bangun?” ucap pak rudy tiba-tiba menelponku.

“iah sudah, saya sangat lelah, kamu dimana?”

“saya juga masih di hotel tunggu pak harsa bangun, tadi saya suka masuk tapi pak harsa masih tidur pulas” ucapnya,

“maaf pak saya lancang, karena saya kwahtir” lanjut rudy.

“iah tidak apa-apa, kalau begitu saya akan segera turun” ucapku langsung bersih-bersih.

sekilas berbayang adegan saat aku menciumi nia di wastafel, tapi gak benar-benar tak terlalu ingat.

aku seperti mimpi, tapi ada nya foto membuktikan aku benar-benar melakukannya, aku langgar perjanjian dengan nia. tapi ujung penisnya benar-benar teringat betul rasa sempitnya. tapi juga ada berbayangan sambil menggenjot nia tangannku memainkan vaginanya.

“ahh sial, apa aku harus tanya ke nia, apa aku melanggar perjanjian atau tidak”

selesai check out, aku pun menunggu ke mobil, rudy yang bawa. dan dia juga ternyata melakukan check in tadi malam. bearti dia mabuk sama denganku,

selama perjalanan juga aku mencoba mengingat kembali potongan-potongan tadi malam, aku yakin memasukannya sampai mentok menggenjotnya dengan berbagai posisi. teringat jelas nia menggerang klimaks berkali-kali. begitu pun aku, sampai penisku terasa linu saat kencing.

***

Besoknya, aku ragu melangkah masuk ke ruanganku sendiri, pasti nia sudah datang lebih awal, dan benar saja nia sudah ada di sana. aku berjalan ragu masuk kedalam

“selamat pagi” ucapku mencoba seperti biasa.

“sselamati pagi pak” ucapnya agak gugup saat mata kami bertatap, dia langsung mendukan kepalanya. dan kembali bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tapi ada yang aneh saat dia duduk seperti meringis, itu mengingatku kalau vaginanya masih terasa peih. aku harus bicara empat mata nanti siang.

“permisi pak ini laporan dari pak rudy, tadi” ucapnya. saat aku mau menanyakan hal kemarin,

“oke terima kasih, dan soal kemarin ada yang terjadi sama kamu?” nia langsung tertunduk.

“gak kok, gak masalah hehe, sedikit perih aja pas BAB” ucapnya sedikit ragu,

“BAB?”

“bearti waktu kemarin saya anal kamu?” tanyaku pelan. Angguk nia.meringis.

“dan kita gak langgar perjanjian?” angguknya

“kalau gitu kita ke dokter? Cek kondisi kamu”

“nggh gak usah pak, ”

“saya benar-benar minta maaf ya, saya mabuk berat, saat itu, ” ucapku merasa senang sekaligus bersalah sedikit karena hampir memasukannya ke vaginanya.

“iah pak, selama gak melanggar perjanjian, gak masalah, ” senyumnya kecil.

“saya tenang sekarang, ” lenguh nafasku panjang.. nia langsung pamit keluar, dan benar jalannya agak berebeda lebih mengangkang, dan terkadang ia memegang pantatnya.

“haaa, harsaaaa harsa” ucapku mengomel ke diriku sendiri, mungkin vaginanya tak jauh beda dengan lubang pantatnya, tapi sepertinya nia benar-benar menjaga kesucianya untuk orang yang di cintainya, yang mungkin itu bukan aku.

***​

Beberapa hari ini kabar burung semakin tak sedap terdengar. Terutama mengenai nia, aku beberapa kali mendengar soal nia bisa di booking dengan uang sepuluh juta. Dan ujungnya secara gak langsung kabar itu mengarah ke arahku. tapi nia sepertinya bersikap seolah itu tak terjadi.

“bagaimana pak? saya kenal perusahaan yang bisa membantu dan bisa juga sekalian berinvestasi nanti” tanya rudy saat meeting,

Rudy menyarankan ajukan pinjaman ke perusaahan lain, bukan ke bank., Aku semakin curiga terhadap rudy. Karena dia juga bukan karyawan lama. Saat aku menjabat posisi ini, rudy baru masuk sekitar enam bulan dalam poisisinya sekarang. Dan di masa itu selalu ada penurunan.

“saya pikir-pikir dulu”

“tapi kalau tidak di lakukan, perusahaan ini terus merugi,” lanjutnya,

“ia merugi karena ada duri dalam daging” ucapku jawab di dalam hati, tapi yang lain gak boleh tau ini, bisa jadi lebih susah mencari orang itu siapa.

“ayooo harsaaaa.. pasti kamu bisa” gumamku mencoba menenagkan pikiranku, untuk tidak berpikiran berlebihan soal perusahaan ini.

meeting pun selesai tanpa solusi, aku semakin pesimis soal ini, mungkin om roni benar pada akhirnya tunggu keputusan tertinggi atau bisa di sebut komisaris yang menurunkan aku. dan saat itu juga tahu siapa si duri nya.

***​

Sepulangnya dari kantor aku mampir ke kliniknya bella, walau dia bilang sekitar jam lima jemputnya.

Jam tiga aku udah datang, terlihat tak terlalu ramai.

“sus dr. bella lagi prakter?”

“oh sebentar”

“jadwalnya udah selesai pak, dia lagi ada di ruangannya”

“saya telepeon sebentar” lanjutnya.

“jangan,, saya kesana aja,”

Aku langsung ke ruangannya, bukan ruangan prakter=k tapi tempat kantornya. Berbeda dengan lantai satu untuk prakter.

Di lantai dua ini lebih sepi, dan kantornya bella ada di paling pojok.

“Haloooooo” uccapku langsung buka pintunya yang gak ke kunci. Tetapi ada hal yang gak pernah aku lihat sebelumnya.

Bella sedang duduk di atas meja sambil meragangkan kedua kakinya,

“HARSAAAAAAAAAAA!” teriaknya kencang sambil lempar benda yang di pegangnya ke arahku.

“Sorrryy” bella ternyata sedang manstrubasi pakai alat sesuatu yang di lemparnya, untungnya aku langsung tutup sebelum terkena lemparannya.

Bella membuka pintu dengan tatapan sinis, “ngapain lo?” ucapnya menyilangkan kedua tangannya.

“kan suruh jemput ?”

“ya!”

“tapi masih jam tiga”

“ya udah, lanjutin Sanaa” kataku mau tutup pintunya lagi.

“dah gak mood, males” ucapnya jutek.

“ya terus gimana biar gak moodbooster?” harusnya aku ketemu di waktu yang tepat, kalau begini bisa runyam makan malam,

“entah, gue bete sama lo, “ ucapnya lagi duduk di mejannya.

“ajarin gue lagi gitu?”

“NOO, males, gue ajarin, tapi praktekin lagi gak ke gue” ucapnya bukan darah aku berdesir kaget.

“hee?”

“belum gue prakterin loh, masih belum beneran bisa” kataku sekenanya.

“nooo”

“ya udah, gue praktekin ke lo aja sekarang sambil tunggu jam lima?” tanyaku, bella kalau bad mood wajahnya seperti macan siap menerkam.

“serius?” wajahnya yang tadi seperti macam berubah seketika menjadi seekor kucing. Aku cuman menangguk aja,

Bella langusng menurunkan roknya dan tepampang sudah vaginyanya yang mulus seperti nia, tapi tetap nia yang lebih menggiurkan.

Aku harus coba tahan agar tak ekresi saat memainkan vaginanya, dan aku bisa mengendalikanya libidoku. Bella benar-benar konsisten. Hanya memain vaginanya sampai klimaks, tidak termasuk aku.

Dia arahin seperti kemarin, dan juga gerak-gerakannya hampir sama seperti kemarin,

“pakai ini, kalau mau lebih cepat” pintanya kasih vibrator kecil yang tadi dia lempar.

“yah gituu sama ini tempelin di klitoris gue” tanganya arahin tangan aku yang pegang vibrator ke arah klitorisnya.

“ohhh jari nya sambil keluar masukin harr” pintanya semakin meregangkan kedua kakinya sebelar mungkin.

“haaarrrr ohhhh gituuuu ohh” teriaknya langsung squirt dengan tubuh gemetar. benar-benar squrit, aku melakukannya untuk kedua kalinya terhadap bella, penisku mulai berontak tak karuan.

“selesai?”

“ia dong, mau emang gantian?”

“boleh”

“NOOOOOO!, Kocok sendiri ahahahah” tawanya langsung kasih aku tissue basah, bella langsung ke kamar kecil dan keluar dengan tampang seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa. lagi pula empat hari lagi dari sekarang jadwalnya terapi, jadi aku harus mengalihkan pikiranku ke hal yang lain sampai terapi lagi.

***​

Mada

restoran kak yua benar-benar mengambil rutin bahan makanan dari pasar ini, tapi kali ini bedanya siang hari. gue sih siap-siap aja. tapi ada kendala sedikit yaitu sayuran karena datangnya biasa pagi dan sore,

“ayooo madd berangkat” saat mobil satunya membawa sayuran segar yang ternyata ambil dari suplier lain kenalan langganan biasanya. gue naik di belakang soalnya depan isinya penuh.

entah gue jadi senyum-senyum sendiri melihat orang-orang begitu anusias dengan borongan seperti ini, gue juga ikut senang. kebagaian mereka semua juga kebahagaian gue secara gak langsung.

Sesampai disana, terlihat ada beberapa mobil terpakri cukup banyak.

“mas mas, mau tanya dong” kata gue pas ada karywan yang mondar mandir dari dapur.

“ia ada apa?”

“ada acara itu mas?” gue sendiri gak lihat ada kak yua atau yang lainnya.

“oh acara makan malam keluarga besar Bos sini,” ucapnya.

“tapi untungnya bahan makanannya datang tepat waktu, kalau telat satu jam, pasti boss marah-marah” lanjut karyawannya langsung pergi gitu aja, gue angguk senyum.

“ohh, oke mas makasih” Pantes aja jadwalnya siang hari,

“mad… kayaknya ada razia deh” ucap bang nasir, pas saat perjalanan pulang, jalan gak biasanya agak macet,

“bang nasirr stop” ucap gue lihat babeh resin menarik-narik becaknya yang mau di ambil satpol PP.

“eh mat mau kemana?”

“babeh resin, ituu di depan, pulang aja duluan bang” gue langsung keluar mobil lari ke arah babeh resin,

“Minggirrr!” gue tabrakin diri ke orang yang berusaha angkut becaknya. dua orang pun terjatuh.

“minggirrrr !” teriak gue bangun dan dorong beberapa petugas sampai terjatuh lagi, usaha gue berhasil, becaknya udah gak di pegangin.

“babeh kaburrrr!” pinta gue saat petugas yang lain mau jegat babeh resin, tapi gue tabrakin diri gue lagi sampai terjatuh lagi, tapi gue juga ikut tersungkur kali ini.

Adegan langsung kembali dorong mendorong berlangsung menjadi baku hantam, beberapa orang langsug pukul gue pakai tongkat saat babeh resin udah pergi. gue pun coba balas. tapi gue kalah jumlah

” buggg… buggggggg: Pukulan di kedua kaki sampai gue tersungkur, dan lindungin kepala dari beberapa pukulan tongkat.

“aghh ” Gak sampai situ ada hantaman pukulan di wajah gue. buat gue terlentang pasrah.

“ada apa ini?” suara seseorang,

“Lapor ndan, dia yang bantu tukang becak lari dari sini, dan juga pukul beberapa orang” ucap salah satu mereka, gue gak bisa bela diri karena tenaga gue udah habis buat panggul tadi.

“bawa ke kantor” ucapnya, angkat gue ke truk belakang berikut barang-barang sitaan lainnya, seperti gerobak, kuali dan lain-lain. Kalau begitu gue termasuk barang sitaannya juga. gue cuman bisa terkapar pasrah, dengan tubuh yang semakin nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh gue.

Sampai di kantor, gue di perlakuin seperti maling. Di tendang saat suruh masuk kantor. Dan gue cuman duduk di pojokan beberapa menit. itu buat gue semakin pasrah.

“pak saya mau pulang” kata gue pas kepala satpol pp nya masuk.

“pulang pulang, nginep di sel, kok pulang!” jawabnya galak sambil pegangin jangutnya.

“itu kan di kantor polisi pak, kalau disini ada sel emang?” jawab gue lemes.

“ada tuh Gudang!” ucapnya, langsung intograsi gue

“nama?”

“mada, panggilan mamat”

“tinggal?”

“di pasar” jawab.

“seriuss, alamatnya”

“pasar pak, saya kuli pasar, tadi saya cuman bantuin orang tua, kasian pak kalau di sita,” kata gue pelan tak bertenaga.

“itu urusanmu, siapa suruh sok pahlawan,”

Selesainya komandannya pergi gitu aja, tinggalin gue dengan tubuh masih pada nyeri. Hal itu buat gue menjadi mengantuk. dan langsung tertidur peganganga bangku.

“hee bangun” seseorang menodorng kepala gue dengan seuatu sampai gue terbangun.

“udah sore, pulang sana” ucapnya salah satu bawahan si komandan satpol pp,

“tapi sebelum pulang tanda tangan ini, dulu, perjanjian tak akan mengulangi kejadian yang sama” lanjutnya. Gue langsung tanda tangan.

“lain kali kalau menlanggar bukan di kirim kesini, tapi di sel polisi” ucapnya.

“iah pak. Saya paham” gue langsung keluar ruangan, yang ternyata udah malam, bukan sore lagi.

Rasa haus, lapar, menjadi satu, Tapi gak masalah, babeh resin gak jadi di sita walau tubuh gue pada nyeri.gue dengar kalau sudah di sita gak bisa balik barang yang di sita kecuali bayar buat ambil barang sitaan.

gue pulang jalan kaki, di tambah sendal jepit gue gak ada karena adegan tarik menarik tadi, mau gak mau pulang dengan nyeker, sambil sesekali gue pegang bagian wajah gue yang nyeri, terutama di bagian pinggir mata bekas tonjokan entah siapa.

semakin ngerasain rakyat kecil seperti ini, gue gak bakal tuntut atau pun sejenisnya karena apa yang gue lakuin gue yang nerima konsikuensi dari hal yang gue lakuin.

Bersambung