Cerita Sex Boss Part 28

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59

Cerita Sex Dewasa Boss Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 27

Nia-

Pertama kalinya aku rasain nahan horny sampai keringat dingin seperti ini, apa lagi sampai harus menunggu albert tidur pulas. Di kamar mandi pun tak leluasa. aku terus menunggu sampai malam.

Aku turun kebawah keluar kamar dan masuk lagi, untuk meyakinkan albert sudah tidur. Kalau albert tau aku yang sekarang, bisa-bisa dia bakal salah paham. dan mungkin saja yang aku takutkan bakala terjadi.

Sekarang aku langsung buka celana hotpantsku sekaliagus ccelana dalamku sampai setengah paha setelah yakin kalau albet sudah tidur.

“ohhhhh” dengan perlahan aku menggesekan jari ke belahan vagina, tangan satunya meremas buah dadaku yagn sejak tadi sore terus tegang. rasanya begitu sangat sensitif.

“aaannggghh” aku mutup mulutku dengan menggigit bantal, aku membayangkan aku klimaks seperti boss harsa lakukan. bayang-bayang itu terus muncul, jari-jari bergantian menggesek vaginaku.

“anggghh aahh” aku menggeliat dan sedikit membanting tubuhku sendiri saat klimaks. walau tak sedahsyat kemarin tapi ini benar-benar tak kuat aku menahannya.

“ohhhhhhh nooo,, hmm” aku merasakan cairan hangat terus keluar dari vaginaku sampai aku merapatkan kedua pahaku, tubuhku juga masih bergetar beberapa kali.

Mataku melihat langit-langit kamar sambil menikmati sisa-sia klimaksku tadi, untungnya reaksinya membuat aku sangat lega.

Rasanya kaki begitu lemas dan tubuhku juga, aku merapihkan pakaianku, dan bernitr besok bersih-bersihnya, karena mataku langsung terlelap.

“AHHHHH jam tujuhhhhh!” teriakku saat matahari masuk ke kamar tepat ke wajahku.

Aku kesiang hari ini, karena rasanya masih Lelah. tapi aku harus cepat ke kantor, sepertinya mada sudah menunggu di pasar, aku langsung smsnya tapi belum ada jawaban. jadi mau gak mau aku langsung melangkah/

“tin tin tin tin” suara klakson motor, saat berpapasan dengaku.

“loh kesiangan?” ucapku sama mada dengan pertanyaan yang sama,

“hehe, iah, kan udah aku sms kamu tadi”

“oh ia, tadi aku kira kamu berangkat duluan karena kesiangan,” mada seperti salah tingkah, sambil garuk-garuk kepalanya. yang jelas aku sama mada kesiangan.

dan pada akhirnya aku di antar mada sampai perempatan lampu merah, dan dia tancap gas begitu ada polisi sudah berada tak jauh dari sana.

“haaaa,, boss harsa belum datang ternyata” gumamku melihat mobilnya di parkiran tak ada. nafas legaku langsung masuk ke dalam.

Tapi ada ajeng yang lagi membersihkan lantai atas, aku menarik nafas sebelum berpapasan dengannya. tapi kenapa sherly tak keliatan beberapa hari ini, harusnya kalau di rolling bagian sherly seharusnya.

“pagiii bu seketarisss” ucapnya

“pagi” jawabku.

“sekarang udah mulai nakal yah, mulai bisa godain manager ” ucapnya membuat aku menoleh kearahnya.

“maksud kamu apa?”

“ahhh, pura-pura gak tau yah apa sok jaga image?” ucapnya lempar kain pel di depanku.

“aku gak pernah ada urusan sama manager, lagi pula manager siapa aku juga gak tau, aku cuman seketaris pak harsa aja kok” kataku benar-benar tak tahu apa maksudnya ajeng.

“ih masih jaga image juga ini orang, masa belum dengar kabar burung semakin kencang kalau lo jadi seketaris juga karena jual daging mentah ke pak harsa paham?”

“ha daging mentah?” aku semakin bingung.

“dan gue ingetin yah, jangan jual daging mentah ke manager manager kantor sebelah, itu gue aja, lo jual ke pak harsa aja cukup” ucapnya sambil tunjuk kea rah mukau dan ambil perlengkapannya langsung turun ke lantai bawah.

Otakku semakin mumet apa yang di maksud dengan jual daging mentah, aku benar-benar tak paham. yang jelas aku tak telat di banding boss hara hari ini.

Sekitar duapuluh menit harsa datang, sambil melihat terus jam di tangannya.

“sorry saya telat” ucapnya,

“saya juga pak maaf” kataku saling menatap di ikuti ketawa kecil,

“serius?” aku menangguk tanpa tatap wajahnya,

“oke anggap aja tak terjadi apa-apa,”

“dan satu lagi ada kabar baik” lanjutya berjalan perlahan dan berdiri di hadapanku, tanganya langsung elus pipiku.

“threatment berjalan mulai ke tahap lima puluh persen, dan untuk selanjutnya di lakukan seminggu satu kali” senyumnya.

“iah pak, saya ikut senang,” senyumku,

“gak terasa udah, saya juga berterima sama kamu” lanjutnya

“ih pak sama-sama, jadi lima hari lagi kita lakukan lagi?”

“iah, tentu tanpa obat, ” senyum mesumnya, langsung pergi ke ruanganya,

Dan mungkin tak sampai satu tahun, aku pikir kalau sampai satu tahun, gajinya lumayan. Aku bisa membuka usaha kecil -kecilan entah apa. rasanya begitu cepat. tapi lebih cepat lebih bagus, sepertinya boss harsa mulai menyaiku, tapi tanpa sadar bella menyukainya saat pertemuan kemarin.

“haaaaa” lenguh nafasku.

***​

“Minggu yang ceraaahhhh” gumamku menggeliat di kasur tercinta yang sudah mulai buat nyaman, aku lihat udah jam enam pagi, albert masih tidur seperti biasa kalau hari libur bangun siang. untungnya dia gak curiga soal kemarin.

“ma lagi buat apa?”

“bubur sumsum, tapi nanti siang aja, mama lupa beli bahannya di pasar,” katanya sambil pijit-pijit kakinya sendiri.

“aku aja, aku tau kok bahannya dulu pas di ausie aku pernah bikin desert ,” kataku dengan percaya diri, padahal aku gak pernah bikin bubur sumsum. entah kenapa aku semangat ke pasar.

“ya udah, uangnya” mama langsung kasih uangnya serratus ribu rupiah, aku langsung ambil jaket aku seperti biasa dan berjalan kaki kesana.

Ada alasan tersendiri aku mau ke pasar sendirian, aku penasaran sama kerjaan mada di pasar. Itu saja.

Sesampainya aku bingung arahnya kemana, karena semua jalan bercabang, yang aku tau dekat toko roti yang kemarin mama datangi.

“gak lucu aku nyasar di pasar” gumamku mengingat arah jalannya.

“nah itu dia tokonya” aku kesana berniat untuk tanya jalan karena pagi-pagi disini lebih banyak orang, gak seperti hari minggu kemarin.

“permisiiiii, nci” ucapku pelan, tapi tak ada orang yang keluar dari dalam toko karyawannya pun gak ada. Tapi tercium bau sesuau dari dalam toko. Baunya semakin jelas ini bau terbakar.

Aku langsung masuk ke dalam, ternyata bagian selang yang langsung ke pemanggang yang terbakar sedikit demi sedikit,

“pakai jaket aja “ gumamku cari kain atau sejenisnya, untungya aku gak terlalu panik, aku langsung membuka jaketku dan menyiramnya jaketku sampai basah,

Dengan cepat aku langsung gulung selangnya terbakar dikit, tapi aku terlalu ceroboh, aku dengan percaya diri kalau apinya sudah mati, saat aku angakat jaketku.

“buurfffff apinya tiba=tiba menyembur cukup besar menyabar lenganku, aku kaget tapi tak sampai teriak kencang, karena apinya mati, selangnya juga sudah tak terbakar, aku langsung matiin kompornya.

untung aku pernah belajar soal penanganan pertama di dapur.

“hee Kamuu ngapain masuk tanpa izin ha??” suara teriakan pemilik toko yaitu seseorang dengan panggilan nci. membuat aku langsung ambil jaket.

“maling ya?” tanyanya pegang tangan aku sambil Tarik keluar toko,

“bukan, tadi ada bau asep dari dalam toko”jawabku coba jelasin, tapi aku masih shok di pergoki seperti itu, seolah aku maling.

“mana? Ini jaket buat ambil roti di belakang?” suaranya membuat semua perhatian pengunjung pasar ke arah tokonya. Dan nci menarik jaketku sampai terhempas di lantai pasar.

“Ini ini, ni anak masuk di ke dalam toko, ngambil roti” ucapnya ke beberapa orang. Aku hanya menunduk, di tambah gemetar berusaha membela diriku.

“aku gak ambil kok, beneran, aku gak maling satu pun di dalam.” kataku bela diri sambil menahan air mataku yang mau keluar karena beberapa orang bergumam seolah-olah aku beneran maling roti di dalam.

“ada apa nci??”suara yang aku kenal, itu mada keluar dari kerumunan sambil menyeka wajahnya yang basah dengan handuk kecil di pundaknya.

“ini matt.. ini anak coba maling ke dalam, mau ngapain lagi kalau mau maling?” jelasnya ke mada, mada sepertinya terkejut kalau aku orangnya.

“sebentar-sebentar oke, kasih kesempatan dia ngomong, okee” ucap mada, buat orang-orang langsung terdiam sebentar termasuk nci pemilik toko.

“jelasin deh apa yang terjadi ?” tanyanya sambil elus Pundak aku pelan, aku berusaha tenang dan mencoba menjelaskan kepada mada sambil pegangin lengan kananku ayng terasa perih.

“aku kesini mau tanya, ke nci jualan bahan, tapi gak ada di toko, terus aku.. “ aku mencoba menahan tangis.

“aku mencium bau kayak terbakar, aku langsung ke dalam, dan selangnya ada yang terbakar. Ini aku matiin pake jaket aku yang udah basah” kataku kasih tunjuk ke mada jaket yang di hempaskan nci.

“aku percaya sama kamu” ucapnya ambil jaketnya dan di tunjukin ken ci kalau benar ada bekas terbakar.

Mada langsung periksa kedalam, aku duduk sambil mendekap jaketku yang basah. Berharap semua ini selesai dengan cepat.

Tak lama mada dan nci keluar, “ saya benar-benar minta maaf ya, terima kasih banyak” ucapnya peluk aku erat sambil elus-elus pundakku, rasanya lebih tenang sekarang. Kesalah pahaman sudah selesai. tapi tanganku terasa gemetar soal tadi.

***​

Hampir sepuluh menit aku baru lebih tenang setelah nci coba tenangin aku, itu cukup membantu, dan mada tiba-tiba menghilang setelah keluar dari dalam toko.

“aku antar pulang,” ucapnya, tiba-tiba muncul di hadapanku, aku mengangguk pelan langsung keluar dari pasar. mada pegang tanganku menuntun ke arah luar pasar.

“sebentar baju kamu” mada hentiin langkahnya saat mau naik motor, aku sengaja peluk jaket aku yang basah.

“baju kamu kayak kebakar” ucapan mada buat aku kaget, mada langsung Tarik lengan tanganku, dan memeriksa lenganku.

“kita ke klinik sekarang oke“ pinta mada langsung tancap gas cukup kencang ke klinik sambil kasih tau lenganku agak di angkat jangan sampai menempel. Emang terasa perih di dekat ketiak, tapi aku gak bisa melihatnya.

Sesampainya mada menyuruhku duduk, dia masuk kedalam seperti rumahnya sendiri dan keluar sambil membuat sesuatu.

“julurin lengan kamu” pintanya lagi

“aku guntingnya ya bajunya sedikit?”

“hee??”

“dikit aja, baju kamu kebakar dikit, ada kain yang udah kebakar nempel di kulit” jelasnya.

“haa? Separah itu kah?” seingat aku ada api yang nyembur ke lengan kanan, aku kira itu sedikit.

Mada diam sambil mengunting bagian dekat ketiak, dan turun sedikit lagi, lalu di gulungnya sedikit,

“bilang HANTAM yang keras”

“hantam!!” kataku cukup keras.

“assh” gumamku meringis perih saat mada menarik sesuatu di lenganku, ternyata benar ada kain yang menempel. Rasanya benar-benar perih sekarang.

Mada ambil handuk basah membasuh lenganku yang perih, terasa sejuk dan gak lama terasa perih saat mada selesai membersihkan luka, perihnya benar-benar tepat di tempat mada Tarik kain yang terbakar.

“uwhhhhh sshh” gumamku benar-benar terasa perih kali ini, sampai aku menggerakan kakiku sendiri.

“lukanya banyak?” tanyaku menahan perih yang lebih terasa dari sebelumnya.

“ngak kok cuman satu, tapi panjang, dari sini kesini” mada seperti mengoleskan sesuatu dari bawah ketiakku memanjang sampai hamper menyentuh sikut. Itu bearti Lukaku cukup besar.

“eh ada pasien” ucap seseorang wanita dari belakang.

“luka bakar dikit” ucap mada langsung bangun dan membiarkan wanita itu melanjutkan. Dengan perlahan dia membalut lukaku dengan perlahan. Dan benar dia melilitkan tepat mada olesin sesuatu di luka sampai hampir ke ketiak aku.

“selesai, nanti kalau ada di luar lilitin aja perbannya, kalau di rumah gak usah di perban” jelasnya.

“oh ia, salep luka bakar tunggu di luar yah, aku ambil dulu” lanjutnya. Aku lihat dari sini mada berdiri di ujung pintu sambil melihatku dari jauh,

“loh kok bayar salep aja?”

“iah, ini klinik masih baru, jadinya masih promo agar masyarakaat sini gak takut soal harga saat berobat di KLinik” jelasnya.

“ohh hehe, ia makasih banyak”

“terima kasih ke mada aja, dia yang sering bawa orang berobat kesini” jelasnya langsung pamit karena terlihat mual. Dan mada sudah ada di atas motor.

Di perjalan pulang aku hanya diam, perlakuannya seperti seorang dokter karena tau apa yang di lakukan, sampai wanita itu melanjutkan tanpa harus mengecek kembali.

Apa mada seorang dokter?, apa dia pemilik klinik tadi, dan itu istrinya?, apa dia sedang pura-pura.

Pertanyaannya yang benar-benar aku bikin penasaran, Aku semakin penasaran sama mada, ada hal besar yang di sembunyikan. tapi aku semakin penasaran dengannya. aku pegang erat pinggangnya saat pulang ke rumah, dan sepertinya aku gagal beli bahan buat bubur sumsum.

Bersambung