Cerita Sex Boss Part 27

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59

Cerita Sex Dewasa Boss Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 26

Harsa-

Tempat paling nyaman memang di rumah, semewah apapun kamar percuma kalau tak nyaman. Tepat jam sepuluh pagi, pertama kali dalam tahun ini aku bisa bangun siang, rasanya begitu indah bisa bangun siang.

Aku langsung liat ponsel, ada chat dari bella. “ harsaa jemput gue dong, gue ma uke rumah lo”

“Naik taksi aja, pulangnya gue antar nanti” balasku. Aku langsung keluar kamar menuju dapur untuk minum jus. Sepertinya enak bangun tidur langsung minum jus.

“enaknya yang baru bangun~~” suara yang gak asing, yaitu bella, dia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.

“hee? Sejak kapan lo ada sini? Bukannya barusan minta jemput?”

“liat dong, jam berapa gue chat nya” aku langsung lihat jam saat bella minta jemput. Tepatnya jam tujuh pagi.

“dan lo baru bales jam sepuluh, helooooo” gerutunya agak kesal.

“sorry, capek banget sih soalnya” kataku kasih satu gelas jus buat tenangin tensinya yang lagi jelek.

“lagian gak biasanya lo main ke rumah,” ucapku sambil minum

“kenapa emang? Nyokap lo aja gak masalahin tuh, ya kan tante?” tanyanya pas mama lewat, sambil angguk senyum lihat anaknya sedang berdebat dengan bella.

Gue ajak bella ke halaman belakang rumah, tempatnya lebih enak buat ngobrol atau tepatnya gak bakalan ada orang yang denger kalau dia ngomong macem-macem.

“lo masih belum move on dari hara kan?’ tanya gue pas duduk di kolam renang, sambil celupin kaki ke dalam air.

“mungkin, gue liat lo kayak liat hara” ucapnya senyum.

“ya ealaahhhh, gue kan kembar.. yang bedain sekarang si hara item, gue putih,” kataku ngomong apa adanya.

“bercanda, gue kepikiran hara bukan gak bisa move on, tapi gak nyangka hara bakalan berubah drastis kayak gitu, tetap kekeh sama prinsipnya”

“jujur gue kasihan sama hara, karena konsisten sama ego nya dia sampai gitu.” lanjutnya bella,

“terus kalau si hara balik kerumah ini lagi, lo mau balikan sama dia?” tanya aku penasaran.

“ishh apa sih..” gerutu bella.

“gue sama dia putus dadakan, soalnya dia pas pergi dari rumah, sekaligus bilang udahan sama gue”

“jadinya sekarang, perhatian sebagai teman sekarang, gue yakin dia juga gak ada rasa apa-apa” lanjutnya dengan percaya diri.

“kalau ia gimana?”

“yah gak berubah, gue dah anggap dia temen.” Jawabnya dengan yakin, tapi sikap mama welcome ke bella sama seperti dulu. Gak ada yang berubah, seolah bella anaknya sendiri di rumah ini.

“kalau lo ada someone yang lo incer? Seketaris lo gitu?” tanyanya langsung tajam ke arahku

“gak lah, dia cuman sebatas kerjaan, gak lebih” gue sedikit bohong, karena aku memang ada rasa suka sama nia, walau ada penolakan secara halus saat ingin mencium bibirnya.

“ouh gitu… terus yang gue ajarin di prakterikin ke siapa?” tanyanya dengan tatapan serius.

“belum lah, nanti kali ke lo, ” jawab gue,

“gue tunggu hahahaha” tawanya dengan semangat, sepertinya gue salah ngomong soal itu.

“itu kenikmatan bagi wanita tau, jarang cewek bisa gitu, harus sering latihan kalau kayak gitu, dan pasangan juga kasih arahan” bearti aku yang lakuin ke nia itu ketidak sengajaan belaka.

“masa? Jarang ada yang bisa?”

“ia, gue juga bisa sendiri kok, tanpa bantuan lelaki” bella langsung julurin lidah,

“tapi jarang sih, bisa kayak kemarin eehhehe” lanjutnya tertawa.

“issh tampang lo kayak gitu mesum juga ya harsaaa” lanjut pas gue lagi bayangin lagi nia seperti kemarin,

“gue lagi pusing aja bell, urusan kantor” kataku langsung ubah topik pembicaraan.

“hmm kenapa perusahaan lo?”

“haaaaa~~~~” aku pun kasih tau masalah yang aku alami ke bella, biar dia gak membahas lainnnya, termasuk aku ceritain perusahan aku yang lagi di ujung tanduk. bella terus pandang wajahku sambil terus cerita, walau aku juga gak berani lihat matanya karena ia seolah menyikapi apa yang terjadi terhadapku sekarang.

***​

Hampir sehari penuh bella ada di rumah, sekaligus bantu mama buat makan siang Bersama. Sekilas terbayang kalau aku akan nikah sama bella suatu saat nanti.

“praaakkkkkk”

“apaaan tuh” suara piring pecah beberapa kali. Aku langsung lari ke dapur.

Terlihat bella sama bibi lagi rapihin pecahan piring, dan ada makan yang tumpah di lantai. Entah itu apa karena sudah berantakan.

“tangan lo berdarah” ucapku reflek ambil hansaplast di laci yang gak jauh dari dapur. Bella terdiam sambil meringis pelan saat lukanya tertekan.

“thanks” senyumnya seolah gue beri perhatian lebih karena luka yang tergores kena pecahan piring.

Ujung-unjungnya bibi yang bantu mama masak, dan kalau ada kak yua mereka bertiga sibuk bikin malam. Bibi sendiri udah serba bisa karena udah ikut mama sama papa sejak kak Maxwell umur delapan tahun. Dari perawan sampai udah mau punya cucu.

“bi.. bawa ke bapa ya, udah selesai” kata mama selesai buat sup ikan gurame. Dari baunya menggiurkan bau harumnya bikin aku lapar. Walau aku hanya ikan tertentu yang aku suka, gak semua ikan kayak papa, kak Maxwell sama si hara.

“mama lo jago banget yah masak, gue bakalan bisa gak ya?” ucap bella yang perhatiin mama sambil pegang jarinya.

“ya bisalah kalau mau belajar, “ kataku

“nanti aaja kalau udah nikah hahaha, belajar sama mama lo” ucapnya tertawa langsung bantuin mama lagi bawa makanan lainnya, gue sedikit menyerap apa yang di katakan bella, semoga itu cuman celutkannya doang.

Kali ini udah selesai masak, berbagai macam varian ikan, dari sup, asam manis, dan bakar. Jujur udah lama gak makan masakan rumah.

Di rumah cuman papa mama, bibi, di tambah kak yua juga bakal pindah karena sudah menikah dan mengikuti suaminya nanti. Semakin sepi isi rumah,

Gak lama papa nyusul ke ruang makan sambil bawa sup ikan yang tadi di antar bibi. Dari jalannya papa benar-benar udah sehat.

“loh om, kok keluar dari kamar?,” ucap bella reflek pegang tangan papa, sampai di meja makan,

“terima kasih bella, gak seru makan sendirian, kalau disini kan enak makanya rame-rame” ucap papa buat mama tersenyum saat lihat bella seolah dia udah bagian dari keluarga ini,

***

​Mada

Minum kopi sore-sore enak juga, di tambah gorengan yang belinya patungan. tiba-tiba ponsel gue bergetar, dan itu dari nia.

“madaaa, kamu dimana?”

“di pasar, kenapa?”

“bisa ke pertigaan lampu merah?”

“uhmm aku jemput disana?”

“iah, please aku butuh bantuan kamu” ucapnya agak panik seperti ada yang ia takuti.

“oke tunggu sana” gue langsung ambil motor dan pinjam helm, yang entah itu helm siapa, daripada gue kena razia. soalnya razianya suka-suka, kadang siang, pagi sama sore gini hari.

Sesampainya gue gak lihat nia berdiri di tempat biasa, gak mungkin dia belum sampai. dan untungnya gak ada razia disini.a

“maaada” teriaknya tertahan, nia muncul dari semak-semak pinggir jalan, seperti dia lagi ngumpet akan sesuatu.

“kok ngumpet gitu?” tanya gue pas dia langsung naik tanpa di minta.

“berangkat dulu” bisiknya tepak Pundak agar cepat jalan. Wajahnya benar-benar panik dan memerah seperti menahan sesuatu.

“GOBLOKKKK woiii” teriak gue rem mendadak pas ada orang nyebrang sembarangan. Dan secara langsung juga ada tekanan dari belakang.

Nia tak menggeser posisinya yang maju kedepan, yang ada di megang pinggang gue, seperti ada yang menutupi sesuauttu, dan terkadang kepalanya di taruh di belakang pundak gue.

Bedanya nia gak nangis seperti kemarin, dia hanya diam. Terasa lekukan buah dadanya di punggung gue tercetak cukup jelas.

“haa” gumam gue gak sengaja gerakin pinggung karena terasa gatal tiba-tiba, punggung gue pun langsung terasa menggesek sesuatu yang menonjol kecil, gue coba gerakin lagi,

“nggh” suara nia seperti menahan sesuatu, itu membuat pikiran gue jadi sejernih kopi,.

dan perjalaan kerumahnya gue memilih jalan memutar tak lewat pasar, walau agak jauh tapi seenggaknya orang pasar gak pergokin gue lagi boncengin cewek, yang ada pasti bakal jadi bahan candaan

“sampai” nia langsung turun, dan gue bisa lihat dengan jelas putingnya Nampak dari kaosnya, dan gue yakin dia gak pakai bra.

“thanks banget yah, “ ucapnya senyumnya, seolah dia sudah aman dari sesuatu. Nia jalan masuk ke rumah sambil menutupi dada nya dengan tas kecilnya. Walau begitu dari sini gue masih bisa lihat gundukannya naik turun tak terhalang apa-apa. gue semakin yakin yang tadi kegesek itu putingnya.

Gue gak mau pikir macam-macam, tapi penasaran kenapa sampai nia berpakaian seperti itu. “ahhh bukan urusan gue juga” gumam gue pilih langsung ke kontrakan buat mandi. Tapi hasilnya tetap aja lekukan dari kaosnya membuktikan kalau nia gak pakai bra,

Malam harinya gue dapat kabar soal papa dai iwan.. itu buat sementara pikiran solah gundukan hilang sesaat.

“seriuss?”

Papa udah pulang ke rumah, kondisinya udah pulih dengan cepat, karena hari itu juga papa boleh pulang. Gue masih gak percaya soal itu.

“seriusan har.. bokap lo pulang di hari dia di rawat,”

“dokter cek kondisinya normal, seperti gak terjadi apa-apa”

“hmmm”

“lo gak kasih apa-apa kan ke bokap lo sendiri?”

“ngak lah, cuman masuk jenguk biasa” gue gak bilang kalau gue ngomong sesuatu ke papa.

Pasti ini karena gue ngomong terlalu besar suaranya, papa pasti dengar apa yang gue ucapin. Di lain sisi seolah merasa kalau papa sakit seperti karena gue sendiri.

“gue rasa penyebabnya lo ini har, beban bikiran karena mikirin lo” kata iwan sama seperti apa yang gue pikirin,

“entahlah wan, yang penting papa udah sembuh dah cukup”

“dan terus lo balik ke rumah?”

“entahlah, gue belum siap” gue langsung matiin telepon karena malas bahas pulang ke rumah, gak jauh beda selalu hasut gue buat pulang.

Gue duduk di depan sambil ambil satu batang rokok, sebenarnya gue bukan perokok. Tetapi kalau ada beban pikiran yang cukup membebani rokok ini cukup membantu.

Pantes aja banyak orang rokok karena semua dari beban pikiran, di tambah kopi hitam gini. Rasanya semakin nikmat.

Pikiran gue kebagi dua antara nia sama papa, dua -duanya bikin pusing kepala. Yang satu kepala atas yang satu kepala bawah, semua bikin cenat cenut.

Telintas di pikiran gue saat konflik besar sama papa, dan saat itu juga gue kabur dari rumah malam-malam dengan emosi yang memuncak.

Tak membawa apa-apa hanya pakian yang gue pakai aja, dan naik angkutan sekaligus di turunin di jalan karena gak bawa uang. Berjalan tanpa arah selama berhari-hari, benar-benar seperti bocah ilang.

Gue ingat jam dua pagi dengan perut keroncongan, saat itu gue duduk sambil pegang perut karena saking laparnya. Di ikuti rasa nyeri karena sehari cuman makan roti.

Tak lama ada seseorang mendorong becaknya kasih satu bungkus nasi yang masih cukup hangat. Orang itu adalah babeh yang gue kenal sekarang.

“hei anak muda” ucapnya saat itu.

“makan aja, masih ada satu bungkus lagi” ucapnya saat itu, gue langsung lahap makan nasi bungkus yang isinya nasi uduk. Dia sendiri makan nasi sisa, gue bisa lihat karena bungkusanya udah tak rapih lagi.

“kamu kabur dari rumah?” tanya babeh, angguk gue sambil makan dengan lahap. Dan gue ceritain inti kenapa gue kabur.

“ahahaha” tawanya saat gue ceritain kenapa gue kabur.,

“lo mirip kayak gue ya, tapi sayang masih muda gak baik” ucapnya lagi sambil tepuk-tepuk bahu, walau udah berumur tapi gaya Bahasa yang di gunain seolah kita seumuran. Jadinya gue bisa akrab malam itu, sekaligus memanggilnya babeh sejak malam itu.

“ludah kenyang?” angguk gue dengan nasi yang masih berantakan di pipi,

“sekarang mendingan pulang ke rumah,” lanjutnya

“gak mau pulang, titik, “jawab gue saat itu, karena masih terbawa ego gue.

“dasar anak keras kepala!” gerutu babeh rapihin becaknya,

“kita mau kemana?”

“lo siapa yang suruh ikut gue?”

“hehe, ikut ya untuk sementara” kata gue, babeh sebenarnya saat itu suruh gue balik kee rumah, sampai di mau kasih uang buat pulang,

Dan lagi, babeh mengalah dia tidur di pelataran toko dengan kardus seadanya, sedangkan gue tidur di atas becaknya sambil kaki berslonjor di bangku di depan toko itu. dan sampai sekarang dia gak pernah suruh gue pulang, dan sampai sekarang gue tinggal di kota ini.

“gile udah satu bungkus ternyata” kalau bahas babeh satu bungkus masih belum cukup, mungkin satu kardus rokok baru bisa jelasin apa yang gue alami sama babeh selama empat tahun tinggal disini.

“fuuuuuuu” hembusan rokok terakhir sebelum tidur. untungnya gambaran lekukan buah dadanya sudah hilang.

Bersambung