Cerita Sex Boss Part 25

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 24

Harsa

Aku tak percaya melihat nia terkencing-kencing saat klimaks, aku hanya melakukan apa yang bella ajarkan kemarin. Ternyata nia juga bisa squirt. Air pipisnya lebih banyak dari bella, dan erangannya begitu menikmati seolah apa yang di tahan telah keluar semua.

Aku membuka ponselku untuk melihat foto nia yang aku foto diam-diam. Wajahnya tak aku foto hanya tubuhnya yang terlentang pasrah seperti ini. Terutama bagian vaginanya yang basah.

lima menit aku tinggal untuk mandi, nia masih duduk terdiam sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

“kenapa?”

“ehmm enggak kok” jawabnya seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.

“soal deal yang tadi boleh di batalkan kok, itu hanya spontan karena terbawa nafsu” kataku duduk di sampingnya.

“gak apa-apa kok, asal tak melebih batas perjanjian hmm” ucapnya menoleh kearahku sambil senyum, dan bibirnya ternyata sangat menggoda.

“yakin?”

“iah”

“kalau gitu aku boleh tau social media kamu gak atau yang lainnya?” nia langsung terlihat terkejut.

“aku udah hapus, eh maksudnya gak punya” jawabnya terbata-bata. Pasti dia gak mau kasih tau

“sebelum aku bersih-bersih, permintaannya apa?” tanyanya

“kissing” jawabku spontan, sekaligus ragu karena selama ini hanya kissing yang belum pernah.

“ehmm, maksudnya setiap kayak gini ada kissing?”

“iah,”

“ouhh, boleh seterah kamu kan kalau lagi threatment kayak gini” jawabnya pelan, padahal aku berkhayal dia langsung minta di pangku dan langsung kissing.

“sialahkan “ ucapnya tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku pun langsung menciumnya tapi di pipinya dekat bibir.

“aku tau ciuman kamu untuk orang yang suka kan?” kataku pelan, nia hanya diam. Aku mulai tau perasaan nia terhadapaku

Tak lama dia beranjak dari tempat tidurku dengan telanjag bulat, bongkahan pinggulnya benar-benar bulat sekal. Rasanya mau aku masukan langsung ke dalamnya,

Rasanya masih gak percaya aku bisa nahan libido selama satu minggu walau hanya satu klimaks, dan aku bisa aja dua kali dalam waktu itu, pastinya akan berdampak proses threatment.

“aku pulang yah” ucapnya selesai rapih, memakai pakian sehari-hari tak tampak ada yang menonjol, benar-benar seperti orang biasa.

“dan ini punya kamu?” tanyanya sambil tunjukin bungkusan kondom yang reflek aku pakai saat melakukan petting.

“sorry ya, tadi aku pakai itu, takut kebablasan” kataku,

“ohh uhm, tapi selama gak masuk ke dalam gak masalah kok kayak tadi, bikin gatel hehe” jawabnya tertawa, aku tau maksudnya soal aku keluar masukin kepala penisku.

“aku antar ya,?”

“gak usah aku naik taksi aja, bisa “

“gak apa-apa aku sekalian ketemu bella”

Akhinya nia pun mau ikut tapi dia turun di jalan dan sisanya di naik angkutan umum, dan aku harus menemui bella di kliniknya.

***​

Aku menunggu cukup lama sampai jam lima sore, hampir tiga puluh menit lebih dikit aku tunggu bella keluar dari ruang prakteknya.

“sorry lama” ucapnya.

“gak kok cuman tiga puluh menit doang” kataku.

“heeehe bisa banget nyindirnya, habis mandi soalnya di dalam juga, sekalian makan dan jengguk papa kamu jugakan ?” ucapnya sambil jalan ke parkiran.

“kamu tau darimana?”

“mama kamu, tadi pagi dia telepon tanyain aku ketemu gak sama kamu, gitu dehh” tapi wajar sih bella kasih tau mama, soalnya bella sering main ke rumah pas masih sama si hara dan udah akrab.

“kamu ngak dari kantor emang?”

“ngak, dari apartement langsung kesini”

“ya udah makan dulu habis itu kesana” mau gak mau gue ikutin kemauan bella, dan semakin hari setelah pembelajaran dari bella, dia semakin intens hubungin aku sama dia. Saat makan aku dapat kabar lagi, kalau papa boleh pulang hari ini juga, dan kak Maxwell sedang urus administrasinya.

“kenapa harsa?” tanya bella

“papa boleh pulang hari ini juga, padahal tadi siang kondisinya masih belum stabil, dua hari lagi baru pulih”

“masa?? Kok bisa? Aneh loh” aku sependapat dengan bella, ada yang aneh. Papa bisa fit dalam sehari juga.

Aku sama bella selesai makan langsung ke rumah sakit, dan kebetulan lagi jam besuk, jadinya taka da pembatasan kunjungan selain keluarga jam segini. Dan benar, saat aku sampai papa sudah lepas selang infus.

“kamu berdua janjian keesini?” tanya mama,

“iah dong, di jemput sama harsa, baik deh” ucap bella saat aku mau jawab. mama cuman tersenyum mendengar ucapan bella.

“papa seriusan udah boleh pulang?” tanyaku langsung ke papa,

“iah, buktinya ini selang infius udah boleh di cabut sama dokter”, ucap papa dengan raut wajah yang lebih segar.

“papa kamu sembuh gara-gara dengar hara kesini diam-diam jenguk” ucap mama buat aku sama bella langsung menoleh ke mama.

“seriusan?”

“Seriusan?” pertanyaan yang sama dengan bella.

“ia iwan kasih tau hara kesini, dia menghilang perjalan kesini, dan tau-tau udah jenguk papa diam-diam saat papa masih belum sadarkan diri” jelas mama.

“harsa aja gak habis pikir, dia harus diam-diam masuk kesini, kalau dari liat kondisinya seharusnya dia gak bisa masuk apa lagi ruangan VIP”

“Aku yang bantu hara kesini pa ma, dia nyamar office boy buat bersihin kamar, office yang asli sengaja gak suruh ke atas” ucap kak Maxwell masuk ke kamar. Dan semua orang di dalam kamar langsung diam seribu Bahasa.

“aku sengaja kasih tau, soalnya papa sakit karena dia, dan papa juga sembuh juga harus sama dia” dan semuanya jelas hari ini alasan kenapa papa bisa pulih dengan cepat, factor utamanya adalah si hara. Karena memang papa juga terbebani karena terus memikirkan hara.

aku sendiri gak tau detail perdebatan mereka sampai hara minggat dari rumah dengan pakian yang ia pakai, dan beneran tak kembali sampai hari ini. untung ego aku gak sama papa sama hara.

di laoin Papa cuman menghela nafas panjang mendengar ucapan kak maxwell, yang diam-diam dia perduli sama hara. dia yang lebih bijak kalau ada masalah di keluarga. sayangnya saat debat sama papa versus hara, kak maxwell gak ada di rumah.

dari itu semua gue masih belum percaya kalau dulu kak maxwell pisah sama papa mama, entah kenapa saat dia umur lima tahun baru ketemu. itu yang belum gue tau sampai saat ini.

bella sepertinya lagi asik ngoobrol sama mama, seolah bella anak mama sendiri,
“niaa nia… andaaaiiii hubungan kita special, papa mama apa setuju” gumamku menarik nafas dalam-dalam.

***​

Mada

“huaaaccccciiiiiiii” entah kenapa hidung gue gatal, kayak ada yang omongin gue.

di tambah Perjalan pulang yang paling melelahkan, hampir empat jam perjalanan dari rumah sakit ke rumah. salah satu penyebabnya buat gue lama di jalan, salah satunya salah naik mobil. Bukan semakin dekat malah semakin jauh.

Sejujurnya gue masih mau lamaan dikit di dalam, tapi kesempatan dari kak Maxwell gak boleh di sia-siain, sepuluh menit sudah cukup. Dan beraharap papa cepat pulih.

Akhirnya sampai di pasar, gue langsung cari motor yang di parkir di depan pasar. Dan ternyata ada nia yang lagi berdiri sambil menelpon seseorang. Reflek gue langusng liat telepon yang mati entah kenapa.

“hii” sapa gue.

“haaaaa,, kamu kemana aja? Tiba-tiba ngilang loh seharian” tanyanya

“ada urusan keluar kota, sorry gak kabarin hp matot” aku tunjukin ponsel gue yang mati.

“matot?”

“ia mati total” nia sepertinya baru paham aritnya matot.

“emang ada apa cariin?”

“hmm tadinya minta jemput di perempatan lampu merah hehe,”

“ouh, bukannya jam segini ya baru pulang?”

“pulang cepat, tadi terpaksa ikut ke rumah sakit sama atasan, orang tuanya sakit gitu” jelasnya, membuat gue langsung sedikit bingung kok bisa sama hari ini tujuannya rumah sakit. Paling kebetulan semata.

gue lihat kakinya kotor, mungkin karena di masuk kedalam,
“kamu dari dalam pasar?” tanya gue.

“iah kok tau?”

“tuh kaki kamu kotor, emang beli apa?”

“hmm, itu.. ngak aku cek barang titipan mama udah habis apa belum”

“ohh, makanan?”

“iah, kue gitu hehehe,” gue buka botol mineral gue yang tadi belum sempet gue minum.

“kakinya julurin” kakinya yang kotor gue langsung siram, sampai cukup bersih, setidaknya gak terlalu kotor kayak tadi.

“yuk” ajak gue naik ke atas motor

Gue sama nia sama-sama diam, biasanya ada satu dua pertanyaan saat di jalan, kali ini ngak ada sama sekali, mungkin lagi sama-sama Lelah, gue juga Lelah karena perjalanan.
nia cuman senyum sambil lambaikan tangannya.

Minggu paginya

gue langsung ke toko nci buat beli sisa roti yang mau habis masa expired nya dua hari lagi. Biasanya dia kasih harga miring, tapi tetap layak di makan.

Seperti biasa semua udah di kardusin dengan rapih, jadinya gue tinggal bayar, biasanya buat serratus roti dia kasih murah cuman dua ratus ribu.

“itu kue apaan ci, baru liat?” tunjuk gue ke kue warna ijo.

“ohh itu titipan, dah dari kemarin, dadar gulung namanya”

“berapa?”

“lima ribu duaitu, sepaket,”

“boleh deh semuanya”

“heee?”

“ia seriusan, sesekali cobain hehe” nci langsung bungkus lima puluh biji, dengan harga lima ribu, gue gak nawar kalau buat kasih orang.

Selesainya, gue langsung ke belakang pasar. Tempatnya ada perkampunngan kecil, disana tempatnya para anak jalanan tinggal,

Gak hanya satu tapi hamper lima puluhan dari anak-anak, orang tua, sampai lansia yang kerjaannya memulung mengamen.

Gue setiap satu bulan sekali pasti beli roti buat mereka, walau ada seseorang yang terus awasin disini, yaitu sang preman pasar Boris,

Untungnya dia gak larang atau gimana, dia cuman awasin gerak gerik gue kalau kesini, hanya dia yang awasin gue, kalau teman-temannya langsung bantu gue bawain kardus dan di bagi-bagi ke anak-anak, orang tua dan lansia lainnya.

Memang gak seberapa, setidaknya gue mencoba berbuat baik di lingkungan yang membuat gue mengerti kehidupan. Kalau hidup tidak mudah di bayangkan.

***​

Gak sampai sepuluh menit semua udah habis merata buat mereka semua, selama gue gak di ganggu sama boris sih gak masalah.

Walau kadang ada beberapa dapet kabar kalau mereka suka tawuran sama anak kampung sebelah yang suka cari masalah di daerahnya atau dekat pasar.Gue sendiri kurang tau kampung mana yang buat masalah,

Yang jelas boris dan kawan-kawannya yang jaga ini pasar, makanya beberapa orang kasih uang untuk jaga lapaknya yang sering berantakan kalau tawuran antar kampung.

Itu semua gue tau dari babeh resin, masih banyak yang belum gue tau selama gue tinggal disini. Semua hanya masih sekedar ommongan dari mulut ke mulut.

Gue langsung ke tempat babeh resin, gue sisain Namanya dadar gulung, sekalian cicipin bareng babeh.

“nah kebetulan” gumam gue pas dia lagi santai di dalam becaknya, kayaknya sih habis narik.

“baru selesai narik beh?’

“ia baru mandi ini di toilet belakang”

“bagus deh, biasain mandi jangan teralu malem”

“harusnya lo sekolah terus jadi dokter mad… cocok lo kalau di pikir-pikir” gue cuman ikut ketawa ucapan babeh resin.

“aminnn…. dah sekarang kita makan” Kata gue langsung kasih dadar gulung babeh biair cicipin duluan.

“enak ini dadar gulungnya,” babeh resin aja tau namanya, bearti gue doang yang belum tau ini nama makanan. Gue langsung ikut makan dengan satu suapan sastu buah dadar gulung langsung habis.

Rasanya lumayan enak, soalnya gue gak terlalu suka sama isinya kelapa, alhasil gue cuman makan luarnya, tapi rasanya masih enak.

“oh ia beh, emang akhir-akhir banayak masalah di pasar?”

“masalah apa?”

“tawuran sama anak kampung sebelah” babeh cuman angguk-angguk sambil lanjutin makan dadar gulung yang masih tersisa.

“kalau kata pak lurah mah, gara-gara sengketa tanah hak waris,”

“dulu yang punya orang tersohor, dan bangun pasar buat orang-orang sini, sekarang giliran cicit-cicitnya mendesak buat jual ini pasar”

“ohh, di hibain gitu buat masyarakat?”

“nah ia, Namanya urusan sama duit,susahlah” gue sih paham maksdunya,

“jadi ini masalah antar keluarga ya, ” angguk babeh.

“mendingan gak usah ikut campur, kecuali mereka cari masalah sama kita duluan” lanjut babeh, gue setuju sama babeh, gue sama babeh gak ada hubungannya kecuali ikut masalah sama mereka.

yang jelas ini kue dadar gulung ingetin gue sama ucapan nia kemarin, apa yang titipan mamanya adalah dadar gulung. kalau ia, gue bisa pesan nanti ke mama nia buat bulan depan.

Bersambung….