Cerita Sex Boss Part 23

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59

Cerita Sex Dewasa Boss Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 22

Harsa

Masih kebayang kejadian kemarin bersama bella, rasanya belum percaya bella benar-benar melakukannya. apa dia agresif ke hara juga ya waktu dulu,

Sekilas aku memikirkan, Andai bella tau masalahku saat ini, pasti dia mau membantuku dengan suka rela, tanpa harus mengeluarkan biaya lebih. tapi nia masih di pikiranku saat ini.

Bella gak boleh tau apa yang terjadi sama aku sekarang, rahasia ini benar-benar harus tersimpan rapat sampai aku benar-benar sembuh minimal lima puluh persen.

Ucapan bella juga benar, saat aku benar-benar nafsu. Aku menjadi pribadi yang cukup kasar, seperti hanya ingin memuaskan diri sendiri, tak memikirkan pasangan nantinya. Jadinya aku saja yang puas, tapi pasanganku suatu saat nanti hanya pura-pura puas demi ke egoasnku. Mungkin sama seperti nia kemarin.

“masa ia bella beneran suka” gumamku, dari sikapnya benar-benar aku dia menyukaiku, tapi aku belum yakin hal itu.

“selamat pagii pak” sapa nia yang sudah berada di tempatnya.

“pagi.”

“bagaimana sudah sembuh?”

“ehh? Udah pak, “

“lain kali olahraga jangan terlalu di paksa, karena yang di paksanan tak bisa menikmati” ucapku kembali memandangnya buah dadanya, seolah aku rindu untuk meremasnya nanti.

“iah pak maaf”

“no problem, saya bisa focus beberapa untuk target berikutnya.” Ucapku.

“sekarang susun kembali jadwal meeting minggu depan.”

“iah pak saya laksanakan”

“oh ia pak soal itu,, jadwal thretment nya saat saya sakit?” ucap nia ragu-ragu. Aku gak akan bilang kalau aku melakukannya dengan bella.

“saya lakukan sendiri, yang penting jadwalnya tepat waktu”

“maaf, untuk nanti jadwal empat harinya saya pasti lakukan yang terbaik” katanya membuat imajinasiku membayangkan melakukan telanjang bulat seolah kita benar-benar sedang making love.

“tapi untuk selanjutnya kita mulai untuk satu minggu satu kali,”

“kenapa pak?”

“saya akan melewati tahap lima puluh persen itu” nia tersenyum pelan sambil mengangguk pelan,

senyumnya membuat aku sedikit merasa bersalah, aku seperti berselingkuh dari nia karena bella, tapi aku benar-benar menyukainya.

“niaa sebentar” aku mendekati wajahnya, perlahan aku kembali mencoba mencium bibirnya, dan tapi hasilnya nia menolehkan kepalanya.

“belum jadwalnya pak” ucapnya menahan kepalaku.

“maaf saya kangen aja, gak terapi sama kamu”

“saya ke meja saya dulu pak, permisi” nia sepertinya tak mempunyai perasaan terhadapku, apa mungkin ini karena bella yang terlalu agresif,

“gak boleh,” aku gak boleh terlalu dalam persaan seperti ini, aku harus tak boleh terbawa perasaan terhadap nia dan bella.

***​

untuk menahan empat hari tidak terlalu bermasalah, tetapi aku harus menahannya tiga hari lagi, itu cukup membuatku agak susah,karena terbayang nia atau bella terus. apa lagi di hari-hari terakhir.

“pak harsa” ucap nia masuk keruangannku.

“ada apa? Nanti saya sedang sibuk, dan belum makan siang” setiap jumat jadwal aku mengecek dokumen, ini untuk jaga-jaga saja, karena perusahaan ini belum membaik.

“bukan itu, ada dokter budi” nia langsung pamit keluar dan gak lama budi datang dengan wajah yang tak jelas raut wajahnya.

“ada apa mendadak kesini?”

“sengaja, gue mendadak, sekalian mau pulang, kangen istri tercintaaahhhhhhh” ucapnya.

“terus?”

“gue dah denger soal kemajuan lo harsa, dan gue kesini cuman kasih ini aja” ucapnya kasih sesuatu, dan ternyata itu condom.

“what? Buat gue?”

“iah, bokap gue bilang, takut kebablasan,”

“gak lah kan ada perjanjian itu,”

“ya, itu masalahnya, gue cuman buat berjaga-jaga, karena bokap gue bilang nafsu lo bakal lebih dan lebih besar, dan reakisnya bisa seperti orang minum Viagra kalau tak selama onani selama satu minggu,” jelasnya.

“gue sengaja bilang ke lo, bokap gak bilang soal ini, dan juga tolak ukur kesembuhan lo bakal di mulai dengan metode ini,”

“satu minggu satu kali tanpa obat itu?”

“yap, andai lo bisa jalanin, kesembuhan lo secara permanen itu lima puluh persen,”

“dan hari ini libido lo?”

“lumayan, masih bisa tahan buat besok,”

“totalnya?”

“mau seminggu”

“oh okelah, pasti bisa, simpan aja”

“andai lo lebih sabra ya, kita nemu seseorang yang bisa di percaya tanpa harus pejanjian sama nia” ucapnya pelan.

“Maksudnya? Bella?”

“iah, andai dia yang thretment, pasti gak usah ribet, bisa mantab-mantab dan kondom bakalan kepake terus”

“lo gak bocorin ke bella soal ini kan?” tatap gue serius ke budi,

“tenang, gak kok, gue kan cuman berandai aja harsa, serratus persen aman.” Aku menarik nafas dalam-dalam,

“walau dia ngorek-ngorek info tentang gue tentang nia, tapi aman kok” lanjutnya.

“aneh ya, bella kok jadi lebih agresif sekarang, “

“itu tandanya dah move on dari si hara, hahaha”

“ya gak ke gue juga kali, masih banyak cowok tajir ganteng daripada gue”

“entahlah, gue pulang dulu kalau gitu, dan bawa setiap mau thretment, demi keamanan, karena safety di mulai dari saya” tawanya langsung keluar ruangan,

Entah ucapan budi ada benarnya, pikiranku kembali membayangkan nia menjadi bella, pasti semua lebih dari yang aku lakukan kepada nia sambil memandang satu box condom yang di berikan budi.

***​

Mada

Suara telepon berkali-kali lumayan menganggu tidur gue hari ini, “masih jam lima”. Telepon itu berasal dari iwan

“gak biasanya telepon pagi” gumamku, melihat panggilan dari jam empat pagi. Total panggilan hamper 60 panggilan dan kembali berdering.

“halo apa wan, kenapa?”

“lo udah tau bokap lo masuk rumah sakit?” pikiran gue langsung kosong dengar ucapan iwan.

“sakit apa?”

“kurang tau gue, tadi nyokap lo bilang ke gue, tapi gak jadi, gak usah kasih tau harsa”

“rumah sakit mana?”

“siloam,” gue langsung bergegas kesana, pasti rumah sakit gak jauh dari rumah.

“halooo halooo haraaa woiiii” gue gak perduliin suaranya di telepon.

Sekejap gue langsung ambil jaket dan naik motor langsung kesana, jujur gue panik dengar papa masuk rumah sakit, di tambah mama gak pernah kasih tau. Gue pikir semua baik-baik aja.

“tin tinn tinnnn” sauara mobil dari belakang, pas gue udah lewatin pasar.. padahal jalan masih lega.

“woiii goblooogg,,, lo nekat naik motor kesanaa?” suara iwan dari mobil,

“ya lah”

“si pea, motor pelan kayak gitu, bisa-bisa taun depan sampenya” ucapnya lebih kencang. Dan gak lama mobilnya hadang depan gue.

“titipin motornya, naik ke mobil gue”

“gue anterin, kesana” ucapnya, gue ikutin ucapan si iwan, balik lagi ke pasar, buat titip motor disana.

“lo kwahtir emang ?” tanyanya

“paniklah, nyokap gak pernah kabarin papa sakit atau gimana”

“tumben, biasanya gak peduli, “tawanya ketus, gue tau itu sindiran halus,

“tapi setidaknya keras kepala lo mulai berkurang hari demi hari, dan suatu saat lo bakal pulang kerumah hara” lanjutnya,

“belum saatnya, ini masih jauh?”

“masihlah dua jam lagi,”

“okelah gue tidur dulu” dua jam waktu yang lumayan panjang, bearti secara gak langsung rumah gue sama tempat gue sekarang berjarak dua jam dari sini.

“seteralah lo” kata-kata pengantar iwan sebelum gue lanjutin tidur.

***​

Seperti ada sinar yang sengaja di arahin kemata gue, gue langsung terbangun. Dan masih di dalam mobil. Iwan gak ada di samping, yang ternyata gue lagi parkir di sebuah toko baju, gue keluar sambil menggeliatkan tubuh gue yang rasanya pegel.

“huuuuuaaaaaam” ~~

“itu rumah sakitnya di seberang.” gue yakin itu, soalnya itu satu-satu rumah sakit daerah sini. gue langsung kesana degan nyebrang jalan yang cukup padat..

“tinnn… tinnnn,,, ”

“goblokkkkk”

“toloool” makian di ikuti Klakson mobil banyak berbunyi saat gue nyebrang jalan, sesampainya gue baru sadar ada jembatan penyebarangan gak jauh dari sini. Sifat jelek gue seperti ini, terbuu-buru tanpa pikir panjang terlebih dahulu. tapi udah terlanjur jalan.

Sesampai di parkiran rumah sakit, gue mondar mandir depan pintu masuk. Karena gue gak tau ruangan diamana papa di rawat. harusnya gue tadi tanya iwan.

Sampai akhirnya ada dua satpam keluar dari dalam menghampiri gue dengan tanpang penuh curiga, tapi memang tampang gue buat curiga.

Rambut gondrong belum di sisir, celana jeans pendek sobek di bagian paha dua duanya. Jaket warna biru dekil, kaos bolong kecil-kecil di bagian leher kayak di gigitin rayap, dan di tambah kulit gue udah sawo busuk.

“Selamat siang, bisa di bantu?” ucap satpam itu.

“iah siang, saya cuman cari orang doang kok”,

“cari siapa?”

“hmm, sepertinya salah rumah sakit kayaknya, “ gue diem-diem sms iwan, karena cuman bisa sms, pulsa buat telepin gak mencukupi.

“kalau begitu, bisa ikut ke kantor?”

“haaa? Tapi saya gak salah apa-apa loh” protes gue.

“iah, saya tahu, tapi ke kantor dulu, biar lebih jelas” ucapnya lagi sambil melaporkan ke seseorang.

“ta tapi. Sebentar saya telepon orangnya dulu,” kata gue lagi sambil tangan gue di pegang erat menuju samping rumah sakit. Andai gue berontak bisa-bisa pentungan ada di kepala gue.

“duduk!! “ pintanya, dan gue langsung berhadapan dengan kepala satpam.

“ini ndan, orang yang di curigai mondar-mandir depan pintu masuk” ucap salah satu satpam menanggilnya dengan komandan.

“okeh, kembali ke posisi masing-masing” ucapnya,

“bisa tunjukin ktp?”

“maaf pak ridwan saya lupa bawa” kata gue kaaget di tanyain, jangankan KTP, indetitas aja gue gak ada.

“kamu tau dari mana nama saya ridwan?” tanya agak sedikit membentak.

“ini di depan meja ada Namanya”

“ohh ia, saya lupa” ucapnya mencoba mencairkan suasana, gak lama dia keluar sambil lirik ke gue tanpa sepatah kata.

“pak saya boleh pulang? saya gak maling kok, saya salah rumah sakit” kata gue memelas karena di cuekin selama masuk disini.

“diem, jangan banyak bicara” pintanya.

mungkin ada tiga puluh menit gue di dalam ruanganya itu, Gak lama pintu kebuka, gue langsung noleh kearah pintu. Awalnya gue kira komandannya yang lainnya datang, tetapi bukan.

Yang datang adalah kak Maxwell, kenapa dia bisa disini, apa iwan yang kasih tau soal ini. Gue yakin iwan yang kasih tau.

Kak Maxwell mengambil kursi sambil duduk di samping gue, gue hanya terdiam dan berat rasanya buat menyapa. pak komandan yang tadi pun keluar dari ruangannya.

“lo tau papa masuk RS dari iwan?” tanyanya.

“iah, “

“sejak kapan lo kwahtir sama papa mama??”

“lo kwahtir kalau papa udah jatuh sakitttt??” tanyanya menahan emosinya, gue cuman bisa nunduk.

“Pantes gitu? udah lama gak pulang tiba-tiba jengguk?”

“iah, kalau gitu gue pulang ke tempat asal, belum waktunya ketemu sama kalian semua hari ini” ucap gue tundukin kepala

“itu sadar, memang belum waktunya ketemu dalam kondisi seperti ini,apa lagi pakai pakian kusam kayak gitu” ucapnya dengan nada tinggi. Gue langsung berdiri berjalan perlahan keluar, ucapan kak maxwell benar. gue sepertinya agak menyesal.

“tunggu oii, gue belum selesai ngomong” ucap kak max lagi, pas gue udah di depan pintu.

“pakai ini, jam delapan jadwalnya kamar papa di bersihin, lo bisa lihat papa tanpa harus ketauan sama mama, yua, sama bini gue juga” kak Maxwell lempar kantong plastic hitam.

“cepetan buka, sebelum gue berubah pikiran” gue langsung buka, yang isinya seragam office boy.

“perlengkapannya di depan ruangan, waktu lo ketemu papa cuman sepuluh menit” ucapnya lansgung jalan ke arah gue. gak habis pikir sampai segitunya kak max diem-diem bantuin gue, dan gue gak boleh sia-siain semua ini.

“tapi kak kamarnya lantai berapa?” teriak gue.

“lantai empat, room vip nomor satu” ucapnya melangkah semakin jauh,

“gak usah perlu ucap terima kasih, kalau hubungan lo sama papa masih kayak gini” lanjuntnya

“gue lakuin ini, karena lo masih gue anggap keluarga,”

“entah lo anggap gue keluarga apa bukan” gue kembali menghela nafas sebelum dia jalan entah kemana.

***

Tepat jam delapan kurang sepuluh menit, gue langsung pakai perlengkapan office boy, termasuk peratalan pel, sapu, dan lain-lain. Tanpa curiga gue dengan mudahnya masuk ke dalam rumah sakit,

“lantai lantai, empat” gumam gue naik lift,

Sesampainya, ada dua orang keamanan cegat gue dan sambil raba-raba seperti mengecek sesuatu.

“silahkan” ucapnya, gue langsung cari ruangan nomor satu, yang gak jauh dari lift.

“sepuluh menit lagi” gumam gue, berdiri depan pintu, jujur gue gemetar mau masuk kesana, gue gak pernah segugup ini sekarang.

“perimisi, waktunya memebersihkan ruangan” kata gue dengan nada berat

Tak lama pintu terbuka, tepat berhadapan kak yua keluar ruangan, reflek gue tundukin kepala.

“oh ia jadwalnya bersihin kamar” ucapnya mempersilahkan gue masuk, dan untungnya kak yua gak kenalin gue karena pakai masker dan juga topi.

Dari sini gue bisa lihat papa terbaring dengan selang infus, dan juga selang oksigen di hidungnya.

“maaf mengganggu” ucap gue, gak hanya kak yua, mama, dan istrinya kak Maxwell juga ada.

Gue langsung mulai sapu dari ujung kamar yang jauh sampai gue sisain bersihin di dekatnya.

Papa terlihat berbaring dengan mata terpejam seperti tidur pulas, gue bisa lihat wajahnya dari jauh, rambutnya yang memutih sebagian.

“papa belum masih siuman” ucap istri kak maxwell berdiri sebelum keluar ruangan.

“belum, papa masih butuh istirahat aja,

“papa sakit karena kecapean , dokter bilang terlalu banyak pikiran, dan secara berkalan mepengaruhi kondisi kesehatannya” jelas mama, secara gak langsung gue tau papa sakit apa. tapi buat gue terkejut papa belum siuman.

“ma keluar dulu yuk, mau di pel” ucap istrinya kak maxwell.

“oh ia, yuk,” ajak mama sampai hanya gue dan papa yang ada di kamar,

Gue menatap wajah papa, dulu rambutnya gak seputih ini, cepat banget rasanya lihat papa menua.

“semua gara-gara keegoisan hara pap” ucapnya gue pelan sambil buka masker.

“pasti selama ini hara banyak buat masalah, banyak yang omongi negative ke papa, hara yakin itu”

“walau kita sama-sama keras kepala, tapi hara akuin hara salah, tapi hara belum siap pulang ketemu kalian semua”

“hara masih mau buktikan ke papa kalau hara bisa mandiri selama ini.”

“hara cuman papa mau mengakui hara bisa untuk itu, hara lakuin ini hanya pembuktian ke papa, gak lebih dari itu”

“jadi maafin hara, hara sayang semuanya papa sama mama “

“dan hara janji hara bakal pulang ke rumah” tak lama jari papa bergerak, reflek gue tutup lagi pakai masker dan langsung keluar ruangan. Pasti suara gue kegedean sampai papa kebangun tidurnya,

gue langsung rapihin peralatan pelnya dan keluar kamar, dan bersamaan iwan tepat di depan ruangan.

“Loh kamu kesini?”

“sama siapa?” tanya mama agak terkejut.

“sama hara tante, tapi dia hilang pas mau beliin baju, tadi udah telepon kak Maxwell, tapi dia juga gak lihat”

“kamu yakin wan?”

“yakin tante sumpah, tapi gak mungkin dia kesini, pakaian kayak gitu gak bakalan bisa masuk ke rumah sakit” jelasnya.

“telepon wan, cepet”

“gak di angkat tante,” gue langsung bergegas turun, soal ponsel gue ada di kantong plastik di kantor komandan yang tadi.

Sebelum mereka semua curiga, gue sedikit gugup pencet-pencet tombol turun.

“haa legaa, kacau kalau ketauan” gumam gue langsung ke ruangan security ganti pakaian lagi.

Dan benar lima belas panggilan dari si iwan gak di jawab. Tak lama iwan kembali telepon.

“woii dimana kau begoooo” ucapnya

“di parkiran mau pulang”

“tungguin gue kesana, lo mau ketemu kan? “ tanyanya.

“gak usah wan,”

“ahh begoo ah” gumamnya kesal.

“gue dah ketemu tadi, dan gak usah repot-repot antar gue pulang, gue naik angkutan umum aja”

“haaa?”

“jangan-jangan lo yang tadi??” gue gak jawab langsung matiin teleponnya.

“Lo masih gue anggap saudara sampai hari pernikahan Yua, lewat dari itu, gue udah perduli lagi” kak maxwell masih ada di depan ruangan. dan pergi gitu aja masuk lagi ke dalam.

“terima kasih kak, bantuannya”gumam gue kecil pas di pergi, tanpa kak maxwel gue gak lihat papa.

“haaa” nafas lega gue, papa gak sakit parah, walau belum siuman. tapi seenggaknya gue tak terlalu kwahtir sekarang. dan semoga papa selalu jaga kesehatan sampai saat itu tiba. saat dimana gue bakalan pulang.

Bersambung…..