Cerita Sex Boss Part 21

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59

Cerita Sex Dewasa Boss Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 20

Harsa-

Sudah tiga hari nia tak masuk, dan hari ini waktunya terapi, Sepertinya nia menganggap saranku sebagai tuntunan, padahal aku sekedar saran untuknya, ditambah sekarang dia benar-benar sakit,

Andi hari ini aku gak tahan, mungkin terpaksa onani dengan tangan sendiri, dan semoga saja bisa bertahan sampai seminggu., gak lama ponselku bunyi.

“halooo”

“ahhh keajaiban lo angkat telepon gue,” ucapnya tertawa bella yang seolah senang gue angkat teleponnya,

“tumben lo telepon?”

“mau tanya hari ini ada jadwal kosong gak?”

“hmmm”

“jangan sok sibuk, nia bilang tiga hari jadwal lo kosong”

“niaa?”

“hehe, keceplosan, saking semangatnya gue harsaa, sorry” tawa geli bella, bearti nia memang kasih informasi tentangku ke bella, tapi kenapa nia suka rela informasi ke bella.

“gue mau ngomongin soal kemarin yang tertunda, lo bisa ke klinik?

“ oke gue sekarang ke klinik”

“oke, gue tunggu” jawabnya langsung menutup telepon.

Aku diam sebentar memperhatikan ruanganku yang sunyi dan sepi, aku kepikiran kalau kontrakku dengan nia sudah selesai, pasti lebih sunyi dari sekarang.

Selama perjalan ke klinik bella pikiranku sedikit terganggu, bukan karena Screenshot itu, tetapi ke ucapan rudy, yang bilang perusahaan kita semakin minum pendapatan tetapi dengan raut yang seolah senang pendapatan perusahaan ini menurun, sekilas aku menganggap rudy si duri dalam dagingnya.

Sesampainya langkahku terhenti sebentar saat mau masuk keruangannya kerjanya, semoga bella tak serius soal ucapannya kemarin-kemarin.

“bella, tok tok tok”

“masuk” ucapnya dari dalam., ruangan cukup besar untuk perawatan kecantikan. Bella terlihat berbeda kalau memakai pakian khas dokter. Lebih elegan dan cantik, di tambah kacamata.

“Langsung ke inti aja harsa” ucap bella duduk di bangkunya.

“hmmm Soal itu?” tanyaku saat duduk,

“ iah, lo serius fantasi onani sama gue?” jawabnya dengan tatapan serius, padahal saat itu aku hanya spontan agar bella gak bahas hal itu lagi.

“gue masih gak enak sebenarnya karena lo pasti masih ada rasa sama hara, “ ucapku buang muka pas dia tatap dengan wajah tajam

“kalau gak ada gimana?”

“yah, gak giman-gimana,”

“oke, kalau gitu sini gue ajarin caranya” semyumnya bediri di hadapan gue.

“heee seriusan?” jantung gue berhenti sejenak, karena bella benar-benar serius dengan ucapaanya. Aku harus bagaimana, kenapa aku jadi gugup seperti ini.

“apa jangan-jangan lo homo ya? Gak pernah gue liat lo sama cewek gitu,” tunjuknya.

“dan seketaris bernama nia itu cuman tameng buat sifat lo yang homo?” lanjut bella tak kasih kesempatan aku ngomong.

“haaa?? Gilaa gak lah, gue gak homo” bella mengerucutkan dahinya sambil dekatin wajahnya ke depanku.

“okeh gue percaya” ucapnya.

“step one”

“kalau lo benar gak homo, coba lakuin sesuatu ke gue” ucapnya duduk di mejanya, dan terlihat celana dalam putih,

Aku terdiam sejenak dengan penis yang mulai memeberontak, tapi masih posisi aman, menatap sebentar wajahnya, aku mencoba membayangkan wajah nia, dan itu berhasil.

“ah” jeritan kecil pas aku meremas buah dadanya dari jas dokterny,, terasa lebih kecil saat remas pelan sampai aku sadar kalau sedang meremas buah dadanya bella bukan nia.

“kenapa stop?”

“lanjutin aja, hanya sentuh jangan macam-macam”

“ini?” tanyaku langsung elus belahan vaginanya.

“harrrr ssh” desis bella pegang tanganku.

“gue lupa, cuci tangan dulu, nanti gue kasih tau bagian yang sensitivenya” pintanya merapihkan roknya,

“nih pakai, sarung tangan, biar steril” ucapnya saat selesai cuci tangan, bella kasih sarung tangan seperti buat operasi.

“udah,” jawabku, bella langsung melebarkan selangkangannya, secara gak langsung bella udah gak pakai rok, Tersisa celana dalam putih.

“langkah pertama sentuh atau elus kayak tadi” ucapnya.

“begini?” bella mengangguk pelan, seujujurnya aku seperti ini aku tau, tapi membuat si cewek menikmatinya yang susah, seperti nia contohnya. Terkadang dia seperti berbohong soal klimaks

“nooooo harsa, tertalu kasarrr!” ucap bella saat aku mengelusnya lumayan cepat, dan terasa celana dalam bella sudah basah.

“terus gimana?” Teknik yang aku gunakan sama aaat melakukan terhadap nia,

“Taunya gesek – gesek aja, gak selama gesek terus-terusan itu bikin nikmat tau!” ucap bella membuka celana dalamnya, kembali membuka lebar pahanya. Vaginanya putih mulus seperti nia, bedanya belahan vagina bella tidak seperti nia yang agak lebih tebal. Dan rambut-rambut mulai tumbuh di vaginanya.

“sini liatin caranya,” bella memainkan satu jarinya perlahan, sambil satu jari lainnya seolah membuka belahan vaginanya.

“yang paling sensitive ini, “ tunjuknya ke klitorisnya,

“sekarang tangan lo” aku turutin arahannya, dari film sih sama gerakannya,tapi saat mencoba benar-benar beda.

Walau pakai sarung tangan seperti ini, aku masih bisa rasain bentuknya klirois

“ohhhhh yah gitu, gesekin lagi ke bawah dan ke atas” gumamnya sambil mendesah tertahan. Desahan bella semakin membuat penis gue meronta-ronta.

“ya gitu, jangan di masukin jarinya, ohh” masi terasa rapat seperti nia, bella masih virgin dari dugaanku. Aku kira hara pernah membobolnya.

Bella ajarin aku bagaimana dia manstrubasi, ternyata gampang, intinya komunkasi sesama agar mencapai klimkas.

“ohhhhh harsaaa” jerit bella di ikuti cairan yang keluar dari vaginanya, tubuhnya juga bergetar cukup hebat.

“mau gantian?” tanyanya selesai membersihkan cairan putih yang lumayan keluar dari vaginanya.

“apanya?” penisku semakin tegang mendengar pertanyaan.

“itu, tenang gue bakal hapus kok, ini” ucapnya tunjukin screen shot chat aku.

“bearti lo homo” lanjut bella,

“ya gak lah,”

“cuci sana, pasti bau pesing” pintanya. Aku kembali ke kamar mandi buat cuci penisku, ini seolah kebetulan, nia taka da bella sebagai gantinya.

Selesainya aku keluar menggunakan kolor aja, dan bella memintaku duduk di tempat dia duduk.

Perlahan dia membuka kolor sekaligus celana dalamku,

“wooo” gumamnya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“kenapa?”

“gue semakin yakin, lo gak homo,” ucapnya sambil tertawa, bella juga menggunakan sarung tangan seperti yang dia kasih.

Perlahan di genggamnya penisku perlahan. Telapak tangannya menggenggam begitu erat saat mengocok perlahan. Tak lama langsung di lumatnya dengan perlahan.

“udah pernah sama hara ssshh ah” gumamku menanyakn hal bodoh.

“uhm apanya?”

“ML”

“nooooo, enak aja, jujur kalau begini pernah” bella langsung melanjutkan blowjobnya,

“masaa? Selain itu?” tak lama bella langsung berdiri, dan naik ke pangkuanku. Tetapi berbalik arah,

Penisku langsung tepat di belahan vaginanya, posisi yang pernah aku lakukan dengan nia.

“kayak gini aja” tanganya tahan penisku agar tak lepas, sambil bella naik turunin pinggulnya. Reflek aku meremasnya buah dadanya dari belakang, meremas dari luar bajunya.

“serius? Kapan?” tanyaku lagi.

“dah lama, pas kuliah, itu cuman beberapa kali, uhm” ucapnya pelan, aku benar-benar menikmati gerakanya, seperti apa yang nia lakukan, bedanya bella lebih agresif,

“jangan sampai kebablasan oke, punya gue khusus buar orang tercinta, nanti ssshh~~” gumamnya.

“ohh bellll,, shitt gak tahan” kataku, tiba-tiba bella ubah posisi blowjob lagi,

“ohhh” semburan hangat langsung basahi wajahnya, sesekali aku memukul bibirnya dengan penisku.

“ihsssh, gila ah, kenapa harus di muka issh” gerutu bella langsung masuk ke dalam, dan aku menikmati sisa-sisanya,

Saat sudah klimaks taka da bedanya antara nia dan bella, bedanya hanya lebih agresif bella. Apa mungkin bella juga agresif ke hara.

***​

Mada-

Udah jam tiga sore, perut gue dari pagi belum ke isi Namanya nasi. Gue lansung ke warteg pesan dua prosi jumbo.

Dalam hitungan menit dua piring langsung habis, menunya standar, telor dadar, ikan goreng, orek tempe, gorengan, kentang balado. Dan tak lupa sambel terasi.

“busettt matt.. laper apa laper?” ucap teh eka.

“laper kuadrat tehhhh hehehe”

“oh ia jam segini udah sepi, pada kemana orang?” tanya gue sambil bersihin gigi pake tusukan gigi.

“liat sendiri udah jam tiga, “ tunjuknya. Gue lupa jam segini pasti sepi,

“oh ia mat, tanya sesuaatu boleh?”

“boleh lah, asal gorengan satu” kata gue yang keluar begitu aja.

“sok ambil,” padahal gue cuman bercanda, tapi lumayanlah cuci mulut.

“tanya apa tehh?”

“menurut kamu ya nih, dari sudut pandang lalaki, apa yang paling menarik sama teteh?” pertanyaan yang bikin gue tersedak sebentar,

“jawab jujur loh, teteh gak ngomel kok” lanjutnya,

“yah itunya, paling menarik atau pasti tertuju kesitu” tunjuk gue kea rah buah dadanya, karena memang paling menucri perhatian.

“tuh kan, emang pasti ada maunya, jadian pasti cuman buat pelampiasan” gerutunya sambil memanyunkan bibirnya.

“hehee, ada yang deketin teh?”

“Banyak kayak laler, pegen teteh tepok satu-satu itu kepalanya” wajar sih, janda muda siapa yang gak mau. Walau hanya candaan,

“emang teteh mau nikah lagi gitu?”

“yah belum sih, tapi kadang Lelah sendirian, bagi teteh mah cari yang bisa kerja keras bukan di ranjang tapi bantu teteh kituu” jelasnya. Gue sih paham maksudnya,

Intinya teteh eka mau cari yang bisa saling bantu, saling bisa di andalin soal mana yang tak bisa. Gue juga setuju sama pendapat teteh eka, cari yang bisa support kita,

Di kepala gue langsung teringat bella, pasti dia sekarang udah jadi dokter kecantikan. Dan tentunya semakin cantik. Pasti udah punya pacar juga.

Andai suatu saat gue ketemu lagi sama dia, gue harus minta maaf soal dulu. Gue putusin dia karena gue gak mau dia ikut campur masalah sama papa.

Pasti dia benci gue sekarang, karena gue putusin saat emosi gue lagi tinggi. Gue cuman berharap dia punya pacar yang lebih baik dari gue.

Di saat ini gue tau, ego gue sangat tinggi saat itu, sampai hanya memikirkan diri sendiri. Tanpa minta pendapat yang lain.

“braaakkkk” suara meja di pukul buat gue sadar dari lamunan.

“wahhh, godain jandaa lo ya jam segini” suara bang kisman,

“enaka gak lah bang habis makan ini juga” kata gue, bang kisman sendiri yang bertanggung jawab sama sampah di pasar.

Gue jarang ketemu sama dia, soalnya dia di belakang pasar bongkar angkut sampah pasar ke truk sampah.

Yang gue suka sama orang-orang pasar, salah satunya mereka masih bisa tersenyum dan tertawa dengan perkejaannya, menikmati apa yang mereka kerjaan apa pun pekerjaanya, termasuk bang kisman.

“nanti bilangin si resin mat,, becaknya di taro belakang lagi aja, tempatnya kosong dan lebih kering, truk buat angkut sampah kadang lewat situ, jadi susah masuk kehalang becak”

“ohh ia siap, nanti di bilangin babeh resin”

“ya udah lanjut bang, mau cari bongkaran lagi, “

“yoo, hati-hati” lambaikan tangannya..

Kayaknya hari ini cukup, gue gak cari bongkaran lagi. habis makan kerasa langsung ke mata beratnya. gue lupa hari ini si nia juga masih kurang sehat , rena juga bilang kalau nia kecapean. Memaksakan tenaganya untuk bekerja.

Gue langsung beli jeruk kecil kayak mirip jeruk mandarin, tapi kulitnya hijau. Soal rasa jangan n di tanya manis pastinya.

Lumayan mahal sekilonya hamper dua puluh lima ribu, tapi gue bayar cuman dua puluh ribu. Soalnya yang jual kenal sama gue.

Langkah gue terhenti saat mau ketuk pintu rumahnya, soalnya yang kenal lumayan deket nia doang. mama cuman sekilas aja, dan papanya gak pernah gue lihat.

Jadinya gue taruh jeruk di gagang pintu, sambil ketuk pintu rumahnya dan langsung tancap gas pulang ke kontrakan.

Semoga buah jeruknya gak di buang,

Bersambung…