Cerita Sex Boss Part 19

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Part 33Part 34
Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39
Part 40Part 41Part 42Part 43Part 44
Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49
Part 50Part 51Part 52Part 53Part 54
Part 55Part 56Part 57Part 58Part 59
Tamat

Cerita Sex Dewasa Boss Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 18

Harsa-

Aku sedikit terkejut karena bella juga ikut mama sama papa di dalam mobil. Bisa di bilang bella memang sudah akrab pas masih jadi pacarnya nya hara.

Mama juga sepertinya menyukai bella kalau suatu saat jadi menantu, tapi sayang udah selesai dengan hara.

Otak aku jadi kepikiran kenapa bayangin nikah sama nia, apa mama sama papa setuju. Gak boleh, aku sama nia hanya sebatas pekerjaan.

“kamu ikut kepasar?” tanyaku.

“iahlah, emang naik mobil siapa?”

“ohh.. kenapa gak sama om roni pa?” aku sendiri belum pernah ketemu om roni yang papa certain kemarin,

“Bella yang mau temanin, katanya juga mau lihat kondisi hara sekalian pulang ke rumah” ucap mama.

“ehm ehmm” aku cuman berdehem saat bella lihat aku menahan ketawa, bella langsung keluarin ponselnya sambil tunjuk screenshot chat aku yang kemarin.

Aku kasih jempol dan kembali duduk tenang, bisa-bisanya dia kasih ancaman mau tunjukin ke mama papa di mobil. Kalau mama sama papa lihat bentuk ancamannya, entah apa yang bakal terjadi.

***​

Mobil sudah masuk ke parkiran pasar, bella suruh driver masuk lebih ke dalam. Tak perduli mobilnya bakalan bau pasar. apa lagi ada tumpukan sampah yang belum di angkut.

“mama yakin hara ada disini?” ucap papa sepertinya baru pertama kali kesini.

“iah tadi iwan kasih tau, jam segini dia ada di depan.”

“Itu bukan??” ucap papa tunjuk ke seseorang yang lagi siap-siap angkat sesuatu dari dalam mobil truk

“majuin dikit pa, parkir disana” tunjuk bella parkir gak jauh dari mobil yang berisi beras. papa benar itu benar-benar hara,

Dari sini yang dari dalam mobil bisa dengan jelas, papa sama mama lebih jelas melihat hara sedekat ini, termasuk bella.

“Ituu haraa tante om?” ucapnya seperti terkejut. Mama cuman kasih senyum aja.

“ia itu si hara, jadi buluk gitu” kataku spontan.

“keras kepala banget yah, konsisten sama egonya” gumam bella.

“kamu masih suka sama hara bel?” tanya mama.

“hmm… seperti gak ada tante, rasanya cocok jadi temen aja.” Lenguhan panjangnya, kalau bella ucap ke mama seperti itu, bearti benar bella udah gak ada rasa sama hara.

“yakin?” celetukku, bella mengerutkan dahinya.

“kamu mau pulang apa temenin bella harsa?” tanya papa. Sambil terus memperhatikan hara yang begitu bertenaga membawa karung karung beras di pundaknya.

“pulanglah, lagian jam kerja ini. Kecuali hari libur” jawabku.

“bella, makasih yah repot-repot antar tante sama om kesini”

“gak apa-apa kok tante, om. Bella juga emang sengaja mau lihat hara, udah hampir empat tahun gak lihat dia.” Lirikan tajam ke arahku

“oh ia pa, nanti pulang naik apa? Taksi?”

“ada om roni, rumahnya gak jauh dari sini, tadi rencananya om roni suruh jemput, tapi ada bella tawarin keesini, ya udah sekalian aja” jelasnya,

“yuk om roni udah tunggu depan pasar” mobil perlahan keluar dari pasar. Aku, mama, sama papa langsung masuk ke dalam mobil sedan mercy yang biasa papa bawa ke kantor.

“urusan kita belum selesai!” bisik bela saat aku pamit mau keluar. Untungya setiap aku ketemu sama bella selalu ada client dadakan, jadinya soal bella bakal ajarin aku itu tertunda sampai dia yang menentukan.

***​

Papa meminta aku duduk di depan, sedangkan mereka duduk di belakang. Aku langsung bertatap muka dengan Namanya om roni.

Terlihat berkharisma seperti papa, memang cocok pegang suatu perusahaan atau punya perusahaan.

“ini yang Namanya om roni” ucap papa, aku dan om roni bersalaman.

“udah besar ya sekarang “ ucapnya seperti pernah mengenal aku.

“kayak pernah kenal, gitu” kataku.

“dulu kan satu sekolah kamu sama anaknya om roni, pas TK sepertinya ya ron?’

“iap pas TK, habis itu SD santi minta pindah sekolah,”

“lama banget hehe, pantes aku lupa om, hehe” tapi aku juga lupa anaknya bernama santi, pasti dia udah seumuran denganku, apa cantik atau tidak ya anaknya om roni.

“tapi penasaran sama hara, harusnya tadi gue yang antar kesini” pembicaraan papa sama om roni benar-benar gaul, pake Bahasa remaja masa kini.

“lagian jauh harus bolak balik ron, mendingan sekalian dari sini” ucap papa,

“jadi om roni belum ketemu hara?”

“belum, om jarang pulang kesini, kan sibuk antar boss besar “ tawanya seolah tak ada masalah besar. Dari sini juga tahu mereka sekeluarga tinggal daearah sini, rasanya gak bisa bayangin kejadian menimpa om roni. Berat pastinya,

aku gak kebayang gimana nasib anaknya, dan istirnya.

“oh ia pa, harsa mau tanya, ada proyek lagi lumayan besar. Tapi gak sebesar kemarin. Andai harsa gagal lagi gimana?”

“om tau darimana?”

“papa kamu cerita kok,” gue lirik papa yang pura-pura gak dengar.

“sebelum itu, kamu merasakan ada sesuatu gak? ada pengkhianat di perusahaan kamu?” tanya om roni

“iah, rasa seperti itu”

“tapi belum bankrupt kan?”

“belum, kalau seperti ini terus bisa jadi om, hehe”

“kalau besok kalah tender lagi, bilang ke manajer team kamu, kalau perusahaan ini sedang berada di ujung tanduk.”

“dan meminta saran ke mereka, andai ada yang suruh melepas saham atau meminjam uang, dia harus di curigai” jelasnya, aku kurang paham tapi intinya duri akan muncul saat daging sudah tak lagi tersisa.

“dulu perusahaan om gitu, perusahaan om lagi sehat-sehatnya, tiba-tiba ada yang membayar hutang perusahaan, yang sangat besar”

“jadi di gulingkan sama yang lain?”

“tepatnya ada yang bayar semua hutang perusahaan, sebagai gantinya om harus keluar dari perusahan dan harta yang lainnya.”

Gue terkejut juga saat om roni cerita kenapa hartanya pribadinya sendiri di jual agar membayar utang. dan om roni juga harus bayar hutang ke orang yang membayarkan semua hutang perusahaanya.

“apa mungkin yang bayar perusahaan papa yang bayar hutangnya?” suara papa sama om roni langsung terdiam,

“perusahaan om yang sekarang sudah satu grub sama perusahaan papa kamu, hanya beda kepala” senyumnya,

Om roni, langsung cerita setelah tau ini dia mencoba mendirikan perusahaan lagi dengan meminjam kembali ke orang yang mempunyai perusahaan om roni, tapi hasilnya tak memuaskan perusahaannya yang baru juga tak mampu bangkit dan om roni terjerat hutang ke orang itu, itu inti kenapa om roni jadi driver papa sekarang.

“teman juga bisa jadi musuh saat melihat kesempatan” ucap papa,

“kamu masih muda, masih banyak belajar” ucap om roni.

“apa pun hasilnya, itu pelajaran yang sangat berharga harsaa” lanjut om roni tepuk pundaku beberapa kali.

***​

Mada-

Hari ini lumayan duit yang gue dapat, dari hasil bongkar beras, terigu sama sayuran. Gue bisa bilang rejeki nomplok, karena biasanya sehari satu bongkaran aja.

“oi mattt” bang nasir kasih duit bongkaran sayuran.

“Gocaaaaapppp muachh” ucap gue sambil cium duitnya,

“ok bang makasih”

“mat, mau bongkaran lagi gak?” tanya bang nasir.

“boleh, kapan?”

“nanti sore, ketempat yang kemarin,”

“yang mana ya?”

“restoran kemarin, yang punya order lagi kayak kemarin, daging, beras dan lain-lain” ucap bang nasir kasih jempol. Entah kenapa senang sambil senyum sendiri dengar kalau restoran kak yua puas dengan kulaitas bahan makanan dari pasar ini.

“okelah gassss, tapi jangan berdua lagi lah, encookkkk ya” pinta gue

“ieee, slow, ya udah,, sore jangan lupa kesini”

“oke bang… siap”

Sorenya mobil udah kumpul seperti kemarin, bedanya yang angkut ada tiga orang termasuk gue. Itu bagus karena meminimaisir gue berpapasan kak yua atau yang lainya, dan rasanya ingin pulang ke rumah tidak terlalu kangen sama rumah, belum saatnya untuk itu.

“bang nasir, kok ngambil barangnya mau sore sih? Kenapa gak pagi?” tanya gue.

“entah, maunya sore, tapi tenang semua di usahain kuliatasnya fresh, rejeki mereka rejeki kita juga kan?”

“iah juga, sama-sama nguntungin”

“betul”. gue penasaran kkenapa kak yua, mau ambil bahan dari pasar sini, biasanya kenalan mama banyak yang bagus-bagus.

***​

Suasana restoran lumayan ramai, gue masukin barang seperti biasanya ke Gudang dekat samping tanpa di suruh. tapi kali ini pintu gak di kunci lagi, jadinya gak harus lewat dalam lagi.

Dari kejauhan, tepatnya di arah dapur, Kak yua seperti tak sadar gue udah bolak balik kedalam. karena dia lagi sibuk cicipin makanan yang bakal di sajiin buat tamu, kak yua emang pekerja keras mirip mama, dunianya adalah makanan.

Jam tujuh lewat sudah selesai, lebih cepat dari kemarin. Tenaga juga gak terlalu keluar besar seperti kemarin.

“heii tunggu” ucap kak yua pas gue mau naik ke mobil.

“ini ada bingkisan, buat kalian semua, tolong bagi-bagi ya mas” ucapnya senyum,

“iah bu, terima kasih” ucap gue dengan nada berat, sambil nunduk dikit. Entah rasanya takut kak yua tau ini gue.

Di perjalan menuju pasar, gue lihat babeh resin lagi mangkal di dekat lampu merah, dia memang sering mangkal disini,

“tinnn tinnn tinnnn tinnn” gue pinjem klaksonnya buat kasih salam babeh resin yang lagi beridiri, dia lambain tangannya, dan gue juga..

“matt, bilangin tuh si babeh resin, bulan-bulan ini banyak satpolPP. Gak lucu kalau kena Razia itu becak doyok” ucap bang nasir.

“ia nanti di bilangin kalau babeh resin dah balik ke pasar” seklias gue dari spion mobil babeh resin dapat penumpang, dan arahnya ke pasar. Gue merasa tenang saat babeh resin dapat penumpang.

Sesampainya di pasar, gue lihat isi bingkisan yang kak yua kasih dan isinya sop daging.

“itu dia” gumam gue saat cukup lama sekitar sepuluh tunggu babeh resin pulang, gue sengaja tungguin dia buat makan ini sop bareng sama babeh.

“wah belum pulang mat?”

“belum, baru selesai bongkar, udah makan lom beh?”

“belum, ini habis narik, istirahat dulu” ucapnya sambil tuntun becak ke tempat biasanya.

“ini ada sop sapi, bagi dua aja. Udah ada nasi juga” kata gue ambil mangkok terbuat dari besi, buat taruh sopnya. Sisanya kertas nasi di bagi dua, di tambah sendok plastik.

“ehhmm enak empuk banget dagingnya” gumam babeh,

“masa gigi ompong bisa bilang empuk” tawa gue.

“serius mad enak, ini sop” gue cuman senyum aja, jarang liat babeh makan makanan kayak gini.

Selain itu, ini sop mirip lagi dengan buatan mama. dan teringat yang paling suka sop sapi. Yaitu si harsa. Terakhir gue komunkasi sama dia mungkin satu tahun kemarin, itu pun lewat dari telepon mama.

“habisin aja beh, jarang-jarang makan menu daging gini”

“lo gak nyesel nih?”

“gak lah, tadi selesai bongkar juga di kasih makan juga kok” gue sengaja gak mau terusin makan, lihat babeh makan lahap gini aja udah kenyang lihatnya. ya jujur perut gue lapar. tapi gampang bisa beli pecel nanti.

Bersambung…..