Cerita Sex Boss Part 17

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Boss Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 16

Harsa-

Apa yang di rencanain bella sampai membuat jadwal nia untuk perawatan saat hari kerja, padahal dia sendiri yang tak suka menangani orang yang tidak terlalui kenal dekat seperti nia.

“oii harsa..” ucap budi saat gue melamun.

“haa tadi apa yang mau di omongin?” aku benar-benar melamun di dalam mobil, perjalanan menuju ke tempat papanya budi.

“masalah perkerjaan kok, sorry” nia hari ini juga ikut, tapi dia lebih pendiam, mungkin karena dia kena omel aku, padahal aku gak ngomel cumin gemes aja.

Dan hari ini harusnya jadwal untuk threatment, tetapi kata budi ada sesuatu yang mau di bicarakan.

“sedikiit bocoran ya, “ ucap budi saat sampai.

“apa?”

“si rena ngidam buah kesemek, lo tau gak kesemek kaya apa?” gue langsung melirik tajam, nia terlihat terkejut, pasti dia pikir bocoran soal terapi.

“hehehe, seriusan, gue tanya”

“yah cari di pasar, klinik lo dekat pasar kan?”

“yah, gak ah, di situ pasarnya kumuh, gue udah cari di sekitaran mall, gak ada juga”

“kalau kamu nia tau buah kesemek?” nia menggeleng tidak tahu.

Ini juga aku baru tau ada nama buah Namanya kesemek, aku Taunya buah simalakama.

“kalian masuk aja berdua, gue mau cari buah kesemek” ucap budi pas duah mau sampai di ruangan papanya. Papaya budi pun sudah ada di tempat seolah sedang menunggu aku dan nia.

“siangg nia, harsa” sapanya saat masuk ke dalam.

“siangg dok”

“siang om” kataku bersamaan dengan nia.

“gimana apa kalian masih merasa terbebani?” ucap papa budi

“sudah mulai ngak, om hehee” jawabku,

“kamu nia?”

“iah sedikit” senyumnya menyeringai

“good, justru kalau kalian semakin intim, proesesnya semakin cepat loh”

“maksudnya intim?”

“iah seperti pacaran, hanya seolah-olah kalian berdua pacaran”

“tapi dalam waktu threatment saja, ini di lakukan untuk menekan stimulus agar terbiasa, dan saat terbiasa ini berpengaruh terhadap libido yang tak terlalu mengebu saat melakukannya” jelasnya.

“ohh jadi, di bantu dengan obatnya kan?”

“yup di lakukan sampai kamu tak terlalu bergairah melihat sesuatu hal yang sama atau berulang, dan setelahnya harus ada pemicu dengan sentuhan, bila itu berhasil berati kamu ada kemajuan.”

“saya paham om,”

“coba apa yang kamu rasain selama ini?”

“hmm.. ucapan om juga benar, saya pas lihat tak terlalu naik libidobya, pas ada sentuh atau saya yang sentuh, baru naik itunya,” jawabku aku langsung paham maksudnya sekarang. bearti proses kesembuhanku berjalan dengan baik.

“terus?’

“menyalurkan fantasi juga, itu menurut saya pengaruh juga om,” ucapku lagi saat melihat nia cuman terdiam, seolah malu apa yang aku ucapin.

“saya bisa bilang satu perempat sudah kamu lewati, kalau seperti ini terus 6 bulan akan selesai, itu paling lambatnya” senyumku merekah,

“paling cepatnya empat bulan, dari sekarang” aku menyeringai semakin optimis cepat sembuh, karena lama kelamaan aku mulai menyukai nia,

“kemajuan yang cukup bagus, “

“iah om terima kasih”

“terima kasih ke partner kamu, dia sepertinya dengan tulus membantu kamu” kata papa budi, nia cuman senyum ke arahku, nia hanay diam selama ada disini, aku paham perasaanya, antara malu dan tak enak hati.

***​

Selesainya budi sudah menunggu di restoran, aku sama nia langsung ke tempat budi, tetapi sesampainya budi tak sendiri, melain ada seseorang.

“hellooooooo” suara bella yang sudah menyapa sebelum aku sama nia duduk.

“bel, loh kok tau disini?”

“tanya ke seketaris pribadi lah, tanya ke lo mah sama kayak tanya ke sim simi” ucapnya agak ketus pas aku tanya.

“nia?” angguknya,

“maaf pak, saya cuman kasih kabar aja, kalau kita ada dsini buat makan siang” ucap nia menyeringai,

“ya sudahlah,” gak sampai situ, bella langsung duduk di sampingku, dan nia di samping budi.

Entah apa yang di rencain bella, walau terlihat natural, tapi pasti ada rencana di baliknya, antara nia dan bella.

Semenjak putus sama si hara dia tetap menjomblo sampai sekarang, tapi saat ini aku belum ada ketertarikan sama bella.

Yang jelas dari sikapnya sekarang dia tipe cewek yang dlebih dewasa, lebih cantik dari sebelumnya , dan tubuhnya lebih langsing dari sekarang, tapi masih lebih montok nia.
untungnya bella cuman makan siang, karena akan bertemu client yang gak jauh dari sini.

Dan…..

Besoknya aku dapat kabar, durasi untuk klimaks di tambah jadi empat hari. Apapun terjadi harus di tahan sampai konsultasi selanjutnya. Itu dari budi kasih tau aku mendadak. tadi pagi.

Kalau di hitung harusnya sekarang melakukan terapi, tapi bertambah dua hari lagi, sepertinya aku bisa melakukannya.

Aku coba cari cara untuk bisa membuat wanita klimaks dengan cepat mengunakan jari, nia sepertinya gak klimaks saat posisi enam Sembilan kemarin.

Aku langsung cara tanya budi untuk hal itu, karena dia sudah mempunyai istri, pasti tau caranya foreplay. seperti gak masalah.

“wahh mau sama siapa lo harsa” chat dari bella, dan masalah besar langsung terjadi. Aku salah chat bukan dengan budi, melainkan bella.

“hahaha udah gue screenshot, percuma di hapus” lanjutnya kirim foto chat aku menanyakan cara untuk wanita klimaks dengan jari.

“masalahh besarrrrrr”gumamku dalam hati.

“please delete” balasku.

“gue mau tau.. buat itu tanya gituan?”

“salah chat. Mau tau aja”

“mau gue kasih tau gak caranya?” balas bella dengan emo ketawa malu. Libido ku langsung naik tiba-tiba menanyakan seperti itu,

“hari ini free gak? ke klinik aja, gue tunggu, kalau gak datang gue laporin ini ke nyokap!” ucapnya di akhiri emo chat ketawa.

“mampussssss!” gumaku, bisa kacau kalau bella benar-benar laporin isi chat ke mama.

“kenapa? Ada sesuatu?” tanya nia berdiri di depanku.

“gak apa-apa, kamu boleh istirahat, saya ada urusan dulu.” Ucapku mengelus bongkahan pantat nia,

“ia pak, dua hari lagi jadwalnya, hehe” ledekan nia membuat aku sedikit ketawa, karena aku lebih suka nia yang sekarang, lebih mempunyai ekpresi di banding kemarin.

***​

Terpaksa aku menumi bella di kliniknya demi menghapus foto screen shotnya , saat aku sampai dia baru selesai bertemu client. Bella mengajak ke kantin di samping klinik. untungya otak gue gak berpikir macam-macam soal di bakalan beneran ngajarin soal foreplay dengan jari.

“soal tadi” kataku buka pembicaraan

“makan dulu laper” potong bella yang udah pesan soto, gue turutin ikut makan soto,

“soal apa?” tanyanya pas selesai makan.

“hmm yang tadi” jawabku.

“ohh.. tenang.. gue bakal delete, asal kasih tau siapa ceweknya?” jawabnya dengan mata yang tajam sambil membersihkan mulutnya.

“ya lo lah” jawabku sekenannya, gak mungkin aku bilang buat nia.

“heee??” dari raut wajah yang serius bella langsung pasang muka bingung.

“itu cuman fantasi aja kok, sekalian pengetahuan kalau udah nikah nanti” jawab aku lagi.

“nikah sama gue?”

“ya kali..” aku belum kepikiran untuk itu, tanpa sadar keringat dingin mulai keluar.rasanya kyk di intograsi sama polisi.

“issh ngelesin ah,”

“kalau lo mau tau caranya, gue ajarin nanti” senyumnya berdiri bayar nasi soto kita berdua.

“nanti gue cari waktu kalau lo serius, gimana?”

“heee??”

“ya udah, gue mau main ah besok minggu ke rumah lo, ketemu tanteeeeee”

“ia ia, gue mau dah, habis itu delete ya”

“yaaaaaaaaa kaliiiii, kalau lo gentle sih.” lambaian tangan bella masuk ke klinik.

“gilaaaa” nambah satu beban pikiran aku, kenapa bella yang mau ajarin.

“wah wah gak beres ini, kacaauuu” feeling gue gak enak pas bella ngomong seperti itu.

***​

Mada-

 

Gak biasanya si nia telat, gue udah hampir tiga puluh menit duduk di motor tunggu dia datang, semua posisi duduk di motor udah gue coba, tapi tak ada buah dada yang muncul, maksudnya batang hidungnya.

Akhirnya batang dada nya muncul, nia baru saja turun dari angkot, ada yang aneh. Kali ini Pakaian yang di pakai nia selalu sama saat pergi dan pulang. Itu sudah beberapa hari termasuk hari ini.

dia membawa tas, tapi gue bawa gak ada berat-beratnya seperti isinya cuman pakian.

Bisa jadi isinya pakaian kerja, make up dan sejenisnya. dan satu Kejadian yang jarang terjadi. Di punggung gue nempel buah dadanya, andai tangan gue bisa berubah ke punggung bisa rasain tuh berapa besarnya.

“bletaaakkk” motor gue masuk ke jalan berlobang gara-gara pikiran gue focus ke punggung. Nia langsung peluk erat pinggang gue lagi sampai lewatin jalan rusak.

“sampai,”

“iniiii” nia langsung kasih uang.

“buat ??”

“isshh, bulanan karena udah antar aku, hehe” senyumnya,

“ohh.. baiklah, aku ambil” sekilas terlihat serratus ribu lima lembar dan satu lima puluh ribuan satu.

“lebih gocap ini”

“bonus hehe, aku masih butuh bantuannya sampai nanti dapat kerjaan lebih deket” ucapnya.

“kamu mau pindah kerja?”

“iah, enam bulan atau empat bulan lagi, ssampai kontrak aku habis” ucapnya, aku mengangguk pelan.

“siapppp!” nia ketawa pelan langsung masuk ke rumahnya sambal lambaikan tangannya. Di lain sisi selain buah dadanya, nia orangnya baik gak kayak mandang orang sebelah mata.

Tapi masih penasaran sampai sekarang, tampilan yang secakep itu tinggal di rumah seperti itu,

Masa ia dia awalnya orang kaya terus bankrupt dan terpaksa tinggal disini, di pikir-pikir itu gue gak berhak tau latar belakang nia.

***​

Sampai di kontrakan gue baru sadar, tas nia kebawa. Mau gak mau gue bawa masuk dulu, sambil cek handphone takut dia telepon, Kenyataan tak ada telepon dari nia. Dan saat gue telepon ke nomor dia, pulsa gue gak cukup. Terakhir sisa kemarin lima ribu,

Penasaran gue buka isinya, dugaan gue benar, isinya pakaian kantornya. dan ada tas kecil lagi, saat gue anggkat gak sengaja ada sesuau yang jatuh, yaitu celana dalam nia yang berenda.

“ohh shit, kepala gue jadi mesum gini” rasanya celana dalamnya mau gue ambil terus gosok-gosok ke penis. gue buka tas kecilnya, dan benar ada ponselnya, pantes aja nia gak telepon gue.

Entah setan apa, gue gue buka celana dan masuki penis gue yang tiba-tiba tergak masuk ke tengah-tengah celana dalamnya, gue lilit sedikit sambil gue kocok perlahan.
“ohhh lembuatnya” gumam gue, terus kocok dengan kecepatan maksimum sambil membayangkan penis gue di lumat sama bibirnya.

“madaaa”

“madaaaaaaaa” suara panggilan dari luar, samar-samar suaranya mirip si nia.

“oh shit, jangan dulu” gumam nahan klimaks sekuat tenaga, tapi akhirnya gue gak tahan.

“iaaahh” jawab gue, di ikuti cairan hangat yang masuk ke dalam celana dalamnya, dan buru-buru gue masukin ke dalam tas nya lagi seperti semula.

“sorry, dari wc tadi”

“kamu tau darimana aku tinggal sini?”

“hmm tanya-tanya hehe, tadi tas aku ke bawa yah sama kamu?”

“ohh ituu, ada kok di dalem, tadi rencana habis mandi mau antarin hehe” gue senyum takut kalau nia lihat ada cairan di dalam celana dalamnya.

“ini rumah, kamu atau kontrakan?” tanyanya sesekali lirik ke dalam kontrakan.

“kontrakan ehhe, dua ratus lima puluh ribu sebulan” anggukya pelan, memang agak kusam di tambah depan kontrakan banyak tanah dan semua jenis batu ada di situ, mulai batu krikil, batu bata, batu kali pun ada.

“mau di antar gak? Sekalian mau beli makan juga”

“boleh,

“awssshhh ” teriak nia terpleset dan hampir jatuh karena sendal banyak tanah merah, gue yang gak jauh darinya dengan mudah nahan tubuhnya.

Dan bersamaan juga tangan gue pegang buah dadanya, walau di pinggirannya tapi terasa bulatannya.

Ukurannya mungkin Cup D, mirip kayak teteh eka yang punya warteg, para pelanggan yang makan disana gak mungkin gak liatin buah dadanya. Di tambah janda banyak yang incer.

“gak apa-apa?”

“licin, pakai sendal jepit” tunjuknya sendal jepitnya yang penuh tanah merah,

***​

saat perjalan pulang, Tasnya di pangku sama nia, jadinya gak terasa sesuatu yang menganjal di punggung gue pas lewatin jalan rusak.

“oh ia, disini ada makanan yang enak selain pecel sama bubur?”

“ lumayan sih kalau malam kayak gini, deket pasar juga”

“yuk kesana, aku belum makan hehe”

“hmm okeh” gue setuju ajakannya walaupun gue kenyang, soalnya sambil tunggu nia gue udah makan lontong sate.

“ada sate tuh, gimana?”

“boleh, aku juga belum coba”

“eh matt… makan lagi loe?” tanya bang satenya,

“hee? tadi ngemil, sekarang makan” jawab gue,

“pesen dua bang, kamu sate apa?”

“kambing ada?”

“ada tuh yang tukagn satenya kayak kambing” jawab gue ketawa, memang bener jenggotnya mirip kambing. cuman secuil di dagu.

“suee lo mat, ” ini yang paing gue demen, saling kata-kataan kata kasar, tapi orang-orang sini gak pernah marah sedikit pun. karena tahu itu cuman candaan semata.

Terlihat nia awalnya risih karena banyak nyamuk, tapi selanjutnya biasa aja. Dia pesan sate kambing, gue pilih ikutin menu dia.

Gue gak makan dulu, tapi lihat cara nia makan, gue yakin dia dari orang berada sebelumnya, cara gigitnya bikin linu sendiri.

“enak juga yah eheh” ucapnya pas gue perhatiin dia.

“suka banget kambing?”

“uhmm, ya sapi, kambing, ayam, juga sama ikan juga” ucapnya tanpa jeda sedikit pun. Sepertinya nia gak sadar pas aku perhatiin dia.

“bang dua berrapa?” kata gue pas dia cari sesuatu di tasnya.

“kok dua? Aku pesanya lima, tiganya di bungkus” potong nia.

“aku yang bayar ya, kan habis gajian” potong gue.

“kalau gitu satu lagi bungkus, sate ayam bumbu kecap aja” gue langsung inget babeh resin, sekalian jalan sekaligus cek kondisinya,

“ehh? Gk usahh lah,” nia langsung kasih duit ke aku.

“kan habis gajian, jarang-jarang ini kok” gue ambil duit di tangannya, masukin ke dalam tasnyanya.

“okey, lain kali aku traktir” senyumnya pelan.

Nia langsung naik motor lagi, kali ini tasnya di taruh di jok depan lagi, dan sentuh beberapa kali di punggung gue.

“kita mau kemana? Kok sepi?” nia langsung jaga jarak. pas masuk ke samping pasar,

“mau kasih sate kok, kalau takut tunggu disini, aku sebentar aja” nia angguk setuju dia tunggu di motor, soalnya kalau gue bawa motor ke dalem lagi, pasti dia berpikir macam-macam.

“behhhh” teriak gue,

“eh lo mad,”

“nih sate, gimana kondisi aman?”

“amaan terkendali, masih batuk dikit,” dari wajahnya juga udah kelihatan lebih bugar.

“baguslah, nih sate beh, habisin yah, jangan terlalu capek juga”

“Madaaaaaaa~~~” teriak nia dari kejauhan, gue juga kaget langsung lari,

“buukkkk, awwggh” nia nabrak gue, untungnya gak jatuh.

“ada apa?”

“ada yang liatin, makanya aku lari hehe,” wajahnya benar-benar panik., aku langsung ajak ke dalam, kenalin ke babeh resin.

“pacar lo mad??” gue saling pandang dan bersamaan menggelengkan kepala.

“kok di liatinya cocok ya” lanjutnyaketawa geli sambil makan sate. Gue sama nia saling pandang lagi.

“kita cumin teman kok, dia antar jemput” ucap nia.

“betul tuh”

“ohhhh gitu” jawab babeh resin. Tapi nia kepalanya tak mau diam, di melihat sekeliling, seperti gak percaya babeh resin tinggal di tempat seperti ini.

“babeh kamu beneran tinggal disini?” bisiknya di belakan gue.

“iah, susah orangnya”

“hee, ngomongin orang tua kualat lo, “ celetuk babeh yang masih kunyah.

“siapa juga yang omongin, cuman kasih tau kenyataan” balas gue.

“hehehe” nia tiba-tiba ketawa dengar gue sama babeh debat kecil, gak mungkin dia ketawa tiba-tiba karena kesurupan.

“kenapa ketawa?” bisik gue.

“lucu aja, hehe” jawabnya sambil tepukin kakinya sepertinya para nyamuk sudah mengincar kakinya yang mulus,

“kalau gitu beh balik yah, besok mada kesini lagi,” kata gue pas babeh resin dah selesai makannya.

“iah, jaga baik-baik pacarnya” celetuknya lagi.

“beehhhhhhhhhhh ahhhh, temen, cumann temen” kata gue merasa malu apa lagi ada orangnya di samping gue.

“hahahaha,” babeh cumann ketawa.

gue langsung antar nia dengan tas di pangkunya, tapi tanganya erat pegang pinggang gue, nia hanya terdiam mungkin merasa gak enak dengan ucapan babeh tadi, gue juga demikian. apa lagi nia udah punya cowok.

“semoga putuslah” gumam gue di dalam hati,,

Bersambung….