Cerita Sex Boss Part 16

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Boss Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Boss Part 15

-Nia

Aku merasa jadi canggung sama mada, gak seperti biasanya kalau ketemu dia. Harusnya aku gak kasih tau kalau aku lagi tunggu telepon dari ares.

Tapi memang kenyataan begitu, aku semakin pesimis terhadap ares, sepertinya aku harus udahan sama dia, Aku gak mau menjadi beban dengan aku yang sekarang,

Semakin yakin dia punya cewek lain selama aku gak ada kabar, Air mataku mau menetes seolah berat mengambil keputusan.

Tapi teriang di kuping aku ucapan mada tempo hari, ucapan benar-benar menancam di kepalaku.

“aku harus kuattttt!” gumam kediriku sendiri, dan aku berhasil untuk tidak menangis memikirkan ares.

Mata aku mulai terlelap, tapi kembali terbuka saat terdengar suara mobil. Pasti itu papa sama mama baru pulang.

Aku langsung bangun dan turun perlahan agar tak membangunkan albert, denyitan tempat tidur cukup keras walau aku sudah perlahan turun.

“Hasilnya sama aja kan pah,”

“yang terpenting albert sama shanti udah aman karena identitas mereka udah di ganti, jadinya mereka berdua gak akan kena imbasnya untuk sementara waktu” ucap mama,

“mama harap bukan sementara, biar mereka berdua aman.“

“dan untungnya papa masih ada teman baik, dia satu-satunay yang biasa bantuin kita”

“apa kita bisa kembali ke kondisi seperti dulu?” potong papa menghela nafas panjang.

“mama selalu di samping papa, apapun terjadi,, dan anak-anak kita harus lebih dari sekarang,”

Ucapan mama membuat aku sedikit nyesek, karena aku tau alasan namaku dan albert di ganti. mereka gak mau libatin aku dalam masalah mereka, aku duduk di belakang pintu sambil terus mendengarkan pembicaraan mereka.

***​

Suara langsung hening sesaat, tapi gak ada suara mereka masuk ke dalam kamar. Aku langsung kembali membuka sedikit pintu kamar.

Kejadian yang jarang aku lihat, papa sama mama lagi bercumbu di ruang tamu. Melumat satu sama lain.

Waktu aku masih SMA sebelum aku kuliah, aku sering melihat mama sama papa seperti ini, di ruang tamu seperti ini. kali ini aku melihatnya lagi.

Mekera melakukannya seolah tak ada masalah, atau jangan-jangan mereka melakukannya karena menghilangkan stress.

Aku terus mengintip sampai aku memasukan tangan ke celanaku dan mengelus vaginaku dari luar celana dalam yang sudah terasa basah.

Kali ini mama naik di atas sofa dan tubuhnya naik turun, aku bias lihat buah dadanya bergejolak penuh energik, di ikuti desahnya di tahan. dengan posisi itu mama mendongkan kepalanya sambil tangan papa di buah dada mama.

Aku benar-benar tak tahan, aku menutup pintu dan langsung duduk di bawah sambal buka celanaku sebatas paha, Jari-jariku langsung memainkan vaginaku,

“ohh” aku menutup mulutku takut albert terbangun, aku melakukan sambil memejamkan mata.

“nggghhhh” gumamku langsung membuka lebar kakiku, membayangkan harsa memainkan vaginaku seperti kemarin. membayangkan harsa membuat aku semakin cepat untuk klimaks.

“ohhhhhh” tubuhku langsung gemetar sekaligus merapatkan kakiku, terasa cairan hangat keluar dikit demi sedikit di jari-jari tangaku. aku mengambil nafas dulu sebentar menikmati sisa-sisa klimaks

Aku tak berani memasukan jariku,karena takut lecet, dan hanya memainkan klitoris saja, seperti harsa, dia juga tak memasukan jari-jarinya kemarin,

Aku Kembali mengintip, tetapi papa mama sudah tak ada sepertinya mereka sudah masuk ke kamarnya. aku langsung ambil tissue buat bersihin cairan yang menetes di lantai dan buat bersihin tanganku.

sebelum naik lagi ke atas aku melihat sekilat albert membuka matanya, aku lihat lagi di terpejam, mungkin itu hanya persaan aku aja. mana mungkin dia bangun dan intip aku lagi masturbasi. dan malam ini sepertinya aku tidur nyenyak.

***​

Paginya…

Kali ini boss harsa berpenampilan beda, dia seperti habis olahraga, wajahnya lebih segar di banding kemarin saat aku menemuinya.

Tapi keterbalikanya denganku, aku bangun dengan tubuh yang lemas, mungkin ini efek klimaksku saat mengintip mama,

“kamu lesu? Kurang tidur?” tanya saat sudah berpakian rapih seperti biasa.

“hehe, ia pak”

“di Gedung sebelah ada tempat gym, kamu boleh gunain kalau ada waktu senggang” ucapnya.

“hmm ia pak, “ aku sebenarnya tak berniat untuk melakukan gym atau sejenisnya.

“ssaya boleh saran?”

“boleh banget pak” ucapku saat mau duduk lagi

“turunin berat kamu sekitar lima kilo, kamu punya body yang sekal, dan pasti lebih memikat” bisiknya kedipin satu matanya sambil berjalan keruangannya.

Aku hanya menyeringai, sambal pegang pinggangku, tapi menurutku segini sudah cukup ideal.

Tapi ucapannya benar dulu aku tak segemuk ini, di pinggangku ada lemaknya bisa aku cubit dengan tangan.

Jam makan siang pun tiba, aku langsung menuju ke klinik untuk bertemu temannya harsa, dokter yang mencukur kemaluanku. Yaitu bella.

Karena aku di kasih jadwal satu minggu satu kali untuk melakukan perawatan, kesempatan yang gak boleh aku lewatkan,

Sesampainya aku tak perlu antrian lagi, karena dr bella yang khusus melakukannya. Ini pasti karena aku kenal dengan boss harsa kemarin.

“siang niaa” ucapnya masuk ke ruangan. wajahnya begitu ramah.

“siang dok” kataku agak gugup karena aku masih kurang percaya diri soal kemarin, apa lagi aku di sangkut pautkan sebagai kekasih harsa,

“kita facial ya hari ini” senyumnya, aku langsung rebahan di tempat yang udah di sediakan. Aku menarik nafas dalam-dalam, Tak ada suara dari dokter bella hanya suara mesin yang bergetak di wajahku.

“aku masih heran, kenapa harsa kasih paket vip buat kamu” ucapnya membuka pembicaraan.

“vip?” tanyaku,

“iah, itu paket yang terbaik disini klinik ini” jawabnya.

“aku gak ada hubungan apa-apa, aku sama pak harsa hanya sebatas rekan kerja” kataku,

“aku juga tau, kalau dokter mulai suka dengan pak harsa kan” kataku tak sengaja keceplosan

“issh, sok tau,”

“kita sama-sama perempuan, aku tau kok, kelihatan saat bertemu di restoran.” Dr bella terdiam, terdengar tarikan nafas panjangnya sambil terus melakukan facial.

“entah apa itu, harsa susah di tebak sama seperti si hara” ucapnya.

“hara?”

“iah, dia mantan aku, tapi sudah jadi kenangan, sih jadi udah lupakanlah,” dokter bella seperti tak mau membahas namanya hara.

“mulai kapan kamu menyukai pak harsa?”

“tahun lalu, di acara pernikahan keluarga, dan baru kali ini bertemu. itu pun karena ada pasien yang berhubungan dengan harsa” aku kurang paham maksudnya, apa mungkin karena aku memakai nama harsa mendaftar itu membuka jalan pertemuan kembali bella dan harsa, mungkin begitu.

“ouh, tapi aku janji dan berani jamin aku gak ada hubungan apa-apa dengan harsa,” bella manatapku tajam, tapi memang benar aku ada perasaan sama sekali, hanya sedikit mengaguminya. tapi saat terapi.

Reaksi bella berubah, dia lebih ramah sampai facial selesai, di memberiku cream untuk kulit wajah, karena terlalu kering.

“selesai, salam buat harsa yah’ angguk pamit,

***​

Aku langsung kembali ke kantor , tapi aku mencoba lewat ke Gedung sebelah, mencari tahu tempat yang di maksud harsa. Yaitu GYM

Gedungnya lebih luas di banding yang satunya, dan tentunya karyawan lebih banyak, aku sengaja tak menanyakan dimana tempat gym berada. aku langsung ke lantai empat, suasanya lebih sepi di banding lantai satu dua dan tiga.

“wah wah, ada apa nih sektaris pak harsa disini?” suara yang tak asing, dia si manager mesum. Ya aku memanggilnya dia sekarang di dalam hati.

“saya cuman jalan-jalan, liat suasana baru” ucapku langsung permisi.

“wah jenuh yah?, kita keruangan aku yuk, ” ajaknya coba pegang tanganku, tapi aku tepis seketika.

“haha semakin jaim, semakin semangat tau buat mengagahi kamu,” tawanya kecil,

“gimana ssepuluh juta semalam? satu kali keluar deh, kalau saya dua kali keluar udah dua puluh juta” ucapnya cukup keras, untungnya suasana lantai empat sepi. Aku mengabaikan dan langsung kembali ke ruangan.

“call me baby, joni ku siap menggempur mu “ ucapnya cukup keras, aku setengah berlari agak tak mendengar lagi suaranya.

“darimana aja kamu?” suara pak harsa berdiri saat aku masuk.

“hmm, maaf pak tadi dari klinik hehe, kata dr bella dia biasanya sekarang” harsa membukukan tubuhnya dan melihat tajam wajahku.

“oh ya?”

“sekarang lihat jam berapa?

“jam satu lewat tiga puluh menit pak” ucapku,

“dan jadwalnya?”

“ohh ia meeting” aku coba masuk, tapi tangan boss harsa menghalangi

“aku lupa hubungin clientnya, duh hape hapee” aku panik

“tidak perlu, meeting di tunda,” ucapnya menahan nafas sambil senyum kesal.

“maaf pak,” aku menundukan kepala, pasti boss harsa kehilangan proyek, karena aku.

“untungnya, client gak bisa datang, jadi kamu masih selamat dari omelan okeh” ucapnya pelan tapi raut wajahnya terlihat gemas.

“lain kali lihat jadwalnya okeh, dan jangan lagi ada jadwal perawat saat jam kerja,” bisiknya benar-benar nada gemas.

“iiaah pak, maaf,” aku langsung di perbolehkan masuk,

sepertinya aku gak jadi beri salam dokter bella ke boss harsa, kalau aku lakukan bisa-bisa aku beneran kena omelnya. hari ini benar-benar kurang beruntung, di tambah ketemu manager mesum.

Bersambung