Cerita Sex Boss Part 15

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Boss Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex – Cerita Dewasa – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru

Harsa-

Hari ini aku pulang ke rumah untuk temuin papa sama mama, aku benar-benar tertekan untuk masalah ini. Tak biasanya semua pada kumpul di rumah.

“tumben anak bawang pulang ke rumah” ucap kak Maxwell, aku cuman kasih raut wajah lesu sambil ikut nimbrung mereka lagi ngobrol.di ruang keluarga

Ternyata mereka sedang membicarakan soal hara yang datang ke restoran kak yua, walau ia sedang mangangkut barang-barang kemarin, kami semua berpura-pura kalau tidak melihatnya.

Ini semua rencana mama untuk hara, agar dia kangen suasana kumpul seperti ini. Entah berhasil apa ngak. Dia orangnya keras kepala kayak papa, makanya konflik sama papa berbuntut sampai hari ini.

“haaaaaaaa~~~” lenguh nafas Panjang aku teringat kembali masalah perusahaan,

Aku seperti gak sanggup untuk memegang perusahaan yang papa berikan, tapi tak ada orang lain yang dapat di percaya di perusahaan ini.

Sepeertinya ini waktu yang tepat untuk cerita apa yang terjadi dengan papa,

“Ada apa tumben mau ngomong empat mata ?” tanya papa pas di ruang tengah sisa papa aja yang belum masuk ke kamar.

“ini soal perusahaan papa,” ucapku pelan.

“semenjak harsa pegang mulai banyak masalah, termasuk kalah tender dengan yang lain, feeling harsa ada duri dalam daging di perusahaan” ==

“maksudnya ada yang jatuhin perusahan kamu?” angguk aku pelan.

“kita lihat beberapa bulan lagi, dengan berat hati di rapat direksi kemungkinan kamu bakal di ganti, sama orang lain” ucap papa

“dan otomatis saham perusahaan akan jatuh, dan kemungkinan orang yang kamu sebut duri dalam daging dialah orangnya’

“maksudnya?”

“harusnya perusahaan ini masih bisa berkembang dengan baik untuk beberapa tahun” aku menggaruk -garuk kepalaku sendiri sampai rambut berantakan.

“ada yang mau kuasain perusaahan ini, yang sebenarnya perusahaan ini berpotensi menjadi pesaing yang lainnya?” tanyaku ke papa, setelah pusing memikirkan apa maksudnya

“Maybe” ucap papa senyum, seolah tak takut kelihalagan perusahaannya, maksudnya dia tak takut kalau aku gagal.

Papa seolah percaya kalau aku mampu melakukannya, tapi ini lebih berat yang aku bayangkan. Tak mungkin ada hal seperti itu. dan pasti aku bakal di tendang dari perusahaan ini.

“kamu demam?” ucap mama, pas aku tiduran di sofa.

“ngak kok,”

“ini badan kamu panas, mata kamu juga agak hitam, gak tidur?”

“hehehe iah” akhirnya aku mengaku aku tak bisa tidur seharian, mama benar-benar tau kondisi aku walau aku menyembunyikannya,

Dan juga merasa tubuhku juga pada linu. Tapi semua aku tahan untuk memikirkan tentang perusahaan ini.

“harsa takut ma, andai perusaahan yang papa kasih gak bisa berkembang dan malah down” ucapku.

“papa pasti ada alasan kenapa papa gak bantuin masalah ini, “ ucap mama pelan.

“alasannya ?”

“alasannya??”

“hmm apa yah, yang jelas papa pernah salah akuisi perusahaan yang ternyata adalah perusahaan teman papa sendiri” ucap papa berdiri tegap siap-siap pergi.

“kamu tau om roni, driver papa sekarang?” angguk aku pelan.

“dia teman papa, yang perusahaanya di ambil alih sama rekan bisnis papa kamu juga, dan masih satu grub di perusahaan”

“di bisnis ada aturannya sendiri,, dan tak bisa di selesaikan sendirian, dan peraturan tak bisa di cancel dengan keputusan sepihak itu pun kalau saling kenal.”

“termasuk perusahaan kamu, papa gak kasih sepenuhnya, pasti ada alasan papa sendiri kasih ke kamu” aku menghela nafas panjang.

“oh ia ma?,om roni kehilangan semuanya?” angguk mama dan papa berjalan pergi.

“selama masih hidup, kita gak bisa lepas dari masalah, har.” Ucap mama buat mengela nafas,

“ahh” aku semakin stress bagaimana kalau nasib perusahaan yang aku jalanin sekarang bakal seperti itu, tapi siapa yang tega melakukannya.

“lebih baik kamu istirhat” ucap mama elus rambutku seperti anak kecil.

***

besoknya dugaan mama benar, aku demam. tubuhku terasa sangat linu. untungnya budi bisa datang untuk check kondisiku. dan tak sampai di rawat di rumah sakit. hanya suruh beristirahat lebih banyak. dia juga sedian obat tidur kalau aku gak bisa tidur.

sehari di rumah, aku pilih istirahat di apartement karena disana lebih tenang, mama izinin aku kesana termasuk di antar kak maxwell. dengan syarat pastikan aku istirahat seharian full.

itu berhasil, mungkin efek obat tidur juga aku tidur dari jam enam sore sampai besok paginya. t

“ning nong” bel apartemen aku berbunyi, padahal masih jam delapan pagi. aku merasa tubuhku lebih enteng karena banyak tidur. tetapi masih terasa agak pegal.

“nia?” gumamku, padahal aku tak memintanya kesini, apa lagi untuk threatment.

“pagi” ucapnya saat aku bukakan pintu.

“pagii juga, masuk”

“bukannya kamu libur?”

“saya kesini saat dengar pak harsa lagi sakit, lagi pula di kantor sudah tak ada kerjaan pak, meeting sudah di undur lagi.” ucapnya lebih friendly seperti ini. Aku akuin aku lebih suka yang sekarang.

“ada bubur ayam, saya beli pas mau berangkat, masih hangat” lanjutnya langsung masuk ke dapurku dan langsung sediakan buburnya di mangkuk.

“kondisi pak harsa sekarng ? sudah sarapan juga?”

“belum,, tapi udah lebih baik,terima kasih perhatiannya” angguknya pelan.

“saya boleh tanya sesuatu?”

“silahkan” aku sambil melahap bubur yang di bawa oleh nia, rasanya lumayan enak,

“saya merasa apa yang pak berikan itu terlalu berlebihan, termasuk perawatan, tunjangan gaji yang lumayan besar buat bulan ini.”

“ gak masalah, aku bakal loyal ke orang yang benar-benar loyal, apa kamu ada masalah dengan bella?” nia sempat terdiam sambal menggelangkan kepalanya.

“terus kenapa?”

“saya minta maaf soal hari pertama itu, aku sudah meghabiskan cukup banyak” aku ingat soal aku memberikan credit cardnya yang dalam sehari menghabiskan puluhan juta,

“pak harsa boleh potong, dari gajiku ” lanjutnya senyum.

“no no, gak perlu sampai segitu, cukup kamu lolay ke aku dalam proses threatment ini saja dan jaga kpercayaan aku” aku balas senyumnya

“tapi soal terapi, ini sudah empat hari berlalu, apa saat nya terapi?”

“oh ya?’ aku benar-benar lupa soal itu, masalah perusahaan membuat aku lupa semuanya. Dan nia langsung berdiri dan membuka satu persatu pakiaannya, itu buat penis aku langsung meronta-ronta di dalam celana kolor.

“sekarang?” tanyaku sambil menelan ludah sendiri melihat nia telanjang bulat di depanku.

Aku bisa melihat tubuhnya dengan keseluruhan, benar-benar tubuhnya sekal, terutama buah dadanya, dan juga bongkahan pantatnya terlihat kencang.

“kita melakukannya dengan telanjang?” godaku

“boleh, asal tak melanggar perjanjian,” ucapnya sambil tersenyum, aku langsung cepat habisin bubur ayam yang di bawanya. Dan ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

“aaahhh~” jeritnya kaget saat aku peluk dari belakang sambil remas buah dadanya. sambil mencium tengkuknya. di Saat bersentuh dengan bongkahan pantatnya penisku langsung berdiri tegak.

“kita coba posisi enam sembilan ya” bisikku memainkan vaginanya dari belakang.

“ngghh iah” aku langsung tidur telentang, nia langsung naik mengarahkan pinggulnya tepat di wajahku.

“slrrruuippss” tubuhnya reflek bergetar saat aku jilat pinggiran vaginanya, vaginanya benar-benar rapat, di tambah bibir vaginanya benar-benar menggiurkan saat basah seperti ini. rasanya mau aku lumat.
.
“nggghhhhhh aahahhh” lenguhnya saat jari-jariku membuka lebar bibir vagiinanya, jariku benar-benar terjepit antara belahan vaginanya,

“ohhh,” sepertinya nia membalas perlakuanku, hisapannya begitu terasa sampai lubang penisku. Rasanya sedikit nyilu saat nia menghisap dengan kuat..

“ouhh yaa teruss” aku tampar pantatnya sebisaku, kadang aku remas sambil melumat vaginanya yang semakin basah,

“sstopp dului” pintaku

“siniii” akuajak nia tiduran di pinggir tempat tidur, aku berdiri di kepalanya, dan memasukan penisku ke mulutnya.

“ohhh yaaah” penisku keluar masuk perlahan sambil meremas keudah buah dadanya. Sama seperti di kantor, bedanya kali ini di tempat tidur apartementku.

“ohhhhhhh niaaaaaaaa” racau terus maju mundur peniskua ke mulutnya.

“yaaaahhh… crattt crootttt” aku langsung cambut dari mulutnya, di ikut semburan yang sama banyakan sseperti kemarin, bukan wajahnya nia yang terkena tetapi buah dada sampai perutnya.

“pakk pakk pakk” aku menamparkan penisku di wajahnya yang basah,

“slrruupp” nia melumat kepala penisku saat aku menampar bibirnya pakai penis,

“ohhhh shiittt linuu: gumamku, saat lidahnya seolah membersihkan sisa sperma di pensiku sampai bersih..

***​

Mada-

Udah seharian gue terus pikirin kejadian kemarin, sebuah kesengajaan atau sebuah kebetulan sampai gue ketemu semua keluarga gue.

Dalam hati gue berkata gue kangen kumpul seperti itu. Tapi ego gue berkata tidak sampai mendapat pengakuan.

Di tambah lagi, makanan yang di kasih pas saat itu.. gue yakin itu masakan mama, karena ikan pesmolnya benar-benar sama rasanya seperti dulu.

“shittt” gue benar-benar kangen rumah kalau seperti ini, dan mau lagi makan pesmol buatan mama lagi.

Gue memang suka makan ikan, entah kenapa. Mungkin karena factor genetic, papa juga suka sama Namanya ikan, tapi dia hampir semua ikan di makan.

Dan satu makanan yang gue sama papa suka, yaitu ini pesmol ikan buatan mama,

Daripada kepikiran terus gue mau cek ke babeh resin, ya udah pindah tempat yang lebih baik dari sebelumnya.

Tepatnya di samping pasar, tempat Gudang beberapa orang disini, tempatnya kering dan babeh resin bisa taruh becaknya depan Gudang,

“becaknya ada” gue intip kedalam, dia lagi tidur dengan selimut kain sarung.

Suasana samping pasar kalau malam kayak gini sepi dan lenggang, di tambah gue gak sengaja lewatin si boris lagi ngumpul depan pasar, Dia liatin gue kayak orang lapar, kira gue nasi uduk kali.

Gue lihat sepintas dia kayak lagi ambil duit dari anak-anak, emang banyak anak-anak jalanan disini, tinggal di belakang pasar. termasuk bang boris yang jaga.

Kerjanaannya anak-anak biasanya pengamen, jual plastik, tissue dan sebagainya, gue gak mau ikut urusannya. Jadi gue gak mau tau lebih dalam.

Di perjalan arah pulang, sebelum pertigaan gue lihat seseorang duduk di taman kecil, tepatnya lapangan kecil biasa bocah-bocah kecil kalau sore main disini. sekarang udah malam juga gak ada bocah yang main,

“itu si nia” gue yakin, dia lagi duduk bersila sambl main ponsel, tapi emang bener ini lapangan gak jauh dari rumahnya.

“hiii” sapa gue parkir motor di deket bangku permanen terbuat dari semen, sampingnya ada pohon manga kecil.

“hii” senyumnya langsung memasukan ponsel ke kantongnya, nia memakai jaket dan celana tidur, walau gitu lekukan buah dadanya agak terlihat, karena jaket yang di pakai agak kecil.

“udah malam ngapain kamu disini?”

“hmm, cari angin, ehhe, kamu sendiri?”

“mau balik, udah jam Sembilan,”

“ohh,” jawabnya pelan. Langsung menoleh arah ponselnya seperti menunggu seseorang.

“gak baik malam-malam sendirian, ada setannya loh di pohon” ucap gue begitu aja,

“haaa masaaaa?” wajahnya langsung berubah terkejut dan terlihat serius menanggapi celetukanku.

“hahaha, gak kok, cuman becanda”

“issh, “

“lagian sendirian disini, lagi tunggu cowok kamu?” tanyaku hanya sekedar iseng. Nia angguk pelan, terasa jantungku berhenti sesaat, saat tau nia udah punya cowok.

Gue cuman senyum pelan, seolah gue sedikit kecewa nia punya cowok, apa itu pertanda gue suka sama dia,

“tapi yah gitu, udah kayak nagih utang, sekarang susah di hubungin” lanjutnya sambal menghela nafas.

“ouh sorry,”

“gak apa-apa, hehe, “

“Sering sendirian disini?”

“gak juga sih, cuman dua kali doang soalnya tempatnya tenang, hehe dsini juga bias lihat bintang-bintang dan bulan” gue langsung noleh ke atas, gak ada bintang maupun bulan, yang ada awan hitam.

“ya udah, masuk gih, udah mendung” ucap gue, nia langsung lihat ke langit,

“tadi terang kok sekarang mendung yah”

“kalu gitu aku pulang, ya bye” senyum dan lambaian tangannya, nia berjalan pelan sambil melihat ponselnya, harusnya gue gak tanyain soal itu. Pasti dia ngerasa gue sok dekat sama dia, mentang-mentang gue hampir setiap hari ketemu sama dia.

Mau gimana lagi, gue jadi garing kalau suasana kayak gini sama dia, beda sama kalau pagi, mungkin kalau pagi ada obrolan,

“Mendingan tidurlah” gue gak mau banyak pikiran di tambah gue kangen sama rumah,

Bersambung..