Cerita Sex Boss Part 14

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24

Cerita Sex Boss Part 14

Nia-

Ini yang aku kurang suka dari pak harsa, dia selalu melimpahkan orang-orang yang

menjengkelkan untuk berbicara denganku. untungnya aku mulai terbiasa dengan hal itu. tapi tetap aja itu membuat kejelekan boss harsa ketahuan dikit demi sedikit.

Aku penasaran apa yang di cari pak harsa sama mama nya, kalau aku tidak menerima telepon pasti aku tahu mereka mencari siapa.

Selama mama pergi ikut papa, aku mulai kerjakan hal-hal kecil, termasuk cuci piring, sapu rumah, dan cuci pakaian. Awalnya memang berat di jalankan tetapi, kesekian kali aku mulai terbiasa. termasuk hari ini.

aku duduk termenung membayangkan lagi perlakuan pak harsa saat threatment, aku menyukai sentuh-sentuhannya. Termasuk aku klimaks di hadapannya, kenapa tangan orang lain lebih gampang buat aku klimaks di banding tangan sendiri.

“aahh kok bisa giniii” jeritku malu sendiri, membayangkannya.

aku kembali ke kamar buat taruh pelembab muka, karena selama disini mama gak pernah aku liat pakai pelembab wajah. jadinya aku bellin dari hasil kerjaku.

Saat masuk kamarnya, hawanya tak terlalu panas atau dingin, karena papa pasang hexos di sini,

“hmm aku taruh di lemari aja” aku langsun buka lemari pakian mama,

“hee?” pekikku, melihat pakaian aneh di belakang tumpukan pakaian mama,

Pakian ini mirip yang pak harsa beliin, tapi ini lebih mencolok, “oh ia lingerie” aku ingat Namanya.

Mama diam-diam koleksi lingerie, sepertinya pas dengan tubuhku,. Aku keluar untuk cek pintu dan kamarku.

Albert udah tertidur pulas, aku langsung kembali ke kamar mama lagi, langsung membuka satu persatu pakaianku,

Aku penasaran dengan ini, bahannya seperti stocking tapi bolong di buah dada dan selangkangan, mungkin ini di sebut body stocking.

Aku senyum sendiri karena ukurannya pas dengan tubuhku, mama juga punya bra dan celana dalam mirip pemberian pak harsa. Bedanya yang ini berenda. dan ada lagi beberapa lagi.

Tanganku meremas buah dada dan belahan vaginaku sendiri, rasanya lebih gampang horny di banding kemarin saat berbulu

Jari-jariku dengan mudah memainkan klitroisku sendiri, “ohhhhhhh sshhh” desahku langsung posisi terlentang dengan kaki terbuka selebar-lebarnya. aku mainkan jari-jari beberapa menit sampai terasa mau klimaks

“ohh dikit lagi”, jari jariku terus bermain klitorisku, tangan satu meremas buah dadaku pelan..

“suara telepon dari ponselku”suaranya dari meja makan depan, aku langsung berhenti , ternyata telepon dari mama

“halo ma,”

“mama cuman mau tanya keadaan kamu aja kok, baik-baik aja kan?”

“iah hehe, pekerjaan mama aku yang kerjain kok, tenang” jawabku percaya diri

“mama pulang besok?”

“iah, besok, ada sedikit masalah jangan kwahtir yah” ucap mama, pasti masalah hutang lagi. mama berbicara seperti itu agar aku tak terlalu kwahtir.

“albert udah tidur?”

“hemm? Aku cek bentar ma” aku kembali ke kamar, albert masih tidur, dan udara dingin ac langsung terasa di seluruh tubuhku.

Aku lupa masih pakai body stocking, dan langsung ke kamar mama lagi buat ganti pakaian, libido ku langsung turun dan tak jadi klimaks lagi.

“udah ma, udah pulas”

“oh yaudah, mama cuman mau tanya itu aja” mama langsung tutup teleponnya, aku masuk ke kamar mama lagi buat lanjutin sisa yang tadi benar-benar tanggung.

“hmm” aku mulai dari awal lagi, memainkan vaginaku sambil menutup mata, membayangkan jari boss harsa bermain di selangkanganku.

“ssshhh oohh” lenguh saat memlilin putingku sendiri, itu berhasil rasanya benar-benar boss harsa yang melakukannya.

“dikit lagiii ngghh” aku semakin cepat memainkan klitorisku,

“ohhhhhhhh” lenguh panjangku sambil rapetin kedua kaki, membayangkan jilatan dan elusan tangan boss harsa,

“ngghhmm hhmm aag,, keluarr gnhgghhh” aku merasakan tubuhku gemetar cukup hebat, jari-jari ku terasa basah,

Aku langsung buru-buru ke kamar mandi sambil bawa pakaian, rasanya cairan meleleh ke paha sampai betis saat berjalan keluar.

“kenapa selalu bayangan boss harsa sihh~!” seolah aku gak sabar melakukannya lagi saat terapi nanti.

“sudah rapih lagi” selesaiaku merapihkan pakaian mama lagi, sedikit senyum-senyum karena fantasy mama seperti ini.

“kayaknya kalau nikah aku koleksi kayak gini ahh” tawaku senyum-senyum karena terlintas pikiranku untuk memakai ini suatau saat nanti.

***​

Suasana mendung hari ini, termasuk wajah pak harsa begitu muram seperti tak ada semangat. Ia tertunduk lesu tanpa gairah sama sekali. Apa mungkin dia melakukan sendiri tanpa pengawasanku?.

“ini pak teh susu “ kataku kasih di samping mejanya, sebenarnya aku tak tau pak harsa suka atau tidak, aku membuat untuk menghiburnya dan di dalam ruangan hanya ada itu

Dia hanya senyum sebentar dan kembali tertunduk untuk beberapa lama. Sampai akhirnya jam sebelas siang dia beranjak dari tempat duduknya.

“nia kamu ikut saya” pintanya aku mengikutinya dari belakang menuju arah parkiran kantor.

“naik” pintanya. Ke mobil sport miliknya, kalau tak salah merk nya porche.

“aku mau tanya sama kamu” ucapannya sangat berbeda dari biasanya.

“tanya apa pak?”

“jangan pakai pak, kita sepantaran kan? Dan sekarang kamu panggil aku pak harsa hanya di lingkup kantor”

“iiiaah” jawabku pelan

“saya minta jawab dengan jujur!!” ucapnya sambil menambahkan keccepatan mobilnya. Membuat aku lumayan ketakutan.

“sebenarnya kamu bekerja di perusahaan mana sebelumnya?” ucapnya benar-benar serius.

“belum pernah sama sekali, aaahhh beneran pak,, ehhh anuuu” pekikku keras saat boss harsa menambah kecepatannya.

“aahhh, aku sebenarnya lulus kuliah tapi gak ada perkajaan bagus, dan butuh uangggg,, aahh itu ajaaa, pelannn pelaannnn.” ucapku benar-benar ketakutan sambil berpegang ke jok mobilnya.

“akkkuuu benar-benar belum pernah bekerja di perusahaaann mana pun,”

“awalnya aku dapat interview dari perusahaan ini, tttaaaaa piiiiiiii” aku semakin takut karena boss harsa masih menancap gasnya.

“saya telattt, dan terpaksa ambil office girl” pekikku semakin keras, sambil menutup mata, untuk mengurangi rasa takutku, dan akhirnya pak harsa memelankan mobilnya,

Aku masih shok karena jantungku hampir copot, aku benar-benar takut dengan kecepatan seperti tadi.

“masih ada haaa haa” gumamku pelan sambil pegang dadaku memastikan jantungku masih berdetak.

Mobilnya kini berjalan perlahan,. Aku gak berani menatapnya karena masih shok. Sampai akhirnya di suatu restoran pasti ada boss harsa yang di temui.

“Turun” pintanya, aku langsung buka pintu tapi kaki aku terasa gemetar saat menginjak tanah, pasti ini shok therapy dari boss harsa.

Aku jalan perlahan ikutin dia dari belakang, ternyata boss harsa menemui seorang perempuan. Semakin dekat semakin jelas.

“ehh,” pekik aku terkejut saat tau wanita yang harsa temuin adalah dokter yang membersihkan bulu vaginaku yang kemarin.

Aku memilih berdiri agak jauh dari boss harsa,

“ngapain berdiri? duduk,” pinta boss harsa.

“I iaah” jawabku pelan saat tatapan tajam dokter itu ke arahku.tersenyum tetapi matanya sangat tajam kearahku.

“Teman kamu harsa?” tanyanya.

“Seketaris gue., jangan berpikiran macam-macam deh” jawabnya.

“ohh seketaris,, special banget ih sampe suruh perawatan sama gue” celetuknya membuat muka ku memerah karena malu.

“ah kebiasaan, sekalinya ketemu suka mau urusan orang” timpal harsa.

“permisi pak, saya ke meja satunya” ucapku pamit ke meja satunya karena tak enak mengganggu obrolan mereka, tapi aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Kabar hara gimana?”

“masih sama seperti tahun-tahun kemarin, masih keras kepala”

“masih kangen?”

“awalnya sih. Karena gue gak rela lah, di putusin sepihak sama dia, gila aja,”

“bego emang ya, “ ucapnya dengan anda yang kesal, aku sedikit kaget siapa itu hara, apa masih saudara dengan harsa, apa mereka anak kembar, karena namanya mirip beda huruf r aja

“tapi sekarang dah gak terlalu pikiran tenang, gue cuman mau tau kabarrnya aja”.

“emang lo dah punya cowok lagi bella??” benar aku ingat Namanya dokter bella, yang aku temuin kemarin.

“belum, tapi ada nih depan gue susah banget masuknya, dari sekian tahun baru bisa ketemu sekarang.” celetuknya membuat aku sedikit senyum karena secara gak langsung dia suka sama harsa.

“prett ah, gue gak mau urusin gituan, serius lo masih mau nunggu hara?”

“udah gak, gue udah anggap temen kayak lo ajah gitu, kenapa? Lo mau incer gue?? Monggo gue terima dengan lapang dada”

“hahaahahaha” tawanya lebar.

Aku berhenti menguping memilih membuka akun social aku, satu persatu aku hapus foto yang isi ratusan foto.

Rasanya ragu untuk delete foto, karena masih gak percaya mereka ternyata seperti ini terhadapku.

***​

Sambil menunggu aku sedikit upload story dengan foto selfie ku dengan pemandangan resto seperti ini.

Dan hasilnya tak banyak lagi orang yang melihat, hanya sepuluh orang saja, itu pun yang tak aku kenal. aku langsung menghapusnya, benar-benar tak ada foto satu pun

“ayo pulang” ucap harsa,buatku sedikit kaget karena tepat di belakangnya,

“iah” jawabku sambil melihat jam, sudah satu jam lebih mereka berbincang. Aku langsung masuk ke dalam mobilnya lagi.

“sorry ya soal tadi ya nia” ucapnya

“hmm ia pak, eh ehmm har” aku benar-benar gugup kalau panggil Namanya walaupun kita seumuran.

“aku benar-benar stress kali ini, “ lanjutnya,

“soal perusaahaan?”

“yap, aku kira kamu duri dalam daging di perusahaan ini, dari ucapaan kamu aku yakin bukan kamu orangnya”

“maksudnya ada yang bocorin strategi bisnis perusahaan?”

“yap, perusahan kita kalah tender lagi,”

“kalau begini terus perusaahan bisa di akuisi sama yang lain,” lenguh panjang harsa, raut wajahnya benar-benar menandakan banyakan pikiran.

“yang tadi pacarnya?” tanyaku karena taka da topik pembasan.

“bella? Kamu udah ketemu sama dia?’ angguk aku.

“dia dulu satu falkutas sama dokter budi,” bearti hara, dokter budi, sama bella satu Angkatan, mereka seperti masih berteman baik sampai sekarang.

“dia emang gitu, tapi rahasia kita aman kok, jangan kwahtir’ lanjutnya, kembali termenung sambil mengemudi, beban pikirannya seperti cukup berat. Jadinya berniat aku turun di tengah jalan,

“saya turun disini aja pak, ada keperluan” kataku,

“kamu yakin?”

“iah,”

“oh ia pak terman saya bilang begini”

“Jika masalah kamu besar, ingat tuhan lebih besar dari masalahmu” ucapku senyum, aku benar-benar ingat ucapan mada saat itu, buat aku tau masalah orang berbeda-beda termasuk masalah aku dan boss harsa. t

Tapi boss hara hanya bengong sesaat sampai ia tersenyum pelan. aku langsung pilih naik angkutan umum dari sini.

Sseampainya dirumah, belum ada tanda-tanda papa mama pulang, tapi pintu tak di kunci, aku masuk perlahan.

Tas albert sudah ada di bangku, tapi dia entah kemana,

“mungkin di kamar” pintu kamar terbuka sedikit,

“ehhh? ”aku menutup mulutku saat melihat albert sedang berdiri dan melakukan onani sambil memasukan penisnya di celana dalam aku, dia juga sambil menciumi celana dalam lainnya.

Aku jalan mundur perlahan sampai keluar rumah, dan langsung telepon albert untuk mengahlikan perhatiannya.

“kamu di rumah? Mau titip makan apa?: kataku saat albert mengangkat telepon,

“gak usah, udah makan kok, kakak udah mau sampe?’

“udah, bentar lagi” kataku, jalan lebih jauh,

Itu pun berhasil setelah menunggu sepuluh menit di luar rumah baru aku langsung masuk, albert sedang duduk. Seolah tak terjadi apa-apa.

Aku langsung masuk kamar untuk cek celana dalam yang tadi albert gunakan, tapi sayangnya tak ada bekas sperma atau yang lainnya.

Masa ia albert nafsu sama kakaknya sendiri, tapi kenapa harus aku, ap aini karena pakaian dalam aku yang dia temukan. Pasti dia membukanya.

“ya tuhan, ada apa lagi ini,” gumamku merasakan masalahku bertambah lagi.

Bersambung,,,,