Cerita Sex Boss Part 13

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24

Cerita Sex Boss Part 13

Harsa-

Meeting kemarin benar-benar kurang memuaskan, aku bisa lihat dari wajah-wajah mereka yang kurang tertarik dengan presentasiku, Andai ini gagal lagi, fix aku tak cukup bagus di posisi seperti ini. Dan harus di gentian yang lebih baik dari aku. dan berhasil ini sebuah pembuktian kalau usia muda seperti aku bisa berkompeten dengan yang udah senior.

Mungkin Hara?… atau kak maxwell dan istrinya. Tetapi tak mungkin mereka sudah punya perushaan sendiri.

Kak yua?. Gak mungkin sama sekali,. aku sedikit tertekan dengan posisi seperti ini.

Ada yang berbeda juga sama nia beberapa hari ini, dia lebih pendiam. Seperti tak ada semangat. Apa mungkin karena kejadian di hotel kemarin. pasti ada masalah mendadak sampai dia memilih pulang sendiri.

“pak, sudah jam empat sore, saat terapi” katanya tunjukin jadwalnya.

“oke, sebelum itu saya mau tanya”

“kamu baik-baik aja?”

“iah pak,”

“saya gak mau lakukan ini dengan perasaan yang tertekan” lanjutku. apa mungkin dia tertekan karena aku memaksanya memakai pakaian yang aku mau.

“maaf, pak, itu masalah keluarga, gak ada urusan sama kerjaan ini atau terapi” ucapnya senyum, aku sedikit lega,

“kamu pakai yang kemarin saya belikan?” angguknya pelan, aku langsung memegang buah dadanya, benar nia memakainya lingire model yang biasa muncul di internet. tak terlalu minim tetapi aku mau mencoba dengan melihat nia pakai itu.

Aku memintanya dia membuka blazer dan kemejanya, dan sampai terlihat bentuk lingire yang tersambung dengan bawahnya, remasanku langsung menyentuh putingnya, terasa sedikit di ikuti desahan kecil dari nia.

Tangannya aku Tarik sampai nia duduk berpangkuan di atasku, tapi menghadap belakang, aku menciumi tengkuknya, sambil tanganku memainkan puting kecilnya

“ohhhhhSSSHhh” desisnya menggeliatkan tubuhnya, benar-benar sangat bulat padat.

“pakk assshhh nooo” desahnya saat jariku memegang belahan vaginanya, nia memakai tak meamakai celana dalam karena lingire nya memang agak terbuka bagian selangkangannya.

Yang aku suka dengan nia seperti ini, kode yang aku berikan di lakuin dengan benar, dia mencukur habis bulu kemaluannya. belahan vaginanya terasa begitu tebal dan basah,

“horny?” bisikku memasukan jari tengah ke belahan vaginanya.

“sshh, aaahhh” nia tak menjawab, hanya mendesah,

Lenguh panjang nia saat jariku menyentuh klitorisnya, ini pertama kalinya memegang namanya klitoris, di tambah lubang vagina memang terasa kecil, telunjukku pun seolah tak muat di masukan ke dalam. aku terus memainkan sampai beberapa menit

“pakkk ohh,,, ohhhhhh” desahnyaa pegang tanganku yang di selangkangannya . Tak lama tubuhnya bergetar hebat, dan jari-jariku terasa terkena semburan hangat.

“wowww’ gumam menyaksikan nia klimaks, nia ambruk di tubuhku, matanya terpejam sambil menggigit bibirnya sendiri, wajahku semakin mendekat kearahnya benit untuk menciumnya.

“saya bersihkan” ucap nia membuka matanya saat wajaahku tepat di hadapannya, nia langsung mengambil tissue basah untuk membersihkan tangan kiriku yang basah oleh spermanya.

“kalau di bersihin pakai mulut?” tanyanya hanya sekedar iseng semata. Nia tak jadi mengambil tissue basahnya dan langsung melumat jari-jariku seperti melumat penis. Tak ada rasa keberatan dia melakukannya sampai benar-benar bersih.

Nia langsung melakukan blow job, kini dengan lingire yang terliha full, sepertinya besok aku harus membelinya yang lebih pendek, terlihat seperti pakaian renang kalau tertutup,

Rambutnya di kuncir kuda, dengan segenap tenaga ia langsung menaik turunku kepalanya dengan cukup cepat. lidahnya bermain di kepala penisku.

“ohh teruss nia, dikit lagi’ racauku saat itu juga nia langsung mengocoknya sambil membanting penisku ke lidah dan mukanya.

“corrrrtttttottttttttt” semburan kencang membasahi wajah mulutnya,

“sslrruuupppp”

“agggghhhhhhhh” hisapan kencang di kepala peniskuu, seolah nia menghisapnya sampai habis tanpa tersisa setetespun.

***​

Besoknya, raut wajah nia terelihat seperti biasa, kalau begitu nia pasti tersiksa karena menahan horny saat terapi, kalau begitu aku baru tau kalau libido terpuaskan bisa membuat wanita mempunyai mood jelek.

“Siang pak, ibu pak harsa sudah menunggu di loby” ucap nia. setelah menerima telepon.

“oh ya?”

“urusan apa?”

“tidak tahu pak, di suruh ke loby sekarang,”

“baiklahh, kamu ikut ya” pintaku, nia menangguk dan mengikuti dari belakang menuju loby kantor.

Ternayata mama tunggu di dalam mobil Bersama driver kantor papa, aku langsung duduk di belakang sama mama, dan nia duduk di kursi depan.

“ada apa ma?”

“temanin mama beli sayuran sekalian cair info tentang hara” ucap mama.

“kamu tau pasar tanjung burung?”

“hmm, kayaknya pernah dengar, itu tempat istrinya budi, bentar harsa telepon budi”

“saya tahu, bu, pasarnya, lumayan jauh dari sini” celetuk nia buat aku sama mama noleh kearahnya.

“maaf bu, saya lancang “ lanjutnya.

“oh ya? Oke kasih begitu tau jalannya,” aku menoleh ke nia lagi.

“kamu tinggal disana?” tanyaku penasaran

“ngak kok pak, saya hanya sekedar tahu saja, soalnya waktu pak harsa antar saya pulang lewat dearah situ” ucap nia, mengingatkan ku saat mengantarkannya , tapi masa ia itu tempatnya. Aku sangat payah kalau mengingat jalan, harus beberapa kali melewatinya baru ingat.

“oke kalau gitu, kamu kasih unjuk aja” kataku,

“iah pak”

Perjalan memakan waktu dua jam lebih, karena benar-benar macet, kata nia harusnya satu jam sudah cukup dari kantor sini.

“disana pasarnya belok kanan” nia menujukan pasar yang menurut aku kumuh, jalannya juga berlubang dan basah.

“kamu ada kenalan orang pasar disini?”

“ngak ada bu, saya hanya tau daerah saja “ jawab nia menyeringai.

“sayang sekali, yah..” helaan nafas panjang mama.

“sebenarnya mama mau beli saayur apa cari hara?”

“cari semua bahan dari pasar ini, buat menjadi langganan buat restoran kakak kamu yua,”

“dan mama berharap agar bisa lihat dia nanti, ” ucap mama pelan, rasanya kangen juga gak lihat hara. Entah semakin ganteng apa jelek, kita semua tau hanya dari iwan.

tiba-tiba suara ponsel terus bergetar, kau sengaja silent agar tak menganggu,

“nia tolong angkat, saya gak bisa di ganggu, meeting di lanjutkan besok pagi, apapun alasanya”

“iah pak” nia langsung mengambil ponselku.

“Disana, harsaa.. itu kan haraa?!” tunjuk mama,

“yang mana sih?”

“ituuuuu yang tinggi” tunjuk mama ke orang yang rambut gondrong memakai sendal jepit sambil minum es dari plastic.

“dari ciri-cirinya sih ia itu, “ mata mama seperti berkaca-kaca melihat hara. Tap kalau memang itui benarsi hara, dia agak lebih kurus dan lebih hitam. Kalau dari jauh aku tidak akan bisa mengenalinya.

“mama mau kemana?, langsung ketemu hara?”

“ngak kok, kamu mau ikut?’ mama buka pintunya dan bersiap masuk ke sana,

“ngak usah bau disini” kataku memilih di dalam mobil karena bau pasar membuat sedikit mual. Tapi bisa-bisanya hara beradaptasi di lingkungan pasar kayak gini,

“selesai pak, meeting besok pagi” ucap nia memberikan ponselku.

“good job,” untung ada nia, jadiya aku gak harus panjang lebar menjelaskannya Dan nia langsung menoleh kiri kanan sepertinya penasaran juga apa yang terjadi. termasuk soal hara

***​

Mada –

Perasaan gue ada yang aneh shari ini, seperti ada yang ngikutin dan liatin gue. Tapi di lihat sekitar gak ada orang yang mencurigakan.

Rasanya kayak di mata-matain, apa jangan-jangan si iwan, tapi gak mungkin dia masuk pasar kayak gini. Kurang kerjaan yang jelas. mungkin cuman perasaan aja gue aja soal ada yang ikut.

Hari ini gak terlalu ramai, atau orang bilang lagi lesu perekonomian di pasar sini. Di tambah pertengahan bulan, pasti banyak tagihan.

Itu kata orang-orang yang punya toko, kalau kuli kayak gue hasilnya dari banyaknya tarikan yang belanja dari pasar. Jadinya pasar sepi ya ikut sepi juga.

“bah, disini kau rupanya” ucap bang nasir coba ikutin logat bang acong, tapi gak kerasa logatnya malah lebih kedenger logat jawanya.

“ada apaan bang?”

“ada job neh, tapi jam enam sore, lo ikut kita bongkar barang ya”

“ha?? sore banget??

“iah, kita supply ke restoran, tadi ada orang beli sayuran, buah-buahan, daging, dan lain-lain.”

“wah rejeki nomplok dong dapet Borongan semuanya?”

“makanya, yang lain dah pada balik, gimana ?”

“ada lah jangkriknyaa” ucap bang nasir sambil gerkain jempol sama jari telunjuknya.

“gak mau ah jangkrik mah, maunya kandangnyaa.. hahaha”

“tau ah, serius ini, hayoo ikut” ajaknya lagi.

“oke dah, ikutt,, dari tadi siang nongkrong teruss” coba sesekali lembur, lagian lumayan dapet duit lagi.

***​

udah jam enam, tunggu yang lagi pada sholat magrib baru jalan, gue lihat di depan pasar udah ada empat mobil pick up berjejer penuh barang.

Gue rasa ini restoran besar, sampai borong empat mobil, satu mobil isi sayuran dan buah, isi daging, isi beras, dan satu lagi isi minyak, tepung, beras.

Rejeki nomplok di borong kayak gitu, dan gue juga kebagian rejekinya.

Yang lain udah pada selesai sholat, gue naik di mobil paling depan bareng bang nasir. Karena bang nasir yang tau jalannya.

“keneknya cuman dua orang?”

“ia, hehe, lupa bilang, “

“waduh,…”

“tenang, sepadan kok sama kerjaannya gue jamin matt” jelas bang nasir.

“yo wes lah, udah terlanjur bilang mau”

Gue sendiri gak tau resotrannya dimana, yang jelas dua puluh menit dari sini. Gak terlalu jauh dari dugaan gue.

Mobil masuk ke sebuah restoran yang besar, karena ada ballroom, bisa jadi tempat meeting, weeding dan lain-lain.

Semua mobil langsung parkir di samping Gedung, bang nasir langsung masuk kedalam untuk ketemu seseorang. Dari perawakannya sih dia yang urus Gedung ini di lihat dari cara berpakaiannya. Setingkat manager restoranlah.

“nyok mat, panggul, di dapur belakang langsung katanya”,

“ok bang yuk,”

Yang pertama di masukin sayuran, buah-buahan dan sejenisnya, lumayan jauh karena di dalam gue gak hanya angkut , tapi rapihin sesuai urutan.

Jadi keinget kak yua, kalau susun barang seperti ini, selalu rapih sesuai keinginannya.

Kedua daging-dagingan, di mulai dari daging ayam, sapi, ikan, bebek, semuanya langsung masuk ke kulkas pendingin.

Sampai sisa beras dan tepung,

“Lewat dalam aja, gak apa-apa” pinta orang yang tadi di temuin bang nasir.

“lurus dari sini langsung ke kanan,” ucapnya lagi, gue diem sejenak karena gak etis aja masukin barang lewat dalam.

Mau gak mau akhirnya gue angkut ke dalam, yang satunya lagi istirahat karena cuman gue berdua yang bongkar muat.

“Heii, kamu cepet sini, lantai bisa kotor lama-lama berdiri” suara seseorang yang gue kenal, yaitu kak yua, suara khasnya gak salah lagi.

Gue langsung tutupin kepala sama mulut gue pakai handuk, rasanya kaki gue berat berjalan ke arah sana, tetapi mau gak mau gue langsung melangkah ke dapur. Dan melewati kak yua yang lagi berdiri.

“huffft” kak yua tak mengenali gue, syukurlah.. tapi sesekali tatapan tajam seperti biasanya

“dikit lagi mat,” kata bang nasir, gue Cuman kasih jemppol aja,

Pintu sampingnya benar-benar di tutup entah kenapa, gue harus lewatin ke dalam lagi, gue hampir terpleset bukan karena ada kak yua di depan, Tetapi kali ini papa mama, kak Maxwell, dan istirnya sedang duduk buat makan malam di meja tengah,

Gue berhenti buat tutupin wajah gue lagi, sambil lirik lagi kearah mereka semua. lagi gue terdiam sejenak melihat mereka semua ,terutama papa. Rambutnya mulai memutih, lebih banyak dari sebelumnya.

Anaknya kak Maxwell pun sudah tumbuh lebih besar, mereka gak boleh tau kalau gue ada disini. Yang jelas ini bukan wakutnya pulang.

Sampai akhirnya selesai semua, keringet gue udah sampai ke pantat, ini beneran lembur. Kayak kerjaan dua hari di jadiin satu.

Tapi gak masalah, apapun itu sudah berlalu..

“nih mat, ada makanan, ambil aja, hehe sama ini kandang jangkriknya,” bang nasir kasih empat lembar lima puluh ribuan.

“wooooo dua ratusss, mantabb~~!” lumayan dua ratus ribu, itu udah termasuk besar untuk sekali kerjaan. Beneran kandang jangkrik. Dan lumayan ada buat makan malam.

Tapi selama perjalan gue kepikiran mereka semua, sepertinya ini kebetulan belaka mereka berkumpul disana. jujur gue rindu rumah.

Bersambung…