Cerita Sex Boss Part 12

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24

Cerita Sex Boss

-Nia

Beberapa hari ini aku pulang malam, karena meeting untuk project besar boss harsa, itu cukup tertekan. Walau boss harsa kasih uang lembur.

“aku pulang” suasana rumah masih sepi. tak seperti biasanya.

“surat?”

“Mama ikut papa beberapa hari, sayuran beras, sudah mama siapain.” Helaan nafas panjang, pasti mama ikut urusan papa, aku gak mau pikirin apa yang terjadi lagi. aku memilih mandi.

“albert kemana ya, kalau dia pergi kenapa pintu gak di kunci.” aku yakin albert udah pulang, soalnya yang pegang kunci albert sama mama aja, aku gak pernah pegang kunci rumah.

Selesai mandi tak ada batang hidung albert disini, pasti mama lupa kunci. Chatnya pun tak di baca sama albert.

Baru jam delapan, aku memilih rebahan di Kasur sambil terbayang soal aku melakukan apa yang boss harsa minta . jujur Aku juga ikut horny saat di melakukannya hal itu.

Tanpa sadar aku mengelus vaginaku sendiri dari luar celana, dan tanganku meremas buah dadaku sambil kembali membayagkan kejadian saat terapi.

Sedikit demi sedikit aku menurunkan celana ku termasuk celana dalam sampai setengah pahaku.

Tangaku langsung memainkan vaginaku sendiri tapo Kali ini anpa bulu rasanya lebih terasa dari sebelumnya.

“isshh ssshhh” desahku benar-benar sangat horny. Vaginaku terasa semakin sangat basah,

“sedikit lagi uhhmm” gumamku merasakan klimaks,

“ohhhh”

“KAkkk, ada di kamar?” suara albert di depan pintu kabar membuat aku terkejut, aku langsung rapihkan pakianku,

“ada,, ehmm darimana kamu?” tanyaku pas albert sudah masuk kamar. rasanya benar-benar tanggung,

“habis cari makan, tungguin kakak lama, sih”

“oh kakak kira mama lupa pintu, kakak udah beliin kamu makan pdahal, bentar kakak angetin” aku langsung turun dari tempat tidur.

“iah” jawab albert terlihat aneh, seolah memperhatikan sesuatu. Apa mungkin buah dadaku, tapi masa sia adik sendiri nafsu sama kakaknya.

Aku merasakan keringat dingin karena menahan klimaks sampai kondisi libidoku kembali normal, rasanya benar-benar sedikit menyiksa, apa ini yang di rasakan juga sama boss harsa,

“kaka udah makan?”

“udah kok, habisin aja”

“Tadi aku beli jus mangga, buat kakak satu” ucapnya ambil dari kulkas, tanpa curiga aku langsung meminumanya sampai habis,

“kalau mau tidur kunci pintu ya, mau tidur besok bangun pagi” kataku, karena mataku mulai berat, mungkin kecapain meeting juga. apa mungkin ini karena menahan klimaks memakan energi juga.

***​

Terdengar sayup-sayup suara pintu terbuka, aku bisa mendengarnya masih setengah sadar. Suasana kembali hening karena terdengar suara AC.

“kak udah tidur? besok sarapan apa?’ ssuara sayup-sayup dari albert. tapi mulutku sangat berat untuk menjawab, termasuk mataku.

“ngghh ehmm” aku menjawabnya melantur, karena aku benar-benar mengantuk. tetapi setengah sadar.

Dan tak lama terasa kembali sebuah tangan meremas buah dadaku, perlahan sangat perlahan. Di tambah elusan dari luar celanaku.

Aku hanya bisa mendesah, tapi tak ingin membuka mataku. Kali ni terasa celanaku di Tarik sampai lepas dan tangtopku di singkat ke atas.

Buah dadaku kini dilumat sambil satu tangan memainkan vaginaku, tangannya begitu pintar memainkannya, sambil aku terbayang pak harsa yang melakukannya.

Sebuah benda seperti penis menempel di tengah-tengah buah dadaku, dan di Gerakan maju mundur.

“ohhhh” lenguhku saat vaginaku di lumat sambil klitorisku di elus dengan jempol,

“enggghhhhhh ahhh” tubuhku bergetar hebat, pertanda aku klimaks. aku tak membuka mataku tetapi aku semakin terlelap setelah itu,

Paginya..

Aku terbangun dan mengecek pakaianku, ternyata masih utuh. Aku melihat albert masih tertidur pulas. kesempatan aku mengecek vaginaku, tetapi tak ada tanda apa apa, bekas cairan pun tak ada.

“haaaa” nafas lega ternyata itu hanya mimpi, mimpi yang sangat nyata. Atau mungkin ini karena aku menahan klimaks terus menerus saat terapi boss harsa.

Pikiranku sempat berpikiran kalau albert yang melakukannya, tapi baguslah hanya mimpi.

Aku langsung siapkan sarapan pagi dan ini pertama kalinya aku membuat sarapan sendiri dan untuk albert.

“sarapan udah siap,” roti bakar yang agak gosong, tapi enak tak terlalu pahit karena gosong dikit.

***​

Tiba di kantor lebih pagi, karena jalanan sangat lancar hari ini, tak ada macet yang bearti. “itu kan sherly” gumamku melihat sherly turun dari mobil Alphard dengan seragam office girl sambil melambaikan tangan ke dalam mobil.

“apa mungkin sherly juga cewek yang bisa di booking?” aku tak bisa melihat dengan jelas plat nomornya karena aku terfokus sama sherly, dan mengikutinya sampai masuk kantor.

Sampai sherly masuk ke ruang boss harsa seperti diam-diam, aku melihat sherly sedang membogkat tumpukan di meja pak harsa. seperti menganbil sesuatu dari komputer yang biasa boss harsa pakai.

“Sherly?” ucapku. Dia seperti terkejut langsung menoleh sambil melambaikan tangan.

“hii niaa,, loh tumben jam segini udah datang?” wajahnya agak panik,

“hehe, kepagian, kamu juga kok jam segini udah rapih-rapih?” tanyaku balik.

“oh itu, lebih pagi lebih baik, lagi pula kemarin aku lupa membersihkan ruangan pak harsa karena ajeng!” gerutunya agak keras.

“ohh gitu, tapi apa itu di tangan kamu” aku melihatnya seperti flashdisk kecil, tapi pas dia membuka tangannya tak ada apapun,

“ngak ada kok, ih kamu jadi seketarisnya pak harsa jadi teliti banget’ candanya, buat aku melupakan sejenak apa yang terjadi, wajar aja sherlu menjadi bahan bullyan karena ajeng.

aku langsung mempersiapkan presentasi boss harsa, karena ini proyek besasr. andai boss harsa berhasil dia akan membuktikan kalau usia bukan halangan dalam menjalankan perusahaan.

***​

“pagi pak harsa” ucapku berdiri pas dia masuk ruangan.

“pagi” senyumnya langsung masuk ruangan, dan tak lama dia keluar sekaligus berdiri di hadapanku.

“kamu tidak keberatan soal kemarin?” aku terdiam sejenak.

“tidak pak, apapun itu tidak melanggar untuk itu, saya bersedia” ucapku begitu saja, pak harsa hanya stersenyum kecil dan kembali ke ruangannya.

“kamu jaga ini ya, data penting buat presentase saya,” ucap pak harsa sebelum meeting. Aku gak tau maksudnya apa, yang jelas aku harus simpan flasdisknya. bearti kecurigaan aku salah ke sherly, aku kira dia mengambil flashdisk di komputer boss harsa.

kali ini meeting di ballroom salah satu hotel, yang berkelas, untungnya tak jauh dari kantor ini, sekitar sepuluh menit naik mobil boss harsa.

“kenapa saya yang harus simpan ini pak?” tanyaku,

“buat berjaga-jaga, karena kamu tau perusahaan terus mengalami kerugian cukup besar, di tambah perushaan kita gak perna menang tender, seperti ada yang membocorkan strategi kita.jelasnya..

sesampainya aku mengeluarkan flashdisknya, dan boss harsa masuk ke dalam ruangan, aku menunggu disini karena memang begitu. di dalam hanya berdua, pak rudy dan pak harsa.

“wow, shantiiiii” suara yang tak asing saat aku lagi hapus semua foto yang ada di social mediaku. Aku sengaja hapus karena sudah berbeda dari yang di bayangkan, aku gak mau jadi omongan lagi suaru saat nanti kalau terus menunjukan fotoku,

“Taniaa?,Imelda, angel?” aku sungguh terkejut bisa bertemu mereka, apa aku salah paham soal mereka unfollow aku. sepertinya ia

“apa kabarr?”

“Baik, kalian, aku kangen kumpul lagi tau” senyumku sambil coba peluk mereka, tapi mereka menepis tanganku, membuat aku sangat terkejut.

“kenapa?”

“kita kesini temenin pacar kita yang lagi meeting dong, punya perusaah yang gede” ucapnya tersenyum sinis.

“ohh, itu,”

“terus sekalian kita kesini, mau lihat kondisi kamu” lanjutnya

“iah masih miskin apa enggak” celetuk tania

“atau siapa tau kamu butuh duit,” timpal angel, di ikuti tawa mereka bertiga.

“Kenapa kalian tega ngomong gituu?” tanyaku merasakan rasanya sangat sesak di dada.

“kenapa??, ngaca lah, orang sok paling punya segalanya hee? Tau gak siapa?” aku gak bisa berkata apa-apa soal itu.

“pikir sendiri oke, sekarang rasain !!”

“kita bertiga punya pacar calon boss juga tau, bisa jalan-jalan teruss lohh,” sambung tania sekaligus angel,

“dah, ah,, risih lama-lama disini ” lanjut imelda, mereka langsung tinggalin aku gitu aja, jujur dengulku langsung lemas.

Aku ingat ucapaannya memang benar, saat kumpul aku selalu pamer barang-barang baru, aku seperti kena karmaku sendiri. Dan senyum mereka semua senyum palsu selama ini. Tanpa sadar aku benar-benar nangis, aku berusaha menahan tapi tak bisa, sampai aku ke kamar mandi untuk menyekanya. rasanya begitu sangat perih.

***​

jam enam soremeeting sudah selesai. pak harsa seperti tak semangat seperti tadi, termasuk pak rudy. seolah mereka tak percaya diri dengan presentasinya. di tambah beban pikiranku semakin bertambah hari ini.

“kamu terlihat pucat nia?” kata pak rudy, aku cuman tersenyum aja.

“ngak pak, saya gak enak badan aja sedikit’

“kita antar pulang?” ajak boss harsa,

“gak usah pak, saya adad urusan lagi, saya duluan ya” boss harsa sepertinya mengerti kondisi aku saat ini, aku memilih naik angkutan umum. aku pun berusaha telepon ares karena aku butuh orang bisa mengerti kondisi aku saat ini.

“bebbbbbb” ucapku saat ares mengangkat teleponku,

“kamu kenapa sih susah di hubungin?” ucapku dengan perasaan campur aduk, antar senang dan sebal, karena secara gak langsung ares masih pacarku.

“kamu yang susah di hubungin, gonta ganti nomor terus,!” ucapnya dengan sedikit nada tinggi.

“Aku mau ceritaaaaaa, “

“Nanti aja, aku lagi meeting, sibuk” ucapnya sedikit ketus.padahal aku cuman ingin cerita apa yang aku alami sekarang,

“assshhh ahhhhhh sshh ihsshh” suara samar-samar desahan wanita, aku yakin itu.

“kamu lagi dimana sebenarnnya?? Itu ada suara cewek!!?”

“Udah aku sibuk aku hubungin nanti” ares memilih menutup teleponnya dan susah nomornya tidak aktif.

Hari yang benar-benar sial buatku, aku berusaha tahan tangisku karena banyak orang disini. sampai pertempat arah ke pasar aku berhenti, aku memilih jalan kaki menghirup udara segar,sambil terus menahan tak menangis.

belum lama berjalan Kaki terasa lemas sekarang, memikirkan ares sekarang dengan siapa, dan perlakuan teman-teman lamaku serakang. aku menyilangkan tanganku sebagai tumpuan kepala yang benar-benar berat.

“Niaaaa.. niaaa?” suara memanggilku, saat aku bersandar di tembok dnegan posisi seperti ini.

“kamu kenapa?” aku langsungng mmendongakkan kepalaku ke arah suara itu, ternyata itu mamat, dengan sayu aku hanya tersenyum, pasti mataku juga sembab

“ayo naik, udah jam delapan, udah malam banget” ajaknya, aku anggukin kepala naik ke motornya.

“kamu sendiri ngapain disitu sendirian?”

“ituu… “ aku tanpa sadar pegang erat pinggangnya, menaruh kepalaku di belakang punggunnya. Dan entah kenapa air mataku keluar begitu saja saat mada menanyakan hal itu. Semua yang berusaha aku lupakan sejenak kembali datang. pikiranku langsung campur aduk.

“Boleh kok nangis sepuasnya, kalau itu massalah berat. Gak ada yang anggap cengeng atau semacamnya” ucapan mada buat aku semakin menjadi untuk nangis sekeras-kerasnya selama perjalanan pulang.

“Sampai,”

“heeii niaaa” ucapnya lagi, membuat aku membuka mataku, aku tertidur sebentar setelah menangis sepanjang jalan.

“maaf” ucapku melihat punggungnya basah oleh air mataku.

“maaf mada, baju kamu basah” ucapku menyeka air mataku yang ternyata sudah mengering.

“gak masalah kalau buat kamu lebih baik” senyumnya.

“Dan ada satu hal,”

“Apa?”

“Saat masalah kamu besar, ingat Tuhan lebih besar dari masalah kamu” senyum mada, buat aku ikut senyum juga secara gak langsung.

“sorry, sok bijak hehe, aku balik dulu, byee” mada langsung pergi, aku sendiri bingung maksudnya kata-kata mada.

***​

Selesai mandi aku langsung mengurung diri, albert mama sama papa belum pulang. Pikiran tentang masalah tadi terus menerus datang. tapi kali ini rsaanya lebih lega setela menangis selama perjalan pulang.

“haaa~~~”

“aneh juga aku ketiduran” yang aku ingat saat di bonceng mada, nangis dan peluk dia sangat erat.

“rasanya nyaman” itu yang aku rasain, kalau gak gitu aku gak bakalan nangis sejadi-jadi selama perjalanan.

Sekarang pikiranku tertuju ke ares, dia orang yang semakin berbeda. Apa mungkin karena kondisi aku sekarang.

Hati kecilku berkata ia, dan suara desahan wanita itu adalah selingkuhannya. Aku yakin itu, tapi siapa, dan aku tak mencoba tak memperdulikannya.

Aku masih beruntung karena tidak pernah berhubungan badan sama dia walau udah pacarana lama. Dan ares terus membujuk untuk melakukan itu. dan juga suka mengerjaiku dengan entah apa namanya.

aku melamun sejenak, mengingat ucapan mada lagi.

“Saat masalah kamu besar, ingat Tuhan lebih besar dari masalah kamu”

apa mungkin artinya aku bersyukur kepada tuhan karena menunjukan mereka sebenarnya sebelum jauh melangkah, walau caranya membuat kekecewan yang mendalam

“ayoo jangan nangissss” gumamku sambil menyeka air mataku yang mulai keluar lagi, tapi untungnya gak jadi.

Bersambung