Cerita Sex Boss Part 11

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24

Cerita Sex Boss

Harsa

Aku cukup kaget merasakan bulu yang sangat lebat, aku baru pertama kalinya memegang selebat itu. Dan aku yakin nia tau maksudku ke klinik itu,

“ada kabar bagus harsaaa” suara budi dari telepon.

“apa?”

“bini gue hamil, hahahahaha” lenguhku, aku pikir ada kabar bagus tentang masalahku ini.

“selamatt, tiap hari proses selama lo di klinik ha?”

“Ya lah, harus dong, lagian kan gue dah balik kerja disini, jadinya tinggalin rena lagi deh” memang resiko sebagai dokter seperti itu, jauh dari keluarga. Makanya aku gak mau ikut-ikutan jadi dokter.

“oh ia, ada kabar dari bokap gue”

“apa”?

“ada sedikit kemajuan sekitar lima persen,”

“masih panjang bud.. itu juga karena gue sakit jadinya mungkin itu kemajuannya”

“no no no, ini berbeda, kata bokap gue. Lo harus salurin fantasi lo satu per satu, saat fantasi lo terpuaskan libido akan semakin berkurang secara permanent karena bantuan obat juga.”

Ucapan budi ada mungkin ada benarnya, tapi sepertinya nia juga mau apa yang aku minta, termasuk dia memakai pakaian dalam yang aku berikan kemarin, ah sial imajinasi ku semakin liar memikirkannya.

“Jadi gue harus?”

“Ya ajak aja si nia, lo suruh pakai apa gitu, sambil threatment. Ya gak?” suaranya berubah menjadi orang mesum.

“wah wah, gak dapat jatah ini dari rena, ya??” budi cuman tertawa, pasti dia juga bayangin nia dengan istrinya sendiri.

“lo juga nikah bakal ngerti kok, makanya nikah muda lah, bisa uewe kwkwkw” tawanya lebih keras dari sebelumnya.

“dah lah, gue mau tidur, besok gue coba pinta nia”

“siap, asal jangan sampe uewee“ ucapnya lagi sambil tertawa

Aku harus coba lebih berani, andai nia sanggup melakukannya, aku akan kasih bonus setiap bulannya. Dan kita lihat besok.

***​

Aku coba mencari pakian untuk nia, sepertinya pakai lingerie akan menarik, dan sialnya penisku langsung berdiri memikirkan.

‘selesai, paling lambat senin sepertinya,’ aku langsung telp nia untuk datang jam berapa, sebelum telepon aku lupa, kalau ini hari minggu, Gak mungkin aku memanggil nia untuk terapi,

“ahh shit, harus nahan ini tiga hari jadinya?” gumam ku, mau gak mau aku mencoba menahannya sampai besok di kantor.

“pagi pak harsa,” sapaan nia saat aku tidak bisa tidur karena menahan diri untuk onani, kemarin, harusnya kemarin aku tak membeli lingrienya dulu. itu pemicyb=

“bapak sakit kah?” tanyany lagi, sambil membawakan teh hangat.

“saya lupa, jadwal terapi telat satu hari, ” kataku,

“uhmm, maaf pak, saya juga lupa, dan kenapa pak harsa gak telepon saya? ”

“saya gak mau menganggu hari minggu kamu, jadi saya masih bisa tahan’ kataku berbohong.

“pak harsa mau melakukannya sekarang?” ucap nia pelan, membuat penisku meronta-ronta dari dalama celana

“Maaf pak, maksudnya nanti siang, untuk sekarang pak harsa ada jadwal meeting” ucapnya lagi, aku harus menahannya lagi.

“oh nia sebelum itu,saya boleh minta tolong?’

“soal apa pak?’

‘eehemm’ dehem aku mencoba berbicara tenang soal ucapan papanya budi.

‘soal saat terapi, apa kamu bersedia pakai apa yang saya minta?’ ucapku pelan.

‘itu,” angguknya pelan, membuat penisku semakin meronta. termasuk bijiku terasa linu sekarang.

‘oke, saat meeting selesai, saya minta kamau hanya memakai kemeja saja dan celana dalam’ bisikku.

“iah pak’ angguknya lagi.

Tepat jam satu siang, meeting selesai, nia keluar lebih duluan masuk ke dalam ruanganku, aku berjalan sambil menahan penisku yang terus berkedut. rasaya linunya semakin begitu terasa.

Gorden ruangan langsung aku tutup semua, nia berdiri dari tempat duduknya membuka semua pakaiannya hanya menggunakan kemeja panjanganya dan celana dalam. Sesuai apa yang aku minta.

Aku langsung berdiri di depannya dan tanganku memegang pelan buah dadanya, Terasa putting kecilnya di ujung jempolku, perlahan aku meremasnya pelan. Sangat lembut dan kenyal. Sampai nia memejamkan matanya sedikit.

Aku langsung melahap putingnya dari luar bajunya, seperti anak bayi yang haus air susu. Tiba-tiba tangan nia memegang tanganku yang lagi asik meremas-remas.

Aku langsung merebahkan tubuhnya di atas meja lagi seperti kemarin, aku tak perduli peralatan di atas mejaku sendiri. Sambil memegang kedua tangannya, lidahku leluasa bermain di buah dadanya,

Desahan kecil nia membuat aku mencoba mengigit putingnya, tapi susah, setelah puas dengan buah dadanya aku lepaskan kedua tangannnya,

Bercak merah tersebar di seluruh bagian buah dadanya, nia tak berbicara apapun dia langsung beridiri dan langsung berjongkok dihadapanku.

Perlahan dia membuka celanaku perlahan sampai terlihat penisku yang mengacung tegak di hadapannya.

Nia mengambil lagi tissue basah, dia membersikan seluruh penisku, tak perlu lagi aku mengingatkannya. rasanya lega penisku terbebas dari sarangnya, tapi bijiku masih terasa linu saat tangan nia tak sengaja menyentuhnya, tapi tak masalah.

“ohh” mulutnya langsung melumat kepala penisku perlahan sambil kedua tangannya memegang pahaku.

“ohhh nia goooddd, terussss yaaaahh begitu.” pekikku saat dia menghisap kuat kepala penisku, rasanya ingin klimaks cepat-cepat tapi hasilnya belum juga.

“ploppp” bunyi penisku saat keluar dari mulutnya, sekarang nia menyelipkan penisku di belahan dadanya. Di maju mundur sampai aku benar-benar ingin klimaks.

Matanya sedikit melirikku seolah dia menunggu aku klimaks, aku langsung pepegang pundaknya dan memaju mundurkan penisku cukup cepat.

“ohhhh,..” lenguhku pegang kepalanya, dan menekan penisku sampai terasa di bibirnya..

Berselang sepuluh menit aku pun merasakan klimaks, dan aku tak bisa tahan itu.. “Crooottttttttttttt”

Cairan putih cukup banyak di wajahnya, sisanya mengalir di buah dadanya, aku langsung mencabut penisku dari buah dadanya

“mau membersihkannya lagi ?” ucapku duduk di bangku, nia merangkak langsung melumat penisku, menjilati sampai bersih penisku. Dia tak jiji menjilatinya seperti kemarin

Wajahnya seperti ini sangat cantik, aku menikmati sisa klimaksku, kaki sungguh bergetar merasakan klimaks yang luar biasa, sampai aku tak bisa berdiri sementara waktu,

“selesai pak, empat puluh delapan jam dari sekarang pak, saya catat” ucapnya selesai merapihkan pakaiannya, dan langsung keluar. padahal aku mau menanyakan apakah kemarin dia datang ke klinik nya apa ngak.

***​

Mada-

“Mampussss, kesiangann guee” pekik gue kaget udah jam tujuh lewat, mimpi semalam benar-benar nyata.

“shit, gue mimpi basah” pas gue bangun ini burung dah berdiri, di tambah basah juga celana dalam gue.

Gue mimpi main sama si nia di kantor entah punya siapa, klimaks di buah dadanya, apa lagi nia menjilati penis gue sampai bersih,

Itu benar-benar mimpi seperti nyata, jujur gue memang gak bisa lepas pandangan dari buah dadanya. Yang menurut gue balance sama body yang gak terlalu tinggi.

Pikiran kotor di pagi hari.

“tumben lo mat siang datengnya? Gak enak badan?” tanya bang kumis.

“iah, kecapean kali kemarin, hehe,”

“oh ia mat, tadi si danu, kesini”

“danu siapa bang?”

” orang yang kakinya ketimpa karung terigu kemarin”

“ooohh, kenapa dia bang?”

“dia cariin lo, dia belum bilang terima kasih ke lo katanya,”

“terus?”

“ya, kalau gak ada lo mungkin kakinya penyok sebelah,”

“Mobil kali ah, penyok.”

“seriusan mamat soleh,!!” ssejak kapan nama gue ada solehnya,

“dia bilang kakinya bisa bengkok sebelah, dan gak bakalan bisa normal lagi kalau di tanganin dengan tepat” jelas bang kumis.

“cocok lo jadi calon dokter aja, bukan kuli panggul” lanjut bang kumis di ikuti tawanya, gue cuman senyum-senyum aja. Lagian apa yang gue lakuin itu semua pertolongan pertama doang. Sisanya dokter yang tanganin.

gue langung ke belakang pasar, sambil bawa makanan buat bang resin. Gue memang rajin cek kesana, kalau becaknya ada di depan pasar, bearti bang resin dah pulih.

Tapi beberapa hari ini becaknya gak ada,

Dan benar bang resin ada disini, “beh ini makanan nasi padang,, “ kata gue kasih dia yang lagi makan singkong rebus.

“makan aja lah, lagi gak enak badan gue gak nafsu makan gituan” ucapnya di ikuti suaran batuk yang cukup keras.

“nah kan, udah di bilang, tempat kayak gini mah lembab, bikin gampang sakit, besok cari yang tempat kosong yang gak lembab deh” kata gue, walau pun gue ajak ke kontrakan dia juga gak bakal mau.

“kali ini mada yang cari tempatnya, jangan protes” babeh resin cuman batuk terus tanpa henti. Gue langsung ke kliniknya rena

***​

Klinik masih sepi, tapi ada kemajuan ada pasien di sini. Gue gak bisa temuin budi, cuman rena yang ada disini.

“harr” lambaian tangan rena pas melihat gue.

“sorry lama, gak ada yang bantuin, di tambah ada pasien dua orang” ucap rena.

“sekarang butuh obat apa?”

“obat batuk yang ada Dextrometorfan Hbr dan Diphenhydramine HCl, ada apa aja disni?” rena langsung ke dalam membawakan beberapa obat.

“yang ini aja siladex, berapa?”

“gratis buat lo,” ucap rena

“ngak, kali ini gue bayar’

“gak usah lah, kita kan temen’ lanjut rena

“lo merasa kasinan ke gue kan?’ tanya gue rogoh kantong celana cari duit buat bayar.

“bukan gitu har,’

“kalau bukan, ya udah gue bayar berapa?’

‘lima belas ribu’ ucap rena.

‘ok, ini duitnya’ gue kasih duit receh soalnya belom dapet duit lagi, di tambah duitnya udah pada jelek dan lecek.

“budi kemana emang ren?”

“dia balik ke rumah sakit, mungkin satu bulan lagi balik kesini,’

“ohh, ya udah,”

Selesainya balik dari klinik rena, gue langsung cari tempat buat babeh,. hampir tiga puluh menit cari sekitar pasar akhirnya ketemu. Tepatnya di samping pasar, ada tempat lebih layak dari sebelumnya. Lagi pula disini banyak yang taruh meja bekas dagangan, dan gak lembab di belakang pasar.

“mada udah temuin tempatnya beh, nanti malam babeh tidur disana’ kata gue rapihin tiker sama bantal yang biasa di pakai babeh tidur.

“alaahh, uhukk uhukkk, repotin lahh’ katanya, tapi dia gak nolak saat gue ajak kebecaknya, dan gue langsung goes becaknya ke samping pasar,

rasanya masih kaku kalau gue bawa becak, “aayoo banggg kencenginn” ucap bocah-bocah kecil yang biasa keliling jualan kantong, tissue, mereka semua tinggal di belakang pasar, dan kebetulan aja ketemu mereka.

“satuuu, duaa tigaaa” teriak gue saat gue gak kuat goes karena nanjak, maklum jalannya rusak,

“sampaii’ gue taruh becaknya di samping kios, dan ajak babeh tidur,

“jangan lupa minum obatnya yah, nanti sore mada bawain bubur, sekarang tidur aja, biar cepet sembuh’ kata gue tepuk pundak babeh. babeh cuman angguk sambil batuk lagi.

Bersambung