Cerita Sex Berubah? Part 49

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Berubah? Part 49 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 48

Aku marah dengan diriku sendiri tapi lebih ke papahku. Kenapa seorang sahabatku yang menyelamatkan aku, menyelamatkan anaknya malah tidak dibela mati-matian oleh papah. Aku diam dan kesal terhadap papahku sendiri. beberapa sahabatku merasa sedih, bahkan ada yang menangis. Helena saja sedih ketika Arta ditangkap pihak kepolisian.

Pah, kenapa sih arghh… papah arh.. aku merasakan sakit didadaku ketika aku berteriak atau membentak

Sudah kamu istirahat saja. papah sudah ada rencana sendiri. dan kalian tetap tenang, kalau Arta sampai masuk kedalam penjara mereka bertiga juga harus masuk. Apalagi kalian semua adalah saksi dari kejadian yang sebenarnya jelas papahku

Semua terdiam, tak ada raut bahagia diwajah mereka semua. Termasuk aku. Helena dengan lembut menahanku, menenangkan aku. Bagaimana bisa tenang kalau sahabat sendiri yang menyelamatkan nyawaku saja malah ditahan! Argh, aku benar-benar kesal.

Tok… tok…

Kleeek…

Selamat pagi tegas seorang dengan pakaian rapi dan berjaket hitam

Ya, selamat pagi balas Ayahku yang langsung mendekati orang itu dan menyalaminya

Ada keperluan apa? tanya Ayah

Saya dari pihak kepolisian jawab polisi muda

Kaget? Jelas saja, dua kali ada polisi datang ke kamarku. Tapi kali ini tampak sekali lebih santai ketimbang yang tadi. Dia kemudian dipersilahkan duduk sama Irfan. Senyumnya ramah dan menenangkan. Seakan-akan ada sesuatu yang akan membuat kami menjadi lebih tenang.

Begini… ucap polisi muda

Polisi muda ini terus menjelaskan duduk perakaranya. Dimana, ketiga orang tua dari Kristian, frans, dan Bernard melaporkan Arta dengan pasa penganiayaan. Tapi anehnya mereka menghilangkan kami sebagai bagian dari kejadian tersebut.

Sebentar pak, tapi kenapa kami tidak ada dalam berita acara laporan tersebut? tanyaku.

Dengan santai polisi itu menjelaskan. Setelah mendapat laporan, pihak kepolisian bergegas menuju TKP. Disana mereka menemukan bukti senjata dan beberapa kesaksian dari saksi mata. Ada saksi mata yang melihat kejadian tersebut, tapi tidak diketahui oleh kami. Saksi itu salah satu penjaga perkemahan.

Karena kesaksian dengan berkas laporan berbeda, pihak kepolisian kemudian membuat sebuah perangkap kepada pihak pelapor, yaitu dengan memberikan arahan kepada semua pekerja ataupun karyawan yang ada di perkemahan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun yang mencari tahu mengenai kejadian pada malam tahun baru tersebut.

Eh, maaf pak menyela, kenapa pihak kepolisian sampai mengarahkan para petugas perkemahan segala? tanya Dini

Karena laporannya berbeda dengan kejadian. Dan, untuk menghindari kalau saja pihak pelapor melakukan intimidasi terhadap para petugas. Dan ternyata memang benar, salah satu dari anggota kami yang menyamar menemukan bahwa ada orang suruhan dari pelapor melakukan penghasutan terhadap beberapa petugas.

Untungnya para petugas mematuhi arahan kami, jelas kan mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena tidak jujur. Dan saya harapkan kalian tenang sudah kami amankan, orang dari pihak mereka itu jelas pak polisi

Mmm.. pak, kenapa tidak langsung saja menangkap pelapor, kan sudah ada saksi, kami siap, petugas perkemahan siap, bahkan orang dari mereka juga sudah ditangkap Desy menyanggah dan aku membenarkannya

Semua harus sesuai prosedur. Mereka menggunakan pengacara, dan kami membutuhkan bantuan dari bapak dari Andrew Nugraha, jadi akan semakin jelas kalau Bapak tidak terima dan melawan pelapor ucap polisi

Kan bisa polisi sendiri, polisi kan sudah punya bukti. Tidak perlu menangkap Arta sekali lagi aku memprotes

Kami hanya menghindari kalau pihak kepolisian terlalu berpihak ke Arta, ingat, Arta memang benar-benar melakukan penganiayaan walau itu adalah sebuah pembelaan diri untuk menyelamatkan kalian. Sudah jelaskan? Kami disini fungsinya untuk menengahi agar teman kalian tidak berada dalam penjara.

Intinya kami ingin memukul balik pelapor dengan prosedur yang tepat agar kami tidak terlalu memihak. Salah satu cara adalah dengan membuat laporan tandingan jelas polisi muda. Memang benar apa kata polisi tersebut.

Dan disini kita membutuhkan orang yang mau melawan pelapor. Agar, sama keadaan menjadi seimbang

Silahkan bapak baca dulu, kemudian tanda tangani ucap pak polisi sembari menyerahkan secari kertas

Lho kok sudah jadi, eh, sebentar, ini bener kejadiannya dan ini bener kaya gini? tanya papahku

Desy meminta kertas itu dan membacanya sehingga kami mendengarnya. Semuanya tepat sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Papahku langsung saja menanda tangani kertas laporan tersebut. Semua sudah ada cap, dan tanda tangan kepala polisi. Heran aku. Papahku saja tinggal tanda tangan.

Ini pak… ucap papahku menyerahkan secarik kertas tersebut

Maaf pak, sebelumnya, tapi kenapa polisi sebegitunya itu… eee… ucap Desy bingung

Semuanya aman. Oia saya minta nomor bapak yang bisa dihubungi balas pak polisi tanpa menjawab pertanyaan dari kami. Papah langsung memberikan nomor hapenya.

Kalau begitu saya undur diri dulu, Terima kasih ucap pak polisi

Polisi muda ini dengan sopan menyalami kami semua. Tak lupa mengucapkan harapan kepadaku agar lekas sembuh dan daat beraktifitas seperti sedia kala. Setelahnya, polisi itu keluar dari ruangan.

Setelah kepergian polisi tersebut, kami semua terheran-heran. Pasti ada sesuatu dengan Arta. Siapa sebenarnya Arta? Hmmm…

Des, Din, Win, Na… kalian kan yang dulu pernah belajar bersama Arta. Kalian pasti tahu siapa Arta kan? tanyaku heran

Kita memang pernah belajar bersama. tapi, tak tahulah, misterius ini anak ucap Dini

Benar-benar misterius, sampai pihak kepolisian saja berusaha mati-matian mencari pembelaan untuknya ucap Irfan

Semua berpikir, berpikir dan berpikir.

Sudah, sekarang kita cari makan siang. Urusan Arta biar pihak kepolisian yang menangani, Om tadi sudah memberikan nomor hape om ke polisi muda tadi. jadi kalau ada apa-apa sama Arta, pihak kepolisian akan menghubungi om ucap Ayahku.

Sekarang, Helena jaga Andrew, Om akan ajak kalian makan enak, oke? Lanjutnya, dan mereka semua mengiyakan.

Suasana menjadi lebih tenang dan lebih rapi kembali. Aku yakin Arta akan baik-baik saja. entah keyakinan darimana, yang jelas, aku yakin. Tampaknya teman-temanku juga. Tapi tetap saja si anak ndeso itu, misterius.

***

Mas, silahkan duduk. Sudah anda disini dulu ucap polisi berkumis yang kemudian meninggalkan aku

Aku duduk didepan seorang polisi dengan seragam formal tapi bukan seragam dinas. Dia tersenyum ketika melihatku dan kemudian bersedekap, bersandar sembari melihatku. Malah tambah bingung akunya. Ditambah lagi bapaknya yang ada didepanku itu, geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum. Heran aku.

Mas, masuk keruangan itu perintahnya

Eh, sa-saya pak? tanyaku. Dia mengangguk.

Aku berdiri dan berjalan ke sebuah ruangan. Ku ketuk pintu dan kudengar suara yang mempersilahkan aku masuk. Ku buka pintu pelan, aku masuk dan kemudian dipersilahkan duduk. Didalam ruangan ini ada seorang polisi laki-laki dan perempuan.

Mas, langsung saja

Pernah lihat ini? tanyanya memperlihatkan foto sebuah pistol

Pe-pernah pak jawabku

Jangan gugup, jawab dengan tenang tenang polisi perempuan. aku kemudian menghela nafas panjang.

Iya pak, saya pernah melihatnya jawabku kembali

Siapa yang memegang? tanyanya kembali

Eh, i-itu waktu saya berkelahi di perkemahan jawabku

Saya tanyanya siapa yang memegang? tanya pak polisi tersebut

Eh, itu namanya Kristian pak jawabku

Dah cukup, sana balik lagi perintah bapaknya. Itu polisi perempuannya juga senyum-senyum sendiri malahan

Aku keluar ruangan dan kembali duduk di tempat semula. Aku menunggu dan melihat bapak yang tadi menyuruhku masuk ke ruangan sebelumnya, sedang mengetik. Benar-benar aneh semuanya, harusnya aku merasakan rasa takut. Tapi ini kenapa semuanya tampak acuh sekali denganku?

Selang beberapa saat kemudian muncul tiga orang lelaki bersama seorang dengan menggunakan jas yang sangat formal. Tepat ketika dia datang langsung mendorong kepalaku hingga kepalaku terbentur meja. Polisi yang berada didepanku mencoba menghalangi namun terlambat. Kepalaku sudah terbentur.

Bentakan. Makian. Kata-kata kotor keluar dari mulut ketiga lelaki setengah baya ini. beberapa polisi kemudian menenangkan mereka. setelah beberapa saat kemudian, baru aku tahu jika mereka bertiga adalah orang tua Kristian, Frans dan Bernard. Seorang lagi adalah pengacara dari mereka bertiga.

Akhirnya, selesai sudah. Selesai sudah perjalananku. Semua akan berakhir. Setiap perkataan dari pengacara tersebut membuatku semakin tersudut. Tak ada pembelaan dariku. Bagaimana caraku membela diri, sedangkan aku berada dalam pihak yang memang bersalah. Dasar kamu Ar, selesai sud…

Maaf… saya menolak segala laporan dari ketiga pelapor tersebut suara yang aku kenal. aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arahnya.

O-om… ucapku lirih, dia tersenyum kepadaku. Ayah Andrew.

Saya tidak setuju, karena pada malam kejadian, menurut anak saya, ketiga anak bapak yang melakukan penyerangan, Kristian, Frans dan Bernard. Sedangkan Irfan, Johan, dan Andrew membela diri begitu pula Arta! tegas Ayah Andrew

Anda siapa?! berani-beraninya anda membela bajingan ini Bentak Ayah Tian

Saya Ayah Andrew! Dan saya datang kesini untuk membela sekaligus melaporkan anak kalian atas tuduhan penganiyaan! bentak Ayah Andrew

Perdebatan semakin panas. Ayah Andrew tidak mau kalah dengan apa yang di utarakan oleh keempat lawannya. Bahkan suasana semakin memanas, masing-masing mempertahankan pendapat mereka. Ketiga orang tua yang melapor, mengatakan bahawa anaknya dianiaya ketika sedang melakukan pesta tahun baru.

Dari pihak Ayah Andrew mengatakan kalau Andrew dan teman-teman yang sedang merayakan malam tahun baru diganggu oleh ketiga anak pelapor hingga Andrew mengalami luka yang serius. Ayah Andrew juga mengataka kalau Arta yang menyelamatkan anaknya dan teman-temannya.

Apa buktinya? Sedangkan kami punya saksi dimana Arta melakukan penganiayaan terhadap ketiga klien saya? tanya pengacara

Mana saksi anda. Saya juga punya saksi bahkan bukti yang menguatkan! bentak Ayah Andrew

Polisi menenangkan mereka berlima. Salah satu dari Ayah pelapor kemudian menelepon seseorang. Sesaat kemudian, seorang datang.

Nama anda Poniran, benar kan? tanya kembali polisi tersebut. Dan dengan tegas orang tersebut membenarkannya.

Dengan tenang orang tersebut melakukan kesaksian. Semuanya kesaksiannya berbeda dengan kejadian. Saksi merupakan salah satu pengunjung dari perkemahan tersebut. dan kesaksiannya membuatku semakin tersudut.

Benar anda orang yang berada di perkemehan saat kejadian? tanya polisi yang duduk di depanku. Orang menjawab dengan tegas bahawa dia berada di perkemahan tersebut dengan keluarganya.

Tidak benar itu pak! Dia tidak berada di perkemahan karena perkemahan melarang dia untuk datang kembali. Poniran ini orang yang tinggal didaerah sekitar perkemahan, dia pernah membuat onar perkemahan! teriak seorang yang menyeret seorang lelaki berjaket hijau. Ada empat orang yang datang bersama orang tersebut.

Anda siapa? tanya pak polisi

Ini saksi saya pak ucap Ayah Andrew

Saya saksi dari bapaknya ini, bapaknya ini bapaknya dari anak yang waktu itu terluka. Ucapnya setelah berdiri dekat denganku

Saya juga membawa bukti pak, ini daftar orang yang bermalam di bumi perkemahan kami dan… kang kasihkan pak polisi kang ucap orang tersebut yang sebelumnya berbicara dengan pak polisi kemudian menyuruh seorang temannya menyerahkan sesuatu kepada pak polisi

Ini pak seorang dari mereka menyerahkan pistol

itu bukan pistol anak saya! teriak Ayah tian

Sebentar bapak, biarkan saksi menjelaskan ucapnya

Ini pistol kami temukan pak di perkemahan, saya sendiri berada ditempat kejadian sewaktu melakukan pengecekan. Dan melihat kalau seorang dengan mobil yang datang ke tenda milik anak bapaknya ini dan juga masnya ini mengacungkan pistol ini ucapnya sembari menunjuk dengan sopan ke arah ayah Andrew dan ke arahku.

Bajingan kamu! jangan asal menuduh anak saya! teriak Ayah Tian

Bapak! Kalau bapak tidak bisa tenang, bapak akan keluarkan dari kantor polisi! bentak seorang polisi. Pak polisi berkumis tebal datang kembali, entah dari mana. Ayah Tian langsung diam, pengacaranya pun diam.

Saya sempat disana sebentar pak, dan yang terakhir saya lihat. Anak bapaknya ini kena pisau belati pak didadanya, terus saya lari pak karena ketakutan ucap penjaga yang menyerahkan pistol dalam bungkusan plastik bening yang tertutup rapi

Dan dia tambahan lagi pak, itu si poniran itu tetangga saya pak. dia dilarang masuk ke perkemahan pak, tanya saja sama warga disana. Hafal semua sama ini orang ucapnya, membuat poniran terdiam

Terus siapa lelaki berjaket hijau ini? tanya pak polisi

Ini pak, saya serahkan ke kepolisian juga. Ini orang kemarin ngomong dan nyuruh para petugas, kalau nanti ada polisi datang atau siapapun yang menanyakan kejadiaan di perkemahan, untuk berbicara ke polisi kalau pemuda bernama Arta yang melakukan penganiayaan. Kita gak terima pak, makannya kita tangkap bareng-bareng pak. Lha seenaknya saja, pakai mau ngasih uang segala pak ucap seorang dari petugas perkemahan dan mendorongnya maju

Enak sebentar susah terus, ini orang kaya orang mau nyalon jadi kepala daerah saja pak. Kasih uang tempel, enak sehari bisa buat belanja tapi lima tahun di injak-injak, sama saja. makannya kami yang ada diperkemahan gak suka orang-orang kaya gini pak. Kalau bapak butuh saksi mengenai perbuatan lelaki ini, silahkan bapak ke petugas dan penjual di perkemahan

Lha semuanya itu ikut meringkus dia pak jelasnya kembali

Hmmm…. gumam pak polisi.

Polisi tersebut duduk dan bersandar. Melihat ke arah pelapor. Aku sedikit melirik ke arahnya dan tampak sekali wajah mereka menjadi pucat. Tak ada suara. Kurasakan pundakku mendapat pijatan ringan. Aku kembali melirik ke arah pijatan itu, Ayah Andrew. Dia tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahku dengan cara sembunyi-sembunyi.

Ada yang bisa menjelaskan dari pihak pelapor? Atau kasus saya tutup? Jika ingin dlanjutkan, berarti Arta, Kristian, Frans dan Bernard saya penjarakan dengan masa hukuman berbeda. Arta, memang melakukan penganiayaan tapi itu karena disini, menurut laporan pihak Ayah dari Andrew, Arta hanya melakukan pembelaan untuk melindungi teman-temannya

Dan dilihat dari sisi penganiayaan bisa, tapi ini membela diri tapi memang terlalu berlebihan. Dan akan kami penjarakan. Kemudian ketiga anak dari bapak sembari melihat dan mengangguk ke arah pelapor

Karena kepemilikan senjata api, benda tajam, tuduhan penganiayaan kepada Andrew, Irfan, Johan. Serta telah melakuan tindakan berbahaya yang bisa merenggut nyawa seseorang… juga akan kami penjarakan dengan masa penahanan dua kali lipat bahkan bisa tiga kali lipat dari Arta. Bagaimana bapak? Dilanjutkan? jelas pak polisi

Kalau dilanjutkan, anak bapak akan keluar pada saat teman-teman kuliahnya sudah menggendong bayi. penjelasan yang membuat semua orang terdiam

Jadi… lanjut pak polisi

Kami dari pihak kepolisian menawarkan cara kekeluargaan antara Anda dengan keluarga Andrew. Tapi, untuk kepemilikan senjata api anda tetap berurusan dengan pihak kepolisian jelas pak polisi

Kami semua diam. Kulirik senyum kemenangan dari Ayah Andrew. Tapi tak kulihat senyum dari para polisi tersebut. Sebuah ke anehan, pistol yang aku lihat ketika diserahkan kepada polisi tadi, benar-benar terbungkus rapi. Kalau seorang penjaga mengambil pistol itu pasti ada sidik jari yang tercetak disitu. Tapi kalau aku amati lagi, benar-benar bersih.

Setelah lama terdiam, akhirnya dari pihak pelapor menawarkan penyelesaian yang cukup mudah. Mengganti semua biaya Andrew dan juga mengganti semua kerugian yang sampai saat ini menjadi beban Ayah Andrew beserta teman-temanku. Dan aku… BEBAS!

Entah, semua seakan berjalan mudah bagiku. Tapi dalam benakku ada seseorang yang mengatur ini semua, entah itu seseorang dari pihak kepolisian atau seseorang dari luar. Aku tidak tahu. Yang aku tahu sekarang aku bebas.

Setelah perbincangan sangat lama dan aku hanya tertunduk bersyukur. Sebuah kesepakatan telah didapatkan antara Ayah Andrew dan juga pelapor. Tetapi pelapor dengan pihak kepolisian tetap ada, dimana tiga mahasiswa Tian, Benard, dan Frans berada dalam pengawasan polisi untuk beberapa bulan kedepan. Jika terjadi apa-apa dengan kami semua, aku dan teman-temanku, maka mereka bertiga yang akan dicari ataupun ditangkap.

Dengan rasa sedikit kesal dan marah, para pelapor meninggalkan kantor polisi dan akan kembali untuk esok hari. Aku yakin, luka yang didapat oleh mereka bertiga tidaklah ringan. Sadar ataupun tidak sadar ketika aku menghajar mereka, yang aku tahu, semua yang pernah berkelahi denganku pasti terluka parah.

Sekarang kamu ikut pulang om, Ar ucap Ayah Andrew

Eh… i-iya om jawabku

Maaf pak, untuk Arta tetap tinggal ucap Pak Polisi berkumis

Lho kenapa? tanya Ayah Andrew heran

Tenang pak, tadi kan sudah saya jelaskan? balas pak polisi berkumis

Oh, iya, lupa saya…

Ya sudah Ar, kamu tinggal disini, nanti om akan sampaikan berita ini ke teman-teman kamu ucap Ayah Andrew

Eh, i-iya om, tapi… itu kenapa om bisa-bisa berada di kantor polisi? tanyaku heran

Tadi pas mau makan bareng sama teman-teman kamu, om di telpon pihak kepolisian kesini. Kalau kamu nanti ada pertanyaan, tanya saja sama pak polisi ya? jelas Ayah Andrew

I-iya om… jawabku

Sesaat kemudian om pulang, bersama dengan rombongan petugas perkemahan. Hanya aku yang kini berada dalam kantor penegak hukum negeri ini. sendiri, eh, ada pak polisi berkumis. Masih duduk di depan pak polisi yang sedari tadi menjadi penengah antara pihak pelapor dengan ayah Andrew.

Nih… ucap pak polisi berkumis tebal menawariku rokok Dunhill Mild

Aku tersenyum dan mengambilnya. Selagi menghisap rokok kegemaranku ini, ku dengar pak polisi berkumis sedang menerima telepon dari seseorang. Jawabannya hanya iya pak, siap komandan hanya itu yang aku dengar. Sesaat kemudian dia melihatku tersenyum geli, kelihatannya.

Dah dihabiskan dulu, setelah itu kamu masuk ke ruangan yang ada di pojok lorong ini ya? paling pojok dan berada disebelah kanan perintah pak polisi berkumis dan aku mengiyakannya

Bapak mau keluar dulu cari makan. Kalau ada pertanyaan tanya bapaknya sembari menunjuk ke arah bapak polisi berseragam formal ini.

Pak polisi berseragam formal ini kemudian mengajakku mengobrol. Sedikit menertawakan aku karena logatku yang sangat ndeso. Lumayan mendapat teman untuk menghabiskan rokokku. Setelah bercengkrama ngalor-ngidul (Utara-Selatan). Aku kemudian disuruh untuk menuju ruangan yang sudah ditunjukan oleh polisi berkumis.

Dalam langkahku menuju ke ruangan itu, aku berpikir. Keluar dari ruangan Andrew, tanganku diborgol tapi sampai di lift borgol dilepas. Didalam mobil aku ditawari rokok. Sampai di kantor polisi yang awalnya aku berpikir untuk dipenjara, ternyata aku malah bebas. Dan saksi berdatangan dengan gampang sekali. Kapan sebenarnya Ayah Andrew mencari saksi dan bukti itu? aku memang tidak tahu dimana keberadaan Ayah Andrew, tapi secepat itukah?

Aku berada didepan ruangan, aku ketuk pintu. Tak ada suara. Ku ketuk kembali.

Masuk… ucap seseorang. Tapi kenapa suaranya begitu aku kenal.

Aku masuk kedalam ruangan. Di kiriku ada meja dengan dua kursi didepannya. Didepan meja sedikit jauh, ada seseorang yang sedang membaca koran di atas sofa. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya. Tepat di kananku ada kamar mandi, ku dengar dari arah kamar mandi gemericik air. Berarti orang lagi didalam kamar mandi.

Duduk… ucap seseorang yang duduk di sofa depan meja. Suara ini berbeda dengan yang tadi mempersilahkan aku masuk. Tapi kelihatan sedikit aku kenal walau suaranya sedikit dibuat-buat.

Aku duduk membelakangi kamar mandi. Duduk disebuah kursi dan didepanku sebuah meja tak ada nama. Ku coba mencari identitas nama pemilik meja ini tapi tetap saja tak kutemukan. Bahkan meja yang dibelakangnya saja bersih. Aku menunduk sembari melirik ke kanan dan kekiriku. Dibelakangku ada seorang yang membaca koran tapi tak menyapa sedikitpun.

Kleeek…

Suara pintu kamar mandi terbuka. Aku semakin menunduk.

Trap… trap… trap….

Kamu mencari ini? ucap seseorang yang begitu aku kenal

Kletek…

Aku mendongakkan kepalaku terpampang papan nama di atas meja, JIWA KANDA GUNA SAHAJA. Ku dongakan kepalaku ke atas lagi. Seorang yang aku kenal.

Mas Jiw….

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Kurasakan telapak tangan mendorong kepalaku hingga keningku terbentur di meja. Tangannya begitu kuat membuatku tak bisa mengangkat kepalaku lagi.

Hukum saja dia! bentak seseorang yang aku kenal

Bersambung