Cerita Sex Berubah? Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Berubah? Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 44

Kak Ana.. Panggil Adikku Ani

Ya Jawabku

Kak Arta gimana kabarnya? Kok gak pernah kasih kabar sih? Huh! sebel ma kak Arta ucap Ani yang memeluk bantalnya

Eh, gak boleh gitu dik. Tapi ya benar juga, beberapa hari ini gak ada kabar dari kak Arta? Tahun baruan mungkin bareng sama temannya jelasku

Bener kan? Huh! Adikku terlihat jengkel

Sudah, nanti juga ada kabar dari kak Arta. Mungkin juga pulsanya habis, kan kak Arta gak pake sematpon. Mikir positif saja dik jawabku

Eh, iya ya hi hi hi… lucu kak Arta itu. jaman modern kok ya masih pake hape jadul hi hi hi ejek Adikku

Hush, gak boleh gitu. Gitu-gitu kakak kita dik ucapku sedikit keras

Eh, iya hi hi hi jawabnya

Tahun baru ini aku jalani bersama adikku, Ani, di rumah Kak Raga. Beruntung rasanya kami bertemu dengan Kak Raga. Dan Beruntung pula ada seorang kakak lain bernama Arta yang menjadi kakak kami. Oia tidak lupa kak Alma, istri kak Raga, baik banget orangnya. Rasanya juga seperti punya kakak perempuan, buatku tapi kalau buat Ani ketambahan kakak perempuan mungkin.

Semenjak aku dan Ani keluar dari genggaman pak Pengu. Beberapa kali aku mendengar cerita tentang kak Arta. Yang culun, yang biasa, dan yang terakhir yang tidak terkendali. Walau begitu tetap saja aku tidak peduli. Dari sorot mata kak Arta, aku yakin dia akan melindungi kami berdua, adik-adiknya.

Sekalipun kami berdua sudah keluar dari genggaman pak Pengu. Tapi kami masih tetap berada dalam lingkup persaingan. Beruntung aku dan Ani berada di sisi yang baik, menurutku. Mungkin suatu saat nanti akan ada darah, akan ada pengorbanan tapi satu harapanku, bukan dari keluarga ini, keluarga baruku.

Anaaaa… Aniiii…. Makaaaaan… teriak Kak Alma dari luar kamar

Iya kaaaaak… jawabku,

Aku dan Ani kemudian keluar secara bersamaan. Menuju ke ruang makan. Disana sudah ada si mbok, Bobo dan Baba serta Kak Alma. Sedangkan Kak Raga berada di ruang TV sedang menelepon atau ditelepon seseorang. Dari Ruang makan terdengar suara pembicaraan Kak Raga.

Bisa jadi Mas. Mungkin orang yang sama

Bagaimana cerita dari korban?

Berarti dia, pasti dia.. aku yakin

Coba mas ceritakan secara detail kejadian dari sudut pandang korban

Hmmm… ya… ya… ya….

Begini saja mas, kalau ada kabar dan benar dia orangnya, aku akan datang ke tempat mas. Tapi jika benar, apapun akan aku lakukan mas… dia orangku

Pokoknya kabari aku mas, itu semua dari sudut pandang korban. Dan mas belum tahu kan dari sudut pandang orang-orang disitu atau pelakunnya?! Pokoknya kabari aku!

Iya mas maaf, namanya juga adiknya mas. Kalau ketemu masnya ya gak mau kalah he he

Okay, bye

Mata kami semua yang berada di ruang makan tertuju pada kak Raga. Kak Raga yang bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kami. Mungkin karena penasaran, tanpa sadar kami semua berenti makan. Jelas saja, aku yang paling penasaran. Entah kenapa orang yang tadi dibicarakan kak Raga di telepon serasa dekat denganku, dan aku mengenalnya.

Malam liatin kak raga, makan dulu ucap kak Raga sembari duduk di kursi

Penasaran mas, apalagi tadi mas pas telpon, suaranya keras ucap kak Alma kepada mas Raga

Kakak iparmu tadi yang telpon jawab kak Raga

Pantes, manjanya keluar kalau ketemu kakak lakinya jawab kak Alma, yang sedang menyiapkan makanan di piring kak Raga.

Eh kak Alma, kak Raga juga bisa manja ya sama kakak lelakinya?? tanyaku

Ya bisa, namanya juga saudara. Sama seperti Ani manja sama kamu jawab kak Alma

Sudah makan dulu, gak selesai-selesai ini nanti ucap kak Raga yang sudah bersiap menyantap makanan.

Tapi kak, penasaran ucap Ani

Nanti habis makan, kak Raga cerita, makan dulu, ya? bujuk kak Raga kami mengiyakan

Yup, kami semua selalu nurut sama kak Raga. Sama halnya kita nurut sama kak Arta, tapi kalau kak Arta masih bisa di bantah. Kalau kak Raga, takut kalau misalnya mau membantah. Secara kak Raga umur kak Raga diatas kami jauh banget.

Selama makan malam tak ada pembicaraan mengenai apa yang dibicarakan kak Raga di telepon. Hanya saja kita bicara hal yang lain, mengenai kuliah kami berdua. Jadi, topik pasa makan malam ini, aku dan Ani.

Selepas makan malam, kami semua biasa duduk bersama di pinggir kolam renang. Gak ada yang renang memang, tapi ya istilahnya nongkrong. Tapi disini gak ada yang ngrokok, setahuku sih kak Raga gak ngrokok. Takut paling sama kak Alma, hi hi hi.

Sejenak kami berbicara yang tidak jelas. Hingga akhirnya kak Alma membuka pertanyaan ke kak Raga mengenai pembicaraannya yang di telepon.

Oia mas, yang ditelepon tadi? katanya mau cerita? tanya kak Alma

Oh iya, sampai lupa jawab kaka Raga

Iya, heem… ayo kak cerita dong bujukku, begitu pula dengan Ani

Iya, iya, begini lho… tadi Masnya kak Raga telepon. Ada seseorang yang mengalami penganiyaan jelas kak Raga terhenti

Penganiyaan? Maksudnya mas? tanya kak Alma yang duduk disamping kak Raga

Heem jelasin dong kak, masa sepotong-sepotong? bujuk Ani

Lha ini mau jelasin malah kaliannya yang tanya-tanya terus. Lanjut gak nih? ucap kak Raga dengan senyum khasnya. Kami semua mengangguk.

Begini, ada seseorang yang mengalami penganiyaan dan melaporkan ke pihak polisi. Penganiyaan terjadi didaerah wisata yang biasa dijadikan kemping. Dan tepatnya pas malam tahun baru. Korban ada tiga orang, dan yang melaporkan adalah masing-masing dari orang tua korban. Mereka melapor secara bersamaan, begitu jelas kak Raga

Aku kembali memandang kak Raga dalam sekali. Kurasakan Ani tiba-tiba memelukku dari belakang. Kak Raga tersenyum dengan Kak Alma yang bersandar pada bahunya. Aku semakin bertanya-tanya, kenapa tadi kak Raga bilang pokoknya kemudian dia. Siapa sebenarnya dia?

Ana, Kalau mau tanya, tanya saja ucap kak Raga

Eh, itu kak… yang menganiyaya, kok kak Raga kelihatannya tadi…. suaraku merendah dengan kedua ujung telunjuk jariku aku sentuh-sentuhkan

Penasaran ya? ha ha ha… kakak juga, tapi kalau dari keterangan Mas-nya kak Raga. Pasti kalian akan berpikiran sama dengan kak Raga ucapnya, kami semakin terkejut.

Cepet kak, cerita kak, cerita… paksaku

Ha ha ha… Iya…

Kalian tahu pelakunya? tanya kak Raga duduk dengan kedua siku bertumpu pada lututnya. Kami berdua menggelengkan kepala

Pelakunya, orang yang culun jawab kak Raga

Eh, B-beneran Bos? tanya Bobo, bahkan baba mempertegas pertanyaan Bobo. Kak Raga mengangguk dan tersenyum.

Pikiranku seakan kembali ke masa dimana kak Raga menceritakan tentang kak Arta. Kalau aku ingat kak Raga pernah bercerita bagaimana kak Arta melumpuhkan Pak Pengu. Dan sisi dimana kak Arta tampil sangat berbeda dengan kak Arta yang kami lihat.

Kak Raga pernah bercerita kalau kak Arta selalu berpenampilan aneh tidak sesuai dengan jati dirinya sendiri ketika diluar sana. Pertama kali kak Arta berkelahi dengan tiga anak buah bang Jali, dari cerita kak Raga, kak Arta bukan kak Arta yang kami lihat. Kak Arta berpenampilan culun.

Kak Anaaaa… rengek Ani, aku menenangkan Ani

Kak Raga… itu… kak.. ucapku

Bisa jadi… ucap kak Raga,

Suasana menjadi hening.

Sudaaaaah… kalian semua tenang, Arta tidak mungkin melakukan hal itu tanpa sebuah alasan. Semenjak aku bertemu dengan Arta, cerita dari Jali, dan juga ketika aku harus berhadapan dengan Pengu. Arta selalu melakukannya karena ada sebuah alasan yang harus dia lindungi. aku yakin, pasti ada alasannya… ucap kak Raga, memandang kami berdua dengan senyuman khasnya

Kalian yakin kan kalau kakak kalian itu orang baik? tanya kak Raga ke arah kami. kami berdua langsung mengangguk tak ada keraguan dalam hati kami tentang kak Arta.

Adek juga mas… jawab Kak Alma. Kak Raga langsung mengelus kepala kak Alma. Wajar, kak Alma begitu percaya ke kak Arta sekarang.

Sudaaah… belum tentu kan kalau memang benar Arta, bisa juga orang lain. Kalian tenang saja, kak Raga akan mencari tahu alasannya jika memang benar itu adalah Arta. Kalian tenang saja ya… ucap kak Raga

Kami tersenyum. Aku dan Ani yakin benar kalau kak Arta tidak akan melakukan sesuatu hal buruk tanpa sebuah alasan. Masalahnya ya itu, kak Arta kalau di bantah dikit aja langsung mengkeret hi hi hi.

Selepas mengobrol santai di pinggir kolam renang, aku dan Ani kembali ke kamar. Ani memeluk bantalnya, tidur miring menghadapku. Tampak sekali kekhawatiran di wajah adikku ini. Apalagi setelah pembicaraan tadi.

Kak… kalau benar itu kak Arta, dan itu… kak Arta masuk penjara bagaimana? Siapa yang bakal lindungi kita? tanya Ani dengan wajah takutnya

Yakin, kalau pun itu kak Arta, semuanya pasti akan baik-baik saja. tenang ya? tenangku pada adikku

SMS kak Arta cepetan kak, tanyain kak Arta lagi ngapain. Cepetan kaaaaak… rengek Ani

Iya.. Iya… jawabku,

Aku kemudian bangkit dan mengambil sematponku.

To : Kak Arta
Kak, kok gak pernah kasih kabar Ana sama Ani sih?
JAHAT! :p

Lama tak ada balasan

To : Kak Arta
Kakak kemana sih?

Lama kemudian masih belum ada balasan

To : Kak Arta
Kak, Beneran nih kami khawatir sama kakak

Lama kemudian baru ada balasan.

From : Kak Arta
Maaf, kakak tadi sibuk
Gimana kabar kalian?

To : Kak Arta
Baik, kakak sendiri bagaimana?
Kakak gak kenapa-napa kan?

From : Kak Arta
Baik adikku…
Gak kenapa-napa 🙂

To : Kak Arta
Bener? Jujur?
Kakak udah janji lho sama Ana dan Ani, ingeeeet

From : Kak Arta
Iya, jujur 🙂

To : Kak Arta
Ya udah, Ana ma Ani mau bobo,
Ucapin met bobo kak,

From : Kak Arta
Met bobo Ana dan Ani adikku tercantik dan tersayang
Semoga selalu mimpi indah,
Kakak sayang kalian sebagai adik kakak 🙂
Kakak akan selalu melindungi kalian, adik-adikku 🙂

To : Kak Arta
Teria kasih kakakku yang jelek :p

From : Kak Arta
Ha ha ha… iya adikku yang cantik 🙂

Kak itu beneran kak Arta gak kenapa-napa? tanya Ani yang sedari tadi melihat isi smsku

Beneran, percaya sama kak Arta. Dia kan kakak terbaik kita dik, bener kan? tenangku. Ani mengangguk pelan.

Sudah malem, bobo yuk? ajakku, Ani mengiyakan.

Ku peluk Ani dengan sangat erat. Hanya dia yang tersisa dari keluargaku. Hanya dia yang selalu mengingatkan aku kepada Ibu. wajahnya mirip sekali dengan Ibu, sangat mirip. walau hanya ada Ani aku tidak merasa sendiri bersamanya. Kini aku memiliki keluarga yang lebih besar. Dan yang membuatku merasa tenang adalah kak Arta. Entah kenapa kehadiran dia sebagai kakakku memberikan kami rasa aman.

Kak, aku tahu dan yakin kalau kakak akan melindungi kami. Dan aku yakin, disana kakak sedang ada sesuatu yang tidak bisa kakak katakan kepada kami berdua. Karena kakak pastinya tidak ingin membuat kami bersedih.

Kami janji kak, tidak akan membuat kak Arta merasa sedih. Tapi, aku harap kakak juga tidak membuat kami sedih. Selalu tersenyum untuk kami kak, sesulit apapun itu. Jaga kami, lindungi kami. Dan, Ana-Ani janji akan jadi adek yang baik untuk kakak.

Selamat tidur… selamat malam kakakku

Bersambung