Cerita Sex Berubah? Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Berubah? Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 43

Centing…

Centing…

Aku membaca pesan yang baru saja masuk. Pesan dari Helena, tentang keadaan Andrew. Setelah menunggu lama akhirnya ada balasan juga. Segera aku sampaikan kepada Dini, Dina, dan Winda. Kalau besok sore kita akan menjenguk Andrew kembali. Lelaaah banget rasanya hari ini. Ditambah lagi bangun jam 11 pagi.

Aku terbangun terlebih dahulu. Kulihat mereka semua masih nyenyak dengan mimpi mereka masing-masing. Terpaksa aku membangungkan mereka untuk menyampaikan pesan dari Helena. Wajah mereka masih layu, dengan malas mereka bangun dan menikmati minuman hangat yang baru saja aku buat.

Setelah bersih-bersih, tepat pukul 3 sore kami pulang ke kos masing-masing. Tapi Winda, ah namanya juga Winda, kalau diawal bilang takut ya pasti takutnya gak ketulungan. Dengan berbekal bekal segudang Winda ikut kekosku diantar Dini dan Dina tentunya. Padahal sudah dibilang gak akan terjadi apa-apa tetep saja gak percaya.

Sesampainya dikosku Winda langsung saja rebah di Kasur empukku. Seperti kucing ketemu sama rerumputan.

Mi… panggilnya ketika aku menata membersihkan kamar kosku

Hmm… jawabku

Besok jenguk Andrew lagi? tanyanya

Seharusnya sekarang, tapi karena kitanya capek dan disana sudah ada orang tua Andrew, ya mundur besok. Kenapa? jawabku

Takut mi, Arta mi… ucapnya

Sudah, main game saja sana apa chatting ama yayang kamu jawabku

ish, umi… malah nyuruh main game jawabnya sembari meraih sematponnya dan mulai mengutak-atik

Lha kamu dari kemarin di bilangin jangan takut, tetep saja takut balasku

Beneran takut mi, apalagi kemarin Arta itu… hiii.. udah ah mi gak usah dibahas ucapnya kembali memeluk bantal sambil memainkan sematponnya

Hm… dasar, yang bahas duluan juga kamu sayang balasku dan tak ada balasan dari Winda yang sibuk dengan sematponnya.

Beneran ini anak susah kalau dibilangin, dari dulu sampai sekarang. Aku kembali membesihkan kamar kosku. Teringat pacarku Rian, tapi entah dimana dia sekarang. BBM, Whatsapp, dan lain sebagainya tidak ada balasan. Serasa gak punya pacar aku ini. Begitu pula Winda, sama saja. Kalau Winda masih mending, ada kabar kalau di Ronald sedang ada acara sama teman-temannya. Lha aku? Bodoh amat lah.

Seharian aku melayani sahabatku bak ratu ini. Tapi memang begitulah dia. Seneng juga, serasa punya adik perempuan. Secara adikku kan laki-laki. Lumayanlah ada temen ngobrol hari ini karena kos juga sedang sepi-sepinya.

Akhirnya malam datang juga. Aku putar film drama di televisi layar datarku. Dengan camilan dan minuman hangat, kami sangat antusias menontonnya. Apalagi Aktor yang main di film itu ganteng sekali. Jarang-jarang lho ada alien tapi gantengnya minta ampun. Cuma di film drama yang aku tonton. Di karpet bulu putihku, di depan ranjang tidurku.

Mi… ucap Winda, yang bersandar pada bahuku

Hmmm… jawabku

Umi, yang kemarin ucapnya

Ada apa? tanyaku

Kalau beneran itu adalah… aku langsung menyilangkan jariku di bibirnya sembari bangkit. Winda pun ikut bangkit.

Ssssst… sudah, kalaupun benar, apa salahnya? Selama ini juga tidak ada yang salah bukan? tanyaku, Winda mengangguk pelan

Yang penting kamu jangan takut, jangan pernah takut. Kita jalani apa adanya, ini rahasia kita berdua. Jika jalan yang akan kita lalui memang menuju ke arah itu… aku berhenti dan tersenyum sendiri

iiih, Umi gitu deh malah senyum-senyum sendiri balas Winda

Lha kamu gimana? Mau? tanyaku

Mau mi, mau hi hi hi jawabnya

Kembali kami bercanda sembari nonton Film drama. Setelah beberapa episode terlewati. Ku dengar nafas Winda yang mulai teratur. Wajahnya menjadi lebih tenang ketimbang ketika dia bangun. Ku ambil selimut dan kuselimti temanku yang manja ini.

Ketika tangan ini memegang selimut. Terasa hangat sekali. Selimut tebal ini, selimut yang pernah dia tutupkan ke seluruh tubuhku. Ah, kenapa aku ini? kenapa ingatanku kembali lagi ke waktu pertama kali dia menyelimutiku.

Aku duduk, kupeluk kedua kakiku. Kupandang langit kamarku. Mataku mulai terpejam mengingat semua kejadian. Bahkan sampai sekarang baru kali ini aku merasa jengkel dengan seorang lelaki. Entah beneran jengkel atau memang aku benar-benar ingin merasa jengkel saja kepada dia. Atau… Aku ingin diperhatikan olehnya?

Eh…

Aku terperanjat sendiri. Membuka kedua mataku. Merasa bingung dengan apa yang baru saja aku pikirkan. Aku bangkit dari dudukku. Benar-benar perasaan yang aneh buatku. Dengan pikiran yang entah aku tidak mengerti aku keluar dari kamarku. Memuat minuman hangat dan kemudian duduk didepan teras kamar kosku.

Sedikit bayangan pertama kali aku bertemu dengannya. Sekali lagi bayangan itu hadir, dan selalu saja aku tepis. Aku adalah seorang perempuan dengan seorang pacar. Bagaimana mungkin aku terus memikirkannya? Apakah ini semua pengaruh ketidak pedulian pacarku sendiri? atau memang aku yang ingin dekat dengannya? Eh, tapi bisa jadikan yang belum punya pacar tiba-tiba kepikiran dia? Bukan bisa jadi, tapi memang ada.

Pacarku. Kemana ya dia? Semakin lama semakin berubah, semakin lama semakin menjauh. Tapi kadang-kadang datang, minta disayang-sayang. Bukannya egois, memang cuma lelaki saja yang ingin disayang. Cewek juga kan?

Ah, bodoh-bodoh! bathinku sembari kepalaku aku geleng-gelengkan

Aku habiskan minumanku dan kembali aku mencuci gelasnya. Segera aku kembali ke dalam kamar. TV masih menyala, ku matikan dan kucabut flash disk. Aku rebah di belakang Winda, kupeluk tubuhnya. Sesaat dia berbalik, dan masuk ke dalam pelukanku.

Dasar manja bathinku

Malam melarutkan rasa kantukku. Membuat semua menjadi lebih tenang. Ku sandarkan pikiranku pada mimpi. Entah mimpi apa yang akan aku temui nanti tapi aku tak ingin bermimpi mengenai semua yang aku pikirkan. Aku lelah, ingin kebehagiaan dalam mimpiku.

Paginya aku bangun terlebih dahulu, tepat pukul 4 pagi. Aku mandi terlebih dahulu baru kemudian kubangunkan Winda dengan paksa. Kami kemudian beraktifitas seperti biasa. Winda yang tiduran dan aku yang melayaninya. Sudah terbiasa aku dengan Winda, karena dia sahabatku sejak kecil. Ku siapkan sarapan untuknya. Seneng juga setelah sekian lama jarang satu kamar sama Winda.

Winda kemudian mandi sedangkan aku membereskan karpet putih. Ketika aku menarik dan melipat selimut tebal yang aku pakai semalam. Aku berdiam sejenak. Ah, kenapa juga pikiran itu datang lagi. Bodoh ah!

Umi, nanti Dina dan Dini sini lagi berarti? tanya Winda yang keluar dari kamar mandi

Winda! Pakai baju dulu kenapa?! Malu! hardikku

Iiih, umi gak usah marah kali. lagian umi juga punya masa nafsu sama Winda hi hi hi candanya

Ya bukannya begitu, ntar kebiasaan lho. Coba kalau temen kamu cowok tiba-tiba datang. Malu kan? balasku bertanya sembari melipat selimut

Yeee… Winda kan juga lihat-lihat kali Umi. Gak asal weeek… ni udah pakai handuk, seksi gak umi? tanyanya kembali

Iya seksi ucapku

Iiih, umi gitu deh, malah gak jawab pertanyaanku ucap Winda

oh iya, ntar sore Dina dan Dini jemput kita. Ntar kita nginep di RS, nemenin keluarga Andrew. dan kamu harus mau, gak boleh takut! ucapku mendekatinya dan mencubit hidungnya

Aw, sakit umi. Iya, tapi umi harus bareng umi, kalau umi gak ada. Winda pulang jawabnya

Ya jelaslah, sudah sana makan dulu atau apa? kalau mau tidur di ranjang jangan dibawah, umi mau bersih-bersih ucapku meninggalkannya, melangkah hendak keluar kamar

Siap Umiku sayang jawab Winda

Winda kembali ke tempat ternyaman di dunia ini, tempat tidur. Sedangkan aku sendiri membersihkan kamarku kembali. Mau bersi atau kotor tetap saja aku bersihkan. Namanya juga cewek, gak seneng aku kalau lihat sesuatu yang kotor.

Menjelang siang dan setelah semua beres. Aku kembali ke samping Winda yang sudah tertidur. Benar-benar betah tidur. Aku kebanyakan tidur saja pusing, ini malah tidur dan tidur terus. Mau bagaimana lagi, suasana tidak cocok untuk melakukan hal lain, kecuali tidur. Kupeluk kembali Winda, dan aku ikut tertidur.

Sorenya Dinda dan Dini datang, menjemput kami untuk menjenguk Helena. Aku kira Winda akan sekalian membawa barang bawaannya pulang ke kosnya. Tapi ternyata dianya malah tetep pengen nginep dikosku hingga dia benar-benar tidak merasa takut. Hufth, bisa jadi dia nginep sampai ujian bahkan bisa sampai semester depan dimulai.

Dina menyetir mobil, Dini berada disampingnya sedangkan aku dan Winda berada dibelakang.

Umi, kira-kira Arta bakal dateng gak malam ini? tanya Dina

Lha kok tanya ma aku? jawabku

Ya, kan secara Umi paling deket sama Arta Dini menimpali

Kan aku lagi diemin Arta, Dina sayang. Belum baikan jawabku

Lha? Belum baikan mi? iiih.. ntar Umi bakalan di marahi sama Arta hiiiii… ledek Dina menakut-nakutiku

Aaaaa… Dina jangan bilang kaya gitu, kasihan Umi! bentak Winda

Eh, Windaku sayang… kan bercanda Winda jawab Dina

Beneran belum dimaafkan umi? Masih didiemin? tanya Dini

Ya sebenarnya sudah lama gak marah, apalagi setelah kejadian kemarin itu jawabku

Terus, bakalan datang gak dia umi? tanya Dina lagi

Ini kenapa pada tanya sama Umi sih? Kalian kan sms juga bisa?! ucapku sedikit keras

Itu Dini Umi, dini, bukan Dina ucap Dina

He he he… maaf Umi, kan Cuma tanya, jangan marah ya Umi sayang rayu Dina

Sukurin kalian! ledek Winda

Sudaaaah… Maaf ya, lagi banyak pikiran. Aku gak tahu dia datang atau tidak, tapi kelihatannya bakal datang ucapku. Yang tersadar kalau ucapanku tadi sedikit terlihat jengkel

Naaaah… Umi sudah kembali nih… hi hi hi ucap Dina dan Dini secara bersamaan

Gak usah datang aja, Winda takuuuuut… Sela Winda

Sudah gak usah takut! ucap kami bertiga secara bersamaan kepada Winda

Tawa kami pecah seketika itu. Benar juga, bakal datang enggak ya si Arta? Kalaupun datang, culun atau enggak penampilannya? Secara kita semua sudah tahu jati dirinya, ditambah lagi Samo sudah sangat memperjelas mengenai diri Arta. Tak tahulah.

Selang beberapa saat kami sampai ke Rumah Sakit Kota. Disana sudah ada Irfan, Johan, Burhan serta ketiga gadis cantik Salma, Tyas dan Dinda. Mereka menunggu kami di tempat parkir biar bisa bareng ke kamar Andrew. Salam sayang serta salam persahabatan, biasalah cipika-cipiki ke yang cewek bukan yang cowok. Setelanya kami menuju ke kamar Andrew.

Sesampainya di kamar Andrew. Kami disambut baik oleh keluarga Andrew. Ibu dan Ayahnya serta adik perempuannya mereka cukup menyenangkan. Ibunya Andrew mengucapkan terima kasih kepada kami semua karena telah merawat Andrew. Setelah saling mengenal kami mulai mengobrol. Walau baru berkenalan, kami sudah tampak akrab dengan keluarga Andrew. Yang jelas, Helena yang mati kutu disini.

Oia Ndrew, dah dapat kabar dari si culun? tanya Irfan

Katanya ini mau datang, lagi perjalanan jawab Andrew

Umiii… rengek Winda memelukku. Kupeluk Winda dan menenangkannya

Kamu SMS dia? tanyaku

Heem Des, aku suruh kesini atau tidak kenal aku sama sekali. Tadi aku ancam gitu he he jawab Andrew

Baguslah, pengen tahu tampilan dia sekarang Dini menimpali

iih, Dini penasaran nih. Penasaran tuuuh sama mantan yang diakuinya pacar Goda Dina kepada Dini

Yee… lu kan juga weeek balas Dini tak mau kalah. Mereka berdua kemudian sedikit bergurau mengenai masa pertama kali masuk kuliah. Kami yang mendengarkan tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Mmm… sebentar-sebentar. Si culun itu siapa? Kok mamahnya Andrew gak dikasih tahu? tanya mamahnya Andrew

Lho Andrew belum cerita tante? tanya Tyas, mamah Andrew menjawabnya dengan menggelengkan kepala

Gini lho tante Si Culun itu ya Arta, yang nyelametin kita sem… Kata-kata Johan terhenti ketika terdengar ketokan dari balik pintu masuk kamar Andrew. Sejenak semua terdiam.

Tok.. tok… tok…

Permisi…

Kembali suasana menjadi sangat hening. Bahkan kedua orang tua dan adik Andrew ikut terdiam. Suara itu, suara yang kami kenal. Dan tak salah lagi, orang yang berada dibalik pintu itu adalah yang kami tunggu. Dia…

Kleeeeek….

Bersambung