Cerita Sex Berubah? Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Berubah? Part 40 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru – Cerita Sex Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 39

“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” bathinku

Bagaimana ini coba? Tujuannya agar si Arta itu tidak main hakim sendiri, kalau di dandani culun kan dia mau berbuat apa juga tidak bakal kejadian. Maksud dan tujuannya, tapi haduh, lha kok malah semakin panas begini suasananya. Gara-gara membuat dia culun malah kejadian seperti ini, pusing aku.

Hampir sama lagi kejadiannya, Andri dan Andrew, Arta tak akan seemosional ini. Pasti ada sesuatu didalam Andrew yang membuat Arta marah. Bukan hanya kejadiannya saja, menurutku.

Dari tadi mulai berangkat, si Lisa terus ngelus-ngelus lenganku. Ngademin aku kayaknya. Untung banget ada Lisa, coba kalau ndak ada. Kelahi tadi aku sama Arta. Kalau kelahi, waduh, mati akunya.

“Sudah mas, dah gak usah dipikir” ucap Lisa, aku ngangguk-angguk saja. Pening kepalaku.

Sesampainya dirumah sakit, keluar dari mobil cepet-cepet. Tanya bagian informasi mengenai pasien bernama Andrew. Semenjak turun dari mobil, Lisa saja diam terus, Linda dan Justi juga. Mbaknya resepsionis menunjukan ruang Andrew. Haduh, ini malah di lantai atas, dan harus naik lift lagi. Ragu aku, bisa gak itu lift ngangkat beban tubuhku.

“Ayo mas” ucap Lisa, narik aku masuk ke dalam lift

“Iya, tapi aku takut malah jatuh kebawah” ucapku

“Hi hi hi, lucu pacar kamu Lis” ucap Linda

“Udah sam, masuk saja. Nanti kalau liftnya jatuh aku yang narik Sam, tenang” ucap Justi

“Gundulmu! Kamu ketiban lenganku saja teriak-teriak, gitu kok mau narik” balasku

“Eh, iya ya, waduh bahaya juga” ucap Justi yang menepuk jidatnya. Memang bener-bener koplo si Justi ini.

“Maaaas…” ucap Lisa, ya mau tidak mau aku masuk Lift.

Dadaku deg-deg’an ndak karuan. Ya takut to ya, kalau-kalau ndak kuat, terus jatuh kebawah. Seandainya ini Lift ndak kuat, akan aku peluk Lisa. Biar kelihatan romantis kalau ada yang evakuasi. Lama didalam lift akhirnya ada bunyi ting sekali, pintu terbuka. Waduh, syukur syukur, liftnya kuat.

“Kamar berapa tadi jus? Aku lupa’e” tanyaku

“17” ucap Lisa

Sudah sore, berempat kami semua menuju ruang 17. Tepat diruang 17, aku berdiri dihadapan pintu. Sebuah keberuntungan, pintunya lebar, coba kalau sempit apa muat tubuhku masuk? Dengan helaan nafas panjang, aku mempersiapkan diriku.

“Kaya mau melamar cewek saja siiiih?” canda Lisa

“Grogi yang, huft…” balasku

“Hi hi… lucu mas, temen kamu itu” ucap Linda kepada Justi

“Lho kan dia badut, he he” canda Justi, aku langsung menoleh ke arah Justi dengan wajah seramku

“Enggak, enggak sam… yakin” ucap Justi, kedua tangannya diangkat ke atas, kepalanya menggeleng-geleng

Kleeek…

Pintu terbuka aku masuk, Semua memandangku, aneh, mungkin mikirnya ada “Buto ijo” bisa masuk ke ruangan. Aku melihat ke semua orang yang berada di dalam kamar 17. Aku tersenyum, dan setelah kusapu semua wajah orang-orang yang berada didalam. Tampak mereka sedikit takut dengan kedatanganku. Memang seharusnya pas masuk tadi aku bilang “Akulah buto ijo”. Halah.

Pandanganku terhenti pada seorang yang terbaring di tempat tidur. Kaget rasanya, aku bener-bener kaget melihat laki-laki yang terbaring di tempat tidur itu. Benar-benar mirip, mrip sekali dengan sahabatku dulu, sangat mirip. Aku menoleh ke arah Justi, seakan tak percaya yang aku lihat. Kembali aku melihat ke arah lelaki itu.

“Andri…” lirih dari bibirku, tiba-tiba seorang perempuan berkerudung putih mendekatiku

“Temannya Arta?” lembut sekali mirip adonan donat.

“I-iya, kok tahu?” ucapku.

“Ehem” dia hanya tersenyum, benar-benar bingung aku. Kenapa dia bisa tahu Andri?

“Dini” salamnya kepadaku,

Aku kemudian berkenalan dengan mereka semua. Rasanya aku kembali ke masa-masa sekolahku dulu waktu di desa, Ketika tanganku menjabat tangan Andrew. Lelaki yang terbaring di tempat tidur. Aku kembali ke depan ranjang bersama Lisa yang langsung memeluk tanganku.

“Lu temennya Arta? Erghh..” ucap Andrew mencoba bangkit, yang masih berbaring di ranjang pesakitan

“Sayang sudah, gak usah banguuun…” ucap Helena, dia tampak khawatir sekali dengan keadaan Andrew. Pacarnya kayaknya, perhatian banget. Tapi kalah perhatian sama embrotku.

“Sudah, gak papa kok sayang. Aku cuma mau duduk” balas Andrew kepada helena

“Adek bantu” ucap Helena, membantu Andrew untuk duduk.

“Kamu temen Arta dari Desa?” lanjut Andrew bertanya

“Iya aku dan Justi, sejak kecil malahan” aku benar-benar masih tidak percaya dengan yang aku lihat. Kalau si Andrew ada di desa, pasti semua orang mengira dia adalah Andri. Uwaneh, uwaneh sekali. Kemarin ketemu Ibunya Arta, sekarang Andri. Ini sebenarnya Ibu Kota negara apa kota hantu?

“Kenapa Sam?” ucap Andrew

“Em, ndak ndrew. Hanya saja kamu sangat mirip dengan salah satu sahabatku dulu” ucapku

“Andri kan?” tiba-tiba Dini menimpali

“Eh, iya, kok tahu?” aku terheran ketika Dini menyebut nama Andri. Dia hanya tersenyum manis kepadaku

“Arta sudah cerita?” ucapku, dia menggeleng

“Hanya saja ketika dia mmmm setelah kejadian dia menyebut nama itu. berulang kali dia menangis ketika menyebut nama Andri. Bisa kamu cerita?” jelas Dini kepadaku.

“Hei hei hei argh…” Andrew mencoba menyela dengan menggerakan tubuhnya

“Sayang, sudaaaaah…” ucap helena

“Iya sayang, maaf… kepo aku sama Arta” ucap Andrew tersenyum

“Sebenarnya, Andri itu siapa? Kenapa kalian terkejut ketika melihatku?” tanya Andrew kepada aku dan Justi

Aku maju, megambil dompetku, melepaskan pelukan Lisa pada tanganku. Aku berdiri bersebelahan dengan Helena, ku buka dompetku dan kuperlihatkan sebuah foto kenang-kenangan masa SMA-ku. Aku, Justi, Andri dan Arta.

“Eh, itu mirip sekali denganku?” ucap Andrew sedikit terkejut begitu pula Helena yang berada disampingku

“Beneran mirip banget” ucap Irfan yang mencoba menengok ke foto pada dompetku

“Mana?” ucap Dina yang langsung merebut dompetku, untung ada isinya. Beberap yang lain mengerubungi Dina..

“Eh, beneran mirip. banget malahan” ucap Desy

“Eh, Arta ganteng ya pas SMA” ucap Dina

“He’em” balas Winda

“Sempet-sempetnya ya kalian, hadeh” ucap Irfan sembari geleng-geleng kepala

“Maaf-maaf, namanya juga serprais hi hi hi” jawab Dina, yang tampak lebih periang dibanding yang lainnya.

“Dimana dia sekarang?” tanya Johan mnyela. Pertanyaan yang mudah untuk dijawab tapi berat untuk menjawabnya.

“Dia sudah meninggal” ucapku, membuat semua orang terkejut. Aku kembali ke Justi dan lainya, berdiri memandang mereka semua. Lisa memeluk tangan kiriku, Linda berada disebelah Justi, tapi yang jelas mereka tidak sedang kenthu.

“Aku kesini, ingin memintakan maaf atas nama Arta. Jika selama ini dia membohongi kalian dengan jati dirinya yang baru. Bukan maksud dia untuk menjadi seperti itu, tapi itu keinginan ku dan Justi. Karena… hanya itu satu-satunya cara, tapi ternyata salah” ucapku

“Apa maksud kamu? Salah? Salah dimananya? Ceritakan pada kami semua, kami juga sahabat Arta” ucap Andrew

“Benar apa kata Andrew, ceritalah, karena malam kemarin… dia seperti bukan Arta yang kami semua kenal” ucap Desy

“Itu karena anu, gini itu…” aku jadi gugup.

“Elu mirip banget sama gagu-nya Arta” ucap Irfan

“Ya, namanya juga orang Ndeso mas. Maklum mas, makanannya tempe tahu he he he” jawabku sekenanya mencoba mencairkan suasana. Dan benar, mereka sedikit adem, ndak tegang lagi.

“Dah cerita saja, ini semua sahabat Arta lho” ucap Dina sembari menyerahkan dompetku kembali. Aku menengok ke arah Justi, dia mengangguk. Tapi aku tidak yakin anggukan dia itu adalah karena dia mengerti. Kembali aku memandang mereka.

“Kamu ngerti maksduku Jus?” tanyaku, dia menggeleng

“Coro (Kecoa)!” ucapku keras,

“Lha kamu cuma liat aku Sam, mana aku tahu. Ya dek ya” ucap Justi minta pembelaan ke Linda

“Sudaaah, sudah. Ini malah gak cerita-cerita lagi” ucap Desy

“Baiklah…” ucapku, Salma membawakan aku kursi dan aku duduk. Semua memandangku dengan wajah penasaran. Akunya malah gugup.

“Sudah, biasa saja. Belum pernah lihat gajah sedang duduk?” candaku, semua tersenyum, ada juga yang tertawa

“Gajah? Dimana gajah?” ucap Justi

“Juuuussst…” aku menoleh ke arahnya

“Aku kan tanya Sam, aku benar-benar ndak mudeng maksud kamu” ucap Justi, langsung si Linda menarik Justi, dan berbisik kepadanya

“Beruntung ya Arta, punya temen pinter ngelawak hi hi hi” ucap Tyas

“Andrew aja kalah tuh, bener gak len?” tanya Dinda

“Iiiih, helen, wajahnya jangan sedih terus dong” ucap Winda

“Eh, enggak kok…” ucap Helena yang terus menjaga Andrew

“Ini mau aku cerita apa gak? Kalau gak aku main sirkus lho” candaku

“Iyaaaaa…” serempak dari mereka semua

Huft…

“Aku mulai…. jadi begini lho ceritanya…”

“Kami bertiga, seperti yang aku katakan tadi. sahabat sejak kecil, sama-sama tak memiliki Ayah. Sekolah kami selalu sama, Arta, ya Arta, dia tumbuh bersama keluarganya. Ibu, Kakek, dan neneknya. Kakeknya seorang yang sangat disegani di desa kami. Sejak kecil Arta selalu dididik menjadi lelaki penurut. Diajari berbagai keahlian bela diri, tapi bukannya dia menjadi seorang ahli bela diri tapi dia menjadi seorang penakut, cengeng. Padahal sebelumnya, sebelum dilatih oleh kakeknya. Ibunya Arta selalu dibuat kelimpungan oleh Arta yang sangat nakal”

“Dari SD, kakeknya selalu keras terhadapnya. Tak ada yang berani melarang, bahkan kepala desa disana tak berani menegur ketika kakek Arta mulai mendidik Arta dengan keras. Pernah suatu ketika, Arta melakukan kesalahan. Dia diikat dipinggir air terjun, dan didiamkan semalaman. Mungkin karena kakeknya itu yang membuat dia menjadi penakut lebih tepatnya takut terhadap kakeknya atau kenakalannya diketahui oleh kakeknya” jelasku

“Hingga kami SMP, kami bertemu dengan seseorang lagi dan menjadi bagian dari kami. Andri” Aku menghentikan ceritaku

Aku kemudian menceritakan pertemuan kami dengan Andri ketika pertama kali masuk SMP. Andri adalah seorang anak yang pendiam. Lebih pendiam dari sebuah patung. Hingga suatu saat, sepulang dari sekolahan. Ada sebuah kejadian yang membuat kami menjadi lebih dekat dengan Andri.

Aku, Arta dan Justi pulang kerumah seperti biasa, kami selalu pulang telat. Kebiasan kami adalah merokok didalam kelas, maklum semua guru sudah pulang dan pastinya kelas sepi. Ditengah jalan ketika kami pulang. Aku dan kedua sahabatku menemukan Andri sedang dalam masalah. Dia dikerubungi oleh beberapa Anak dari SMP lain.

Wajah Andri sudah babak belur. Baju sekolahnya sudah robek. Dia meringkuk memeluk tasnya. Disaat itulah kami berteriak dan terjadi perkelahian yang tidak seimbang. Jumlah mereka banyak. Tapi dari perkelahian itulah yang menjadi titik balik Arta.

Sebuah pemandangan yang aneh. Arta adalah anak yang nakal, tapi tidak seperti saat menolong Andri. Amarahnya melebihi yang kami tahu, padahal jika dilihat sebelumnya dia adalah penakut yang sok nakal bersama kami. Semua anak yang mengganggu Andri terkapar dengan tulang luka yang sulit diobati.

Semenjak kejadian itu, Arta menjadi lebih berani tapi jika didepan kakeknya dia melempem. Kembali menjadi seorang anak penakut yang cenggeng. Semenjak kejadian itu, Aku, Arta, Andri dan Justi menjadi momok menakutkan bagi siapa saja yang melawan.

“Semenjak saat itu, Arta sering sekali membuat masalah” ucapku

“Sam! Bukan Arta!” ucap Justi, aku menoleh ke arah Justi. Wajahnya serius.

“Apa maksud kamu Jus?” tanyaku

“Bukan Arta yang sering membuat masalah. Tapi Andri, bukanya aku nyalahkan Andri, Sam. Tapi ya itu kan yang terjadi Sam” ucap Justi, terlihat sekali dia bisa berpikir saat ini.

“Apa maksud kalian? Kenapa kalian memiliki cerita yang berbeda? kalian kan temannya” ucap Desy, aku melihat Desy dan menunduk.

“Maaf… benar yang dikatakan Justi. Bukan Arta, melainkan Andri. Huffth… Mungkin aku masih kesal dengan Arta yang selalu menyalahkan dirinya sendiri. Selalu seperti itu setelah kejadian perginya Andri. Dia terlalu keras kepala, sehingga membuatku bosan untuk menyadarkannya kalau itu bukan kesalahannya. Karena bosan, aku selalu memposisikan dia sebagai tersangka. Mungkin karena ketakutanku juga. Kalau dia menjadi semakin lepas kendali” jelasku

“Mungkin dia keras kepala, karena merasaka kehilangan itu sangat menyakitkan” ucap Andrew, aku memandang Andrew. Aku tersenyum.

Ku hela nafas panjang. Kembali aku bercerita mengenai Andri, lelaki yang mirip dengan Andrew. Setelah dia menjadi bagian dari aku, Justi, dan Arta. Dia sudah tidak lagi menjadi pendiam. Lagaknya menjadi sok jagoan tapi kami selalu memakluminya karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan pergaulan seperti kami. Dia mulai merokok seperti kami dan lain sebagainya. Kadang dia mencari gara-gara dan kami, terutama Arta, yang meyelesaikannya dengan jalan kekerasan.

Hingga akhirnya sebuah kejadian yang sebenarnya tidak harus terjadi. Ketika itu pulang sekolah, sore hari, kami berempat berjalan bersama menuju jalan pulang. Dimana Andri memancing emosi segerombolan anak sekolah lain. Dan terjadilah perkelahian yang sebenarnya bisa dihindari.

Pada saat itu sebenarnya posisi kami menang, tapi itu adalah sebuah perkelahian tanpa aturan. Pasir berterbangan sebagai jalan satu-satunya dari mereka untuk menghindari kekalahan. Arta kehilangan pandangan saat itu.

Salah seorang dari mereka membawa pisau belati dan berjalan ke arah Arta yang kehilangan pandangannya. Dan disitu, ketika pisau belati itu mencoba menusuk Arta, Andri, menghalanginya. Arta menangkap tubuhnya, wajahnya menjadi sangat takut.

Lebih penakut dari seorang anak balita yang ditinggal ibunya pergi ke pasar. Dia berteriak keras, menangis, meraung-raung. Melihat Arta yang berteriak-teriak, Anak-anak dari sekolah lain itu berlari berhamburan. Melarikan diri.

Sejenak aku melihat ke arah mereka. Tampak raut wajah mereka berubah. Terlihat jelas olehku, kalau mereka itu sedang mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi.

“Sama, hampir sama kejadiannya” ucap Dini

“Ya, Arta sudah cerita kepadaku” jawabku

“Andri meninggal sesaat kemudian. Dan mulai saat itu Arta menyesali perbuatannya. Tangisnya tak berhenti ketika itu, bahkan ketika pemakaman. Dia seperti orang gila, semalam suntuk dia berbicara pada nisan dimana Andri dimakamkan” ucapku, sejenak aku melihat kearah mereka. seakan mereka tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arta.

“Aku terus menunggunya bersama Justi didepan gapura kuburan. Sampai akhirnya dia keluar dari kuburan itu. Matanya sudah berbeda. ketika aku menyapanya saja dia ndak menanggapinya. Awalnya dia berjalan dan kami membuntutinya tapi tiba-tiba dia berlari sangat cepat, entah kemana. Aku kira dia akan pulang kerumah kakeknya. Tapi ternyata tidak, seminggu dia menghilang.” Ucapku

“Seminggu?” tanya Desy dan aku mengiyakan dengan anggukanku

“Iya, seminggu dia tidak berangkat sekolah. Aku, Justi dan kakeknya tidak ada yang tahu. Dan ternyata…” kembali aku terhenti

“Ternyata apa?” tanya Andrew

“Selama seminggu itu, haaaaaaaashh….”

“Dia mengirim satu persatu semua anak dari sekolah yang membunuh Andri ke kuburan Andri. Dan setiap kali sudah kekuburan Andri, anak-anak itu pasti mengalami patah tulang, bahkan ada yang sampai masuk ke UGD. Semua warga mencari Arta agar menghentikan perbuatannya itu. Tapi tidak ada yang menemukannya. Dan kalian tahu, sekolahan itu sampai diliburkan, aneh kan? Bahkan pada kondisi libur pun, korban masih berjatuhan. Hingga semua siswa dari sekolah tersebut masuk ke rumah sakit.” Jelasku

“Semua?” tanya mereka serempak

“Iya, jangan mikir siswanya jumlahnya ratusan. Itu cuma yang kelas 3, sebanyak 40 anak. 30 diantaranya laki-laki” jelasku

“Oooo… aku kira seperti disekolahanku yang muridnya ratusan” ucap Irfan sambil mengelus dada

“Ndeso mas, ndeso. Beda sama kota” ucapku. mereka sedikit tertawa ketika aku mengatakan kata ndeso dengan logat khas daerahku.

“Terus… terus?” ucap Desy yang ingin mendengarkan lanjutannya

Kembali aku menceritakan kejadian setelah Andri meninggal. Setelah murid laki-laki kelas dari sekolahan itu satu persatu masuk ke Rumah Sakit. Aku mencari Arta mengelilingi Desa, dan tidak aku temukan. Hingga akhirnya aku teringat satu tempat yang menjadi favorit kami. Air terjun. Aku dan Justi kemudian ke Air terjun tersebut. Dia sedang duduk bersila, melihat ke air terjun. Kami menemukannya, dan warga berbondong-bondong menangkapnya. Dia hanya diam dan tersenyum.

Beberapa warga sempat akan marah-marah dan menginginkan Arta dimasukan ke dalam penjara. Tapi setelah perdebatan panjang, mereka mengurungkan niatnya. Karena takut ketika Arta keluar malah akan semakin menjadi-jadi

“Setelah semua kejadian itu, Arta kembali ke sekolah. Kini dia berbeda, bukan Arta yang sama dengan Arta setelah menyelamatkan Andri. Tapi Arta yang selalu mencoba menekan emosinya. Bahkan dia lebih cenderung menghindari masalah. Ada ketakutan dalam dirinya jika berkelahi, ketakutan akan ketidak mampuannya mengendalikan emosinya. Dan…”

“Seperti kalian lihat. Akhirnya kami sampai ke kota, itupun harus berdebat terlebih dahulu. Akhirnya keputusan diambil, dia harus menjadi culun begitupula aku dan Justi. Tapi hanya Arta yang tetap bertahan sampai sekarang, kalau aku dan Justi hanya bertahan sementara” jelasku

Suasana menjadi hening. Mereka saling berpandangan. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja aku ceritakan kepada mereka. Tapi setelahnya mereka semua tersenyum, memandangku dan Justi.

“Maafkan dia ya, aku mohon maafkan dia jika selama ini Arta membohongi kalian dengan penampilannya saat ini. Itu ide Justi dan aku yang memaksanya” ucapku, Lisa memeluk lenganku

“Dia tidak salah Sam, dia menyelamatkan kami semua. Dan dia Hebat! tidak hanya mengenai kejadian semalam” ucap Andrew, kami semua memandangnya. Dia tersenyum, senyumnya sama persis dengan Andri.

“Adakah yang dia lakukan?” tanyaku heran

“Dia melakukan yang lebih dari semalam, katakan padanya, aku ingin bertemu dengannya” ucap Andrew, sembari memandang helena

“Baik, tapi alangkah baiknya kalian meneleponnya. Aku tidak akan kembali ke kontrakan sebelum dia memperbolehkannya, dia ingin sendiri” ucapku

“Sam, lu saja” ucap Andrew, aku tersenyum

“Baiklah tapi aku tidak yakin dia akan datang hari ini, bisa jadi besok… Dan Ndrew, sesekali panggilah dia…” ucapku kepada Andrew dan dia mengangguk menyetujuinya

Aku dan Justi bersama Lisa dan Linda keluar dari ruang rumah sakit setelah mengobrol dan bercanda beberapa saat. Aku meninggalkan ruangan dan mengirimkan SMS ke Arta, hanya ‘ya’ balasan dari Arta. Ar, aku tahu kamu bersedih, aku juga.

“Andrew, benar-benar mirip dengan Andri Ar, mirip sekali.” Bathinku

Bersambung