Cerita Sex Berubah? Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Berubah? Part 39 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru – Cerita Sex Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 38

Sendiri dan terisak. Semua keramaian yang penuh kebahagiaan kini menjadi sepi. Dini, setelah mengantarku, dia kembali ke Rumah Sakit. Aku lelah, aku ingin beristirahat, tapi… bayangan yang baru saja terjadi menghantuiku. Aku benar-benar kacau. Haruskah aku bertahan? Atau pulang ke kampung halaman?

Ku tarik tasku, bangkit dan masuk ke dalam kontrakan dengan langkah malasku. Mataku masih sedikit rabun oleh air di kelopak mataku.

Jeglek…

Aku duduk dan bersandar pada tembok. Di sebuah ruang dimana aku dan sahabat-sahabat desaku sering berkumpul. Teringat bayangan kegembiraan bersama mereka. Bercanda, tertawa, saling memaki, tapi semua itu hanya di awal, ketika aku menginjakan kaki di kota ini untuk pertama kalinya. Sekarang? Entah dimana mereka. Mereka yang selalu mengatakan kepadaku akan menjagaku.

Lambat, kini terasa hawa dingin di sekujur tubuhku, tapi aku tidak mempedulikannya. Masih terisak. Aku tariku tasku dan kubuka, kuambil sebungkus Dunhill putih. Aku menyulutnya.

Selalu ada kenangan disetiap asap putih yang menari. Kulihat atap kontrakan, masih sama seperti pertama kali aku melihatnya. Tapi dadaku terasa sesak, tidak sama dengan sebelumnya. Asap kini memenuhi suangan, sebatang Dunhill habis terbakar.

Aku bersandar, kakiku lurus, kepalaku menengadah ke atas. Mataku terpejam. Lambat laun, aku hanyut dalam kantukku. Terlelap dalam lelahnya malam dan lelahnya hati serta pikiranku.

***

Eh, kenapa gelap?

Dimana ini?

Cahaya aku melangkah menuju seberkas cahaya yang tiba-tiba muncul dihadapanku

Jrshhh… Jrshhh… Jrshhh

Eh, ini?

Sebuah pemandangan yang sudah tidak asing lagi bagiku. Air terjun di desaku dengan pelangi yang melengkung bawah air terjun. Baru aku sadari kegelapan itu telah menghilang dan kini aku berdiri di atas tebing. Tebing yang biasa aku gunakan untuk melompat dan terjun ke genangan air dibawah air terjun.

Kenapa aku bisa disini?

Ar…

Eh, suara ini… tubuhku kaku ketika mendengar suara memanggil namaku.

Arta Byantara Agasthya…

Eh… aku semakin terperanjat, tubuhku semakin kaku. Ini adalah suara yang sangat dekat denganku.

Arta ta ta ta ta ta ta ta…

Benar suara ini… pelan aku membalikan tubuhku

Woi curut kampret! (curut, jenis tikus tanah)

Andri! mataku terbelalak melihat seorang lelaki, berdiri tersenyum kepadaku. Tangannya bersedekap, itu adalah gaya khasnya.

Wo..oi… ha ha

Ndri, benarkah itu kamu, Ndri? Andri?

Bukan! Ha ha ha”

Kampret! ya benar ini aku to Ar, Lupa sama aku? Gak tak belikan dunhill lagi lho

Ndri Air mataku mengalir, tanpa berpikir panjang aku berlari ke arahnya

Brakkk….

Tubuhku menabrak sesuatu yang tidak aku ketahui. Membuatku jatuh terjengkang kebelakang. Aku mengaduh dan kemudian bangkit, meraba penghalang yang baru saja aku tabrak.

Ha ha ha Dasar ****** kamu Ar

Ndri…

Air mataku mengalir, kulihat sahabatku tersenyum kepadaku. Mataku seakan tak percaya, senyum yang telah lama hilang kini kembali dihadapan mataku. Kembali kedua tanganku meraba penghalang tadi, seperti dinding namun tembus pandang. Dan tak dapat aku menembusnya.

Ha ha ha… curuuuuut curut!

Kita itu sudah berbeda Ar. Tetaplah disitu kawan, yang penting kita bisa ngobrol

Dia duduk bersila, memandangku dengan tetap tersenyum. Aku tahu duniaku berbeda dengan dunianya, namun aku tidak bisa menerimanya. Aku bangkit dan mencoba merobohkan dinding penghalang ini. Tapi sayang, setiap pukulanku tak memberikan efek apapun tembok penghalang ini. Tembok ini masih kokokh berdiri walau tak tampak.

******! Berhentilah! bentaknya, seketika itu aku jatuh berlutut melihatnya.

Sudah Ar, percuma. Apakah kamu akan menghabiskan waktumu untuk itu?

Aku bertemu denganmu karena aku kangen denganmu Ar

Aku hanya ingin memeluknya, memukul kepalanya dan menginjak kakinya. Itu yang sering aku lakukan kepadanya, kepada sahabatku, Andri. Salah satu sahabat terbaikku selain Samo dan Justi. Pelan air mataku mengalir.

Ndri maafkan ak…

Aku yang seharusnya minta maaf, bukan kamu ar

Aku menggelengkan kepalaku, ku usap air mataku. Sebagai pertanda ketidak setujuanku.

Tapi, awalnya adalah ak…

Ar…

Bukan, bukan salahmu tapi salahku. Cobalah kau ingat, dari awal

Kembali aku melihatnya, dia tersenyum dengan kedua tangannya menyangga dagu.

Aku yang selalu mencari masalah Ar, bukan kamu. Tak terhitung, berkali-kali kamu menyelamatkan hidupku. Dari sejak SMP, kamu yang membuatku tampak kuat, membuat semua tampak mudah. Aku terlena Ar, padahal bukan aku yang kuat

Tidak Ndri, kamu kuat, aku saja yang…

Ar…

Aku yang membuatmu menjadi seperti saat itu. Seandainya saja aku kuat Ar, aku pasti tidak akan melibatkanmu. Tapi aku lemah…

Ta.. Tapi aku yang membuatmu terbunuh Ndri, Aku yang salah! Seharusnya aku bisa melindungimu, seharusnya aku bisa dengan mudah mengalahan mereka semua! Ta-tapi aku bertele-tele, dan akhirnya kamu mejadi kor… ban teriakku lantang disela tangisku berakhir dengan tangisan yang menjadi-jadi. Andri menggeleng dengan senyuman di bibirnya.

Jangan salahkan dirimu Ar. Kesalahan itu semua berawal dari diriku, bukan dirimu. Adanya kamu membuatku menjadi sosok manusia yang sombong, karena saat itu aku percaya bahwa kamu selalu ada untuk aku, Samo dan Justi. Coba ingat bagaimana lagakku setelah tahu kamu adalah orang hebat? Sok jagoan kan? Padahal jagoannya kamu, bukan aku he he

Kulihat dia menunduk, sembari menggelengkan kepala.

Tapi kalau bukan aku yang memulai kejadian itu Ndri, kamu pasti masih bersamaku

Curut! Itu awalnya aku! Yang membuat orang-orang itu akhirnya berkelahi dengan kita itu aku bukan kamu! kenapa kamu selalu menyalahkan dirimu! Sudah! tenang! Lihat sekarang aku bersamamu kan? Aku akan selalu bersamamu Ar. karena aku merasa semua yang terjadi padamu adalah salahku. Dan Berhentilah menangis! Kamu itu jagoan kami!

Mataku terbelalak. Suaranya keras, membentakku. Aku terdiam sejenak. Tubuhku ambruk kedepan dengan kedua tanganku menumpu tubuhku.

Hei Ar, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Dan maafkan aku, maafkan aku yang selalu merepotkanmu setiap hari

Aku angkat kepalaku menengadah ke atas, kini sahabatku tepat berada didepanku. Hanya terhalang oleh tembok tak terlihat. Senyumnya masih sama.

Ndri.. bukan kamu Ndri tapi aku

Curut! Dasar orang ngeyelan (keras kepala). Ha ha ha ha

Tangannya memukul kepalaku pelan diiringi tawa kerasnya.

Semua yang terjadi padaku, adalah ulahku. Ar…

Tangannya mengucek-ucek rambutku. Kucoba raih tangannya tapi tanganku menembus tangannya.

Jangan pernah menyalahkan dirimu terus, kejadian saat itu memang keputusanku. Kamu adalah pelindung, penyelamat bagi semua teman-teman dan sahabatmu. Jujur saja semua tidak adil Ar, kamu berkali-kali selamatkan diriku. Tapi aku hanya bisa satu kali saja, sangat tidak adil

Ndri,,,

Aku semakin menangis, berkali-kali tanganku mencoba meraih tangannya tapi tetap saja tak bisa. Aku putus asa, aku kembali menjatuhkan tubuhku, kepalaku kini menyentuh tanah.

Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu, Samo dan Justi. Aku bangga menjadi bagian dari kalian. Jaga mereka ya Ar, Samo dan Justi

Aku masih menangis, air mataku semakin deras.

Sudahlah, aku tidak suka melihtmu menangis. Aku pergi dulu

Dengan pukulan kecil dikepalaku, sebelum akhirnya dia melangkah pergi. Sesaat kemudian aku bangkit, dengan air mata terurai. Kusuap dengan pergelangan tanganku. Kulihat tubuhnya berbalik melangkah menjauhiku.

Sekali lagi maafkan aku…

Dia berhenti dan berbalik.

maafkan aku juga, Ar

Ar… jaga mereka yang kamu sayangi. Kamu telah berjanji padaku dan satu hal lagi

Kita punya cita-cita kan? Wujudkan itu Ar… argh…

Dia melangkah menjauh

Kapan-kapan kita berjumpa lagi, pasti aku akan menemuimu lagi

Sahabatku… sahabat sejatiku

Ndri…

Suaraku parau dan pelan, aku yakin dia mendengarnya. Dan dia kemudian berhenti, sedikit berbalik dan menatapku.

Terima kasih, terima kasih telah mengajariku tentang cinta dalam sebuah persahabatan. Kakek, Nenek, Ibu, Samo, Justi dan kamu, kalian yang mengajariku tentang cinta. Terima kasih

Kini aku tersenyum menatap kepergiannya. Dia tersenyum melangkah mendekatiku. Mengepalkan tangannya kearahku. Spontan aku memukulnya pelan. Sebuah salam persahabatan di masa lalu. Kini aku bisa merasakan tangannya ketika aku memukul kepalan tangan itu. Mata kami saling memandang. Senyum kami mengembang. Air mata kami mengalir bersamaan. Pelan dia melangkah mundur dan menjauhiku.

Tiba-tiba dia berhenti, diangkatnya tangan kanannya yang mengepal ke atas.

KITA ADALAH KELUARGA. SEKARANG DAN…

Aku terkejut ketika mendengar teriakannya.

Kamu lupa Ar?

Tanpa menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Ku kepalkan tanganku dan kuangkat.

KITA ADALAH KELUARGA. SEKARANG DAN SELAMANYA!‚Äč

Teriak kami bersama. sebuah teriakan ketika kami berempat bersama.

Jaga mereka Ar, Samo, Justi, dan sahabat-sahabat barumu ya. dan juga para bidadari itu

Eh…

Sudah ndak usah kaget kaya gitu. Mereka cantik-cantik, dan pecahkan rekor jomblo kamu Ar, ha ha ha

Aku tersenyum memandangnya pergi.

Ndri kita masih bisa bertemu kan?

Masih

Tubuhku kaku tak bisa bergerak, melihat Andri berjalan menjauh. Berjalan di jalan menuju pulang, dimana aku dan dia sering bercanda di jalan itu. Tubuhnya menjadi gelap, hitam, tangannya terangkat ke atas.

Sahabatku… sahabat sejatiku, tetaplah kuat Wahai Pelindung!

Kata-katanya membuatku jatuh berlutut memandangnya. Air mataku semakin mengalir deras. Isak tangisku sudah tak bisa aku bendung lagi. Tiba-tiba sesosok perempuan, hanya terlihat bayangannya saja. Berdiri disamping Andri, Andri berhenti sejenak dan membungkuk. Bayangan Andri kemudian menghilang.

Jangan sering menangis,

Eh, tubuh itu… Suara itu…

Tersenyumlah, Ibu akan selalu bersamamu

eh, I…

Tiba-tiba sebuah cahaya putih menyilaukan mataku.

***

IBUUUUUU!

HAH!

Aku terbangun, tersadar dari mimpiku. Tapi bagiku itu adalah mimpi yang indah. Aku kembali bersandar pada tembok. Seakan tak percaya aku bisa bertemu dengannya lagi. Semua tampak nyata bagiku, walau itu hanya mimpi. Kupeluk kedua kakiku. Tersenyum mengingat kejadian-kejadian di masa laluku. Tapi selalu saja teringat penyesalanku.

Kenapa jalan hidupku seperti ini isak tangisku

Kembali aku menyulut sebatang Dunhill. Menerawang ke masa lalu, masa dimana aku adalah diriku. Masa dimana aku terlalu liar, terlalu bodoh, tak berlogika. Aku tidak boleh lagi bersedih, tak boleh. Sebuah SMS masuk, Dini, dia memberi kabar padaku kalau Andrew sudah berada di Rumah Sakit Kota.

Pukul 1 siang, berapa lama aku tertidur bathinku

Ceklek…

Eh… aku melihat ke arah pintu yang terbuka. Samo masuk bersama dengan Justi, Linda dan Lisa.

Woi Arta! Sahabatku paling gan…

Ada apa ar? tanya Samo heran melihat keadaanku

Kamu berkelahi lagi? Tak bosan kamu berkelahi ar? ucap Samo sedikit membentak, aku hanya tersenyum memandangnya. Mereka duduuk dihadapanku, melihatku dengan tatapan aneh yang hanya mengenakan celana tanpa kaos.

Kamu berkelahi lagi? ucap samo keras

Iya, memang kenapa? balasku, sinis

Kita disini untuk menuntut ilmu Ar! kenapa kamu malah menjadi semakin menjadi-jadi! bentaknya

Dan dimana kamu ketika aku membutuhkanmu! Kalian berdua yang berjanji, tapi dimana kalian! balasku tak kalah keras. Kulempar sebungkus rokok Dunhill ke wajah Samo. Tak ada yang berani menyela pembicaraan kami berdua. Bahkan Justi, yang sudah bersama kami sejak kecil.

Bu-bukan begitu.. jawab Samo lirih

Aku ingin pulang, menjadi diriku sendiri. tak perlu menjadi orang lain ucapku lirih melihat ke arah pemandangan diluar pintu kontrakan yang terbuka

Jangan, kamu harus tetap disini ucap Samo

Menjadi culun, membohongi orang lain dan diri sendiri. melihat orang yang disayangi mati. Begitu yang kamu inginkan? ucapku lirih, dengan asap yang menyembur dari bibirku. Aku mulai bercerita, cerita tentang kejadian malam itu. Kejadian, kejadian yang, argh, hampir sama.

Hening sesaat, setelah cerita itu selesai aku ceritakan

Ar… ucap Samo, membuka pembicaraan, namun aku tetap terdiam

Aku tahu semua ini salahku dan Justi, yang mengubahmu. Ya, aku tahu itu ucap Samo

Bukan salahmu, salahku balasku

Sudah, tetap disini ucap Samo

Aku tidak tahu jawabku

Kita kerumah sakit balas Samo

Aku ingin sendiri jawabku

Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri. tapi untuk pulang, tidak. mereka masih membutuhkanmu ucap Samo

Mereka tidak membutuhkanku jawabku

Ar, aku tahu. Kamu merasa bersalah atas kejadian yang telah lalu, tapi, dia juga tidak ingin kamu menyerah begitu saja. kalian berdua mempunyai cita-cita, cita-cita yang tidak bisa kamu wujudkan hanya dengan kamu hidup didesa ucap Samo,

Aku belum tahu jawabku, menundukan wajahku

Aku akan pergi ke rumah sakit kota, bersama Justi dan yang lainnya. Kamu tetap disini, aku akan kembali lagi ucap Samo

Aku ingin sendiri ucapku

Baiklah, jika ada apa-apa, segera hubungi aku ucap Samo.

Seketika itu dia pergi bersama dengan yang lainnya. Justi tampak sedikit ketakutan melihatku, begitupula Lisa dan Linda. Hanya Samo yang berani berbicara sedari awal. Ah, aku lelah, aku ingin tidur. Aku tutup pintu kontrakan, dan menuju ke kamar. Merebahkan tubuhku, berharap aku bertemu dengan mereka lagi, orang-orang yang telah menghilang dari kehidupanku.

Bersambung