Cerita Sex Berubah? Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41

Cerita Sex Berubah? Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru – Cerita Sex Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 33

Untuk Arlena KaryaningTyas, malaikat kecilku​

“Tulisan ini, tulisan Ibu.” Bathinku

Air mataku mulai mengembang di kelopak mataku. Nama yang tertulis dengan tulisan yang khas. Lama aku memandang tulisan itu. Seakan aku kembali ke masa lalu. Tulisan yang benar-benar membuatku rindu kampung halaman. Tulisan tangan Ibu.

Pelan, aku buka kertas tersebut. Lipatan kertas terdiri dari dua lembar kertas. Aku membukanya, kembali kulihat adikku. Dia tersenyum memandangku, dengan rokok yang masih ditangannya.

Untuk Arlena KaryaningTyas
Malaikat kecilku, malaikat yang selalu membuat hidupku bahagia
Bagaimana kabarmu sayang? Ibu sangat rindu bertemu denganmu
Apakah kamu sehat selalu nak? Ibu suka sekali ketika bercanda denganmu
Lalu kamu akan tertawa “Hi hi hi hi hi”
Hi hi hi hi… lucu sekali tawamu nak, membuat ibu sangat bahagia

“Ibu, maafkan arlena bu” bathinku.

Air mataku mulai mengembang di kelopak mataku.

Arlena sayangku, malaikat kecilku
Sudahkah kamu bertemu dengan adik lelakimu? Adik yang selalu kamu tanyakan
Ingat kan dulu, Arlena sering sekali bertanya tentang perut besar ibu kan?
Jika kamu membaca surat ini berarti kamu sudah bertemu dengan adikmu
Karena Ibu yakin, adikmu akan menemukan surat ini​

“Arlena, Arlena sudah bertemu dengannya bu, sudah bertemu… Adik sekarang bersama Arlena bu…” bathinku, aku menoleh ke arah adikku. Air mataku sudah tak bisa terbendung dan mengalir di pipiku.

Bagaimana adikmu? Ganteng tidak sayang? Hi hi hi hi hi
Ibu jadi suka ketawa mirip kamu sayang, lucu sekali sayang
Sayang, bagaimana? Ganteng tidak? Ganteng kan?
Dulu kamu ingin adik lelaki yang ganteng kan?
Terakhir Ibu melihatnya dia tumbuh menjadi lelaki yang sangat gagah dan ganteng​

“Iya bu, ganteng bu… dan juga jengkelin” bathinku. Hatiku semakin pedih. Air mataku semakin deras

Ibu memberi nama adikmu sama seperti yang kamu inginkan
Artinya juga sama sayang, sama seperti yang kita bicarakan dulu
Oh iya sayang, Arlena dulu juga pernah bertanya mengenai arti nama arlena ya?
Nama kamu itu artinya,
Arlena itu ya Ibu, harapan Ibu maksudnya, Cuma beda huruf “E” saja sayang
Kalau Karyaningtyas, ibu berharap kamu bisa terus berkarya dalam hidupmu
Terus berkarya ya sayang, tapi jangan terlalu terlelap dalam karyamu
Jaga adikmu ya sayang, percayalah dia juga tahu yang terbaik untukmu​

Satu lembar aku baca belum juga selesai, tapi tangisku tak berhenti. Air mataku jatuh membasahi kertas dengan bentuk tulisan yang sangat aku ingat.

Arlena, malaikat kecilku
Adikmu, dia sebenarnya tidak nakal dan dia sangat pintar
Hanya saja, Ibu terlalu sering kasar kepadanya
Katakan padanya jika kamu bersamanya
Katakan kalau ibu sangat sayang kepadanya, ibu terlalu sering memarahinya
Mungkin karena ibu tidak pernah berjumpa denganmu
Ibu selalu membanding-bandingkan adikmu denganmu
Setiap hal kecil yang ibu lihat, ibu selalu teringat kepadamu
Bahkan ketika adikmu tidak bisa melakukannya sepertimu, ibu marah
Dalam batin ibu, ibu merasa bersalah, padahal hanya adikmu yang menemani ibu
Saat Ibu sakit seperti sekarang ini, adikmu yang merawat Ibu

Katakan kepadanya sayang, kepada adikmu
Maafkan ibu yang berlebihan memarahinya
Katakan padanya, maafkan ibu yang terlalu kasar kepadanya
Ibu pernah menamparnya sayang, ketika dia lupa memberi makan omen
Omen, adalah harta berharga ibu darimu
Ibu terlalu berlebihan

“Aku pasti akan mengatakannya bu” batinku

Oia sayang, Adikmu itu anak yang lucu sayang, dia suka sekali mengerjai ibu
Ibu itu suka sekali dikerjai adikmu, katanya ibu jelek tapi setiap hari ibu digoda
Katanya kalau lihat senyum ibu, dan tawa ibu
Hari-harinya akan lebih indah, disisi lain bathin ibu tersiksa
Jika adikmu mengatakan senyum dan tawa
Karena ibu sering memarahinya

Sayang, katakan kepadanya
Ibu sangat mencintainya, sangat menyayanginya
Ibu hanya berharap arlena tumbuh seperti Ibu
Agar Ibu merasa tenang ketika adikmu merasa sedih
Berkali-kali adikmu selalu mengatakan sayangnya kepada Ibu
Berkali-kali adikmu bilang tidak ingin berpisah dengan Ibu
Ibu takut ketika Ibu hilang nanti, tak ada yang menemaninya
Dia manja, namun dia adalah lelaki yang kuat
Jagalah dia selalu

Aku berhenti membaca surat itu, mengusap air mataku dan melipatnya kembali. Kumasukan dalam amplop kecil itu, dan kusimpan didalam kamar. Sebenarnya aku masih ingin membacanya, tapi adikku, dia disana membutuhkanku. Gerimis reda. Aku melangkah mendekat. Masih berada didalam rumah. Dari balik kaca, aku lihat pandangannya kosong. Bibirnya tersenyum. Beberapa puntung rokok tergeletak disampingnya. Adikku sedang sedih karena teringat Ibu.

Segera aku berjalan ke dapur. Aku buatkan minuman hangat. Pelan aku mendekatinya.

“Adik, ini mbak buatin teh hangat, minum dulu dik” ucapku. Kuletakan teh hangat disampingnya. Aku bergeser dan berjongkok dibelakangnya, kupeluk tubuh adik lelakiku

“Berhentilah merokok, segeralah adik minum teh hangat ini. Mandi dan istirahat.” ucapku

“Adik masih ingin disini mbak, mbak tidur saja dulu” ucapnya dengan kaki didalam kolam renang.

“Bagaimana cara seorang kakak perempuan tidur dikala adiknya sedang bersedih?” tanyaku

“Adik tidak sedang sedih, hanya ingin sendiri. Adik kesini untuk mengantarkan surat yang adik temukan di kotak kaleng itu. Sebentar lagi adik akan pulang ke kontrakan” ucapnya, kupeluk semakin erat tubuhnya

“Jangan pulang… adik tidak boleh pulang. Mbak akan merasa sangat bersalah” ucapku sedikit terisak.

“Mbak tidak melakukan kesalahan mbak, jangan nangis mbak” ucapnya

“Maafkan Ibu dik, Ibu sangat mencintaimu, sangat menyayangimu. Semua ibu tuliskan di surat untuk mbak, jika ibu pernah menamparmu dan adik marah. Tampar mbak sebagai gantinya” ucapku, air mataku sedikit mengalir

“Tidak, tidak pernah sedikitpun terbesit kebencian kepada Ibu. Sekalipun Ibu selalu memarahiku, sekalipun Ibu selalu membandingkanku dengan mbak. Aku semakin sayang dengan Ibu, itu tandanya Ibu selalu memperhatikanku.” Dia berbalik dan tersenyum kepadaku

“Jika ibu tidak memarahiku, adik malah bingung mbak” ucapnya lagi membuatku tersenyum

“Dasar… adikku nakal” ucapku.

Aku memeluknya semakin erat. Kugoyang tubuhnya, tangannya yang dingin meremas pergelangan tanganku.

“Eh, mbak, kok digoyang-goyang” ucapnya kedua tangannya yang dingin menggenggam pergelangan tanganku.

“Katanya kangen?” balasku

“Hiiii siapa yang kangen, mbak kepedean” ucapnya

“Beneran? Tinggal bilang kangen aja susah… ya sudah, mbak mau pergi aja” ucapku melepaskan pelukanku

“Mbaaaak… adik kangen…” tangannya erat menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku kembali memeluknya

“Katanya….” ucapku terhenti. Senyumku mengembang tatkala tubuhnya bersandar pada tubuhku. Aku kecup pipi adikku.

“Ibu sedang apa ya mbak?” tanyanya. Membuat haru hatiku

“Sedang lihat kita dik. Ibu bahagia kita kumpul…” ucapku terisak. Kubenamkan bibirku di pundaknya. Kepalanya menoleh ke samping dan tersenyum. Senyumannya tenang. Mungkin dia sudah menangis lebih dulu dariku. Lebih lama dariku.

Hening…

Kurasakan tubuhnya sedikit menggigil.

“Mandi dulu gih?” ucapku, dia mengangguk. Lalu mengambil teh hangat dan meminumnya.

Setelahnya, aku tarik tubuhnya perlahan, dia bangkit. Jari-jari kakinya tampak memutih karena kedinginan. Aku menggandenganya hingga dikamar mandi yang berada didekat ruang keluarga. Aku sediakan pakaian yang sebelumnya aku beli untuknya. Aku menunggunya diluar kamar mandi, berjongkok disamping pintu kamar mandi. Kupandangi ternit rumahku. Aku benar-benar merasa bersalah akan ketiadaanku ketika adikku lahir. Aku bangkit…

“Diiiik, ini kaosnya, mbak belikan” ucapku pelan, dia membuka sedikit pintu kamar mandinya dan mengulurkan tangannya

Setelahnya, aku membuatkan mi instant dan minuman hangat untuknya.

“Nah gitu kan tambah ganteng” ucapku, ketika melihat adikku memakai kaos dan celana pendek yang aku belikan

“He he he… culun mbak bukan ganteng” ucapnya

“Hmmm… terserah adik. tapi maem dulu” ucapku, sembari membawakan mi ke sofa depan TV. Dia memakannya dengan lahap

“Enak mbak” ucapnya

“Iiih, itu kan cuma mi instan” balasku

“Tapi enak, beda dengan buatanku. Mi-nya ndak medok (terlalu lama di rebus)” ucapnya

“Ehem… adikku pintar muji ternyata” ucapku. Sambil mengunyah dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Kulihat wajahnya lelah. Ku elus kepalanya.

“Habis ini bobo sama mbak ya? jangan bobo diluar” ucapku, dia memandangku sesaat

“Gak boleh nolak, itu pesan ibu” paksaku, dia tersenyum.

Selesai dia makan aku usap sisa kuah di bibirnya. Sedkit ada kemiripan dengan Ayah. Aku letakan mangkuk di depan sofa. Aku gandeng adikku kedalam kamar. Seperti anak kecil, kepalanya direbahkan di pundakku. Aku tuntun dia rebah di tempat tidur. Tubuhnya miring, aku duduk di pinggir tempat tidur tepat didepannya. Aku elus lembut wajahnya.

“Mau ini?” ucapku, sambil menunjuk ke dadaku

“Ndak mbak, adik hanya ingin tidur” ucapnya

“Mbak takut kalau adik gak bisa bobo” ucapku

“Jadilah kakak perempuanku, sewajarnya kakak perempuan terhadap adiknya. Hanya Ibu yang boleh, dan itu saja sebentar. Adikkan dah pernah cerita.” Ucapnya

“Ups, mbak kira masih pengen hi hi hi” tawaku

“Jelek…” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

“Dingin mbak…” lanjutnya.

Baru sadar kalau AC menyala dan adikku tak memakai selimut. Aku selimuti adikku. seperti ketika ibu menyelimutiku waktu kecil. Dia telah tumbuh dewasa, pikirannya jauh lebih berlogika daripada aku. Bodohnya aku. Aku masuk dalam selimut dan kupeluk tubuhnya dari belakang, kupeluk kepalanya dan kurapatkan didadaku.

“Maafkan mbak, tadi membentakmu” ucapku

“Itu tandanya mbak sayang kepadaku” balasnya

“Mbak memang sayang kepada adik, mbak akan jaga adik selalu” ucapku

“Adik juga akan menjaga mbak, selalu” balasnya

“Beritahu mbak kalau ada yang salah dari mbak” lanjutku

“Beritahu adik juga mbak…”

“Aku lelah mbak, ingin tidur” ucapnya

“Eh, iya tidurlah adikku sayang… semoga semuaya akan menjadi lebih baik” ucapku

“He’em…” jawabny

Nafasnya pelan, kupeluk kepalanya semakin erat.

Kaze ga yoseta kotoba ni
Oyoida kokoro
Kumo ga hakobu ashita ni
Hazunda koe​

“Nyanyikan untuk ade hingga selesai” ucapnya pelan

“He’em..” jawabku

Kepeluk lebih erat kepalanya, tanganku mengelus kepalanya. Nafasnya menjadi lebih lembut, dan tubuhnya menjadi lebih hangat.

Tsuki ga yureru kagami ni
Furueta kokoro
Hoshi ga nagare, koboreta
Yawarakai namida​

“Suara mbak indah” ucapnya, aku cium rambutnya

Suteki da ne
Futari te o tori aruketa nara
Ikitai yo
Kimi no machi, ie, ude no naka

Sono mune
Karada azuke
Yoi ni magire
Yume miru​

“Seperti ibu” suaranya pelan namun aku masih bisa mendengarnya

Kaze wa tomari; kotoba wa
Yasashii maboroshi
Kumo wa yabure; ashita wa
Tooku no koe

Tsuki ga nijimu kagami o
Nagareta kokoro
Hoshi ga yurete, koboreta
Kakusenai namida

Suteki da ne
Futari te o tori aruketa nara
Ikitai yo
Kimi no machi, ie, ude no naka

Sono kao
Sotto furete
Asa ni tokeru
Yume miru​

Kuraskaan nafasnya mulai teratur. Aku bangkit dari tidurku, kembali aku mengambil amplop kecil itu. Kulihat wajah adikku sudah tenang, dia tertidur bersama dengan mimpinya. Aku keluar dari kamar, ku buat teh hangat untuk menemaniku malam ini. Kubuka amplop kecil itu dan meneruskan membacanya.

Arlena, apa kabar dengan ayahmu?
Adakah dia baik-baik saja sayang? Ibu rindu dengan ayahmu
Sampaikan maaf ibu kepada ayahmu sayang, tak bisa memenuhi kebutuhannya
Tak bisa berada disampingnya sebagai istri yang baik untuk ayahmu​

“Ibu… Ayah telah menyakitimu tapi kenapa Ibu masih saja mengkhawatirkannya?” bathinku menangis. Sebegitu cintanya Ibu dengan Ayah, walau Ayah telah pergi bersamanya.

Sayangku arlena
Jagalah selalu adikmu, katakan padanya kebaikan-kebaikan ayahmu
Ibu selalu menceritakan bagaimana ayahnya begitu baik kepadanya
Namun, sebuah rahasia tetap akan terbuka
Dia selalu menanti kehadiran ayahnya, kehadiran yang tak kunjung datang
Tapi dia selalu tersenyum, selalu bahagia ketika ibu bercerita tentang ayahnya

Ibu yakin adikmu telah mengetahui sesuatu tentang ayahnya
Ibu hanya takut, penantian yang dulu adikmu nanti
Akan menjadi kebencian

Sayangku arlena, jagalah adikmu
Dalam dirinya tersimpan jiwa seorang prajurit yang tak kenal lelah
Ada sebuah jiwa dalam diri adikmu, jiwa yang terkadang bisa meluap-luap
Jiwa itu akan selalu keluar, ketika dia terlalu takut
Jiwa yang Ibu takutkan akan keluar ketika bertemu ayahmu

Jagalah dia, peluklah dia ketika bertemu ayahmu
Peluklah dia, adikmu, sayang
Agar dia selalu dalam kehangatan kasih sayang Ibu
Jujur Ibu telah salah, jadi ibu mohon sayangilah adikmu
Karena Ibu yakin, arlena pasti bisa memberikan kasih sayang kepada adiknya
Maafkan ibu, yang selalu membuat adikmu bersedih
Maafkan ibu, yang selalu membuatmu bersedih

Ibu sangat mencintai dan menyayangi anak perempuan Ibu
Arlena KaryaningTyas
Ibu sangat mencintai dan menyayangi anak lelaki Ibu
Arta Byantara Agasthya

Jadilah kalian selalu saudara yang selalu menopang dalam menjalani kehidupan
Jagalah adikmu, adikmu akan selalu menjagamu
Dia juga tahu yang terbaik untukmu
Jagalah dia selalu​

Arlina AyuningTyas​

Tangisku pecah. Air mataku mengalir. Aku memeluk surat dari Ibu, erat aku memeluknya.

“Ibu… maafkan arlena, seandainya saja dulu…”

“Maafkan arlena bu maafkan….” aku menangis. Aku menangis karena aku benar-benar telah melupakan hal berharga dalam hidupku.

Seandainya saja dulu aku memaksa ayah untuk pulang ke desa. Seandainya saja aku tidak terlena dengan kehidupanku yang sekarang ini. seandainya saja, seandainya saja. Jika memang ada kesempatan untuk memutar waktu, aku akan memutarnya. Tapi semua sudah tidak mungkin lagi untuk diputar. Semua telah terjadi, dan tak akan pernah bisa diubah.

Air mataku masih terus mengalir. Dadaku sesak ketika harus mengingat masa kecilku. Aku bodoh, terlalu bodoh karena kehidupanku di tempat ini membuatku melupakan asalku. Aku orang udik, aku orang desa tapi hanya karena kejayaan ayahku, aku menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Ah, benar-benar bodoh.

Kulipat kembali, dan kembali aku masuk kedalam kamar. Kusimpan rapi amplop di almariku. Kulihat adikku tidur dengan lelapnya,wajahnya terlihat sangat tenang dan damai. Aku mendekatinya dan kupeluk kepalanya kembali dari belakang. Entah mengapa aku ingin bernyanyi kembali, walau pelan, aku ingin menyanyikannya lagi. Hingga mata ini lelah untuk terbuka dan terlelap dalam lelah tangisku.

***

“Eh dimana ini? Kenapa semuanya menjadi gelap?”

“Eh..” kurasakan seseorang memelukku leherku dari belakang. Seorang wanita, lembut dan hangat pelukannya.

aaaaaaa”Sayang, kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik”

“Suara ini” aku menangis. Aku genggam erat pergelangan tangan wanita yang memelukku. Ibu. Terdengar tawa kecilnya menirukan cara tertawaku.

aaaaaaa “Sayang, jaga adikmu ya”

“Ibu…” semakin aku menggenggam erat dan menarik tubuh ibu. Menariknya lebih dekat ke tubuhku.

aaaaaaa”Sudah jangan menangis, ibu mohon jaga adikmu”

“Ibu, maafkan arlena…”

aaaaaaa”Tidak perlu minta maaf sayang. Berjanjilah ada Ibu untuk selalu menjaga adikmu. Jaga adikmu”

“Iya bu, Iya… pasti”

aaaaaaa”Terima kasih sayang. Jadilah wanita cantik. Cantik hati dan parasmu sayang. Kapan-kapan kita bertemu lagi sayang”

“Ibu! tunggu! Jang…” Tangan itu menghilang. dan ketika aku berbalik kebelakang,, sudah tak ada siapa lagi.

“Ibu… Ibu…” aku terus berteriak memanggilnya.

***

“Ibu!”

“Hash hash hash…”

Aku terbangun, bangkit dan duduk. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Sebuah mimpi, mimpi yang indah. Walau hanya suara Ibu yang aku dengar, tapi jelas itu adalah Ibu yang berada dibelakangku. Aku hela nafas panjang, kembali rebah. Itu Ibu, suaranya. Suaranya sudah cukup membuatku bahagia.

Aku angkat tubuhku lalu ku miringkan. Kulihat adikku masih tertidur, wajahnya masih sangat lelah.

“Eh, jam 3” bathinku, ketika aku melihat jam di dinding kamarku

Segera aku bangkit dan menyiapkan teh hangat untuk adikku. Suasana yang sama dengan suasana ketika aku masih kecil, gelap dingin dan sejuk. Kubangunkan adikku, dia tampak sedikit malas sekali untuk bangun. Mungkin karena lelah tapi aku terus memaksanya bangun. Hingga akhirnya dia bangun dengan wajah yang sangat malas. Aku ajak adikku ke halaman belakang. Kami duduk bersebelahan, memandang kandang omen.

“Mereka masih tidur ya mbak?” tanya adikku

“He’em… nanti kalau sudah ada mentari pagi juga bakalan bangun mereka” ucapku

“Terus makanannya apa mbak?” tanya adikku

“Tuh, udah mbak siapkan wortel sama kangkung. Nitip di pos satpam, jadi setiap pagi mbak minta ke penjual sayur keliling untuk nitip di pos satpam. Nanti pas pulang mbak ambil” ucapku

“Mbak…” ucapnya

“Hmm…” aku menoleh ke arahnya

“Ndak papa he he he” ucapnya

“Huh! Dasar suka ngerjain mbaknya” ucapku

“Yeee siapa yang ngerjain mbak? Ndaklah, aku ndak suka ngerjain cewek jelek weeeek” ucap adikku, yang langsung berdiri

“Eh, gitu ya sekarang sama mbaknya? Awas kalau ketangkap!” ucapku keras, benar kata ibu. Dia suka jahil ternyata

Aku berlari, mencoba menangkap adik lelakiku. Tawa canda kami di pagi buta, dimana tak cahaya matahari masih enggan menyapa. Aku menemukan sesuatu yang hilang dari kehidupanku, kebahagiaan. Ya, aku selalu mencarinya namun tak pernah aku mendapatkannya. Hingga subuh berlalu aku masih saja bercanda dengannya.

Ketika pagi menjelang. Tepat setengah enam pagi, aku mengantar adikku pulang ke kontrakannya. Dia harus berangkat kuliah, sedangkan aku harus berangkat kerja. Dalam perjalanan aku sangat bahagia pagi ini. Jika ada kesempatan seperti ini lagi aku tak ingin melewatkannya lagi. Kesempatan bersama adikku yang jahil. Hi hi hi.

Dikantor, semua pekerjaan aku selesaikan dengan cepat. Semua laporan perjalanan keluar kota sudah aku selesaikan, dan sudah aku serahkan. Besok aku libur begitupula dengan rekan kerjaku. Rekan kerjaku bercerita kalau adiknya sangat senang ketika melihatnya pulang.

Dia juga seperti aku memiliki adik laki-laki, hanya saja aku baru bertemu dengan adik laki-lakiku sedangkan dia sejak lahir sudah bersamanya. Pulang kerja aku menelepon adikku, aku menjemputnya dan membawanya kembali kerumahku.

“Taraaaaaaaaa….”

“Ni dik, maem dulu gih” ucapku meletakan sepiring nasi goreng buatanku

“He’em mbak” ucapnya,

Begitu lahap dia memakannya, aku memandangnya tampak lucu sekali.

“Enak?” ucapku

“Enak mbak, pedasnya mantap” ucapnya

Aku bangkit dan kuberi makan omen di sore hari ini. Adikku menghampiriku, bersama kami memberi makan si omen-omen berbulu halus ini. Dia sangat jahil, nakal, seperti kata Ibu. berkali-kali dia mengatakan aku jelek hanya sekedar untuk mengundang amarahku. Kuberi tinju pelan dilengannya, lalu dia akan berlagak terhempas jauh. Candanya memang berlebihan, terlalu hiperbola tapi itulah dia, adikku, adik semata wayangku.

“Dik…” ucapku pelan

“Iya mbak” jawabnya

“Menurut adik… mmmm…” aku berhenti dan memandangnya

“Mmmm apa mbak? serius banget wajah mbak” ucapnya

“Gimana ya… mmm… itu” ucapku, jujur saja aku masih bingung mengucapkannya

“Apa to mbak?” tanyanya

“Ayah…” akhirnya aku berani mengucapkan kata itu, dia memandangku dan tersenyum

“Kenapa dengan ayah mbak?” tanyanya

“Tidak, hanya saja… adik tidak ingin bertemu dengan ayah?” tanyaku, dia menggeleng

“Hufth… adik sudah tahu ceritanya ya?” tanyaku

“Kakek dan nenek yang bercerita” ucapnya

“Adik benci sama yah?” tanyaku

“Adik tidak tahu” jawabnya

“Mbak harap adik tidak membencinya. Karena itu pesan dari Ibu, jadi apapun yang terjadi dia tetap ayah kita d…” ucapku terhenti ketika adikku bangkit dan melangkah menuju kolam renang. Direndam kakinya dan menyulut rokok putih itu lagi

“Adik tidak tahu, jangan tanyakan masalah itu lagi. Adik tidak tahu… benar-benar tidak tahu” ucapnya

“Iya, tapi bukan berarti harus menghindar terus kalau diajak ngomong dong dik. Ugh… asepnya dik” ucapku, yang mendekatinya

Aku duduk menjaga jarak dengannya, karena asap rokoknya. Hening sesaat, hingga sebatang rokok itu habis.

“Sudahlah mbak… adik capek, adik mau mandi. Terus tidur” ucapnya bangkit hendak masuk ke dalam rumah.

“Gitu kan kalau diajak ngomong. Adiiiiik…” ucapku

“Mbak, belum saatnya membahas masalah itu. Adik mohon” ucapnya

“Baiklah… tapi tidak selamanya, mbak akan selalu membahasnya. Karena isi tabungan yang adik pakai itu juga kiriman darinya” ucapku

“Adik tahu, dan adik tidak pernah menggunakannya. Teman adik yang menggunakannya” ucapnya

“Eh… maksudnya” ucapku, dia bersandar pada tembok kemudian berjongkok. Mencertiakan sebuah kejadian yang sangat miris tentang temannya bernama helena. Aku tersenyum, hatinya sangat baik.

“Kenapa adik mau menolongnya?” tanyaku, dia memandangku sedikit tajam

“Ada sebuah kenangan pahit dan adik tidak ingin mengulang kenangan pahit itu” ucapnya, berdiri lalu berlalu menuju kamar mandi

“Adik, maksud adik apa?” tanyaku, tapi dia sudah masuk kedalam rumah. Aku menngejarnya namun dia sudah masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah mandi pun, aku memaksanya untuk bercerita. Tapi tetap saja dia diam. Matanya tersirat kepedihan akan masa lalunya. Ada sesuatu selain Ibu, ada sesuatu yang membuatnya tetap diam. Mungkin memang belum saatnya aku mendengar ceritanya. Aku yakin pasti suatu saat nanti dia akan bercerita padaku.

Malam ini dia tidur bersamaku, kupeluk kepalanya dan kunyanyikan lagu indah yang selalu kami dengar ketika hendak tidur. Saat tadi sebelum tidur, dia selalu jahil kepadaku. Menggodaku, dan membuatku selalu tertawa lepas. Dia kebahagianku, semoga dia selalu menjaga kakak perempuannya. Aku akan menjaganya, itulah kewajiban seorang kakak kepada adiknya. Ya, aku akan selalu menjaganya.

Keesokan paginya aku menjalani kehidupanku, kantor dan pekerjaan setelah mengantarnya pulang untuk kuliah. Kini aku telah larut dalam kehidupanku, kehidupan yang penuh dengan hiruk pikuk khas perkantoran. Laporan, audit, ah semuanya sangat menyita waktuku. Namun aku tak akan lupa mengirimkan sms ke adikku, adik lelakiku.

***

“Dini ya?” ucap seorang lelaki

“Eh, mas gama ya?” ucapku

“Iya, wah tambah cantik aja kamu din” ucap mas gama. Mengulurkan tangannya.

“Iiih, mas ternyata masih suka godain cewek” ucapku, sembari meraih tangannya. Kujabat tangannya.

“Kan cowok. Wajar dong, eh ngomong-ngomong lagi cari apa di toko buku?” tanya mas gama

“Biasa mas, nyari buku-buku buat kuliah” ucapku, perasaanku saat ini sangat senang sekali.

Mas Gama, cowok keren yang dari dulu selalu hadir dalam pikiranku. Dia orangnya ramah, supel, enak diajak ngomong. Dulu aku mau masuk ke univ yang sekarang ini karena mas Gama juga, tapi sayangnya jaraknya terlalu jauh dengan angkatanku. Mas Gama sekarang sudah S2, sedangkan aku masih semester 3.

“Diniiii…” panggilnya membuyarkan lamunanku

“Eh, i.. iya mas” jawabku

“Kok malah bengong?” ucapnya

“Eh, anu, gak papa mas” ucapku, aku tersenyum memandangnya

“Lho malah senyum-senyum sendiri?” ucapnya, membuatku tersipu malu dan menunduk

“Kesini sama siapa?” tanyanya

“Eh, anu itu mas sama Dina” ucapku

“Wah kalian klop ya?” ucapnya, aku mengangguk

Aku dan mas Gama kembali mengobrol. Entah mengapa hatiku serasa berbunga-bunga dekat dengan lelaki ini. Kenapa ya hatiku senang banget rasanya ketika bertemu dengan mas Gama? Pertama kali melihatnya dulu waktu aku SMA, mas Gama yang datang ke SMA-ku untuk sosialisasi mengenai universitasnya. Sudah ganteng, tinggi, iiih perfect-lah pokoknya. Udah gitu, senyumnya manis banget.

Selang beberap saat Dina datang bersama dengan mas Sandi. Kami kemudian makan siang bersama, aku dan Dina senang sekali. Terlebih Dina, tampak sekali dia manja-manja gitu sama mas Sandi. Tahulah aku, dia ngefans banget sama Mas Sandi. Mas Sandi satu angkatan dengan Mas Gama, hanya saja beda jalur. Mas gama melanjutkan S2-nya, kalau mas Sandi sekarang jadi fotographer.

Walau sebentar tapi udah lumayanlah buat hatiku seneng, apalagi udah tukeran nomer hape. Huh, enak tuh Dina, pulang sambil mainan hape. Dah jelas tuh kalau dia lagi BBM-an ma mas Sandi idolanya. aku kan juga pengen kali.

“Diniiii… ih mas sandi ganteng banget tadi” ucap Dina, rebah diatas tempat tidur

“Huh! Sebel ma lu, gue” ucapku duduk di pinggiran tempat tidur

“Yeee… kok sebel?” tanyanya

“Lha lu, disuruh gantian nyetir kagak mau” ucapku

“Iiih, kan tadi waktu berangkat udah gue, gantian dong sayang. Hi hi hi”

“Udah sekarang hubungi tuh Satria pujaan lu” ucap Dina

“Eh, iya…” ucapku

Ya, hingga menjelang tidur. Aku dan Dina sibuk dengan sematponnya masing-masing. Kadang kami tertawa-tawa sendiri karena percakapan kami dengan idola kami. Duh, senengnya, banget. Benar-benar bisa melupakan semua kegalauan hati. Moga aja bisa jadi pasangan hidupnya, ya itu harapan kami. Harapan kami berdua. Moga-moga aja mereka cowok yang baik. Hi hi hi…

Bersambung