Cerita Sex Berubah? Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45

Cerita Sex Berubah? Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Sex Terbaru – Cerita Sex Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Berubah? Part 32

In your arms I can still feel the way you
want me when you hold me
I can still hear the words you whispered
when you told me
I can stay right here forever in your arms

And there ain’t no way–
I’m lettin’ you go now
And there ain’t no way–
and there ain’t no how
I’ll never see that day….

Mmmm, baby
In your heart–I can still hear
a beat for every time you kiss me
And when we’re apart,
I know how much you miss me
I can feel your love for me in your heart

And there ain’t no way–
I’m lettin’ you go now
And there ain’t now way–
and there ain’t no how
I’ll never see that day….

‘Cause I’m keeping you
forever and for always
We will be together all of our days
Wanna wake up every
morning to your sweet face always


Dengan alunan musik dari sematponku yang ku hubungkan dengan earphone di telingaku. Di dalam mobil, aku terus bernyanyi selama perjalanan pulang. Entah kenapa hanya lagu itu-itu saja yang aku putar,tidak mau yang lain. Jelaskan, aku bahagia sekarang, masalah yang selama ini membuatku murung, kini sudah selesai. Cuaca yang mendungpun seakan cerah bagiku.

Sesampainya di kamar kos, aku langsung terjun bebas ke kasur. Dengan segera ku balikan tubuhku menjadi terlentang.

ANDREW! teriakku.

Ini semua berkat Arta. Jika bukan dia yang menolongku mungkin aku tidak akan pernah bersama Andrew lagi. Kuraih sematponku dan ku ketik pesan ke Andrew.

To : Ayangz Andrew
Sampai mana?

Lama aku menunggu juga tidak ada balasan dari ayangz-ku. Huh, jadi sebel juga rasanya. Tapi sudahlah, paling dia sedang dalam perjalanan ke kostku. Aku bangkit dan mengganti pakaianku. Seperti biasa, kupakai tank-top dan celana selutut. Nyaman banget sih, pakai pakaian begini.

Sambil menunggu ayangz-ku, ku buat segelas susu coklat hangat.

Ting.. ting… ting…

Alangkah beruntungnya aku, mendapat pertolongan hanya karena aku kekasih dari Andrew. Jadi senyum-senyum sendiri jika mengingat semuanya. Hm, sebentar-sebentar, tapi aneh juga ketika Arta menolongku. Jangan-jangan dia suka sama aku. Lucu juga, tapi tidak mungkin.

Cara dia mengatakan kepadaku, agar aku menjaga Andrew, sangat dalam. Ngena banget. Bahkan kalau aku ingat lagi, Arta sangat menginginkan Andrew tetap bersamaku. Kalau tidak, tidak mungkin dia akan memberikan aku pertolongannya. Arta, aku yakin suatu saat nanti, kamu akan memperlihatkan dirimu yang sebenarnya. Dan.. semoga kamu menjadi penolong bagi kami semua, teman-temanmu, keluargamu.

Tok… Tok… Tok…

Eh aku terkejut oleh suara ketukan pintu.

Halooo… permisiiiii…

Aku tersenyum mendengar suaranya. Teriakan khas dari sang ayangz-ku, Andrew Nugraha. Aku segera melangkah mendekati pintu. Berhenti sejenak menunggu suaranya lagi.

Halooo… adakah kekasihku didalam. Disini Andrew, Andrew yang terkasih… tercinta… dan tersayang teriaknya kembali membuat senyumku semakin lebar. Seperti biasa, Ayangz-ku selalu saja begitu. Aku tetap tidak membukakan pintu, aku masih menunggunya untuk berteriak lebih keras. Benar saja, selang beberapa saat kemudian dia berteriak kembali untuk ketiga kalinya.

Klek…

Ku buka pintu hingga setengah terbuka. Kepalaku keluar dan memandangnya dengan pandangan datar.

Aha! Kekasihku tercinta! ucapnya keras. Tapi aku memandangnya datar.

Mas-nya siapa? tanyaku

Eh.. eh… dia menoleh ke kanan, ke kiri.

Aku? ucapnya heran dengan jari telunjuk menunjuk kehidungnya.

Iya, kamu mas jawabku. Pandanganku datar ke arahnya dengan hati menahan tawa.

Ayang, ini Andrew. Ayangnya Helena ucapnya. Wajahnya berubah memelas.

Bukan. Ayangku namanya Andrew Nugraha. Bukan Andrew yang terkasih, yang tercinta, yang tersayang. Bukaaan… Bukan kamu, mas aku memandangnya dari atas ke bawah.

Ayang, ayang jangan gitu do.. ucapnya yang terhenti

Maaf mas, aku nunggu Andrew Nugraha. Maaf mas, terima kasih ucapku dengan senyum yang seolah kupaksakan.

Seketika itu juga kututup pintu kamarku. Aku berbalik dan bersandar pada pintu. Kututpi tawaku dengan telapak tangan kanan. Agar tidak terdengar olehnya.

Ayaaaang… ini Andrew. Andrew. Masa ayang lupa. Ayaaaaaaaang.. ucapnya dengan mengetuk-ngetuk pintu pelan.

Maaf mas. Mas-nya salah orang ucapku dari balik pintu

Sayaaaang.. Ini Andrew Nugraha sayang ucapnya saambil menggedor-gedor pintu dengan pelan

Oh… mas Andrew ya teriakku senang

Aku langsung membuka pintu lebar-lebar. Ku tarik tangannya, kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Baru menutup pintu dan bersandar pada pintu. Aku hela nafas panjang.

Untung mas tadi cepetan masuk ucapku

Andrew tampak bingung dengan sikapku.

Ada apa sih yang? tanyanya. Gayanya khas, menggaruk-garuk kepala.

Sssst.. aku mendekat dan menyilangkan jari telunjukku di bibirnya.

Jangan keras-keras. Tadi itu ada yang ngaku-ngaku pacarnya adek. Pakai yang terkasih dan tercinta terus apa itu tadi. Padahal kan Helena itu adeknya mas. Pacarnya mas ucapku sambil memonyongkan mulut sok manis

itu mas, ayaaaaaang dengan wajah memelasnya.

Aku rangkulkan kedua tanganku di lehernya. Lalu ku pandang ke dalam matanya, dan kemudian tersenyum manis.

Gak perlu yang terkasih, tercinta dan tersayang. Cukup Andrew Nugraha. Biar nama Adek gak terlalu panjang. Lebih bagus juga Helena Nugraha ucapku sambil memandangnya.

Mendengarnya, Andrew langsung bereaksi. Kepalanya menunduk, senyumnya mengembang. Tiba-tiba tangan kanannya merengkuh pinggangku dan menariknya kuat, sehingga tubuhku menempel dengan tubuhnya. Kedua tanganku pun memeluk lehernya hingga kening kami bertemu.

Kepalanya menggeleng pelan. Hidungnya menyapu-nyapu hidungku. Aku tersenyum. Menundukkan kepalaku, malu rasanya. Tangan kirinya meyisir rambut depanku yang menutupi sedikit wajahku.

Perlakuan manis tangannya di rambutku ternyata hanya sesaat. Tak seberapa lama kemudian tangannya turun menuju pipiku, lanjut ke bibirku, dan daguku untuk mengangkatnya sedikit ke atas. Pelan bibirnya mencium bibirku. Mataku sedikit terbelalak, terkejut, kemudian menyipit. Menerima kehangatan ciumannya.

Bibirku begitu pasif ketika bibirnya menempel di bibirnya. Namun sedetik setelah bibirnya lepas, kedua tanganku langsung menarik kuat lehernya. Seolah berontak, bibirku seakan tak ingin lepas dari bibirnya. Lama sekali kami berciuman, seraya kedua tangannya memeluk pinggangku.

Ahhh… terima kasih sayang sudah datang ucapku selepas kami berciuman.

Dia tersenyum dan mengangguk.

Adek buatin coklat panas ya? aku tersenyum.

Dia kembali mengangguk. Aku lepas pelukanku dan berjalan meninggalkannya. Tiba-tiba dia memelukku dari belakang dan mencium kepala bagian belakangku. Aduuuh rasanya… bikin merinding saja.

Sudah sayang… nanti sayang gak minum-minum lho ucapku

heem dia melepas pelukannya.

Aku buatkan dia segelas coklat panas. Sayangku sedang duduk di karpet putihku. Memandang ke luar melalui jendela kamarku. Aku dekati dia, kuletakan coklat panas didepannya. Dia menoleh kearahku sebentar kemudian tersenyum kepadaku. Aku ambil lagi gelasnya dan kuberikan kepadanya. Senyumnya, kini aku tak perlu merindukannya lagi karena aku akan selalu melihatnya.

Gluduk… Gluduk…

Dhuar…

Aku sedikit terkejut. Hanya memejamkan mataku tatkala suara gemuruh di langit yang akhirnya datang. Sejenak aku melirik ke arah jendela. Kulihat kembali sayangku yang dnegan tenang meletekan gelasnya di lantai.

Tik… tik… tik….

Srrrsssshhh….

Hujan pun turun dengan derasnya. Kedua tangannya berpindah kebelakang meyangga kedua tubuhnya. Kepalanya menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku membalasnya. Kakiku aku tekuk kedepan dan kupeluk. Senyuman kami berdua berubah menjadi tawa. Tak tahu apa penyebab tawa kami. Hingga akhirnya kami berhenti tertawa. Hening. Mata kami berpandangan. Ditemani dengan suara hujan yang semakin deras.

Entah apa yang kami pikirkan. Tubuhnya mendekat pelan. Akupun terpaku. Kakiku yang semula aku peluk kini rebah dilantai dan kutekuk kebelakang. Keningnya kembali menyentuh keningku. Perlahan bibir kami berpagutan.

Kedua tangannya memeluk leherku, mengelusnya. Kedua tanganku menggenggam ujung kaos yang berada disamping pinggangnya. Menggenggamnya erat. Bibir kami terus menempel. Ciumannya aku rasakan semakin hangat. Saling memuaskan.

Sejenak ciuman kami lepas, namun tak lama. Bibir kami kembali berpagutan. Tangannya yang semula membelai leherku, aku tarik sedikit kasar ke dadaku, berhenti di payudaraku. Dia tampak sedikit terkejut, namun kurekatkan kembali tubuhnya untuk menghilangkan keraguannya. Lembut dan sedikit kaku dia menyentuhnya, meremasnya. Aku yakin inilah pertama kalinya dia menyentuhnya.

Yang, sud… mmphh bibirku kembali menutup bibirnya terlalu yang banyak omong itu.

Tangannya berpindah ke atas payudaraku mendorong pelan tubuhku sehingga bibir kami lepas. Sontak aku merasa kecewa. Wajahku menunjukkan raut yang sedih. Ku gigit bibir bawahku. Air mata mulai mengembang dikelopak mataku. Pandanganku menjadi kabur. Tanganku turun ke pahaku dan mengepal erat. Aku terus memandangnya.

Ku pukul dadanya keras. Dia langsung memelukku. Aku menangis sejenak. Aku dorong dia hingga terjengkang kebelakang. Aku rebahkan dadaku di dadanya. Aku cium lagi bibirnya. Tangan kananku, turun hingga mengelus bagian tengah pahanya. Inilah pertama kalinya aku mengelus bagian intimnya yang masih terbungkus

Yang… sud… mmppphhh… dia sudah tak berani lagi mendorongku disebabkan air mata yang terus menetes dari mataku. Masa bodoh, kalau dia mengira aku cewek apalah-apalah. Yang jelas aku ingin memberikan kepunyaanku kepadanya

Dengan cepat dan lembut ku buka resleting celananya, kutarik kebawah celana di pinggang itu hingga terlihat celana dalamnya. Aku geser tanktopku hingga terlihat gundukan buah dadaku. Kutarik paksa tangannya untuk memegang buah dadaku. Dia tampak gugup. Langsung dia memelukku kembali.

Apa? Apa yang adek inginkan? tanyanya pelan ditelingaku

Mas… jawabku singkat.

Kuangkat tubuhku dan menciumnya kembali. Awalnya tangannya hanya diam menikmati sensasi bibirku. Ketika ciumanku turun kelehernya. Tangannya bergerak kini meremas pelan payudaraku. Aku kini hanya bisa diam, bibirku terhenti di lehernya. Ketika tangannya mulai menurunkan tank-topku hingga payudaraku kini benar-benar menempel didadanya yang masih terbungkus kaos. Kuangkat kepalaku dan bibirnya langsung menyambar bibirku.

Lama kami berciuman. Ku angkat tubuhku hingga kedua tanganku berada didadanya. Payudaraku terapit oleh lenganku. Tubuhnya sedikit bangkit, aku bergeser. Kepalanya mendekat ke dadaku. Mencium lembut payudara, lalu turun dan bermain di puting susuku.

ehmm… sayang… rintihku.

Kedua tangangku beralih memeluk kepalanya. Kudaratkan ciumanku berkali-kali di ubun-ubun kepalanya.

Aku benar-benar menikmati sentuhan bibirnya di puting susuku. Aku menikmatinya. Aku ingin dia yang pertama menyentuhnya dan memainkannya. Lama aku menikmatinya, ku dorong pelan tubuhnya. Kucium lembut bibirnya. Turun ke lehernya. Ku tarik kaosnya ke atas dan ku mainkan puting susunya. Lama aku bermain di sana, ciumanku turun keperutnya. Kutarik celana dalamnya. Kulirik penisnya menegang keras. Aku rebahkan pipiku di perutnya. Ku pegang dan kuurut pelan. Penis yang besar lebih dari yang pernah aku kulum.

Aku bangkit dan memposisikan diriku tepat disampingnya. Kukecup ujung penisnya. Aromanya menyengat tapi aku menyukainya. Kulirik wajahnya yang terpejam menahan nikmat. Bibirku mulai mengulumnya.

Ah… sayang… ughhh…. rintihnya

Aku masih mengulumnya. Kepalaku naik turun pelan, menikmati setiap milimeter penisnya. Aku tak bisa melahap semuanya. Sebagian aku kocok dengan tanganku. Semakin lama, aku semakin mempercepat kulumanku. Tangan kanannya memegang kepalaku sedang lengan tangan kirinya menutupi wajahnya.

Selang beberapa saat kemudian tubuhnya mulai kaku. Bibirku aku majukan, mengunci penisnya. Beberapa kali dia mengejang. Cairan spermanya keluar dalam mulutku. Setelah yakin tak ada sperma yang keluar lagi, baru ku tarik pelan bibirku. Menjaga agar tak setetes spermanya keluar dari mulutku. Aku duduk bersimpuh memandangnya. Dia memandangku dengan dahi mengrenyit. Ku telan spermanya.

Aku lepas celana selututku beserta celana dalamku. Aku tarik tubuhnya dengna posisinya berada di tengah-tengah pahaku. Aku sudah basah karena apa yang aku lakukan tadi. Kedua tangannya berada disamping tubuhku. Aku menarik lehernya. Kucium bibirnya. Ujung penisnya sudah menyentuh vaginaku.

Tiba-tiba dia memelukku erat. Menggeser tubuhnya ke samping, hingga pahaku kembali tertutup.

Sudah yang, sudah ucapnya.

Ke-kenapa yang? aku gugup tak kusangka dia menghentikannya. Wajahnya diangkat tepat di depan wajahku.

Cukup sayang… ucapnya

Matanya begitu teduh. Meneduhkan gejolak hatiku. Aku menangis, entah karena malu atau karena yang lainnya. Matanya benar-benar membuatku takluk.

Maafkan aku mas, aku cuma… ucapku terisak

Sudah… kita hentikan ini semua. Belum saatnya ucapnya membuatku kembali terkejut.

Nanti… mas belum siap jawabnya

Kenapa? Apa karena mas… ucapku terhenti

Mas cinta Ade. Mas percaya Ade, tapi bukan saat ini untuk melakukannya. Mungkin nanti ketika mas sudah siap ucapnya. Bibirnya mengecup bibirku.

Ade takut kehil… kata-kataku terhenti untuk kedua kalinya

Tidak. Mas akan selalu ada. Karena wanita ini, tubuh ini akan menjadi milik mas matanya tajam

Percayalah, nanti kalau mas yang minta baru adek kasih he he he tiba-tiba candanya keluar. Aku memukul dadanya pelan.

Terus kenapa mas gak mau? tangis manjaku

Masih takut, takut kalau jadi. Terus itu, mas kan masih kuliah jelasnya

Terus mas sama yang lain gitu? aku ngambek

Enggaaaaak sayang, enggaaak. Percaya sama mas ucapnya

Aku memeluk lehernya.

Kalau suatu saat nanti mas pergi dari adek. Ambil milik adek, karena itu yang ingin adek berikan sama mas. Terserah mas setelah kejadian ini, mas mau mikir apa ucapku terisak di samping kepalanya. Kembali dia mengangkat wajahnya tepat didepan wajahku.

Mikir apa? tanyanya dengan senyuman

Pasti mikir kalau adek ud… mmppphhh bibirku disumbat dengan bibirnya. Sebentar.

Lha masih apa tidak? tanyanya. Aku mengangguk dengan air mata mengalir di pipiku

Mas percaya sama adek ucapnya. Tapi aku ragu dia percaya.

Kalau mas gak percaya, masukin aja. Pasti ntar keluar darahnya rengekku

hi hi hi… lucu. Udah ah, mas mau meluk adek aja ucapnya

Dia bergeser ke kanan tubuhku. Tubuhku dimiringkannya hingga membelakanginya. Dipeluknya tubuhku. Satu tangannya berada di sebelah leherku, yang lain hinggap di payudaraku.

Pokoknya kalau mas pergi. Gak mau lagi sama adek. Ambil puny… ucapku terhenti kembali.

Tangan yang berada di payudaraku menutup mulutku.

Katanya mau belajar ucapnya. Aku jadi teringat pesan yang aku kirimkan.

Ya, tadi kan juga belajar aku tersenyum mengusap air mataku

Pelajaran pertama, tidur bareng dulu. Tapi pakai baju yuk ajaknya

Gak, gak mau. Harus kaya gini, besok juga! ucapku sedikit keras. Antara jengkel dengan bahagia.

Aku tersenyum.

Ja-jangan, nanti kalau mas itu.. ucapnya

Biar. biar aja terjadi. Pokoknya pelajaran pertamanya sehabis kuliah rengekku

eh, itu.. ya deh… tapi ati-ati, ntar kalau mas gak kuat lho candanya

bodoh jawabku

Penisnya masih terasa mengeras di sela pantatku. Dia memelukku erat, diiringi hujan diluar yang sangat deras. Tubuhnya memelukku erat, sangat erat. Sesekali dia mencium tengkuk leherku. Geli rasanya. Aku tersenyum. Ternyata lelakiku lebih kuat daripada yang aku kira.

Pindah ke kasur yuk ucapku.

Heem… jawabnya. Dia bangkit terlebih dahulu.

Aaaa… teriakku

Aku terkejut. Tiba-tiba saja dia menggendong tubuhku. Aku tersenyum. Kupeluk lehernya, kutarik kepalanya. Bibir kami berpagutan. Sedikit susah dia berjalan karena celananya masih berada di pahanya.

Tubuhku direbahkannya dengan pelan. Setelahnya dia melepas celanannya. Tegak berdiri tapi kok ya gak pengen. Hm, aku akan menunggunya. Kembali dia rebah didepanku. Memelukku. Memasuukan tubuhku kedalam pelukannya. Hangat sekali tubuhnya, aroma keringatnya juga sedikit terasa menusuk ke dalam hidungku.

Pelajaran pertama adek belum lulus lho he he he candanya

Terus kriteria lulus apa? tanyaku dalam pelukannya

Belum ditentukan he he he jawabnya

Huuu… Itu dedek kecilnya suruh tidur. Adek makan lagi ntar candaku

Ja-jangan… ntar gak bisa buat dedek kecil lho jawabnya

Auuuch,,, aku cubit perutnya

Maksudnya ya bukan dimakan beneran Andrew Nugrahakyuuuu… jawabku

He he he… kembali dia memelukku setelah tawa cengengesannya

Peluk yang erat mas… yakinkan hatiku. Bahwa kamu akan selalu berada disampingku ucapku. Berada dalam pelukannya.

Pasti jawabnya

Kembali dia memelukku erat. Mataku perlahan terpejam.

Hujan diluar semakin deras. Namun dinginnya sama sekali tidak terasa olehku. Akupun terlelap diselimuti kebahagiaan. Hangat tubuhnya membuatku merasa nyaman, terlindungi oleh orang yang selalu aku kasihi dan aku cintai. Andrew Nugraha, aku berharap menjadi pendampingmu kelak.

***

Mbak arlena, kita pulang yuk mbak. Kita selesaikan besok, lagipula kita kan juga butuh istirahat mbak. ucap rekan kerjaku

Sekarang saja, biar besok kita bisa santai dan pulang lebih awal balasku

Mbak, tapi kan ini laporannya masih buat lusa mbak ucapnya

Iya, tapi kalau bisa selesai malam ini, besok kita bisa santai dan kita bisa laporan lebih awal. Kalau laporannya lebih awal, kita bisa pulang lebih awal juga kan? balasku, yang kemudian melanjutkan membuat laporan

Mbak, maaf sebelumnya. Kita kan sudah pergi lebih dari 2 hari mbak, aku cuma… ucap perempuan yang disampingku ini. Dia menunduk dengan wajah sedikit kecewa. Aku memandangnya

Ada apa? Kamu capek? tanyaku heran sembari memandangnya.

Eh, anu mbak, aku… adikku dikontrakan sendirian mbak, masih SMP. Kasihan kalau aku tinggal terus mbak. Takut kenapa-napa ucapnya, dia tak berani memandangku

Eh, adik… bathinku. Aku teringat adikku yang sebelumnya mengirimkan pesan kepadaku. Sekarang sudah lewat jam 7 malam.

Iya, iya kita pulang ucapku, dia langsung tersenyum. Kami membereskan kertas-kertas yang berserakan ini, dan langsung menuju pulang.

Di dalam mobil pikiranku merasa bersalah, sudah jam setengah delapan malam. Beberapa kali aku meneleponnya hanya nada sambung dan tidak diangkat. Hujan sedari tadi jam 7, belum berhenti juga. Adik, kenapa aku bisa melupakan adikku yang ingin bertemu denganku. Hujan semakin deras, pikiranku tidak tenang. Entah mengapa tidak bisa tenang, ah, mungkin adikku datang dan langsung pulang karena rumah masih kosong. Tidak mungkin dia menunggu, tapi kenapa tidak diangkat teleponku?

Tiiin… tiiiin… tiiiin…

Macet, macet, macet, kenapa sih pas saat seperti ini malah macet. Ah, salahku juga terlalu banyak membuang waktu untuk pekerjaan. Aku dulu sering marah ke Ayahku karena terlalu banyak bekerja, sekarang aku malah lebih gila dibanding ayahku. Padahal, aku mempunyai seorang adik yang seharusnya aku mengurusnya. Di saat seperti ini, Ibu. Maafkan aku.

Jalanan sesak, akhirnya dengan bergerak sangat lambat aku bisa melewati kerumunan roda empat ini. Hujan yang semakin deras, membuat pikiranku tidak tenang. Entah mengapa semua yang ada di otakku tertuju pada adikku. Aku coba menangkan diriku, tidak tergesa-gesa.

Dengan laju mobil yang pelan, aku memasuki kawasan perumahanku. Tepat ketika mobilku mendekati rumah, lampu mobil menangkap seoarng lelaki. Tubuhnya meringkuk didepan gerbang rumahku. Ku hentikan mobilku.

Adik… ucapku, aku langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Aku mendekatinya dan bersimpuh didepannya

Adiiik… aku menggoyang tubuhnya

Eh, mbak… dia tersenyum, hujan semakin deras

Kenapa tidak telepon mbak? Ah, sudah adik masuk dulu, sebentar mbak bukakan ucapku berdiri dan membuka pintu gerbang. Dia berdiri, dan tetap tersenyum

Masuk dulu dik, ini kuncinya. Mbak masukan mobil dulu ucapku, dia mengangguk

Datar, datar sekali. Ekspresinya hanya tersenyum, aku memandangnya sejenak. Melihatnya melangkah menuju pintu rumah. Baru aku tersadar, air hujan sudah membasahi tubuhku. Aku langsung berlari dan masuk kembali ke dalam mobilku. Aku masukan mobilku dan kututup pintu gerbang. Kupercepat langkah kakiku. Dia masih saja berdiri didepan pintu, menggigil kedinginan dan memeluk tasnya.

Adik! Kenapa malah gak buka pintu sih?! aku sedikit jengkel dengannya, dia hanya tersenyum saja

Huh! lenguhku, sebenarnya kasihan juga tapi kenapa gak telepon atau gimana.

Dah masuk, cepetan! Terus mandi! marahku kepada adik semata wayangku ini. Kedua tanganku berpinggang, tak ada canda darinya.

Aku masuk dan menutup pintu. Ketika kau berbalik, aku melihat sesuatu yang aneh. Dia berjalan masuk ke dalam ruang keluarga dengan langkahnya yang pelan. Segera, aku ambilkan handuk dan ku tutupkan ke pundaknya. Kulihat pandangan matanya melihat ke teras belakang rumah.

Aku tidak menghiraukannya, mungkin dia teringat akan taman dibelakang rumah dulu. Aku segera mandi, berganti pakaian dan keluar dari kamar. Dia masih tetap berdiri, tak bergeser dari posisinya tadi. Handuknya pun masih tetap berada di pundaknya. Aku mendekatinya, kulihat tetesan air dari tubuhnya yang membasahi lantai. Masih memeluk tas yang dia bawa. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.

Adik! Mbak kan tadi sur… ucapku terhenti, ketika adikku menyerahkan tasnya. Sebagian tasnya basah.

Ada titipan buat mbak, buka saja tasnya mbak. Maaf membuat mbak marah ucapnya, menyerahkan kotak kaleng peninggalan ibu. Pelan dia melangkah meninggalkanku. Handuk di pundaknya di letakan di sofa.

Adik! Mandi dulu nanti.. aku tak berani berucap lagi, dia membuka pintu kaca geser dan duduk ditepian kolam renang. Padahal di luar hujan menjadi gerimis.

Rintikan gerimis membasahi tubuhnya. Tetap saja dia menyulut rokok putih kesenangannya. Aneh memang, merokok di bawah tetesan gerimis. Benar-benar keras kepalanya sama denganku. Tapi ada sesuatu yang tak biasa dari dirinya. Sesuatu telah terjadi pada diri adikku. Sembari memandangnya, aku duduk di sofa. Kubuka tasnya, hanya berisi kotak kaleng peninggalan Ibuku. Ku ambil kotak kaleng tersebut dan kuletakan tas adikku di lantai. Kulihat kertas yang dilipat rapi, buku tabungan, ATM dan juga sebuah amplop kecil putih.

Aku mengambil kertas yang dilipat rapi, aku membukannya dan baru membaca lembar pertama. Aku sudah menangis, inikah yang membuat adikku mejadi diam. Membuat adikku terdiam seperti saat ini, dia rindu pada Ibu. Dia rindu pada ibu dan datang kepadaku. Aku mengambil buku tabungan dan ATM, sebuah nama yang membuatku semakin hanyut dalam kesedihan.

Aku mengalihkan pandanganku kepada adikku yang masih merokok. Aku bangkit, kaleng itu terjatuh dan amplop kecil putih ikut terjatuh. Jatuh terbalik. Amplop kecil itu bertuliskan namaku. Nama panggilanku. Aku kembali duduk dan membuka amplop kecil tersebut. Amplop kecil yang tidak direkatkan pada bagian penutupnya. Aku ambil kertas yang dilipat rapi didalamnya. Dibagian luar kertas tersebut tertulis nama lengkapku.

Untuk Arlena KaryaningTyas, malaikat kecilku

Tulisan ini, tulisan Ibu. Bathinku

Bersambung