Cerita Sex Berubah? Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45

Cerita Sex Berubah? Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Mama Muda – Cerita Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Sex Janda – Cerita Sex Selingkuh

Well, helena cantikku ucap kristian meraih daguku. Tanganku lagsung menepisnya.

Aku meminta dia untuk datang ke cafe ABC. Cafe yang sangat ramai. Kutenteng tas berisi uang 100 juta dari kos menuju cafe sendirian. Memang riskan tapi harus aku lakukan. Aku berani melakukannya karena ketika kristian memberikannya kepadaku juga di cafe ini. Aku keluarkan surat perjanjian, dimana aku telah membayar 50 juta pertama dan juga yang berisi perjanjian bodoh yang aku setujui.

Sematponku, aku set ke mode rekam video. Aku letakan di saku bajuku dengan posisi kamera menghadap ke arahnya. Posisi dudukku aku atur, agar tidak banyak bergerak. Karena ini menentukan hasil dari rekaman videoku. Aku sudah berlatih semuanya dan hasilnya memuaskan.

Ini, gue bawa kekurangannya ucapku, menyerahkan tas berisi uang kekuranganku

Wow… wow… helen, tenaaaang, tidak usah terburu-buru sayang. Pakailah uang itu, gue gak butuh ucapnya

Tidak, gue gak mau jadi budak lu ucapku datar

Ha ha ha… oke… oke… oke… tawanya

hitung! Cepetan! ucapku sedikit keras. Dengan raut wajah judesku.

belagu amat lu jawabnya, dia membuka tas yang aku bawa dan menghitungnya. Semua terekam di kamera sematponku.

Eh… dia melihat ke arahku. Wajahnya sedikit terkejut setelah menghitungnya.

Ini surat perjanjian pelunasana hutang ucapku, meyerahkan secarik kertas dengan materai tempel

Eh… lu serius? aku mengangguk ketika dia mengatakan hal itu

Eits, bentar gue hitung lagi dulu ucapnya, aku menunggunya menghitung uang kembali.

Wow, wow, gue gak nyangka lu bakal dapat uang hanya empat hari. Ha ha ha… oke deh kalau begitu, gue tanda tangani ucapnya dengan nada sombongnya

Setelah penandatanganan surat perjanjian pelunasan hutang. Akhirnya sudah tak ada lagi sangkut pautnya dengan dia. Aku lega, dan benar-benar lega.

Setelah ini, gue gak bakal lagi minta bantuan lu! Dan terima kasih udah bantu gue ucapku

Hei… hei sayang, jangan terburu-buru. Ngobrol dulu dong sayang ucapnya, meraih tanganku dan menariknya

Lepasin! bentakku

Lu kasar banget sih len, lu gak mau kan ini gue sebar ucapnya, dengan santai memperlihatkan fotoku yang memperlihatkan vagina, aku terkejut

Ha ha ha… lu mau lunasin hutang lu, lu mau ngapain aja, gue pun kartu AS lu, jadi lu tetep harus jadi budak gue ha ha ha

Kalau lu berani macem-macem, gue sebarin ini foto lu dan… ucapannya terhenti

Gue sudah rekam semuanya, maaf sayang… sekali foto itu tersebar, video ini gue kasihkan ke polisi. Ingat hutang kita sudah lunas, dan dengan adanya video ini gue bisa serahin lu kepolisi karena lu udah ancem gue! bentakku, memperlihatkan video yang belum aku save dan masih merekam, karena posisi terbalik, layar sematpon merekam wajahku

Ha… hapus, helen, hapus dia gugup, aku arahkan kembali ke kristian

Tidak, hapus dulu foto itu ucapku

Oo.. oke, gue hapus, setelahnya lu hapus video itu ucapnya gugup

Tidak, foto itu masih bisa dikembalikan. Gue akan tetap simpan video ini, dan bakal gue simpan di banyak tempat. Agar ketika lu mau ngapa-ngapain hape gue, gue masih punya copiannya ucapku datar, aku membalikan badanku. Melangkah pergi dan ku angkat sedikit hapeku didekat pundakku. Agar kameraku tetap merekamnya

Lu bakal nyesel, dan bakal gue bikin lu nyesel. Gue bakalan jadiin lu budak gue! bentaknya, seisi cafe melihatku dan aku hanya tersenyum. Masa bodoh dengannya, masa bodoh.

Didalam mobil, aku segera simpan video yang aku rekam. Segera aku menuju jalan pulang. Hatiku lega, semua tampak kembali cerah. Surat perjanjian pelunasan hutang sudah ada ditanganku. Semua sudah kembali ke awal lagi. Aku akan memeperbaiki semuanya kembali.

Sesampainya dikosku. Aku meng-copy file dari sematponku. Aku simpan di laptop dan juga penyimpanan di internet. Aku pernah diajari oleh andrew tentang menyimpan di internet. Tapi kalau tidak salah waktu itu aku diajari dengan menggunakan Siddu. Segera aku berselancar untuk mengetahui cara-cara menyimpan file di Internet.

Yups, berhasil setelah aku susah payah membuat akun dan harus gugling sana sini untuk mempelajarinya. Ah, kalau Cuma di Siddu kelihatannya tidak aman. Iseng-iseng aku mencari alternatif lain. Dan ternyata ada banyak tempat penyimpanan. Aku segera membuat beberapa akun baru dan menyimpan di beberapa tempat. Tak lupa aku menuliskan akun-akun itu, agar aku tidak lupa.

Hufth, selesai sudah. ucapku yang kini rebah di kasur kosku.

Aku harus menemui Arta, untuk berterima kasih. Tapi dimana kosnya? bathinku.

Hm, Empat sahabatku itu pasti tahu aku tersenyum. Memejamkan mataku. Untuk kembali menikmati hidupku.

***

Hari berikutnya, di kampus. Aku mencoba mencari tahu dimana kos Arta, tapi kalau mau tanya langsung ke Arta. Bisa-bisa Andrew curiga. Aku langsung ke target awalku. Dina, Dini, Desy, dan Winda. Mereka pasti tahu. Dengan nada manja, aku bilang ke andrew mau gabung sama mereka berempat. Sekali-kali gak sama andrew.

Tumben lu gak sama Andrew? tanya Dini

Kangen kalian gitchuu ucapku sok centil

Iiih… helena tambah cantik deh, sini aku cium ucap Dina

Dinaaaaa… ucap Desy, Winda dan Dini secara bersamaan

Paan sih? Kayak paduan suara? ucapku

Biasa, Dina kelamaan jomblo. Udah males kali sama cowok ucap Desy

Iya nih len, lu mau kan ma gue, muach goda Dina

Ya udah sini sayang, aku juga lagi pengen sama cewek nih aku balas saja. Tapi Dina emang cantik sih. Aku peluk Dina dengan dan bertingkah seperti orang pacaran gitu.

Iiih… kalian berdua lesbong ucap Winda. Aku dan Dina hanya membalasnya dengan lidah kami.

Bercanda, bercanda dan bercanda. Itulah yang kami lakukan, tampak tetap asyik dalam keadaan apapun. Dina, selalu bisa membuat suasana mejadi riuh. Winda yang manja, Desy yang dewasa dan juga Dini yang galak.

Des, ajarin gue kuliah tadi napa? Lu kan pinter? ucapku mengalihkan candaan kami

Ma gue aja say, ntar gue puasin lu dah ucap Dina

Yee… ntar dong sayang, andrew dulu dong hi hi hi balasku

Huh! Kalian udah deh?! tanya Dini

Belum kali, ntar aja kalau udah resmi balasku

Sama burhan apa Arta sana, mereka kan juara satu dan dua dikelas ucap Desy

Heem.. mereka kan pinter semua ucap Winda

Gimana cara nemuin mereka, kos mereka aja gue kagak tahu. Kalau kos lu kan gue tahu ucapku

Burhan paling di Salma, kalau Arta di komplek gemah ripah loh jinawi ucap Desy

Iiih males ucapku. Yes, aku dapat!

ciyeee yang hafal kompleksnya canda Dina, Dini dan Winda.

Apaan sih kalian! bentak umi, dan langsungmereka bertiga diam

Umi jangan marah, itu lho Helena nanya dijawab malah bilang males ucap Winda

Bukannya males. Ntar Andrew cemburu kali kalau aku ma cowok. Ya udah deh, aku ma andrew aja kalau gitu ucapku

Kalau ma andrew, kamu paling malah pacaran gak jadi belajar ucap Desy

Yaaaa… ma siapa lagi, kalian aja gak mau? ucapku dengan wajah sedihku

iiih, Helena. Sama Dina aja ya, sini Dina peluk ucap Dina. Aku langsung peluk Dina. Mereka berempat langsung teriak dan menarik kami berdua. Agar lepas pelukan kami. Dengan tawa tentunya.

Ah, begitulah, semua sudah sempurna sesuai dengan apa yang aku harapkan. Jawaban dari mereka sudah membuka jalan untuk menemukan si culun. Dan Sempurna. Setelahnya, dari kantin, kami menuju ruang kelas untuk kuliah di jam berikutnya.

***

Selepas kuliah, sore hari setelah diantar oleh yayang andrew ke kos. Aku bergegas meminjam mobil teman kosku untuk menuju kos Arta. Kompleks pinggiran kota, dan aku tahu tempatnya. Mudah untuk mencari, jelaslah, sudah ada map gitu. Sesampainya di kompleks aku bertanya kepada seorang bapak-bapak disana, dia menunjukan rumah kontrakan Arta.

Kontrakan? Ternyata dia ngontrak bukan ngekos bathinku

Tok… tok… tok…

Ya sebentar! Siapa? teriak seorang dari dalam rumah, suaranya mirip Arta tapi begitu tegas.

Arta, ini helena ucapku

Se-sebentar helen ucapnya, berubah. Benar-benar aneh si Arta itu. Aku menunggunya, lama sekali.

Gue dobrak pintu lu ar! kalau kelamaan! bentakku sudah mulai jengkel menunggu

I-iya helen, se-sebentar ucapnya

Klek… krieeeet…

Ma-maaf He-helen ucapnya

Huh! Lama banget sih ar jengkelku

Ma-maaf len ucapnya, masih sama menunduk tapi siapa tadi yang berteriak lantang. Apa benar si Arta?

Hi hi hi… maaf, maaf. Emmm… boleh masuk ar? ucapku, dia mengangguk

Aku duduk di ruangan kecil, ruang tamunya. Kulihat Arta kebelakang. Kudengar bunyi gelas berdenting. Selang beberapa saat dia membawakanku minuman.

Ini helen, minumnya. Ma-maaf seadanya ucapnya,

Terima kasih ar, jadi ngrepotin lu aku ambil dan meminumnya. Wajahnya tertunduk, gayanya memang sangat culun.

Lu ngrokok ar? ucapku, dia menggelengkan kepala

Te-temenku helen, ta-tapi me-mereka sedang pergi ucapnya

Ooo… balasku, aku letakan kembali gelasnya

Hening sesaat…

Ar-Artaaaa ucapku, menunduk agar aku bisa melihat wajahnya

A-ada apa? jawabnya, menghindar dari pandanganku

Tadi waku gue ketok pintu, yang jawab elu? tanyaku

Bu-bukan, te-temenku, di-dia tadi bangunin aku. Te-terus se-sekarang di dalam ka-kamar ucapnya, sangat gugup

Ooo… jawabku, kalau aku lihat semua kamar terbuka. Semakin aneh saja anak ini. Kami terdiam lagi, jika kulihat memang Arta berbeda. Kalau feelingku dia bukan orang culun.

Ar… ini ucapku sembari memberikan tabungan dan ATM-nya. Dia meraihnya.

Ar, sebelumnya terima kasih. Maaf kalau tadi gue kasar banget pas mau masuk kekontrakan lu. Gue tahu kontrakan lu dari Desy

Hufth… gue terima kasih lu udah mau bantu gue, dan… mmm.. ar, gue ambil lagi tabungan ibumu untuk bantu ibuku ngelunasi hutangnya dan pasti gue bakal balikin. Tapi… mungkin waktunya yang agak lama ar… jelasku

Ti-tidak apa-apa helen, dipakai saja. aku baru menemukannya, i-itu peninggalan ibuku ucapnya. Aku mendekatinya, entah penasaran, tanganku mencoba meraih kacamatanya. Tapi tiba-tiba Arta mundur.

Ar, lu gak culun kan? tanyaku,

Eh,… dia menggeleng, dia semakin mundur

Ar.. maaf, penasaran gue ama lu. Mm.. makasih ya ar, tapi satu pertanyaan gue harus lu jawab jujur ucapku, dia memandangku

Kenapa lu mau bantu gue ar? tanyaku, hening sesaat

Andrew, dia sudah baik sama aku len ucapnya. Pengen rasanya nangis ketika ngedenger nama kekasihku itu. Mungkin jika bukan andrew kekasihku, aku tidak akan pernah mendapatkan bantuan ini.

Makasih…

Ar.. tolong jangan katakan pada andrew yang kejadian kemarin pintaku, dia mengangguk

Benar-benar bingung rasanya aku ketika harus berbicara dengan Arta. Dia selalu diam, dan diam saja.

Helen… ucapnya

Eh, iya ar… ucapku

Jika kamu masih butuh, pakai saja. dan tidak sah kamu kembalikan ucapnya, memberikan buku tabungannya kembali. Tingkahnya sedikit membuatku semakin tercengang dan heran.

Sudah cukup Ar ucapku menolak buku tabungan itu kembali

Jaga andrew, dia sahabatku ucapnya, matanya memandangku, aku mengangguk.

Percakapanku dengan Arta tak seperti aku dengan teman-teman. Benar-benar irit dan hemat, aku sudah mencoba untuk bersikap biasa dan mencoba akrab. Tapi Arta, dia tetap diam dan diam saja. ada yang disembunyikan dalam dirinya, sesuatu yang membuat dia menolongku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, Arta masih saja diam ketika mengantarku sampai di mobil. Ingin aku memeluknya, sebagai ucapan terima kasih namun dia selalu menjaga jarak denganku.

Helen.. jaga andrew ucapnya sekali lagi ketika aku sudah berada dalam mobil dengan kaca mobil terbuka

Pasti… ucapku

Arta, siapa sebenarnya kamu? kamu pasti anak orang kaya. Tapi kehidupanmu berbanding terbalik dengan apa yang aku pikirkan. Aku yakin, suatu saat nanti. Suatu saat nanti, kamu pasti akan menunjukan siapa dirimu sebenarnya Ar. Pasti. Aku yakin.

Andrew, beruntung aku menjadi kekasihmu. Akan aku menjagamu terus, entah sampai kapan. Aku berharap akulah pendamping hidupmu sayang, pendamping hidupmu hingga ajal menjemput. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha denganmu.

To : Ayangz Andrew
Yang, main ke kos
Kangen

From : Ayangz Andrew
Tadi katanya mau belajar?

To : Ayangz Andrew
Heem, kalau materinya di kamu kan susah belajarnya

From : Ayangz Andrew
Materi apa?
Aku kan gak bawa buku kamu sayang?

To : Ayangz Andrew
Kan kamu materinya sayang
Aku lagi belajar buat pendamping hidup kamu
Kamu sini dong, biar aku bisa belajar

From : Ayangz Andrew
Siap, Laksanakan!

Aku tersenyum, walau air mata mengalir di pipiku. Andrew, Love you!

***

Hadeeeeeeeeeeh… edan, edan, hampir saja aku ketahuan! bathinku

Aku memasuki kamar, kertas dan kotak itu masih tetap sama. Perasaan takutku, berubah hanyut dalam kesedihan kembali. Kulepas kacamata, mataku menjadi buram. Genangan air di mata setiap kali melihat kotak dan kertas itu.

Ibu…

Kembali aku rapikan amplop itu kedalam kotak kaleng. Aku benar-benar tak ingin membaca halaman kedua dari kertas yang ditujukan kepadaku. Terlalu rindu aku kepada ibuku, beberapa hari ini pikiranku benar-benar kacau. Keinginan untuk membuka kembali kertas itu ada, tapi untuk membacanya tidak. Pahit, pahit, sakit, sakit.

To : Mbak Arlena
Mbak,
Mbak dirumah?

From : Mbak Arlena
Lagi diluar kota Dik
jam 7 malem nanti mbak dah dirumah

To : Mbak Arlena
Iya mbak, Adik tunggu

Aku raih bantal dan kupeluk dengan erat. Aku rebahkan tubuhku di tempat tidur dengan air mata yang mengucur deras. Aku kangen dengan Ibu, hanya mbak yang bisa mengobatinya. Sedih rasanya ketika membaca surat itu, tak kuat aku membaca lembar kedua.

Setiap lembar selalu membuatku hanyut karena ingatan masa laluku. Ah, masih sore, kenapa waktu lama sekali berlalu ketika hati terasa sangat sedih. Kusulut dunhill mild-ku, mencoba untuk menenangkan pikiranku. Kupandangi hapeku, berharap waktu akan cepat berlalu. Mungkin lebih baik aku berangkat kerumah mbak Arlena.

Ku masukan kotak kaleng ke dalam tas, berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat. Kulihat di kaca kecil kamarku, mataku sembab, warna merah mendominasi. Apakah aku harus membaca surat itu? ah, tidak, belum ingin aku membacanya.

Kleek…

Aku membuka pintu,

Eh, bu ainun… ucapku terkejut, melihat sosok wanita yang tampak khawatir dihadapanku. Berdiri didepan pintu kontrakanku dengan sebuah buku dipeluknya.

Ada apa? ucapnya, aku tertunduk

Tidak, aku hanya…. ucapku. Mataku mulai berkaca. Pelan, dia mendorongku masuk kembali ke kontrakan dan pintu ditutupnya.

Buku yang berada didalam pelukannya lepas dan jatuh. Kepalaku diraihnya dengan kedua tangannya. Ditariknya lembut, kepalaku menunduk di pundaknya. Elusan lembut dari kepalaku turun kepunggungku. Berulang-ulang. Rasa hangat dari wanita ini, membuatku nyaman. Pelan dan lembut, bibirnya mencium telinga kananku.

Ada apa ceritakan kepadaku? bisiknya

Aku… hanya kangen dengan ibuku suaraku sedikit terisak. Mataku menahan air mataku.

Maafkan aku, tidak bisa menemanimu bisiknya di telingaku. Aku langsung memeluk tubuhnya, erat. Aku benamkan mataku dipundaknya. Air mataku membasahi kerudung putihnya.

Ergh… aku ingin bertemu dengan mbakku bu ucapku disela isak tangisku

Tenangkan dirimu dahulu sayang. Aku akan menemanimu bisiknya pelan. Elusannya masih aku rasakan dikepala dan punggungku. Aku bangkit, tak ingin terhanyut dalam kehangatannya.

Maaf, tapi aku ingin bertemu mbakku sekarang, nun ucapku dengan air mata mengalir di pipiku

Eh, baiklah aku tidak akan melarangmu tapi berhentilah menangis ucapnya, tangannya lembut mengelus pipiku. Mengusap air mataku.

Erghhh…. hesssshhh… aku tersenyum

Nah begitu kan tambah ganteng sayang ucapnya. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca.

Pelan, bibirnya maju dan mencium bibirku. bibir kami saling bertemu. Dalam pelukan, aku menikmati sentuhan bibirnya di bibirku. Tangannya lembut mengelus kepalaku.

Mmmppph… sudah sayang ucapnya melepas ciumannya, aku mengangguk.

Jika nanti ada kesempatan, kita pasti akan bertemu ucapnya. Aku tersenyum ketika mendengarnya.

Tanganya kembali membersihkan air mataku. Selang beberapa saat aku keluar bersamanya dari kontrakan. Berjalan bersama seperti malam itu. Kami kemudian berpisah di perempatan yang sama dengan malam itu juga.

Dia tersenyum manis kepadaku ketika dia mengambil jalan yang berbeda dengan jalanku. Aku membalas senyumannya dan kembali melanjutkan langkahku. Rumah mbak arlena, sedikitnya aku tahu, yang jelas taksi lebih tahu rumah mbak arlena.

Dalam perjalanan dengan menggunakan taksi, kupandangi jalan-jalan yang kulalui. Orang-orang berjalan dengan senyuman mereka, tawa canda mereka. Kuliihat seorang ibu menggendong putra kecilnya dan menggandeng putri kecilnya. Walau sekilas aku melihat, tapi terlihat jelas kebahagiaan di wajah kedua anaknya. Ah, mirip denganku, hanya saja aku tidak pernah melihat kakak perempuanku sejak kecil.

Sudah sampai mas ucap supir

Eh, iya terima kasih pak ucapku, segera aku membayar dan turun tepat di depan rumah kakak perempuanku.

Masih jam setengah tujuh, rumahnya masih terlihat gelap. Lampu-lampu jalan di sekitar rumahnya mulai menyala satu persatu. Aku berdiri didepan gerbang rumahnya. Beberapa saat aku berdiri, hawa dingin mulai aku rasakan. Aku duduk, bersandar pada gerbang rumahnya. Dingin sekali, aku ingin bertemu dengan Ibu.

Gluduk… gluduk…

Dhuaarrrr….

Tik… tik… tik…

Srrrrshhhhh…. srsssshhhhhhhh…

Ah, hujan… mataku terpejam, wajahku menengadah ke arah turunnya air hujan. Kemudian kupeluk tasku, melindungi tasku agar tak terkena air hujan. Walau itu hal yang mustahil bisa aku lakukan.