Cerita Sex Berubah? Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Berubah? Part 31

Cancel…

Aku keluarkan kartu ATM. Tubuhku merosot pelan dan berlutut dihadapan mesin ATM ini.

“Ibu, ibu… aku mohon, jika suatu saat nanti aku mendapatkan masalah. Datanglah lagi bu, datanglah… walau aku tidak bisa menyentuhmu, tidak bisa memelukmu. Asal bisa melihat senyummu bu… hanya senyum…” ucapku, air mataku mengalir. Masih dalam isak tangisku. Tanganku mengepal, kupukul mesin ATM, pelan.

Lama aku memukul dengan tangis yang belum bisa berhenti. Aku kembali bangkit. Kini aku berada diantara senyum kebahagiaan karena akan bisa membantu helena dan rasa kerinduan hatiku kepada Ibu. Benar-benar suasana yang membuatku berada dalam rasa kegelisahan. Helena, aku kini bisa membantunya. Ibu… tubuhku berbalik.

Krieeet…

Udara panas, mulai memasuki kotak dingin, mengenai tubuhku. Aku keluar dari kotak dingin ini. Disamping pintu ATM, aku duduk, kedua kakiku ku tekuk. Kupeluk kedua kakiku dan memandang ke langit luas. Langit dengan seribu bintang. Langit malam yang masih indah untuk dilihat. Langit yang sama dengan yang aku lihat bersama Ibu. Kupejamkan mataku, tapi tetap tak bisa membendung air mataku. Aku rindu Ibu.

oOo​

“Arta, sudah malam sayang. Jangan bermain terus, sini sayangku” ucap Ibu, berdiri dengan senyumannya

“Ibuuuu…” teriakku, tubuhku sedikit berbalik memanggil ibuku. Kedua tanganku melambai, jarak antara aku dan Ibu cukup dekat. Aku berada dihalaman belakang rumah. Malam hari, dengan langit penuh dengan bintang. Ibu duduk di anak tangga paling bawah, tangga yang berada didepan pintu belakang rumah. Halaman rumahku, lebih rendah dibanding dengan dapur atau rumah bagian belakang.

“Sini sayang, kok main terus. Nanti keringatan lho. Bau acem nanti” candanya, senyumnya.

“Arta kan tidak lari-lari Ibu” ucapku, tersenyum. Kata main lebih identik dengan berlarian kalau didesaku.

“Lha terus Arta sedang apa disitu?” tanya Ibuku

“Lihat bintang Ibu, banyak sekali” ucapku, aku tidak memandang Ibu melainkan pandanganku kini beralih ke langit luas.

“Sayang, sini to. Ibu kan ingin lihat bintang bareng Arta” ucap Ibu, membujukku. Aku menoleh ke arah Ibu. Kedua tangannya terbuka, aku tersenyum. Aku lari ke arahnya dengan membuka kedua tanganku.

Ibu memelukku sebentar. Mengucek-ucek rambutku. Kecupan manis mendarat di keningku. Dibaliknya tubuhku oleh Ibu kemudian di peluk erat tubuhku. Kepala Ibu berada disamping kanan kepalaku.

“Bintang itu ibarat cita-cita sayang” ucap Ibuku

“eh, cita-cita?” tanyaku, menoleh kearahnya

“iya, cita-cita” Ibu tersenyum manis

“Gantunglah cita-citamu setinggi langit. Seperti bintang itu. Dan kemudian raihlah, dengan belajar yang rajin, tekun. Dan harus terus berusaha walau belum berhasil” jelasnya, aku hanya tersenyum

“iya..” jawabku singkat

“kok senyum-senyum sendiri?” ucap Ibuku, aku tetap tersenyum tak menjawab pertanyaan Ibu

“Apa cita-citamu sayang?” tanya Ibuku, pelukannya masih terasa erat. Tapi aku terus memandang langit

“kok diam??” lanjut Ibu

“itu…” aku menunjuk ke arah bintang-bintang.

“Mana?” kurasakan ibu menengadahkan kepalanya.

“Itu, salah satu bintang itu akan arta raih” ucapku tatkala itu

“Ibu jadi penasaran, kira-kira bintang itu mewakili cita-cita anak Ibu yang apa ya?? Terus bintang-bintang yang lain itu apa?” tanya ibu, aku menoleh ke arah ibu tapi ibu masih melihat ke arah bintang. Aku tersenyum dengan sedikit suara. Ibu kembali menoleh ke arahku. Aku kecup pipi ibuku

“eh, kok malah sun pipi Ibu?” tanyanya

“Lihat bu…” aku kembali menoleh ke arah bintang-bintang itu

“he’em… ada apa to?” tanya Ibu

“Itu cita-cita Arta, membahagiakan Ibu, Ibu Arlina Ayuningtyas. Cuma itu yang arta inginkan, yang lain akan aku raih setelah Ibu bahagia” jawabku polos ketika itu

Ibu memelukku erat, terdengar isak dari bibir ibuku. Aku menoleh. Ibu membalikan tubuhku dan memelukku erat.

“Terima kasih nak… terima kasih… Ibu sangat sayang kepada Arta” isak tangis Ibu menyertai ucapannya

“iya, pasti Arta bisa” jawabku memeluk tubuh paling hangat, kasih sayang paling hangat. Cinta paling indah untuk seorang anak. Ibu…

oOo​

“Ibu…” aku terisak, mataku terbuka melihat kembali langit indah itu. Air mataku kembali deras mengalir. Lendir dalam hidungku mengalir, menutup rongga hidungku.

Ibu, kembalilah bu. Kembalilah untuk sekali lagi. Hiduplah sekali lagi bu, agar aku bisa mewujudkan cita-citaku, bu. Aku mohon bu, kembalilah sekali lagi. Jika sekarang Ibu ingin marah, Ibu ingin menjewerku. Aku mau bu, aku mau.

Terserah apapun yang ingin Ibu lakukan kepadaku, aku mau. Asal Ibu ada disini, bersamaku. Memarahiku, menjewerku, memukul pantatku, semua terserah pada Ibu. Asal, Ibu kembali kesini bu, hiduplah sekali lagi. Hiduplah sekali lagi…

I fight the tears since you’ve been gone
And I stand in fear, can I make it on my own
Without your love to guide me thru my life
It’s so cold at night without you here
And those gentle arms that held me close and dear
Oh we’re all the same, we all live and die

Every night when I close my eyes
I see a light and shadows of your face
It’s always there like an angel over me
So many frozen years hangin’ on my wall
A thousand words, I can hear them call
Oh I tried so hard but I could never say goodbye

Kubenamkan wajahku diantara tangaku yang memeluk kedua kakiku. Aku menangis, aku rindu Ibu. Benar-benar merindukannya. Lama aku berada dalam kesedihanku. Mencoba untuk menenangkan nafasku, mengatur hatiku yang sedang kacau. kubenamkan wajahku lebih dalam hingga kedua lenganku menutupi sebagian kepalaku.

Brrmmm….

Tedengar suara mobil berhenti didekatku, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tetap pada posisiku. Masih mencoba untuk menghentikan tangisku. Pintu mobil terbuka, langkah-langkah kaki itu mendekatiku.

“Lho mas-nya kok nangis?” ucap seorang wanita,

“Ah, aroma parfum ini? Winda” mataku terbuka, semakin aku membenamkan wajahku

“Desy, Dini dan…” bathinku, aku semakin menutup wajahku tak berani membukannya

“Da pa wind?” ucap seorang wanita lagi

“Dina” bathinku, aku semakin tak berani mengangkat kepalaku

“Sudah Winda, jangan diganggu” ucap Desy

“He’em wind, kasihan kan?” ucap Dini

Aroma wangi yang aku kenal, aroma wangi yang pernah sangat dekat denganku. Aku tetap diam tidak menjawab, hanya bisa sesengukan.

“Maaf mas ganggu” ucap Winda tak kuhiraukan untuk menjawabnya.

“Eh, gue ambil uang dulu ya. Tungguin lho jangan ditinggal, awas!” ucap Dini, terdengar Dini memasuki ATM. Mereka bertiga mengiyakannya.

“Eh, des, tuh mesin ATM” ucap Dina

“Iya aku tahulah, emang napa?” ucap Desy

“Yee.. kan dulu pernah ngajarin Mas Arta Byantara Aghastya hi hi” canda Dina

“Jadi umi yang ngajarin Arta?” ucap Winda terdengar manjanya

“he’em, gimana ya? Hi hi Lagian dianya aja culun, kasihan juga waktu itu, geli hi hi hi” balas Desy, Winda dan Dina ikut tertawa. Terdengar pintu ATM terbuka, Dini keluar dari ATM

“Ada apa nih? Ada yang lucu?” ucap Dini

“Ah, ntar aja di mobil, yuk” ucap Dina

“Ada apa dulu?!” paksa Dini

“Arta, yang diajarin umi ambil uang hi hi hi” ucap Dina

Mereka tertawa terbahak-bahak, hingga akhirnya mobil itu menghilang bersama suara mesinnya. Aku mengangkat kepalaku, memandang jalanan yang mulai sepi. Kuselonjorkan salah satu kakiku. Dunhill, asap keluar dari mulutku. Sejenak aku beristirahat dari rasa lelahku sembari memandangi langit malam untuk kedua kalinya.

Ibu… aku sangat menyangimu, kaulah pahlawanku. Dan aku, anak yang selalu membuatmu marah. Ibu, aku kangen bu, kangen sekali. Maafkan aku. Maafkan Arta. Arta anak yang selalu dan selalu membuat ibu kelimpungan. Maafkan arta, bu. Maafkan. Arta sayang Ibu.

Sebatang dunhill telah menjadi abu dan asap. Aku kembali melangkah pulang. Malam semakin larut, langkahku pelan menuju ke kontrakan. Berkali-kali aku menyulut rokok, sekedar untuk menemani langkah kakiku. Tepat di gang masuk kompleksku, lampu padam. Aku tetap melangkahkan kakiku, berjalan dalam gelap di gang masuk.

“eh” langkahku terhenti ketika aku melihat sosok bayangan seorang perempuan. Walau gelap, cahaya langit malam masih bisa membuatku mengenali sosok itu. Dengan kerudung sebahunya, dilengkapi dengan kaos lengan panjang dan juga rok lebarnya. Entah benar atau tidak apa yang dia pakai tapi itulah yang aku lihat.

“Kenapa?” tanyanya. Jarak kami lumayan jauh namun suaranya masih dapat aku dengar.

“Tidak apa-apa, hanya… ya begitulah…” jawabku dengan menaikan kedua bahuku. Ingin rasanya menangis ketika ada yang bertanya tentang baru aku alami. Namun aku sudah cukup lelah. Tangan kiriku sedikit meremas amplop putih.

“Kenapa?” tanyanya kembali. Aku melangkah mendekatinya. Wajahnya terlihat samar walau dalam kegelapan.

“Aku… tidak apa-apa” jawabku, kupaksakan bibirku untuk tersenyum untuk meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.

“Kamu menangis. Berlari. Katakan kepadaku!” paksanya sedikit keras suaranya

“Tersenyumlah” jawabku kepanya.

“Bagaimana caranya aku tersenyum sedangkan kamu menangis?” jawabnya

“Haaaah…” aku mengehela nafas panjang

“Kapan-kapan… Kapan-kapan aku akan menceritakannya” jawabku

“Ceritakan sekarang” paksanya kembali. Aku hanya menggelengkan kepalaku menjawab keinginannya

“Maafkan aku, tidak bisa menemanimu” ucapnya

“Senyum, jika kamu tersenyum. Semuanya pasti baik-baik saja” ucapku. Dia memandangku, mata kami bertemu. Bibirnya mengembang dengan pelan, ada sedikit paksaan. Aku balas senyumannya dan senyumannya menjadi senyuman yang tulus. Dengan isyarat tangan aku menunjuk ke arah kompleks. Kami berjalan bersama. Dia berjalan di kananku.

Sebuah ketidak mungkinan aku bersamanya. Sebuah ketidak mungkinan aku memilikinya. Lembut, halus dan nyaman ketika bersamanya. Kehangatannya bisa aku rasakan, walau hanya berjalan beriringan bersamanya. Aroma wangi tercium oleh hidungku. Sangat wangi, wangi yang sangat khas. Tak ada kata-kata yang terucap.

Kerinduanku kepadanya seakan hilang karena kerinduanku kepada Ibuku. Namun, seiring langkah kakiku bersamanya, kerinduanku kepadanya mulai bangkit. Aku ingin memeluknya. Bercerita kepadanya. Tapi apa daya, tak ada kesempatan untuk bersamanya. Kesempatan bersamamu, Ainun.

“Eh” aku sedikit terkejut.

Ketika tangan kirinya menggenggam pergelangan tanganku. Perlahan tangannya turun menggenggam tanganku. Aku menoleh kearahnya dengan tetap melangkah. Pandangannya tetap ke depan. Seakan mengatakan kepadaku untuk terus melangkah dan jangan pernah berhenti. Terus melangkah ke depan, jangan terperangkap oleh masa lalu. Aku tersenyum. Ku genggam tangannya erat.

Tepat di perempatan gang. Tangan lembutnya langsung ditariknya. Beberapa detik kemudian lampu menyala dan kami berpisah. Dia langsung berjalan ke arah rumahnya, sesekali dia membalikan badan dan tersenyum kepadaku. Setelah dia menghilang di tikungan, aku melangkah ke kontrakanku.

Sesampainya di kontrakan aku membuat secangkir kopi putih. Ku bawa kedalam kamar. Duduk ditepi ranjang sembari menikmati kopi dan rokok. Sebuah sms masuk, Ainun. Hanya sekedar menanyakan apa yang terjadi padaku. Aku menjawab sekenanya saja. Tak ada balasan setelahnya.

Aku rebah ke kasurku, menutup mata. Esok, aku akan menemui Helena terlebih dahulu. Entah bagaimana caranya, aku harus bisa menolongnya. Mungkin setelah aku memberikannya kepada Helena. Aku akan menemui kakakku, mbak Arlena. Aku ingin melihat senyuman kakak perempuanku. Untuk Andrew, sahabatku. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.

Kriiiing…

Suara telepon membuatku kembali membuka mata.

“Halo”

“Maafkan aku tidak bisa bersamamu. Aku… sangat mengkhawatirkanmu”

(Aku menghela nafas panjang. Rasa ingin menangis muncul kembali).

“Terima kasih”

“Aku pasti akan mencari kesempatan untuk menemuimu”

“Tidak, jangan. Semuanya baik-baik saja”

(ku coba berbicara setenang mungkin).

“Baiklah. Aku mempercayaimu”tuuut

Tak ada kata sayang atau apapun itu. Mungkin terlalu berbahaya baginya. Aku sadar. Kembali aku rebah di kasurku dan menanti pagi. Menanti mimpi bersama Ibu kembali menyapaku. Dan menanti mentari menyapa dengan senyum kebahagiaan.

***

“Ada apa ar? ada yang penting? Aku sudah katakan kepadamu, untuk tidak membahasnya lagi, ini untuk kelu…” ucapnya, terhenti tatkala aku memberikan sebuah amplop putih besar kepadanya

Kuliah tadi, aku sudah menyelipkan sebuah kertas di tas helena tanpa diketahui teman-teman yang lain. Aku duduk dibelakang, dan berharap helena membacanya. Beruntung, dia membuka secarik kertas itu dan membacanya. Sejenak dia menoleh ke arahku, aku menunduk dan mengangguk-angguk.

“Apa ini?” tanyanya, tangannya menerima amplop putih besar

“Ba-baca saja helen, a-aku tidak pandai bi-bicara” ucapku, aku berjalan menunduk dan melewatinya

“Tunggu…” ucapnya, menahan lenganku, aku menoleh dengan posisi kepalaku tetap menunduk.

“I-itu bisa menolongmu. Aku ti-tidak pandai bercerita, ta-tapi, baca saja. helen” ucapku, aku memandangnya sesaat dan helena melepaskan genggaman tangannya di lenganku, aku melangkah meninggalkannya

“Apa benar ini bisa menolongku? Jika memang benar, kenapa kamu mau menolongku?” tanya helena

“Ka-karena kita keluarga, benar bukan?” langkahku terhenti tanpa menoleh ke arah Helena sembari berucap kepadanya. Tanpa menunggu jawabannya, aku kembali berjalan meninggalkannya.

Aku pergi meninggalkan kampus, entah apa yang akan terjadi. Tak ada panggilan dari Helena lagi ketika aku meninggalkannya. Aku menuju ke halte dimana biasanya aku menunggu kotak besar beroda empat untuk mengantarkanku pulang.

Dalam perjalanan pulang, aku duduk dengan kepalaku aku sandarkan hingga sedikit menengadah ke atas. Aku tutup mataku, menghela nafas panjang. Semoga apa yang aku lakukan kali ini bisa membantu Helena.

Sesampainya di kontrakan, aku aku berdiri memandang dua lembar kertas yang saling bertumpukan, dimana lembar kertas pertamaaku sudah membacanya. Lembar kertas kedua tetap aku biarkan tertutup. Aku tak sanggup untuk membacanya, dan satu amplop kecil bertuliskan “Untuk Arlena sayang”.

Aku duduk dan memandangi benda-benda itu, ku tata lagi dan kulipat. Aku benar-benar tak sanggup jika harus membacanya. Aku rindu nyanyiannya, aku rindu gelak tawanya, aku rindu senyumannya. Semua telah menjadi kenangan dan tak akan kembali. Aku rebah, mataku lelah untuk bernafas, dadaku sesak untuk melihat. Ah, aku lelah, aku ingin tidur. Entah kenapa air mata kembali mengalir ketika aku mengingatnya. oh, Ibu…

No one can kiss away the pain like you
No one like Mama, no one like you

You’ll always be in my heart, You’ll always live in my dreams,
oh Mama don’t you cry​

***

Arta, hufth, apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan dengan amplop putih besar ini. Aku buka amplop putih dari Arta, terdapat buku tabungan serta sebuah kertas kecil. Kuambil secarik kertas dari dalam amplop. Aku membuka kertas yang dilipat rapi dan kelihatan formal ini. Tak ada keinginan dalam hatiku untuk membuka buku tabungan Arta.

Untuk Helena,

Helena, ini tabungan Ibuku
Aku baru menemukannya kemarin
Ibuku sudah meninggal dan meninggalkan tabungan ini,
Tabungan in bisa membantumu
Coba cek di ATM dulu, helen
PIN : 41274 5474119​

“Mungkin, niat dia baik. Tapi aku sudah menentukan pilihanku Ar. Uang dalam tabunganmu ini belum tentu cukup” bathinku

Ingin aku sobek buku tabungan ini, tapi ini punya ibunya. Gak enak juga rasanya kalau merusak pennggalan ibunya, apalagi ibunya sudah meninggal. Mending aku simpan dan besok aku kembalikan saja. Dasar culun, sudah tidak menyelesaiakan masalah malah bikin aku pulang naik bis. Mau BBM andrew, kasihan juga. Ah, apa yang seharusnya aku lakukan?

Aku berjalan menuju halte bis terdekat, menunggu bis. Aku tidak ingin mengecek uang di tabungan Arta. Di halte Bis, aku duduk sendirian. Menunggu Bis, semoga saja masih ada yang lewat. Aku tidak begitu berpengalaman naik Bis, biasanya aku berangkat dan pulang selalu bersama temanku.

Amplop putih besar ini masih berada ditanganku. Masih aku pegang dengan tangan kananku. Tidak ada keinginan bagiku untuk membukannya. Hah, ternyata menunggu bis itu menjenuhkan dan lama. Pelan, mataku sudah mulai mengantuk. Kusangga daguku dengan tanganku.

“huaaaah…. ngantuknyaaaaa” ucapku sedikit keras. Kulebarkan kedua tanganku agar tulang-tulang tubuhku sedikit renggang. Capek sekali.

Sreeek…

“Huh, sangat merepotkan saj…” gerutuku terhenti ketika Amplop putih Arta terjatuh tepat dibawahku. Buku tabungannya keluar dari amplop bersama sebuah ATM. Buku tabungannya terbuka karena tiupan angin. Aku sedikit terkejut. Ketika aku menundukan tubuhku.

“Ini tidak mungkin…” bathinku

Aku turun dari tempat dudukku. Berlutut, membuka buku tabungannya. Sebuah kartu ATM bertuliskan Gold. Air mataku keluar, seakan tak percaya dengan apa yang tertulis di buku tabungan milik Ibu Arta ini. Nominal yang tertera.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku masukan lagi buku tabungannya. Aku bangkit, segera berlari menuju ke mesin ATM terdekat. Bis yang aku tunggu datang, berpapasan denganku. Tapi aku mengacuhkannya.

Sedikit berlari menuju ke mesin ATM terdekat dengan kampusku. Air mataku terurai karena apa yang baru saja aku lilhat. Sesampainya aku di depan mesin ATM, aku usap air mataku. Sejenak aku menunggu seorang mahasiswa yang masih berada di dalam mesin ATM. Aku benar-benar sudah tidak sabat untuk membuka saldo tabungannya.

Ketika mahasiswa itu keluar, aku langsung masuk tanpa menunggunya. Sedikit marah mahasiswa tersebut dan langsung aku minta maaf seperlunya. Kotak yang sangat dingin, meyegarkan keringatku. Kubuka amplop dari Arta kembali. Kumasukan kartu ATM tersebut.

“Pin… pin dimana pin atmnya, ah ini dia” ucapku, mencari-cari dalam amplop arta. aku benar-benar kebingungan karena tidak menemukannya di amplopnya. Hingga buku tanbungannya terjatuh. Kertas putih, catatan dari Arta keluar diantara ruas buku tabungan. Ah, ternyata terselip. Aku ambil dan aku baca, kumasukan PIN yang ditulis Arta.

Tek tek tek…

Cek saldo…

“Siapa kamu ar? Siapa sebenarnya kamu?” aku menangis melihat saldo tabungannya. Dia datang ke kota ini, apa benar dia seorang yang culun. Aku usap air mataku, segera aku keluarkan kartu ATM-nya.

“Arta… terima kasih…” tangisku, dan bersimpuh didepan mesin ATM

Sungguh, sungguh aku tidak percaya dengan semua ini. Arta, sebenarnya kamu malaikat yang datang dari mana? Kakiku benar-benar lemas setelah melihat apa yang ingin kamu perlihatkan kepadaku. Rasanya semua yang aku pikirkan tentang dirimu, semuanya salah. Benar-benar salah, aku tak mengira bahwa akan ada pertolongan dari orang yang tidak pernah aku perhitungkan.

Aku bangkit, tersenyum. Sedikit ingatan wajah culun Arta. Aku keluar dari mesin ATM dan segera ke Halte kembali. Sebuah kebetulan atau tidak, ketika tepat aku berada di halte bis datang tanpa harus aku menunggu. Kini aku menuju pulang. Pulang dengan kebahagian tersendiri. Air mataku tak henti-hentinya turun dari dari mataku. Sebuah cahaya dalam kegelapanku, sebuah tetesan air dipadang gurun yang aku lalui.

To : Ayangz Andrew
Yang, punya nomor Arta?
Aku mau tanya masalah kuliah

From : Ayangz Andrew
Ada, tumben banget yang
tanya-tanya kuliah sama Arta

To : Ayangz Andrew
Cemburu ya? hi hi hi
Mau tanya burhan, ntar tambah cemburunya

From : Ayangz Andrew
Pokoknya sama siapa saja aku cemburu yang
He he he

To : Ayangz Andrew
Seneng deh kalau ayang cemburu gitu
Sayang banget ya yang?

From : Ayangz Andrew
He’em, banget, baaaaaaaanget
Oia, ini nomornya

Dalam tangisku aku mencoba tetap tersenyum. Andrew, aku beruntung memilikinya, dan beruntung aku tidak jadi meniggalkannya. Arta, yang kamu katakan saat itu. Keluarga, ya aku ingin menjawabnya kalau kita keluarga. Terima kasih Ar, Arta.

***

Sesampainya aku di kosku. Aku rebahkan tubuhku. Kutelepon Arta. Beberapa kali aku mendengar nada sambung namun tak kunjung diangkat. Aku coba terus, tak bosan aku mencoba. Aku harus bicara dengannya.

“Halo”

“Arta…”

“Eh, ini siapa?”

(suaranya berbeda, kampungan sih, tapi kok logatnya gak culun ya)

“Helena”

“E… he-helen”

(eh, kok berubah lagi ya? Aneh ini anak)

“Ar, terima kasih ya?”

(sedikit aku menitikan air mataku. Suaraku terisak)

“Eh, helen, sa-sama-sama helen”

“Jujur Ar, gue sebenarnya gak tau siapa lu. tapi bolehkah aku meminjamnya?”

“A-apa len?”

“Uangnya, aku pasti kembalikan ar”

“Bo-boleh len, pa.. pakai saja”

“Tapi, gak papa kan kalau gue pinjem sebentar?”

“Len, i-itu aku baru menemukannya, ja-jadi pakailah, Ibuku juga pasti se-senang bisa membantumu”

“Iya Ar, terima kasih. beberapa hari lagi aku akan menyelesaikannya dengan Kristian”

“Helen,”

“Iya”

“Ha-hape kamu bisa buat ngrekam?”

“Bisa, memangnya ada apa?”

“Ka-kalau kamu nan-nanti ketemu sama si-si Kristian, re-rekam pembicaraanya, ka-kalau bisa di pidio”

“Eh, buat apa ar?”

“Ta-takutnya ka-kalau dia mengancam len”

“Eh-iya ar, akan gue lakuin. Sebelumnya, terima kasih, aku pasti kembalikan”

“Sama-sama, pa-pakai saja du-dulu”

“iya Ar, terima kasih”

Setelah salam perpisahan aku menutup telepon. Segera kuhubungi kristian, dan aku akan membayarnya dalam waktu kurang lebih satu minggu sebelum bulan depan. ATM Gold, bisa digunakan untuk penarikan sejumlah 25 juta perharinya. Jadi tidak butuh waktu lama untuk mengambil di ATM.

Terdengar sebuah tawa merendahkan dari kristian, mencaciku dengan sebutan yang tidak-tidak. Bahkan Kristian mengira aku menjual keperawananku. Aku hanya diam. Masa bodoh. Aku tidak peduli, karena aku memang sudah mendapatkan bantuan. Walau aku masih bingung untuk mengembalikannya ke Arta.

Segera aku membersihkan tubuhku. Hari ini aku harus mengambil dulu di ATM, lebih cepat lebih baik. Aku meminjam mobil teman kosku, dan segera mengambil. Agar esok, aku memiliki lebih dari kata “indah” untuk sahabat-sahabatku. Terutama kekasihku Andrew.

Keesokan harinya. Aku kuliah seperti biasa dan mengambil uang tanpa sepengetahuan Andrew. Aku tidak berani bercerita kepadanya. Apalagi, Krisitian sudah perah melihat dan memainkan “milikku”. Selama empat kali berturut-turut dimulai di hari Arta memberikan amplopnya. Aku mengambil uang.

Ketika kuliah, aku tetap bersikap biasa dan tidak seromntis sebelumnya. Andrew sedikit heran, tapi aku selalu bilang sedikit malu. Padahal, gimana ya? Aku benar-benar bahagia. Bisa saja sih, aku melakukan hal yang kemarin aku lakukan ke Andrew. Tapi ya itu, pikiranku masih tertuju agar masalahku secepatnya selesai. Mungkin setelah ini semua berakhir, aku ingin manja-manjanya pas bareng si tercinta ini saja.

Beberapa kali andrew tanpa beban selalu membuat seisi kelas tertawa. Walau sebenarnya berbanding terbalik dengan yang aku rasakan. Ketika andrew sedang melawak, sesekali aku melirik ke Arta. Dia tersenyum dan terlihat bahagia. Entah, kebahagiaan seperti apa yang dia rasakan.

Dari yang aku lihat, ada sesuatu yang dia sembunyikan. Bahkan ketika Arta melihat Andrew, ada sesuatu yang tersembunyi. Aku jadi penasaran dengan dia, ada apa sebenarnya dengannya? Uang sebanyak itu, dia pasti anak orang kaya. Tapi, tidak juga, uang itu kelihatannya tidak pernah dia gunakan. Jika dia kaya, kenapa dia dari desa dan culun. Ah, entahlah.

Malam hari dikamar kos. Didepan cermin rias. Aku melihat wajahku.

“hufth….” aku menghela nafas di dalam kamar kosku.

“Ibu, Ayah, semuanya akan baik-baik saja” bathinku

Esok aku harus menyelesaikan masalahku. Dan segera kembali ke dalam kehidupanku seutuhnya. Kembali menjadi sahabat-sahabatku. Menjadi seorang kekasih dari yang aku cintai.

Bersambung