Cerita Sex Berubah? Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Berubah?

Uughhh… hoaaaammm….

Aku terbangun, rasanya nikmat sekali tidur kali ini. Aku bentangkan kedua tanganku dan bangkit untuk duduk. Ah, dari pintu kamar terlihat sedikit ada cahaya matahari. Pertanda aku bangun kesiangan.

Seharusnya aku bangun lebih pagi dan tidak boleh bangun siang seperti ini. Aku tarik nafas dalam-dalam, ku hembuskan. Kulihat dalam kamar ini, masih tetap ada aroma wangi yang menari disekitarku. Aku menunduk, mataku terpejam, mengingat kejadian tadi malam. Ah, benar-benar telah terjadi antara aku dan ainun, bu ainun. Ku buka mataku pelan…

Lho aku kok telanjang? bathinku, baru tersadar akan ketelanjanganku, dan juga tak ada bu Ainun di dalam kamar.

Eh, bercak merah? gumamku, Ketika hendak menuju pinggir ranjang. Aku sentuh, sedikit aku bau.

Darah… bathinku

Aneh sekali, seharusnya tak ada bercak merah. Bu Ainun sudah menikah dan pernah bercerita padaku bahwa pak RT selalu memberi nafkah lahir batin. Tapi memang semalam, tampakanya memang ada sesuatu yang berbeda, dia tampak sekali kesakitan.

Ada sesuatu yang disembunyikan bu ainun kepadaku, kulihat kerudung, kaos, dan rok yang dikenakan bu ainun masih berada diatas kasur. Di roknya juga ada sedikit bercak merah, aku benar-benar bingung. Dia sudah menikah tapi kenapa? aku teringat akan ucapan Samo dan Justi, kalau pertama kali melakukan pasti akan ada bercak merah, dan itu tandanya wanita itu masih perawan.

Ting… ting… ting…

Terdengar bunyi seseorang sedang membuat minuman. Aku bangkit, keluar dari kamar, dari ruang keluarga aku sibak korden. Terlihat seorang wanita, dengan rambut sebahunya, rambutnya sedikit bergelombang. Aku melangkah mendekatinya…

Capek ya? tanyanya tanpa menoleh

Eh, sedikit… jawabku, terkejut karena dia mengetahui kehadiranku. Jujur saja, aku masih sedikit gugup dengan situasi ini.

Sedikit? Ehem.. gak baik kalau ada cewek gak pakai pakaian dibiarkan saja, kasihan ceweknya kedinginan ucapnya, tak menoleh namun kata-katanya sedikit melelehkan suasana

Eh, ta.. tapi walau suasana sedikit meleleh tetap saja masih ada rasa gugupku

Kenapa? menyesal? tanyanya pelan, sediki dia menoleh ke arah samping. Aku maju dan memeluknya, diatas pinggulnya, dede Arta tegang dan terasa hangat

Egh, hmmm… kok bangun? tanyanya

Eh, iya baru saja, makanya aku kesini bu ucapku

Iya, kalau kamu, aku sudah tahu, itu lho adikmu ucapnya, semabri mendorong pelan pantatnya kebelakang

Eh, itu anu… hufth.. normal kan? belaku

Hi hi hi… dasar, sakit tahu sedikit candanya menghilangkan kegugupanku

Aku memeluknya, kepalaku berada disampig kepalanya. Ku kecup pipi kanannya, dia tersenyum manis. Dia tampak cuek dengan apa yang aku lakuka. Masih saja dia tampak ayu di mataku. Di tutupnya dua gelas teh hangat itu, terlihat jelas dari warna minumannya.

Sudaaaah, kalau peluk terus bagaimana bawa minumannya? ucapnya lembut, tubuhnya sedikit bersandar pada tubuhku

Eh, iya… maaf… ucapku

Hmmm.. aku tahu kita melakukannya, entah itu kesalahan atau bukan, aku tak tahu, yang jelas aku bahagia dan… ucapnya terhenti

Dan? ucapku pelan

Sudahlah, kita bahas nanti, minum dulu atau kamu bersihkan dulu tubuhmu, bau acem hi hi hi candanya

Hmmm… bu ainun suka kan? tanyaku, dia mengangguk dan menoleh ke arahku, bibir kami berpagutan

Sudah, bersih-bersih dulu sana ucapnya, aku mengangguk dan tersenyum

Aku berjalan ke arah kamar mandi, aku masih menoleh melihatnya. Dia memandangku dengan wajah ayunya, eh…

Bu, itu, pak… ucapku terhenti dan dia tahu maksudku

Gak bakalan balik sekarang, paling sore kalau gak, malam jawabnya, santai dengan senyum indah pada bibirnya

Eh, bu itu yang disprei… masih saja aku bertanya, karena masih penasaran dengan yang kulihat tadi

Bersih-bersih dulu ucapnya, mengahadap ke arahku, pandanganku tertuju pada payudara yang seakan terpasang dan tak turun sedikitpun

Hush! Malah liat-liat, mandi dulu, acem tau gak wajahnya sedikit memperlihatkan mimik galaknya

Eh, iya bu… aku masuk ke dalam kamar mandi

Jika aku mengingat semalam, jika aku terus mengingatnya, kenapa ini tegang terus ya? haduuuh, dede Artaaku sayang, hmmm… mandi ah

***‚Äč

Kletek… kletek…

Kuletakan dua gelas teh hangat, aku duduk dengan tubuh telanjangku. Aku tahu ini salah, tapi aku merasakan hal berbeda ketika dia mengatakan tentang adik-adiknya dan kakak perempuannya. Ah, kenapa malah cemburu dengan seseorang yang tidak seharusnya aku cemburui.

Mungkin yang jelas, aku harus cemburu pada kedua adiknya, untuk kakaknya seharusnya tidak. Tapi, aku merasa sangat cemburu ketika dia bercerita tentang kakak perempuannya.

Biarlah, mungkin aku benar-benar cinta kepadanya bathinku, aku menyandarkan tubuhku di kursi panjangku

Kupandangi tubuhku, ku elus lembut payudaraku. ah, semalam dia meremasnya lembut sekali. Dua orang lelaki, yang kucinta sekarang dan dia, yang tinggal bersamaku. Namun, lebih hangat dan lembut yang kucinta. Aku tersenyum sendiri, hufth, sekarang aku harus lebih menjaga diriku diluar agar aku bisa selalu bersama yang kucinta. Dan untuk si dia, sudah kesepakatan bukan? Jadi tidak ada masalah.

Aku memandang ruang tamuku, ruang tamu dimana dulu aku pertama kali bertemu dengannya. Selang beberapa saat, Terdengar langkah kakinya,, akau menunggunya. Kini dia berdiri di menghadapku, di antara ruang tamu dan ruang keluarga.

Hanya dengan memakai handuk yang melilit dipinggangnya, dia menggaruk-garuk belakang kepalanya. Aku tersenyum, penisnya masih saja berdiri, terlihatlah dari tonjolan handuk kecilnya.

Aku dan dia saling memandang, di ruang tamu yang masih tertutup rapat. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi udara yang ada di atas pintu dan jendela. Perasaanku saat ini, entah, kenapa aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sangat bahagia, dan yang membuatku heran, kenapa aku lebih bahagia ketika dia disini.

Sini sayang, minum teh hangat dulu ucapku, membuka kedua tanganku

Eh, iya bu… dia melangkah mendekatiku, perhatiannya tidak lepas di payudaraku

Hush! Lihat-lihat mulu, dah cepetan duduk ucapku, dengan tersenyum kepadanya, aku menutupi payudaraku dengan kedua tanganku. Dia duduk dan mengambil teh hangatnya, matanya sedikit melirik ke arahku. Melirik wajahku kemudian turun, turun dan…

Ada apa? tanyaku pelan, aku membuka kedua tanganku. Agar dia bisa melihat lebih dekat dan lebih jelas

Eh, uhuk… ehm… ndak papa bu ucapnya, meletekan gelas. Tersedak karena melihat yang sudah dia pegang, dan wajahnya terlihat lucu ketika mencoba membuang mukanya. Terlihat wajahnya sedikit memerah, tapi aku suka akan sikapnya.

Aku merapat ketubuhnya, ku tarik tangan kanannya kebelakang pinggangku dan aku peluk tubuhnya. Dadanya begitu luas, hangat, aku rebahkan kepalaku di bahunya. Ku peluk erat, sangat erat hingga tubuhku rapat. Tangan kanannya, merengkuh pinggangku sedangkan tangan kirinya mengelus pundak kananku.

Bu… lembut sekali

Hmmm… jawabku

Itu, anu… hufth.. aku bolos lagi bu ucapnya, dengan nada suara biasa, mencoba menghilangkan kegugupan

Hmmm.. iya, Maaf ya.. ucapku, benar-benar lelaki yang pintar. Walau dalam suasana seperti ini masih saja ingat kewajibannya.

Eh, ndak papa ko bu, he he he… itu, bu, anu… kata-katanya terlihat gugup, detak jantungnya kurasakan semakin berdebar kencang.

anu kenapa? Memang anu itu apa? ucapku pelan, masih dalam posisi yang sama dengan mataku terpejam

Aku, aku… aku hanya ingin melihat ibu bahagia jawabnya, tubuhnya menghadap ke tubuhku, tangan kirinya kini juga memeluk tubuhku

Hasssh… desah nafasnya panjang, tubuh kami kini saling menopang dalam pelukan

Terima kasih, aku benar-benar bahagia ketika kamu berada disini. Tetaplah bersamaku, sampai nanti ketika… aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Cepat atau lambat, pasti akan ada yang benar-benar bisa mengisi hatinya. Namun, aku ingin menjadi satu diantaranya. Hanya itu harapanku.

Semoga… jawabnya, memelukku erat.

Hening dalam suasana pagi. Walau aku tak tertutup kain, namun tubuhnya sudah cukup menghabangatkan aku. Setiap detak jantung aku mendengarnya, setiap nafasnya aku merasakannya. Kecupannya lembut di ubun-ubun kepalaku. Sesekali, dengan ujung jari-jarinya dia mengelus punggungku. Geli, nyaman, dan aku merasakan sesuatu yang ingin aku ulangi lagi.

Kenapa? masih bangun adiknya? tanyaku, mataku tetap terpejam merasakan kehangatan

Dede Arta namanya bu jawabnya,

Eh, ada namanya ya? tanyaku heran, aku mengangkat wajahku. kupandangi wajahnya

Dari SMA, Samo dan Justi yang mulai, akhirnya aku kasih nama sendiri saja jawabnya, polos sekalli.

Hi hi… lucu kalian, tapi aku maunya dede Arta saja yang diceritain, yang lain gak usah candaku,

Hasssh… desah nafas panjang

Kenapa sih kok nyembur-nyembur gitu nafasnya ucapku, dia kini memandang sedikit kebawah kearahku

Bu, itu kenapa… anu itu… dia sedikit gugup

Anu kenapa? tanyaku

Yang di sprei.. ucapnya pelan

Kamu kan yang pertama, dan selamanya, kalau kamu masih mau denganku jawabku

Tapi kenapa masih ada bekasnya, kan ibu sudah menikah, dan kata temen-temenku, itu… ucapnya, aku bangkit dan aku naik ke kursi, aku peluk dia dari belakang

Aku dan dia, menikah bukan keinginan kami. dia mencintai orang lain. Setelah aku tahu, dia adalah sahabatku sendiri yang akhirnya menjadi istri sirinya. Dia ungkapkan itu semua ketika malam pertama

Ketika kenyataan itu dia ungkapkan, itu semua tanpa mempertimbangkan perasaanku, aku sedih. Bahkan dia berjanji tak akan menyentuh tubuhku sama sekali, pernah sekali aku menggodanya agar dia melupakan yang dicintainya itu, tapi dia hanya tergoda sebentar. Sebatas memasukan jarinya ke dalam vaginaku, ada sedikit darah tak banyak

Tapi ketika dia sadar, dia malah marah besar. Dan setelah malam dimana aku menggodanya, kami sepakat untuk tetap mempertahankan pernikahan ini tanpa… ucapku terhenti

Eh… dia menoleh kebelakang

Tanpa berhubungan suami istri, mungkin sejauh ini semua orang melihat kami harmonis. Aku melayaninya bak seorang istri, tapi sebenarnya, kalau malam aku selalu tidur sendirian. Meneleponmu saja aku bebas, aku bisa bilang dia sudah tidur, dan lain sebagainya itu semua karena aku tidak pernah sekamar dengannya

Video yang aku tunjukan ke kamu, itu aku mendapatkannya ketika dia terlelap. Diamnya, aku tahu kemana. Bahagianya, aku tahu dimana. Jujur aku sempat sedih, tapi ketika aku pertama kali mengobrol denganmu, semua tergantikan dan aku merasa senang, nyaman. Aku tidak pernah punya pacar, karena aku memang tidak ingin pacaran. Dan seseorang yang aku katakan mirip kamu itu, hanya sekedar teman jelasku kepadanya

Eh, bu… ta… tapi… waktu itu bu ainun pernah mengatakan kepadaku, kalau pak eh, dia, memberi nafkah lahir batin ke ibu ucapnya

Tidak pernah sama sekali, lahir aku mencari sendiri, dan batin… malam tadi kamu yang memberikan ucapku, aku semakin memeluknya erat

Kenapa bisa bertahan selama ini? tanyanya

Hmm… untuk menjaga perasaan kedua orang tua kami jawabku

Kenapa denganku? tanyanya kembali

Karena… aku bangkit, aku memeluk lehernya, bibirku mengecup pipinya

Aku cemburu, kepada dua adik angkatmu dan juga kakak perempuanmu. Entah mengapa aku cemburu, kedua adikmu itu tampaknya sangat memberikanmu kebahagiaan, sedangkan aku tidak, makanya aku ingin memberimu kebahagiaan. Dan kakak perempuanmu, aku tidak ingin kamu jatuh dalam lubang yang salah. Dia kakak perempuanmu, kamu melakukan itu, aku tidak ingin kamu kebablasan. Jelasku kepadanya

Tidak, tidak akan kebablasan bu… hufth, hanya sekali itu dan setelahnya aku akan menjaganya selayaknya adik menjaga kakak perempuannya ucapnya

Berjanjilah kepadaku… ucapku

Aku berjanji.. jawabnya. Aku kecup kembali pipi kananya.

Tapi kenapa aku yang harus… ucapnya terhenti

Aku mencintaimu… jawabku

Eh,… bu… dia terkejut, kurasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat

Biarkan aku mencintaimu, tak kau balaspun, aku tetap akan mencintaimu. Aku tidak tahu kedepan sana, apakah aku tetap akan bersamamu atau tidak, tapi untuk sekarang. Selama aku masih bisa bersamamu, aku ingin bersamamu… walau hanya sesaat.. aku beranjak kembali memeluk tubuhnya dibelakang, air mataku meleleh

Aku tahu, pasti kamu akan menemukan jodohmu kelak. Tapi selama masih bisa bersama, aku mohon untuk tetap bersamaku. Aku tidak butuh janjimu untuk selalu bersamaku, tapi bersamakulah ketika masih bisa ucapku, aku tak bisa menahan tangis

Dia berbalik, melepas pelukanku. Dia memelukku erat, tubuhnya jatuh di bantal yang sedari malam berada di kursi ini. Matanya memandang dalam ke mataku. Jari-jarinya menyisir lembut jari-jariku. Terdengar kata-kata hangat dari bibirnya, pelan, namun membuatku tegar. jangan menangis, tersenyumlah aku merasakan kata-katanya. Bibirku tersenyum, dibalasnya senyumanku dengan lengkungan bibir manisnya.

Aku tidak tahu apa aku bisa bersamamu, bu. Aku tak tahu yang didepan sana, yang jelas, jika aku bisa, aku akan menjagamu. selama aku bisa. Aku menyayangimu, tapi aku tidak berani mencintaimu, dan kamu tahu kan bu… ucapnya, kata-katanya memang bukan yang aku harapkan tapi sudah cukup membuatku bahagia. Selama aku bisa, ya mungkin itulah yang seharusnya. Dia masih muda, kuliah, banyak wanita disekelilingnya bahkan beberapa ada yang sudah terpaku padanya. Ah, aku tidak boleh sedih jika suatu saat nanti harus kehilangan dia.

walau sebenarnya aku…. ingin lanjutnya, membuatku sedikit terbelalak. Ada penghalang diantara kami, dan itu tidak mungkin bisa dirobohkan. Jika itu roboh karena kecerobohan kami, dia yang akan dipersalahkan atas semuanya. Aku tidak ingin, tidak.

Jangan berpikir macam-macam bu, didepan tidak ada yang tahu. Aku juga tidak tahu, aku tidak bisa berjanji, tapi percayalah padaku ucapnya

Heem… jawabku

Dalam hatiku, aku berharap selalu bersamamu, selalu.

Aku meringkuk dalam pelukannya, tak kukira dia lebih bisa memposisikan dirinya. Sebagai seorang lelaki, aku meras terlindungi. Terasa hangat, terasa nyaman. Aku ingin membuatnya lebih nyaman bersamaku. Perlahan tanganku turun, membuka lilitan handuknya.

Penisnya terlihat sangat keras, begitu gagah dibandingkan dengan punya suamiku. Aku pernah memegangnya, aku pernah mengelusnya tapi dibandingkan dengan Arta, jauh berbeda. sebuah pertanyaan timbul dalam benakku, apakah sahabatku itu merasakan kebahagiaan ketika bersama suamiku? Hm, masa bodohlah.

Eh, bu… pelan, aku mendongakkan kepalaku ke atas, wajahnya turu memandangku Kepalaku naik, dan bibirku mengejar bibirnya.

Pulanglah sore nanti, aku masih ingin bersamamu bujukku, dia mengangguk

Aku menarik handuknya, hingga benar-benar tidak menutupi kemaluannya lagi. Tubuhnya beranjak ke atasku, ugh, dia langsung menindihku.

Ke kamar saja yang, sakit… manjaku,

Eh, maaf… jawabnya

Gendong yang.. manjaku

Aku digendongnya, bibir kami terus berciuman, hingga kami berada dikamar semalam tadi. Dengan lembut dia merebahkan tubuhku, aku langsung membuka pahaku, ugh, sedikit perih sebenarnya. Kupaksa tetap terbuka, aku arahkan tubuhnya agar berada di antara pahaku. Tubuhnya menunduk, bibir kami bercumbu. Ah, tangannya sudah mulai nakal.

Sekali lagi aku melakukannya. Rasanya, tak dapat aku melukiskannya dengan kata-kata. Sepertinya kini dia lebih berhati-hati. Sentuhannya pun semakin lembut. Walau terkadang masih sedikit kasar. Mungkin karena dia masih pertama kalinya.

Berbeda dengan semalam, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Lebih dari yang tadi malam, hampir tiga kali aku mengalami puncak kenikmatanku. Hampir aku menyerah karena tubuhku sudah tak mampu lagi untuk bertahan.

Tapi, hati kecilku seakan berontak untuk tetap sadar dan membahagiakannya. Seperti halnya dia, aku juga ingin melihatnya bahagia. Aku mencoba bertahan hingga akhirnya rasa lelahku, sudah tak bisa lagi diajak berkompromi. Aku mengeluh kepadanya, walau sebenarnya aku tak ingin.

Wajahnya menjadi sedikit takut, ketika mendengar keluhanku. Selang beberapa saat, akhirnya dia mencapai puncaknya. Kini dia berada dibelakangku, memelukku dengan sangat erat, sangat erat.

Entah, kenapa lelaki ini bisa lebih kuat dari semalam. Seperti ada tenanga lain dalam dirinya, namun masa bodoh yang penting aku masih bisa membuatnya rebah dan lemas. Tiga kali aku harus lemas dan baru kemudian dia yang merasakannya.

Pelukannya sangat era. Setelah nafas kami teratur, dia masih tetap mencium rambutku. Tangannya yang semula memelukku, kini mulai mengelus lembut payudaraku, mengusap tanganku dan membelai rambutku. Mataku terpejam, kembali mengatur nafasku. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Yangh… terima kasih ucapku

Eh, jangan bilang terima kasih, seakan mau pisah jawabnya, membuatku mengankat kepalaku dan menoleh kebelakang

Emang mau sama cewek udah nikah ini? sedikit candaku

Mau… ucapnya, memebenamkan wajahnya di balik tengkuk leherku

Erhh… geli sayang… jawabku

Selama masih bisa bareng, bareng terus ya? tanyaku, terasa anggukan kepalanya

Janji lho aku mencari keyakinanku sendiri atas dirinya, kembali dia mengangguk

Hm, kok sembunyi terus? Itu dede Arta ya? kok gak tidur-tidur? tanyaku

Byum cyapek kata-katanya sedikit tidak jelas, karena wajahnya masih terbenam. Namun, aku masih bisa mengerti maksudnya. Aku membalikan tubuhku, hingga bagian tubuhnya yang berada dalam tubuhku lepas sudah.

Besok lagi sayang, sakit… ucapku, memegang kedua pipinya. Dia mengangguk.

Aku ingin tidur bareng bu… sampai sore ucapnya, memandangku

Iyaa, aku juga terlalu lelah gara-gara hi hi hi..sedikit candaku membuatnya tersenyum

Tapi jangan sampai sore ya, ntar gak maem, ya? ucapku, dia mengangguk

Sekali lagi kami berciuman, tangan kanannya merengkuh tubuhku. Dadanya begitu terasa hangat, ketika dadaku menempel di dadanya. Tubuhnya melindungiku dari dinginnya pagi ini, pagi dimana biasanya aku selalu mengurusi rumah ini. Pelan terasa, tangan kanannya membelai rambutku, mengelusnya. Kesadaranku mulai hilang, hilang dalam kehangatannya.

***

Aku terbangun dan membentangkan tanganku, dia tertidur pulas sekali. Terasa sakit dibagian vaginaku. Hm, untung saja tidak bangun lagi si dede Artanya. Tanganku mulai mengelus dadanya, leher hingga pipinya. Aku dekatkan wajahku, dan ku kecup wajahnya beberapa kali.

Ergh… dia membalikan tubuhnya membelakangiku

Eeeh… bangun sayang, sudah siang ucapku,

Hm… erghhh…. hoaaaam… dia membalikan tubuhnya dan memandangku dengan mata ngantuknya

Heem… jawabnya dan kembali tertidur

Kalau tidur lagi, besok-besok, aku gak mau lagi lho ucapku, dia langsung menarikku, dan mengecup bibirku

Iya… iya… dia bangun

Dah, sana mandi dulu ucapku

Dia kemudian mandi, aku tata rapi lagi pakaiannya. Setelahnya aku bereskan tempat tidurku, mengganti sprei, aduh, terasa sakit. Hufth, aku paksakan untuk tetap beraktifitas. Dengan melilitkan selimut putih, aku membuatkannya teh hangat. Ku tunggu dia keluar dari kamar mandi dan aku memberikan teh hangat tersebut kepadanya. Ku suruh dia menungguku di ruang tamu.

Boleh ngrokok, tuh dah aku siapin tapi jangan banyak-banyak ya ucapku, dia mengangguk tersenyum. Bibirnya maju, aku menghindar. Pipinya kemudian menggelembung, aku merasa geli dibuatnya. Aku raih dagunya dan kami kembali berciuman, walau sesaat.

Didalam kamar mandi. Aku merasakan sakit di vaginaku. Beberapa kali aku selalu membandingkannya dengan kepunyaan suamiku, yang saat itu pernah aku memegangnya walau sebentar. Sembari mandi, aku tersenyum-tersenyum sendiri, bayangin dia yang romantis banget pas tidur. Sesekali aku berhenti mandi, hanya untuk senyum-senyum sendiri. Dibalik kepolosannya, ternyata ada romantisnya juga.

Selepas mandi, dengan pakaian yang biasa aku kenakan. Tapi entah, kenapa hari ini aku menambahkan di dandananku, biar kelihatan lebih cantik. Kutemui dia, dia memandangku melongo. Kepalaku miring dan memandangnya, aku sendiri heran melihat matanya yang memandangku.

Eh, ada apa? tanyaku heran,

Ibu, cantik banget… eh, gak papa maaf bu ucapnya sedikit gugup, aku duduk didekatnya

Tehnya manis? tanyaku, aku masih tersenyum-senyum sendiri

Banget ucapnya

Eh, kemanisan ya? sambil mendekatkan tubuhku ke tubuhnya

Tehnya manisnya cukup bu, Cuma yang disamping buat tambah manis. bisa kena diabetes akunya bu ucapnya sembari meletekan gelas

Ooo… gitu? Jadi aku jadi penyebab diabetes ya? ya sudah, aku tak masuk saja aku memalingkan wajahku dan hendak berdiri

E.. endak begitu maksudnya sayaaaaang Ainun sayaaaang ucapnya, aku duduk kembali dan membelakanginya

Maksudnya ibu manis banget, dah itu saja jelasnya, aku berbalik dan kembali tersenyum. Aku berdiri, membuka pintu ruang tamu hanya untuk berjaga-jaga agar dia tidak minta lagi. setelahnya, aku kembali lagi duduk disebelahnya

Pulang ntar sore ya? ucapku

Pak RT? ucapnya

Ntar kalau dia dateng kamu pulang, bilang saja bantu-bantu ibu ngetik ucapku

Ngetik apaan? tanyanya

Mmm… artikel, kan aku sering pos tuh di blog. jawabku

aku kira ngetik hati Ainun jawabnya dengan mimik bercandanya. Aku sedikit memukul lengannya, sedikit malu aku dibuatnya. Rayuannya datar tapi gak tahulah.

Posting di blog buat apa? tanyanya

Aku kan masih kuliah sayaaaang, buat tugas jelasku, sedikit manja kepadanya

Kuliah? dia heran

Heem, ambil S2, makanya bisa lihat kamu dianter si itu, si ini jelasku

Oooo… hmmm… cemburu? tanyanya

Enggak, ngapain cemburu, kan kalau disini kamu sama aku aku tersenyum, dan dia tersenyum kepadaku

Menunggu sore, aku selalu rebah di dadanya. Tak akan ada yang bisa melihat walaupun pintu terbuka, karena tempat duduk kami tertutup oleh korden. Pelukannya lembut, walau aku dan dia sudah bersatu dua kali. Tangannya tetap sopan kepadaku dalam suasana seperti ini, padahal bisa saja dia membelai bagian tubuhku yang lain. Aku hanyut, benar-benar hanyut dalam kehangatannya.

Hingga sore tiba, dia pulang. Dari rumahku aku melihat punggungnya. Sesekali dia menoleh kearahku dan tersenyum. Aku balas senyumannya dan sedikit membungkukan tubuhku. Tepat setelah dia menghilang dari pandanganku, suamiku pulang.

Ya begitulah, setelah dia pergi, suram semuanya. Tapi aku tetap melayaninya seperti perjanjian kami. Suamiku masuk rumah, langsung ke kamarnya dan aku kembali ke kamarku. Kupeluk bantal yang dia pakai semalam, ah, aroma wangi keringatnya masih tercium.

Kamu lelaki yang sangat polos, benar-benar polos. Namun, sulit bagiku untuk melukiskan tinta di kanvas putihmu. Ada sebuah penghalang dikanvasmu. Hanya yang kamu perbolehkan saja, yang bisa melukis disana. Aku tahu dan aku sadar akan hal itu. Namun aku berharap, aku bisa melukis di kancas putihmu, sekalipun aku yang menjadi tinta kesekian kalinya. Semoga …

Aku bahagia
Ketika dia memandangku
Ketika dia tersenyum kepadaku
Ketika dia memelukku

Aku tidak peduli
Ketika kamu hilang nanti
Ketika kamu bersama yang lain

Yang jelas,
Aku akan tetap seperti ini
Hingga kelak,
aku sudah tak mampu bernafas lagi
walau hanya memilikimu sesaat
walau hanya sesaat bersamamu
namun aku tidak ingin kamu melupakanku

jika memang masih ada waktu
aku berharap, aku bisa berada disampingmu

Bersambung