Cerita Sex Anak Tetangga Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Tamat

Cerita Sex Anak Tetangga

Setelah sukses menginterogasi Riska aku menuju ke dalam kamarku. Kulihat jam di atas meja ternyata sudah pukul 2 pagi. Kubiarkan Mita dan Riska membicarakan ikatan persahabatan mereka dengan baik-baik. Aku yakin Mita pasti bisa menerima keadaan Riska yang sebenarnya.

Kutata tempat tidurku lalu kulepas semua pakaian yang menempel di tubuhku. Entahlah, mungkin karena inpirasi dari Mita akhirnya aku sekarang sudah terbiasa tidur tak memakai apa-apa lagi. Memang rasanya nyaman dan saat bangun tubuh lebih segar dari biasanya. Tapi ini akan susah kulakukan saat pulang kampung dan tidur seranjang dengan istriku.

Sambil terbaring di atas tempat tidur aku memutar kembali bayangan tentang hal-hal yang telah kulakukan pada Riska tadi. Aku sendiri masih menimbang baik buruknya tidakanku, ataukah memang apa yang kulakukan sudah berlebihan. Entahlah, aku hanya merasa sayang saja pada Riska, apalagi kami satu kampung dan saling kenal meski tak akrab.

“Om.. udah tidur yah?” tiba-tiba Mita membuka pintu kamarku dan melongokkan kepalanya kedalam.

“Ehh.. belum.. napa?” balasku.

“Aku ikutan tidur di sini boleh kan Om?” meski belum mendapat persetujuanku dia sudah masuk ke dalam kamar.

“Iya.. Iya.. boleh kok.. tapi Riska gimana?”

“Udahh biarin aja dia tidur sendirian, aku malas nemenin..” balas Mita yang kini mendekati tempat tidurku.

“Yaudah.. sini naik..” kataku mengijinkannya.

Dalam keremangan lampu kamarku, aku masih bisa meliihat dengan jelas Mita yang mulai melepas kain kemben yang biasa dia pakai. Begitu dia naik ke atas tempat tidur aku langsung mendapati tubuh Mita sudah telanjang bulat seperti biasanya. Aroma tubuhnya yang seksi dan menggoda itu kembali menyeruak masuk melalui indera penciumanku. Dari pemandangan dan bebauan yang kudapatkan itu, hasilnya adalah bantang penisku bereaksi dengan bangun dari tidurnya.

“Om…”

“Apa??”

“Peluk Mita dong…”

“Hheh… yaudah sini dekat-dekat..”

Tubuh kami yang sama-sama tanpa busana akhirnya bertemu juga. Untungnya posisi Mita membelakangiku, sehingga badanku ketemu dengan punggungnya. Tangan kananku lalu merengkuh perutnya yang rata dan kemudian badanku kugunakan untuk memeluknya dengan hangat.

“Beruntung banget tante Ana bisa dapat kehangatan begini dari Om Andra..” ucap Mita dengan suara pelan.

“Iya kan wajar.. dia istrinya Om…” balasku sambil memejamkan mata.

“Jadi…”

“Jadi apa?”

“Jadi Mita akan berdoa supaya bisa jadi istrinya Om juga… biar kita bisa begini terus..” ucapnya polos.

“Hemmm… ada-ada aja kamu ini” balasku merasa geli pada kata-katanya.

“Om…”

“Apa lagi sih sayang??”

“Bisa gak yang ngeganjal itu disimpan di sini” Mita kemudian mengangkat kakinya sebelah, aku tahu maksudnya.

“Boleh.. tapi jangan keterusan yah.. udah pagi nih..” ingatku.

Aku kemudian menggeser posisi tubuhku agak kebawah sehingga posisi batang penisku tepat berada di bawah belahan pantat Mita. Karena dia sudah mengangkat satu kakinya, akupun dengan mudah meyelipkan penisku pada jepitan pangkal pahanya itu.

“Uhhh.. denyutnya itu.. bikin gatel memek aja nih, hihi..”

“Hayoo… janjinya apa? Udah pagi nih.. ngantuk” balasku.

Karena memang sudah sama-sama mengantuk akhirnya kami berdua terlelap dalam tidur yang nyenyak. Ternyata tidur memeluk gadis cantik selain istri sendiri sensasinya lebih ajib gaes… haha.

***

Pukul 06:00 pagi alarm pada Hp milikku berbunyi. Meski pagi ini adalah hari minggu tapi aku sudah pesan makanan ke warung langgananku, jadi aku harus membuka pintu rumah saat yang mengantar makanan datang.

Kutinggalkan Mita yang kulihat masih tidur dengan lelap. Lalu aku memakai kaos dan celana pendek sebelum akhirnya ke luar dari kamarku. Sesaat kemudian aku duduk di kursi ruang tamu sambil membaca chat yang masuk di Hpku.

Tak lupa aku menanyakan kabar dari istriku di rumah. Beberapa menit kemudian akhirnya pengantar makanan datang. Bergegas aku menerimanya lalu kembali masuk ke dalam rumah. Entah kenapa suhu di luar rumah pagi itu jadi dingin banget. Setelah menaruh semua makanan dalam piring-piring, aku kemudian mengambil handuk dan menuju kamar mandi.

Selesai mandi, seperti biasanya kubelitkan handuk pada pinggangku kemudian memasukkan ke dalam mesin cuci pakaianku yang kotor tadi. Akupun menuju meja makan dan segera mengambil makanan untuk mengisi perutku yang bener-bener lapar.

“Wahh.. sarapannya udah datang ya Om?” sebuah pertanyaan yang biasanya dilontarkan oleh Mita terdengar di telingaku. Namun pagi itu lain, ternyata Riska yang bangun duluan.

“Ehh.. iya udah..” jawabku agak terkejut karena pagi itu Riska bersamaku tanpa memakai baju apa-apa.

“Ngincip boleh dong Om…” ucapnya lalu mengambil piring.

“Ris.. eh, kamu kok ga pake apa-apa gitu sih?”

“Kenapa sih Om? Om sange yah? hihihi… salahkan Mita tuh Om, aku ga dikasih pinjam bajunya.. mana celana dalamku juga dia sobek-sobek tadi malam”

“Haduhhh.. kamu ini… coba kamu pake apa gitu lho biar gak bugil kaya gini..” kataku lagi.

“Gak ahhh… enakan gini.. kalo Om gak suka ya salah sendiri, ngapain Om bawa aku ke sini.. wekks” balas Riska cuek sambil menjulurkan lidahnya. Dia lalu dengan santai mulai makan di depanku.

Siapa sih yang bisa tenang kalau ada cewe cantik bugil di depan kita? Munafik kalau ada yang bilang gak bakal timbul yang namanya syahwat. Sampai sekarang akupun masih senang melihat tatapan mata Riska yang sayu dan wajahnya yang teduh, seakan memancarkan pesona keibuan.

Belum lagi kulit tubuhnya yang kuning langsat, payudaranya yang bulat dan lumayan besar, serta celah vagina yang berhias bulu-bulu halus. Semuanya membuatku semakin tak nafsu makan, karena berubah jadi nafsu yang lain.

“Nahh.. gitu dong rukun…” ujar Mita yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursi di sebelahku. Gara-gara melamun tadi aku jadi tak menyadari kedatangan gadis cantik itu.

“Apaan sih kamu ini!?” balas Riska sewot.

Mita lalu duduk di kursi sebelahku. Dia mengambil sebuah gelas lalu menuangkan air putih dan meminumnya. Kulihat dia masih berbusana seperti tadi malam. Memang hampir setiap pagi setelah bangun tidur tubuh gadis cantik itu tertutupi kain kemben saja.

“Mita.. coba kasih Riska baju dong.. masak dibiarin ga pake apa-apa gitu sih!?” kataku kemudian sambil menatap tajam ke arah Mita.

“Ahh.. biarin.. gapapa Om.. dia udah biasa bugil di depan orang lain kok” balas Mita cuek. Sikap dinginnya itu bener-bener bisa menghukum orang yang dianggapnya bersalah.

“Hehhh.. kamu ini” ucapku sambil geleng-geleng kepala.

“Udah Om gapapa.. biar hati temanku ini lega dulu” Riska coba menengahi.

Mungkin gak apa-apa bagi Riska, tapi bagiku? Sekuat tenaga aku menahan batang penisku yang berontak tegak mengeras itu. Mungkin kalau Riska aku goda-goda sedikit dia pasti mau kuajak bersetubuh. Tapi entahlah, ada sesuatu dalam pikiranku yang sangat kuat menahanku untuk tidak melakukannya.

“Gini aja deh.. Mita tolongin Om bentar.. ambilin handuk merah di lemari pakaian, kasih ke Riska biar dia bisa mandi” kali ini Mita beranjak menuruti perintahku tanpa membantah. Dia berjalan ke dalam kamar lalu megambil handuk yang kumaksud tadi.

“Nih.. cepetan mandi sana..” ujar Mita yang memberikan selembar handuk milikku pada temannya itu.

“Hehe.. makasih ya Om.. aku mandi dulu” Riska dengan tersenyum manis akhirnya pergi ke belakang sambil menenteng handuk dan membawa piring kotornya.

“Mita sayang.. siapapun itu kamu jangan merendahkan orang.. ingat, pandanglah apa yang dia lakukan, bukan siapa yang melakukan. Dengarkan nasehat orang meski orang itu terlihat remeh…” kataku sambil menatap wajah Mita.

“Iya Om..” balasnya sambil tertunduk lesu.

“Nahh.. nanti kamu kasih pinjam bajumu dulu buat Riska, biar dia bisa pulang ke rumah kostnya” Mita hanya mengangguk pelan membalas kata-kataku.

“Iya Om… eh, hari ini ada rencana kemana lagi Om?”

“Emm.. ga kemana-mana, paling nengok rumah bos ntar sore”

“Ohh.. kalo gitu habis dari rumah bos-nya Om, kita jalan ke mall ya Om?”

“Boleh… boleh..” jawabku.

Setelah selesai makan aku kemudian masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaian. Memang dari tadi aku masih memakai handuk saja untuk menutupi tubuhku. Selepas memakai kaos dan celana pendek aku kembali ke dapur membuar secangkir kopi susu nikmat kesukaanku.

***

Pukul 08:02 pagi, aku duduk di teras rumahku sambil menghisap sebatang rokok dan meyeruput kopi susu dari cangkirnya. Mungkin hanya itulah hiburanku saat tak bisa pulang dan mengobati rinduku pada keluarga di rumah.

“Om.. sendirian??” Mita tiba-tiba muncul dari balik pintu. Kulihat Mita masih memakai kain kemben untuk menutupi tubuhnya. Aku yakin di balik kain itu dia belum memakai dalaman juga.

“Enggak.. nih sama kamu..”

“Helehh… jawabannya sama kaya kemaren-kemaren..” balasnya. Dia mendekatiku lalu duduk di sampingku.

“Kamu udah mandi sayang?”

“Udah dong Om… masak ga tau bedanya?”

“Ohh.. kirain.. kan masih pake kain kemben, Om kira belum mandi, hehe…” candaku, meski aku bisa mencium bau harum sabun dari tubuhnya.

“Widihhh.. pengantin baru nih.. pagi-pagi maunya berduaan aja” sindir Riska yang baru keluar dari balik pintu.

“Biarin.. wekkks…” cibir Mita membalas perkataan temannya tadi.

Kulihat pagi itu Riska sudah kembali berpakaian dengan sempurna lagi. Celana jeans biru gelap, kaos lengan panjang warna hitan dan jilbab warna biru langit. Duhh.. cewe satu ini semakin cantik aja. Hawa-hawanya jadi pengen menghalalin, haha.

“Aku mau pulang dulu ya Om.. makasih buat semuanya..” ucap Riska berpamitan.

“Iya oke.. jangan kapok main ke sini, kalo ada apa-apa bilang aja ke Om” balasku.

“Sipp… beres Om.. Mita aku jalan duluan”

“Iya.. ati-ati di jalan… di ranjang juga..” balas Mita sambil tersenyum.

“Heh!? Apaan sih nih anak ngomongnya?” ku senggol paha Mita supaya tak ngomong yang macam-macam.

“Hahaha.. iya beres..” balas Riska tertawa lebar.

“Eh, kamu pergi naek apa Ris? Biar Om anter aja”

“ga usah.. ga usah Om.. aku udah pesen taksi online kok”

“Ohh.. iya udah…”

Beberapa saat kemudian sebuah mobil warna putih berhenti di depan rumah. Mungkin itu jemputan buat Riska.

“Om.. Mita.. aku jalan dulu yah.. Assalamualaikum..” ucap Riska berpamitan.

“Waalaikumsalam…” balasku dan Mita berbarengan. Aku dan Mita kembali melihat Riska masuk ke dalam mobil, lalu kendaraan itupun pergi melaju meninggalkan jalan depan rumahku.

Sesaat aku kembali melamun, memikirkan kejadian dalam hidupku yang terjadi beberapa waktu kebelakang. Bagaimana bisa aku mendapati seorang gadis cantik dengan pakaian tertutup dan berperilaku santun ternyata nekat menjual diri.

Benar-benar tak pernah kubayangkan hal itu akan terjadi dalam hidupku. Apalagi soal hubunganku dengan Mita, anak tetanggaku yang dititipkan padaku malah kutiduri, sampai merenggut perawannya pula. Entahlah. Aku berharap ada titik terang pada semua kajadian yang menyimpang dari jalan kebenaran ini.

“Omm !! mikir apa sih?” tersadar dari lamunanku saat Mita memanggilku dan menggoyang lenganku.

“Ehh.. anu.. gapapa…gapapa kok” balasku gelagapan.

“Tuhh.. lihat Om.. ada tante Dewi lewat tuh..” ucap Mita sambil menunjuk ke arah jalan depan rumah.

Kulihat Dewi tetangga depan rumah berjalan sambil mendorong kereta bayi. Mungkin dia berniat jalan-jalan pagi sambil mengasuh anaknya. Kalu dilihat lama-lama Dewi itu ternyata cantik juga.

Tubuhnya tidak terlalu gemuk tapi tidak kurus juga, pokoknya semampai gitu lah. Pagi itu kuperhatikan Dewi memakai kaos putih polos dengan bawahan hotpants warna hitam. Tak ayal pahanya yang putih mulus itu terlihat dengan jelas.

“Mas Andra…” sapa Dewi padaku.

“Eh iya mbak Dewi…lagi momong yah?” balasku.

“Iya nih.. lagi ngajak jalan-jalan si kecil” katanya sambil mendekati pagar rumahku. Mita buru-buru membuka pagar itu dan mempersilahkan Dewi masuk

“Masuk dulu tante..” ucap Mita.

“Ohh iya makasih.. eh ini keponakan mas Andra ya?” tanya Dewi.

“Iya bener.. anak kampung tuh mbak, haha…” balasku menggoda Mita.

Dewi yang berdiri di depanku membuat penglihatanku semakin jelas memandang tubuhnya yang berkulit kuning cerah itu. Ternyata tinggi badan Dewi hampir sama dengan tinggi badan Mita, kira-kira 166 lah.

“Tante ngurus anak sendirian yah? Ga da pembantu gitu” tanya Mita kemudian.

“Iya namanya juga istri pekerja proyek, jadi ya sering ditinggal di rumah sendirian” balas Dewi yang sekarang gantian duduk di sampingku, sedangkan Mita mulai mengajak bermain anaknya.

“Emang berapa bulan lagi pulangnya?” tanyaku sambil menyeruput kopi susu yang sekarang jadi dingin itu.

“Mungkin sebulan lagi mas…” jawab Dewi yang menghela nafas agak dalam.

Wahh.. pantas saja dia mau selingkuh sama satpam perumahan pikirku. Bayangan saat malam itu aku ngintip dia disetubuhi Husin di rumahnya kembali nampak di mataku.

“Di rumah sendirian ngerawat anak gitu apa gak capek tante?” sambung Mita. Kulihat dia sangat suka sekali dengan kehadiran bayinya Dewi, dia terus berusaha bermain dengan anak itu.

“Ya capek sih.. tapi mau gimana lagi, aku juga berusaha ada kegiatan di rumah biar badan ga terlalu melar, hehehe..” balas Dewi terkekeh sendiri.

“Trus kalo capek gitu gimana cara ngatasinya? Mbak Dewi kan sendirian di rumah..” aku ikut penasaran juga.

“Istirahat lah.. tidur.. pengennya sih pijit, tapi setelah punya bayi jadi gak pernah ada waktu” jawab Dewi lugas.

“Ohh.. kalo sekarang dipijitin mau gak tante?” tanya Mita, apa yang ada dalam pikirannya membuatku penasaran, apa maksud perkataannya itu.

“Ya mau dong Mita…” balas Dewi.

“Mau gak kalo dipijit sama Om Andra? Enak banget lohh.. aku aja jadi ketagihan lho tante.. hihihi…” ungkap Mita tanpa beban. Rasa-rasanya dia mengumpankan Dewi padaku.

“Ahh.. gak enak aku sama mas Andra.. trus bayiku ntar siapa yang jagain? Gak ahh..” balas Dewi sambil berpikir, aku sedikit lega setelah Dewi berusaha menolaknya.

“Udahhh… tante Dewi tenang aja, Om andra lagi ga sibuk hari ini.. ntar bayinya biar aku aja deh yang jaga.. dia lho udah tidur sekarang..” balas Mita meyakinkan pemikiran Dewi.

“Eh..!?” aku jadi bingung mau bicara apa pada Mita. Aku mulai merasa ada apa-apa dibalik kemauannya Mita.

“Gak ahh.. ntar ngerepotin loh..” kembali Dewi menolak tawaran Mita dengan halus.

“Gapapa mbak Dewi, gak ngerepotin kok.. ayo kita ke dalam aja..” akupun ikutan meyakinkan Dewi.

“Yaudah.. yukk..” akhirnya Dewi menyetujuinya. Aku ajak dia masuk ke dalam rumah, sedangkan bayi umur 9 bulan itu digendong Mita ikut di belakang kami.

Ada tempat yang agak lebar antara kursi ruang tamu dengan meja Tv, aku pilih saja tempat itu untuk memijit Dewi. Aku lalu menggelar matras hitam yang biasanya oleh Mita digunakan untuk alas tubuhnya saat aku pijit. Lalu di atasnya kuberi handuk supaya lebih empuk. Setelah itu kuambil sebotol minyak zaitun yang kemarin aku beli. Maksudku buat stok kalau yang lama habis tapi ternyata hari ini kepakai duluan.

“Mas, pintunya ditutup aja yah.. malu..” ucap Dewi mencegahku yang berdiri akan membuka pintu agak lebar.

“Lhah.. harusnya dibuka, supaya tidak menimbulkan fitnah..” kataku.

“Gapapa… tutup aja Mas..” balas Dewi. Dia lalu melepas kaos putih yang menutupi tubuh bagian atas. Kini Dewi menunjukkan payudaranya yang tertutup bra berwarna senada dengan kaosnya.

“Tengkurap aja mbak…” perintahku. Kemudian dengan pelan mulai kupijat telapak kakinya.

“Hemmm… beneran enak pijitannya mas Andra ini… eh, jangan panggil mbak dong mas, kan umurnya banyakan mas Andra..” ucap Dewi yang kini memejamkan mata menikmati pijatan tanganku pada betisnya.

“Oke.. kupanggil nama aja ya..”

“Iya mas… lebih enak gitu.. biar akrab juga, hehe..” balasnya.

Kulihat beberapa kali Mita mengamati apa yang terjadi di antara aku dan Dewi. Entah dia curiga, cemburu atau gimana aku tidak tahu. Dia juga hanya seyum-senyum saja saat melihatku memijit anggota tubuh Dewi.

“Ahh.. jangan keras-keras mas..” rintih Dewi saat tanganku mulai memijit pahanya. Kubalurkan minyak zaitun gak banyak hingga kedua kakinya sekarang terlihat mengkilap.

Kuperhatikan paha ibu muda satu ini masih saja berbentuk bagus dan tak ada timbunan lemak disitu. Apalagi bongkahan pantatnya yang masih tertutup hotpants itu seakan bulat dan kenyal, meskipun mulai membesar tapi tidak berlebihan.

“Dulu lahirannya normal apa operasi Wi?” tanyaku iseng.

“Normal mas.. aduuhh.. jangan kenceng-kenceng mas..”

“Enggak kok.. ini karena memang otot kamu banyak yang kaku Wi..” balasku.

Aku kemudin menuju ke tubuh Dewi bagian atas. Kubalurkan minyak pada leher dan pundaknya. Langsung mulai kuusap dan kupijit leher dan punggungnya. Tapi pijitan tanganku masih terhalang tali bra yang dipakainya, hingga aku melewati bagian itu.

“Kok dilewati sih mas?”

“Hehe.. talinya menghalangi sih Wi..” balasku sambil menarik kedua tali bra putih yang masih melekat di tubuhnya.

“kalo dilepas gapapa ya mas!?”

“Lho.. terserah kamu dong, kalo kamu ga masalah ya lepas aja, aku sih ikut aja maunya kamu” balasku dengan nada tenang.

“yaudah aku lepas aja..”

Dewi kemudian duduk dan melepas bra yang menutupi kedua payudaranya. Aku masih pura-pura cuek saja meski dalam hati mulai mengagumi betapa bagusnya bentuk payudara ibu muda itu. Bulat, putih, mulus dan kenyal.

Hanya saja putingnya sudah mulai berwarna coklat gelap, mungkin karena dia sudah menyusui anaknya. Bentuk buah dadanya mengingatkanku pada payudara istriku, tapi ukurannya masih lebih besar punya istriku, Haha.

“Eh, bentar.. tante nih diminum dulu.. ada ramuan herbal nih.. biar badannya jadi tambah segar” tiba-tiba Mita datang sambil membawa secangkir minuman mirip teh. Entah apa itu isinya akupun tidak tahu.

“Waahh.. makasih Mita.. aku minum yah..” tanpa banyak kata akhirnya Dewi pun meminum yang katanya minuman herbal itu dari cangkirnya sampai habis.

“Oke.. sudah siap dilanjut lagi belum?” tanyaku.

“Ayo mas.. nanggung nih..” balas Dewi.

Dia lalu kembali tengkurap di depanku seperti awal tadi. Kini aku bisa membalurkan minyak pada punggung dan pinggangnya secara merata tanpa terhalang apa-apa lagi.

“Si kecil masih tidur ya Mita?” tanyaku pada Mita yang masih di dekatku mengamati gerakan tangaku pada punggung Dewi.

“Masih Om.. tuh di kamarku..” balasnya.

“Ntar kalo bangun kasih susu formula aja yah.. botolnya ada di kereta bayi” Dewi menanggapi.

“Enak yah tante?” tanya Mita.

“Wuihh… enak banget.. nyaman..” balas Dewi jujur.

“Lebih enakan lagi kalau bagian depannya ikutan dipijit tante.. itupun kalau tante mau sih” ucap Mita yang sepertinya mulai memancing Dewi.

“Beneran? Tapi gimana yah…” ucap Dewi ragu.

“Gapapa tante.. Om Andra udah ahli kok, ya kan Om? hihi…” tambah Mita lagi.

“Eh!? Apa? Iya..iya..” kataku ragu sambil melihat kode sebuah kedipan mata dari Mita.

“Umm.. oke deh.. coba bentar aja yah..” Dewi tanpa diminta lagi langsung membalikkan tubuhnya hingga tiduran telentang di depanku dan Mita.

Meskipun aku sempat kagum melihat bentuk payudara Dewi itu tapi aku berusaha tenang dan profesional. Jangan sampai dikira aku mengerjainya dengan berbuat mesum. Langsung saja kutuangkan minyak pada permukaan dadanya agak banyak. Lalu akupun memulai meremas payudaranya seperti yang biasa kulakukan pada Mita.

“Ahhh.. aduuh…. kok enak banget sih mas…” ungkap Dewi.

“Nahh.. bener kan tante? Om Andra ini ahlinya, hihi…” Mita tersenyum girang melihat Dewi yang kuperkirakan mulai horni.

“Ehh.. apaan sih anak ini? Tuh dijaga dedeknya kalo bangun ntar gimana..” sergahku.

“Iya deh Om.. tapi kalo bangun kan kedengaran..” balas Mita tak mau kalah.

Aku terus mengurut dan meremas buah dada milik Dewi. Minyak yang kutuangkan tadi membantuku melicinkan gerakan memutar dan menarik puting susunya. Karena ukurannya yang lebih besar dari payudara Mita, aku harus menggunakan kedua tanganku untuk mengurut payudara Dewi.

“Aahhh… aahh… uuhhh…kok enak sih.. ahhh…” mulut Dewi kini mulai mendesah karena rangsangan tanganku pada puting susunya.

Tanganku kemudian turun kebawah, ke area perutnya. Kedua tanganku kini mulai bergerak memutar di pinggulnya dan menariknya ke atas. Jari-jari tanganku dengan lihainya menari dan mengelilingi area sekitar perutnya itu. Gerakan tanganku ini paling disenangi istriku, bisa membuat cepat On katanya. Tapi beda wanita pasti beda titik rangsangannya.

“Tante Dewi.. mendingan dilepas aja celana pendeknya itu, biar lebih nyaman..” ucap Mita lancang.

“Umm.. uuhh…iya deh.. aku lepasin aja…” sungguh jawaban Dewi diluar dugaanku. Bagaimana mungkin dia langsung saja setuju untuk menelanjangi tubuhnya di depan orang lain yang bukan pula muhrimnya seperti aku.

“Nih.. Mita bantuin..”

Aku yang sedang mengelus perut Dewi akhirnya menghentikan gerakan tanganku saat Mita menarik hotpants hitam yang dipakai oleh Dewi.

“Lhah.. tante ga pake cd yah? Maaf lho tante.. aku kira tadi..” ucap Mita sambil tersenyum licik. Entah apa yang direncanakannya.

Karena di balik hotpants yang dipakai Dewi tak ada celana dalam, akhirnya tubuh ibu muda itu kini benar-benar telanjang bulat di hadapanku dan Mita. Aku mencoba sekuat mungkin terlihat tenang-tenang saja, begitu pula dengan Mita, seakan tak ada hal aneh terjadi diantara kita.

Tanganku kembali meremasi dan mengurut payudara Dewi dengan gerakan sehalus mungkin. Kulihat kedua mata Dewi terpejam, dengan mulut yang menganga sambil terus mendesah-desah. Aku mulai berpikir ada yang tak normal dengan keadaan ini. Sepertinya Dewi begitu terangsang dengan sentuhan tanganku.

“Ahh.. ahhh… hemmm… aahhh… aahhh… “ desahan demi desahan keluar dari mulut Dewi. Suara itu membuatku semakin bersemangat juga semakin bingung.

Dengan posisi masih terbaring di atas matras, tangan Dewi kemudian kuarahkan ke atas dan kuposisikan sejajar dengan kepalanya. Aku kemudian bergeser duduk di menghadap kepalanya, lalu jari-jariku pun mulai mengurut ketiaknya.

“Ahhh… udah mas.. aahh.. duhh…ampuuunn… aahh..” Dewi tiba-tiba berteriak-teriak seperti sedang mencoba menahan tubuhnya dari sesuatu yang mencoba menguasai dirinya.

Aku teruskan gerakan tanganku mengurut permukaan ketiaknya secara halus dan menekan pelan-pelan. Mita yang dari tadi kulihat diam kini ikut mengambil bagian. Diambilnya minyak dari dalam botol agak banyak, lalu dia usapkan pada celah kemaluan Dewi dan selangkangannya.

“Enak gak tante? Hihihi…” tanya Mita genit, tangannya kini aktif mengelus-elus bibir vagina Dewi tanpa memasukkan jarinya.

Semakin lama tubuh Dewi semakin menggelinjang hebat. Pinggulnya naik turun terlonjak-lonjak seperti hendak melakukan gerakan kayang. Aku mengikuti instingku saja, kalau Dewi merasa kesaktian pasti dia minta menghentikan perlakuanku dan Mita.

“Aaahh… aduuhhh.. aduhh.. hhhaaahhh…..” Dewi terus menjerit-jerit sampai aku bingung dibuatnya. Tapi Mita terus mengerjai daerah sekitar vagina Dewi tanpa henti.

Craatt.. Crattt… Cratttt…… serrrr..

Tiba-tiba semburan cairan bening keluar dari celah vagina Dewi. Anjay.. dia ternyata bisa squirt !!

“Hahhh… ampun.. ahhh.. ampun… hhaahhh…” tubuh Dewi terus melonjak-lonjak naik turun dengan liar. Mita yang duduk bersimpuh di samping pinggul Dewi dibuat kerepotan dengan gerakan pinggang Dewi yang semakin liar itu.

“Terusin tante.. hihihi.. enak kann??” ucap Mita tersenyum menyemangati Dewi. Tangannya kulihat masih terus mengerjai bibir vagina Dewi dengan menggeseknya secara cepat.

“Aahhhhh… aaahhhhh… aahhhh…. hhhaaahhhh…”

Craatt.. Crattt… Cratttt……

Akhirnya celah vagina Dewi kembali menyemburkan cairan bening. Semburan cairan itu kulihat sampai seperti dia sedang kencing. Tapi jumlahnya tak sebanyak kalau kita lagi buang air kecil.

“Heeehhhhhkkk…. aahhhh… ahhh…. hhhaaaahhhh….”

Tubuh Dewi akhirnya terkapar tak berdaya di atas matras tempatnya dipijit itu. Semburan cairannya tadi sampai menggenang di bawah pantatnya, bahkan sampai benar-benar membasahi kakinya.

Aka dan Mita hanya bisa saling pandang tanpa bisa berkata apa-apa. Kulihat kedua mata Dewi terpejam seperti sedang tertidur. Tarikan nafasnya begitu cepat namun lama kelamaan terlihat melambat. Kedua kakinya yang tadi bergerak liar kini sudah mulai diam, meski beberapa kali masih bergetar. Sungguh dua kali orgasme yang hebat telah menerpa tubuhnya.

Mita kemudian berdiri dan kususul beberapa saat kemudian. Lalu kami berdua berjalan menuju meja makan untuk mengambil minuman.

“Wuaahh.. tante Dewi kok bisa begitu ya Om?” ucap Mita sambil meminum segelas air putih.

“He’em.. mungkin itu yang dinamakan squirting.. tak banyak lho wanita yang bisa begitu..” balasku.

“Eh, iya bener Om.. aku aja gak bisa, hihi…” ujar Mita sambil terkekeh geli.

“Nahh.. itu kan..”

“Kalo tante Ana gimana Om?”

“Iya sama.. ga bisa juga.. hehe.. napa emang?”

“Ya gapapa sih.. nanya aja”

“Eh, Om mau tanya dong.. apasih minuman yang tadi kamu kasih ke Dewi?”

“Ohh, itu cuma teh biasa kok Om…tapi..”

“Tapi apa??”

“Aku campur obat yang dikasih sama Riska”

“Hah!?”

bersambung